We Are Different part 14

PicsArt_02-21-08.46.28

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

…………………………………………….

“tempatnya sedikit berantakan, kekasihmu sepertinya sempat melakukan perlawanan” ucap vivian, sahabat yuri sekaligus seorang polisi yang menangani kasus penculikan jessica

yuri sengaja hanya meminta bantuan kepadanya tanpa diketahui pihak kepolisian lain.

kini yoona, yuri, vivian, taeyeon dan tiffany sudah berada di lokasi TKP setelah jessica diculik

“tetap saja jessica diculik” ucap yoona yang terlihat sedih

“Apa kau kau tak menemaninya?” tanya tiffany

“sica memintaku untuk menunggu di parkiran, bahkan dia sangat menolak jika aku ikut, dia baru saja marah kepadaku sebelumnya, jadi aku hanya menuruti perintahnya saja, aku tak tahu jika kejadiannya akan seperti ini” ucap yoona kembali tertunduk, satu sisi ia merasa menyesal karena itu

“hmm.. ini bukan salahmu yoong, jangan sedih jessica pasti segera ditemukan dengan selamat” ucap tiffany memeluk yoona dari samping mencoba menangkannya

“apa dia memberitahumu apa yang sedang ia cari?” tanya taeyeon yang ikut bersama mereka

“anniyo, dia tak menjelaskan apa apa, tapi aku rasa sikapnya sedikit berbeda seharian ini” ucap yoona membuat keempat yeoja dihadapannya langsung memperhatikannya

“kenapa dengan sikapnya?”

“dia lebih banyak diam dan tumben sekali menolak bergabung saat kami berkumpul dengan sooyoung” ucap yoona

“sooyoung?” gumam yuri heran

“nne, sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dengannya dan dia kembali lagi ke restoran, aku sangat merindukannya jadi kami menghabiskan waktu bersama setelah restoran tutup”

“omo! chankkaman!” ucap yuri membuat keempat yeoja itu memandangnya. yuri langsung berlari keluar ruangan

Tak berapa lama yuri kembali membawa sebuah koper kecil berwarna hitam, iapun membukanya dan menyalakan layar dalam koper itu

“Apa yang akan kau lakukan yul?” tanya taeyeon

“Kemarin sica meminjam alat penyadap padaku, semoga saja alat itu masih aktif dan dapat menemukan lokasi dimana dia berada”

………………………………………

di rumah tuan choi

sooyoung baru saja keluar kamarnya dan hendak pergi meninggalkan rumah

“youngie-yaa” panggil tuan choi

“apa kau sedang buru buru?”

“anniyo, wae appa?”

“ada yang ingin appa bicarakan” ucap tuan choi kemudian berjalan memasuki ruang pribadinya, sooyoung pun langsung mengikutinya

“ada apa?” tanya sooyoung setelah duduk dihadapan ayahnya

“sejak kapan kau memiliki restoran dan bekerja disana?” tanya tuan choi membuat sooyoung terkejut karena akhirnya ayahnya mengetahui hal itu

“e……” gumam sooyoung bingung akan menjawab apa

“wae? bukankah appa selalu memintamu untuk bekerja di kantor membantu eonniemu?”

“appa, aku tak menyukai pekerjaan itu”

“geurae, appa tak akan memaksamu untuk membangun usaha apapun, setidaknya kau mau bekerja”

“yasudah kalau begitu aku pergi dulu” ucap sooyoung langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan

“apa kau bekerja sendirian?” tanya tuan choi secara tiba tiba membuat langkah sooyoung terhenti

“n..nne”

“lain kali appa akan mengunjungi restoranmu untuk mengetahui sejauh mana kesuksesan usaha mu youngie-yaa” ucap tuan choi

sooyoung hanya diam tak menjawabnya, hingga ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan tersebut

………………………………

*byurrr!!!!*

“emmmhh…!!!” erang jessica terbangun setelah dikejutkan dengan siraman air dingin, saat membuka kedua matanya ia melihat beberapa namja sudah berdiri dihadapannya. kini tubuhnya sudah diikat dengan mulutnya yang dibekap

“jadi kau yang bernama kwon yoona? huh, cukup lincah juga sampai bisa melenyapkan beberapa temanku” ucap namja itu tersenyum sinis sementara jessica hanya menatap mereka

“tapi sayangnya kau sedikit ceroboh” lanjut namja itu mengeluarkan kembali alat penyadap milik jessica yang ditemukannya itu

Flashback

beberapa jam sebelum penculikan, rupanya anak buah tuan choi sudah standby menunggu didepan restoran. hingga malam tiba mereka melihat dua orang yeoja keluar dari restoran yang sudah tutup itu

“bos itu target kita”

“sepertinya mereka belum akan pulang, mereka meninggalkan mobilnya, kalian berdua ikuti kedua yeoja itu jangan menyerang sebelum aku menyuruh, aku akan memasuki restoran untuk memeriksa”

“baik bos” ucap kedua namja itu, mereka pun segera keluar dari mobil untuk mengintai. sementara yang lain memasuki restoran

Para kaki tangan tuan choi dengan detail memeriksa satu persatu barang barang di dalam restoran itu hingga akhirnya menemukan alat penyadap itu pada baju seragam kerja

“sujin-ah, apa yang sedang mereka lakukan?” ucapnya saat menelepon anak buahnya yang sedang mengawasi yoona dan jessica

“mereka sedang menikmati makan malam ditaman bos”

“kalau begitu kembalilah ke mobil dan tunggu dibelakang restoran”

“huh? wae?”

“mereka akan kembali ke restoran, karena aku sudah menemukan barang yang dia tinggal”

“baik bos”

mereka pun segera kembali ke restoran dan memindahkan mobilnya ke belakang bangunan itu

setelah menunggu 1 jam, mereka melihat dua yeoja itu kembali dan salah satunya memasuki restoran. tanpa ia sadari 2 anak buah tuan choi sudah mengintainya hingga mereka berhasil membawa jessica yang diduga sebagai yoona

Flashback End

“apa kita harus menghubungi tuan choi dulu?” bisik rekannya

“tidak, tuan choi meminta langsung dibunuh saja” ucap namja itu mulai menodongkan pistol itu kearah kepala jessica “lagipula aku sudah muak melihatnya, dia sudah membunuh rekan rekanku” lanjutnya, jarinya mulai bergerak melepaskan pelatuk itu sementara jessica hanya memejamkan matanya ketakutan

*prankk!!!*

*dorrrr!! dorrr!!!* beberapa tembakan terdengar di dalam ruangan itu membuat 2 orang terbaring

“sica!!!” teriak yoona saat melihat kekasihnya tak sadarkan diri

*dorrr!!!* sebuah tembakan hampir saja mengenai kepala yoona

“yoong, gwaenchanna?” tanya yuri yang berada dibelakangnya

“nne”

“serang mereka!” teriak para anak buah tuan choi yang berhasil menghindar hingga terjadi baku tembak dan perkelahian antara para anak buah tuan choi yang cukup banyak melawan yoona, yuri, taeyeon dan vivian yang berhasil menemukan lokasi mereka

perlahan jessica membuka kedua matanya setelah tubuhnya terjatuh akibat dorongan anak buah tuan choi, ia melihat namja yang hampir membunuhnya sudah tergeletak tak bernyawa dengan beberapa tembakan pada kepala dan tubuhnya, matanya beralih pada beberapa orang yang sedang melakukan baku tembak dan ia melihat yoona diantara mereka

“yoong” panggil jessica dalam hati, air matanya mulai mengalir karena bahagia sekaligus khawatir melihat kekasihnya. namun ia melihat seseorang berlari menghampirinya, awalnya jessica terkejut dan ketakutan

“gwaenchanna?” ucap orang itu mulai melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki jessica. jessica kembali membuka kedua matanya setelah tau kalau orang itu bukanlah musuh, namun ia terkejut saat melihat wajah orang itu

“taeyeon?” ucap jessica setelah penutup mulutnya dilepas

apa tubuhmu ada yang terluka?” tanya taeyeon menghiraukan ucapan jessica

“an.. annie… bagaimana kau..”

“kajja kita harus segera pergi dari sini” potong taeyeon membantu mengangkat tubuh jessica dan berhasil keluar dari gedung itu

“tunggulah disini, dan ini” ucap taeyeon memberikan sebuah pistol pada jessica setelah memasukkan dirinya kedalam mobil “tembak saja mereka jika menghampiri mobil, arrasso?” lanjutnya

“n..nne.. tapi.. kau..” ucap jessica namun taeyeon langsung menutup pintu mobil  dan berlari meninggalkannya

setelah menunggu beberapa lama, jessica melihat 4 orang keluar dari gedung itu, ia tersenyum saat melihat yoona salah satunya

“yoong…!!” teriak jessica berlari dan memeluk kekasihnya

“Gwaenchanna?” tanya yoona segera melapaskan pelukannya dan memeriksa jessica

“Nne…” ucap jessica tersenyum senang

“Anniyo, kau terluka” ucap yoona dengan kedua mata yang berkaca kaca, ia memandang jessica yang terdapat beberapa lebam pada wajahnya yang terlihat sangat pucat itu “kajja kita ke rumah sakit” ucap yoona langsung mengangkat tubuh jessica membawanya kedalam mobil

Sementara ketiga yeoja yang melihatnya hanya bisa tersenyum ikut senang

“Adikmu sudah terlihat dewasa sekarang yul” ucap vivian

“Nne… Akupun terkejut tak menyangka melihatnya seperti itu” ucap yuri ikut tersenyum

“Tapi… Bagaimana dengan mereka?” ucap taeyeon menoleh kembali menatap gedung kosong itu

“Biar aku yang mengurusnya, kalian pergilah dari sini karena polisi akan segera kemari” ucap vivian

“Aku berhutang banyak padamu” ucap yuri memeluk sahabatnya itu

“Tentu saja kau harus mentraktirku nanti hahaha” ucap vivian

Hingga merekapun meninggalkan vivian sendiri di tempat itu

…………………………….

Setelah kejadian itu, jessica langsung dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan beberapa perawatan

Yuri terdiam menatap jessica yang masih tertidur pulas

“Yul?” panggil seorang yeoja membuyarkan lamunan yuri

“Huh? Fany-ah, kau baru saja datang?”

“Nne.. Aku panggil tapi kau diam saja, sedang memikirkan apa?”

“Ah anniyo hehehe”

“Ah ya bagaimana keadaan jessica? Apa dia terluka parah?” ucap tiffany terlihat khawatir

“Tidak ada fany-ah, sica hanya perlu banyak istirahat”

“Lalu kamu? Yoong? Dan yang lain?”

“Kami semua baik baik saja”

“Hmmm… Syukurlah, eh? wajahmu terlihat pucat, apa kau kurang tidur lagi?” tanya tiffany membingkai wajah kekasihnya itu

“hehehe aku lupa, aku belum sempat tidur setelah berhasil membawa jessica”

“yaish kebiasaan, kajja kita pulang dulu, kau harus istirahat” ucap tiffany memegang erat tangan yuri dan membawana keluar ruangan dimana jessica dirawat

“tapi aku berencana untuk mengadakan barbecue, sore ini jessica sudah diperbolehkan pulang”

“benarkah? yasudah kalau begitu biar aku yang belanja, nanti kau menunggu saja didalam mobil” ucap tiffany

Benar saja, selama diperjalan yuri langsung tertidur pulas didalam mobil, awalnya ia sempat menolak ketika tiffany meminta kunci mobil agar dia yang mengemudi, namun karena ia benar benar merasa kelelahan akhirnya yuri mengalah hingga 2 jam berlalu keduanya sudah tiba di rumah milik yuri setelah tiffany berbelanja banyak bahan bahan untuk acara barbecue

“yul, ireonna.. kita sudah sampai” ucap tiffany mengusap usap rambut yuri

“enghh…? begitu ya?” ucap yuri yang masih memejamkan matanya enggan terbuka, tangannya mulai merogoh kesela sela pintu dengan mata tertutup namun akhirnya pintu mobil disampingnya dapat terbuka setelah dibantu oleh tiffany

Yuripun berjalan sambil terus memejamkan kedua matanya

“hahaha dasar yul” tawa tiffany menggelengkan kepalanya melihat yuri, iapun membantu yuri memapahnya hingga memasuki kamar

*brukk!!* yuri lagsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur

“yaish… lepas dulu sepatumu yul..” ucap tiffany

“hhmm?? nne.. smcbwdjfjidwgv” ucap yuri meracau dan kembali tertidur pulas

“yaish dasar” gumam tiffany, iapun merendahkan tubuhnya dan duduk diatas tempat tidur disamping yuri, tangannya mulai melepaskan satu persatu sepatu yang masih terpasang dikaki kekasihnya itu

Begitu selesai menaruh sepatu, tiffany kembali menghampiri yuri, ia mulai menghidupkan AC didalam kamar itu karena melihat dahi yuri yang berkeringat

Tiffany pun naik keatas kasur berniat membukakan jaket yang dipakai oleh yuri

“kekekeke… kau lucu sekali, sebegitu lelah eoh?” ucap tiffany tertawa kecil saat melihat wajah tidur yuri terlihat lucu baginya, ia pun mengusap usap wajah kekasihnya itu

“dari dulu aku selalu bahagia saat bersamamu, kenapa baru sekarang ini aku menyadari bahwa melihat wajahmu saat tertidur saja sudah sebahagia ini?” gumam tiffany. perlahan ia merendahkan tubuhnya hingga jarak wajahnya sangat dekat dengan wajah yuri “I really love you, yul” bisik tiffany memejamkan kedua matanya dan kembali merendahkan wajahnya hingga menempelkan bibirnya pada bibir yuri

Cukup lama tiffany mencium bibir yuri, tiba tiba saja ia terkejut saat tangan kanan yuri terangkat dan menekan kepalanya hingga ciuman keduanya semakin dalam

“emmhh……” erang tiffany

“y..yyul.. apa yang kau lakukan?” ucap tiffany dalam hati. namun ia masih melihat yuri yang terus memejamkan kedua matanya hingga akhirnya tiffany berhasil melepaskan diri

*degdegdegdeg* “kenapa jantungku berdebar seperti ini” ucap tiffany dalam hati, ia melihat yuri yang kembali tertidur pulas entah menyadari atau tidak atas apa yang sudah dilakukannya itu

Tiffany pun segera menyelimuti tubuh yuri dan berlari meninggalkan kamar

“omo!! kau mengagetkanku saja” ucap taeyeon yang hampir saja bertabrakan dengan tiffany yang baru saja keluar kamar, begitu pun tiffany yang ikut terkejut

“ad…ada apa kau kemari?” tanya tiffany gugup

“aku ingin menemui yuri, apa dia ada didalam?”

“an anniyo.. dia sedang tidur”

“yasudah biar ku bangunkan”

“andwae…! dia baru saja tidur dan sangat kelelahan”

“yaish… arrasso, apa bahan bahan makanan yang berada didepan itu untuk acara barbecue?” tanya taeyeon

“nne… kajja bantu aku menyiapkannya” ucap tiffany menarik tangan taeyeon menjauhi kamar yuri

………………………

“hemmmhh…” gumam jessica perlahan membuka kedua matanya setelah cukup lama tertidur

“hey” sapa yoona yang sudah duduk disampingnya

“yoong, berapa lama aku tertidur?” ucap jessica memulihkan kesadarannya

“emm… sekitar 11 jam” ucap yoona tersenyum pada kekasihnya

“omo!” ucap jessica terkejut “apa kau tak tidur?” lanjutnya

“anniyo, aku tidur disampingmu tadi, bagaimana keadaanmu?”

“lebih enak, apa aku sudah boleh pulang?”

“tentu saja, di rumah akan mengadakan barbecue atas kepulanganmu” ucap yoona tersenyum mengusap lembut kepala jessica

“jinjja?” gumam jessica terlihat senang, yoonapun mengangguk mengiyakan

“tapi sebelum pulang kau harus memakan bubur sup ini kemudian meminum obat” ucap yoona mengambil mangkuk berisi sup itu, iapun mulai mengaduk dan meniupinya hingga disuapkan pada jessica

“apa kau yang membuatnya?”

“anniyo, tadi siang tiffany eonnie menjengukmu dan membawakan sup dan bubur ini untukmu, tapi kau tertidur sangat pulas jadi dia kembali mengantar yul eonnie pulang” ucap yoona mengambil tissue dan membersihkan bubur yang menempel di sudut bibir jessica

Jessica kembali tersenyum melihat perlakuan manis kekasihnya itu

“wae?” tanya yoona heran

“nothing” jawab jessica kembali tersenyum

“Ah ya, tadi krystal menelpon”

“Omo! Jinjja?” ucap jessica terkejut “apa dia tahu tentang ini?” lanjutnya

“Anniyo, aku belum memberitahunya”

“Andwae…!! Dia dan keluargaku tak boleh tahu, mereka akan khawatir” 

“Arrasso, jja suapan terakhir, setelah ini kita siap siap untuk pulang” ucap yoona kembali menyuapkan bubur sup itu

………………………………

“Kau selalu saja terlihat diam, bahkan saat kekasihmu tidurpun” ucap taeyeon yang selalu memperhatikan terus saja terdiam selama menata perlengkapan barbecue yang diadakan di halaman rumah

“Nne? Kau bilang apa?” tanya tiffany tak menangkap ucapan taeyeon

“Aigoo… Rupanya kau melamun, memikirkan apa eoh?”

“Anniyo…” ucap tiffany

“Eiyyy, tadi kau keluar dari kamar yul kan, kalian sudah melakukan apa?” goda taeyeon

“An.. Anniyoo… Dasar bodoh, mengapa kau berkata seperti itu”

“Anni, hanya bertanya mengapa kau segugup itu?”

“Ak.. Aku biasa saja, kkah cucilah kentang kentang ini” ucap tiffany memberikan kantong plastik berisi kentang itu

“Arraso, tapi jawab dulu pertanyaanku”

“Pertanyaan apa?” tanya tiffany

“Apa kau dan yuri sudah melakukannya?” tanya taeyeon dengan mengangkat kedua jarinya

“Mwo? Yah!!” teriak tiffany memukul lengan taeyeon

“Wae? Aku hanya bertanya, kau hanya tinggal menjawab iya dan tidak, begitu saja” ucap taeyeon dengan wajah tanpa dosanya

“Yaish…” gumam tiffany meninggalkan taeyeon setelah mengambil kembali kentang itu

“Wae…? Kenapa kau tak menjawabnya?” tanya taeyeon yang ikut menyusul dan membantu tiffany membersihkan kentang kentang itu

“Apa untungnya bagimu? Itu masalah pribadi”

“Anni, yul itu sudah aku anggap sebagai adikku, jadi aku ingin tahu bagaimana dia terhadapmu”

“Mengapa kau tak menanyakan langsung padanya?” 

“Ck, bisa saja dia menyangkal”

“Kami belum pernah melakukannya, puas kau?”

“Jinjja? Jangan berbohong, ku lihat kalian sangat sangat sangatlah dekat dan harmonis”

“Yah!! Apa itu berarti kami harus melakukannya eoh? Dasar byunt!”

“Heol, daebak!” ucap taeyeon bertepuk tangan “tapi…wae?” tanya nya kembali

“Yaish… Apakah tidak ada pembahasan lain eoh?” ucap tiffany terlihat kesal

“Anni, lagipula kita sudah dewasa, jadi aku biasa saja membicarakan hal itu”

“Itu bagimu! Tidak bagiku! >_<“

“Aku tak akan menanyakan hal itu jika tak melihatmu terlihat gugup dengan wajah yang memerah saat keluar dari kamar yul”

“Yaish… Itu karena suhu didalam kamar sangat panas”

“Aahhahaha jadi karena panas ya, daebak” ucap taeyeon

“Yah! Jangan berpikir yang tidak tidak!” 

“Arraso, hanya saja bagiku rasanya aneh” ucap taeyeon

“Apanya yang aneh?”

“Setiap hubungan yang sangat dekat pasti hampir semuanya pernah melakukan hal itu, aku yakin yoona dan sica pun pasti pernah melakukannya”

“Mwo? Yah kim taehyuk! Mengapa kau mengatakannya padaku”

“Wae? Memangnya kenapa?” tanya taeyeon dengan ekspresi datarnya

“Anniyo, kau sendiri pasti selalu melakukannya”

“Tidak juga, aku dengannya sudah putus”

“Omo!” ucap tiffany terkejut

“Wae?”

“Apa kau mengatakan itu karena ingin menggodaku? Andwae!! Kau tak boleh macam macam padaku!”

“Yaish…! Baboya… Tentu saja tidak” ucap taeyeon jengkel “selama masih menjadi kekasihkupun kau selalu menolaknya” lanjutnya dalam hati

“Woah, sepertinya akan ada pesta disini” ucap hyoyeon yang baru saja tiba

“Hey hyo, kajja bergabunglah… Kebetulan sekali kau datang” ucap tiffany menghampiri hyoyeon

“Omo! Gawat” gumam taeyeon yang melihat kehadiran sahabatnya, ia pun kembali mrmbalikkan badannya berpura pura serius mencuci kentang dan sayuran lainnya

“Yah, kau bicara seperti itu agar aku membantumu menyiapkan makanan kan?”

“Hehehe tahu saja, apa boleh buat… Di runah hanya aku yang bisa memasak” ucap tiffany “ah dia juga lumayan” lanjutnya saat melihat taeyeon menghampiri mereka

Taeyeonpun mengangkat wajahnya dan kembali bertatapan dengan hyoyeon

“Ah.. Begitu, baiklah aku akan bergabung, kemana kekasihmu?” tanya hyoyeon kembali menatap tiffany

“Dia sedang”

“Aku disini” ucap yuri yang sudah berdiri menuangkan air mineral untuk diminumnya

“Omo! Kau mengagetkanku saja” ucap tiffany

“Baru bangun yul? Kau terlihat berantakan” ucap hyoyeon

“Nne… Tadi aku mengantuk sekali sampai tak sadar jika aku sudah berada dikamarku, siapa yang memindahkanku?” tanya yuri membuat taeyeon yang menatapnya langsung memandang tiffany

“Kk..kkau berjalan sendiri” ucap tiffany gugup setelah mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Namun ia bersyukur yuri tak mengingat apa yang sudah dilakukannya terhadap tiffany

“Kalau begitu aku mandi dulu” ucap yuri kembali memasuki rumah

“Wae?” tanya tiffany pada taeyeon yang masih menatapnya dengan senyuman yang sulit diartikan itu

…………..

Tak berapa lama yoona dan jessica pun tiba di rumah

“jesie…!!!” teriak tiffany berlari menyambut jessica “welcome home, miss you so much” lanjutnya segera memeluk sahabatnya itu

“miss you too baby” ucap jessica membalas pelukan tiffany “woah sepertinya sedang ada pesta” ucapnya kembali saat melihat beberapa orang berada di halaman rumah

“nne, kami mengadakan barbecue untuk menyambut kepulanganmu” jawab tiffany, tiffany pun membawa jessica bergabung bersama mereka

“hey sica, bagaimana keadaanmu?” ucap yuri yang sudah berada disana ikut membantu taeyeon memanggang daging

“sangat baik” ucap jessica tersenyum senang “ohh??” gumamnya saat pandangannya mengarah pada yeoja yang berdiri memunggunya disamping yuri. jessica pun berjalan menghampiri

“taeyeon?” ucap jessica membuat orang orang yang berada disana mengalihkan pandangannya pada jessica

“sial” gumam taeyeon dalam hati, ia masih terdiam memunggungi jessica

“yah, dia bukan taeyeon sica-yaa, dia namja” ucap yuri

Taeyeonpun membalikkan badannya dengan gugup menghadap jessica

“anyeong, kim taehyuk imnida, senang melihat anda baik baik saja jessica-shi” ucap taeyeon membungkukkan badannya, iapun kembali membalikkan melanjutkan aktivitasnya

“oh? tapi… dia.. sangat mirip”

“yah, apa tak ada yang ingin menyambutku?” ucap yoona yang baru saja tiba setelah memindahkan barang barang milik jessica dari mobil

“hey yoong, makanan belum siap sebaiknya kau bantu hyoyeon memotong daging daging itu, ppali” ucap yuri

“yaish… arrasso” ucap yoona mempoutkan bibirnya kesal, iapun bergabung membantu hyoyeon

“sica, kajja sebaiknya kau duduk saja jangan terlalu banyak melakukan aktivitas” ucap tiffany membawa jessica menjauhi pemanggang, keduanya pun duduk di tempat makan malam diadakan tak jauh dari sana

“tiff, apa kau mengenalnya?” tanya jessica yang masih memperhatikan taeyeon

“nugu?” ucap tiffany, iapun mengikuti arah pandangan jessica “namja itu?”

“tidak kah kau berpikir jika dia itu taeyeon?”

“jangan mengada ngada, dia taehyuk oppa sahabtnya yul”

“jinjja? tapi aku belum pernah mendengar tentang dia sebelumnya”

“hemm… molla” ucap tiffany “igo, aku sudah membungkuskan daging untukmu, aaa…” lanjutnya sambil menyuapkan daging yang sudah dibungkus oleh daun letuce

“thank you..” ucap jessica sambil mengunyah daging itu “aaa massyyytaah…” lanjutnya kegirangan membuat tiffany tertawa kecil

“tapi tiff..” ucap jessica kembali membuat tiffany menatapnya “tidak kah kau berpikir jika dia.. mirip… taeyeon?” ucap jessica setelah ada jeda karena ragu mengatakannya karena nama yang disebutkan adalah mantan kekasih sahabatnya itu

Tiffany terdiam mendengar ucapan jessica, iapun kembali menoleh menatap taeyeon yang masih sibuk bersama yang lain

“sejujurnya akupun awalnya terkejut sepertimu saat pertama kali melihatnya” ucap tiffany “saat itu yuri yang mengenalkannya padaku, tapi aku tak ingin menunjukkan keterkejutanku dihadapan yuri, yul juga menanyakan hal yang sama sepertimu” ucap tiffany kembali

“dan kau berpura pura bersikap biasa saja?”

“kau benar, aku bisa merasakan perasaan yul dan aku tak ingin menyakitinya”

“daebak, ternyata kau memang sudah mencintai yuri dari dulu” ucap jessica takjub

“lagipula kalaupun dia taeyeon, perasaanku sudah biasa saja” ucap tiffany mengalihkan pandangannya pada jessica

“syukurlah, aku khawatir tadi ucapanku menyakitimu, mianhae”

“gwaenchanna..” ucap tiffany “tapi jessie, aku ingin bertanya padamu”

“nne, katakan” ucap jessica mengambil minuman karena merasa haus

“kau sudah lumayan lama menjalin hubungan dengan yoong, apa… kalian sudah pernah melakukannya?” tanya tiffany ragu

“pwwffhhtt!!! yah, mengapa kau tiba tiba bertanya itu?” ucap jessica terkejut hampir menyemburkan air putih yang sedang diminumnya

“aku kesal dengan taehyuk oppa, dia terus mendesakku dengan pertanyaan itu” ucap tiffany mempoutkan bibirnya “dia juga berpikir jika kau dan yoong sudah melakukannya”

“m..mmwo? yaish kurang hajar” ucap jessica

“jadi??” ucap tiffany menatap serius pada jessica

“w…wae..?” ucap jessica gugup menatap sahabatnya itu

“apa yang diucapkannya benar?” tanya tiffany

“y..yyah! pertanyaanmu itu yaish..” ucap jessica menjitak pelan kepala tiffany

“aku hanya kesal dia terus menanyakan hal itu padaku, apa setiap pasangan harus melakukannya?”

“tidak juga, seharusnya mereka melakukannya setelah ada ikatan pernikahan, hanya saja kadang cinta membutakan segalanya, ada yang melakukannya karena nafsu saja, karena kebutuhan, karena cinta dan karena ingin mengikat karena dia adalah milik kita”

“jadi kau sudah melakukannya?” ucap tiffany terlihat kembali serius

“ck, baiklah aku mengakuinya” ucap jessica pasrah

“woah daebak” ucap tiffany terkejut

“kau sendiri? dulu kau bilang padaku belum pernah melakukan hal itu dengan taeyeon karena kau selalu belum merasa siap, apa perasaan mu seperti itu juga pada yul?” tanya jessica membuat tiffany membelalakkan kedua matanya

“e… anni…” ucap tiffany

“wae? kau sudah melakukannya dengan yul?”

“anniyo… tapi…”

“wae?” tanya jessica mendekatkan wajahnya pada tiffany karena penasaran

“entah mengapa perasaanku terasa terbakar setiap kali kami melakukan kissing”

“woah, lalu? apa yuri… mulai memintanya?”

“anni….”

“yaish.. kau membingungkan”

“yul tak pernah memintanya, dia pernah bilang ingin menjaga perasaanku dan tidak akan memintanya”

“dan kau kecewa dengan ucapannya?” ucap jessica mulai tertawa

“aninde…”

“yah, lantas mengapa tak segera menikah saja”

“yaish.. pernikahan bukan sesuau yang main main”

“arasso, lakukan saja jika kau ingin melakukannya” ucap jessica tersenyum memegang pundak tiffany, iapun mendekatkan wajahnya didekat telinga tiffany “apa perlu aku mengajarkannya padamu?” bisik jessica

“yah!!! jessica!!!” teriak tiffany dengan wajah yang sudah memerah membuat jessica tertawa terbahak bahak

“kalian seru sekali, apa yang dibicarakan?” ucap yuri yang baru saja tiba membawa daging yang sudah matang

“kau ingin tahu apa yang kami bicarakan?”

“nne… ceritakan padaku” ucap yuri sambil menata daging daging itu pada piring

“andwae…!!! kami tak membicarakan apa apa” ucap tiffany segera membungkam mulut jessica dengan tangannya

“huh? aneh sekali” ucap yuri bingung melihat kedua yeoja itu “yah yeddeuraa…. makanan sudah siap, kajja” teriaknya pada yang lain

Yang lain segera bergabung dan duduk melingkar di meja makan yang cukup besar itu. makan malampun dimulai dengan  beberapa tambahan cerita lucu dari masing masing terutama yoona, hyoyeon dan yuri yang lebih banyak menceritakan hal hal lucu sehingga membuat suasana malam itu tampak ceria

……………………………………

Kediaman tuan choi

“tuan, jisung bersama anak buah yang lain tewas saat melakukan penculikkan yoona, mereka kembali gagal” ucap yesung kaki tangan yang selalu berada disamping tuan choi itu

“sial! dasar bodoh mereka” umpat tuan choi kembali menelan kekecewaannya pada para anak buahnya

Yesungpun pamit dan meninggalkan ruangan tersebut. ia berjalan menuju lantai atas setelah mendapat panggilan dari sooyoung

*toktoktok*

“noona ini aku” ucap yesung setelah mengetuk pintu kamar sooyoung. ia menengok ke segala arah memastikan tak ada yang mengawasinya

“masuklah” ucap sooyoung dari dalam

Yesung pun memasuki kamar itu dan melihat sooyoung sedang duduk membersihkan beberapa senjata tajam miliknya

“yesung-ah bagaimana ayahku?” tanya sooyoung

“tuan choi saat ini tampak marah dan emosi karena jisung dan para anak buahnya gagal menculik dan membunuh yoona, bahkan mereka tewas” ucap yesung

“begitu ya, lalu apa kau sudah menemukan tempat dimana yoona tinggal saat ini?”

“belum noona, keberadaan mereka masih sulit dilacak, kami selalu kehilangan jejak setiap mengikuti yuri setiap pulang dari kantornya”

“hemm… begitu ya” ucap sooyoung meletakkan senjata senjata itu kembali ke tempatnya “kau boleh keluar yesung-ah, gomawo”

“nne.. tapi….” ucap yesung sedikit ragu, ia melihat sooyoung kembali menatapnya

“wae?” tanya sooyoung

“mengapa tuan choi begitu ingin membunuh kedua kakak beradik itu? apa hanya karena kesalahan dokter pada saat melakukan operasi untuk ibunya?”

“anniyo, lebih dari itu tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu” ucap sooyoung

“nne baiklah, kalau begitu aku pamit dulu noona” ucap yesung. ia pun meninggalkan kamar sooyoung

Sementara sooyoung kembali terdiam, pandangannya tertuju pada foto bergambar dirinya bersama yoona

……………………..

3 jam berlalu, acara barbecue di rumah yuri telah usai setelah makanan diatas meja habis

“yah, sudah ku bilang jangan telalu banyak minum soju! kau jadi mabuk kan” ucap jessica memarahi yoona yang terlihat mabuk menyandarkan kepalanya pada meja

“anniyo.. aku tak mabuk hehehe” ucap yoona tertawa menatap jessica

“yaish, kajja kita ke kamar” ucap jessica merangkul tangan yoona membantunya berdiri

“chagiya, aku merindukanmu kajja kita bermain malam ini” bisik yoona

“mwo? shiro!! kau harus pergi bekeja besok”

“kalau begitu aku ingin tidur disini saja” ucap yoona kembali duduk dan menyandarkan kepalanya diatas meja

“yah andwae… kau akan mati kedinginan” ucap jessica kembali menarik tangan yoona

“aku tidak ingin masuk sebelum kau mau” ucap yoona

“yaish dasar bocah! kajja”

“call?” ucap yoona

“ck, arasso” ucap jessica pasrah

“what!!! yah, jessie..!!” ucap tiffany yang sedari tadi memperhatikan mereka

“omo! kau mendengarnya tiff” ucap jessica tersenyum innocent

“yah, kalian!” ucap tiffany menunjukk jessica dan yoona

“eonnie, sebaiknya kau segera menikah dengan eonniku, kau tak tahu? banyak sekali yeoja dan namja yang ingin menjadi kekasihnya” ucap yoona “dan lakukan saja sebelum orang lain mendahuluimu hehehe” ucapnya kembali

“yah!!! paboya!!” teriak tiffany menjitak kepala yoona

“hahaha apa yang dikatakan yoong benar, atau… kau ingin tidur bersama kami?” goda jessica

“yaish!! kalian gila! kkah pergilah” ucap tiffany mendorong kedua yeoja itu berjalan memasuki rumah

“hufht… untung tak ada yang mendengar” ucap tiffany saat kembali berjalan menuju halaman. beruntung tadi hanya ada mereka bertiga di meja makan sementara yuri, taeyeon dan hyoyeon sedang mematikan arang dan membereskan alat pemanggang

“kau masuk saja, biar aku yang membereskan ini” ucap taeyeon mengambil piring piring yang berada di tangan tiffany

“gwaenchanna.. aku belum mengantuk, sepertinya aku tak bisa tidur”

“kalau begitu minumlah ini” ucap taeyeon mengeluarkan tempat minum kecil dari jaketnya

“apa ini?”

“aku selalu meminum ini jika kesulitan tidur” ucap taeyeon

Tiffany pun menerimanya dan mulai membuka tutup botol itu, ia mencium botol itu sebelum meminumnya

“yah minum saja” ucap taeyeon

Awalnya tiffany tampak ragu dan kembali memandang taeyeon, namun kemudian iapun mulai meminumnya

“yack!! minuman apa ini? keras sekali”

“red wine” ucap taeyeon

“mwo? yah! kau seperti….” ucap tiffany namun ucapannya terhenti

ia kembali teringat beberapa tahun yang lalu saat menginap di rumah taeyeon

“fany-ah…” ucap taeyeon memeluk tiffany dari belakang, tangannya mulai meraba bagian bagian tubuh tiffany, kemudian iapun membalikkan badan kekasihnya hingga berhadapan dengannya

kedua tangan taeyeon membingkai wajah tiffany, tanpa ragu ia segera mencium bibir kekasihnya. tangannya kembali turun mengusap usap punggung tiffany

“jangan taeyeon-ah” ucap tiffany melepaskan ciumannya saat merasakan tangan taeyeon hampir membuka resleting dress pada punggungnya

“wae?”

“aku.. belum siap melakukannya”

“kita sudah 2 tahun” ucap taeyeon

“nne.. tapi.. jangan sekarang, aku mohon” ucap tiffany menundukkan kepalanya

“arasso” ucap taeyeon melepaskan kedua tangannya, iapun berjalan meninggalkan kamar

“oddiga? apa kau marah?” tanya tiffany mengikuti kekasihnya itu

Namun taeyeon terus berjalan tak menjawabnya sampai mereka sampai di ruang bawah tanah

“tempat apa ini?” tanya tiffany, namun ia sedikit terkejut saat taeyeon menyalakan lampu sehingga ruangan tersebut terlihat jelas dengan beberapa botol terpasang rapi pada rak rak besar di ruangan itu. ia melihat taeyeon mengambil satu botol besar dan kembali mematikan lampu ruangan

“apa itu?” tanya tiffany kembali

“red wine” ucap taeyeon “ini membantuku setiap kesulitan tidur, aku akan meminumnya bersama appa, kau tidurlah” ucap taeyeon kembali kemudian berjalan meninggalkan kekasihnya itu

Saat itu tiffany menyadari botol botol itu juga selalu terpajang di lemari kamar didalam rumah ataupun apartemen taeyeon, ia memang tahu jika taeyeon selalu mengalami insomnia dan ternyata red wine yang bisa membantunya

Flashback End

“wae?” tanya taeyeon yang melihat tiffany terdiam tak mlanjutkan ucapannya

“aninne, aku masuk dulu” ucap tiffany segera berjalan meninggalkan taeyeon yang masih bingung melihatnya

“omo! yah!! kenapa kau menghabiskan semuanya! kau akan mabuk!” teriak taeyeon saat melihat botol itu sudah kosong, namun tiffany terlanjur memasuki rumah

“kenapa kau berteriak sendiri?” tanya yuri yang baru saja mengahampirinya

“an.. anniyo” ucap taeyeon gugup segera memasukan botol kecil itu pada saku jaketnya

“alat alatnya sudah selesai aku bersihkan, sepertinya aku harus pulang” ucap hyoyeon menghampiri yuri dan taeyeon

“huh? mengapa tak menginap saja? masih ada beberapa kamar kosong”

“anninde, besok pagi aku harus pergi ke seoul hospital menjenguk ibunya taeyeon” ucap hyoyeon menatap namja dihadapannya itu

“ah ya bagaimana keadaannya?” tanya yuri

“kesehatannya mulai membaik, tapi beliau masih selalu melamun memikirkan taeyeon, kau datanglah mejenguknya, dia sudah tahu tentang masalah keluarga kalian” ucap hyoyeon

“apa dia mau menerimaku?”

“coba saja, kau bisa meminta dia untuk menemanimu kesana” ucap hyoyeon kembali menatap taeyeon “kalau begitu aku pulang dulu, gomawo atas makan malamnya” ucapnya kembali kemudian pamit pada yuri dan taeyeon

“nne.. hati hati di jalan hyo, kemarilah jika kau bosan” ucap yuri mengantar hyoyeon sampai memasuki mobil

“arasso” ucap hyoyeon, iapun menginjakkan gas meninggalkan kediaman yuri

“sepertinya dia masih mencurigaiku” ucap taeyeon saat yuri kembali menghampirinya

“hemm… bagaimana pun juga lambat laun identitasmu akan terbongkar taeyeon-ah”

“jangan sekarang” ucap taeyeon “lagipula aku akan meninggalkan korea setelah kasus ini selesai”

“yah jangan berkata bodoh, kkah istirahatlah biar aku yang mencuci piring piring ini di dalam rumah” ucap yuri

“arasso” ucap taeyeon menepuk pundak yuri, ia pun meninggalkannya menuju paviliun tempatnya tinggal

…………………………………

Keesokan harinya

“yoong ireonna… Kau harus pergi bekerja” ucap jessica pengusap usap kepala kekasihnya yang masih terlelap disampingnya itu

“10 menit lagi, aku masih lelah karena kau main kasar semalam” ucap yoona memeluk jessica dan kembali tertidur

“yah! kita tak melakukan apa apa dasar bodoh” ucap jessica menepuk pelan dahi yoona

“ah iya aku lupa hehehe ternyata itu hanya mimpi” ucap yoona membuka kedua matanya menatap wajah jessica yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya

*cuppp* dengan cepat ia mengecup bibir jessica memberikan kiss morning

“good morning” ucap yoona tersenyum menatap kekasihnya

“morning too, my love” ucap jessica giliran ia yang mencium bibir yoona “kkah mandilah, aku akan menyiapkan sarapan” ucapnya kembali sambil terbangun dan mengikat rambutnya

“tak ingin mandi bersama?” ucap yoona menarik tangan jessica hingga terjatuh diatas tubuhnya

“yaish…. shirro, dasar pervert” ucap jessica memukul kembali dahi yoona. ia pun kembali bangun meninggalkan yoona didalam kamar

…………………………..

Kediaman tuan choi

“sunny-ah bagaimana perkembangan perusahaan eletronikmu? apa kau berhasil bekerja sama dengan yuri?” ucap tuan choi saat menikmati sarapan pagi bersama keluarga

“nne.. kami sudah menandatangani kontrak kerja sama”

“baguslah,  apa kau menyukai yuri?”

“appa, dia teman masa kecilku”

“memangnya kenapa? kalian sudah saling mengenal satu sama lain, akan sangat bagus jika kalian bersama” ucap tuan choi

“appa…” ucap sunny merasa jengkel

“ah ya youngie-yaa siang ini appa akan mengunjungi restoranmu bersama para klien, siapkan beberapa makanan mewah” ucap tuan choi kini beralih pada sooyoung yang sedari tadi hanya terdiam menikmati sarapan

“mengapa sangat mendadak, aku belum menyiapkan bahan bahannya”

“gwaenchanna, kau bisa meminta pekerjamu menyiapkannya sekarang, lagipula appa akan kesana siang nanti, mungkin sedikit sore”

“arasso, kalau begitu aku pergi dulu” ucap sooyoung menghentikan makannya dan segera bersiap siap

“yah, habiskan dulu sarapanmu, apa kau tak ingin berangkat bersamaku” ucap sunny

“untuk hari ini aku akan sibuk” ucap sooyoung, iapun pamit dan segera berangkat

Saat diperjalanan, sooyoung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang

“yoboseyo, luna-yaa” ucap sooyoung setelah telepon itu diangkat penerimanya

“oh yoboseyo eonnie, tumben sekali kau menghubungiku”

“akan ada orang-orang penting yang akan membooking untuk nanti siang, bisakah kau dan yan lain datang lebih pagi?” ucap sooyoung

“arasso, sebenarnya aku sudah berada di restoran dan kebetulan hari ini restoran baru saja dibuka setelah beberapa hari tutup”

“nne?” gumam sooyoung heran

“huh? apa eonnie tidak tahu?”

“wae?”

“beberapa hari yang lalu ada kasus penculikkan sica eonnie disini, tempat ini menjadi berantakan namun untungnya sica eonnie sudah berhasil diselamatkan tanpa melibatkan polisi jadi restoran ini bisa kembali dibuka”

“apa yoona sudah berada disana sekarang?”

“nne..  kami baru saja membereskan barang barang”

“aku segera kesana” ucap sooyoung kemudian mematikan teleponnya, iapun kembali menancapkan gas menambah kecepatan

Tak butuh waktu lama sooyoung sudah tiba di restoran, iapun segera memasuki restoran tersebut dan menghampiri para pekerjanya yang masih sibuk menata barang barang

“yah apa yang terjadi dengan restoranku” ucap sooyoung langsung membalikkan tubuh yoona dan mencengkram kerah seragamnya

“huh? aku pikir kau sudah tau”

“mengapa kau tak memberitahuku!” ucap sooyoung semakin mencengkram erat kerah itu

“wae..? mengapa kau terlihat marah?”

Sooyoungpun melepaskan kerah baju yoona dengan kasar

“pergilah, dan jangan pernah kemari” ucap sooyoung membuat yoona dan pekerja yang lain terkejut

“yah choi sooyoung, ada apa denganmu?”

“ini restoran milikku, dan kau hampir saja menghancurkannya!” teriak sooyoung kembali marah

“yah chankkaman, mengapa sekarang kau jadi peduli pada restoran ini? kemarin kau kemana huh?” ucap yoona mulai terlihat kesal

“bukan urusanmu, pergilah aku muak melihatmu”

“shirro, apa karena masalah penculikan ini kau marah? semuanya sudah selesai, lagipula kau bisa datang dan pergi sesukamu, aku yang biasa bertanggung jawab menjalankan restoran selama ini”

Sooyoung kembali emosi dan

*bukk!!!* dengan kencang ia memukul wajah yoona hingga tejatuh

“omo! eonnie!!” teriak luna menghampiri yoona membantu mebangunkannya sementara yang lain segera menahan sooyoung

“lepaskan aku atau kalian aku pecat!” teriak sooyoung membuat yang lain terkejut dan takut, mereka pun segera melepaskan tangannya

“yah, aku tanya sekali lagi ada apa denganmu? bukankah kau tampak tak peduli dengan restoran ini?”

“anni, aku yang mengatur restoran ini mulai sekarang, dan aku memecatmu” ucap sooyoung

“wae?”

“aku akan memasukkan restoran ini kedalam bisnis perusahaan, bukankah kau membencinya? aku rasa kau tak berhak berada disini lagi”

“arasso, semoga kau sukses” ucap yoona melepaskan seragam restoran yang dikenakannya dan melemparkan pada sooyoung

Yoona pun pergi meninggalkan restoran. terjadi keheningan didalam restoran karena mereka masih merasa terkejut dan taku pada sooyoung

“kalian kembalilah bekerja seperti biasa, mianhae atas sikapku” ucap sooyoung

“nne eonnie.. tapi.. alangkah baiknya menyelesaikan masalah secara baik baik”

“arasso” ucap sooyoung menoleh pada jendela menatap yoona yang baru saja memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan restoran

……………………………

“hey morning my tiffy, kau tak bekerja?” ucap jessica saat melihat tiffany memasuki dapur mengambil air minum untuknya

“anniyo, kepalaku masih terasa pusing” ucap tiffany

“wae? apa kau sakit?” ucap jessica menghampiri tiffany dan memeriksa suhu badan tiffany

“anniyo, aku hanya merasa lelah dan badanku sedikit sak…” ucap tiffany menghentikan ucapannya “ah anni..” lanjutnya mengalihkan

“wae??” tanya jessica heran “omo! chankkaman, kau hanya memakan kemeja besar ini, rambutmu berantakan dan..” ucap jessica segera menyingkirkan rambut tiffany yang terurai sehingga lehernya terlihat jelas

“y..yyah!! apa yang kau lakukan” ucap tiffany menyingingkirkan tangan jessica langsung terlihat gugup

“omo! k..kkau!!”

“anni….” teriak tiffany iapun berlari memasuki kamarnya kembali dan menguncinya

“hahaha yah! buka fany-ah…!! ceritakan padaku ppali…!!” teriak jessica terus mengetuk kamar tiffany yang terkunci, ia tak bisa menghentikan tawanya

“jangan berpikir macam macam, aku tak melakukan apa apa” ucap tiffany dari dalam kamar

“arasso, tapi mengapa kau menghindariku, yah buka pintunya” ucap jessica masih meenertawai tiffany

perlahan pintu kamarpun terbuka

 

To Be Continued

pusing saya, ga tamat tamat ūüė¶

Sepertinya part berikutnya akan di proteksi karena ada anu dan anu

kecuali di wattpad mungkin karena saya ga paham gimana proteknya

yang udah pernah dapet pasword gapapa ga perlu tanya lagi karena pw nya as always tetep yang itu

makasih yang udah setia ga bosen nunggu

Advertisements

We Are Different part 13

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………………

“Lain kali hati hati, untung tanganmu tidak terluka”¬†ucap jessica menyapu pecahan pecahan kaca itu

“Nne omonim” ucap yoona memperhatikan jessica

“Wae? Kenapa denganmu? Tadi kau tampak ceria”

“Molla ,tiba tiba perasaanku tak enak”

“Apa jantungmu terasa sakit lagi?”

“Anniyo, ah sudahlah aku sudah tak apa”

*ceklek*

Tepat saat itu pintu rumah terbuka membuat jessica dan yoona menoleh

“Yoong bantu aku bukakan pintu kamar” ucap yuri yang baru saja masuk sambil menggendong tiffany dengan brydal style

“Nne, kenapa dengan fany eonnie? Kalian kemana saja eoh” ucap yoona setelah membukakan pintu kamar

“Dia kelelahan sampai tertidur saat perjalanan pulang, kami baru saja menghadiri pesta” ucap yuri membaringkan tiffany diatas tempat tidur

“Omo! Aku baru ingat! Hari ini sunny eonnie ulang tahun kan? Kau baru saja dari sana?”

“Nne…”

“Omo omo, aku bisa dibunuh sooyoung besok” ucap yoona menepuk keningnya

“Gwaenchanna sooyoung tau kau tak datang, kkah tidurlah dan tutup pintunya”

“Yah apa yang akan kau lakukan pada fany eonnie?”

“Tentu saja menggantikan pakaiannya, dia tak akan nyaman tertidur dengan pakaian seperti¬†ini”

“Jangan berbuat macam macam padanya” ucap yoona memicingkan matanya

“Yah! Tentu saja tidak, memangnya kau huh?” ucap yuri

“Mwo?”

“Yaish, kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan di dalam tenda bersama jessica huh?”

“Omo! Eon..nie…” ucap yoona terkejut tak menyangka jika yuri ternyata mengetahuinya

“Ck, kali ini ku maafkan, kkah pergilah” ucap yuri

Yoona pun tertawa innocent dan meninggalkan kamar tiffany

…………………………..

Keesokan harinya

Yuri membuka pintu paviliun yang berada dibelakang rumahnya, ia pun berjalan memasuki sebuah kamar dan segera menghampiri seseorang yang masih terbaring dalam tidurnya

“Taeyeon-ah gwaenchanna? Taeyeon-ah…. Oppa…” panggil yuri menggoyang goyangkan pundak taeyeon

“Engghh… Wae.. ¬†Aku masih ngantuk” erang taeyeon sedikit membuka matanya melihat yuri namun ia kembali tertidur

“Syukurlah kalau kau baik baik saja” ucap yuri setelah melihat tubuh taeyeon tak terluka, ia mengkhawatirkannya tentang semalam

“Kalau begitu kajja kita berangkat ke kantor” ucap yuri kembali

Hmm… Wae…? Aku masih mengantuk”

“Yaish, kau kan dirut kantorku, ppali…”

“Yah, aku pikir semalam kau hanya bercanda”

“Anniyo aku mengatakan yang sebenarnya, kajja”

“Besok saja, aku mau kembali tidur.. Kkah pergilah”

Yuri terdiam mendengar ucapannya, matanya kembali tertuju pada luka bakar pada bagian leher belakang taeyeon, ia sedikit merasa bersalah karena bom itu meledak sebelum dia berlari jauh sehingga membuat kedua tubuh yeoja itu terpental. Beruntung yuri hanya mengalami luka ringan sementara taeyeon yang terlepas dari gendongannya sudah tak sadarkan diri dan mengalami luka bakar

“Hmm… Baiklah kau kembali istirahat saja” ucap yuri kembali berdiri hendak meninggalkan kamar namun saat itu ponsel di dalam saku jas nya berbunyi menerima panggilan

“Nne ini aku baru saja mau berangkat, Ada apa?” ucap yuri menerima telepon itu

“………………”

“Mwo? Sunny? Ada apa dia ke kantorku?” ucap yuri pada asisten di kantornya itu, suara yuri membuat taeyeon langsung membuka matanya saat menyebutkan nama kekasihnya itu

“…………………..”

“Ah.. Baiklah, aku sudah siap dan tinggal langsung berangkat, jika sunny datang lebih dahulu tunggu saja di ruanganku”

Yuri pun menutup teleponnya dan kembali berjalan meninggalkan kamar taeyeon namun, saat beberapa langkah tiba tiba sebuah tangan menahan pundaknya

“Omo!! Yah!! Kau membuatku terkejut saja” ucap yuri saat melihat taeyeon sudah berdiri dibelakangnya

“Chankkaman, tunggu aku, oke? Aku ikut ke kantor” ucap taeyeon

“Yaish tadi kau bilang tak ikut, baiklah 10 menit!” ucap yuri, taeyeon pun langsung mengambil handuknya dan berlari memasuki kamar mandi

…….

Yuri dan taeyeon sudah berada dalam perjalan menuju kantor milik yuri

“Yaish gara gara kau memintaku buru buru aku jadi tak sempat berdandan” kesal taeyeon yang masih merapikan dasi nya

“Kau sendiri yang meminta untuk ikut, tadi kau bilang ingin tidur saja” ucap yuri yang masih fokus menyetir

“Aku tak akan begini jika sunny tak akan datang, tapi ada apa dia ke kantormu?”¬†

“Molla, aku juga tak tak tahu” ucap yuri mengangkat kedua pundaknya

Namun yuri kembali memandang taeyeon

“Wae?” tanya taeyeon

“kau terlihat baik baik saja, bagaimana kau bisa menghindari anak buah tuan choi?”

“Ah.. Hahaha itu sih gampang sekali” ucap taeyeon tertawa puas

Flashback

Acara pesta ulang tahun sunny pun selesai, semua tamu undangan termasuk yuri dan tiffany pamit untuk pulang
Dan saat itu pula para anak buah tuan choi langsung siap siaga

“Ikuti mereka, aku harap malam ini kita benar benar berhasil” ucap salah satu pemimpin mereka

“Baik!”

Yuri dan tiffany memasuki lift sementara anak buah tuan choi yang mengikutinya segera turun melewati tangga begitu melihat pintu lift tertutup

Ketika didalam lift, yuri merasakan ponselnya bergetar didalam jasnya, ia pun mengambilnya dan melihat sebuah pesan masuk dari taeyeon

“Aku sudah didalam mobil, suasana disini cukup ramai oleh para tamu, aku akan segera menyalakannya ketika mereka datang”

“Baiklah, hati hati taeng..” balas yuri, iapun kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jas

Yuri melepaskan jas nya dan memakaikannya pada tiffany

“Eh?” gumam tiffany terkejut

“Kau akan kedinginan” ucap yuri tersenyum

“Gomawo…” ucap tiffany tersenyum mengeratkan jas itu

“Bolehkah aku melepas ikat rambutmu?” ucap yuri kembali

“Nne? Wae?”

“Aku.. Lebih senang melihat rambutmu tergerai” ucap yuri tersenyum inncocent

“Yaish…” ucap tiiffany mencubit pelan lengan yuri, namun ia pun segera melepaskan pengikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai

Begitu lift terbuka, yuri yang berada dibelakang para tamu pun segera menajamkan penglihatannya dan berhasil melihat para anak buah tuan choi yang berjalan kearah mobil yuri yang diparkirkan, ia melihat mobilnya yang mulai menyala dan meninggalkan basemant diikuti para anak buah tuan chou

“Aku harap kau akan baik baik saja taeng” ucap yuri dalam hati

Yuri dan tiffany pun keluar dari lift itu

“Fany-ah… Kemari” ucap yuri menarik tangan tiffany berjalan ke arah lain

“Eh? Bukankah mobilmu terparkir disana?” ucap tiffany

Nne, tapi taehyuk oppa sudah membawanya dan pulang lebih awal, jadi aku meminta amber menjemput kita” ucap yuri

“Oh.. Begitu” ucap tiffany

Setelah beberapa langkah, mereka menemukan amber yang sudah berdiri menunggunya didepan mobil yang dibawanya
Mereka pun segera masuk dan berhasil meninggalkan gedung milik tuan choi tanpa diketahui anak buahnya

Saat diperjalanan taeyeon melihat pada kaca spion mobilnya 2 buah mobil hitam terus mengikutinya

“Apa yang harus aku lakukan?” ucap taeyeon dalam hati

Namun tiba tiba ponselnya berbunyi menerima pesan, taeyeon pun membukanya

“Oddiga? Apa kau kesulitan?” – yuri

“Nne… Sedikit, ada 2 mobil yang mengikutiku, 1 van dan 1 truk hitam, aku sedang berada dijalan guamdong” balas taeyeon

“Otthokae? Apa aku perlu menyusul?” – yuri

“Andwae, aku akan baik baik saja… Aku sudah menemukan ide, bye” balas taeyeon

Ia melihat ponselnya kembali berbunyi menerima pesan dari yuri, namun ia membiarkannya dan tetap fokus menyetir

“Kalian tidak akan bisa masuk” ucap taeyeon tersenyum smirk, ia menginjakkan gas menambah kecepatan dan memasuki sebuah terowongan yang memperlihatkan rambu rambu adanya pemeriksaan kendaraan

“Sial, kita tak bisa masuk, polisi akan menemukan senjata kita, kajja kita tunggu di pintu keluar” ucap anak buah tuan choi, mereka pun menuju arah lain

Setelah melewati pemeriksaan, taeyeon memelankan laju mobilnya, ia melihat map digital dalam mobil itu

“Bagus” gumamnya, iapun menepikan mobilnya dan mensetting mobil itu kedalam automatic driver

Begitu selesai taeyeon keluar dari mobil yang mulai berjalan otomatis itu.

Iapun berjalan kaki dan membuka sebuah pintu didalam terowongan itu yang menuju rel kereta bawah tanah, beruntung tak jauh dari sana ada stasiun bawah tanah. Dan taeyeon berhasil menghindari para anak buah tuan choi yang sedang memburu mobil itu

Begitu mobil itu keluar, anak buah tuan choi yang sudah siap menunggunya segera menginjakkan gas dan kembali mengikuti mobil itu

“Keadaan sudah sepi, lakukan sekarang!” ucap sang pemimpin anak buah itu pada walkie talkienya

Truk yang berada dibelakangpun mulai menambahkan kecepatan

*brakkk!!!*

Dengan keras truk itu menabrak bagian belakang mobil yuri sehingga membuat mobil itu terpental dan berguling beberapa kali

Begitu berhenti, para anak buah tuan choi mulai keluar dari mobilnya dan mendekati mobil yuri yang hampir hancur itu. Namun begitu dicek, mereka terkejut saat melihat sebuah bom wakgu yang terpasang dan sudah menyala itu

“Sial!!”

*DUARRRR!!!* 

Flashback end

“MWO? Kau membunuh mereka? Yah yah yah!” ucap yuri¬†terkejut mendengarkan cerita taeyeon

“Tentu saja, membayar atas apa sudah mereka lakukan terhadapku, aku ingat merekalah yang memukul dan memasng bom di rumahku, mereka akan terus mengincar dan membunuhmu jika dibiarkan saja” ucap taeyeon sementara yuri hanya menggeleng gelengkan kepalaya merasa pasrah

Sesampainya di kantor, taeyeon langsung menarik tangan yuri memasuki gedung

“Yah! Mengapa buru buru sekali” ucap yuri menyeimbangkan langkahnya sedikit berlari

“Apa sunny sudah tiba?” tanya taeyeon pada resepsionis

“Nne, sekitar 10 menit yang lalu, sunny-shi sudah menunggu di ruang tamu” ucap reaepsionis itu

“Baiklah aku akan segera kesana” ucap taeyeon “lantai berapa yul?” lanjutnya

“Lantai 3” ucap yuri

Taeyeon melepaskan tangan yuri segera memasuki lift

“Eonnie, nuguseyo?” tanya resepsionis itu yang masih memperhatikan taeyeon

“Ah ya, dia dirut baru kita mulai hari ini, aku akan memperkenalkannya siang nanti, woori-ah apa pengganti asistenku sudah ada?”

“Nne eonnie, dia…”

“Asistenmu disini” ucap seorang yeoja yang sudah berdiri di belakang yuri

“Kau?” ucap yuri sedikit terkejut saat¬† menoleh dan melihat seolhyun

“Yah sunbae mengapa kau sekaget itu” ucap seolhyun

“Yah, bukankah kau seorang dokter dan harus mengurus klinikmu, mana mungkin kau menjadi asistenku”

“Ck, bukan aku… Aku kesini hanya mengantar sepupuku” ucap seolhyun menggeser tubuhnya memperlihatkan seorang yeoja yang sudah berdiri dibelakangnya

“Nugu?” tanya yuri, mempehatikan yeoja itu yang terlihat sangat rapi dengan jas kantor dan kaca mata bulat nya

“Hyunie-ah, dia yang akan menjadi bosmu, tampan bukan?”

“An..anyeonghaseyo, s…s.sseo juhyun imnida, aku yang waktu itu diterima untuk menjadi asisten anda yuri-shi” ucap yeoja itu terlihat canggung

“Ah.. Begitu, kenapa nama kalian hampir sama aku jadi bingung memanggilnya”

Baru saja yeoja itu membuka mulutmya untuk menjawab, seolhyun sudah terlebih dahulu menjawabnya

“Panggil saja juhyun” ucap seolhyun

“Ah eonnie…” bisik yeoja itu

“Juhyun? Hmm… Aku rasa kurang cocok, aku panggil kau hyunie saja, kajja ikut aku ke ruanganku” ucap yuri

“Yah yah yah! Bagaimana denganku?” ucap seolhyun

“Kau? Tentu saja kembali ke ilsan, kau tak boleh meninggalkan pasienmu”

“Baiklah, aku kemari hanya ingin mengantarnya, jaga dia arra? Jangan sampai kau menyakitinya”

“Arrasso cerewet sekali, kkah pergilah” ucap yuri

Ketiganya pun berpisah dan seohyun mengikuti yuri ke ruangannya

“Apa amber sudah mengarahkanmu tentang perusahaan ini?” tanya yuri setelah duduk didalam ruangannya “hey duduklah” lanjutnya saat melihat seohyun masih berdiri

“Ah nn..nne…” ucap seohyun segera duduk dihadapan yuri

“Jadi?”

“Nne yuri-shi, amber-shi sudah memperkenalkan perusahaan ini dan saya sudah bisa menghafalnya letak letak keseluruhan dan bagian bagian lain di perusahaan ini”

“Wow, ingatanmu tajam juga ,lalu apa kau sudah mengetahui tentangku?”

“Nne, nama anda kwon yuri, anda pemilik penuh perusahaan ini yang disamarkan atas nama amber-shi”

“Hmm.. Baiklah, hanya itu yang ingin aku tanyakan, untungnya kau sudah banyak tahu, ah ya berapa umurmu?”

“22 yuri-shi”

“Kalau begitu hyunie-ah panggil saja aku eonnie? Dan tak perlu bica formal lagi”

“Nne?” gumam seohyun heran

“Disini sudah seperti rumah dan keluarga, jadi tak perlu formal lagi padaku ataupun pada karyawan lain, perusahaan ini kami jalani senyaman mungkin tetapi tetap harus pada tanggung jawab dan serius bekerja”

“Baiklah yu… Ah eonnie” ucap seohyun mengangguk

“Tugasmu hari ini… pertama buatkan kopi untukku, kau sudah tahu kesukaanku?”

“Nne, americano tanpa gula”

“Sip, lalu setelah itu hubungi seluruh karyawan untuk hadir di acara rapat besar pukul 10 nanti, akan ada perkenalan dirut baru di perusahaan ini, untuk sementara itu saja tugasmu”

“Nne eonnie” ucap seohyun segera pamit dan keluar ruangan

“Haah… Lucu sekali dia seperti adikku, ah apa dia sudah bangun ya” ucap yuri menyandarkan punggungnya

………………………………….

“Gara gara kau terlambat bangun kita jadi kesiangan” ucap jessica mempoutkan bibirnya

“Apa boleh buat, jika tidur bersamamu aku selalu malas membuka kedua mataku, terlalu nyaman hehehe” ucap yoona innocent sambil terus fokus mengemudi mobil. Keduanya sedang menuju ke restoran dimana mereka bekerja

“Yasudah mulai nanti malam tidurlah sendiri!”

“Shirro… Aku tak bisa tidur jika tanpamu” ucap yoona cemberut

“Yah, kau tak bisa bangun terlambat terus babo!”

“Arraso.. Aku akan bangun lebih awal tuan putri”

“Yaish… Awas saja” ucap jessica

Tak berapa lama keduanya tiba dan segera memasuki restoran yang sudah terlihat ramai pengunjung

“Yah! Bisa bisanya kalian terlambat” ucap sooyoung yang sedang menjaga kasir

“Omo! Youngie-ya…!!!” teriak yoona segera berlari dan memeluk sooyoung

“Yah yah yah! Kau tak malu diperhatikan para pengunjung eoh? Lagipula jessica bisa membunuhku” ucap sooyoung yang melihat jessica sedang menatapnya datar itu

“Aku tak peduli, boghoshippoyo…” ucap yoona mengeratkan pelukannya

“Arra… Lepaskan dulu, aku kesulitan bernapas” ucap sooyoung, yoona pun melepaskan pelukannya

Jessica pun ikut memeluk menyambutnya

“Kau kemana saja eoh? Segitu sibukkah?”

“Nne… Aku sibuk” ucap sooyoung “sibuk mengurusi seseorang” lanjutnya dalam hati sambil memandang yoona

“Yaish, apa kau sudah sarapan? Kajja kita makan, aku rindu mengobrol denganmu” ucap yoona

“Yah yah yah, lalu siapa yang akan menjaga kassa?”

“Tenang saja” ucap yoona kemudian melirik jessica yang baru saja mengganti pakaiannya

“Arra… Sana pergilah” ucap jessica datar dan berjalan menuju kassa menggantikan sooyoung

Namun jessica terus memperhatikan sooyoung dan yoona yang sudah duduk di meja pengunjung yang mulai asik berbincang. Ia mulai memasang earphone pada salah satu telinganya, karena diam diam jessica telah menempelkan alat penyadap pada pakaian sooyoung saat memeluknya tadi

Flashback

Tengah malam tadi jessica terbangun karena merasa haus, ia melihat yoona sudah terlelap disampingnya

Saat jessica berjalan keluar kamarnya menuju dapur, tak sengaja ia melihat sebuah pintu ruangan yang sedikit terbuka dengan caya lampu yang terlihat remang remang, karena penasaran iapun menghampiri ruangan itu

“Yul” panggil jessica setelah membuka pintu itu dan melihat yuri didalamnya

“Mengapa kau belum tidur?” ucap yuri setelah melihat jessica menghampirinya

“Aku terbangun karena merasa haus, lalu aku melihat ruangan ini sedikit terbuka, kau sedang apa?”

“Mempersiapkan beberapa alat untuk besok” ucap yuri

Jessica hanya mengangguk melihat lihat ruangan itu memang berisi peralatan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, namun ia paham alat alat itu pasti sangat canggih dan dibutuhkan yuri saat ini, tiba tiba pandangannya tertuju pada alat yang berbentuk kecil yang baru saja yuri masukkan kedalam kopernya

“Itu apa yul?” tanya jessica

“Alat penyadap, kita bisa menempelkannya dimanapun setelah melepaskan perekat dan menekan tombol kecil ini, lalu bisa kita dengarkan dengan earphone ini” ucap yuri menunjukkan alat itu

“Woah kecil sekali” ucap jessica menerima dan memperhatikan alat penyadap itu

“Jika besar maka akan mudah diketahui musuh”

“Apa kau memiliki lagi?”

“Nne, wae?”

“Aku ingin meminjamnya”

“Baiklah, pastikan kau tak ketahuan” ucap yuri memberikan kotak kecil berisi alat penyadap itu

“Arraso… Kau tenang saja” ucap jessica tersenyum puas menerima alat itu

Flashback end

Jessica pun mulai mendengarkan percakapan mereka

…………………..

Kantor

“Jadi memang kau yang tadi malam itu?” ucap sunny memandang taeyeon yang sudah duduk dihadapannya

“Memangnya siapa lagi, tapi ada apa kau kemari?”

“Aku ingin bertemu dengan yuri”

“Huh? Yah, aku seorang dirut disini, kau bisa mengatakan apapun padaku”

“Hmm… Aku ingin perusahaanku bisa bekerja sama dengan perusahaan ini”¬†

“M..mmwo?” ucap taeyeon terkejut

“Wae? Sepertinya kau tak senang”

“An.. anniyo…” ucap taeyeon gugup

“Call” ucap yuri yang sudah berdiri didepan pintu membuat kedua yeoja itu menoleh menatapnya

“Nne…?” gumam taeyeon terkejut

“Ku dengar kau seorang ceo perusahaan produksi gadget, aku rasa akan cocok jika kita bekerja sama” ucap yuri tersenyum menghampiri sunny

“Call” ucap yuri tersenyum senang

“sejujurnya aku masih kesulitan berada di posisi ini, untuk itu aku meminta bantuanmu yuri-ah” lanjutnya memeluk lengan yuri

“Arrasso… Kita akan bahas di rapat besok, sering seringlah datang kemari jika kau mengalami hal yang sulit”

“Call!!” ucap sunny “baiklah besok datanglah ke kantorku, kita adakan meeting” lanjutnya kemudian iapun pamit dan meninggalkan mereka

“Yah yah yah!! Apa maksudmu” ucap taeyeon

“Wae? Bukankah ini ide bagus? Dengan begini kita bisa memanfaatkannya untuk membongkar perusahaan hitamnya”

“Aku tak masalah dengan hal itu, tapi yang ku lihat baru saja tak bisa dibiarkan” ucap taeyeon terlihat kesal

“Nne?” gumam yuri tak mengerti

“Sunny memeluk lenganmu! Dasar bodoh! Kau ini sudah memiliki kekasih!” ucap taeyeon sedikit marah

“Aigo… Hahaha jadi kau cemburu eoh?” ucap yuri mengacak acak rambut pendek taeyeon kemudian meninggalkan ruangan itu

“Yaish… Menyebalkan” ucap taeyeon mempoutkan bibirnya kesal

……………………………….

 Keesokan harinya

“taeyeon-ah aku harus segera pergi, bisa kah kau menolongku?” ucap yuri yang baru saja memasuki ruang kerja taeyeon

“nne, apa?”

“jemput tiffany pulang”

“mwo? memang kau mau kemana?”

“kau lupa? aku harus pergi ke kantor choi grup menemui sunny dan menandatangani kontrak kerja sama perusahaan”

“mwo?? yah yah yah aku harus ikut”

“andwae… hanya aku dan asisten ku”

“yah, kau akan berada dalam bahaya, aku harus mengawasimu”

“bukan karena ingin melihat sunny mu?”

“ah.. hahaha salah satunya itu, jebal…”

“tidak, kau jemput tiffany saja, aku tak punya banyak waktu, bye taeng”

“yah yah yah!!” teriak taeyeon namun yuri bersama asistennya terlanjur meninggalkan ruangannya

Dengan terpaksa taeyeon pun mengambil kunci mobil dan meninggalkan kantor untuk menjemput tiffany

Sesampainya disana taeyeon melihat tiffany sudah berdiri di halte bis tak jauh dari gedung perpus. Ia pun segera menepikan mobilnya dan membuka kaca pintu mobil

“Taehyuk-ssi?” panggil tiffany heran

“Yul tak bisa menjemputmu karena ada rapat, jadi aku yang menggantikannya, kajja” ucap taeyeon membukakan pintu untuk tiffany

“Ah begitu ya, mianhae merepotkanmu taehyuk-ssi” ucap tiffany

“Anniyo, lagipula aku sedang tak sibuk” ucap taeyeon mulai melajukan mobilnya

Selama perjalanan keduanya hanya tampak diam tak ada percakapan

Tiffany yang diam menikmati pemandangan luar dan taeyeon yang selalu diam diam memperhatikannya

“Emm… Fany-ah” panggil taeyeon membuat yeoja disampingnya itu menoleh

“Nne?”

“Apa kau sudah makan?”

“Belum, kenapa?”

“Emm… Aku lapar hehehe” ucap taeyeon tersenyum innocent

“Aigo.. Hahaha baiklah akan aku temani anda makan taehyuk-ssi”

“Yah, behenti memanggilku seperti itu, bicaralah seperti biasa saja..”

“Nne? Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil saja unn… Eh oppa”

“Oppa?” ucap tiffany heran

“Nne… Seperti yul memanggilku itu”

“Baiklah, oppa” ucap tiffany

“Kalau begitu kita mampir dulu ke restoran” ucap taeyeon kembali menepikan mobilnya dan memarkir didepan sebuah restoran

Sesampainya disana taeyeon langsung memesan makanan setelah keduanya duduk

“Kau yakin tak ingin makan?” tanya taeyeon karena tiffany hanya memesan jus strawberry saja

“Nne…”¬†

“Yah, aturlah pola makanmu dengan baik” ucap taeyeon membuat tiffany memandangnya heran

“Kau akan membuat yuri khawatir” ucap taeyeon kembali setelah melihat ekspresi tiffany padanya

“Nne.. Oppa, baru kali ini aku menemukan namja cerewet sepertimu”

“Mwo? Yah aku bicara seperti ini demi kebaikanmu” ucap taeyeon

Tiffany baru saja membuka mulutnya hendak bicara namun pelayan restoran sudah datang membawakan makanan  dan minuman pesanan mereka hingga membuatnya kembali terdiam

“Kau yakin tak ingin makan” tanya taeyeon kembali

“Tidak, palliwa… Kita harus segera pulang!” Ucap tiffany segera meminum jus miliknya

“Arraso ahjumma, cerewet sekali” ucap taeyeon

“Mwo? Yah!” kesal tiffany membuat taeyeon tersenyum melihatnya

“Wae?” tanya tiffany masih terlihat kesal

“Anni” ucap taeyeon menjulurkan lidahnya pada tiffany namun taeyeon kembali tersenyum mengalihkan pandangannya yang lain “aku senang melihatmu seperti ini fany-ah, karena selama bersamaku dulu aku tak pernah merasakannya” lanjutnya dalam hati

Cukup lama keduanya saling terdiam, taeyeon kembali memandang tiffany yang terus terusan sibuk dengan ponselnya

“Yah, apa kau pikir kau sedang duduk sendirian eoh? Aku bukan boneka”

“Wae…? Lagipula kau sedang makan, tak baik makan sambil bicara”

“Tapi kau selalu fokus pada ponselmu, kau tak ingin memandang wajahku?”

“Huh? Wae?” tanya tiffany heran

“Aku ini pria tampan, apa kau tak terpesona?” ucap taeyeon tersenyum smirk

“Anni” jawab tiffany datar

“Yaish… Arraso, aku tak akan menggodamu lagi”

“Oppa, berapa umurmu?”

“Wae?”¬†

“Dengan wajah dan sifatmu yang seperti itu aku rasa kau masih anak usia remaja”

“Yah! Sembarangan, aku ini lebih tua darimu”

“Arraso, anak kecil tak akan memiliki pikiran byunt sepertimu”

“Mwo? Yah, apa maksudmu” ucap taeyeon kesal

“Kau pikir aku tak tahu kalau sedari tadi kau selalu memperhatikan butt para yeoja yang berjalan melewatimu” ucap tiffany sedikit berbisik takut didengar orang lain

“Hehehehe kau tahu saja” ucap taeyeon tertawa innocent

“Dasar byuntae!” rutuk tiffany

“Apa boleh buat ,yul yang mengajarkanku”

“Mwo? Yah! Yul tak seperti itu”

“Aigoo… Istrinya tak terima, arraso aku hanya bercanda”

“Yaish menyebalkan, selesaikan makanmu ppalii..!!” ucap tiffany mempoutkan bibirnya

“Arra…” ucap taeyeon ikut memasang wajah cemberutnya, iapun kembali melanjutkan makan

……………………………………………..

Di rumah tuan choi

*toktoktok* seseorang mengetuk pintu ruang pribadi tuam choi

“Masuklah” ucap tuan choi, pintu pun terbuka terlihat beberapa anak buah tuan choi menghampiri dengan membawa beberapa berkas

“Tuan, kami sudah berhasil menemukan mereka, tapi…”

“Tapi apa?”

“Ini.. Tuan” ucap salah satu anak buahnya menyerahkan amplop besar pada tuan choi

Tuan choi pun membukanya dan melihat beberapa lembar foto

d70a2b97f3df6fbfaa97f50d9a1c0a4b.jpg.png

“sooyoung?” ucap tuan choi heran

“nne tuan, dan salah satu dari 2 yeoja itu adalah kwoon yoona, mereka bertiga terlihat bersama pagi tadi dan ternyata yoona bekerja di sebuah restoran bersama dengan sooyoung noona”

“sooyoung bekerja di restoran?”

“menurut pemilik restoran yang terdahulu, sooyoung noona yang telah membeli restoran itu tuan, dan kami berpikir…. jika sooyoung noona berteman dengan yoona”

“bawa mereka sekarang juga!” ucap tuan choi terlihat geram

setelah anak anak buahnya keluar dari ruangan, tuan choi kembali mengambil dan melihat beberapa foto yang memperlihatkan kedekatan sooyoung dengan kedua gadis itu. tiba tiba ia baru saja teringat tentang masa kecil sooyoung yang sempat bersahabat dengan yoona karena sering bermain di panti asuhan, namun ia tak menyangka jika mereka ternyata masih bersahabat hingga sekarang. dengan geram tuan choi meremas semua foto yang ia genggam itu

…………………………….

Resoran

Begitu memasuki dapur, yoona tersenyum saat melihat jessica berdiri membelakanginya asih sibuk membuat minuman jus

“Baby” panggil yoona memeluk jessica dari belakang

“yah, jangan lakukan ini ditempat umum bodoh”

“arrasoo… kau galak sekali ahjumma” ucap yoona mempoutkan bibirnya

“kenapa kau kemari, aku sedang membuatkan makanan dan minuman untuk kalian”

“habis kau lama sekali, aku pikir kau kesulitan karena yang lain sudah pulang”

“anniyo.. aku sudah selesai, kkah bantu aku membawanya” ucap jessica sambil membawa nampan berisi makanan sementara yoona membawa nampan berisi 2 gelas jus

“kenapa hanya ada 2?”

“aku tak ikut gabung”

“wae?” tanya yoona namun jessica tak menjawabnya

keduanya berjalan keluar dapur menghampiri sooyoung yang sedang duduk menunggunya. restoran sudah ditutup karena stok habis lebih cepat, sehingga para pekerja lain sudah pulang menyisakan yoona, jessica dan sooyoung saja.

“yah mengapa lama sekali eoh, aku curiga apa yang kalian lakukan di dapur”

“yah! kami tak berbuat apa apa” ucap jessica mempoutkan bibirnya

“nne… aku hanya memeluknya dari belakang hehehe” ucap yoona tertawa innocent

“nanti saja dibereskannya, duduklah” ucap sooyoung saat melihat jessica kembali berdiri setelah menata makanan diatas meja

“aku tak ikut, kalian lanjutkan saja mengobrol berdua”

“wae?” tanya yoona kembali

“hmm… aku mengantuk, bye..” ucap jessica kembali ke belakang

“yaish… dasar putri tidur” rutuk yoona sementara sooyoung hanya terdiam memandang punggung jessica yang semakin menjauh

“tadi sampai mana pembicaraan kita soo?” ucap yoona kembali sambil menikmati makanannnya

“nne? eee… apa ya, aku lupa hehhe”

“yaish… ah iya aku baru ingat, mianhae… waktu itu aku tak hadir diacara pesta ulang tahun sunny unnie, aku benar benar tak ingat soo”

“gwaenchanna… lagipula pestanya biasa saja karena yang datang hanya rekan rekan perusahaan ayahku”

“ah begitu, unnie mu jadi? turun ke perusahaan?”

“nne.. tapi dia masih bodoh, aku pikir ayahku memintanya untuk bekerjasama dengan perusahaan yuri unnie”

“benarkah? bukankah ayahmu tak menyukai?”

“ayahku hanya tak menyukai ayah tirimu”

“baguslah, aku juga tak menyukainya” ucap yoona kemudian melanjutkan makannya sementara sooyoug hanya memandangnya

Tanpa mereka tahu, jessica masih berdiri dibalik dinding mendengarkan pecakapan mereka

…………………

Begitu tiba di rumahanya, yuri melihat tiffany yang sedang dijemput taeyeon masih belum tiba. iapun menghidupkan ponselnya untuk mengecek, yuri menerima beberapa pesan masuk dari tiffany dan akhirnya tau jika kekasihnya sedang menemani taeyeon makan di restoran. yuri kembali memasukkan ponselnya kedalam saku kemejanya setelah membalas pesan dari tiffany.

¬†“sepi sekali” gumamnya sambil berjalan menuju dapur, ia membuka laci dan mengambil ramyeon untuk dimasaknya

beberapa menit kemudian saat sedang masak mie ramennya, tiba tiba bel pintu rumahnya berbunyi. yuri pun segera membukakan pintu

“hey hyo, sudah lama tak melihatmu” ucap yuri tersenyum menyapa hyoyeon dan memeluknya

“akhir akhir ini aku sibuk, banyak sekali kasus yul”

“hahahaha kau terlihat lelah, kajja masuklah, apa kau sudah makan? aku sedang membuat ramyeon kau mau?”

“anniyo, aku sudah makan sebelum kemari, ah ya, amber yang memberitahuku alamat rumahmu, mian aku tak menghubungimu dulu kalau aku mau kemari”

“gwaenchanna.. tapi tunggu sebentar, aku ingin mengangkat ramyeonku dulu, kau ambil saja apapun yang ingin kau makan di kulkas”

“nne… aku mau soju” ucap hyoyeon berjalan menuju kulkas “kau juga yul?” lanjutnya

“nne…” ucap yuri

keduanya pun kembali menuju ruang makan sambil yuri menikmati ramyeomnya.

“tumben kau kemari saat hari hari sibukmu hyo” ucap yuri

“aku bingung harus bagaimana, ada seuatu yang terus mengganjal pikiranku yul”

“apa memang?”

“taeyeon” ucap hyoyeon membuat yuri berhenti mengunyah makanannya

“ah ya, bagaimana keadaan ibunya?” tanya yuri mencoba mengalihkan

“kesehatan fisiknya baik baik saja, tapi dia masih memikirkan taeyeon, aku juga” ucap hyoyeon

“wae?”

“yul, apa menurutmu taeyeon semudah itu tewas? aku masih merasa ada yang janggal dari peristiwa kemarin, jasadnya sama sekali tak ditemukan dan… aku selalu merasa jika taeyeon masih hidup”

“itu hanya perasaanmu hyo” ucap yuri

“hufth… entahlah, apa kau tidak berpikir juga kalau itu janggal?”

“jika aku terus memikirkannya, itu akan melukai perasaanku hyo, bagaimanapun juga taeyeon adalah eonnieku”

“kau benar, mianhae…” ucap hyoyeon

“anniyo, aku yang seharusnya meminta maaf padamu” ucap yuri dalam hati

*tingtong* tepat pada saat itu bel pintu rumahnya kembali berbunyi

“mungkin itu tiffany, tunggu sebentar” ucap yuri berjalan membukakan pintu, benar saja saat dibuka kekasihnya yang datang dan langsung memeluk yuri

“mianhae.. apa kau sudah kelaparan yul?” ucap tiffany

“annieyo, aku sudah memasak ramyeon hehehe”

“yaish… sudah ku bilang kau harus belajar masak, jangan makan ramyeon terus” omel tiffany sementara yuri hanya tersenyum innocent

“dia sendiri juga¬† belum makan yul” ucap taeyeon yang sudah berdiri dibelakang tiffany

“mwo? yah, wae..? oppa apa kau tak mengajaknya makan . bukankah kalian mampir ke restoran”

“nne, aku memang makan disana, tapi kekasihmu sangat cerewet dan tak ingin makan karena tahu kalau kau belum makan, sudah kalian duduk saja, aku akan memasak untuk kalian” ucap taeyeon berjalan memasuki rumah yuri. namun setelah mask dan berjalan menuju dapur, taeyeon terkejut saat melihat hyoyeon yang juga melihatnya

“taeyeon?” panggil hyoyeon merasa heran dan terkejut membuat yuri dan tiffany ikut menatapnya

“o.. omo!” ucap taeyeon dalam hati

“taeyeon?” panggil hyoyeon kembali mulai berjalan menghampiri taeyeon

“a.. anyeong haseyo kim taehyuk imnida” ucap taeyeon membungkukkan badannya

“huh?” gumam hyoyeon

“ah hyoyeon-ah kau salah menduganya, dia taehyuk oppa senior sekaligus sahabatku yang juga tinggal disini, dia dirut diperusahaanku” ucap yuri menghampiri keduanya

“kenapa aku baru melihatnya? bukankah dulu aku selalu datang ke kantormu yul?”

“dia memang baru saja menyelesaikan wamilnya, untuk sementara dia tinggal disini”

“oh.. begitu” ucap hyoyeon menganggukkan kepalanya “mianhae aku salah menduga, kau sangat mirip dengan sahabatku, kebetulan aku sangat merindukannya, aku kim hyoyeon” ucap hyoyeon membalas jabatan tangan taeyeon

“nne.. gwaenchanna, kalau begitu aku permisi dulu” ucap taeyeon kembali berjalan menuju dapur sementara hyoyeon masih memperhatikannya

“sepertinya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama eoh” goda yuri menyenggol lengan hyoyeon

“anniyo… oh iya, aku baru tau kalau kalian sudah menjadi pasangan, chukkhae.. kapan aku menerima undangan pernikahan kalian?” ucap hyoyeon memberi selamat, ketiga yeoja itu kembali duduk sambil menunggu taeyeon yang sedang memasak

“gomawo… tapi yul masih..” ucap tiffany

“secepatnya hyo, doakan saja” potong yuri tersenyum menatap dan menggenggam erat tangan tiffany

“aigoo… tega sekali kalian melakukannya didepanku” ucap hyoyeon mempoutkan bibirnya

“dan kau kapan eoh?”

“aku sedang bingung tentang masalah itu yul”

“huh? wae?”

“kau masih ingat sunny putri pertama tuan choi?”

“tentu saja, dari dulu sampai sekarang kami masih berteman”

“ah.. pantas tuan choi pernah bercerita jika perusahaan yang sunny jalankan akan bekerja sama denganmu, apa itu benar?”

“nne.. baru saja tadi siang aku menemui kantornya, tapi mengapa kau bicara tentangnya?”

“tuan choi memintaku untuk menjadi tunangan sunny” ucap hyoyeon

“mwo??” ucap tiffany dan yuri

*prangg!!!* bersamaan dengan suara pecahnya piring di dapur membuat ketiga yeoja itu mengalihkan pandangannya pada taeyeon

…………………………………….

Restoran

“sudah mulai larut, kau tak ingin lagi tidur di villaku?” ucap sooyoung memakaikan jaketnya berdiap siap untuk pulang setelah keduanya cukup lama mengobrol

“anniyo, aku tidur di rumah saja”

“arraso, sekarang kau sudah memiliki istri akan sulit menginap diluar hahaha”

“hahaha kau benar, menyenangkan ternyata”

“mwo? yah apanya yang menyenangkan?” ucap sooyoung penasaran “yah yah yah bocah, apa kau sudah melakukannya?”

“tentu saja, kami selalu melakukannya setiap malam hahaha” ucap yoona mengeluarkan tawa aligatornnya

“yaish… dasar bodoh!!!” rutuk jessica yang mendengarkan lewat alat penyadapnya di ruangan lain

“omo omo! hahaha daebak! siapa yang mengajarkanmu? ternyata kau sudah tak bocah lagi”

“tentu saja dari video video yang selalu kita tonton di villa hahaha”

“yaish… dasar bocah byunt, hati hati jessica bisa mendengarmu, bisa bisa kau dibunuh hahaha”

“tenang saja, dia sedang tidur” ucap yoona santai

“TENTU SAJA AKU MENDENGARKANMU BABO, AWAS KAU KWON YOONA!!!” ucap jessica dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya

“baiklah, aku pulang dulu mau pulang bersama?”

“anni, akan lama mmbangunkannya, kau duluan saja soo”

“oke, tapi awas! segera pulang setelah kekasihmu bangun, jangan sampai kalian melakukannya disini, arrasso?!”

“yaish… aku tau tempat, kkah pulanglah” ucap yoona mendorong tubuh sooyoung hingga kedepan pintu, namun sebelum keluar langkah sooyoung berhenti dan kembali membalikkan badannya, ia terdiam memandang dinding yang membatasi dapur

“huh? wae? apa ada barangmu yang tertinggal?” tanya yoona saat melihat sooyoung masih berdiri

“anniyo, aku pulang dulu, bye..” ucap sooyoung kembali berjalan dan meninggalkan restoran

Saat itu juga jessica langsung berlari menuju lantai atas memasuki ruang peribadi mereka sebelum yoona menyusulnya

tak berapa lama, yoonapun membuka pintu dan melihat jessica sedang duduk diatas tempat tidur

“eh? kau sudah bangun ternyata” ucap yoona tersenyum senang berbeda dengan jessica yang menatapnya tajam

“kemarilah” ucap jessica mulai melepaskan satu persatu kancing seragam kerja yang ia kenakan

“dengan senang hati” ucap yoona segera berlari hendak memeluk kekasihnya namun

*plak!!!!*

“aw..!! yah appo…” ucap yoona mengusap¬† usap kepalanya yang baru saja dipukul oleh jessica

“lalu kalau ini bagaimana?” uca jessica menari telinga kanan yoona cukup kencang

“aw aw aw ampun!! aw!! eomma…” rengek yoona dengan kepalanya mengikuti arah tarikan tangan jessica

“yaishh!!! mengapa kau begitu menyebalkan!!!” teriak jessica memarahi kekasihnya itu, iapun melepaskan tangannya dari telinga yoona yang¬† sudah berwarna merah padam akibat tarikannya itu

“wae..? kenapa kau tiba tiba marah dan memukulku? apa kau baru saja datang bulan?” tanya yoona

“kau sudah…!! arrgh…molla, aku sangat kesal padamu” ucap jessica membuang muka

“wae..? katakan padaku, jangan marah…” ucap yoona memegang kedua pundak jessica mencoba menenangkan

“jangan berani memegangku!”

“ar.. arraso..” ucap yoona segera melepaskan kedua tangannya “kau sangat menyeramkan” lanjutnya namun dengan suara pelan

“WHAT DID YOU SAY??!!!” teriak jessica kembali mengangkat tangannya karena mendengar ucapan yoona

“an..nniyoo mianhae..” ucap yoona segera mengatupkan kedua tangannya didepan jessica agar tak kembali menerima pukulan maut dari kkasihnya itu

“hhaahh… sudahlah, aku mau pulang” ucap jessica segera berdiri

“mwo?? andwae… kau tak boleh meninggalkanku, jangan kembali ke USA jebal.. aku tak ingin kehilanganmu lagi” ucap yoona memeluk kaki jessica untuk menahannya

“oh my gosh, bisa bisanya aku mencintai yeoja babo ini” ucap jessica dalam hati sambil mengusap usap kasar wajahnya

“yah! maksudku aku ingin pulang ke rumah yul!” ucap jessica

“eh?? aku kira kau pergi ke USA hehehe” ucap yoona kembali tertawa innocent sambil melepaskan kedua tangan yang menahan kaki jessica, ia pun segera berdiri dan berlari menyusul jessica yang sudah pergi lebih dulu

“baby… chankkaman…” teriak yoona berlari menyamakan langkah jessica yang sangat cepat

“jangan sentuh! aku sedang kesal padamu” ucap jessica saat merasakan tangan yoona menggenggam tangannya

“arraso.. tapi berhenti dulu” ucap yoona menahan kedua pundak jessica dan membalikkan badannya sehingga keduanya saling berhadapan “kau boleh kesal dan marah padaku, tapi kau tak boleh kedinginan, aku tak ingin kau sakit” ucap yoona memakaikan jaket miliknya pada jessica membuat jessica sadar jika ia keluar tak memakai jaket

Jessica pun terdiam, hatinya kembali merasakan hangat menerima perlakuan yoona yang selalu berhasil membuatnya luluh. karena meskipun kepolosan yoona sangat menyebalkan dan selalu membuatnya kesal, tapi perlakuan dan ketulusannya selalu membuat jessica mencintai yoona dan tak ingin melepaskannya

“kajja sebaiknya kita mencari makanan dulu, aku lapar” ucap yoona mencoba menggenggam tangan jessica penuh hati hati khawatir jessica akan marah padanya, namun jessica hanya terdiam sambil tetap melangkahkan kakinya mengikuti yoona

setelah cukup lama berjalan, keduanya menemukan kedai makanan

“ahjumma, tolong bungkuskan tteokbokki dan kue ikan” ucap yoona sambil memberikan selembaran uang pada penjual itu

“nne..” ucap penjual itu segara membungkuskan pesanan yoona

Setelah menerima makanan itu, yoona kembali menggenggam tangan jessica dan membawanya duduk di kursi taman

“kajja kita makan, kau juga pasti lapar” ucap yoona membukakan 2 kotak makanan berisi tteokbokki dan kue ikan itu, ia pun memberikan garpu kecil pada jessica

“aku tak lapar” ucap jessica dengan wajah dinginnya, ia menatap yoona yang terdiam menatapnya, namun kemudian melihat yeoja itu kembali fokus pada makanannya membuat jessica kembali kesal

“kkah, makanlah aku sudah meniupinya agar tak terlalu panas” ucap yoona menyodorkan kue ikan pada mulut jessica yang tentu saja membuat jessica terkejut

“sudah ku bilang aku tidak mau, kau saja yang makan”

“kau boleh marah dan kesal padaku, tapi kau tak boleh sakit” ucap yoona kembali menyuapi makanan itu, jessicapun membuka mulutnya menerima potongan kue ikan itu

“bagaimana rasanya? enak?” tanya yoona, namun jessica hanya menjawabnya dengan mengangguk sambil menikmati makanan itu

“ah kau benar ini sangat lezat hehehe tau gitu aku membeli banyak” ucap yoona setelah ikut memakannya

Yoona memberikan kotak berisi kue ikan itu pada jessica namun yeoja itu kembali menolaknya membuat yoona mempoutkan bibirnya

“arraso… akan aku suapi” ucap yoona membuat jessica tersenyum senang menatap kekasihnya yang sedang fokus mendinginkan kue ikan itu

“omo omo!” ucap yoona yang berhasil memergoki jessica yang tersenyum memandangnya

“wae?” tanya jessica kembali memasang tatapan dinginnya

“aku baru menyadari jika dihadapanku ini seorang bidadari cantik hehehe” goda yoona berhasil membuat kedua pipi jessica memerah

“yaish… jangan menggodaku!” ucap jessica pura pura kesal namun tak dapat menyembunyikan senyumnya, yoona pun ikut tertawa dan kembali menyuapi makanan itu pada kekasihnya

kini suasana keduanya kembali menghangat

“baby, bukankah setiap hubungan itu harus saling terbuka?”

“tentu saja, memangnya kenapa?”

“anniyo, hanya saja sejujurnya aku masih belum mengerti mengapa kau tiba tiba marah padaku”

“aku sangat kesal padamu” ucap jessica mempoutkan bibirnya

“wae?? apa aku mengatakan hal yang salah dan menyakitimu?”

jessica kembali terdiam menatapnya, sebenarnya ia ingin sekali memarahi kekasihnya yang dengan polosnya bercerita tentang hal hal pribadi hubungan mereka pada sooyoung, hal itu membuatnya sangat malu. namun ia tak bisa melakukan itu karena yoona pasti akan bertanya dan curiga mengapa ia bisa tahu padahal sedang tak bersama mereka.

“anniyo, lupakan saja aku tak ingin membahasnya”

“mianhae… tapi… sampai kapan kau marah padaku?” ucap yoona mempoutkan bibirnya

“sampai detik ini”

“nne??!” gumam yoona terkejut

“aku tak bisa lama lama marah pada orang yang sangat menyebalkan sepertimu” ucap jessica “mianhae sudah menyakitimu” lanjutnya sambil mengusap usap lembut kepala dan telinga yoona yang sempat dijewernya

“gomawo..” ucap yoona memeluk kekasihnya itu

*cuppp* yoona pun mencium bibir jessica dan tersenyum menatap kekasihnya itu

“i love you more than food” ucap yoona

“love you too more than everything” ucap jessica

“kajja kita pulang” ucap yoona menggenggam erat tangan kekasihnya, keduanya kembali menuju restoran untuk mengambil mobil mereka

“kau tunggu disini sebentar, ada barang yang tertinggal” ucap jessica setelah keduanya tiba didepan mobil mereka yang terparkir

“nne? tak ingin ku temani?”

“tidak, hanya sebentar, tunggu saja disini oke?” ucap jessica segera berlari memasuki restoran

“arasso” ucap yoona menatap punggung jessica yang akhirnya menghilang setelah memasuki restoran, iapun berdiri menunggu kekasihnya didepan mobil

jessica berjalan memasuki ruang ganti pakaian, ia memeriksa satu persatu seragam karyawan mencari seragam yang dikenakan sooyoung karena alat penyadap yang ia tempelkan masih terdapat di seragam itu, namun ia kesulitan mencari alat itu yang berbentuk sangat kecil

“dimana ya? aku yakin ini pakaian yang ia kenakan” ucap jessica memeriksa seragam itu dengan teliti, tanpa sadar seseorang sudah berdiri dibelakangnya dan mulai menutup pintu ruangan itu

*trekk!!!* jessica segera membalikkan badannya begitu mendengar suara pintu ruangan tertutup, ia terkejut saat melihat seseorang dengan pakaian serba hitam dan menutupi sebagian wajahnya oleh topi yang ia kenakan itu berdiri dihadapannya

“kau mencari benda ini?” ucap orang itu mengangkat tangannya memperlihatkan benda kecil yang jessica cari

Jessica semakin terkejut melihat nya, ia tahu bahaya sedang mengancamnya, jessicapun mencoba melawan orang itu agar bisa meloloskan diri namun sayang tenaga orang itu begitu kuat sehingga dapat mencengkram dan mengunci tubuhnya

Jessica berusaha memberontak dan mencoba berteriak namun sayang, orang itu lebih cepat bertindak dan berhasil membekap wajah jessica dengan sapu tangan yang sudah diberikan bius sehingga membuat jessica perlahan menjadi tak sadarkan diri

orang itupun mengikat kedua tangan dan kaki jessica yang sudah tak sadarkan diri, ia segera membawanya melalui pintu belakang restoran tanpa diketahui siapapun termasuk yoona yang cukup lama menunggunya

“lama sekali” ucap yoona menatap jam tangannya, ia kembali menatap pintu restoran yang masih terbuka itu namun sayangnya ia tak bisa melihat kedalam karena ruangan utama tampak gelap, ia hanya melihat sedikit cahaya dari ruangan belakang

yoona awalnya ingin masuk, namun ia teringat dengan ucapan jessica yang memintanya untuk menunggu. ia tak ingin jessica kembali marah padanya.

Namun tiba tiba ia melihat sebuah mobil van hitam melaju dengan cepat dari arah belakang restoran, membuat yoona curiga dan segera berlari memasuki restoran karena merasakan firasat yang tak enak tentang kekasihnya

“sica…?” panggil yoona

“jessica..?” panggilnya kembali namun tetap tak ada jawaban dari kekasihnya, iapun mengecek semua ruangan dan tak menemukan jessica dimanapun hingga ia memasuki ruang ganti dan melihat ruangan itu terlihat berantakan

“sial!! sica…..!!!” teriak yoona mengacak acak rambutnya saat teringat dengan mobil van hitam tadi. Jessica telah diculik

TBC

ada yang masih ingat dengan cerita2 sebelumnya?

hehehe maapin ya sempat hiatus karena beberapa hal… ūüėÖ

Dear Reader

anyeong readers dan followers saya yang tercinta ūüôáūüėÖ

ada yang masih inget saya?

cuma mau kasih tau kalo saya punya wattpad hehehe ūüėĀ

dan mungkin ff terbaru bakal di post disana. tergantung seberapa banyak yg baca sih

follow dan mampir kuy

nama akun nya @im_sone09 atau ini linknya https://www.wattpad.com/user/im_sone09

makasih…. ūüôŹ

Mending wattpad apa tetep di wordpress?

 

Unexpected Love [2/3]

PicsArt_06-20-03.24.30

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Tiffany Hwang, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………………

1 bulan yang lalu

“jessica-shi, anda harus segera melakukan operasi dan memdapatkan perawatan serius demi kesehatan anda”

“aku masih merasa baik baik baik saja dokter, aku hanya butuh obat untuk menghilangkan rasa sakit saja”

“mau sampai kapan? kesembuhan anda sangatlah penting”

“entahlah”¬†ucap jessica terdiam¬†“dokter sudah memeriksa penyakitku dan mungkin dokter sudah tahu berapa lama lagi umurku untuk bertahan hidup”

“hmm…. dokter bukanlah Tuhan yang bisa menentukan umur seseorang, sebaiknya penyakitmu segera ditangani”

“berapa lama lagi?”¬†tanya jessica kembali dengan wajah seriusnya

“kurang lebih dari satu tahun tergantung bagaimana kau menjaga tubuhmu”¬†ucap dokter itu terasa berat

“baiklah, beri aku obat penahan sakit selama itu”

“Kau selalu saja keras kepala”¬†ucap dokter itu kemudian menuliskan resep obat dan diberikannya pada jessica

“jessica-shi, obat penghilang sakit tak akan bisa membuatmu sembuh, penyakitmu harus segera diangkat”¬†ucap dokter itu kembali saat jessica melangkahkan kakinya, namun ia hanya terdiam dan kembali berjalan

Begitu keluar dari ruang dokter, jessica terdiam menyandarkan punggungnya pada dinding, perlahan tubuhnya luruh. iapun menumpahkan air matanya, karena bagaimanapun juga ia merasa sedih atas kondisi badannya terlebih saat ia tahu masa hidupnya tak akan lama lagi

Jessica terlalu takut membayangkan hal itu, ia akan sendirian dan merasakan kesepian terlebih dua sahabatnya sama sama sibuk.

tangisnya kembali tumpah, beruntung koridor itu tampak sepi. namun tak berapa lama, jessica melihat sepasang kaki berada dihadapannya, iapun mengangkat wajahnya dan melihat seorang yeoja berpakaian seragam pasien sedang menunduk menatapnya. buru buru jessica menghapus air matanya namun ia melihat yeoja itu memasukkan tangannya kedalam saku kemudian mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada jessica tanpa bicara apapun.

setelah menerima saputangan itu, jessica melihat yeoja itu kembali berjalan tanpa berbicara padanya hingga memasuki ruangan tempat dirinya dirawat.

Flashback End

dan jessica kini melihat yeoja itu kembali dihadapannya. ia tak menyangka jika yeoja itu adalah yoona adik dari tiffany. saat mengantar keluarga tiffany dari rumah sakit, jessica tak begitu memperhatikan yoona, apalagi waktu itu ia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya

“t..ttif, aku akan mengambil minum”¬†ucap jessica

“nne…”

begitu keluar, jessica melihat ibu tiffany sedang duduk dan iapun menghampirinya

“omonim.. bolehkah aku duduk?”

“eh? nne.. nne.. silahkan jessica-shi”

“ah hahaha lebih baik omonim memanggilku jessica saja”¬†ucap jessica tertawa malu

“ah.. baiklah, kalau begitu panggil aku eomma saja, anggap saja aku ibumu sica”

“n..nn eom..ma”¬†ucap jessica ragu

“kau sudah makan sica?”

“nne.. sudah, eomma apa aku boleh bertanya tentang yoong?”

“nne… tentu saja”

saat itupun ibu tiffany menceritakan semua tentang yoona bahkan keluarganya. entah kenapa dia begitu anusias mengenal tentang keluarga tiffany.

……………………………………………..

Beberapa hari kemudian

di kampus

“yah jamur, wae? kau terlihat seram”¬†ucap yuri yang memergoki tiffany yang sedang tersenyum senyum sendiri

“anniyo, ah ya yul apa kau masih ingat yeoja yang waktu itu datang ke restoran dan pergi bersamaku”

“jessica jung?”

“huh? kau sudah tahu dia?”

“tentu saja, siapa yang tak mengenalnya. memangnya kenapa?”

“huh? mengapa hanya aku yang baru tahu jika dia seorang penyanyi terkenal, bahkan dari naungan agensi impianku, aku baru saja mendownload lagu lagunya kemarin, suaranya sangat indah”¬†ucap tiffany

“nne.. tapi sayangnya dia sudah keluar”

“m..mmwo?!!”¬†ucap tiffany terkejut

“yah, jangan bilang kau baru mengetahuinya”

“j..jinjja? wae?”

“huh.. sudah kuduga”¬†ucap yuri menatapnya datar¬†“molla… aku hanya melihat taeyeon yang menjelaskannya di media, dia dikeluarkan pihak agensinya”

“mwo? jinjja?”

“mengapa kau seterkejut itu?”¬†ucap yuri heran yang tak biasanya melihat sahabatnya seperti itu yang bahkan ia tahu tiffany jarang sekali mengetahui aktor aktris maupun penyanyi karena terlalu sibuk

“tentu saja, bukankah mereka terkenal”

“Entahlah, banyak sekali opini, tapi ku dengar karena banyak fans taengsic yang tak menyukainya karena sifatnya yang dingin dan sombong”

“mwo? menurutku itu sama sekali tak benar”

“tapi kenapa dia bisa mengenalmu?”

“waktu itu kita pernah bertemu saat aku bekerja di minimarket”¬†ucap tiffany namun ia terdiam¬†“apa dia mabuk karena masalah itu?” lanjutnya dalam hati

“aku juga pernah beberapa kali melihatnya di rumah sakit saat menjenguk yoona, mungkin dia sakit”¬†ucap yuri

“sakit?”¬†gumam tiffany dalam hati

………………………………………..

di butik, jessica baru saja mengantarkan pelanggannya keluar.

“sekali lagi kamsahamnida jessica-shi, kami sangat puas dengan hasil desain gaun yang anda buat, ternyata selain bernyanyi kau juga sangat berbakat menjadi desaigner”

“kamsahamnida..”¬†ucap jessica tersenyum membungkukan badannya

hingga mereka pun meninggalkan butik. begitu masuk kembali ia merogoh saku jasnya mengambil ponsel

“hallo baby”

“hey sica… kemana saja baru menghubungiku eoh?”

“hehehe mianhae aku sibuk”

“yaish.. alasan klasik, boghosippho..”

“aku juga merindukanmu my taenggu, ah apa aku mengganggumu?”

“baboya.. tentu saja tidak, bagaimana keadaanmu sekarang?”

“tentu saja aku baik baik saja, taenggu.. ku dengar SMent akan mengadakan audisi?”

“nne.. satu bulan lagi, ada apa?” omo omo, apa kau akan mengikuti lagi?”

“Yah mana mungkin… apa kau sibuk?”

“anni, aku memiliki waktu kosong 4 jam, kajja kita bertemu”

“baiklah, kita bertemu di basecamp”

“yaaayyyy… on the way!”¬†ucap taeyeon antusias

……………………………………..

Restoran

“hmmm… dia tak datang”¬†gumam tiffany dalam hati menatap meja pengunjung nomor 18 yang selalu jessica duduki. sudah beberapa hari ini jessica memang selalu mengunjungi restoran tempatnya bekerja dan selalu memilih meja nomor 18, angka kesukaannya. namun sayangnya hari ini yeoja yang diharapkannya itu tak datang hingga jam kerja tiffany berakhir.

“tiff…”¬†panggil seseorang membuat tiffany langsung menoleh kearah sumber suara, senyumnya mengembang saat ia melihat jessica berdiri disamping mobilnya yang sedang terparkir

“jessie…”¬†gumam tiffany dalam hati

“hmm… sepertinya ada yang mau kencan lagi, baiklah aku pergi duluan ya.. bye jamur”¬†ucap yuri memeluk tiffany kemudian berlalu

“hati hati yul…”¬†teriak tiffany, iapun kembali membalikkan badannya dan berjalan menghampiri jessica

“kau terlambat”¬†ucap tiffany terlihat kesal

“omo, apa kau menungguku?”

“an.. anniyo..”¬†ucap tiffany salah tingkah

“kajja ikut aku”

“huh? oddiga? aku harus bekerja lagi nanti”

“ikut saja, ini sesuatu yang penting…”¬†ucap jessica membukakan pintu mobil untuk tiffany

Setelah 20 menit perjalanan, mereka sampai di basecamp studio milik sooyoung

“ini rumahmu?”¬†tanya tiffany saat turun dan melihat bangunan yang cukup besar dihadapannya itu

“bukan, kajja kita masuk”¬†ucap jessica menarik tangan tiffany membuat yeoja itu terkejut dengan kedua pipinya yang memerah

“yah, kau lama sekali”¬†ucap taeyeon yang sudah lama menunggunya

“hehehe mian, taeng aku membawa temanku”¬†ucap jessica menarik tangan tiffany hingga berdiri sejajar dengannya

“omo! taeyeon eonnie!”¬†gumam tiffany merasa terkejut

“huh? teman?”¬†ucap taeyeon heran¬†“anyeong.. kim taeyeon imnida”¬†lanjutnya

“ah any..nyeong, tiffany hwang imnida”¬†ucap tiffany membungkukan badannya namun masih merasa gugup, ia tak menyangka jika jessica akan membawanya menemui penyanyi solo terkenal yang pernah satu grup dengannya itu

“taeyeon-ah.. tolong lihatlah kemampuan suaranya”

“nne?”¬†gumam taeyeon dan tiffany bersamaan

“j..jjesie.. mmaksudmu?”¬†ucap tiffany

“kajja”¬†ucap jessica menarik kembali tangan tiffany dan membawanya ke ruang studio rekaman dalam rumah itu

“bernyanyilah, tunjukan suara indahmu padanya”¬†ucap jessica memasangkan headphone pada tiffany

“jessie..”¬†ucap tiffany merasa malu

“bernyanyi saja, jangan gugup”¬†ucap jessica kembali, iapun meninggalkan tiffany didalam ruangan itu dan berdiri disamping taeyeon dibalik kaca pembatas sambil memandang tiffany

Tiffany masih terdiam dengan rasa gugupnya, apalagi dihadapannya berdiri 2 orang penyanyi terkenal yang kemampuan bernyanyinya tak bisa diragukan lagi. namun ia melihat jessica kembali tersenyum mengepalkan tangannya keatas memberi semangat pada tiffany. perlahan rasa percaya diri tiffany pun muncul

Tiffany terdiam sejenak memejamkan matanya untuk benar benar menghilangkan kegugupannya sebelum akhirnya mulai bernyanyi

0b0087071d09178dd57e090cd57d0e571238764802_full

Taeyeon terpaku dan sedikit membuka mulutnya saat mendengarkan tiffany bernyanyi dibalik earphonenya membuat jessica tersenyum menatap sahabatnya itu

“bagaimana taeng?”¬†ucap jessica

“suaranya indah”¬†ucap taeyeon¬†“tapi… bagaimana kau bisa mengenalnya? apa dia juga seorang penyanyi terkenal?”

“ceritanya panjang, dia hanya seorang pelayan restoran yang kadang mengisi hiburan dengan bernyanyi di restoran itu”

“aku rasa suaranya terlalu indah untuk menjadi seorang penyanyi hiburan, tapi… mengapa kau membawanya kemari?”

“dia memiliki impian untuk menjadi sepertimu”

“SMent?”¬†ucap taeyeon dan mendapat anggukan dari jessica

“Tolong buat impiannya terwujud taeng” ucap jessica

Taeyeon dan jessica kembali terdiam dan memasang kembali earphonenya

Begitu selesai, jessica kembali mengantar tiffany karena harus bekerja kembali di mini market

“jessie, mengapa kau mengajakku dan menyuruhku bernyanyi tadi? aku sangat malu”

“wae? suaramu sangat indah”

“tapi.. mengapa kau membawa taeyeon eonnie?”

“karena… aku pikir kau layak bersanding dengannya diatas panggung nanti, menggantikanku”

“huh?”¬†gumam tiffany tak mengerti

“sebentar lagi akan ada audisi dan bahkan audisi entah sebagai penyanyi solo ataupun partner taeyeon yang menggantikanku, aku yakin kau akan lolos dan bisa langsung menggantikanku”

Tiffany terkejut mendengar hal itu, namun ia kembali teringat jika jessica sudah keluar dari agensi itu

“tapi.. wae?”¬†ucap tiffany

“wae??”¬†ucap jessica heran

“kenapa kau keluar, jessie”¬†ucap tiffany sedikit ragu membuat jessica terdiam sejenak namun ia kemudian tersenyum

“memang sudah seharusnya”¬†ucap jessica

“apa kau sakit?”¬†tanya tiffany membuat senyuman jessica seketika menghilang, ia terkejut atas ucapan tiffany, beruntung tiffany tak menyadarinya

“anniyo… hanya sedikit masalah”

“tapi kulihat kau dan taeyeon eonnie baik baik saja tadi”

“tentu saja, kami sudah lama bersahabat”

“hmmm… begitu ya”

“why? mengapa kau masih terlihat ragu”

“jika aku daftar dan diterima, bagaimana eomma dan yoong nanti”

“ah ya kau masih memiliki waktu satu bulan, sebaiknya kau berhenti bekerja di minimarket tiff”

“huh? wae?”

“untuk yoong, aku sudah bertanya dan belajar dari dokter, kita bisa berusaha membuat yoong dapat berinteraksi dengan baik lagi, bahkan semoga saja yoong bisa ceria kembali, yoong membutuhkan orang orang didekatnya”

akhirnya tiffany pun menyetujuinya.

Hari demi hari jessica lebih sering menghabiskan waktunya bersama keluarga tiffany terutama dengan yoona. hingga yoona sedikit demi sedikit mulai merespon bahkan mulai bisa tersenyum dengan candaan tiffany dan jessica. tak jarang kedua yeoja itu membawa yoona jalan jalan meskipun tak jauh, tapi hal itu berhasil membuat yoona kembali seperti dulu meskipun masih sedikit canggung. hal itu tentu saja membuat tiffany dan ibunya bahagia terutama jessica, ia juga merasa bahagia menjadi bagian dari mereka karena ibu tiffany selalu memperlakukannya seperti pada anak kandung sendiri.

Dan selama itu pula tiffany memiliki waktu untuk berlatih sampai hari audisi tiba sesuai jadwal yang telah diterimanya.

ia senang begitu masuk ruang audisi dan melihat taeyeon yang menjadi salah satu yang menyeleksi, keduanya sudah cukup dekat karena jessica selalu membawanya ke studio untuk latihan dan taeyeonlah yang menjadi pelatihnya

Begitu keluar jessica yang menunggunya di basement segera berlari menghampiri tiffany

“bagaimana?”¬†tanya jessica namun ia hanya melihat tiffany terus menundukkan kepalanya membuat jessica khawatir

“aku lolos dan aku bisa jadi partner duet taeyeon eonnie”¬†ucap tiffany tersenyum dengan kedua matanya yang berkaca kaca

jessica yang mendengarnya langsung memeluknya bahagia

“chukkae”¬†ucap jessica

“gomawo…”¬†ucap tiffany melepaskan pelukannya dan keduanya terlihat menangis bahagia¬†“ini semua berkat mu jessie”

“bukan aku, tapi karena usahamu”

“eonnie.. chukkae”¬†ucap seseorang yang sudah berdiri dibelakang tiffany membawakan sebuah bunga untuk

“omo! yoong!!”¬†teriak tiffany terkejut sekaligus senang menerima kejutan dari adiknya yang hadir

setelah mengantar tiffany, jessica langsung buru buru menjemput yoona dan beruntung saat tiba nama tiffany masih belum dipanggil sehingga ketika memasuki ruang audisi yoona dapat melihatnya kecuali jessica yang menunggunya diluar. bagaimanapun juga ia tak bisa menampakkan wajahnya lagi di gedung mantan agensinya itu

Tiffany memeluk yoona merasakan bahagia

…………………………………………….

Beberapa hari kemudian

Di restoran

hari ini tiffany mengundurkan diri bekerja di restoran yang sudah ia tekuni selama 2 tahun itu, karena kini ia akan melanjutkan impiannya sebagai seorang penyanyi setelah berhasil lolos audisi di SMent. untuk itu tiffany pun pamit kepada teman teman termasuk sang pemiik restoran

“chukkae…” ucap sang pemilik restoran memeluk tiffany diikuti teman teman pelayan restoran lainnya

“gomawo.. aku akan merindukan kalian”

“eonnie, jangan lupakan kami setelah terkenal nanti” ucap teman temannya itu

“hahaha tenang saja, aku akan selalu berkunjung kemari” ucap tiffany, iapun dibawa teman temannya kembali memasuki dapur restoran untuk menikmati masa masa terakhirnya

“gomawo sudah mewujudkan impian sahabatku yang sempat tertunda” ucap yuri pada jessica yang sama sama masih berdiri di depan restoran

“hmm… bukan karenaku” ucap jessica

“tapi… kenapa kau keluar?” tanya yuri membuat jessica menoleh menatapnya

“memang sudah seharusnya” jawab jessica

“kau… tak sedang sakit kan?”

“hahaha tentu saja tidak” ucap jessica tertawa

“omo, aku tak menyangka kau bisa tertawa, aku pikir kau benar benar seorang ice princess”

“yah!!” ucap jessica mengangkat tangannya namun yuri sudah berlari memasuki restoran

………………………………………………..

Setelah dari restoran, jessica kembali mengantar tiffany pulang

“kenapa kau terlihat murung?” tanya jessica yang melihat tiffany hanya diam melihat keluar jendela

“aku memikirkan yoong” ucap tiffany memandang jessica “aku akan tinggal di dorm nanti, aku tak bisa menjaganya”

“jangan terlalu dipikirkan, aku yang akan menjaganya, lagipula keadaan yoona sudah mulai membaik” ucap jessica tersenyum menenangkan tiffany

Namun ia malah melihat tiffany kembali terdiam memandangnya

“why?”

“jessie, mengapa kau melakukan ini padaku?” tanya tiffany

“hmm… entahlah” ucap jessica mengangkat kedua pundaknya

“yaish…”

……………………………….

sudah beberapa minggu tiffany tinggal di dorm dan mulai disibukkan dengan debut dan promosi ke berbagai radio maupun siaran Televisi sebagai anggota penyanyi duet baru yang sekarang bernama taeny. memiliki paras cantik dan indah membuatnya mudah dikenal dan diterima oleh masyarakat.

karena hal itu pula Tiffany menjadi jarang bertemu dengan jessica.

Tiffany dan taeyeon baru saja menyelesaikan schedule terakhirnya dihari itu.

“akhirnya selesai juga, apa kau lelah fany-ah?” ucap taeyeon mengenakan seatbelt nya, keduanya baru saja memasuki mobil dan taeyeon lah yang mengemudi

“hmm… lumayan eonnie, aku tak menyangka jika schedule nya akan semakin padat”

“hehehe maklumi saja, tapi kau senang kan?”

“tentu saja eonnie” ucap tiffany dengan eye smilenya

“yah bisa kah kau berhenti memanggilku eonnie”

“wae..?”

“aku terasa tua jika dipanggil itu”

“hehehe baiklah, taenggu? aku selalu mendengar jessie memanggil itu padamu”

“hmm… oke, sebenarnya aku memiliki banyak nama panggilan”

“jinjja?” ucap tiffany antusias

“taetae, taenggu, taehyuk, taeng, emm… oppa”

“nne? oppa?”

“nne.. mereka selalu saja memanggilku itu, aigoo… apa wajahku masih kurang cantik, menyebalkan”

“hahaha… kau lucu sekali, tapi.. menurutku wajahmu memang tampan taeng”

“yaish… hati hati kau jatuh cinta padaku” ucap taeyeon

“ah ya, apa hari ini ada schedule”

“jika ada, mana mungkin aku yang menjadi supirmu.. tentu saja kosong, wae?”

“apa aku dibolehkan pulang?”

“nne, tentu.. kau akan pulang?”

“nne” jawab tiffany menganggukkan kepalanya “aku rindu pada eomma dan adikku” lanjutnya

“baiklah, jam berapa aku mengantarmu?”

“andwae… tidak perlu, kau istirahat saja taeng. lagipula sekarang sudah jam 4 pagi, aku akan berangkat pukul 7 nanti”

“hmm.. yasudah, tapi kau harus hati hati didepan publik”

“jangan khawatir, aku sudah banyak belajar dari jessica”

“jessica? fany-ah apa kau dekat dengannya sekarang?”

“emm… seperti itu lah, wae?”

“anniyo, hanya saja aku heran, aku sudah mengenalnya lebih dari 7 tahun.. setahuku dia sangat dingin pada orang yang tak dikenal ataupun baru dikenalnya”

“akupun dulu berpikir begitu”

“tapi sebenarnya hatinya sangat hangat, dia selalu melakukan apapun dengan tulus” ucap taeyeon

“nne.. aku bisa merasakannya” ucap tiffany dalam hati

“taeng, aku masih belum mengerti”¬† ucap tiffany kembali

“wae?”

“mengapa jessie bisa keluar dari taengsic?”

“ah? emm… itu karena…” ucap taeyeon diam sebentar mencari alasan lain sementara tiffany terus menatapnya menunggu jawaban “jessica tidak memperpanjang masa kontraknya”

“benarkah?” ucap tiffany tanpa rasa curiga “sayang sekali, padahal waktu itu aku baru bertemu dengannya”

“nne, jessica ingin fokus pada bisnis butiknya dan menjadi seorang desaigner” ucap taeyeon sementara tiffany hanya menganggukan kepalanya

Setibanya di dorm, taeyeon langsung memasuki kamar untuk istirahat sementara tiffany segera membereskan barang barang yang akan dibawanya untuk pulang, hari ini kesempatannya untuk bertemu dengan keluarganya setelah hampir satu bulan ia disibukkan menjadi member taeny bersama partner nya taeyeon.

begitu siap tiffany membuka pintu kamar taeyeon yang tak terkunci, ia melihat yeoja itu sudah terlelap kemudian iapun menutupnya kembali dan mengenakan kaca mata hitam beserta topi penyamarannya. kini ia tak bisa bebas kemanapun setelah dikenal banyak oleh para fans nya.

begitu sampai di rumah, tiffany langsung disambut hangat oleh yoona dan ibunya

“eonnie, boghosippo” ucap yoona memeluk tiffany

“nado.. bagaimana kabarmu dan eomma?”

“kami baik baik saja, apa kau sudah tau?”

“tau apa?”

“mulai lusa aku sudah mulai sekolah”

“huh? jinjja? mengapa tak memberitahuku dari awal?” ucap tiffany terkejut

“apa boleh buat eonnie terlalu sibuk sampai tak menjawab telepon dariku.. jessica eonnie selalu mengajariku dan satu minggu yang lalu dia mengantarku untuk mengikuti tes di sekolah, dan aku lolos”

“jessica?”

“nne, sica eonnie selalu kesini setiap hari” ucap yoona terlihat senang

“ternyata dia memang melakukannya” ucap tiffany dalam hati “berarti hari ini dia akan kemari” lanjutnya sambil tersenyum senyum sendiri merasa senang

“kalau begitu eonnie mandi dulu, eonnie baru saja pulang dari siaran”

“omo, kau pasti lelah sayang, kkah mandilah lalu segera istirahat” ucap ibu tiffany

…………………………………….

“soo tolong ambilkan tissue” ucap jessica sedikit berteriak dari dalam kamarnya

Pintu kamarpun terbuka

“omo sica! hidungmu berdarah lagi? banyak sekali” ucap sooyoung langsung berlari menghampiri dan membantu membersihkan darah yang keluar dari hidung sahabatnya itu

“nne.. menyebalkan sekali”

“kajja kita ke rumah sakit saja”

“andwae.. aku harus bertemu yoona, hari ini kami akan ke lotte world”

“yah, pikirkan kesehatanmu! kau tak lihat tubuhmu semakin kurus?”

“aku baik baik saja” ucap jessica

“terserah kau saja” ucap sooyoung terlihat dingin sambil membuang tissue yang dipegangnya cukup keras kesamping jessica. sooyoung merasa kesal dan marah pada sahabatnya itu. iapun berlalu meninggalkan kamar jessica

dan saat itupula pandangan jessica mulai terlihat buram saat melihat tubuh sooyoung yang meninggalkan kamarnya, ia mulai memijat pelipisnya mencoba menetralkan kembali namun tetap saja

…………………………………………..

setelah tertidur selama 4 jam tiffany membuka kedua matanya karena perutnya terasa kosong. ia pun berjalan keluar kamar dan melihat yoona sedang duduk menonton TV

“yoong eomma oddiga?”

“eomma sedang pergi berbelanja, tapi eomma sudah membuatkan makanan untuk eonnie”

“jinjja? wah.. aku lapar sekali, kajja makan”

“eonnie saja, aku sudah makan”

“yoong jam berapa jessica datang kemari?”

“hari ini sica eonnie tak datang”

“eh? wae?”

“molla..”

Tiffany terdiam mendengar itu, ada sedikit rasa kecewa karena yeoja yang dinantikannya ternyata tak jadi datang ke rumahnya. ia pun kembali memasuki kamarnya dan tak jadi makan hingga tiffany kembali tertidur.

cukup lama tertdur, tiba tiba tiffany merasakan sesuatu yang dingin menempel pada kedua pipinya, perlahan iapun membuka kedua matanya dan melihat seorang yeoja tersenyum menatapnya

IMG_8092_filtered.jpg

“wake up” ucap jessica dengan kedua tangannya yang masih membingkai wajah tiffany

“jessie…” ucap tiffany terbangun dan duduk diatas tempat tidurnya, keduanya pun langsung berpelukan “aku merindukanmu” ucap tiffany kembali

“aku juga, bagaimana masa debutmu?” ucap jessica melepaskan pelukannya

“cukup melelahkan, bulan depan kami akan mengadakan konser, ternyata belum ada satu hari tiketnya sudah terjual habis”

“woah.. daebak, mianhae.. aku jarang membuka internet jadi tertinggal berita, kalau tahu aku akan menunggu tiket itu”

“jangan khawatir, aku sudah membeli banyak hehehe”

“jinjja?”

“tentu saja”

“kalau begitu bangunlah dan segera mandi, kita akan pergi”

“huh? oddiga? aku sudah mandi”

“kalau begitu cuci muka saja, tadinya aku akan mengajak yoong ke lotte world tapi aku datang terlambat dan waktunya tak akan cukup, jadi kita jalan jalan saja sambil mencari kado untuk ulang tahun sahabatku sooyoung”

“baiklah 10 menit!” ucap tiffany bergegas memasuki kamar mandi sementara jessica hanya tertawa melihat tingkah yeoja itu yang tak berubah

begitu siap, tiffany keluar dari kamarnya dan melihat jessica bersama yoona sedang duduk menonton tv

“kajja, aku sudah siap” ucap tiffany

“eonnie, aku tak jadi ikut” ucap yoona

“huh? wae?”

“aku akan ke rumah haraboji bersama eomma dan menginap disana selama satu hari”

“jinjja? tapi eonnie tak bisa menginap”

“gwaenchanna… kalian nikmati saja waktu kencan berdua” ucap yoona sambil tertawa

“y..yyah! bicara apa kau” ucap tiffany terlihat salah tingkah dengan kedua pipi yang memerah

“kkah prgilah, nanti waktu kencan kalian akan terbuang” ucap yoona mendorong jessica dan tiffany keluar rumah kemudian kembali menutup pintu rumahnya

“yaish… sifat menyebalkannya kembali muncul” ucap tiffany pura pura terihat kesal

“hahaha kalian sangat lucu, kajja” ucap jessica memasuki mobil nya diikuti tiffany

“kita akan kemana?”

“emm… pusat kota, tapi kita akan restoran dulu karena kau belum mengisi perutmu”

“huh? kenapa kau bisa tahu?”

“makanan di atas meja masih utuh, yoong bilang itu untukmu tapi kau malah tidur lagi”

“ahaahaha bahkan aku saja sudah lupa jessie” ucap tiffany

“……………….”

“wae?” tanya tiffany melihat jessica terdiam memandangnya

“kau satusatunya wanita yang memanggil aku jessie”

“eh?? mianhae.. apa kau tak suka?”

“anniyo… aku menyukainya” ucap jessica tersenyum memandang yeoja yang duduk disammpingnya itu, begitupun tiffany yang ikut memamerkan senyum bulan sabitnya

sesampainya disana mereka pun langsung menuju restoran dan jessica menemani tiffany mengisi perutnya dan begitu selesai keduanya menuju mall

“sepertinya kita sangat ahli dalam hal penyamaran, sejauh ini belum ada yang menyadari kehadiranmu” ucap jessica membetulkan kacamata hitamnya

“nne.. untung saja, sejujurnya aku lebih menyukai tiffany yang dulu sebelum seperti sekarang ini yang tak bebas” ucap tiffany mempoutkan bibirnya

“jangan khawatir, semuanya pasti selalu ada rintangan tapi kau harus tetap menghadapinya” ucap jessica mengusap usap kepala tiffany membuat yeoja dihadapannya itu terkejut dan salah tingkah

cukup lama berkeliling akhirnya jessica mendapatkan barang yang akan dijadikannya kado untuk sooyoung. namun saat keduanya berjalan

“omo bukankah itu tiffany eonnie?” ucap seseorang yang tedengar jelas oleh jessica dan tiffany

“jessie ini tak baik” bisik tiffany sambil mempercepat jalannya

“ah iya sepertinya itu tiffany! dia bersama siapa? dia bukan taeyeon eonnie”

“mereka pasti akan mengikuti kita, tiff apa kau siap?” ucap jessica

“nne?” gumam tiffany belum mengerti, namun ia terkejut saat tiba tiba tangan jessica meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat, jessica mulai berlari menariknya

“omo mereka lari!” teriak orang orang itu dan ikut mengikuti jessica dan tiffany

“mereka kadang kadang menyeramkan” ucap jessica mempererat tangannya terus berlari

sementara tiffany malah terus tersenyum memandang tangannya yang terus digenggam erat oleh jessica sampai tak menyadari mereka memasuki sebuah photobox

“sepertinya kita aman disini” ucap jessica mulai mengintip keluar tanpa melepaskan tangannya “apa kau baik baik saja?” ucap jessica kembali

“ah? n.. nne…” ucap tiffany gugup

kita harus bersembunyi dulu sampai mereka pergi” ucap jessica

“nne…” ucap tiffany kembali

cukup lama keduanya terdiam, jessica baru menyadari tempatnya bersembunyi saat melihat lihat isi ruangan itu

“omo, aku baru sadar kalau ini photobox hahaha” ucap jessica tertawa

namun tiffany kembali tersenyum memandang yeoja dihadapannya itu, lagi lagi ia merasa senang melihat jessica yang terlihat lebih ceria itu

“kajja sambil menunggu kita foto foto saja” ucap jessica membuka dompetnya dan mengeluakan kartu miliknya

jessica mulai melepaskan syal dan kacamata nya, tiffany pun mengikutinya

“kajja.. “ ucap jessica menekan tombol dan waktu mulai bergerak mundur

36083_snsd-tiffany-and-jessicas-selca

“aww kyeopta..” ucap jessica girang “jja, simpanlah” lanjutnya memberikan foto itu pada tiffany

“huh? hanya satu?” tanya tiffany heran

“nne… jangan dihilangkan, agar kau akan tetap mengingatku saat melihat foto itu hehehe” ucap jessica namun tiffany kembali merasa heran

“maksudmu?”

“ah sepertinya sudah aman, kajja kita pergi dari sini” ucap jessica kembali menggandeng tangan tiffany

……

“mianhae gara gara aku kau jadi begini, aku tak menyangka jika kau seterkenal itu dengan cepat” ucap jessica

“gwaenchanna…” ucap tiffany tersenyum “lagipula aku menyukainya” lanjutnya dalam hati sambil memandang langit yang sudah tampak gelap

Jessica dan tiffany bejalan menyusuri taman kota karena mobilnya yang terparkir cukup jauh

“mungkin akan sulit merasakan seperti ini lagi nanti” ucap jessica

“huh? wae? bukankah kita ahli menyamar?”

“nne… tapi kau akan semakin sibuk, kau akan jauh dari tiffany yang dulu” ucap jessica menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan tiffany

“mengapa kau mengatakan itu?” tanya tiffany

“bukan apa apa” ucap jessica tersenyum “jauh didepan sana masih banyak rintangan sulit yang akan kau hadapi, aku hanya berharap kau akan selalu menjaga kesehatanmu” lanjutnya sambil merapikan jaket yang tiffany kenakan

keduanya kembali berjalan sambil bergandengan tangan, kini mereka tak lagi merasa canggung

“selama bersamamu, aku rasa rintangan rintangan yang aku hadapi terasa ringan, jessie” ucap tiffany dalam hati sambil terus tersenyum memandang tangannya yang digenggam erat oleh yeoja disampingnya itu

……………………………………

satu bulan berlalu, hari yang dinantikan pun tiba. tiffany terlihat gelisah duduk di ruang rias sebelum tampil diatas panggung

“fany-ah wae?”

“aku merasa gugup taeng, ini kali pertamaku dalam konser”

“yah tenanglah… kau sudah terbiasa bernyanyi diatas panggung, tak beda jauh dengan ini, hanya saja penontonnya lebih banyak”

“aku takut melakukan kesalahan”

“jangan khawatir, kau bukan malaikat.. semua orang pasti melakukan kesalahan. percaya diri saja” ucap taeyeon mengusap usap pundak tiffany

“gomawo.. aku sudah merasa baikan” ucap tiffany mulai tersenyum

“kajja, sebentar lagi kita perform” ucap taeyeon mengulurkan tangannya

“chankkaman, aku cek ponselku sebentar” ucap tiffany mulai membuka ponselnya, ia melihat beberapa pesan masuk namun yang ia buka hanya dari 1 orang yang ditunggunya

“aku sudah di bangku penonton bersama eomma, yoona dan sahabatmu, hwaiting!!” – jessica

Tiffany kembali melebarkan senyumnya membaca isi pesan itu, iapun berdiri dan menerima tangan taeyeon untuk segara menuju panggung

begitu masuk, tiffany mendengar teriakan para penggemarnya dan musikpun mulai terdengar, ia menoleh kearah taeyeon yang juga sedang memandangnya, ia melihat yeoja menganggukan kepalanya dan mulai mengangkat mic.

-post blog- snsd+taeyeon+tiffany+lost+in+love

“tiffany eonnie cantik sekali” ucap yoona diseujui tiga yeoja disampingnya itu terutama jessica yang sedari tadi terus melebarkan senyumnya memandang tiffany

namun setelah membawakan beberapa lagu, jessica kembali merasakan pusing dan penglihatannya kembali buram. ia tak bisa melihat tiffany dengan jelas dan tiba tiba ia merasakan cairan keluar dari hidungnya, tangannya mengusap cairan itu yang ternyata adalah darah, jessica kembali mimisan. iapun buru buru menutupnya khawatir diketahui orang lain

“aku ke kamar mandi dulu” ucap jessica

“nne eonnie apa perlu ku temani?”

“andwae… eonnie hanya sebentar” ucap jessica segera berlalu meninggalkan konser

setelah berlari akhirnya jessica menemukan kamar mandi dan segera masuk

namun saat jessica masih membersihkan hidungnya di dalam toilet, ia mendengar beberapa yeoja memasuki kamar mandi dan berbincang bincang dibalik pintu

“Ini konser pertama setelah debutnya tiffany menjadi taeny, aku rasa ini konser terbaik yang pernah aku lihat” ucap salah satu yeoja

“nne, walaupun tiffany pendatang baru aku rasa dia memang cocok menggantikan jessica” ucap yeoja yang lain

“aku setuju denganmu jiyeon-ah, tiffany lebih ramah dan selalu tersenyum dibanding jessica yang selalu terlihat dingin, pantas saja dia dikeluarkan, aku sangat bersyukur” ucap yeoja itu

“tapi ku dengar tiffany dekat dengan jessica, waktu itu salah satu foto di berita memperlihatkan mereka yang terlihat sedang kencan disebuah mall”

“jinjja? aku harap berita itu palsu, aku sangat tak setuju jika tiffany dekat dengan jessica, aku membenci yeoja itu”

Jessica hanya terdiam mendengar hal itu didalam toilet

“aku setuju, dan aku rasa taeny pasangan yang sangat cocok, apa kalian tak berpikir jika mereka menjalin hubungan yang serius?”

“aku rasa begitu, aku selalu melihat taeyeon eonnie sangat perhatian padanya”

“kyaaa… aku sangat mendukung mereka”

“aku juga, aku harap mereka benar benar menjadi sepasang kekasih selamanya” ucap yeoja itu disetujui teman teman lainnya.

“aku tak setuju jika tiffany dengan jessica, aku pernah mendengar temanku pernah bertemu dengannya di rumah sakit, aku rasa jessica memiliki penyakit parah”

“jinjja? heol… pantas dia dikeluarkan, jika dia kekasih tiffany apa tak kasihan kalau dia akan meninggalkan tiffany?”

“hahaha tenang saja, apa kalian melupakan taeyeon yang selalu disampingnya?” ucap yeoja itu diikuti tawa teman temannya. merekapun meninggalkan kamar mandi hingga menyisakan jessica yang sedari tadi mendengarkan semuanya

perlahan pintu toilet terbuka dan jessica berjalan memandang dirinya didepan cermin kamar mandi. ia kembali mengingat ucapan ucapan para yeoja tadi yang sedikit membuat hatinya terasa sakit.

……………………..

“lama sekali eonnie, konsernya sudah berakhir” ucap yoona saat jessica kembali

“jinjja? mianhae..”

“eonnie, apa kau sakit? wajahmu terlihat pucat”

“ah anniyo.. hanya karena gelap saja lampunya”

“kalau begitu kajja, kita akan terlambat” ucap yoona menarik tangan jessica

“huh? oddiga?”

“belakang panggung menemui tiffany eonnie, eomma dan yul eonnie sudah disana” ucap yoona

keduanya pun berjalan ke belakang panggung dan mencari ruang make up dimana taeny berada

begitu masuk jessica melihat tifany yang sedang tersenyum senang memeluk ibunya

“eonnie.. chukkae.. konsermu sukses” ucap yoona segera berlari memeluk tiffany bergantian

“gomawo aku semangat karena kalian” ucap tiffany

“tayeon-shi… terima kasih telah menjaga tiffany, aku dengar kau sangat baik padanya” ucap ibu tiffany memeluk taeyeon

“ah.. bukan apa apa omonim, memang sudah seharusnya kami saling menjaga” ucap taeyeon

jessica hanya terdiam memandang mereka, ia masih berdiri didepan pintu hingga tiffany memandangnya

“yah, mau sampai kapan kau berdiri disitu eoh?”

“eh? ah iya hehehe mianhae” ucap jessica segera menghampiri dan memeluk tiffany “chukkae..” lanjutnya kemudian memberikan bunga yang dibawanya untuk tiffany

“gomawo..” ucap tiffany tersenyum senang menerima bunga itu

mereka pun kembali berbincang, namun saat itu jessica hanya terdiam memandang mereka, perasaannya benar benar sedang tidak baik. beruntung rasa sakit dan darahnya sudah menghilang setelah meminum beberapa pil yang selalu dibawanya.

“sudah malam, eomma harus pulang karena yoong juga besok harus berangkat sekolah” ucap ibu tiffany

“hmm.. padahal aku masih merindukan kalian” ucap tiffany mempoutkan bibirnya terlihat sedih

“gwaenchanna… bisa pulang jika tak ada schedule kan” ucap taeyeon

“ah ya aku ingat hehehe tapi apa kau berani mengantar jemput aku hehe” canda tiffany

“nne.. tentu saja?” ucap taeyeon tersenyum senang

akhirnya merekapun pamit dan meninggalkan ruang rias

“jessie, chankkaman” ucap tiffany menahan tangan jessica

“eh? wae?” tanya jessica membalikkan badannya

“gwaenchanna?” ucap tiffany menempelkan telapak tangannya diatas kening jessica

“y..yah apa yang kau lakukan, aku baik baik saja”

“kau hanya diam saja tadi, aku pikir kau sedang sakit”

“anniyo.. aku baik baik saja”

“hmm.. syukurlah, apa kau akan mengantarkan mereka?”

“nne..”

“gomawo, hati hati dijalan.. dan segera hubungi aku setelah sampai rumah nanti” ucap tiffany memeluk yeoja dihadapannya itu

“hmm.. bye..” ucap jessica tersenyum singkat, iapun meninggalkan tiffany menyusul yoona dan ibunya

namun setelah tiba di dorm dan menunggu beberapa jam tiffany tak kunjung menerima telpon maupun pesan dari jessica, hingga ia tertidur.

………………………………

sudah satu bulan semenjak konser pertama tiffany jessica tak pernah menghubunginya bahkan telepon dan pesan yang beberapa kali tiffany kirimkan pun jarang sekali dibalas, kalaupun dibalas hanya seperlunya saja membuat tiffany bingung terlebih yoona memberitahunya semenjak hari itupun jessica tak lagi ke rumahnya

“kau melamun lagi fany-ah” ucap taeyeon membuyarkan lamunan tiffany yang terus memikirkan jessica

“taeng apa jessica selalu menghubungimu?” tanya tiffany

“nne, kenapa?”

“mengapa dia jarang sekai menghubungiku, apa dia sanagt sibuk?”

“emm… nne, dia sangat sibuk” ucap taeyeon sedikit canggung, iapun segera meninggalkan kamarnya

taeyeon mengambil ponselnya dan mulai menekan tombol panggilan

“hallo?”

“sica?”

“nne? ada apa taeng?”

“kau baik baik saja? kau dimana?”

“nne.. aku baik baik saja, aku sedang bersama sooyoung di butik”

“hufhht….” gumam taeyeon membuang nafas lega

“wae?”

“anniyo, hanya saja tiffany mengeluh kau jarang sekali menghubunginya, aku jadi mengkhawatirkan keadaanmu”

“hahaha aku baik baik saja, bukankah tadi malam kita baru saja chatt”

“tapi kenapa kau tak menghubungi tiffany? apa kau memang jarang membalas pesannya?”

“benarkah? hehehe aku jarang membuka ponselku, kadang saat aku pegang yang aku buka hanya darimu”

“apa kalian sedang ada masalah?”

“anniyo.. apa dia hidup dengan baik?”

“nne… aku selalu menjaganya hehehe jangan khawatir” ucap taeyeon

“apa kau menyukainya?”

“nne… siapa yang tak jatuh cinta dengan eye smilenya, setiap hari aku selalu dibuat jatuh cinta olehnya” ucap taeyeon membuat jessica terdiam

“sica?” panggil taeyeon

“nne, mianhae taeng aku sedang ada pertemuan dengan pelangganku”

“ah.. ya baiklah, tetap jaga kondisimu sica”

“nne.. kau juga, dan jangan lupa datang di pesta ulang tahunku nanti”

“omo! aku baru ingat hahaha”

“yah!!” umpat jesssica namun taeyeon segera menutupnya. ia kembali berlari memasuki kamar

“fany-ah.. kajja”

“huh? oddiga?”

“mencari kado untuk jessica”

“nne??” gumam tiffany masih tak mengerti

“aku baru ingat besok jessica ulang tahun dan malam ini akan diadakan pesta di basecamp, kajja kau harus ikut”

“benarkah?” ucap tiffany tersenyum senang, akhirnya dia bisa bertemu dengan seseorang yang selalu ia rindukan itu, namun senyumnya pelahan menghilang kembali “mengapa aku baru tahu tanggal ulang tahunnya sekarang” lanjutnya dalam hati

Hari itu pula taeny menghabiskan waktu kosongnya untuk mencarikan kado untuk jessica serta mencari pakaian yang akan dikenakannya untuk pesta ulang tahun sahabatnya itu hingga hari yang dinantikan pun tiba. beruntung malam itu jadwal kegiatan taeny selesai lebih cepat sehingga begitu selesai keduanya langsung mengganti pakaian dan segera menuju basecamp di rumah studio milik sooyoung

begitu tiba , suasana di sekitar rumah cukup ramai dengan para tamu yang kebanyakan teman kampus mereka yang hadir

“sepertinya kita terlambat” ucap taeyeon saat mendengar teriakan teriakan para tamu

Tiffany terus memperhatikan keramaian yang tak jauh dari hadapannya sambil berjalan menghampiri, ia sangat penasaran dengan keramaian itu hingga satu persatu ia bisa melewati orang orang yang menghalangi pandangannya.

Tiffany tersenyum saat melihat jessica berdiri tak jauh darinya sedang memberikan tanda tangan pada teman temannya yang mengidolakannya, namun yeoja itu masih tak menyadari kedatangannya

B0s6B-FCAAAryyO

jessica yang selalu ia pikirkan itu masih tetap terlihat anggun dimatanya terlebih balutan dress putih yang menyempurnakan penampilannya membuat jantung tiffany kembali bergetar

namun saat akan kembali berjalan menghampiri jessica, tiffany melihat sooyoung sudah berjalan dan berdiri dibalik punggung jessica dengan kedua tangan yang menyembunyikan seikat bunga mawar dibalik punggungnya

jessicapun membalikkan tubuhnya menghadap sooyoung

“sica.. aku mencintaimu” ucap sooyoung memberikan bunga mawar itu beserta bungkusan yang ia keluarkan dari dalam saku tuxedonya

Tiffany terkejut melihat pemandangan itu, ia melihat jessica tersenyum dengan yang dilakukan sooyoung

teriakan teman temannya kembali terdengar terlebih saat sooyoung membukakan bungkusan kecil yang berisi sebuah cincin dan langsung dikenakan pada jari jessica

“omo!” ucap taeyeon yang sudah berdiri disamping tiffany ikut merasa terkejut

“jika kau menolakku, kau bisa membuang cincin itu sekarang” ucap sooyoung berhenti sejenak

“dan jika kau menerimaku….” lanjutnya

“cium cium cium!!!” teriak teman temannya

“jessie…” gumam tiffany namun ia membelalakkan kedua matanya saat jessica tersenyum kemudian mencium bibir sooyoung membuat suasana kembali ramai dengan tepuk tangan, jessica telah menerima sooyoung. teman temannya merasakan bahagia terutama taeyeon yang tak menyangka jika kedua sahabatnya saling mencintai. taeyeon segera berlari menghampiri kedua sahabatnya dan bergabung bersama tamu yang lain.

kecuali satu orang yang sedari tadi berdiri mematung memandang pemandangan dihadapannya. tanpa terasa air mata tiffany mengalir, tangannya meremas kado yang dibawanya. sebuah liontin couple yang ia belikan untuknya dan jessica. rencananya malam ini tiffanypun ingin mengungkapkan perasaannya pada jessica. namun hal yang tak disangkanya pun terjadi, kini ia mengerti mengapa jessica tak pernah menghubunginya.

perlahan tiffany berjalan mundur dan meninggalkan pesta tanpa diketahui orang orang disekitarnya. namun tanpa ia tahu, jessica memandang kepergiannya.

“mianhae” ucap jessica dalam hati

………………………

keesokan harinya tiffany terbangun dan mendapati dirinya berada di ruangan asing. namun saat menoleh kesamping ia melihat kepala taeyeon sedang bersandar sambil duduk diatas kursi. taeyeon tengah tertidur

“taeng…” panggil tiffany sambil mengusap kepalanya

“uhmm… oh? fany-ah kau sudah sadar, syukurlah” ucap taeyeon setelah terbangun

“aku dimana?” tanya tiffany

“kau berada di ruang rawat rumah sakit, tadi malam kau pingsan di dalam mobil” ucap taeyeon terlihat sedih “mengapa kau tak memberitahuku jika kondisi badanmu sedang tak baik, bahkan aku tak tahu kau meninggalkan pesta, mianhae..” lanjutnya

“benarkah? bukan salahmu taeng.. aku hanya tak ingin mengacaukan pesta ulang tahunnya” ucap tiffany tersenyum dipaksakan, hatinya kembali merasa sakit begitu mengingat tadi malam

TBC

Unexpected Love [1/3]

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Tiffany Hwang, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………………

Orang orang bilang… Cinta sejati itu akan datang tanpa kita duga, tanpa kita tahu darimana dan kapan dipertemukan. kadang, kita selalu sibuk mencari cinta sejati kita sekeras apapun, namun sangat sulit didapatkan. tanpa pernah berpikir dan menduga, bahwa sebenarnya ia berada didekat kita.

…………….

Seorang yeoja baru saja memasuki sebuah mini market dengan langkah buru burunya. Begitu masuk, kepalanya menoleh ke segala arah karena tak melihat sang penjaga kasir ditempatnya

“Eonnie” panggil seorang yeoja yang baru saja keluar dari gudang

“Ah hara-yaa, apa aku terlalu lama? Mianhae..” ucap yeoja itu membungkukan badannya merasa menyesal

“Anniyo, lagipula aku juga baru selesai mengganti pakaian” ucap yeoja bernama koo hara itu “oh? Apa kau berlari? Kau sangat berkeringat, igo minumlah” lanjutnya saat melihat yeoja itu terlihat kelelahan, hara pun memberikan botol minuman miliknya

“Gomawo… Nne, aku takut kau terlalu lama menungguku, kau akan pulang kemalaman hara-yaa” ucap yeoja itu

“Gwaenchanna… Lagipula aku dijemput kekasihku” ucap hara mengalihkan pandangannya pada seorang namja yang sedang duduk di kursi pengunjung, namja itu pun melambaikan tangannya

“Hah… Syukurlah, aku khawatir kau pulang sendiri, karena bus terakhir sudah berangkat”

“Ah.. Jadi karena itu eonnie berlari kesini, kkah ganti pakaianmu aku akan menunggu”

“Nne..” ucap yeoja itu segera memasuki toilet mengganti pakaiannya dengan seragam penjaga kasir minimarket itu

Selesai mengganti pakaiannya, yeoja itu terdiam memandang pantulan dirinya didepan sebuah cermin, ia terdiam memandang wajahnya yang terlihat sangat kelelahan. Bagaimana tidak? Pagi sampai siang ia harus kuliah, dari siang sampai sore bekerja sampingan sebagai pelayan restoran dan malamnya ia harus menjaga mini market sampai pagi hingga waktu istirahatnya sangat sedikit.

“Hufth… Fany-ah, hwaiting!!” gumam yeoja itu mengangkat kedua tangannya yang terkepal memberi semangat untuk dirinya

Iapun mengambil sebuah benda kecil didalam saku dan di pasangkannya, name tag bertuliskan namanya, Tiffany Hwang.

Begitu selesai, hara pamit dan meninggalkan tiffany yang menggantikannya bekerja di mini market itu

Tiffany melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, ia melihat ke meja pengunjung yang sudah kosong. Karena sudah larut, pengunjung minimarket sudah mulai berkurang dan jarang. Hal itu membuatnya memiliki kesempatan untuk membaca buku ataupun mengerjakan tugas tugas kuliahnya yang selalu ia bawa

……………………………………….

Malam itu, seorang yeoja baru saja keluar dari sebuah gedung agensi musik tempatnya bekerja. Langkahnya terlihat berat, ia berhenti didapan gedung itu dan mengadahkan kepalanya

“SM Entertainment” ia tersenyum membaca didalam hati tulisan yang terpasang diatas gedung itu

SMent merupakan perusahaan tempatnya bekerja sebagai seorang penyanyi dan model yang membuat dirinya cukup dikenal. Ia sangat mencintai tempatnya bekerja itu meskipun terbilang sangat ketat dan tak jarang membuatnya tertekan oleh aturan aturan, namun hal itulah yang membuat namanya dikenal banyak orang dan memiliki beberapa penggemar.

Perlahan senyumnya menghilang beralih menjadi tatapan sendu ketika kenangan itu memudar karena malam itu juga ia harus berhenti, lebih tepatnya dipaksa berhenti oleh pihak perusahaan itu.

Dengan langkah berat iapun kembali berjalan meninggalkan gedung itu, namun saat beberapa langkah, seorang yeoja baru saja keluar dari gedung itu dan berlari menghampirinya

“Sica…!! Jessica!! Chankkaman!!” teriak yeoja itu memanggilnya

Namun sang pemilik nama itu terus berjalan tak menghiraukan yeoja itu

“Yah! Sica… Chankkaman aku ingin bicara sebentar, jebal…” ucap yeoja itu menyamakan langkahnya setelah berhasil menyusul

“Ada apa lagi taeng?”

“Sica, aku yakin tuan lee tak semudah itu memberhentikanmu”

“Apa kau tak dengar semua yang dia katakan tadi?”

“Tapi aku yakin dia mengatakan hal itu hanya memberikanmu waktu agar kau beristirahat dan lebih fokus pada penyembuhanmu, aku juga ingin kau sembuh sica-yaa” ucap yeoja itu menggenggam tangan jessica

“Aku dikeluarkan, kim taeyeon” ucap jessica dengan nada beratnya, hampir saja air matanya tumpah namun ia berusaha menahannya

“Anniyo… Apa aku juga perlu mengundurkan diri sica-yaa”

“Yah baboyaa, andwae… Kau masih bisa berkarir solo taeng”

“Tapi apa gunanya jika partner duetku tak ada disampingku? Kita akan kembali bernyanyi setelah kau sembuh”

Jessica Jung dan Kim Taeyeon merupakan penyanyi Duo dengan nama panggung TaengSic yang cukup dikenal di seoul. Keduanya sudah 4 tahun meniti karir di agensi naungannya itu. Selain partner, mereka merupakan pasangan sahabat yang sangat dekat meskipun keduanya memiliki sifat yang sama, keras kepala.

“andwae, jangan lakukan itu” ucap jessica

“Sica-ya.. Apa yang harus aku lakukan?” ucap taeyeon mulai menitikkan air matanya

“Taeyeon-ah dengar, karirmu sedang meningkat, masalah keluarnya aku tak akan membuat impianmu pupus, jangan membuat fansmu kecewa, aku yakin kau bisa melakukannya” ucap jessica membingkai wajah taeyeon dan menghapus air mata sahabatnya itu

“Aku akan selalu ada untukmu sica”

“Hmm.. Kau akan sulit menemuiku karena kau akan sangat sibuk, jangan pernah memaksa kabur arra! Kau boleh menemuiku jika sedang ada waktu kosong, aku janji aku akan baik baik saja”

“Tapi dengan sifat dinginmu, apa kau yakin bisa melakukannya? Yah, bersikap hangatlah agar memiliki banyak teman, kau hanya tinggal sendiri di seoul”

“Arrasso, sekarang kkah pulanglah.. Besok pagi kau harus bersiap siap menghadiri pers atas keluarnya aku”

“shirro, aku ingin mengantarmu”

“Aandwae.. Aku sedang ingin sendiri taenggu, jebal”

“Hmm… tapi jangan terlalu larut arraso?!”

“Nne.. Eomma” ucap jessica tersenyum kemudian memeluk sahabatnya itu, yeoja yang dekat dengannya sejak sekolah hingga sekarang dan menjadikan mereka sahabat bahkan seperti keluarga

Cukup lama berpelukan, keduanya pun saling melambaikan tangan sebelum akhirnya berpisah

Jessica melanjutkan langkahnya menyusuri kota seoul yang mulai terlihat sepi

Ia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya hingga tak terasa langkahnya terhenti didepan sebuah mini market

Jessicapun menghapus air matanya agar tak diketahui orang jika ia baru saja menangis

“Anyeong.. Selamat malam” sapa seorang yeoja penjaga minimarket itu tersenyum ramah pada jessica

Jessica sempat terpaku menatap senyuman yeoja yang memiliki eye smile itu. Namun ia buru buru membalas sapaannya dengan menganggukan kepalanya

……………………………………….

Tiffany mengangkat kepalanya untuk merengganggkan urat lehernya yang terasa kaku karena sedari tadi fokus mengisi tugas kuliah

“Oh?” gumam nya saat melihat pintu minimarket terbuka

“Anyeong.. Selamat malam” sapa tiffany membungkukkan badannya dan tersenyum pada yeoja itu

“Eh? Ada apa dengannya? Matanya terlihat sembab” ucapnya kembali dalam hati

Yeoja itu hanya terdiam menganggukan kepalanya membalas sapaan tiffany kemudian kembali berjalan untuk mengambil beberapa minuman

Cukup lama menunggu, tiffany kembali berdiri saat yeoja itu berjalan menghampirinya dan menaruh 5 botol soju

“Ada lagi agashi?” tanya tiffany

Yeoja itu hanya membalasnya dengan gelengan kepala

“baiklah, totalnya 29000 won” ucap tiffany

yeoja itu pun membuka dompetnya

“wajahnya terlihat familiar, sangat cantik, apa dia seorang aktris?” ucapnya dalam hati

“ehhemm…” gumam yeoja itu membuat lamunan tiffany tersadar

“ah.. mm..mmianhae” ucap tiffany segera menerima uang itu

“Agashi, apa…”

“nne ambil saja semua kembaliannya” ucap yeoja itu memotong ucapan tiffany hingga kemudian berlalu keluar dari mini market

“t..ttapi.. Bukan itu, yaish..” ucap tiffany mempoutkan bibirnya saat yeoja itu sudah terlebih dahulu keluar

………………………………………..

Jessica duduk didepan minimarket itu setelah membeli beberapa botol soju yang akan diminumnya sendiri berharap pikiran stresnya akan berkurang, namun sampai menghabiskan 2 botol pikirannya tetap kacau memikirkan kembali kejadian sore tadi

Flashback

“sica-ya.. gwaenchanna? apa kata dokter?” ucap taeyeon menghampiri jessica yang baru saja memasuki gedung SMEnt

“gwaenchanna.. mianhae membuatmu khawatir, huffht.. untung saja aku pingsan setelah kita perform” ucap jessica

“kau yakin? wajahmu masih terlihat pucat” ucap taeyeon masih terlihat khawatir

“jinjja? mungkin karena make up ku memudar hehehe”

“yaish… Anak ini” ucap taeyeon mengacak acak rambut sahabatnya itu

“sica noona, kau diminta menghadap tuan lee di ruangannya”

“oh? baiklah” ucap jessica merapikan dirinya “yaish… gara gara kau rambutku jadi berantakan”

taeyeon hanya tertawa innocent dengan tanda peace nya

“minho-yaa ada apa? apa aku juga?” tanya taeyeon setelah melihat jessica meninggalkan ruangan mereka

“anni, hanya jessica noona, aku juga tidak tahu” jawab namja itu

Jessica pun segera memasuki ruangan tuan lee dan melihat bos nya sedang duduk membaca berkas berkas

“tuan apa kau memanggilku?”

“nne kemari dan duduklah” ucap tuan lee menaruh berkas berkasi itu

“ada apa tuan?”

“bacalah dan jelaskan padaku” ucap tuan lee memberikan berkas itu. jessica langsung menerimanya namun ia mebelalakkan kedua matanya dan terkejut setelah mebaca berkas itu yang menunjukkan keterangan dokter tentangnya

“kalau memang sengaja merahasiakannya, kau datang pada dokter yang salah karena sunny keponakanku” ucap tuan lee

sementara jessica hanya terdiam menundukkan kepalanya, ia sendiri merasa bingung harus berbicara apa karena rahasianya akhirnya diketahui sang pemilik perusahaan yang telah membesarkan namanya itu

“sudah berapa lama kau membohongiku?” ucap tuan lee kembali karena jessica tak kunjung berbicara

“2 tahun tuan”

“jadi sudah selama itu hingga sekarang kankermu mulai memasuki stadium 3”

jessica kembali menundukkan kepalanya mendengar itu

“sica, kau dan taeyeon memang termasuk visual di perusahaan ini, tapi kau sudah tahu peraturan dari perusahaan ini”

“nne tuan”

Tuan lee mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang

“nne tuan?” ucap seseorang dibalik telepon itu

“minji-ah, transferkan semua hasil kerja jessica pada rekeningnya dan segera siapkan pers untuk besok” ucap tuan lee membuat jessica terkejut mengangkat wajahnya memandang bosnya itu

“nne? t..tapi tuan” ucap minji sang manager dari taengsic itu

namun tuan lee mematikan teleponnya tanpa menjawabnya

“t..ttuan” ucap jessica

“jika kau akan menghadiri pers nanti, jangan pernah beri tahu siapapun jika kau keluar karena penyakit kankermu” ucap tuan lee kembali fokus pada layar tab nya

dengan langkah berat jessica keluar dari ruangan pribadi bosnya itu.

“sica-ya..” panggil taeyeon yang sedari tadi berdiri dibalik pintu

“taeyeon-ah apa kau mendengarnya?”

“n..nne, mianhae..” ucap taeyeon menundukkan kepalanya, namun jessica dapat melihat air mata yang mengalir dipipi taeyeon

“uljimma… kajja bantu aku membereskan barang barangku” ucap jessica menarik tangan sahabatnya itu

Flashback End

Jessica tersenyum miris mengingat hal itu hingga tiba tiba kepalanya terasa semakin pusing, jessica menyadari jika soju yang sedang diminumnya merupakan botol kelima dari yang sudah ia habiskan

perlahan ia merendahkan kepalanya hingga menyandar diatas meja

……………………………………….

“hufht… akhirnya selesai juga” ucap tiffany tersenyum senang dan merenggangkan otot otot tangannya begitu tugas kuliahnya selesai “omo, sudah jam 2… oh??” gumanya saat melihat yeoja tadi masih terduduk di kursi pengunjung yang disediakan mini market itu

Tiffany pun berjalan keluar menghampiri yeoja itu yang terlihat menyandarkan kepalanya diatas meja

“agashi…” panggil tiffany namun yeoja itu tak bergerak

“ck, kau mabuk” ucap tiffany kembali saat melihat 5 botol soju yang sudah terlihat kosong diatas meja itu

Tiffany kembali melangkahkan kakinya memasuki mini market namun langkahnya terhenti saat angin bertiup menerpa tubuhnya, ia kembali membalikkan badannya dan berjalan menghampiri yeoja itu

Tiffany melepaskan jaket tebal yang dipakainya dan dipakaikan pada tubuh yeoja yang tengah tertidur pulas itu

“meskipun kau tertidur pulas, angin malam tak akan baik untuk tubuhmu” ucap tiffany¬† mengeratkan jaketnya pada tubuh yeoja itu hingga ia kembali memasuki mini market

waktu demi waktu terlewati, setiap jam tiffany menoleh kearah yeoja yang sedang tertidur pulas itu khawatir terjadi apa apa dan berharap yeoja itu bangun. namun hingga waktu menunjukkan pukul 5 pagi saat jam kerja nya selesai ia masih melihat yeoja itu tertidur

“aku pergi dulu seohyun-ah… hwaiting!!” pamit tiffany pada rekan yang menggantikannya kerja itu

iapun kembali berjalan menghampiri yeoja itu

“agashi…”

“………………….”

“agashi??” panggilnya kembali kali ini sambil sedikit menggoyangkan tubuh yeoja itu namun ia terkejut saat tiba tiba tubuh yeoja itu roboh dan terjatuh

“omo!! agashi…!!” panggil tiffany kembali terlihat panik, ia membalikkan tubuh yeoja itu dan memangkunya, tangannya langsung memeriksa tubuhnya dan terasa panas

“yaish… rumah sakit cukup jauh, aku tak bisa mengantarnya kesana, otthokae..” gumamnya

“Seohyun-ah…!!!” teriak tiffany memanggil rekannya itu

“nne eonnie? omo! apa yang terjadi?” ucap ucap yeoja bernama seo juhyun itu

“molla… kajja bantu aku mengangkatnya” ucap tiffany

“omo!! eonnie!!!” ucap seohyun terkejut saat melihat wajah yeoja itu

“nne? wae seohyun-ah?”

“dd..ddia… jessica eonnie”

“jessica? nugu?” ucap tiffany heran

“jessica jung! penyanyi pasangan duet taeyeon eonnie, taengsic!”

“molla.. aku tak menonton tv”

“yaish.. mereka cukup terkenal eonnie, otthokae?”

“aku juga bingung, apa kita antar ke agensinya saja?” ucap tiffany

“nne eonnie, mereka juga pasti memiliki dorm”

“andwae” ucap jessica tiba tiba terbangun namun masih terlihat sangat lemah itu, tangannya terangkat menggenggam tangan tiffany

“omo!! agashi, kau mengagetkanku saja, apa aku antar saja ke rumah sakit”

“andwae, aku mohon” ucap jessica menggeleng gelengkan kepalanya dengan air matanya yang mulai mengalir

Tiffany mengangkat wajahnya memandang seohyun, namun yeoja dihadapannya itupun mengangkat kedua pundaknya

Tiffany kembali menundukkan wajahnya namun ia melihat jessica sudah kembali tertidur

“yah.. agashi… ieronna.. kemana aku harus mengantarmu” panggil tiffany menggoyang goyangkan tubuh jessica namun yeoja itu tak kembali terbangun

“untuk sementara lebih baik dibawa ke rumah eonnie saja”

“mwo..??? y..yyah, aku tak mungkin membawanya”

“apa boleh buat eonnie, akupun harus bekerja”

“haish… baiklah, kajja bantu aku”

Dengan dibantu seohyun, tiffany memasukkan yeoja itu kedalam taksi dan membawa yeoja itu ke rumahnya

“hufht… benar benar hari yang sangat melelahkan” ucap tiffany memandang wajah tidur jessica yang baru saja ia baringkan diatas tempat tidurnya

setelah mengganti pakaiannya, tiffany mengambil salah satu bantal disamping jessica hingga kemudian ia berbaring diatas lantai disamping tempat tidur miliknya yang dipakai jessica, ukuran tempat tidurnya memang hanya untuk ukuran satu orang. akhirnya tiffany harus merelakan dirinya tidur diatas lantai

“masih ada waktu 2 jam” gumanya saat mengambil jam weekernya dan mengatur alarm

karena kelelahan, dengan cepat tiffany langsung terlelap

……………………………………..

jessica terbangun dari tidurnya, namun ia terkejut saat melihat dirinya berada ditempat asing

“dimana aku?” ucapnya melihat lihat isi ruangan yang terlihat cukup kecil dibanding kamar diapartemennya

ia memejamkan matanya kembali sambil memijat mijat kepalanya yang masih terasa pusing, jessica mencoba mengingat kembali tentang semalam

“molla… aku juga bingung, apa kita antar ke agensinya saja?” ucap tiffany

“nne eonnie, mereka juga pasti memiliki dorm”

“andwae” ucap jessica tiba tiba terbangun namun masih terlihat sangat lemah itu, tangannya terangkat menggenggam tangan tiffany

“omo!! agashi, kau mengagetkanku saja, apa aku antar saja ke rumah sakit”

“anni, aku mohon” ucap jessica

jessica kembali membuka kedua matanya setelah dapat mengingatnya, ia menoleh kearah meja disamping tempat tidur dan mengambil sebuah bingkai foto yang memperlihatkan seorang yeoja sang pemilik kamar itu

“ternyata memang dia yang membawaku” ucapnya dalam hati

jessicapun bangun dan berjalan keluar dari kamar itu untuk mencari kamar mandi, ia melihat waktu sudah menunjukan pukul 12 siang

………………………………

“baiklah pertemuan kita hari ini sudah cukup, aku harap kalian dapat mengerjakan tugas dengan baik” ucap seorang dosen “tiffany… tiffany-shi…” ucapnya kembali sebelum berjalan keluar kelas

“yah.. fany-ah… ireonna.. ssaem memanggilmu” bisik yuri menggoyang goyangkan tubuh tiffany

“omo! n..nne ssaem!” ucap tiffany langsung terbangun dan duduk tegap memandang ssaemnya itu

“cuci wajahmu agar jam selanjutnya kau tidak tidur, kali ini kau ku maafkan” ucap dosen itu membuat seisi kelas menertawai tiffany

nne ssaem, kamsahamnida” ucap tiffany membungkukan badannya

“yah fany-ah, sudahlah kau bekerja di salah satu saja.. apa kau tak lelah?”

“tentu saja aku lelah yul”

“mau sampai kapan kau seperti ini?” tanya yuri, kini keduanya berjalan keluar kelas karena sudah tidak ada jam kuliah

“sampai adikku sembuh” ucap tiffany membuat yuri terdiam, ia tahu sahabatnya itu adalah satu satunya tulang punggung keluarga setelah ayah tiffany meninggal karena kecelakaan yang sekaligus membuat adiknya mengalami depresi berat. sementara ibu tiffany hanya bisa terdiam menjaga adiknya di rumah sakit. berbeda dengan kehidupan yuri yang terbilang cukup meskipun keduanya sama sama jauh dari keluarga mereka.

“kau akan langsung bekerja?”

“tentu saja” ucap tiffany tersenyum ceria kembali

“kalau kau lelah istirhat saja, aku bisa membuatkan surat izin untuk bos”

“anniyo… aku baik baik saja yul, kajja kita akan terlambat” ucap tiffany menarik tangan yuri menuju motor milik sahabatnya itu

“kau selalu saja keras kepala, nanti jika kau pingsan lagi bagaimana?” ucap yuri memberikan helm pada tiffany

“ada kwon yuri yang siap menggendongku hehehehe” ucap tiffany tertawa memakaikan helmnya “omo!!” gumamnya kembali sebelum duduk

“wae?” ucap yuri

“aku jadi teringat yeoja yang pingsan tadi malam” ucap tiffany “mabuk tepatnya” lanjutnya dalam hati

“nugu?”

“dia……” ucap tiffany “seorang yeoja, tapi aku tak mengenalnya, aku membawanya ke rumahku”

“apa kita harus ke rumah untuk memeriksanya?”

“anniyo, aku sudah menuliskan surat untuknya”

“tapi apa kau yakin dia orang baik?”

“nne… lagipula dirumahku tak ada barang barang berharga hahaha”

“yaish… kau ini, kajja naiklah”

tiffany kembali memikirkan yeoja yang dia tahu jessica jung seorang penyanyi yang diberitahu seohyun dan ID card yang dilihatnya tadi malam. ia sengaja tak memberitahu yuri karena khawatir akan ada masalah besar

………………………………………….

begitu selesai membasuh wajahnya, jessica kembali kedalam kamar untuk mengambil tas nya karena dia harus segera pulang. namun ia melihat secarik kertas yang tertempel pada tas miliknya itu

“mianhae jessica-shi aku tak bisa mengantarmu pulang dan sekarang meninggalkanmu karena harus pergi kuliah, aku juga tak bisa pulang cepat karena langsung bekerja. aku harap kau baik baik saja dan tidak kembali mabuk, ah ya aku meninggalkan ramyeon jika kau lapar. aku akan pulang terlambat dan jika jessica-shi mau pulang tolong kuncikan pintu ini dan taruh saja di rak sepatuku, kamsahamnida”

jessica mengambil kunci yang ikut tertempel ditasnya dan iapun meninggalkan rumah milik tiffany, tepat saat itu ponselnya berbunyi menerima panggilan

“hallo taeyeon-ah”

“yah oddiga? kau sulit sekali dihubungi dan tak membalas pesanku”

“mianhae aku baru saja membuka ponselku”

“kau baik baik saja?” ucap taeyeon terdengar khawatir

“nne… apa kau baru saja menghadiri pers??”

“nne… mianhae”

“kau tak perlu meminta maaf”

keduanya kembali terdiam karena situasi itu

“sica.. apa yang kau butuhkan sekarang?” ucap taeyeon

“anniyo, aku baik baik saja”

“yaish… kau selalu saja bilang begitu”

“hehehe yah apa kau sudah makan? jangan melewati makan siangmu”

“dasar bodoh, harusnya aku yang berkata itu padamu… kau sendiri bagaimana?”

“aku sudah makan”

“kau dimana sekarang? sooyoung mencarimu”

“sooyoung? ada apa dia mencariku?”

“tentu saja aku memintanya untuk menjagamu, bos meminta managerku untuk memadatkan jadwalku jadi aku tak selalu bisa didekatmu, jadi aku menghubunginya”

“yah!! dasar bodoh”

“aku hanya mengatakannya jika jika kau sakit, tak lebih”

“yaish… baiklah aku akan memintanya menjemputku sekarang”

“nne… semoga kau selalu baik baik saja, bilang padaku jika kau akan ke rumah sakit, bilang pada youngie jika kau merasakan apa apa, jangan dipendam lagi”

“arasso… aku pergi dulu, bye taeng” ucap jessica mematikan teleponnya. ia pun pergi meninggalkan rumah tiffany setelah menguncinya

……………………………………………..

Satu bulan berlalu

Tiffany mengunjungi rumah sakit pusat untuk menemui adiknya yang sedang masa perawatan disana, kebetulan hari itu adalah hari minggu jadi tiffany libur untuk bekerja dan kuliahnya

“eomma” ucap tiffany begitu masuk membuat ibunya menoleh

“fany-ah.. kenapa baru sekarang kau kemari” ucap ibu tiffany memeluk putrinya

“mianhae… banyak sekali pekerjaan yang harus lembur, apa yang terjadi? bagaimana keadaan yoong?” ucap tiffany beralih menatap adiknya Yoona yang sedang terbaring dengan tatapan kosongnya. yoona menderita tekanan dan depresi karena mengetahui ayahnya tidak selamat dalam kecelakaan lalu lintas saat akan menjemputnya di sekolah, yoona sangat dekat dengan ayahnya

“tetap seperti biasa, hanya saja hutang kita sudah terlalu menumpuk, pihak rumah sakit sudah meminta kita untuk merawat yoong di rumah”

Dibalik pelukan ibunya, tiffany menghapus air matanya yang hampir mengalir itu. iapun memaksakan senyumnya melepaskan pelukan

“aku akan berbicara pada pihak administrasi” ucap tiffany. iapun kembali keluar dari ruangan dan terdiam sejenak dibalik pintu menumpahkan air matanya

…………………………………………………..

“sica, ireonna… dasar, gampang sekali kau tidur” ucap sooyoung yang sudah memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, hari ini ia mengantar jessica

sudah satu bulan setelah keluarnya jessica dari taengsic membuatnya mulai memikirkan kondisi kesehatannya. karena nasihat dari taeyeon ia menjadi terdorong untuk sembuh sambil merintis karirnya sebagai seorang desaigner

“hehehe u know me babe” ucap jessica

keduanya pun turun dan memasuki rumah sakit. namun saat keluar dari lift dari jarak yang cukup jauh pandangan jessica tertuju pada seorang yeoja yang sedang berjalan menuju ruang administrasi rumah sakit

“huh?? dia…. “ gumam jessica melepaskan kacamata hitamnya memandang lekat yeoja itu memastikan

“sica, wae? kajja dokter sudah menunggumu” ucap sooyoung yang melihat jessica terdiam

“anniyo..” ucap jessica kembali berjalan

……………………………………………

“jadi memang adikku tak bisa dirawat lagi disini?” ucap tiffany

“minhae tiffany-shi, sudah merupakan kebijakan rumah sakit kecuali anda sudah bisa melunasi semua biaya maka pasien bisa kembali dirawat”

“hmm… baiklah, tapi apakah bisa jika adikku dipulangkan besok?”

“bisa tiffany-shi, kami akan menyiapkan obat obatan untuk adik anda”

“kamsahamnida, aku akan sesegera mungkin melunaskan hutang hutangnya” ucap tiffany

“nne…”

Tiffany pun meninggalkan ruangan itu namun saat keluar ia hampir bertabrakan dengan seorang yeoja

“omo! mianhae..” ucap tiffany membungkukkan badannya

“n..nne.. gwaenchanna..” ucap yeoja itu¬† memandang tiffany yang kembali berjalan sambil menundukkan wajahnya “ada apa dengannya?” lanjutnya

“soo, kau kenapa?” uccap jessica yang baru saja menyusul

“anniyo, aku hanya hampir bertabrakan dengannya” ucap sooyoung kembali memandang yeoja itu membuat jessica ikut menoleh dan melihat seorang yeoja yang dilihatnya satu jam yang lalu membuat jessica terkejut dan langsung saja memasuki ruangan administrasi pusat itu

“ahjushi, apa perempuan tadi seorang pasien?” tanya jessica pada petugas itu

“yang baru saja keluar tadi yang seusia agashi?”

“nne…”

“anniyo, adiknya yang sudah beberapa bulan dirawat disini tapi sayangnya dengan terpaksa besok mereka harus membawanya pulang”

“eh? wae?” tanya jessica sementara sooyoung hanya menatap mereka bingung, baru kali ini ia melihat jessica banyak bicara bahkan menanyakan seseorang. karena selama ini sikapnya sangat dingin pada siapapun kecuali padanya dan taeyeon.

“keluarganya sudah menyimpan hutang yang sangat banyak dan menurut kebijakan rumah sakit adiknya harus segera dipulangkan”

“apa sakitnya sangat parah?”

“nne, selain karna kondisi tubuhnya yang hanya memiliki satu ginjal juga kondisi psikis pasien yang harus mendapatkan perawatan khusus”

“memang berapa biaya hutangnya?”

“sudah mencapai 200 juta won dan itu sudah kebijakan dari rumah sakit untuk segera memulangkan pasien sampai mereka bisa melunasinya, tapi untuk obat obatan yang dibutuhkan kami akan memberikannya”

“hmm.. kamsahamnida ahjushi, mianhae aku banyak bertanya, dia temanku” ucap jessica kemudian pamit dan keluar dari ruangan

“sica, nugu? apa dia benar teman mu? mengapa aku tak mengenalnya?” tanya sooyoung setelah keduanya tiba di basement

“molla, aku juga tak mengenalnya” ucap jessica

“huh? lalu?” ucap sooyoung semakin bingung

“dia pernah menolongku”

“ah.. begitu” ucap sooyoung mulai menjalankan mobilnya sementara jessica terdiam menatap keluar kaca

……………………………………….

keesokan harinya

“yul, hari ini aku izin tak masuk kuliah dan bekerja karena harus menjemput adikku pulang” ucap tiffany menelpon yuri

“oh?! yoong sudah sembuh?”

“lumayan, dia sudah diperbolehkan dirawat di rumah” ucap tiffany

“baiklah aku akan ke tempatmu dan kita akan menjemput yoong bersama”

“andwae.. kau masuk saja lagipula aku sudah diperjalanan”

“wae? aku bisa menyusul ke rumah sakit”

“tak usah yul.. ibuku sudah menyewa mobil, kau lanjutkan kuliah saja”

“baiklah, aku akan ke rumahmu sepulang kerja nanti, kau hati hati dijalan chagiyaa”

“nne… yeobo” ucap tiffany mengakhiri teleponnya

sesampainya di rumah sakit ia segera menuju ruangan dimana adik dan ibunya berada, namun baru saja ia masuk seorang yeoja yang sedari tadi berdiri didepan pintu masuk menyapanya

“hey” sapa yeoja itu membuat tiffany menghentikan langkahnya

“oh?! jessica-shi?” ucap tiffany mencoba menebak kembali setelah melihat yeoja itu, ia sedikit lupa karena sudah lama tak melihat yeoja itu terlebih penampilannya jessica yang terlihat lebih rapi

“nne” ucap jessica

“anyeong? kebetulan kita bertemu lagi” ucap tiffany setelah membungkukkan badannya

“anniyo, aku memang menunggumu, aku tak tahu dimana ruangannya jadi aku menunggu disini?”

“eh?? wae jessica-shi? apa waktu itu ada barangmu yang tertinggal di rumahku?”

“tidak juga, aku hanya ingin mengembalikan jaketmu, aku baru menyadari jaketmu kupakai hingga pulang, aku ingin mengembalikannya dari dulu hanya saja aku lupa jalannya dan kebetulan kemarin aku melihatmu disini”

“ah.. begitu, kamsahamnida jessica-shi” ucap tiffany

“an..anniyo, seharusnya aku yang berterima kasih karena kau telah menolongku, mianhae sudah merepotkanmu”

“tidak apa apa jessica-shi” ucap tiffany tersenyum kembali menampakkan eye smilenya membuat jessica terpaku

“b..bbaiklah kalau begitu, aku permisi” ucap jessica pamit, mereka pun kembali berpisah dan tiffany segara menemui ibu dan adiknya

“hufht…” gumam jessica membuang nafasnya kasar begitu memasuki mobil

“fany-ah…” panggil ibu tiffany segara memeluk putrinya itu

“eomma.. wae? mengapa menangis?”

“ada seseorang yang membayarkan setengah dari hutang biaya rumah sakit”

“mwo? jinjja?” ucap tiffany terkejut sementara ibunya hanya menjawabnya dengan mengangguk

Tiffany langsung melepaskan pelukan ibunya dan berlari menuju ruangan administrasi

“ahjushi, apa benar ada yang membayarkan biaya rumah sakit adikku?” ucap tiffany

“omo! kau mengagetkan ku saja, nne.. ada yang membayarkan setengahnya, jadi biaya rawat adikmu tinggal 100 juta won, chukkae…”

“nugu?”

“dia tak mau memberikan identitasnya, dia bilang dia adalah temanmu”

“temanku? kapan dia kemari ahjushi?”

“sekitar 2 jam yang lalu”

“dia sama sekali tak memberitahu?”

“nne…”

“hmm… baiklah, kamsahamnida ahjushi” ucap tiffany kemudian meninggalkan ruangan itu dengan penuh tanda tanya dalam pikirannya

……………………………………

“fanny-ah barang barang kita terlalu banyak, sepertinya akan sulit jika dengan bus, halte bus juga cukup jauh dari rumah”

“benar juga, eomma dan yoong tunggu sebentar eonnie akan mencari taksi”

“pakai mobilku saja” ucap seseorang membuat tiffany dan ibunya menoleh

“jessica-shi? ah andwae. rumahku cukup jauh, aku bisa memanggil taksi” ucap tiffany

“akan sulit membawa barang barang sebanyak ini kedepan, mobilku berada disana, kajja” ucap jessica langsung membawa barang barang milik keluarga tiffany itu

“omo! kajja eomma, yoong” ucap tiffany membawa barang barang sementara ibunya mendorong kursi roda membawa yoona

“jessica-shi mianhae merepotkanmu” ucap tiffany yang sudah menyamakan langkahnya dengan jessica

“tak apa, ini keinginanku” ucap jessica

setelah memasukkan barang barangnya dan menggendong yoona kedalam mobil, tiffany pun masuk dan duduk di jok depan disamping jessica yang mengemudi

“masukkan alamatmu disini” ucap jessica menunjukkan layar gps yang terpasang didalam mobilnya itu

“nne…” ucap tiffany

selama diperjalanan, mereka tampak canggung apalagi tiffany melihat ibunya dan yoona tertidur

“jessica-shi…”

“cukup panggil jessica” potong jessica “ada apa?” lanjutnya

“ah nne.. mian, kita baru saja bertemu dari satu bulan yang lalu tapi aku sudah banyak merepotkanmu” ucap tiffany terlihat malu dan canggung karena jessica yang terlihat dingin

“gwaenchanna” ucap jessica kali ini menoleh dan tersenyum pada tiffany

“omona, dia cantik sekali” ucap tiffany dalam hati namun ia buru buru mengalihkan pandangannya keluar

………………………………………..

sesampainya disana jessica kembali membantu mengantarkan barang barang kedalam rumah tiffany sementara yoona dan ibunya sudah terlebih dahulu masuk setelah berterima kasih pada jessica

“rumahmu sangat kecil dan seingatku kamar tidur hanya ada satu” ucap jessica saat diantar tiffany menuju mobilnya

“nne.. itu untuk eomma dan yoong”

“lalu kau?”

“aku bisa tidur di soffa ruang tengah”

“kau selalu tidur di soffa?”

“anniyo, dulu aku tinggal sendiri disini sementara eomma dan yoong di gangnam, hanya saja rumah disana sudah dijual untuk¬† biaya pengobatan adikku”

“apa tak sebaiknya mencari rumah yang lebih besar lagi?” tanya jessica

sementara tiffany hanya menjawabnya dengan tersenyum menggelengkan kepalanya membuat jessica teringat dengan kondisi keuangan mereka

“mianhae.. kalau begitu aku pamit” ucap jessica berjalan menuju mobilnya

“jessie…” panggil tiffany membuat jessica membalikkan badannya namun ia terkejut saat tiffany tiba tiba memeluknya

“gomawo… aku bersyukur hari ini orang orang sangat baik pada keluargaku termasuk kau” ucap tiffany dalam pelukannya, air matanya pun mulai lolos dari pipinya

jessica hanya terdiam mendengar yang dikatakannya.

Ia sendiri terkejut ketika menyadari apa yang sudah diperbuatnya. Tak biasanya ia peduli pada orang apa lagi dengan yang tak dikenalnya.

……………………………………………

sudah dua hari akhirnya tiffany kembali masuk kuliah, seperti biasa sesampainya di kampus yuri selalu datang lebih awal dan menunggunya

“fany-ah” sapa yuri melambaikan tangannya namun ada yang bereda dari sahabatnya itu

Tiffany tampak diam dan cuek menatap yuri sambil berjalan melewatinya tak seperti biasanya yang selalu terlihat senang ketika bertemu dengannya

“huh?” gumam yuri heran

“yah jamur, ada apa denganmu? mengapa wajahmu tampak kusut?” tanya yuri menyusul dan duduk disampingnya

“aku kecewa padamu” ucap tiffany enggan menatapnya

“wae? apa karena aku tak menjemputmu?”

“anni”

“wae? apa karena aku tak ke rumahmu kemarin? mianhae… bos tak mengizinkanku, bukannya aku sudah mengirim pesan untukmu” ucap yuri

“ck, tak usah berpura pura bodoh”

“huh?? wae? aku tak mengerti”

“sudah ku bilang aku tak ingin kau menghabiskan uangmu untuk biaya adikku, yul 100 juta won bukan jumlah yang sedikit”

“mwo? maksudmu?” ucap yuri semakin tak mengerti

“kau kan yang mebayarkan setengah dari biaya hutang rumah sakit?”

“mwoya..? jadi ada yang membayarinya?”

“huh? bukan kau?”

“baboya… bukankah kau selalu melarangku, mana mungkin aku melakukan apa yabg kau larang”

“yaish… lalu siapa” ucap tiffany terlihat bingung

“jadi, ada yang membiayai sebanyak itu, apa kau tak menanyakan identitasnya?”

“mereka bilang orang itu tak ingin identitasnya tidak diketahui, tapi itu dari temanku, dan temanku yang paling dekat dan peduli siapa lagi kalau bukan kau” ucap tiffany kembali memicingkan kedua matanya menatap yuri

“yah, bukan aku.. aku berani bersumpah” ucap yuri mengangkat 2 jarinya

“akhhh…! lalu siapa, aku tak ingin memiliki banyak hutang” ucap tiffany kembali terlihat frustasi

“aku pikir orang itu tulus melakukannya dan tak meminta kau menggantinya, buktinya dia tak memberikan kartu identitasnya, aku yakin dia orang yang sangat baik” ucap yuri berhasil menenangkan sahabatnya itu

…………………………………

“akhirnya kita kesini juga”¬†ucap sooyoung ketika mobil yang ia kendarai bersama jessica baru saja tiba didepan sebuah rumah yang cukup besar

“jadi tempat ini memang selalu kosong?”¬†ucap jessica menatap rumah itu yang terlihat sepi

“nne… semenjak kau dan taeyeon bekerja di perusahaan itu dan menjadi penyanyi terkenal aku jadi kesepian disini”

Rumah itu merupakan studio musik milik sooyoung yang sengaja dibangun untuk tempat sooyoung, jessica dan taeyeon latihan olah vocal dan basecamp mereka sepulang sekolah sampai kuliah. namun semenjak lulus mereka jadi jarang bertemu terlebih jessica dan taeyeon diterima di agensi musik SMEnt yang terkenal di seoul kecuali sooyoung yang sebenarnya tak tertarik di dunia musik, ia sengaja membangun studio itu demi kedua sahabatnya yang sangat menyukai musik

“mianhae… kau tahu agensi itu sangat ketat untuk meminta izin keluar”

“arraso, setidaknya kau sudah keluar sekarang hahaha”

“yah!!”¬†kesal jessica memukul lengan sooyoung

keduanya pun memasuki rumah itu dan mulai membereskan, membuka kain kain penutup barang barang didalam rumah tu termasuk ruang studio rekaman

“kau kan seorang CEO, mengapa kau tak menggunakan studio ini juga?”

“yah kau meledekku? sampai sekarang aku tak bisa bernyanyi, lagipula aku membangun ini memang hanya untuk kita”

“berarti aku boleh kembali menggunakannya?”

“tentu saja, aku tahu kau rindu bernyanyi”¬†ucap sooyoung memberikan salah satu kunci rumah itu pada jessica

“yeaay…!!!”¬†teriak jessica berlari lari senang

sooyoung tersenyum menatap sahabatnya kembali terlihat sesenang itu

“tetaplah ceria seperti itu sica-yaa, karena aku sakit jika melihatmu kesakitan”¬†ucap sooyoung dalam hati, ia sudah mengetahui penyakit yang diderita jessica tanpa sepengetahuan sahabatnya itu. ia tahu jessica tengah merahasiakan itu padanya. meskipun begitu sooyoung tak marah dan berjanji akan selalu melindungi jessica.

………………………………………………

hari demi hari berlalu, namun saat itu juga kesehatan jessica mulai menurun karena penyakit kanker yang dideritanya. dokter memang selalu memintanya untuk dirawat segera ditangani namun jessica selalu mengundurnya dengan alasan tak bisa meninggalkan butik yang ia bangun selama ini. semenjak keluar dari dunia musik jessica membuka usaha butiknya dan menjadi seorang desaigner bahkan masih diminta beberapa perusahaan fashion untuk dijadikan model. bahkan tak jarang ia dipanggil perushaan musik untuk bergabung dan kembali menjadi penyanyi solo agar dapat menyaingi mantan agensi yang pernah menaunginya itu, namun jessica selalu menolaknya karena tak pernah ingin bersaing dengan Taeyeon sahabatnya yang saat ini tengah naik daun.

sepulangnya dari rumah sakit, jessica merasa lapar dan memutuskan untuk mengunjungi sebuah restoran

“selamat datang agashi”¬†ucap pelayan restoran itu mengantar jessica ke meja pengunjung¬†“ini menunya agashi, silahkan”¬†ucap pelayan itu kembali

setelah mencatat pesanan milik jessica pelayan itu pun berlalu

jessica terdiam memandang keluar jendela, namun saat itu ponselnya berbunyi menerima telepon dari sahabatnya

“hallo, soo ada apa?”

“yah! mengapa kau ke rumah sakit tanpa memberitahuku? bukankah sudah ku bilang biar aku yang selalu mengantarmu”

“hehehe mianhae, kau bilang akan ada rapat bersama clien mu, jadi aku pikir kau sibuk”

“tapi kau lebih penting sica-yaa… aku bisa mengatur waktu rapat kembali”

“aww so sweet…”

“yah aku berkata serius”

“arasso.. kau galak sekali, tak usah khawatir soo lagipula aku sudah pulang”

“sekarang kau dimana?”

“restoran, aku lapar hehehe”

“yah, jangan memakan yang sembarangan, kirimkan alamat lokasimu, aku akan segera kesana sekarang”

“anniyo.. aku hanya memesan salad sayur dan buah buahan, baiklah akan aku kirim”¬†ucap jessica mematikan teleponnya dan segera mengirim lokasi restoran itu

begitu pesanannya tiba, ia langsung menikmatinya sambil menunggu sahabatnya tiba.

suasana restoran cukup ramai, alunan musik pun mulai terdengar dan seorang yeoja baru saja naik keatas panggung kecil yang disediakan oleh restoran itu. Jessica mendengar penyanyi itu berbicara menyapa para pengunjung, awalnya ia masih menikmati makanannya enggan melihat. namun saat yeoja itu mulai bernyanyi, ia langsung mengangkat wajahnya tertarik dengan suara yeoja itu saat bernyanyi. Jessica membelalakkan kedua matanya begitu melihat yeoja yang sedang bernyanyi diatas panggung

snsd jessica wild romance official pictures

76fbbba1e4be5c98e388308cbbd8ca50.jpg

“tiffany?”¬†gumamnya

selain menjadi pelayan restoran, tiffany tak jarang menerima pekerjaan tambahan sebagai pengisi acara di restoran tempatnya bekerja itu setelah jam kerjanya selesai. ia sangat senang melakukannya karena menjadi seorang penyanyi adalah impiannya sejak kecil, namun mau tidak mau impiannya harus tertunda karena keadaan. meskipun begitu, ia tetap senang dan tak berhenti bernyanyi, para pengunjungpun menyukai suaranya yang sangat merdu, termasuk jessica.

sampai tak menyadari ia terus terusan tersenyum memandang tiffany yang sedang bernyanyi itu. dan saat itu pula kedua mata mata merela bertemu

awalnya tiffany terkejut saat melihat jessica berada didalam restoran itu apalagi yeoja yang biasa bersikap dingin itu sedang tersenyum padanya

snsd-jessica-wild-romance-screencaps-13

Tiffany melihat jessica sedikit mengangguk menyapanya, tiffanypun membalasnya dengan senyuman khas nya, eye smile membuat jessica semakin melebarkan senyumnya.

“aku menyukai senyuman itu”¬†ucap jessica dalam hati

Namun sooyoung yang baru saja tiba mengalihkan perhatiannya karena berdiri tepat menghalangi tubuh tiffany diatas panggung

“yah, serius sekali kau sampai tak mendengar panggilanku”¬†ucap sooyoung

“yaish.. menghalangi saja, duduklah”¬†ucap jessica sebal

“wae?”¬†ucap sooyoung heran, iapun mengikuti arah pandang jessica dan melihat seorang yeoja yang sedang bernyanyi diatas panggung itu¬†“nugu? wajah dan suaranya sangat cantik, tapi… rasanya aku pernah melihatnya”¬†lanjutnya

“kau dari kantor langsung kemari? apa kau sudah makan?”¬†ucap jessica saat melihat sooyoung masih memakai kemeja dan jas kantornya bahkan dasinya masi terpasang rapi

“nne… melelahkan sekali”¬†ucap sooyoung melepaskan jas dan dasinya, ia pun melipat tangan kemejanya kemudian mengambil jus strawberry milik jessica dan menghabiskannya tanpa sisa

“yah!! pesan sendiri dasar bodoh!”¬†kesal jessica mempoutkan bibirnya

“pesankan untukku hehehe”¬†ucap sooyoung mengacak acak rambut jessica merasa gemas

“apa dia kekasihnya?”¬†ucap tiffany memandang jessica yang kini tak duduk sendirian itu, apalagi mereka terlihat sangat akrab

Tiffany barus saja menyelesaikan lagu terakhirnya dan ia pun turun dari atas panggung. ia melihat jessica masih fokus pada yeoja yang duduk disampingnya itu sebelum akhirnya masuk kembali ke ruang ganti

“daebak!! kau selalu terlihat mengagumkan fany-ah”¬†ucap yuri betepuk tangan merasa senang

“hmm…”¬†gumam tiffany terlihat tak bersemangat, iapun mengganti pakaiannya karena pekerjaannya sudah selesai

“wae? kenapa dengan wajahmu?”

“anniyo.. hehehe”¬†ucap tiffany mengacak acak dan menggelitiki yuri hingga keduanya keluar dari restoran

…………………………………

“huh? kemana dia?”¬†tanya jessica dalam hati saat melihat panggung sudah terlihat sepi tak ada sosok tiffany. ia terlalu sibuk berbincang dengan sooyoung hingga tak menyadari jika tiffany sudah selesai perform sedari tadi

Jessica pun menoleh ke segala arah mencari sosok tiffany, hingga akhirnya ia menemukan yeoja itu didepan restoran dan sudah berganti pakaian

Jessica berdiri dan baru saja mau menyusulnya, namun saat itu ia melihat seseorang membawa motornya berhenti didepan tiffany dan memberikan satu helm untuknya. tiffany pun langsung duduk dibonceng oleh yeoja itu

“oddiga?”¬†tanya sooyoung yang melihat jessica cukup lama berdiri

“anniyo”¬†ucap jessica kembali duduk

……………………………………

keesokan harinya jessica kembali mengunjungi restoran itu dan berharap bertemu kembali dengan tiffany, kali ini dia datang satu jam lebih awal dari kemarin. namun sudah 20 menit ia tak kunjung melihat tiffany diatas panggung

“jessie?”¬†panggil seorang yeoja yang ternyata adalah tiffany yang sedang mebawakan nampan berisi pesanan milik jessica. yeoja yang dipanggilnya pun ikut terkejut saat melihat tiffany

“tiffany?”¬†ucap jessica menatapnya heran

“aku memang bekerja sebagai pelayan restoran ini, kemarin hanya kerja tambahan saja”¬†ucap tiffany seolah mengerti raut wajah jessica

“ah.. begitu”¬†ucap jessica mengangguk paham

“apa kau datang sendiri?”

“nne..”¬†ucap jessica

“tapi mianhae aku tak bisa menemanimu, karena aku bisa dipecat jika ketahuan bos sedang berbincang dengan pengunjung”¬†ucap tiffany

“gwaenchanna, tapi jam berapa kau selesai bekerja?”

“sekitar 1 jam lagi, wae?”

“ada yang ingin aku bicarakan, aku akan menunggu sampai kau selesai bekerja”

“baiklah, silahkan nikmati makanannya”¬†ucap tiffany yang lagi lagi memberikan eye smilenya pada jessica

Satu jam berlalu tiffany sudah selesai bekeja dan mengganti baju nya. jessicapun menunggunya didepan restoran akhirnya melihat tiffany keluar, namun ia bersama seorang yeoja yang dilihatnya kemarin. mereka kembali terlihat sangat dekat dan akrab.

“mianhae menunggumu lama”¬†ucap tiffany tersenyum

“it’s okay”¬†ucap jessica kembali dengan wajah dinginnya, entah kenapa perasaannya kembali merasa buruk ditambah saat melihat tiffany kembali berjalan menghampiri yeoja itu

“sepertinya aku akan pulang bersamanya yul”

“jadi sekarang kau memiliki teman eoh? aku pikir hanya aku”¬†ucap yuri mempoutkan bibirnya pura pura kesal

“yah! dasar, kkah pulanglah..”¬†ucap tiffany mendorong tubuh yuri dan keduanya kembali tertawa

“arraso… kau jangan melewatkan makan malammu sebelum berangkat bekerja, aku titip salam untuk eomma dan yoong”

“nne mamanim.. kau juga hati hati”¬†ucap tiffany, kedua yeoja itu pun berpelukan hingga mereka berpisah

Tiffany berjalan memasuki mobil jessica, jessica meliriknya dan masih melihat tiffany tersenyum sendiri memasang seatbelt nya

“kekasihmu?”¬†ucap jessica

“huh? hahaha anniyo… dia sahabatku”¬†ucap tiffany membuat jessica entah kenapa tiba tiba tersenyum dan merasa senang mendengarnya

“jadi kau akan membawaku kemana? mianhae.. aku hanya memiliki waktu sebentar karena harus kembali bekerja”

“hanya mengantarmu pulang”

“huh?”¬†gumam tiffany heran

“wae?”¬†tanya jessica

“anniyo.. jadi kau menungguku hanya untuk mengantarku pulang?”

“nne…”¬†ucap jessica

Begitu diperjalanan, keduanya tampak sama sama diam masih merasa canggung

“omo! jessie bisakah menepi sebentar?”

“nne?”¬†ucap jessica heran, iapun menepikan mobilnya dan tiffany segera keluar

Jessica melihat tiffany berlari tak jauh di depan mobilnya berhenti, ia memperhatikan yeoja itu yang rupanya hendak membantu seorang nenek yang kesulitan menyebrangi jalan raya yang cukup lebar. perlahan senyum jessica pun mengembang bahkan ia sedikit tertawa saat tiffany yang juga kesulitan membawa nenek itu karena lalu lintas yang cukup ramai terlebih tidak ada zebra cross dan rambu rambu yang tertera

Jessicapun membuka pintu mobilnya dan menghampiri mereka

“kajja”¬†ucap jessica memeluk lengan nenek itu dari samping kanannya sementara tiffany dari samping kiri. akhirnya merekapun berhasil membantu nenek itu dan kembali kedalam mobil

“gomawo”¬†ucap tiffany tersenyum senang

“hmm? nne…”¬†ucap jessica kembali melajukan mobilnya, namun ia heran saat tiffany terus memperhatikannya¬†“wae?”¬†ucap jessica kembali ketika memergoki tiffany sedang memandangnya

“bolehkah aku mengatakan sesuatu?”¬†ucap tiffany

“katakan saja”

“jessie, kau memang terlihat sangat dingin dari luar, tapi hatimu sangatlah hangat”¬†ucap tiffany membuat jessica terkejut karena selama ini orang orang selalu memandangnya sebagai orang yang sangat dingin, saat masih menjadi penyanyi pun fans lebih banyak menyukai taeyeon yang memiliki sikap ramah dan bahkan jessica selalu dijuluki ice princss oleh para penggemarnya

Jessica tersenyum dan entah mengapa ia merasa sangat bahagia saat tiffany mengatakan hal itu

“mengapa kau diam saja? apa kau marah?”¬†ucap tiffany

“anni… gomawo”¬†ucap jessica tersenyum menatap tiffany

“ah ya, kemarin aku membaca artikel tentangmu”

“lalu?”¬†ucap jessica

“kau seorang penyanyi terkenal dan sangat cantik”¬†ucap tiffany membuat jessica hampir tertawa melihat wajah polos tiffany mengatakan itu

“apa spesialnya?”

“aku iri padamu, jessie”

“wae?”

“karena aku sangat ingin sepertimu”¬†ucap tiffany membuat jessica terdiam¬†“menjadi salah satu kebanggaan SMEnt adalah satu impian terbesarku”¬†lanjutnya

“kau memiliki wajah cantik dan suaramu juga bahkan lebih bagus dariku”¬†ucap jessica membuat tiffany terkejut

“jinjja? jangan meledekku”

“anniyo.. aku jujur mengatakannya, bahkan aku sangat menyukai suaramu”¬†ucap jessica membuat tiffany terus terusan tersenyum

“wae?”¬†tanya jessica heran

“anni.. entah kenapa aku merasa bahagia saat kau mengatakan itu, kita seperti sudah sangat dekat padahal baru saling mengenal dan bertemu dalam beberapa hari”¬†ucap tiffany membuat jessica terdiam menatap yeoja yang duduk disampingnya itu

“nne.. aku juga heran mengapa aku bisa senyaman ini dengan seseorang yang baru saja aku kenal ini”¬†ucap jessica dalam hati

sesampainya di rumah, tiffany dan jessica langsung disambut oleh ibunya tiffany

“jess…sica-shi?”¬†ucap ibu tiffany mengingat ingat yeoja yang dihadapannya

“nne omonim, ternyata kau masih mengingatku”¬†ucap jessica tersenyum dan membungkukkan badannya

“aigoo… kau memang sangat cantik, mianhae waktu mengantar yoong aku tak begitu jelas melihatmu, tiffany selalu menceritakan tentangmu”

“nne?”¬†ucap jessica heran kemudian menatap tiffany

“ann.. anniyo.. aku tak bicara macam macam, aku hanya memperlihatkan fotomu di sebuah majalah, kajja sebaiknya kita masuk”¬†ucap tiffany terlihat salah tingkah

“apa eomma dan yoong sudah makan?”¬†ucap tiffany kembali

“eomma sudah makan, tapi yoong masih tak ingin makan fany-ah”¬†ucap ibu tiffany terlihat sedih

“biar aku coba membujuknya”¬†ucap tiffany mulai menyiapkan makanan untuk diknya itu, iapun memasuki kamar yoona dan jessica mengikutinya

Begitu masuk, jessica melihat seorang yeoja sedang duduk terdiam daiatas tempat tidurnya

“yoong.. mengapa masih belum makan eoh? apa yoong menunggu eonnie pulang?”¬†ucap tiffany dengan sedikit beraegyeo

Yoona pun mengangkat wajahnya dan keduamatanya bertemu dengan tatapan jessica

“kau?”¬†ucap jessica tekejut

TBC

Tadinya mau 1 shoot, ternyata kepanjangan. sebenernya udah selesai cuma nunggu respon yg lain aja dulu suka apa engga nya hehe soalnya udah lama ga nulis a.ka ngetik cerita jadi sedikit sulit. maafkan terlalu biasa, karena menulis tak semudah melupakan si dia.. aih

Lanjut??

We Are Different part 12

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………………

12 tahun yang lalu

Setelah mengalami insiden tenggelam di danau, sooyoung segera dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan perawatan, beruntung yoona telah menyelamatkannya. Namun, ia tetap harus di rawat selama beberapa hari karena mengalami syok

Siang itu sooyoung terbangun dan melihat tidak ada siapapun di ruang rawat kecuali dirinya, iapun mengambil ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja ruangan itu

“yoboseyo”

“appa” ucap sooyoung

“ada apa youngie-ah? bagaimana keadaanmu sekarang?”

“aku baik baik saja, apa sudah boleh pulang hari ini?”

“andwae, kau masih harus dirawat selama beberapa hari agar kondisimu benar benar pulih youngie-ah”

“appa oddiega? mengapa tak ada satu pun yang menemaniku disini?”

“appa berada di kantor, appa sangat sibuk sayang, eomma sedang pergi, appa akan meminta sunkyu untuk menemanimu sepulang sekolahnya nanti” ucap ayah sooyoung dibalik telepon

Sooyoung terdiam pandangannya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi, sementara sunny eonni nya pulang sekolah jam 4 sore karena ada les bahasa

“baiklah” ucap sooyoung, iapun mengakhiri teleponnya

Sooyoung terdiam menatap langit langit ruangan itu, ia merasa bosan berada disana namun ia sendiri tak bisa melakukan apa apa, ia terlalu takut pada ayahnya yang melarangnya untuk keluar

*toktoktok* pandangan sooyoung beralih ke arah pintu ruangan saat seseorang dari luar mengetuk dan membuka pintu itu

“hey, apa aku menganggumu?” ucap seorang yeoja yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu, yeoja yang telah menyelamatkan nyawa sooyoung, yoona

“anniyo, masuklah” ucap sooyoung, yoona pun segera memasuki ruangan dan berjalan menghampiri sooyoung

“mengapa kau kemari? kau tak sekolah?” tanya sooyoung

“tadi pagi aku berangkat sampai istirahat, lalu aku pergi kemari hehehe aku malas dengan pelajaran bahasa asing, ssaemku sangat galak”

“yah! baboya… jadi karena itu kau membolos? kau bisa dihukum”

“tidak juga, aku mengkhawatirkanmu” ucap yoona membuat sooyoung terdiam

Selama ini baru kali ini sooyoung mengenal seseorang yang seusianya merasa peduli terhadapnya, karena disekolahnya meskipun sooyoung seorang chaebol ia selalu tertindas dan sering dibully bahkan selalu mendapat perlakuan kasar oleh teman temannya.

“mengapa kau diam saja?” tanya yoona heran

“anniyo” ucap sooyoung “gangnam sangat jauh, kau berani ke seoul sendiri?”

“tentu saja aku berani, aku sering ke seoul untuk mengirimkan kue kue pesanan pelanggan milik kepala panti asuhan, ah ya aku membawakan kue juga untukmu” ucap yoona mengangkat kantong plastik yang ia bawa untuk ditunjukkan pada sooyoung, iapun segera membukanya

“kau tak menjualnya?”

“anniyo, aku sudah membelinya”

“kau tinggal di panti, apa kau punya uang?”

“yah! kasar sekali, tentu saja aku punya” ucap yoona mempoutkan bibirnya namun hal itu membuat sooyoung tertawa merasa lucu oleh tingkah yoona

“tapi.. mengapa disini sepi sekali? teman temanmu tak menjengukmu?” ucap yoona kembali namun membuat sooyoung berhenti tertawa

“mereka tak akan kemari”

“wae..?”

“kau akan merasakannya ketika sekolah di sekolah para chaebol”

Yoona hanya mengangguk anggukan kepalanya, meskipun ia sebenarnya tak mengerti

“mengapa kau menolongku?”

“aku sudah tak ingin mendengar dan melihat kematian lagi, cukup ibuku”

“kau bisa saja ikut tenggelam dan mati”

“setidaknya kau tak mati sendirian kan? hehehe” canda yoona membuat sooyoung memukul lengannya

Semenjak saat itu yoona sering menjenguk sooyoung sepulang sekolah atau ketika dirinya bolos hingga sooyoung sudah diperbolehkan untuk pulang. kini keduanya berteman dekat meskipun sooyoung masih merasa kaku. namun yoona selalu mampu mencairkan suasana hingga suatu hari saat mengantarkan kue yoona tak sengaja menemukan sooyoung sedang dipukuli oleh 5 orang siswa seusianya disebuah taman yang tampak sepi, kini ia paham maksud dari perkataan sooyoung saat dirawat di rumah sakit dulu.

“yah!! apa yang kalian lakukan pada temanku huh?” teriak yoona membuat kelima siswa itu menoleh kearahnya

“mwo? teman? hahaha” ucap salah satu siswa membuat keempat temannya ikut tertawa

“yah, sejak kapan kau memiliki teman huh?” ucap siswa itu kembali sambil menarik kerah seragam yang dikenakan sooyoung

“yah!!! sekali lagi kau menyentuhnya, kau akan mati!” teriak yoona

“mwo? kajja habisi dia” ucap siswa itu melepaskan kerah seragam sooyoung mulai berjalan menghampiri yoona diikuti keempat temannya

“omo! ottokhae..” ucap yoona dalam hati, ia mulai merasa panik karena ia sendiri tak bisa berkelahi

Hingga akhirnya yoona lah yang dipukuli oleh kelima siswa itu, ia mencoba melawan dengan menggerak gerakkan tangan dan kakinya sebisanya namun tetap saja tubuh kecilnya tak bisa melawan kelima siswa itu

Merasa tak tahan sooyoung pun menoleh kesegala arah, pandangannya terhenti pada sebuah batu yang cukup besar, iapun segera mengambil batu itu

*dukkk!!!* sebuah suara terdengar cukup keras membuat keheningan ditaman itu

*brukkk* tubuh seseorang diantara kelima siswa itu ambruk setelah menerima hantaman batu yang di emparkan oleh sooyoung, siswa itu tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya

Yoona membelalakkan kedua matanyamelihat hal itu, bahkan sooyoung dan keempat siswa didekatnya ikut terkejut

“yah, apa yang kalian lakukan? Sore begini anak sekolahan tak boleh berkeliaran” teriak seorang petugas kepolisian yang kebetulan sedang melewati taman membuat keenam yeoja itu menoleh dan melihat petugas itu berjalan cepat menghampiri mereka

takut tertangkap keempat siswa itu langsung berlari meninggalkan yoona, sooyoung serta temannya yang sudah tak sadarkan diri itu. yoona dan sooyoungpun demikian, mereka mencoba berlari namun yoona kembali terjatuh karena kaki kanannya terluka setelah dipukuli kelima siswa itu

“youngie-ya.. kau juga pergilah, ppali!! kau bisa tertangkap”

“andwae, kau akan tertangkap”

“gwaenchanna” ucap yoona namun sooyoung tetap terdiam disamping yoona hingga keduanya tertangkap dan dibawa ke kantor polisi

“nne.. sykurlah kalau begitu” ucap salah satu petugas saat menerima telepon dri pihak rumah sakit

“yah, kalian berdua! siapa yang mendidikmu hingga melakukan kejahatan seperti ini huh? beruntung anak itu masih bisa diselamatkan, dasar bodoh!” ucap petugas itu membentak kedua yeoja dihadapannya yang hanya bisa menunduk

“dimana anakku?” ucap seorang namja paruh baya setelah memasuki kantor polisi

“omo! tuan” ucap petugas itu segera berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat, para petugas lain pun melakukan hal yang sama

“appa” ucap sooyoung terkejut saat mendengar dan melihat ayahnya yang baru saja tiba

“youngie-ah…” panggil ibu sooyoung yang baru saja masuk dan berlari memeluk sooyoung “apa yang terjadi? mengapa kau terlihat seperti ini sayang?” ucapnya kembali sambil menangis

“eomma…” ucap sooyoung

“maaf tuan, anak anak ini termasuk putri anda telah melakukan kekerasan hingga mengakibatkan seorang anak terluka parah hingga dilarikan ke rumah sakit”

*plak!!!* dengan keras tuan choi menampar pipi sooyoung membuat orang orang yang berada didalam kantor polisi itu terkejut termasuk istrinya

“dasar anak nakal! apa aku pernah mengajarimu melakukan hal itu huh? untuk apa kau disekolahkan jika kelakuanmu seperti ini? bikin malu keluarga saja” bentak tuan choi memarahi sooyoung yang mulai menangis ketakutan

“t..ttuan, mohon tenang” ucap petugas itu

“s..ssebenarnya aku yang salah” ucap yoona terbata karena ikut merasa takut, “saya yang melakukannya tuan bukan sooyoung, sooyoung tak melakukan apa apa” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya kembali

Ayah sooyoung menarik kerahnya hendak memukul yoona namun sooyoung segera berlari menahannya

“appa andwae..” ucap sooyoung sambil menangis memeluk kaki ayahnya

“baiklah, aku serahkan saja pada kalian” ucap ayah sooyoung mulai mereda “dan kau, jangan dekati anakku lagi” ucapnya kembali sambil menunjuk pada yoona

Keluarga sooyoung pun meninggalkan kantor polisi termasuk sooyoung sendiri

hingga hanya yoona yang masih ditahan di kantor polisi karena telah mengakui perbuatannya

“yah, tubuhmu kecil tapi sudah bisa melakukan kekerasan dan bisa bisanya kau mencari masalah pada keluarga choi, kau tak tahu siapa mereka huh?” bentak polisi itu pada yoona

“yah!! jangan membentak adikku!” ucap yuri meninggikan suaranya membuat petugas itu menoleh dan melihat seorang anak sudah berdiri di depan pintu

“nuguyaa?”

“aku eonninya, wae?”

“yah, aku yang ku panggil adalah orang tua kalian”

“kami sudah tak memiliki orang tua” ucap yuri

“yaish.. pantas saja kalian kurang mendapatkan didikan seperti ini, kau tahu? adikmu sudah memukuli seorang siswa sampai dilarikan rumah sakit”

“mwo? yah! tarik kembali ucapanmu! adikku tak mungkin melakukan hal itu!” ucap yuri

*plak!!*

“aww” rintih yuri saat petugas itu memukul kepalanya

“dasar bodoh, sudah jelas adikmu yang mengakuinya, sudahlah aku tak ingin berdebat dengan anak kecil, kkah bawa adikmu pulang”

“m..mmwo? jadi aku tidak dipenjara?” ucap yoona terkejut

“dasar bodoh, kau masih anak anak! tapi kau harus menyelesaikan ini” ucap petugas itu memberikan sebuah kertas yang baru saja dicetak, yuri pun menerima dan membacanya

“itu tagihan biaya rumah sakit anak yang dia lukai, orang tuanya hanya menuntut untuk membayar seluruh biaya perawatan anaknya itu, kalian harus melunasinya besok, sekarang pulanglah” ucap petugas itu kembali

“kajja yoong” ucap yuri membawa yoona meninggalkan kantor polisi

“Hey, chankkaman!” panggil petugas itu kembali

“Ada apa ahjushi, bukankah urusan adikku sudah selesai” ucap yuri

“Nne.. Nne… Bawel sekali, ambillah” ucap petugas itu memberikan beberapa lembar uang

“Mwo? Untuk apa? Tadi kau memarahi kami” ucap yuri

“Dasar bodoh, tentu saja untuk kalian, ambil dan pulanglah, anak kecil dilarang berkeliaran malam malam”

“Kamsahamnida ahjushi” ucap yoona menerima uang itu dan segera berlari meninggalkan kantor polisi

“Yah kwon yoona!! Dasar!” teriak yuri, iapun membungkukkan badannya pamit pada petugas itu setelah berterima kasih

Kini keduanya berjalan melewati sebuah taman setelah yuri berhasil menyusul adiknya, hari sudah mulai gelap dan keduanya hanya berjalan saling terdiam

“Yah, mengapa kau mengambil uangnya” ucap yuri

“Wae? Bukankah ahjushi itu sendiri yang memberi? Eomma bilang kita tak boleh menolak pemberian dari orang lain” ucap yoona innocent

“Ya.. Tapi kita harus lihat dulu siapa yang memberinya”

“Petugas kepolisian” jawab yoona

“Yah! Bukan itu maksudku.. Yaish!”

“Wae..? Apa aku salah bicara?”

“Anniyo, lupakan” ucap yuri malas menanggapi

Keduanya kembali terdiam sambil terus berjalan menyusuri taman

“unnie, bolehkah aku melihatnya?” tanya yoona meminta kertas tagihan itu

“andwae.. ini tak seberapa” ucap yuri

“yaish…!!” gumam yoona dengan mudah merebut kertas itu dari tangan yuri, iapun melihatnya dan langsung membelalakkan kedua matanya melihat total tagihan biaya rumah sakit yang sangat besar itu

“omo! semahal ini?”

“hmm..” jawab yuri mengangkat kedua alisnya

“un..unnie.. mengapa kau tak memarahiku atau memukulku saja?” ucap yoona mengehentikan langkahnya

“untuk apa? pukulan tak akan menyelesaikan masalah” ucap yuri

“apa kau tak marah?”

“baboya… tentu saja aku marah” ucap yuri mengangkat tangan kanannya, yoona pun langsung memejamkan kedua matanya siap menerima pukulan dari yuri, namun yang ia rasakan bukan pukulan

“eh?” gumam yoona terkejut

Yuri malah mengusap kepalanya dan merapikan rambutnya yang terlihat berantakan membuat yoona kembali membuka kedua matanya

“rasa khawatirku lebih besar dari amarahku, kau ini dongsaengku, satu satunya yang ku miliki sekarang, aku lebih takut kehilanganmu” ucap yuri tersenyum kembali mengusap kepala yoona

Yoona hanya terdiam, kedua matanya mulai berair mendengar ucapan yuri, iapun langsung memeluk unnienya itu

“unnie… mianhae.. hiks hiks” ucap yoona menangis memeluk yuri

Yuri pun membalas pelukan yoona dan mengusap usap punggung menenangkan  dongsaengnya itu.

……..

setelah kejadian itu, sudah 2 minggu sooyoung tak menemui yoona dan selalu menghindar jika tak sengaja melihat yoona yang sedang mengantarkan kue kue langganannya di seoul. ia masih merasa bersalah pada yoona namun ia terlalu takut dan mengira yoona membencinya. namun hal itu membuatnya terus dihantui rasa bersalah hingga pada suatu hari ia mengunjungi panti asuhan dimana yoona tinggal.

Sooyoung berjalan menuju taman karena tak menemukan yoona didalam kamarnya, tak berapa lama ia melihat dari kejauhan anak anak panti sedang bermain di taman termasuk yoona yang sedang asik bermain bola bersama para namja seusianya

sooyoung pun perlahan menghampiri lapangan, namun yoona masih tak menyadari kehadirannya

“yoong, aku haus.. ambilkan minum untukku ppali” ucap yuri saat melihat sooyoung sedang berdiri disamping lapangan

“yaish..! baiklah” ucap yoona segera berlari meninggalkan lapangan untuk mengambilkan minum, namun langkahnya terhenti saat melihat sooyoung berdiri di hadapannya

kedua yeoja itu tampak terkejut, apalagi sooyoung yang mulai gelagapan salah tingkah. yoona kembali berjalan menghampirinya

“y..yyoong…” sapa sooyoung dengan gugup saat melihat yoona menatapnya tajam

*plakkk!!!*

“aww” rintih sooyoung mengsuap lengannya setelah menerima pukulan dari yoona

“yah, kau kemana saja? aku selalu mencarimu, bahkan aku selalu gagal menemukanmu di sekolah”

“k..kkenapa kau mencariku?”

“yaish… tentu saja untuk menemuimu, dasar bodoh, kajja temani aku mengambilkan air minum” ucap yoona menggandeng tangan sooyoung

“c..chankkaman!” ucap sooyoung menahan tangan yoona

“wae?”

“apa kau tak marah padaku?”

“huh? wae?” tanya yoona terlihat heran

“m.. mmasalah di kantor polisi saat itu” ucap sooyoung menundukkan kepalanya kembali merasa bersalah

“ah… jadi karena hal itu kau menghindariku huh?”

“n..nne, aku takut kau marah”

“mwo? dasar bodoh! Aku lebih marah saat kau menghindariku, kau ini sahabatku” ucap yoona membuat sooyoung mengangkat wajahnya, ia melihat yoona tersenyum tulus padanya membuat kedua matanya mulai berkaca kaca

“wae?” tanya yoona

“anniyo”  ucap sooyoung memeluk sahabatnya itu, air matanya pun berhasil lolos “boghoshippo” ucapnya kembali

“nado… aku juga sangat merindukanmu, ah bagaimana sekarang? apa masih ada yang mengganggumu?” ucap yoona tersenyum membalas pelukan sooyoung

“anniyo, berkatmu mereka jadi takut terhadapku, dan aku mulai memiliki beberapa teman di sekolah hehehe, gomawo..” ucap sooyoung tersenyum senang yoona pun ikut tertawa

Yuri ikut tersenyum memandang mereka dari kejauhan.

…………………………….

2017

*toktoktok*

Sooyoung menoleh kearah pintu kamarnya dan melihat pintu itu perlahan terbuka

“youngie-yaa sarapan sudah siap, kajja appamu sudah menunggu dibawah” ucap ibu sooyoung

“nne, eomma duluan saja, 5 menit lagi aku turun” ucap sooyoung, ibunya pun kembali menutup pintu kamarnya

sooyoung kembali memandang sebuah bingkai foto yang sedari tadi digenggamnya, foto bergambar dirinya bersama sahabatnya itu

20160211110328_1_1455188608.jpg

“hmm…” gumamnya masih terdiam menatap foto itu, iapun meletakkannya didalam laci mejanya dan segera berjalan menuju ruang makan, ia melihat eomma dan appanya sudah duduk menikmati sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor

“sunny eonnie oddiega?” tanya sooyoung yang sudah duduk disamping ibunya

“seperti biasa, dia masih tak ingin keluar dari kamarnya, hmm… Padahal malam nanti malam ulang tahunnya, apa pesta nanti malam dibatalkan saja?” ucap ibu sooyoung pada suaminya

“Mana bisa aku membatalkannya, aku sudah menyebarkan undangan, bibi han tolong antarkan makanan untuk sunny, pastikan dia siap untuk pestanya malam nanti” ucap tuan kwon dengan nada dinginnya

“biar aku saja yang mengantarkannya, aku makan bersama eonnie ya” ucap sooyoung berdiri kembali ikut membantu bibi han menata makanan diatas nampan

setelah semuanya disiapkan, sooyoung pun berjalan menuju kamar sunny yang berada dilantai paling atas mansion

begitu masuk ia melihat sunny sedang duduk terdiam memandang keluar jendela yang terbuka

“sampai kapan kau terus meratapinya? itu tak akan membuat taeyeon kembali” ucap sooyoung menghampiri sunny dan meletakkan makanan yang dibawanya di meja

sunny masih terdiam enggan menjawab, hanya kedua matanya menatap tajam pada sooyoung, ia merasa kesal terhadap ucapan adiknya itu

“wae,,? apa aku salah bicara?” tanya sooyoung

“lebih baik kau pergi daripada memperburuk moodku” ucap sunny kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela

“hemm… baiklah mianhae, aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya tak ingin kau melakukan hal yang sia sia” ucap sooyoung

“kau benar, tapi ini masih menyakitkan” ucap sunny menundukkan kepalanya, air matanya kembali lolos. bagaimana pun juga kepergian taeyeon yang secara tiba tiba membuat dirinya drop

“arra… aku mengerti perasaanmu, cukup sampai disini kau menangisinya sekarang sudah beberapa bulan dia pergi” ucap sooyoung memeluk kakaknya dari belakang

“aku tak bisa” ucap sunny dalam tangisnya

“Nanti malam adalah pesta ulang tahunmu, siapa tahu hatimu bisa sembuh dengan bertemu beberapa rekan kerja appa” ucap sooyoung ,namun jawaban yang ia dapati malah tatapan tajam sunny

“Arra arra… Aku hanya bercanda” ucap sooyong kembali

“Kau selalu saja menyebalkan” ucap sunny

“Lebih baik sekarang kau makan, lalu bersiap siap untuk pesta malam nanti”

“Apa konsepnya?” 

“Aigo… Jadi kau tak tahu?”

“Bahkan aku tak ingat jika besok hari ulang tahunku”

“Yaish…. Baiklah, kalau begitu biar aku pikirkan” ucap sooyoung terdiam sejenak memandang kakaknya itu

“Emm…. Dengan melihat keadaanmu, aku pikir pesta topeng lebih baik”

“Wae? Apa wajahku terlihat buruk?” tanya sunny meraba raba wajahnya

“Nne… Lihatlah” ucap sooyoung memegang kedua pundak sunny dan memutarnya hingga keduanya menghadap sebuah cermin yang cukup besar “sudah berapa hari kau menangisinya eoh? Bahkan kedua matamu masih terlihat sembab”

“Kau benar, baiklah aku setuju dengan pendapatmu”

“Kalau begitu habiskan makananmu, aku akan membicarakan hal ini pada appa” ucap sooyoung mengusap usap pundak sunny, ia pun berjalan meninggalkan kamar eonninya itu

………………………………………..

Apartemen Tiffany

Yuri terbangun dan melihat disampingnya sudah tidak ada kekasihnya, tiffany. malam tadi setelah pulang dari kantor ia memutuskan untuk menginap di apartemen tiffany,  semenjak keduanya berhasil saling mengungkapkan perasaannya di pegunungan songnisam park, kini usia hubungan mereka sudah mwnginjak 3 bulan

Setelah kesadarannya terkumpul yuri duduk diatas tempat tidur dan mengambil ponselnya, ia melihat beberapa pesan masuk dari amber. yuri terdiam membaca satu persatu pesan itu

Sementara tiffany dengan pakaian rapinya sudah berada di dapur baru saja membuat sandwich

“good morning” ucap yuri memeluk kekasihnya dari belakang membuat tiffany tersenyum dan menghentikan aktivitasnya

Tiffany pun membalikkan badannya

*cupp*

“morning too” ucap tiffany setelah memberikan morning kissnya pada bibir yuri, keduanya pun kembali tersenyum

“Huh? kau sudah mau pergi?” tanya tiffany saat melihat yuri sudah memakai pakaian yang sudah rapi

“nne, aku akan berkunjung ke ilsan, kau juga akan bekerja?”

“Nne.. Tapi akhir akhir ini kau sering ke ilsan, kau menemui siapa?”

“Menemui sahabatku yang baru saja sembuh dari kecelakaan”

“Sahabat?”

“Nne, baiklah kita berangkat bersama, aku akan mengantarmu” ucap yuri mengusap usap lembut kepala tiffany

“tapi aku berangkat jam 8 nanti, masih ada waktu satu jam”

“gwaenchanna, mengapa kau bangun pagi sekali?”

“aku ingin menyiapkan sarapan untukmu, kajja aku sudah membuat sandwich” ucap tiffany menarik tangan yuri ke ruang makan

Keduanya pun duduk berhadapan sambil menikmati sarapan pagi yang disiapkan oleh tiffany

“Fany-ah” panggil yuri menatap kekasihnya itu

“Nne?” ucap tiffany yang masih sibuk mengunyah sandwich miliknya

“Emm… Ada 2 hal yang ingin aku bicarakan”

“Katakan saja, sepertinya itu terdengar penting”

“Nne, ini sangat penting hehehe pertama… Maukah kau menemaniku menghadiri pesta ulang tahun temanku malam nanti?”

“Tentu saja” ucap tiffany tersenyum, tangannya mulai menggenggam tangan yuri “lalu yang kedua?”

“Emm….” gumam yuri terlihat ragu

“Katakan saja” ucap tiffany mengusap usap tangan yuri

“Mau kah kau tinggal bersamaku?” ucap yuri ragu, perlahan keringat pada dahinya mulai muncul khawatir tiffany akan menolak tawarannya

Karena mau tak mau mereka harus meninggalkan apartemen yang mereka tempati sekarang

Flashback

1 jam yang lalu. setelah menerima pesan dari amber, yuri langsung meneleponnya.

“Hallo, yuri-ah apa kau menerima pesan dariku?” ucap amber begitu menerima telepon dari yuri

“Nne, kau yakin itu benar?”

“Tentu saja, beberapa hari ini aku sering melihat sebuah mobil yang selalu terparkir tak jauh dari sini, mobil itu juga sama dengan mobil yang selalu mengikutimu, mereka juga selalu mengawasi apartemen ini, tempat kekasihmu sudah tak aman yul, kalian harus segera pindah dari sana sebelum mereka menghancurkan apartemen ini dan terjadi sesuatu pada kekasihmu ataupun adikmu”

“Kau benar, apa kau sudah menyiapkannya?”

“Nne, aku sudah menyimpan kunci rumah beserta alamatnya, ku pastikan disana aman, dan pakailah mobil milikku, mereka sudah menargetkan mobil yang kau pakai saat pergi kemarin, aku sudah menyimpan kuncinya juga di loker”

“Baiklah, gomawo…”

“Nne, hati hati yul”

“Kau juga” ucap yuri kemudian mengakhiri panggilannya

Flashback End

“Mau kah kau tinggal bersamaku?”

“Wae? Bukankah kita belum menikah?”

“Nne… Tapi, aku tak bisa membiarkanmu sendiri, aku selalu ingin bersamamu, aku juga khawatir kau kembali mengalami mimpi buruk setiap malam, lagipula aku tak akan berbuat macam macam padamu sampai aku menikahimu, aku janji” ucap yuri panjang lebar dan terlihat begitu serius membuat tiffany tertawa merasa lucu

“Wae…?” tanya yuri heran

“Anniyo… Hahaha kau lucu sekali yul”

“Jadi? Apa kau mau?”

“Hmmm… Aku sudah hampir 5 tahun tinggal disini, terlalu banyak kenangan indah yg sulit aku lupakan” ucap tiffany membuat yuri tercekat

Ia pun terdiam oleh ucapan tiffany, ia tahu apartemen ini dipilihkan oleh taeyeon saat dirinya diterima di seoul university, saat itu taeyeon lah yang memberikan apartemen untuknya, awalnya taeyeon menawarkan rumahnya agar tiffany menenpatinya selama taeyeon melanjutkan studynya di kepolisian, namun tiffany menolaknya. Rumah taeyeon ia rasa terlalu mewah dan tiffany merasa tak nyaman. Akhirnya taeyeon mengalah dan memahami sifat kesederhanaan tiffany.

“Aku hanya bercanda” ucap tiffany tersenyum kembali mengusap tangan yuri untuk menghilangkan ketegangan kekasihnya itu

“Aku…” ucap yuri masih tertunduk

“Kapan kau akan membawaku? Aku harus siap siap membereskan barang barangku” ucap tiffany membuat yuri mengangkat wajahnya kembali

“An…aniyoo… Masalah itu biar aku yg tangani, aku akan menjemputmu setelah pekerjaanmu selesai nanti”

“Baiklah, kajja kita berangkat” ucap tiffany menggenggam tangan yuri

Keduanya pun segera meninggalkan apartemen

……………………………………….

Yoona terbangun membuka kedua matanya begitu pipi kanannya merasakan sentuhan yang terasa dingin, namun ia tersenyum saat melihat wajah seseorang yang tersenyum sedang menatapnya terlebih rasa dingin pada pipinya kini terasa halus saat tangan jessica mengusap usap lembut dan membingkai wajahnya

Jessica memang bangun lebih awal dan setelah selesai mandi ia berjalan menghampiri kekasihnya yang masih terlelap, ia pun duduk disamping yoona. Jessica tersenyum memandang kekasihnya itu, ia sangat menyukai wajah tidur yoona yang terlihat polos dan alami. Ia pun menempelkan telapak tangannya yang terasa dingin oleh basuhan air pada wajah yoona hingga kekasihnya itu terbangun.

“Wake up” ucap jessica tanpa suara hanya menggerakan mulutnya

“Hmmm…. Wae?” gumam yoona sedikit mengangkat tubuhnya kemudian duduk menyandarkan punggungnya “ini masih jam 8 pagi” lanjutnya saat melirik pada jam weeker tak jauh darinya

“Kita harus bersiap siap” ucap jessica berjalan membuka lemari pakaiannya untuk mengganti baju

“Oddiega? Bukankah kita masih berangkat 2 jam lagi”

“Bukan itu, kita harus segera membereskan barang barang dan pergi dari sini”

“Hah?” gumam yoona masih tak mengerti

“Tadi yul menghubungi ponselmu, dan saat aku angkat dia meminta kita untuk melakukan hal itu, kit harus segera pindah dari sini”

“Wae?” tanya yoona

“Orang orang yang ingin membahayakan kalian sudah mengincar tempat ini, jadi tempat ini sudah tak aman lagi, yul juga mengajak tiffany”

“Ah begitu, baiklah”

“Kkah mandilah, aku akan menyiapkan sarapan” ucap jessica

“Shirro… Aku ingin melihatmu mengganti pakaian dulu” ucap yoona dengan senyum evilnya

“Yah!! Dasar pervert, andwae!” ucap jessica hendak meninggalkan kamar setelah mendapatkan pakaiannya, namun dengan segera yoona terbangun dan menarik tangan jessica

“Kyaaaaa….” teriak jessica saat tubuhnya tertarik dan terjatuh diatas tubuh yoona, kedua tubuh yeoja itu kini sudah kembali berada diatas kasur

“Yy..yah! Apa yang akan kau lakukan?” tanya jessica saat wajah yoona perlahan mendekati wajah jessica, ia mencoba memberontak namun yoona berhasil mengunci tubuhnya hingga tak bisa bergerak, jessica hanya terdiam pasrah dan memejamkan kedua matanya

*cupp*

“Good morning” ucap yoona tersenyum setelah mencium singkat bibir jessica membuat kekasihnya itu kembali membuka kedua matanya

“Huh?” gumam jessica heran

“Aku belum mengucapkan itu tadi, kkah ganti bajumu” ucap yoona melepaskan tubuhnya yang telah mengunci tubuh jessica ,ia pun berjalan memasuki kamar mandi

“Yaish, aku pikir apa” ucap jessica namun ia tersenyum setelah mengingat apa yang dilakukan yoona barusan

Jessica pun bangun dan segera mengganti pakaiannya kemudian bersiap siap menyiapkan sarapan untuknya dengan kekasihnya itu

…………

Begitu sampai di tempat kerja tiffany, yuri membukan pintu mobil untuk kekasihnya itu

“Setelah pekerjaanmu selesai segera hubungi aku, nanti aku akan menjemputmu, lalu kita fitting pakaian untuk pesta nanti” ucap yuri

“Fitting? Sepertinya temanmu bukan orang yang biasa” 

“Hmm… Begitulah, dia putri rekan perusahan, sebenarnya dia teman kecilku juga”

“Ah otthokhae… Aku takut membuatmu malu”

“Wae…? Itu tak akan terjadi, tenang saja aku selalu disampingmu, ku pastikan orang orang justru akan iri melihatku karena membawa seorang bidadari hehehe”

“Hahaha kau bisa saja, kkah nanti kau akan terlambat ke kantor” ucap tiffany merapikan dasi yuri

“Baiklah” ucap yuri memeluk tiffany dan mengecup kening kekasihnya itu “fany-ah hwaiting!” lanjutnya memberi semangat pada tiffany

“Nne hwaiting!” jawab tiffany ,keduanya pun tertawa dan yuri memasuki mobilnya meninggalkan perpustakaan pusat ,tempat dimana tiffany bekerja

Setelah melaju, yuri menginjakkan gas menambah kecepatan mobilnya untuk menuju ilsan, hari ini ia tak berniat berangkat ke kantor

Setelah menempuh 1 jam perjalanan, ia pun sampai di ilsan tepatnya di klinik SH dimana taeyeon dirawat

Yuri melihat taeyeon baru saja selesai melatih kakinya untuk kembali berjalan normal setelah cukup lama mendapatkan perawatan akibat terkena timah panas yang menembus tulangnya, yuripun langsung menghampiri yeoja itu di taman klinik

“Bagaimana kakimu?” ucap yuri membuat taeyeon menoleh kearahnya

“Sudah lebih baik dari sebelum sebelumnya dan aku sudah mulai terbiasa dengan alat ini, akhirnya kau kemari ,kemana saja eoh?” ucap taeyeon

“Aigooo… Kau merindukanku? Hahaha mianhae, aku baru saja mempublikasikan perusahaanku”

“Yaish… Percaya diri sekali, aku merasa bosan disini, bawa aku pergi ppali…”

“Yah, kau masih harus mendapat perawatan agar lekas sembuh taeyeon-ah”

“Tidak kah kau lihat jika aku sudah baik baik saja?”

“Haishh.. Akan aku tanyakan dulu” ucap yuri, iapun menoleh mencari seolhyun “seolhyun-ah bisakah kau kemari?” lanjutnya memanggil hoobae nya yang didapati tak jauh darinya sedang berbincang dengan yeri

“Oh nne” ucap seolhyun segera menghampiri sunbae nya itu

“Bagaimana keadaan taeyeon sekarang?” tanya yuri

“Kesehatan tubuhnya sudah semakin membaik sunbae, alat yang terpasang pada tulang kakinya juga sudah bisa digerakan dengan baik, tapi taeyeon-shi masih harus memakai alat untuk mempermudah kakinya berjalan”

“Jadi apa dia sudah boleh pulang?”

“Nne, tapi pasien masih harus meminum beberapa obat dan masih harus mengeceknya secara rutin”

“Baiklah segera siapkan ya, aku akan membawanya pulang hari ini”

“Nne sunbae” ucap seolhyun kemudian berlalu meninggalkan kedua yeoja itu

“Kajja kita mencari sarapan sambil menunggu obatmu” ucap yuri membantu memapah taeyeon

“Yaish aku sudah bisa berjalan” ucap taeyeon menepis tangan yuri

“Baiklah kajja” ucap yuri kini tangannya beralih menggenggam tangan taeyeon dan menariknya berjalan meninggalkan klinik mencari tempat makan yang tak jauh dari sana

Sementara taeyeon hanya terdiam menerima perlakuan adik tirinya itu

….

“Apa hidupku masih terancam?” ucap taeyeon setelah selesai menikmati sarapan paginya

“Tentu saja, tapi sejauh ini mereka belum mengetahui keadaanmu yang sebenarnya” 

“Ah jadi aku sudah mati ya”

“Nne, mianhae aku yang mengonsepnya karena jika mereka tau kau masih hidup akan sangat berbahaya untukmu”

“Tapi bagaimana ibuku?”

“Emm… Mianhae, ibumu sangat syok hingga sampai sekarang masih mendapat perawatan di rumah sakit pusat, tapi hyoyeon dan keluarganya sudah menjaga ibumu disana”

“Rumahku sudah hancur, mungkin apartemenku juga tak akan aman”

“Nne, akan sangat berbahaya juga jika kau tinggal di hotel”

“Lalu?”

“Aku akan membawamu ke rumahku”

“Apa disana aman?” 

“Tentu saja, bahkan adikku, jessica serta tiffany juga akan tinggal disana”

“Mwo? T…ttiffany?” ucap taeyeon terkejut

“Nne, aku rasa tidak apa jika mereka akhirnya tau jika kau masih hidup”

“An..anni, andwae… Bisakah kau carikan tempat tinggal lain?”

“Wae…? Hanya itu sementara tempat paling aman, lagipula kau masih belum aman”

“Tapi bisakah aku tak tinggal dengan tiffany?”

“Wae…?” ucap yuri

“Kau tahu aku sudah berpisah dengannya? Dia tak ingin melihat wajahku lagi sampai dia sudah siap, aku tak ingin menyakitinya”

“Hmmm… Arraso aku mengerti, aku akan menanyakan amber dulu” ucap yuri, iapun mengambil ponselnya dan segera menghubungi amber, tak butuh waktu lama yuri mengakhiri panggilannya

“disana ada paviliun yang terpisah dari rumahku, kau bisa tinggal disana dan mungkin tiffany tak akan tahu keberadaanmu” ucap yuri

“Baguslah, kau jangan beri tahu mereka dulu tentang keberadaanku”

“Arrasso Mamanim” ucap yuri menundukan kepalanya

“Yaish…!!” ucap taeyeon menjitak kapala yuri dan keduanya pun tertawa

“Tapi besok ulang tahun sunny, apa nanti malam akan diadakan pesta di rumah tuan choi?”

“Ne aku mendapatkan undangan, ah bukankah dia mantan kekasihmu? Saat hari peringatan terakhirmu dia terlihat sangat terpukul, aku jadi merasa bersalah padanya”


“Apa menurutmu itu pesta besar?”

“Sepertinya begitu, beberapa rekan perusahaan juga menerima undangan, sepertinya tuan choi mengundang banyak para pemilik perusahaan perusahaan besar, terlebih sunny akan diangkat menjadi pemimpin perusahaan tuan choi tapi tuan choi masih tetap berada dibelakangnya, mungkin sunny hanya dimanfaafkannya karena bisa menarik perhatian para rekan bisnisnya”

“Mwo…? Kalau begitu bawa aku malam nanti” ucap taeyeon 

“Mwoo??? Yah Andwae.. Kau mau mati sungguhan huh?” ucap yuri tak kalah terkejut

“Anni, tapi sunny dalam bahaya yul! Dia tak boleh masuk kedalam jurang setan ayahnya”

“Wae…?”

“Dasar bodoh, aku tak akan pernah membiarkan kekasihku dalam bahaya”

“Mwoo? Kekasih? Jadi k..kkau? Yah! Apa hubunganmu dengan tiffany berakhir karena dia?”

“Anniyo… Semua karena salahku, dari awal aku memang hanya mencoba melupakan sunny dengan menerima tiffany, tapi bagaimanapun juga pada akhirnya aku tetap tak bisa melepaskannya”

“Mwo? Yah!!!” teriak yuri menarik kerah baju taeyeon merasa marah “yaish! Tahu begitu aku tak akan mengeluarkanmu dari rumahmu!” lanjutnya sambil melepaskan cengkramannya

“Nne… Karena itu tiffany tak ingin melihat wajahku lagi, tapi bodohnya dengan tulus dia bilang telah memaafkanku” ucap taeyeon tersenyum sedih menundukkan kepalanya

“Karena dia memang selalu memiliki hati yang tulus tak sepertimu” ucap yuri masih merasa kesal

“Nne kau benar, aku harap ada seseorang yang tulus dan lebih baik dariku yang bisa membahagiakannya” ucap taeyeon mengangkat wajahnya menatap yuri

Sementara yuri hanya terdiam

“Jadi kau tetap ingin menemui sunny?”

“Nne… Jebal” ucap taeyeon memohon

………………………

“Untuk sementara kalian akan tinggal disini” ucap amber begitu ketiga yeoja itu tiba di sebuah rumah yang memiliki halaman cukup luas itu setelah menjemput yoona dan jessica

“Woah besar sekali, ini milikmu?” ucap yoona

“Anniyo, ini milik yul. Aku menggunakan uangnya untuk membelikan rumah ini, lokasinya cukup aman dan strategis, aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan, aku tinggal dulu” ucap amber mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan yoonsic

“Benar benar selera unnieku” ucap yoona masih takjub menoleh ke segala ruangan di dalam rumah yg cukup besar itu, namun pandangannya terhenti pada tatapan jessica yang sedang memandangnya

“Wae?” tanya yoona

“Seharusnya kita juga memiliki rumah, kapan kau akan menikahiku?”

“Arrasso, setelah restoran kita sukses aku akan membangun rumah untuk kita”

“Yah bukankah itu milik sooyoung”

“Anniyo, restoran itu milikku, sooyoung yang memberikannya untukku”

“Yaish kau tak bisa seenaknya menerima, apalagi restoran itu bukan restoran kecil kecilan”

“Wae…? Bukankah kita tak boleh menolak pemberian orang”

“Kau memintanya bahkan memaksanya membangun restoran kan?”

“Nne, tapi dia menurutinya, dan sekarang aku memilikinya untuk awal usahaku”

“Yaish… Sudahlah, aku akan kalah jika berdebat denganmu” ucap jessica berjalan mendahului yoona memasuki kamar

“Kenapa kau terlihat marah?” tanya yoona setelah berhasil menyusul kekasihnya

“Anni, aku tidak marah” ucap jessica enggan menatap yoona, ia mulai membuka koper dan mengeluarkan isinya untuk ditata kedalam lemari

Yoona pun ikut membuka koper miliknya

“Yah, apa yang kau lakukan?” ucap jessica

“Tentu saja menata baju bajuku”

“Yaish kau memiliki kamar sendiri, kita tak boleh tidur bersama”

“Wae…?”

“Yah! Dasar bodoh, kita sedang tinggal bersama yuri dan tiffany”

“Ah ahahaha aku baru ingat” ucap yoona tertawa menggaruk garukkan kepalanya “arra, aku akan kekamarku, tapi tengah malam nanti kamarku jangan dikunci, arrasso?”

“Why?”

“Tentu saja agar aku bisa diam diam memasuki kamar dan tidur bersamamu” ucap yoona dengan tawa innocent

“Yaish… get out! dasar pervert!” ucap jessica mendorong tubuh yoona keluar dari kamar nya, iapun melihat yoona yang masih tertawa berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar jessica

“Kau terlalu polos sampai tak pernah menyadari jika bahaya sudah berada di sekelilingmu” ucap jessica dalam hati

Jessica memang diam diam mencurigai sooyoung setelah mengetahui kronologis kasus penembakkan ayah yuri, dan menemui yoona yang tak sadarkan diri didepan pintu apartemennya. Ditambah ucapan yuri yang memintanya selalu memperhatikan yeoja itu jika sedang bersama yoona. Jessica telah menduga jika sooyoung terlibat di dalam kasus itu

………………………………..

“Ini beberapa obat yang harus rutin diminum, aku sudah menuliskan aturan minumnya disana” ucap seolhyun memberikan kotak berisi obat obatan pada yuri

“Nne, gomawo seolhyun-ah, maafkan dia kalau selama ini merepotkanmu”

“Anniyo, memang sudah tugasku, tapi kau masih memiliki hutang padaku”

“Huh? Hutang apa?”

“Kau masih belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi”

“Hahaha yaish… Arraso nanti akan aku mengunjungimu lagi, kalau begitu aku pergi dulu” ucap yuri kemudian berlalu meninggalkan klinik

“Dia kekasihmu?” tanya taeyeon begitu yuri memasuki mobil, taeyeon sudah terlebih dahulu duduk didalam

“Anni, yah mengapa kau duduk dibelakang, pindah! Aku bukan supirmu”

“Hahaha arasso, aigoo tadinya aku mau tidur” ucap taeyeon, iapun langsung pindah ke jok depan

Setelah melihat taeyeon mengenakan sabuk pengaman, yuripun menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan ilsan

……

“Wae? Kenapa kau terus memandangku? Kau jatuh cinta padaku?” ucap taeyeon yang sedari tadi memergoki yuri selalu memperhatikannya setiap berhenti di lampu merah

“Anniyo, aku memperhatikan luka bakar di bagian leher dan telinga belakangmu”

“Ah ini, gara gara ini juga rambutku harus dipotong pendek, menyebalkan”

“Hahaha kau benar, aku bahkan baru menyadarinya jika rambutmu pendek, pantas terlihat berbeda” 

“Yaish menyebalkan”

“Tapi kau terlihat seperti namja, tampan”

“Omo omo! Apa sekarang kau benar benar jatuh cinta padaku?” ucap taeyeon pura pura terlihat terkejut dan ketakutan

“Hahaha dasar bodoh, mana mungkin aku jatuh cinta pada orang pendek sepertimu, lagipula aku sudah memiliki kekasih” ucap yuri tersenyum senang memikirkan wajah cantik tiffany

“Nugu?”

“Sejak kapan kau peduli padaku, bukankah biasanya kau tak peduli terhadap apapun?” sindir yuri

“Yaish… Arra, aku akan diam” ucap taeyeon kembali mengalihkan pandangannya

“Ini sudah beberapa bulan dari kasus itu dan aku masih belum bisa mengumpulkan beberapa bukti terhadap tuan choi” ucap yuri membuka kembali percakapan setelah keduanya cukup lama terdiam, taeyeonpun kembali menatapnya

“Pasti karena banyaknya anak buah dari tuan choi”

“Nne, mereka selalu saja mengincar nyawaku dan adikku”

“Lalu ayahmu?”

“Dia terlihat tak peduli terhadap hal itu, pekerjaanku pun di kantor tidak terlalu berat kali ini, jadi aku manfaatkan untuk fokus pada perusahaan game ku”

“Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” ucap taeyeon membuat yuri menoleh menatapnya

“Wae? Bukankah waktu itu kau yang mengatakannya?” ucap taeyeon kembali

“Segeralah sadar dan bantu aku”

Yuri tersenyum ketika dirinya mengingat pernah mengucapkan itu saat taeyeon belum sadar dari koma nya, rupanya ia tak tahu jika sebenarnya taeyeon mendengarkan ucapannya

“Baiklah, karena sudah beberapa bulan kau meninggal, aku rasa orang orang sudah melupakanmu, apalagi dengan penampilanmu yang sekarang”

“Lalu? Apa yang akan kau lakukan padaku?”

“Emm… Sebaiknya kita perbaiki dulu penampilanmu, kau masih terlihat buruk, let’s go!” ucap yuri terlihat semangat dan menambah kecepatan mobilnya

Setelah menempuh satu jam perjalanan, keduanya tiba di seoul

“Kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?” ucap taeyeon memperbaiki topi yang ia kenakan untuk melindungi wajahnya, yuri baru saja membawanya memasuki sebuah mall besar di seoul

“Untuk merubah penampilanmu, kajja” ucap yuri menarik tangan taeyeon dan memasuki sebuah salon kecantikan

Keduanyapun langsung disambut pemilik salon itu

“Aigoo… Uri yul kemana saja baru kesini eoh?”

“Hahaha mianhae aku terlalu sibuk gyuri-ah” ucap yuri memeluk teman yang pernah satu kampus dengannya itu, keduanya cukup dekat karena yuri salah satu pelanggan salonnya

“Kau masih terlihat tampan, apa yang mau kau ubah lagi?”

“Anniyo bukan aku, tapi oppaku” ucap yuri tersenyum dan menggeser tubuhnya yang telah menutupi tubuh taeyeon yang berdiri di belakangnya

“Omo!” teriak gyuri sampai menutup mulutnya saat melihat taeyeon “yah, mengapa kau baru memberi tahuku jika kau memiliki oppa yang sangat cute tampan eoh?” bisik gyuri membuat yuri tertawa

“Mianhae, aku saja baru ingat jika memiliki kakak laki laki, dia baru saja pulang wajib militer” bohong yuri

“Ah begitu, kalau begitu kajja ikuti aku, berhubung pelangganku adalah seorang namja jadi aku sendiri yang akan melayaninya kekekekekk”

“yah, apa kau yakin dia bisa merubahku menjadi namja? ini salon kecantikan” bisik taeyeon

“kau tenang saja, dia sudah ahlinya merubah gaya apapun” jawab yuri

“hey mengapa diam saja, kajja” ucap gyuri

“Dia sedikit pemalu, ah ya gyuri-ah carikan pakaian untuk menghadiri sebuah pesta untuknya dan ubah dia setampan mungkin” ucap yuri

“Arrasso, serahkan saja padaku” ucap gyuri mengacungkan jempolnya

“kkah masuklah, aku akan pergi sebentar menjemput kekasihku, hubungi aku jika sudah selesai” ucap yuri memberikan sebuah ponsel pada taeyeon

………………………………..

“Yoong kajja antar aku” ucap jessica menghampiri yoona yang asik menonton TV

“Oddiega?” 

“I’m on period, aku lupa membelinya”

“Huh sayang sekali, berarti malam ini kita tak bisa..”

“Yah! Jangan memulai, kau jadi ingin mengantarku atau tidak” potong jessica

“Hehehe aku bercanda aigoo.. Kau seram sekali, kajja kita let’s go” ucap yoona segera mengambil jaketnya

“Kita jalan kaki saja, saat perjalanan kesini tadi aku lihat sebuah mini market tak jauh dari sini” ucap jessica memeluk lengan kekasihnya itu sementara yoona hanya tersenyum

Beberapa menit setelah yoonsic pergi, mobil yang ditumpangi yuri dan tiffany tiba

“Dandanlah secantik mungkin, aku akan kembali menjemputmu” ucap yuri setelah membukakan pintu mobil untuk tiffany

“Eh? Kau akan pergi lagi yul?”

“Nne, aku harus menjemput temanku, kita akan pergi ke pesta bersamanya lagipula dia juga akan tinggal disini tapi di paviliun belakang”

“Arraso aku akan bersiap siap, kau hati hati di jalan yul” ucap tiffany kembali tersenyum dan memberikan kecupan singkat di pipi kelasihnya itu

Yuri pun segera meninggalkan rumah untuk menjemput taeyeon

……….

Begitu sampai

“Yah! Lama sekali eoh! Menyebalkan” ucap taeyeon yang sudah cukup lama berdiri menunggu yuri menjemputnya

“Mianh… Omo!” ucap yuri terkejut saat melihat perubahan pada penampilan taeyeon, wajahnya terlihat lebih cerah dengan tatanan rambut pendek gaya barunya membuat taeyeon benae benar terlihat seperti seorang namja

(Cr : taenghuan51.com)

“Wae…? Ada apa dengan ekspresi menyebalkanmu itu” ucap taeyeon memandang yuri datar

“An..anniyo, kau tampan sekali oppa!” ucap yuri sedikit beragyeo sambil menggodanya

“Yah! Agyeomu membuatku mual, kajja kita harus pergi dari sini”

“Nne oppa.. Jebal…” ucap yuri

Keduanya pun berjalan menuju basement dan memasuki mobil

“Yah, mengapa kau duduk didepan, pindah ke belakang!” ucap yuri saat melihat taeyeon duduk disampingnya

“Wae? Tadi kau memintaku duduk didepan”

“Aku membawa kekasihku, ppali”

“Yaish, arasso” ucap taeyeon kesal, iapun berpindah ke jok belakang”

Diperjalanan

“Taeng aku sudah memberitahu tiffany kalau kau akan tinggal di paviliun”

“Mwo? Yah!! Lalu apa tiffany terlihat marah?”

“Anniyo, dia belum tahu jika itu kau, aku tak memberitahunya”

“Haah… Syukurlah, kau membuatku jantungan”

“Tapi tetap saja kau akan bertemu dengannya”

“Mwo? Otthokhae..?” 

“Aku rasa dia tak akan mengenali penampilan barumu, aku saja hampir tak mengenalimu”

“Yah! Aku telah bersamanya beberapa tahun, bagaimana jika dia tetap mengenaliku huh?”

“Ya… Apa boleh buat, kau harus mengakuinya”

“Yaish… Menyebalkan” ucap taeyeon

*piip piiippp* suara klakson mobil terdengar setelah mobil yuri tiba di rumah barunya itu

“Sudah sampai, kajja” ucap yuri

“Ini rumahmu? Mengapa kita kemari?” ucap taeyeon heran

“Untuk menjemput kekasihku” ucap yuri tersenyum memandang pintu rumahnya yang mulai terbuka, taeyeon pun ikut menoleh

Namun taeyeon sangat terkejut saat tampak seorang yeoja mengenakan dress putih yang berjalan kearahnya, tiffany terlihat sangat anggun

“Y..yyul, jja…jjadi” ucap taeyeon terbata

“Nne dia kekasihku sekarang, kau tak tahu berapa lama aku menunggunya taeng aku senang sekaligus sedih setelah mengetahui hubungan kalian berakhir” ucap yuri membuat taeyeon terdiam menatap yuri yang sudah keluar dari mobil menyambut kekasihnya itu

“Bagaimana penampilanku yul? Apa aku terlihat jelek?” tanya tiffany memutar mutarkan tubuhnya dihadapannya yuri, wajahnya terlihat malu

“Anniyo, kau sangat cantik fany-ah, dan selalu terlihat cantik” ucap yuri tersenyum tenang

“Hahaha kau bisa saja, kajja” ucap tiffany

“Chankkaman, ada seseorang yang ingin aku kenalkan”

“Nne? Nugu?”

“Hey turunlah” panggil yuri pada taeyeon yang masih terdiam didalam mobilnya, tiffanypun ikut menoleh saat pintu mobil terbuka dan menampilkan sosok namja dengan tampilan yang sangat rapi

Perlahan taeyeon berjalan menghampiri kedua yeoja itu dengan kepala yang masih menunduk

Perkanalkan dirimu, ini tiffany… Kekasihku” ucap yuri setelah ada jeda, ia sendiri sedikit ragu dan khawatir jika rahasia taeyeon akan terbongkar

“anyeong, tiffany hwang imnida” ucap tiffany tersenyum mengangkat tangan kanannya

Taeyeon pun mengangkat wajahnya dan kini keduanya saling bertatapan dalam jarak yang dekat

*deg deg deg deg…* detak jantung taeyeon langsung berdetak keras saat melihat wajah tiffany dengan dandanan senada seperti biasanya namun terlihat nampak berbeda dari yang biasanya saat mereka masih menjadi pasangan kekasih, wajah tiffany yang sekarang terlihat begitu cerah

“T..ttae…” ucap taeyeon namun ia terkejut dengan ucapannya yang hampir menyebutkan namanya

“Nne?” ucap tiffany tak mendengarnya

“Taehyuk, kim taehyuk” ucap taeyeon membungkukan badannya dan menjabat tangan tiffany

“Ah… Taehyuk oppa, senang berkenalan denganmu” ucap tiffany tersenyum kembali pada taeyeon “kajja kita berangkat” ucapnya kembali pada yuri

“Nne kajja” ucap yuri membukakan pintu mobilnya untuk tiffany “ayo oppa” lanjutnya pada taeyeon yang masih terpaku

“Ah n.. Nne” ucap taeyeon segera memasuki mobil

Tiffany duduk disamping yuri yang mengemudikan mobil sementara taeyeon duduk di jok belakang

Selama diperjalanan menuju rumah sunny taeyeon lebih memilih diam memperhatikan interaksi mantan kekasihnya yang kini telah menjadi kekasih adik tirinya itu. Satu sisi ia bersyukur saat tiffany tak mengenalnya, namun sisi lain hatinya sedikit sakit melihat hal itu terlebih tiffany memang sudah tak ingin mengenalnya. Namun ia bersyukur bisa meoihat tiffany terlihat bahagia bersama yuri

…………………………………

Maksud hati ingin berbelanja di sebuah mini market, yoona dan jessica justru malah mengunjungi sebuah mall besar tak jauh dari sana hingga keduanya tak menyadari hari sudah gelap

“Mwo? Sudah jam 9, kau sih keasikan berbelanja” ucap yoona setelah melihat jam tangannya

“Yah bukankah kau sendiri yang menawariku kemari”

“Hehehe apa boleh buat, kau terlihat menyeramkan tadi”

“Mwo?” ucap jessica kembali menatapnya tajam

“Anniyo… Aku hanya bercanda, kajja kita pulang dan makan malam di rumah saja” ucap yoona menggandeng tangan kekasihnya itu

Keduanya kembali berjalan menuju tempat tinggal barunya

Namun ditengah perjalanan saat keduanya melewati gang sepi, saat berbelok langkah mereka terhenti ketika melihat segerombolan pria yang sedang mabuk dan bermain main di gang itu

“Omo! Pertanda buruk” ucap yoona, jessica pun ikut terkejut melihatnya

“Sebaiknya kita putar arah dan mencari taksi saja yoong” ucap jessica mengeratkan genggaman tangannya pada lengan yoona

Sayangnya saat keduanya berbalik salah seorang dari kelima pria yang sedang mabuk itu melihat keduanya

“Hey… Noona noona, oddiega? Mengapa berputar arah? Kemarilah bersenang senang bersama kami hahaha” ucap namja itu diiringi tawa teman temannya, mereka mulai berjalan mengikuti yoona dan jessica

“Jangan dengarkan, kajja” ucap jessica kembali melangkahkan kakinya

“Hey mau kemana? Kenapa buru buru sekali?” ucap seorang namja yang tiba tiba muncul dari gang lain yang sudah menghadang mereka

“Wow, sukjin-ah kau datang diwaktu yang tepat, apa kau membawa soju pesanan kami?”

“Tentu saja, ah.. Sepertinya ada yang akan bergabung bersama kita” ucap pria bernama sukjin itu mendekati yoona dan jessica yang mulai berjalan mundur

Langkah keduanya terhenti saat kelima namja itu sudah berada dekat di belakangnya

“Yoong aku takut” bisik jessica ketakutan dan memejamkan kedua matanya, yoona pun memeluknya

“Hey jangan takut noona, aigoo… Butt mu seksi sekali” ucap sukjin dengan tangannya hendak menyentuh butt jessica

“Yah, jangan sentuh! Itu milikku!” ucap yoona kesal menepis tangan namja itu

“Aigoo.. Jadi kalian sepasang kekasih eoh? Sayang sekali kalau begitu, bagaimana jika kalian bersama kami saja? Kami lebih nikmat hahaha” ucap bos dari keenam namja itu kembali tertawa ,tangannya hendak merangkul pundak jessica

“Jangan mimpi” ucap yoona langsung menarik rangan namja itu dan memutarnya

“Akkkh!!!” teriak namja itu kesakitan mambuat teman temannya terkejut

“Yah mengapa kalian diam saja, bantu aku!” ucap namja itu membuat kelima temannya tersadar dan mulai menyerang yoona, yoona pun mendorong namja itu dan melindungi tubuh jessica dari serangan para namja yang sedang mabuk itu hingga terjadi perkelahian

Jessica semakin ketakutan dan khawatir melihat yoona beberapa kali diserang namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi rasa kagum, yoona yang ia lihat kini berbeda dari yoona yang saat pertama kali ia temui dengan kasus yang sama saat bertemu dengan beberapa preman. Dulu yoona hanya berpura pura pingsan untuk menyelamatkan dirinya namun kini ia melihat yoona dengan sigap melawan para namja itu hingga satu persatu mereka tersungkur menerima pukulan dari yoona

*brukkk!!!*

“Akh!! Ampun noona, kami tak akan mengganggu lagi” ucap salah satu namja yang terakhir dibuat K.O oleh yoona

“Awas saja aku menemui kalian yang sedang mwngganggu seorang yeoja lagi, akan kupatahkan leher kalian satu persatu! Arrasso?!” ucap yoona mengancam mereka

“Nne.. Arrasso…” ucap keenam namja itu yang masih terbaring kesakitan

“Kajja” ucap yoona menggengam tangan jessica membawanya meninggalkan gang itu

“Y..yyong benarkah itu kau?” ucap jessica masih merasa terkejut

“Wae…? Apa kau melihat malaikat pencabut nyawa disekelilingku?”

“Anniyo, aku hanya tak menyangka”

“Entahlah, aku seperti mendapat kekuatan saat orang lain ingin menyentuhmu, dan aku baru sadar jika aku sudah berlatih beladiri” ucap yoona

“Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk padanya, tapi aku juga tidak bisa selalu menjaganya, bahkan mungkin suatu saat aku tidak bisa ada disampingnya lagi” ucap yuri, kini wajahnya terlihat serius

“Wae? Kau terdengar seperti akan pergi jauh”

“Untuk saat ini aku tak bisa melindunginya, untuk itu aku ingin memintamu untuk selalu disampingnya, percayalah walaupun dia menyebalkan tapi yoong anak yang baik, dia akan selalu melindungi seseorang yang ia cintai”

Jessica tersenyum mengingat kembali ucapan yuri yang terbukti itu, iapun semakin mengeratkan pelukannya pada lengan kekasihnya itu

“Wae? Kau sesenang itu?”

“Tentu saja, setidaknya kau jadi bisa menjaga dirimu bahkan melindungiku, gomawo…”

“Nne? Hanya itu?” ucap yoona menghentikan langkahnya

Keduanya sudah sampai didepan rumah

“Memangnya apa lagi?” tanya jessica innocent membalikkan badannya menghadap yoona

“Anniyo…” ucap yoona kembali berjalan mendahuluinya, namun saat melewati tangan jessica meraih tangan yoona dan menariknya cukup hingga yoona kembali berbalik

*cupp* dengan cepat jessica membingkai wajah yoona dan mencium bibirnya yang tentu saja membuat yoona terkejut atas perlakuannya

Namun yoona tersenyum senang dengan kedua tanganya terangkat memeluk pinggang jessica dan membalas ciuman kekasihnya itu

………………..

Yuri, tiffany dan taeyeon telah tiba digedung milik tuan choi tempat diadakannya pesta ulang tahun sunny.

“Sepertinya kita sedikit terlambat, oppa apa kau sudah memakai topengmu?” tanya yuri yang mulai memakaikan topeng begitupun tiffany

“Ah aku lupa menaruhnya, kalian duluan saja sepertinya topengku terjatuh”

“Yaish… Baiklah, kau langsung masuk saja nanti, gunakan ini” ucap yuri memberikan kartu undangan pada taeyeon

“Nne… Bersenang senanglah” ucap taeyeon

Yuri dan tiffany pun mulai berjalan memasuki lift ,saat itu taeyeon mulai memakaikan topengnya yang sedari tadi ia simpan didalam saku jasnya, iapun keluar dari mobil dan memasuki lift yang lain

“apa kami terlambat?” ucap yuri saat disambut oleh sooyoung

“sedikit, kira kira satu jam lah” ucap sooyoung diikuti tawa yuri

“hahah mianhae, pestanya sudah mulai?”

“nne, langsung bergabung saja, ah ya apa hanya kalian berdua?” tanya sooyoung

“nne, adikku dan kekasihnya menghilang sedari pagi ,ah ya dia kemkasihku sekarang”

“omo! anyeong eonnie, mian aku baru menyadari jika kau tiffany eonnie, kau selalu saja terlihat cantik” ucap sooyoung

“gomawo youngie-yaa kau juga semakin tampan” canda tiffany

“yah, kalian jangan saling menggoda yaish…” ucap yuri, ketiganya pun kembali tertawa hingga tanpa mereka sadari tengah diawasi oleh beberapa anak buah tuan choi

“sasaran sudah berada disini, tapi sekarang sedang bersama sooyoung noona” ucap jinyoung salah satu anak buah tuan choi yang berdiri tak jauh dari ketiga yeoja itu

“tetap awasi dan ikuti gerak geriknya hingga pesta usai, lalu tangkap bahkan bunuh mereka saat pulang”

“baiklah”

……

taeyeon berjalan memasuki ruangan dimana pesta diadakan setelah berhasil masuk tanpa dicurigai karena kartu undangan yang diberikan oleh yuri.

ia terus berjalan melewati para tamu undangan yang sedang menikmati alunan musik klasik dalam pesta tersebut kepalanya masih sibuk menoleh ke segala arah mencari sosok yang selama ini dia rindukan hingga tak butuh waktu lama ia meenemukan sosok itu sedang duduk tak jauh darinya 

taeyeon pun tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya menghampiri yeoja itu, namun baru beberapa langkah ia kembali terhenti saat melihat tuan choi membawa beberapa namja yang masih terlihat muda menghampiri yeoja itu

“sunny-ah mengapa kau diam saja? apa kau tak menikmati pesta yang sudah appa buat ini eoh?” ucap tuan kwon membuyarkan lamunan sunny

“anniyo, ada apa appa kemari”

“appa mengundang beberapa rekan perusahaan appa yang mungkin bisa berteman baik dan bekerja sama denganmu” ucap tuan choi memperlihatkan 3 orang namja yang sudah berdiri dibelakangnya, sementara sunny hanya menatap malas pada ketiga namja itu

“hmm… aku tak membutuhkan itu”

“yaish… jangan seperti itu, kkah nikmati perkenalan kalian, appa akan kembali menemui tamu undangan lainnya” ucap tuan choi berlalu meninggalkan putrinya bersama ketiga namja itu

“anyeong, apakah kami boleh duduk bergabung?”

“duduklah” ucap sunny

“perkenalkan kim jaejoong imnida” ucap salah satu namja itu mengulurkan tangannya

“sunny” jawab sunny membalas tangan jaeejong

“gongchan imnida” ucap namja kedua

“minwoo imnida” ucap namja ketiga, sunny pun tersenyum singkat menganggukkan kepalanya

“kim taehyuk imnida” ucap taeyeon yang baru saja ikut bergabung di meja mereka membuat sunny dan ketiga namja dihadapannya menoleh kearah pemilik nama itu

“nugu? apa aku sudah mempersilahkanmu duduk? tidak sopan” ucap sunny dengan nada sinisnya, ia memang terkenal dingin pada orang orang yang belum dikenalnya

“dia rekanku sekaligus dirut baru diperusahaan gameku sunny-ah hehe mianhae dia memang begitu” ucap yuri menepuk pundak taeyeon, beruntung ia datang disaat yang tepat

“oh begitu” ucap sunny singkat segera berdiri menyambut yuri

“selamat ulang tahun, kau masih saja terlihat pendek eoh” ucap yuri memberikan kado dan memeluk sunny

“yaish..! menyebalkan, gomawo..” ucap sunny membalas pelukan yuri “kau?” ucapnya kembali saat melihat tiffany berdiri dibelakang yuri

“dia datang sebagai kekasihku” ucap yuri

“ah… begitu, duduklah” ucap sunny

“anniyo, aku belum menemui ayahmu, kalian kembali mengobrol saja” ucap yuri “dan kau… kau jangan menggodanya, arra?” lanjutnya sambil menunjuk taeyeon

sunny pun kembali memandang taeyeon yang diketahuinya sebagai kim taehyuk itu. ada perasaan berbeda saat memandang namja itu. ia pun kembali duduk

“sunny-shi senang sekali mendengar anda akan bergabung dengan perusahaan tuan choi” ucap jaejoong

“nne… aku juga, aku harap kita bisa menjadi mitra dan bekerja sama dengan baik” tambah minwoo

“apa kau sudah memikirkan kembali dengan keputusan itu? apa yakin akan merasa nyaman?” ucap taeyeon membuat sunny kembali menatapnya

“maksudmu?” ucap sunny

“anniyo hanya saja apa tidakkah terlalu munafik jika menyukai apa yang sebenarnya tidak kita sukai?” ucap taeyeon tersenyum sinis

“yah, kau tak pantas berkata seperti itu padanya, kau tak tahu jika dia adalah pewaris perusahaan tuan choi huh?” ucap gongchan

sementara sunny hanya menatapnya sinis merasa tersinggung dengan ucapan taeyeon

“suka atau tidaknya bukankah ini sama sekali bukanlah urusanmu?” ucap sunny membuat taeyeon terdiam

“kau benar, itu memang bukan urusanku, aku hanya tak ingin kau mengambil langkah yang salah, karena jika kau sudah tersesat maka kau akan sulit untuk kembali” ucap taeyeon segera berdiri dan meninggalkan mereka, namun sunny masih terus menatap punggung taeyeon yang berjalan semakin menjauh

“sunny-shi?” panggil minwoo

“n..nne?” ucap sunny mengalihkan pandangannya pada minwo, namun saat kembali menoleh sayangnya sosok taeyeon sudah tak terlihat lagi

“sunny-shi bagaimana kalau kita..”

“mianhae aku harus menemui adikku, senang bisa mengenal kalian” ucap sunny segera berdiri dan meninggalkan ketiga namja itu

Sunny berjalan kearah dimana taeyeon pergi, entah kenapa tubuhnya merasa tertarik untuk kembali menemui namja bernama taehyuk pergi padahal ia sendiri merasa kesal pada namja itu. namun sayangnya sosok taehyuk tak ditemukannya karena banyaknya tamu undangan yang sedang melakukan dansa bersama para pasangannya. namun saat akan kembali tiba tiba seseorang menarik tangannya dan memeluk pinggang sunny membuat sunny terkejut segera melepaskan diri namun tangan orang itu cukup kuat hingga ia berhenti memberontak saat wajahnya terangkat melihat sosok yang berani memeluknya itu, kim taehyuk a.ka taeyeon

“kau mencariku?” ucap taeyeon tersenyum

“anniya, lepaskan aku” ucap sunny kembali berontak

“anniyo sampai musik berhenti, nikmati saja.. musik klasik akan membuat pikiranmu tenang jika diresapi” ucap taeyeon membuat sunny terdiam dengan ucapannya, perlahan tubuhnya pun ikut bergerak mengikuti gerakan taeyeon, tangannya mulai terangkat melingkari leher taeyeon dan keduanya menikmati dansa bersama para pasangan lainnya

“pundak ini….” ucap sunny dalam hati, sosok kim taehyuk entah kenapa mengingatkannya pada taeyeon

“apa kau baik baik saja?” ucap taeyeon

“maksudmu?”

“apa kau baik baik saja?” ucap taeyeon kembali

“anniyo” jawab sunny pelan namun masih dapat didengar taeyeon

….

“anyeong tuan choi” ucap yuri menyapa tuan choi yang sedang berkumpul dengan para ceo perusahaan besar

“hey yul, aigoo… kau semakin cantik saja” ucap tuan choi menyambut yuri dan mengajaknya bergabung

“ah ya aku dengar belum lama ini kau membuka perusahaan aplikasi games yang cukup terkenal” ucap tuan choi kembali membuat para ceo lain saling menatap kagum

“ahahaha anniyo, masih belum sesukses itu..” ucap yuri tertawa malu

“aigoo.. jangan merendah seperti itu, lihatlah dia masih sangat muda tapi jiwa pekerja kerasnya begitu membara, aku harap anakku sepertimu” puji tuan choi pada rekan rekannya

“hahaha tuan bisa saja, ah ya aku akan berdansa bersama kekasihku”

“nne.. nne.. nikmati pestanya yul” ucap tuan choi tersenyum memandang yuri yang sudah berjalan menuju tempat dansa, perlahan senyuman tuan choi pun berubah menjadi tersenyum smirk menatap yuri

“mengapa sedari tadi kau diam saja? apa kau tak nyaman?”

“hemm… sedikit, kenapa kau tak memberi tahuku jika ini ulang tahun sunny?” ucap tiffany tersenyum malu

“minhae… apa sebaiknya kita pulang sekarang?”

“an.. anniyo.. andwae, aku sudah tak apa apa sekarang, aku hanya merasa sedikit tak nyaman saat kau bersama mereka” ucap tiffany menoleh kembali menatap tuan choi dengan rekan rekannya

“ah.. akupun begitu hahaha, kajja kita berdansa”

“nne..? t..ttapi aku belum pernah berdansa, aku masih belum bisa”

“tenang saja, hanya ikuti gerakanku, lambat laun kau akan menikmati dan menyukainya” ucap yuri menghadap tiffany, menggenggam kedua tangannya hingga melingkarkan pada lehernya, kedua tangan yuri pun melingkar pada pinggang tiffany

“otthokhae?” tanya yuri setelah mulai berdansa

“aku menyukainya” ucap tiffany tersenyum mengangkat wajahnya memandang yuri, yuripun menurunkan wajahnya dan mencium bibir tiffany

………………..

pesta telah usai, yuri dan tiffany pun pamit untuk pulang

“mobil yang membawa mereka sudah bergerak, segera ikuti” ucap jinyoung yang sudah sigap didalam van bersama rekan rekannya, mereka pun mengikuti mobil yuri

“tidurlah, kau terlihat mengantuk fany-ah, mianhae membuatmu lelah karena belum beristirahat sepulang bekerja”

“gwaenchanna… aku senang bisa seperti ini denganmu yul, sangat jarang sekali” ucap tiffany

“hehehe aku juga senang, akan aku usahakan agar kita bisa selalu seperti ini” ucap yuri mengusap usap kepala tiffany

“Suasana tampak sepi, segera lakukan!” ucap jinyoung pada walkie talkie

“nne” ucap seseorang dibalik walkie talkie itu yang sudah mengendarai sebuah truk besar yang berada di belakang van yang dikendarai jinyoung dan rekan rekannya, namja itu pun menginjakkan gas mendahului van hingga kecepatan truk itu semakin bertambah dan…

*brakkk!!!!!* dengan kencang truk itu menabrak sebuah mobil yang berada didepannya hingga berhasil terguling beberapa kali

…………..

*prank!!!!*

“yah! apa yang kau lakukan” ucap jessica setelah mendengar sebuah benda jatuh di dapur

“manhae, piringnya licin saat akuncuci hingga jatuh hehehe” ucap yoona tersenyum innocent

“yaish… selalu saja ceroboh, chankkaman jangan disentuh nanti pecahannyabakan melukai tanganmu, aku akan membawakan sapu” ucap jessica meninggalkan yoona

perlahan senyuman yoona menghilang, tangannya meraba dadanya

“perasaan apa ini?” ucapnya dalam hati saat merasakan detak jantungnya tiba tiba berdetak begitu cepat

TBC

We Are Different part 10

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl


Diacara upacara kematian taeyeon

Yuri berjalan keluar begitu merasa tak nyaman dengan kehadiran Tuan Choi dan para anak buahnya.

Ia pun menghampiri amber yang sedang berdiri menghadap sebuah danau sambil menikmati rokok yang dihisapnya di luar gedung

“Yah, bisa bisanya kau melakukan hal ini di acara seperti ini” ucap yuri langsung merebut puntung rokok itu dan membuangnya ketempat sampah setelah bara pada rokok itu ia celupkan ke air danau

“Yaish… Kau menggangguku saja, aku merasa stress di dalam melihat orang2 menangis” ucap amber

“Hmmm… Mereka merasa kehilangan, babo!” 

“Aku tahu…” ucap amber, namun kini pandangannya teralihkan pada sebuah mobil berwarna hitam yang melintas dengan kecepatan yang sedikit kencang tak jauh di belakang yuri

Yuri pun ikut memutar badannya dan melihat mobil yang dipandangi amber sudah melaju jauh

“Ada apa?” tanya yuri merasa heran

“mobil itu terlihat aneh, apa keadaan di dalam baik baik saja?”

“Hmmm… Tuan choi dan anak buahnya baru saja tiba, aku malas melihatnya”

“Ah… Jadi karena itu ke keluar?”

“Anni, aku akan pergi ke suatu tempat sebentar, aku akan kembali lagi nanti”

“Oddiga? Apa aku perlu mengantarmu?”

“Menjenguk teman lamaku, andwae kau jaga adikku saja, dia sedang ikut membantu hyoyeon di dalam”

“Baiklah, hati hati bos” ucap amber melambaikan tangannya, ia pun berjalan memasuki gedung itu begitu melihat yuri sudah pergi dengan mobilnya

Setelah menempuh 30 menit perjalanan dengan kecepatan penuh akhirnya yuri tiba di klinik di sebuah desa yang berjarak sedikit jauh dari seoul

Ia memasuki klinik itu dan langsung tersenyum pada seorang yeoja berusia 2 tahun lebih muda darinya

“Saat mendengar suara mobil aku tahu itu pasti kau unnie” ucap yeoja itu

“Jinja? Wah instingmu tajam juga seolhyun-ah” ucap yuri pada yeoja yang memiliki nama kim seol-hyun itu

Seolhyun adalah seorang hoobae yuri di sekolah kursus bela diri dulu, keduanya tampak akrab seperti bersaudara karena yuri selalu memperlakukannya sebagai seorang adik layaknya yoona

Walaupun keduanya sudah berpisah setelah yuri lulus namun hubungan mereka masih dekat

Kini setelah lulus kuliahnya, seolhyun bekerja sebagai seorang dokter di sebuah desa di daerah ilsan. Yuri lah yang membantu membangun rumah untuk tempat tinggal seolhyun dan bahkan sebuah klinik cukup besar untuk kebutuhan dan rawat inap para penduduk desa yang membutuhkan perawatan

Kini klinik itu memiliki 10 karyawan yang dibagi sebagai perawat dan apoteker dan seolhyun yang menjadi kepala klinik

“Tentu saja.. Aku selalu mengikutimu saat masih berlatih bela diri dulu” ucap seolhyun bangga
“Hahaha baguslah, ah aku jadi rindu songsaengnim”

“Aku juga, unnie apa kau sudah makan?”

“Sudah seolhyun-ah, aku kemari untuk bertemu dengannya”

“Ah.. Aku mengerti, kajja” ucap seolhyun mengantar yuri ke klinik yang tak jauh dari rumahnya itu

Tak berapa lama keduanya pun tiba di sebuah ruang rawat, disana terbaring seorang yeoja yang masih terlelap dengan beberapa peralatan medis yang masih terpasang pada tubuhnya. Yuri pun langsung menghampiri dan berdiri disamping yeoja itu

“bagaimana keadaannya?” tanya yuri

“sudah mulai membaik unnie, beruntung dia memiliki tubuh yang kuat” ucap seolhyun

Yuri mengangguk paham dan kembali menatap yeoja itu

“lekaslah bangun dan bantu aku” ucap yuri dalam hati sambil tangannya mengusap usap kepala yeoja yang tengah terbaring lemah itu

………………………………

Yoona terbangun saat sebuah suara mengusik telinganya, perlahan kedua matanya terbuka dan melihat seorang yeoja yang sangat ia kenal sedang duduk menatapnya, yeoja itupun tersenyum padanya

“Bahkan dalam mimpipun kau terlihat sangat cantik” ucap yoona dalam hati, iapun kembali memejamkan matanya sambil menyunggingkan senyumnya karena merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan yeoja yang sangat ia rindukan, jessica jung yang kini hadir kembali dalam mimpinya

“Yah! Mau sampai kapan kau tidur huh?” ucap seorang yeoja membuat yoona kembali membuka matanya dan kembali melihat jessica dihadapannya, kini kesadaran yoona sudah pulih dan ia benar benar melihat jessica yang nyata adanya

“Omo!! Mengapa kau ada disini?” ucap yoona dengan keterkejutannya hingga ia melompat dan duduk diatas tempat tidur

*plakk!!!*

“Dasar bodoh! tentu saja, ini apartemenku!” ucap jessica setelah memukul kepala yoona

“aw.. Yah! Appo…” ucap yoona mengusap usap kepalanya “tapi.. Apa aku masih bermimpi ya?” ucapnya kembali sambil mengangkat wajahnya menerawang menatap langit langit kamar

Jessica pun dengan cepat langsung menarik telinga yoona membuat yoona meringis

“Bagaimana? Apa sekarang kau masih berpikir kalau ini mimpi?”

“Aw aw aw…! Yah, ampun… arra arra.. ini bukan mimpi” ucap yoona mencoba melepaskan tangan jessica

Jessica pun melepaskan tarikannya pada telinga yoona

“Tapi.. Mengapa aku ada disini?” tanya yoona sambil mengusap udap telinganya yang sudah seperti kepiting rebus itu

“I don’t know, seseorang menekan bel pintu apartemenku dan saat ku buka ternyata kau sudah berbaring di depan pintu, apa yang terjadi?” ucap jessica mulai terlihat khawatir, kini ia duduk dijadapan yoona yang jaraknya cukup dekat

“M..mmolla, aku tak ingat” ucap yoona gugup karena wajah jessica cukup dekat dengannya

“Kau yakin? Kau sudah pingsan selama 12 jam”

“Jinja?” ucap yoona terkejut dan melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam “tapi.. Aku tak bisa mengingat apapun yang terjadi tadi pagi” lanjutnya

“Kau memakai pekaian serba hitam, apa kau sudah mengunjungi makam ibumu?”

“Eomma?” ucap yoona menundukkan wajahnya dan melihat tubuhnya memakai kemeja dan celana berwarna hitam

“Omo!! Aku baru ingat! Tadi pagi aku berada di dalam gedung saat upacara pemakaman!” ucap yoona kembali merasa terkejut setelah ingatannya kembali

“Huh? Upacara pemakaman? Siapa yang meninggal?” tanya jessica

“T.. Ttaeyeon unnie”

“Taeyeon? Mantan kekasih tiffany? Apa yang terjadi?” tanya jessica merasa terkejut tak menyangka

“Rumahnya terjadi pengeboman hingga semuanya hancur, dan dari bukti bukti yang didapat taeyeon unnie berada didalam rumahnya dan menjadi korban” ucap yoona dengan tatapan sedihnya, bagaimana pun juga ia tahu jika taeyeon adalah kakak tirinya

“Hmm.. Pantas aku tekan bel apartemennya sama sekali tak ada jawaban, dan dia telah mengganti passwordnya”

“Anniyo, fany unnie tak menghadiri acara itu, aku datang sendiri” ucap yoona

“Jinja? Mungkin dia sedang butuh waktu untuk menyendiri”

“Hmmm…” Gumam yoona memikirkan tiffany yang sudah ia anggap sebagai unne nya itu

Keduanya terdiam cukup lama hingga yoona kembali mengangkat wajahnya

“Ahjumma” panggil yoona membuat jessica menatapnya

“Mwo?” ucap jessica mulai kesal saat yoona kembali memanggilnya dengan panggilan itu

Namun rasa kesalnya perlahan menghilang saat yoona tiba tiba memeluknya

*degdegdegdeg* detak jantung jessica mulai berdetak cepat dalam pelukan yoona

“Mianhae… Jeongmal mianhae dengan apa yang sudah aku lakukan padamu” ucap yoona semakin mengeratkan pelukannya “Aku senang akhirnya kau kembali, aku mohon jangan pergi lagi, dan jangan pernah pergi lagi” lanjutnya

Jessicapun perlahan melepaskan pelukannya, ia melihat yoona masih menundukkan kepalanya karena merasa bersalah

“Tak apa jika kau membenciku, setidaknya jangan menghilang dari pandanganku, aku benar benar……”

*cuppp*

Belum sempat yoona melanjutkan bicaranya, jessica telah mengunci mulutnya dengan mulut jessica membuat yoona membelalakkan kedua matanya karena terkejut

*degdegdegdeg* detak jantung keduanya kembali berdetak cepat dengan kedua bibir yangasih menempel itu

Perlahan yoona memejamkan matanya, tangannya terangkat membingkai wajah jessica dan mulai membalas ciuman jessica

“Mmmh….” erang jessica ikut memejamkan matanya menikmati lumatan bibir yoona yang terasa lebih lembut dibandingkan dengan yang pernah yoona lakukan terhadapnya saat di tempat gym dulu

Tubuh jessica sedikit terdorong hingga perlahan ia berbaring diatas tempat tidur dengan posisinya yang berada dibawah tubuh yoona, meskipun posisinya berubah keduanya tak berniat untuk melepaskan pagutan bibirnya satu sama lain

Tangan jessica mulai mengusap dan menekan kepala yoona agar memperdalam ciumannya begitupun tangan yoona mulai turun melesap memasuki kaos tidur yang jessica kenakan

Jessica sedikit mengangkat tubuhnya membantu yoona melepaskan pengikat bra yang ia kenakan hingga berhasil terlepas, tangan yoona pun mengusap lembut punggung halus jessica, ia mulai melepaskan kaos jessica hingga semuanya terlepas dan menampilkan tubuh halus jessica yang membuatnya semakin mabuk kepayang

*ahayy… Deuh!!*

Lanjutin dan bayangin sendiri!! ūüė§ dasar keenakan ūüėí

……………………………………….

“fany-ah” panggil yuri ketika baru saja sampai dan melihat tiffany sedang berdiri sendirian didepan sebuah foto taeyeon yang sudah terpasang di rumah duka, yuri segera berlari menghampiri tiffany

“yul” panggil setelah membalikkan badannya dan menerima pelukan yuri

“gwaenchanna?” tanya yuri khawatir mengeratkan pelukannya dan mengusap kepala tiffany

“nne… gwaenchanna yul, tadi pagi aku hanya terlalu terkejut”

“uljimma… jangan menangis lagi” ucap yuri melepaskan pelukannya, kini kedua tangannya membingkai wajah tiffany

“nne..” ucap tiffany tersenyum menatap yuri, kini senyumannya tak dipaksakan lagi

Tiffany sudah merasa tenang setelah melihat yuri

“kajja, sudah mulai larut” ucap yuri menggenggam erat tangan tiffany dan membawanya keluar dari rumah duka

“yul” panggil tiffany menahan tangan yuri dan menghentikan langkahnya

“nne? ada apa?”

“apa kau sudah makan? aku lapar” ucap tiffany dengan senyum innocent nya

“huh?” gumam yuri heran dan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam itu, tak biasanya tiffany merasa lapar pada jam segitu, namun ia mengerti pasti tiffany seharian hanya mengurung diri memikirkan taeyeon “baiklah kajja kita mencari makanan, aku juga lapar” ucap yuri kembali menggenggam tangan tiffany dan menuntunnya, tiffany pun kembali tersenyum

tak berapa lama keduanya tiba di sebuah kawasan tempat makan yang buka tengah malam, suasana disana masih cukup ramai karena terletak di pusat kota

“kau ingin makan apa?” tanya yuri sambil melihat lihat kedai makan yang berjejer rapi dengan beragam warna lampu lampu yang menghiasi setiap toko agar bisa menarik perhatian para pejalan kaki

“em… aku ingin ramyeon pedas dan tteokbokki” ucap tiffany membuat langkah yuri terhenti dan kini menatapnya datar pertanda ia tak mengizinkan keinginan tiffany, bagaimanapun juga perut tiffany pasti masih belum terisi makanan dan itu akan membuatnya sakit jika memakan pedas

“baiklah… ramyeon tak pedas dan kue beras manis saja” ucap tiffany pasrah, yuri pun berubah ekspresi menjadi tersenyum senang, ia kembali menarik tangan tiffany dan dengan semangat menuju kedai ramyeon idolanya yang selalu ia kunjungi bersama adiknya yoona

“aiigoo… lihatlah siapa yang datang, akhirnya aku bisa melihatmu kembali tampan” ucap ahjumma sang pemilik kedai ramyeon itu pada yuri yang baru saja masuk

“hahaha… ahjumma, apa aku semakin tampan?” canda yuri dengan menaruh jari jempol dan telunjuk dibawah dagunya membentuk huruf V itu sambil tersenyum smirk

“tentu saja kau semakin tampan anakku hahah, omo kau juga semakin cantik miyoung-ah, ah… kalian semakin terlihat cocok saja hahaha carilah tempat duduk, aku akan menyiapkan makanan kalian” ucap ahjumma itu masih tertawa senang berjalan menuju dapur

“ahjumma masih saja tak berubah” ucap tiffany tertawa kecil menatap punggung ahjumma itu

“kau benar, ah aku merindukkannya” ucap yuri ikut menatap ahjumma itu “kajja kita duduk” lanjutnya

keduanya pun duduk dan tak butuh waktu lama ahjumma sudah kembali membawakan 2 mangkuk ramyeon dan kue beras manis lalu dihidangkannya di meja YulTi

“tumben adikmu tak ikut” ucap ahjumma

“anni, ini kencan kita berdua hehehe” ucap yuri membuat tiffany mencubit lengannya merasa malu

“aigoo… dasar anak muda jaman sekarang, bahkan beberapa minggu yang lalu adikmu pun kemari membawa kekasihnya”

“jinjja?”

“nne… mereka sangat cocok, aigoo… tangkapan kalian memang sangat lah bagus hahaha” ucap ahjumma itu kembali tertawa diikuti yuri

“what? tangkapan?” ucap tiffany terkejut dengan suara pelannya, sementara yuri hanya mengedipkan sebelah matanya begitu mendengar ucapan tiffany

“makanlah, aku tinggal dulu ya, pelanggan malam ini lumayan banyak, nikmati kencan kalian”

“nne ahjumma, kamsahamnida..” ucap yuri dan tiffany

“yul, kenapa aku tak melihat yoong?”

“aku juga sempat kehilangannya setelah meninggalkannya di acara tadi siang, setelah aku kembali yoona sudah tak ada, aku sempat khawatir tapi tadi saat menjemputmu aku kembali menghubunginya dan yoona akhirnya menjawab teleponku, dia sedang bersama jessica”

“jessica?”

“nne, sahabatmu sudah kembali ke seoul”

“jinja?” ucap tiffany tersenyum senang karena sahabatnya sudah kembali “berarti malam ini yoong menginap di apartemen jessica?”

“nne… “ ucap yuri

setelah makan malam selesai, yuri mengantar tiffany ke apartemennya

“apa kau akan menemui yoong?”

“anniyo aku langsung pulang, kau lekaslah istirahat besok aku akan kembali kesini”

“apa kau tak ke kantor?”

“anni, sudah satu minggu ini mr lee jarang memanggil, mungkin karena ada kasus ini mr lee jadi membebaskanku, jadi aku tak terlalu sibuk” ucap yuri “lagipula aku pikir kau sedang membutuhkan seseorang untuk menghiburmu” lanjutnya

“nne… aku sangat membutuhkan itu” ucap tiffany tersenyum menatap yuri

“baiklah, besok aku akan kemari, sekarang lekaslah tidur” ucap yuri mendorong masuk tiffany kedalam apartemennya

“nne, kau hati hati dijalan yul” ucap tiffany

Yuri pun tersenyum melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan apartemen

………………………………………..

Keesokan harinya, tiffany sedang membereskan barang barang kenangannya ketika masih bersama taeyeon, ia masukkan barang barang itu kedalam kardus yang akan ia simpan, menurutnya kini barang barang itu tak lagi harus ia pandangi karena akan melukai hatinya meskipun kini ia sudah merelakan taeyeon pergi. Saat memasukkan barang terakhir, tiffany terdiam melihat barang itu sebelum memasukkannya kedalam kardus, ia membalikkan barang itu yang berupa sebuah bingkai berisi foto dirinya bersama taeyeon yang terlihat bahagia

“secepat itukah kau pergi? bahkan aku masih belum memaafkanmu” ucap tiffany memandang foto bergambar dirinya bersama dengan yeoja yang pernah dicintainya itu

*tingtong* tiba tiba bel pintu berbunyi, dan tepat saat itu sebuah sms masuk pada ponselnya

“aku sudah di depan pintu ^_^”

Tiffany pun tersenyum segera memasukkan foto itu kedalam kardus dan langsung berlari membukakan pintu, namun ia terkejut saat melihat orang yang sedang berdiri berhadapan dengannya itu, orang itu mengeluarkan senyum smirknya dan….

*slebb!!*

sebuah pisau tajam pun menembus perutnya tanpa sempat menghindar hingga tetes demi tetes darah keluar dan mengalir dari dalam perut yeoja itu, perlahan senyuman manis itupun menghilang

*brukkkk!!!*

“Kyaaaa….!!” teriak tiffany langsung terbangun, ternyata itu hanyalah mimpi buruk yang ia alami

Tiffany masih terdiam mengatur nafasnya yang masih terengah engah karena terkejut dan ketakutan, perlahan ia mengusap wajahnya mencoba menenangkan diri

*tingtong….*

Tiffany kembali terkejut mendengarkan bel pintu apartemennya berbunyi, kini suara itu terdengarnya

“Apa itu benar benar yuri?” ucapnya dalam hati, ia pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi yuri

“Yoboseyo, ada apa fany-ah?”

“Yul, apa kau sudah kesini?”

“Anni, aku baru selesai mandi dan bersiap siap, wae?”

“An..anniyo, lekaslah kem.. Kemari” ucap tiffany dengan suara terbata

“Apa yang terjadi fany-ah?” 

“Anni.. Aku hanya mengalami mimpi buruk”

“Baiklah aku akan segera kesana, kau tenangkan pikiranmu”

Tiffany mematikan teleponnya dan kini bel pintu kembali berbunyi, ia mulai bangun dan berjalan menuju pintu. Tiffany pun mengintip melalui lubang kecil pintu itu namun ia tak melihat siapapun disana dan kini ia kembali ketakutan

*tingtong*

“Kyaaa..” teriak tiffany karena terkejut belnya kembali berbunyi

“Pwffft… Hahaha ssst….” 

“Huh?” gumam tiffany merasa heran setelah mendengar sebuah suara tawa dibalik pintu, iapun mencoba memberanikan diri membukakan pintu itu

“Tada……!!!!” teriak yoona dan jessica yang sudah membawakan cake ulang tahun dan lilin yang sudah menyala itu

“Happy birthday too you… Happy birthday to you… Happy birhtday my tiffy… (Fanny unnie) happy birthday to you….” ucap jessica dan yoona menyanyikan lagu untuk tiffany sambil berjalan memasuki apartemen tiffany pun ikut berjalan mundur dan menerima cake itu

“happy birthday baby!! i miss yo so much” ucap jessica segera memeluk tiffany

“Yah, aku pikir ada apa” ucap tiffany dengan kedua mata yang berkaca kaca “gomawo…” lanjutnya

“Memangnga ada apa? Kami mendengar kau berteriak didalam, apa kau seterkejut itu tiff?” ucap jessica kembali tertawa

“Anniyo, ah lupakan saja” ucap tiffany kembali tersenyum menatap cake itu

“Let’s make a wish, maaf sedikit terlambat merayakannya” ucap jessica

“Gwaenchanna…” ucap tiffany memejamkan kedua matanya kemudian ia mulai meniup lilin itu

110801tiffany-jpg.jpeg

“Yeeaaay…..!!!” teriak jessica dan yoona senang

Saat itu pun yuri tiba di apartemen tiffany

“Uh? Ternyata ada kalian disini, apa ini sedang diadakan pesta?” ucap yuri melihat ketiga yeoja itu

“Hey yul, senang melihatmu kembali” ucap jessica merentangkan kedua tangannya

“Baboya… Harusnya aku yang bilang seperti itu” ucap yuri memeluk jessica

Namun ia segera melepaskannya saat melihat mata tajam predator yoona mulai membara

“Hey… Yoong, kemarin kau menghilang ternyata sedang bersama jessica, apa tidurmu pulas?” ucap yuri sementara yoona kembali menatapnya kesal

large

“Cih, apanya yg pulas dasar pengganggu, gara gara kau kebahagiaanku jadi terganggu” ucap yoona dalam hati, ia benar benar merasa kesal pada unnie nya itu

Flashback

Malam tadi

yoona baru saja melepaskan pakaian jessica hingga tubuh halus yeoja itu terlihat naked, jessica pun membuka pakaian yoona dan kini tubuh naked mereka telah berpadu dengan ditutupi selimut, posisi yoona masih berada diatas tubuh jessica dengan kedua tangan sebagai tumpuannya

Jessica tersenyum mengalungkan kedua lengannya pada leher yoona

“Take me” ucap jessica pelan namun masih dapat terdengar oleh yoona

Yoona pun ikut tersenyum dan kembali menenggelamkan bibirnya pada bibir jessica, perlahan ciumannya mulai turun ke leher membuat jessica mengerang

Saat ciuman yoona mulai bergerak turun tiba tiba ponsel yoona berbunyi menerima panggilan, awalnya yoona mengabaikan panggilan itu namun ponselnya terus terusan berbunyi membuatnya merasa terganggu

“Angkat dulu yoong, mungkin itu penting” ucap jessica mengangkat kepala yoona dan membingkai wajahnya sambil tersenyum

“Hmm… Baiklah” ucap yoona dengan malas

Iapun terbangun dan mengambil ponsel itu

Yoona terkejut saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari nomor yuri serta beberapa pesan masuk diterima dari unnienya itu. Ponselnya kembali berbunyi dengan nomor panggilan yang sama ,yoona pun segera mengangkatnya

“Yoboseyo unnie” ucap yoona

“Yoong? Yah, kau kemana saja? Aku sangat khawatir, amber kehilanganmu saat di tempat duka tadi ,kau sangat sulit dihubungi apa kau baik baik saja?” ucap yuri dengan nada khawatirnya

“Nne aku baik baik saja unnie, mianhae aku ketiduran dan baru saja bangun tadi” 

“Oddiga? Mengapa kau pergi tanpa meninggalkan jejak?”

“Aku.. Sedang berada di apartemen jessica” ucap yoona membalikkan badannya menatap kearah jessica yang sedang berbaring memunggunginya

“Huh? Jessica?”

“N..nne, tadi siang jessica baru saja tiba dan aku buru buru menjemputnya jadi aku tak sempat memberi tahu, mianhae” ucap yoona sedikit berbohong pada yuri karena tak ingin membuat unnie nya kembali khawatir

“Ah syukurlah, aku pikir ada apa apa denganmu, ah ya apa jessica tak ingin berbicara denganku?”

“An..andwae! D..ddia sudah tidur” ucap yoona gelagapan, ia takut yuri akan tahu apa yang sedang mereka lakukan tadi

“Oh iya pasti dia kelelahan, kau juga lekas istirahat yoong dan jangan tidur satu kasur bersama nya arra?!”

“N..nne.. Unnie, aku tidur di soffa” ucap yoona memelankan suaranya takut terdengar oleh jessica

Ia pun mengakhiri panggilannya, dan tersenyum senang. Dengan semangat ia menaruh ponsel itu dan kembali menghampiri jessica

“Manhae… Unnie ku yang menelepon” ucap yoona namun tak ada jawaban dari jessica yang masih terbaring membelakanginya, tubuhnya sudah tertutupi selimut kecuali bagian kepala dan lengannya yang mengapit selimut itu

Yoona pun merasa heran dan mendekati tubuh jessica, yoona membalikkan tubuh jessica hingga menghadapnya

“Huh?” gumam yoona sedikit terkejut dan tak percaya jika jessica sudah tertidur lelap

“Yah!” panggil yoona menempel tempelkan telunjuknya pada wajah jessica namun jessica tetap terlelap tak terusik sedikitpun

Sebuah fakta jika Jessica memang tak bisa diganggu gugat jika sudah terlelap seberisik apapun suasananya.

“Yaish!! Unnie!!!! Kau sudah mengusik rasa bahagiaku!!! Arrrghhh!” teriak yoona dalam hati sambil mengacak acak rambutnya merasa frustasi

tumblr_m31wh5k3hb1r45688

Flashback end

“Nne aku tidur sangat sangat sangat pulas” ucap yoona sambil melirik malas pada jessica yang sudah tersenyum innocent padanya

“Sekarang kita sudah kembali kumpul, sebaiknya apa yang akan kita lakukan untuk merayakan pesta ulang tahun tiffany?” ucap jessica

“Barbecue?” ucap tiffany

“Ah aku bosan, bagaimana kalau kita camping di hutan?” usul jessica

“Camping?” gumam yuri heran

“Aku setuju dengannya, kalau hanya pesta barbecue atau makan makan di restoran itu sudah biasa lagipula fany unnie pasti sangat butuh tempat untuk menyegarkan pikiran, bagaimana?” ucap yoona menyetujui pendapat jessica

Semuanya terdiam menunggu jawaban dari tiffany

“Baiklah, tapi bagaimana denganmu yul? Apa kau di izinkan appamu?” ucap tiffany

Kini semuanya beralih memandang yuri

“Tenang saja aku bisa pergi bersama kalian hari ini, kajja kita bersiap siap” ucap yuri, semuanya pun bersemangat  menyiapkan apapun untuk keperluan camp mereka hingga tak butuh 2 jam semuanya sudah siap dan dimasukkan ke bagasi mobil

“Apa sudah tak ada yg tertinggal?” ucap yuri ketika semuanya memasuki mobil, ialah yang mengemudi mobil

“Sepertinya ada, let’s go…!” teriak yoona dengan semangat yang sudah duduk disamping yuri, sementa jessica dan tiffany duduk di belakang kedua bersaudara itu

Yuri mulai menyalakan mesin dan menginjakkan gas meninggalkan apartemen. perjalanan pun dimulai

“Tapi, kemana tujuan kita?” tanya yuri membuat ketiga yeoja itu terdiam membeku

Ya, selama tadi mereka hanya memutuskan tanpa memikirkan kemana mereka akan tuju

Hingga semuanya tertawa merasa bodoh

“Aigoo… Bisa bisanya kita seperti ini” ucap yuri yang sudah berhenti tertawa

“Ah ya aku ingat, soo dulu seorang mahasiswa pecinta alam di kampusnya, aku akan menanyakan tempat yang bagus padanya” ucap yoona mulai membuka ponselnya mencari kontak sooyoung untuk dihubungi

Yuri pun langsung menoleh mendengar ucapan yoona, namun ia tak berniat untuk berbicara

“Yoboseyo” ucap sooyoung dibalik telepon

“Hey soo, akhirnya nomormu aktif, kemana saja eoh? Aku merindukanmu”

“Hahaha mianhae aku sibuk, bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik baik saja, apa kau berada di restoran sekarang?” 

“Anniyo, aku sedang dalam perjalanan sepertinya aku tidak kesana, wae?”

“Sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu. Kalau begitu bisakah kau memberitahuku tempat yang sangat bagus untuk melakukan camping?”

“Camping?” ucap sooyoung

“Nne, dulu kan kau seorang mahasiswa pecinta alam, kau pasti banyak tahu tempat yang bagus”

“Yah! Dasar bodoh, aku kuliah di paris, aku hanya tahu tempat tempat yang bagus di daerah sana dan bagian eropa, kalau mau pergilah ke new caledonia hahaha”

“Yah! Menyebalkan, kalau begitu aku sudah salah meneleponmu” ucap yoona kesal mempoutkan bibirnya

“Hahahaha arra arra, aku tahu beberapa tempat yang bagus di seoul, pergilah ke songnisam park, disana pemandangannya sangat bagus dan spot camp yang sangat tepat”

“Songnisam? Baiklah, apa kau akan menyusul?”

“Anniyo, aku masih sibuk”

“Jangan bilang kau sebenarnya akan menjadi ceo perusahaan ayahmu”

“Hahaha yah sepertinya ucapanmu benar”

“Baiklah baiklah sekarang kau akan menjadi anak kantoran, chukkae…” ucap yoona malas

“Hahahaha sudahlah kkah pergilah nikmati masa kencanmu dengan jessica, aku akan memberikan kalian berdua hari libur”

“Huh? Bagaimana kau tahu jika jessica sudah berada di seoul?”

“Hanya menebak, memangnya dengan siapa lagi kau mau berlibur? Dengan yeoja aja kau kaku kecuali pada yeoja blonde itu hahaha”

“Yaish! Dasar, bye!!” ucap yoona kembali kesal dan mematikan panggilannya

“Songnisam?” ucap yuri ketika mendengar tadi yoona menyebutkan tempat itu

“Nne soo bilang disana pegunungan yang sangat bagus untuk camping, ottokhae?” ucap yoona membalikkan badannya menghadap kedua yeoja yang duduk di belakang “aih??” gumamnya saat melihat kedua yeoja itu sudah terlelap

“Apa boleh buat, diam berarti tanda setuju, kajja…!!” ucap yuri meninggikan kecepatan mobilnya setelah mengatur map menuju lokasi yang akan mereka kunjungi

………………………………………….

Di Perusahan Choi Group

“Tuan, target tidak ditemukan di rumah maupun kantornya sejak tadi pagi, apartemen yang ditinggali kekasihnya pun kosong” ucap mark salah satu anak buah tuan choi yang ditugaskan mengikuti kemanapun yuri pergi

“Sial, lagi lagi kita kehilangan jejak” ucap tuan choi

Tiba tiba telepon di ruangannya berdering

“Tuan apa anda sedang sibuk? Ada yang ingin bertemu”

“Nugu?”

“Yesung-shi”

“Biarkan dia masuk” ucap tuan choi kemudian mematikan teleponnya

Tak berapa lama yesung pun masuk

“Ada apa?”

“Tuan aku telah melacak keberadaan mereka”

“Oddiga?”

“Yuri hari ini meninggalkan seoul dan dipastikan mereka ikut dengannya, tim kami berhasil menemukan ini” ucap yesung memberikan kertas cetakan bukti pemesanan tiket pesawat, disitu nama yuri memang tertera telah memesan 4 tiket pesawat yang take off pada hari ini menuju paris

“Mungkin mereka sedang berlibur tuan, mr lee sudah tidak menggunakan yuri di perusahaannya” ucap yesung menjelaskan secar detail

“Hmm… Baiklah, pastikan kalian segera bergerak jika mereka kembali, dan kau…” ucap tuan choi menunjuk mark “kali ini aku memaafkanmu” lanjutnya ,mark pun menunduk meminta maaf, kedua anak buahnya pun segera meninggalkan ruangan tuan choi

Yesung berjalan memasuki lift dan meninggalkan gedung choi group, begitu sampai diluar ia menerima panggilan dan segera mengangkatnya

“Apa kau sudah menemui ayahku?”

“Nne noona, aku baru saja memberitahukan semuanya sesuai permintaanmu, kamsahamnida telah mempercayaiku tapi sepertinya mark marah terhadapku”

“Hahaha begitulah siasat dalam bekerja, meskipun kalian sama setidaknya ayahku bisa tau siapa saja yang bekerja keras untuknya ,kau harus bisa lebih cepat meskipun belum lama bekerja disini”

“Nne noona, sekali lagi terima kasih banyak” ucap yesung tersenyum senang mematikan teleponnya, iapun pergi untuk sedikit bersantai karena target untuk saat ini sedang tidak ada di seoul

…………………………………………

Setelah menempuh 4 jam perjalanan, keempat yeoja itupun sampai di parkiran mobil daerah songnisam park

“Yoong ireonna…” panggil yuri sedikit menggoyangkan tubuh yoona, yoona pun terbangun diikuti tiffany dan jessica

“Apa kita sudah sampai?”

“Nne… Aku sudah membiarkan kalian tertidur agar siap mendaki sekarang, kajja” ucap yuri mulai mengeluarkan barang barang dan mengenakan tas

Tas milik yuri dan yoona memang sedikit padat dan besar karena berisi barang barang dan alat alat camp dibanding milik jessica dan tiffany

Setelah semuanya siap merekapun melakukan pemanasan dan mulai mendaki, hari ini tak banyak para pengunjung yang akan melakukan camp karena memang bukan musimnya tapi untungnya cuaca sangat bagus

“Woah… Indah sekali” teriak jessica takjub melihat pemandangan setiap yang mereka pijak, itu membuatnya tak berhenti melakukan selca untuk mengabadikan moment itu dan segera mengunggahnya di media sosial sebelum sinyal ponselnya menghilang. Jessica berada lebih jauh didepan ketiga yeoja itu karena terlalu semangat mencari spot yang bagus untuk melakukan selca

“Aigoo… Lihatlah kelakuan american girl itu ckckck” ucap yoona terus memperhatikan jessica

“Tapi kau menyukainya kan?” goda yuri

“Tentu saja, dia satu datunya ahjumma yang bisa membuka hatiku” ucap yoona tersenyum memandang jessica dan berjalan cepat menyusul yeoja itu membuat yuri dan tiffany tertawa

“Kau sudah bisa tertawa, apa kau senang?” tanya yuri saat melihat tiffany tertawa

“Nne… Bersama kalian aku selalu dibuat tertawa” 

“Igo minumlah, kau sudah berkeringat, tak terasa kita sudah mendaki selama 1 jam setengah” ucap yuri memberikan air mineral pada tiffany dan mengelapi keringat yang membasahi kening yeoja itu

Tiffany pun menerima dan segera meminumnya, ia memang merasa kelelahan

“Pelan pelan, nanti kau akan tersedak” ucap yuri penuh perhatian membuat tiffany blushing

..

“yah! apa kau tak lelah? dari tadi kau berjalan jauh dariku” ucap yoona menghampiri jessica yang masih sibuk berfoto

“ah kau benar juga, lelah sekali” ucap jessica meletakkan tasnya

“minumlah” ucap yoona memberikan air mineral pada jessica

“gomawo…” ucap jessica segera meminumnya

Yoona ikut menelaan salivanya saat melihat leher jenjang jessica yang bergerak saat menelan air mineral itu

“wae?” tanya jessica yang menyadari yoona memperhatikannya

“anniyo, aku jadi merasa haus” ucap yoona mengambil botol air mineral yang digenggam jessica, iapun segera meminumnya

“hufhht…. sudah pukul 5 sore, berapa lama lagi kita sampai?”

“emm… sekitar satu jam”

“mwo? bagaimana kalau hari mulai gelap?”

“memangnya kenapa? kau tenang saja, begitu sampai kita bisa langsung beristirahat” ucap yoona

“hmm… baiklah” ucap jessica mulai menggendong tas nya dan kembali membuka ponselnya

“kau masih saja berfoto -____- “

“wae…? aku harus mengirim foto foto ini pada adikku, dia pasti merasa iri”

“yang kau bilang mirip denganku?”

“yepp you’re right” ucap jessica memberikan jempolnya

“berarti dia sangat cantik sepertiku hahaha” ucap yoona tertawa senang

“yah! siapa bilang, yang jelas aku lebih cantik darinya”

“aigoo… nne… ahjumma dihadapanku ini memang wanita tercantik di seoul” ucap yoona membuat jessica mempoutkan bibirnya namun merasa senang

“ck, terserah kau saja” ucap jessica

“yah, kau terus berfoto apa tak berniat mengajakku selca?”

“yaish… shiro!” ucap jessica memberikan merong

“hufthh…” gumam yoona pasrah melanjutkan langkahnya namun ia terkejut saat jessica berdiri dihadapanya dan menempelkan tubuhnya pada yoona

“kajja, say cheese…!!!” ucap jessica mengangkat ponselnya melakukan selca bersama yoona, yoona pun ikut bergaya

*cekrek*

B-cC2GCCcAAdptk.jpg

“woah cantik” ucap yoona melihat hasil gambar itu

“thanks…” ucap jessica senang

“aku memuji wajahku, bukan wajahmu” ucap yoona datar

“yaish… menyebalkan! aku tak mau berfoto denganmu lagi!” ucap jessica sebal segera berjalan mendahului yoona, sementara yoona hanya tertawa melihat tingkah jessica yang selalu membuatnya gemas itu

Akhirnya keempat yeoja itupun tiba di area tanah yang landai yang cocok dijadikan tempat untuk memasang tenda, mereka sengaja mencari jarak yang sedikit jauh dengan pendaki yang melakukan camping juga

Yuri dan yoona segera menurunkan tas nya dan memasang tenda sementara tiffany dan jessica mencari ranting ranting dan kayu untuk membuat api unggun karena suhu mulai terasa dingin setelah matahari tenggelam dan hari mulai gelap

tak butuh waktu lama tenda dengan ukuran yang lumayan besar pun sudah terpasang, yuri dan yoona mengambil tas mereka kemudian dimasukkan kedalam tenda termasuk tas milik tiffany dan jessica

“bagaimana? apa kalian kesulitan menyalakan apinya?” ucap yuri menghampiri jessica dan tiffany yang sedang  membuatkan api unggun

“nne, dari tadi apinya tak mau menyala” ucap jessica kesal

“hahaha aigoo… pantas saja tak mau menyala, sampai pagipun tak akan menyala jika seperti ini” ucap yuri tertawa saat melihat kayu kayu itu menumpuk, yuri membongkar kembali kau kayu itu dan mulai menata satu persatu sementara tiffany dan jessica terdiam memperhatikan

“Kayu kayu ini harus diposisikan seperti ini, harus ada celah diantara mereka agar udara bisa masuk dan api akan mudah menyala dan merambat” ucap yuri menjelaskan pada kedua yeoja itu

“wooah…” ucap tiffany dan jessica takjub saat api yang yuri nyalakan dengan cepat membakar kayu kayu pohon itu

Setelah melakukan barbecue dan makan malam, keempat yeoja itupun langsung terlelap karena merasa kelelahan

“engh…!” “anni… andwae,,,” gumam tiffany pelan dengan kedua mata yang masih terpejam

Yuri terbangun begitu mendengar suara tiffany, ia melihat wajah tiffany sudah berkeringat padahal cuaca sangat dingin

wajahnya mulai bergerak menggeleng gelengkan kepalanya, tiffany kembali mimpi buruk. yuri melihat yeoja dihadapannya itu terus mengigau terlihat ketakutan, iapun segera mengusap keringat diwajahnya

“fany-ah.. waeyoo?” ucap yuri terus mengusap wajah tiffany dan menggenggam tangannya

Tiffany perlahan membuka kedua matanya yang mulai berair

“yul..” panggil tiffany pelan dan langsung memeluk tubuh yuri

“wae? apa kau mimpi buruk lagi?” ucap yuri ikut memeluk tiffany dari samping, tiffany pun menganggukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya diatas dada yuri

“gwaenchanna… aku disini, aku akan menjagamu, tidurlah..” ucap yuri mengusap usap punggung dan kepala tiffany dan masih memeluknya

To Be Continued

Part berikutnya mungkin di protect karena ada anu…

Yg mau password cukup DM instagram atau Whatsapp kalau bisa sertakan nama akun wp kalian yes. TOLONG jangan minta password lewat kolom komentar wp yess. Karna tidak akan dibalas ūüėāūüôŹ

Dm / wa jug dibales engganya cuma Tuhan yang tahu ūüėā

KAMINGSUN!!


“TRUE or DARE”

“true!! true!! true!! karena jika kau memilih dare aku akan memintamu mencium bibirku sekarang!” ucap yoona semangat

“yah!!” teriak jessica kesal membuat yuri dan tiffany tertawa

We Are Different part 9

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl
……………………………………………

“Unnie, kau sedang tak sibuk? Bagaimana kalau kita hang out? Sudah lama kita tak pernah keluar bersama” ucap krystal yang tiba tiba memasuki kamar jessica dan mendapati kakaknya yang sedang berbaring diatas tempat tidurnya itu

“Hmm… Sorry aku sedang malas kryst, lagi pula sebentar lagi aku akan pergi”

“Kau akan pergi lagi? Why? Akhir akhir ini kau selalu pergi, bahkan kekasihmu selalu mencarimu”

“Aku ingin melanjutkan tesisku yang sempat tertunda, aku harus ke beberapa tempat untuk melakukan penelitian”

“Tapi.. Apa kau tak bosan? Ini sudah hampir satu minggu, aku merindukanmu” ucap krystal dengan nada sendunya dan berlalu meninggalkan kamar. Sementara jessica hanya terdiam menatap adiknya yang mulai menghilang dari pandangannya itu

“Mianhae kryst, entah kenapa hatiku masih terasa sakit setiap melihat wajahmu, sekilas kau begitu mirip dengannya” ucap jessica dalam hati

Flashback

malam itu setelah cukup lama tertidur setelah menempuh perjalan seoul – USA  jessica kembali terbangun karena merasa haus, iapun berjalan memasuki dapur untuk menegambil air minum, tepat pada saat itu krystal baru saja tiba

“unnie, you’re back!” teriak krystal begitu melihat jessica sudah kembali sementara jessica yang menoleh begitu mendengar suara adiknya langsung terdiam saat melihat wajah krystal yang tersenyum padanya

“yoona?” gumamnya saat menatap wajah krystal yang sangat mirip dengan yoona, saat itupun jantungnya kembali berdetak sangat cepat

krystalpun berlari memeluknya

“i really miss you” ucap krystal

“ah.. dia memang benar benar mirip dengan adikku” ucapnya kembali dalam hati

“aku juga merindukanmu kryst” ucap jessica melepaskan pelukannya, keduanyapun berbincang terutama krystal yang menceritakan banyak hal yang terjadi selama jessica meninggalkan LA, namun semenjak menyadari jika wajah krystal mirip dengan yeoja yang selalu mengganggu pikirannya itu jessica terus terusan menunduk menghindari bertatap mata dengan adiknya karena terus mengingatkannya pada yoona

Flashback end

setelah memulihkan pikirannya, jessica pun terbangun dan segera bersiap siap, hari ini ia berniat untuk menemui kedua orang tuanya

…………………………

seoul

Yuri dan tiffany baru saja keluar dari gedung teater setelah keduanya menonton sebuah pertunjukan teater musikal

“Bagaimana pertunjukan tadi? Kau menyukainya?” tanya tiffany antusias

“Emmm… Lumayan, aku menyukainya” ucap yuri tersenyum menatap sahabatnya itu

“Kyaaa…. Kau berhasil jessie, seleramu memang sangat bagus, gomawo…” ucap tiffany dalam hati dengan terus tersenyum riang

“Ya aku menyukai raut wajahmu yang selalu berubah ubah namun tetap manis saat menonton pertunjukan tadi, aku senang karena mu” ucap yuri dalam hati

Keduanya hanya tersenyum dengan isi pikiran masing-masing

“Ah sudah jam 9 malam, tak terasa ya” ucap tiffany setelah melihat jarum jam pada pergelangan tangannya

“Kau benar, mengapa waktu begitu cepat berlalu” ucap yuri menatap langit malam yang cerah itu

“Apa kita akan pulang?”

“Anniyo, hari ulang tahunmu masih tersisa beberapa jam lagi” 

“Tapi, apa kau tak lelah yul? Sedari pagi kau terus bersamaku bahkan kita sampai hampir kehabisan suara setelah menaiki wahana wahana lotte world tadi siang”

“Hahaha baboya, seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kau tak lelah?”

“Anniyo” ucap tiffany tersenyum menggelengkan kepalanya “selama bersamamu , seberapa lamapun waktunya, aku tak akan pernah merasa lelah yul” lanjutnya dalam hati, ia masih belum berani mengungkapkan perasaannya pada yuri

Keduanya kini berjalan memasuki sebuah taman

“kenapa kau terus terusan tersenyum sendiri seperti itu?” tanya yuri heran menatap raut wajah tiffany

“an.. anniyo” ucap tiffany gugup segera mengalihkan pandangannya “ak.. aku hanya menyukai langit malam ini, begitu cerah dan banyak bintang” lanjutnya sambil kembali tersenyum memandang langit

“ah kau benar, cuaca malam ini sangat mendukung untuk kencan kita hehehe” ucap yuri tertawa dan tersenyum memandang langit

“yul..” “fanny-ah” ucap kedua yeoja itu bersamaan dan saling memandang

“kau duluan saja” ucap yuri

“anniyo.. kau saja yul”

“hmm… Baiklah, aku ingin bertanya” ucap yuri terdiam sejenak “dulu kau pernah bercerita padaku tentang itu” ucap yuri menunjuk sebuah bintang yang terlihat paling terang diantara bintang bintang sekitarnya

“huh? bintang?” ucap tiffany belum mengerti ucapan yuri

“nne, orion” ucap yuri

“ah… orion, pangeran orion yang kau maksud? lalu, apa hubungannya dengan bintang?”

“yah, baboya… apa kau tidak tahu jika orion adalah sebuah rasi bintang”

“Jinja? hehe anniyo.. aku kira itu hanyalah sebuah nama pangeran di negeri negeri dongeng, jadi orion itu sebuah rasi bintang ya” ucap tiffany tertawa innocent

“nne salah satu rasi bintang paling terkenal, orion memang sekumpulan bintang yang membentuk pola seorang bergambar pria jika kita tarik garis garisnya, ada 13 bintang tepatnya”  ucap yuri kembali mengangkat jari telunjuk dan mengayun ayunkan seolah sedang menggambarkannya di langit

sementara tiffany memandangnya takjub seoerti melihat seorang pria dari yang telah yuri gambar

“woah… daebak, lalu jika orion memiliki 13 bintang, apa mereka juga memiliki nama?”

“nne.. ada rigel, betelgeuse, gamma orionis, alnilam, alnitak, kappa orionis, mintala, lota orionis, eta orionis, pi 3 orionis, lambda orionis, phi orionis, upsilon orionis” ucap yuri menyebutkan nama nama bintang itu sambil menghitung dengan ibu jarinya

“woah… kau benar benar daebak, jinjja” ucap tiffany menepuk nepukan kedua tangannya

“lalu, pangeranmu termasuk pada salah satu bintang mana diantara ke 13 itu?” ucap yuri

“bukankah mereka sama sama dalam rasi bintang orion?”

“anni… mereka memiliki cahaya yang berbeda”

“benarkah? ah molla… kami hanya bertemu satu kali dan itu sudah sangat lama”

“tapi kau masih belum bisa melupakannya kan?”

“nne…” ucap tiffany menundukkan kepalanya “bahkan mungkin aku tak bisa melupakannya” lanjutnya dalam hati

“cinta pertama memang sulit dilupakan” ucap yuri kembali memandang langit sementara tiffany langsung memandang yuri begitu mendengar ucapannya

tiffany hanya terdiam dalam pikirannya, satu sisi ia mencintai yuri namun sisi lain ia sadar jika ia masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu

“jangan bersedih, mungkin kau tak menyadari jika sebenarnya setiap hari kau selalu melihatnya, atau dia yang melihatmu” ucap yuri

“maksudmu?” ucap tiffany mengeryitkan dahinya membuat yuri terenyum

“jika dia adalah seorang pangeran yang sangat berarti bagimu, mungkin dia adalah rigel. bintang orion yang paling terang diantara bintang-bintang lainnya” ucap yuri menunjuk pada salah satu bintang yang paling terang itu

“dia akan terus terlihat setiap malam cerah, bahkan tetap terlihat paling terang, saat itu mungkin dia terus melihatmu” lanjutnya kembali tersenyum dan memandang tiffany

“hmm… tapi dia jauh yul” ucap tiffany sendu

“anniyo, dia sudah ada disini” ucap yuri

“huh, jinja? oddiga?” tanya tiffany menoleh ke segala arah untuk mencari namun ia tak menemukan manusia di sekitar mereka

“aiigoo.. dia ada disini” menunjuk dada tiffany membuat tiffany ikut menunduk memandang jari yuri “jika kau tak bisa melupakannya berarti dia sudah menjadi kenangan paling berarti untukmu, setiap kenangan yang tak bisa kau lupakan bukankah berarti sudah tersimpan di hati?” lanjutnya

“ah.. kau benar yul” ucap tiffany tersenyum malu

 “sekarang giliranmu” ucap yuri

“hehehe aku sudah lupa mau bicara apa” ucap tiffany menggaruk garukkan kepalanya yang tak gatal itu

“yah, dasar…” ucap yuri menjitak pelan kepala sahabatnya itu

“aku tak mungkin mengungkapkan perasaanku disaat seperti ini” ucap tiffany dalam hati memandang yuri yang kembali fokus memandang langit

keduanya terdiam cukup lama

“ah iya, sebenarnya aku penasaran padamu, bagaimana kau bisa sangat mengetahui tentang rasi orion?”

“eommaku, dia adalah seorang lulusan astronomi, dia banyak menceritakan tentang alam semesta setiap sebelum tidur”

“ah.. pantas, eomma mu adalah orang sangat hebat” ucap tiffany

“tentu saja”

waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, yuri mengeluarkan kue cake buatannya yang sudah ia bawa dan mengeluarkan lilin kecil yang sudah ia simpan di sakunya

“sudah waktunya” ucap yuri sambil menyalakan lilin yang sudah ditaruh diatas kue itu, tiffany kembali tersenyum senang melihatnya, walaupun yuri tak memberinya kejutan seperti perayaan ulang tahun yang dilakukan orang2 biasanya, tiffany tetap merasakan senang karena baginya bisa merayakan ulang tahun bersama yuri sudah merasa sangat bahagia

“jja..!! saengil chukkhae hamnida…  saengil chukkhae hamnida…

saranghaneun uri miyoungie… saengil chukkhae hamnida…” ucap yuri menyanyikan lagu ulang tahun sambil membawa kue itu dihadap wajah tiffany

3a8346dde535aaaf9bd30068875b65e5.jpg

“kya.. gomawo…” ucap tiffany tersenyum senang menampakkan eye smile nya

64621111201201300118593947840938288_001.jpg

“kkah make a wish dulu sebelum kau meniupnya”

“arra..” ucap tiffany kemudian memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan yang mengepal, dengan tersenyum ia memanjatkan segala harapannya didalam hati dan tiffany pun meniup lilin itu hingga padam

“yaaayyy….!!!” teriak yuri senang, ia menaruh lilin itu kemudian menyuapkan potongan potongan kecil cake itu pada tiffany

“gomawo… Ini lezat yul” ucap tiffany

“Tentu saja, siapa dulu yang membuatnya”

“Jadi.. Kau yang membuatnya? Bukankah kau bilang tak bisa memasak?”

“Yah, kau tak tahu seberapa lama aku melakukan kursus demi membuat ini huh?”

“Hehehe aku hanya terkejut, mianhae.. Dan makasih banyak yul, aku sangat terharu dengan usahamu itu, ini sangat lezat” ucap tiffany kembali menerima suapan cake dari yuri hingga cake itu habis

“sekarang pejamkan kedua matamu kembali” ucap yuri

“huh? wae..?” tanya tiffany

“sudahlah, turuti saja perintahku”

“hmm… baiklah” ucap tiffany memejamkan kedua matanya tiffany namun tiba tiba ia merasakan tubuhnya dipeluk

“huh?”  gumam tiffany merasa heran membuka kedua matanya dan hendak melepaskan pelukan namun kedua tangan yuri menahannya

“biarkan seperti ini dulu, dan tetap pejamkan matamu” ucap yuri, tiffany pun mengangguk dan kembali memejamkan kedua matanya

Setelah cukup lama akhirnya yuri melepaskan pelukannya

“selesai, sekarang kau boleh membuka kedua matamu” ucapnya

tiffany kembali membuka kedua matanya

“huh, aneh sekali” ucap tiffany

“sudah larut, kajja kita pulang.. kau harus istirahat”

“kau tak ingin memberiku kado?” tanya tiffany

“huh? ah… anniyo, aku melupakannya hehehe” ucap yuri tertawa sambil menggaruk garukkan kepalanya sementara tiffany hanya mempoutkan bibirnya

keduanya pun kembali berjalan meninggalkan taman

“y..yyul” panggil tiffany setelah keduanya cukup lama terdiam

“nne?” ucap yuri menoleh pada yeoja disampingnya itu

“apa kau masih mengingat cinta pertamamu?” tanya tiffany, ia melihat yuri terdiam kembali sambil memandang kedepan

“hmm… tentu, aku masih ingat”

“nugu? apa vivian cinta pertamamu?”

“anniyo, aku bertemu cinta pertamaku sama sepertimu saat masih sekolah dulu”

“woah, apa dia tampan?”

“anniyo, dia seorang yeoja”

“apa dia cantik?”

“nne… dia memiliki wajah dan suara yang sangat cantik” ucap yuri kembali memandang tiffany “sepertimu” lanjutnya

“hmm… pasti dulu kau sangat bahagia”

“anniyo”

“wae? apa cintamu bertepuk sebelah tangan?”

“anni… “

“lalu? mestinya kan kau merasa bahagia yul”

“nne, aku memang bahagia saat pertama bertemu dengannya aku sudah langsung jatuh cinta padanya, tapi saat itu juga aku merasakan sakit”

“wae?”

“aku sudah lupa hehehe” ucap yuri mengacak acak rambut tiffany

“yaish… menyebalkan” kesal tiffany berjalan mendahului yuri

“apa yul masih mencintai cinta pertamanya sama sepertiku?” ucap tiffany dalam hati

“hey… chankkaman… jangan marah” ucap yuri menyusul langkah tiffany, hingga tiffany berhenti ketika sampai didepan apartemennya

“aku kira kau mencintaiku” ucap tiffany sedikit ragu, namun ia benar benar ingin tahu bagaimana perasaan yuri terhadapnya

“tentu saja aku mencintaimu” ucap yuri membuat kedua mata tiffany terbuka lebar dan sedikit membuka mulutnya karena terkejut

“karena kau sahabat terbaikku” ucap yuri kembali sambil tersenyum mengusap usap kepala tiffany “kkah, masuklah dan istirahat” lanjutnya

namun yuri melihat tiffany masih diam saja dengan sedikit menundukkan wajahnya

“wae??” tanya yuri, tangannya hendak memegang pundak tiffany namun tiffany langsung menghindar

“an.. anniyo, ak.. akku masuk dulu yul, bye” ucap tiffany segera meninggalkan yuri tanpa memandang yeoja dihadapnnya itu

Yuri hanya tersenyum memandang kepergian tiffany, iapun berjalan menuju basement apartemen untuk mengambil mobilnya

saat meninggalkan gedung teater yuri meminta amber untuk mengambil dan mengantarkan mobilnya ke apartemen tiffany karena yuri dan tiffany memilih berjalan. dan kini mobil milik yuri usdah berada disana.

………………

keesokan harinya, tiffany terbangun dan langsung tersenyum begitu menundukkan wajahnya dan melihat sebuah kalung berliontinkan setengah hati yang merupakan kalung couple

Flashback

malam tadi setelah memasuki apartemennya tiffany segera melempar tas kecil yang dibawanya dan dengan malas langsung berbaring diatas tempat tidurnya tanpa mengganti baju dahulu

namun ia kembali terbangun karena merasa tak nyaman tidur memakai pakaian itu, iapun melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 3 dinihari, tiffany terbangun berjalan ke dalam kamar mandi sambil membawa kaos untuk mengganti pakaiannya

setelah membuka baju mata tiffany tertuju pada sesbuah benda yang terlihat berkilau terkena cahaya lampu, benda itu tanpa ia sadari telah melingkar pada lehernya, awalnya tiffany merasa bingung namun kemudian  ia tersenyum, pikirannya kembali pada beberapa jam yang lalu saat merayakan hari ulang tahunnya bersama yuri dan saat itu yuri memeluknya cukup lama

Tiffany baru menyadari ternyata yuri memasangkan kalung itu padanya sebagai kado ulang tahunnya

“baboya…” ucap tiffany memukul kepalanya sendiri

setelah mengganti baju tiffany kembali berbaring diaatas tempat tidurnya, matanya tak langsung terpejam. ia mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan pada yuri

“apa kau sudah tidur? yah, baboya… kenapa kau tak memberitahuku tentang kalung ini?” tapi.. gomawo.. ^_^” – send

“hehehe surprise, kau menyukainya?” – yuri

“yah, aku pikir kau sudah tidur, tentu saja aku sangat menyukainya ^_^ tapi kenapa liotinnya hanya berbentuk setengah hati?” tanya tiffany

“karena setengahnya ada padaku dan aku memakainya sekarang” -yuri

tiffany kembali tersenyum senang meletakkan ponsel diatas dadanya setelah membaca balasan pesan dari sahabatnya itu hingga tak terasa ia kembali tertidur tanpa sempat membalas pesan yuri

Flashback end

setelah cukup lama memandang kalung itu, tiffany mengambil ponselnya hendak menghubungi yuri namun baru saja ia menekan tombol nomor tiba tiba yoona mengetuk pintu kamarnya

“unnie… apa kau sudah bangun?”

“nne sudah yoong, masuklah aku tak mengunci kamarku” ucap tiffany meletakkan kembali ponselnya dan mengubah posisinya duduk diatas tempat tidurnya

“un.. unnie..” panggil yoona pada tiffany dengan wajah yang memucat

“ada apa yoong?”

“t..ttaeyeon unnie…” ucap yoona sedikit menundukkan kepalanya, ia merasa ragu untuk mengatakannya

…………..

Yuri dan amber baru saja tiba dan memarkirkan mobilnya beberapa meter disekitaran rumah taeyeon yang sudah dibatasi garis polisi, banyak sekali polisi dan detektif disana yang sedang melakukan penyelidikan terhadap pemboman rumah taeyeon yang terjadi tadi malam.

yuri terdiam begitu melihat pemandangan dihadapannya, rumah taeyeon yang terlihat hancur tak tertisa, beruntung halaman rumah taeyeon sangat luas hingga tak sampai mengenai rumah tetangganya meskipun hampir seluruh pohon dan tanaman serta dinding pagar rumahnya ikut hancur

“hyoyeon-shi…” panggil yuri pada yeoja yang berdiri terdiam tak jauh dari sana

“aku terlambat” ucap hyoyeon kembali menundukkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sangat menyesal merasa sangat bersalah karena terlambat menolong sahabat dekatnya itu “taeyeon tak bisa ditemukan karena semuanya sudah sangat hancur hingga sangat sulit melakukan identifikasi dari sisa sisa itu, para keparat itu memasang beberapa bom didalam rumahnya, aku berharap taeyeon tak berada disana tapi polisi berhasil menemukan itu” ucapnya kembali sambil matanya tertuju pada sebuah barang yang diletakan ditempat penyelidikan, mata yuri pun ikut tertuju pada barang itu

yuri terdiam memandang sebuah ponsel mirip milik taeyeon yang terlihat hangus, tangannya mengusap usap pundak hyoyeon untuk menenangkannya, ia tahu yeoja itu merasa sangat sedih dan tertekan

“Siwan-shi, apa ini milik taeyeon?” tanya yuri pada seorang detektif yang pernah menangani kasusnya saat berada di penjara dulu

“kau? kenapa ada disini?”

“taeyeon saudara tiriku”

“ah ya aku ingat, nne itu milik taeyeon-shi, ponsel itu ditemukan berada tak jauh dari rumahnya, taeyeon-shi memang berada di rumahnya karena hyoyeon-shi mengatakan jika ia baru saja tiba di rumahnya saat ditelepon olehnya, namun tiba ia tak mendengar suara taeyeon, diduga taeyeon-shi mendapatkan penyerangan karena hyoyeon-shi sempat mendengar suara pukulan sebelum akhirnya sambungannya terputus, dilihat dari kerusakan pada layar ini ponsel taeyeon dipukul atau diinjak oleh pelaku dan kemungkinan pelaku tidak hanya satu orang”

“apa bukti dari para pelaku masih belum ditemukan?”

“sejauh ini kami masih menyelidiki seseorang yang menghubungi pengacaranya dan mengatakan jika taeyeon-shi sedang dalam bahaya, sayangnya nomor penelepon itu tak bisa terdeteksi, saya kira ini bukan kasus yang kecil hingga membuat si pembunuh benar benar menghilangkan taeyeon-shi”

“hmm… tadi malam hyoyeon-shi sempat menghubungiku, tapi sayangnya saat itu sedang bersama sahabatku untuk merayakan ulang tahunnya” ucap yuri kembali memandang hyoyeon

“kami turut berduka cita atas kejadian ini yuri-shi”

“nne… kamsahamnida siwan-shi” ucap yuri membungkukan badannya pamit pada detektif itu

“sunbae, nugu?” tanya salah satu polisi yang baru saja menghapiri detektif bernama siwan itu

“jonghyun-ah, aku tugaskan padamu untuk mengawasi dia dan mencari tahu tentang perusahaan ayah tirinya, ku dengar sebelumnya taeyeon menangani tugas untuk membuka kedok beberapa perusahaan gelap dan salah satunya perusahaan besar borbound, aku rasa salah satu perusahan perusahaan gelap itu yang diberada dibalik kasus ini”

“nne sunbaenim”

……………

sore harinya di sebuah gedung, upacara kematian taeyeon digelar meskipun jasad taeyeon tak ada karena tubuh taeyeon ikut hancur bersama rumahnya akibat bom itu. hanya sebuah foto taeyeon yang terpajang disebuah peti kosong sebagai simbol.

ruangan itu sudah terisi banyak orang yang ingin melepaskan kepergian taeyeon, kebanyakan mereka adalah para polisi baik rekan rekan, para sunbae maupun para hoobae di kepolisian tempat taeyeon bekerja

Yuri menarik lengan kemejanya dan mengusap keringat pada dahinya begitu selesai memberikan beberapa hidangan kepada para pelayat, dari awal yuri memang berada disana untuk mengatur acara tersebut setelah mengetahui ibu taeyeon kembali dirawat di rumah sakit karena mengalami syok berat setelah mendapatkan kabar tentang putri satu ssatunya itu hingga yuri lah yang bertanggung jawab atas acara ini.

“unnie” panggil seseorang membuat yuri menoleh kearahnya

“yoong..” ucap yuri

“mianhae aku terlambat”

“gwaenchanna, kau datang sendirian?”

“nne.. sebenarnya tadi pagi aku bersama fanny unnie mendatangi rumah taeyeon unnie”

“mwo? lalu tiffany?”

“fanny unnie tidak bisa ikut kemari, setelah dari sana fanny unnie terus menangis dan mengurung diri didalam kamarnya”

“hmm…. pasti ini sangat berat untuknya” ucap yuri “miyoungie… mianhae..” lanjutnya dalam hati sambil memikirkan tiffany

“kau istirahat saja dulu, biar aku yang ikut membantu mereka menghidangkan makanan untuk tamu” ucap yoona, yuri pun mengangguk

ia terus memandang adiknya yang mulai berjalan menuju dapur, namun pandangannya teralihkan saat mendengar beberapa orang tiba di ruangan itu, ia melihat sunny yang langsung berlari dan menangis dihadapan peti sampai beberapa maid yang mengikuti kembali menenangkannya, pandangan yuri beralih pada seseorang berpakaian serba hitam diikuti beberapa bodyguard dibelakangnya, tuan choi. pandangan tuan choi dan yuri sempat bertemu saat saling berpapasan. yuri masih terdiam menatap tuan choi yang sudah tak lagi memandangnya

merasa ada yang memperhatikannya, tuan choi pun kembali membalikkan badannya dan saat itu pula yuri buru buru mengalihkan tatapannya dan berjalan meninggalkan tempat itu, sayangnya tuan choi mengetahui jika yuri tengah memandangnya

“adiknya pasti berada disini, cari dan tangkap dia” bisik tuan choi pada salah satu bodyguard yang berada disampingnya

“nne tuan” ucap bodyguard itu segera mberitahukan pada anak buah lainnya

“huh? oddiga?” ucap yoona saat melihat yuri berjalan keluar, ia baru saja keluar dari dapur hendak menghampiri yuri “unn… hmmp…!!” panggil yoona namun tepat saat itu seseorang berpakaian serba hitam muncul  dari belakang  langsung membekapnya dengan sapu tangan dan langsung menempelkan alat setrum pada tubuh yoona hingga membuatnya tak sadarkan diri, orang itupun menyeret dan membawa tubuh yoona melalui pintu belakang gedung sayangnya saat itu keadaan dapur sedang sepi hingga tak ada yang mengetahui hal itu

………………..

USA

“unnie, apa yang terjadi?” ucap krystal yang baru memasuki kamar jessica, ia melihat jessica sedang berbaring diatas tempat tidurnya setelah melewati acara makan malam yang sempat terjadi masalah

“kau sudah melihatnya kryst” ucap jessica

flashback

Tadi malam keluarga jessica dan keluarga tyler tengah mengadakan pertemuan keluarga dan makan malam bersama disebuah restoran. mereka sengaja mengadakan pertemuan keluarga untuk membicarakan acara pertunangan jessica dan tyler

“aku senang melihat kalian sudah kembali bersama, jessica adalah perempuan yang sangat baik” ucap ibu tyler membuka percakapan setelah makan malam selesai, sementara ibu jessica hanya tersenyum menanggapinya

“aku minta maaf karna sempat membuat jessica kecewa dan pergi, tapi aku senang pada akhirnya bisa membawanya kembali, jadi aku ingin memutuskan untuk segera mengadakan acara pertunangan kami” ucap tyler membuat jessica terkejut atas ucapan pria itu

“hmm.. lebih bagus memang begitu, kalian sangat cocok” ucap ayah jessica

“jadi, bagaimana pendapatmu nak?” tanya ibu jessica, orang orang disekitarnya pun memandang jessica yang masih terdiam

“i’m sorry” ucap jessica membuat keluarganya maupun keluarga tyler terkejut dan heran “i’m so sorry, aku tak bisa melanjutkan ini”

“apa maksudmu, sica?” ucap tyler

“mianhae, aku rasa aku tak bisa menerimanya, kita akhiri saja, aku benar benar minta maaf” ucap jessica membuat kedua orang tuanya saling berpadangan, jessica pun segera berdiri dan meninggalkan mereka

“jessica, apa maksudmu?” ucap tyler yang berhasil menyusul dan menahan jessica

“apa kalimatku kurang jelas tadi?”

“kau menolakku, but why? bukankah di seoul kau sudah menerimaku bahkan kau ikut denganku kemari?”

“ya, saat itu aku pikir aku bisa menerimamu kembali, ternyata aku tak bisa”

“bukankah sudah ku jelaskan jika perempuan itu hanyalah sahabatku?”

“nne, tapi bukan karena itu tyler”

“lalu apa?”

“aku… sudah tak memiliki perasaan yang sama terhadapmu, aku sudah tidak bisa mencintaimu lagi, maafkan aku” ucap jessica mendundukkan wajahnya

“why? karna perempuan korea sialan itu?”

“apa maksudmu?”

“aku tau perempuan korea sialan itu yang sudah membuatmu seperti ini” ucap tyler tersenyum sinis menatap jessica

“yah, mengapa kau memanggilnya seperti itu?!” ucap jessica mulai meninggikan suaranya

“sial, harusnya dulu aku benar benar memberinya pelajaran” ucap tyler

*plak!!!* jessica langsung menampar pipi tyler mendengar itu

“apa yang sudah kau lakukan padanya?” kesal jessica

“sica, aku hanya memberinya pelajaran , aku tau dia mencintaimu untuk itu aku menemuinya agar dia menjauhimu, seharusnya kau bersyukur aku telah membebaskanmu dari hubungan gila itu”

*plak!!* lagi lagi jessica menampar pipi tyler

ingatannya kembali saat yoona berubah sikap padanya, padahal hubungan mereka sempat membaik dan membuat jessica senang, namun saat yoona berubah sikap dan tiba tiba mencium bibirnya ia tahu jika itu agar membuatnya membenci yoona.

“cukup, mulai sekarang jangan pernah mengusik hidupku maupun perempuan itu!” ucap jessica

“why? mengapa kau memb…”

“aku mencintainya” ucap jessica memotong ucapan tyler

“what? hahaha jangan gila sica! hubungan kalian tidak masuk akal, bagaimana bisa seorang perempuan dengan perempuan? itu hanya lelucon gila”

“ya, mungkin ini memang gila, tapi aku memang mencintainya, jadi kumohon jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi, jadi kau bisa kembali bersama sahabatmu yang bisa menenangkanmu itu” ucap jessica mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkan kasar pada tyler, iapun meninggalkan tyler yang masih terdiam kesal menatap kepergiannya

tyler membuka amplop itu dan melihat beberapa lembar foto bergambar dirinya tengah berciuman mesra di bibir bahkan ada beberapa foto dirinya yang sedang tidur bersama tanpa sehelai pakaian yang hanya ditutupi selimut bersama perempuan yang ia sebut sebagai sahabatnya itu. tyler sangat terkejut karena jessica mengetahui itu tyler tak tahu darimana jessica mendapatkannya

“arrgggh!!!” teriak tyler mengacak acak rambutnya meluapkan kekesalannya

Flashback end

” i know.. but, aku hanya ingin meminta penjelasan darimu” ucap krystal

“penjelasan tentang apalagi?”

“tentang seorang perempuan bernama im yoona” ucap krystal membuat jessica terkejut langsung bangun dan duduk diatas tempat tidurnya

“k..kkryst, bagaimana kau…” ucap jessica masih gugup karena keterkejutannya

“aku tahu kau memutuskan tyler bukan hanya karna si brengsek itu berselingkuh dibelakangmu, aku rasa ada hal lain yang mengganggu pikiranmu, dan ternyata itu benar”

“tapi bagaimana kau bisa tahu?”

“hmm… dari status SNS mu saat tinggal di seoul kemarin sudah jelas jika kau sedang membenci seseorang dan pada akhirnya kau menyukainya, setelah kau kembali kesini banyak hal yang berubah darimu”

“yah, apa kau menguntitku”

“big no! lebih tepatnya aku, mom and daddy mengkhawatirkanmu bodoh!”

“hmmm…” gumam jessica kembali menundukkan wajahnya

“dia cantik juga” ucap krystal kembali membuat jessica mengangkat wajah dan menatapnya, pandangannya meminta penjelasan dari krystal

“aku sudah melihatnya di ponselmu, ada beberapa wajah yang terlihat candid, so aku pikir kau diam diam memotretnya kan?” ucap krystal

“kk…kkryst, apalagi yang kau tahu?” ucap jessica gugup

“aku pikir… kakakku mulai mencintai perempuan itu” ucap krystal memandang jessica yang kembali menundukkan wajahnya

“ini gila kryst, ini benar benar gila” ucap jessica mulai meneteskan air matanya

“mengapa kau bicara seperti itu?”

“aku tak seharusnya seperti ini, ada yang salah dengan perasaanku, benar benar bodoh”

“kau yang bodoh” ucap krystal membuat jessica menatapnya “apa yang salah dengan perasaanmu? kau sudah jelas mencintainya tapi kau terus menepis perasaanmu itu kan?”

“tapi hubungan ini rasanya terlihat gila”

“apanya yang gila? bukankah disini sudah biasa hubungan seperti itu?”

“ya.. but, how to explain it to mom and daddy?”

“just bring her here”

“aku takut kryst, aku takut mereka tak bisa menerimanya”

“kau tak takut aku mendahuluimu?” ucap krystal menyerahkan sebuah foto yang tertera pada layar ponselnya

ixw32a.jpg

“in.. ini…” ucap jessica terkejut, iapun mengambil ponsel itu dan membuka beberapa foto lainnya

“she’s my girlfriend” ucap krystal dengan wajah innocent nya

“what? lalu… mom and daddy?”

“tentu saja mereka sudah tau”

“what…?!!” ucap jessica kembali terkejut

“mereka sudah lama mengetahui hubunganku, bahkan aku selalu membawanya ke rumah, mom dan daddy menyukainya, kau sih… tadi malam malah langsung pergi tak langsung menjelaskannya pada mereka”

“t..ttapi…”

“aku sudah menjelaskannya pada mereka, awalnya mereka sempat marah saat kau tiba tiba pergi, tapi aku sudah menunujukkan beberapa foto pria brengsek itu”

“apa tentang yoona mereka tahu?”

“tentu saja, kau hanya perlu membawanya kemari, aku yakin pasti dia lebih muda darimu, aku jadi penasaran seberapa menyebalkannya dia hingga membuat unnieku yang seorang ice princess bisa jatuh cinta padanya”

“kryst… gomawo..” ucap jessica memeluk adik kesayangannya itu “mianhae atas sikapku padamu beberapa hari ini”

“it’s okay, aku tahu kau hanya terluka karena aku mirip dengannya” ucap krstal membuat jessica menunduk malu “ayo kemasi barang barangmu” ucap krystal segera berdiri, jessica pun dengan semangat segera mengambil kopernya

To Be Continued

…..

kamingsun….

“bagaimana keadaannya?” ucap yuri pada seorang dokter, keduanya tengah berdiri disamping seseorang yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa alat medis yang terpasang pada tubuhnya

“mulai membaik, beruntung dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat” ucap dokter itu

“hmm… lekaslah bangun dan bantu aku” ucap yuri dalam hati sambil tangannya mengusap usap lengan seseorang yang tengah terbaring itu

……………

yoona terbangun dan langsung saat melihat seorang yeoja sedang duduk menatapnya

“omo!! mengapa kau ada disini?” ucap yoona dengan keterkejutannya hingga ia melompat dan duduk diatas tempat tidur

*plak!!*

“Dasar bodoh! tentu saja, ini apartemenku!” ucap orang itu setelah memukul kepala yoona

“aw.. yah, appo..” ucap yoona mengusap usap kepalanya “tapi.. apa aku masih bermimpi ya?” lanjutnya mulai tersenyum kembali memandang yeoja dihadapannya itu

yeoja itupun dengan cepat langsung menjewer keras telinga yoona

…..

“secepat itukah kau pergi? bahkan aku masih belum memaafkanmu” ucap seorang yeoja pada sebuah foto bergambar dirinya bersama dengan yeoja yang pernah dicintainya itu

*tingtong* tiba tiba bel pintu berbunyi, dan tepat saat itu sebuah sms masuk pada ponselnya

“aku di depan pintu ^_^”

yeoja itupun tersenyum dan langsung berlari membukakan pintu, namun ia terkejut saat melihat orang yang sedang berdiri berhadapan dengannya itu, orang itu mengeluarkan senyum smirknya dan….

*slebb!!*

sebuah pisau tajam pun menembus perutnya tanpa sempat menghindar hingga tetes demi tetes darah keluar dan mengalir dari dalam perut yeoja itu, perlahan senyuman manis itupun menghilang

……………..

“bagus, bunuh satu persatu mereka hingga polisi kesulitan dengan kasus yang berdatangan ini, jangan sampai meninggalkan jejak atau kalian sendiri yang akan mati”

“nne..”

We Are Different part 8

wp-1487393605957.png

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

………………………………………………

 

“Baiklah silahkan taeyeon-shi untuk mengemukakan tuntutan terkait tentang peristiwa yang menyebabkan tuan kim ayah anda meninggal”

Taeyeon berdiri begitu namanya dipanggil, ia terdiam sejenak mengambil nafas, pandangannya tertuju pada yuri yang berada tak jauh dari hadapannya itu

“Aku mencabut semua tuntutan” ucap taeyeon membuat orang orang yang berada di ruang sidang terkejut dan bertanya tanya

“Taeyeon-ssi apa anda yakin?”

“bukan yuri pelakunya, aku sudah memeriksa beberapa bukti yang sudah cukup jelas, lagipula aku percaya bukan yuri yang melakukannya” ucap taeyeon dengan tegas

Setelah memeriksa dan mencocokkan beberapa alat bukti akhirnya hakim memutuskan bahwa yuri tak bersalah dan dinyatakan bebas membuat orang orang yang berada di pihak yuri merasa lega, orang orang yang berada di pihak taeyeon yang dulu membenci yuri pun kini percaya jika yuri bukanlah pelaku itu setelah mendengar dan melihat semua bukti

Akhirmya sidang pun berakhir dan yuri sudah diperbolehkan untuk meninggalkan tempat yang selama ini ia singgahi, namun setelah mengganti semua pakaiannya sebelum pergi yuri menemui taeyeon di rooftop gedung

Yuri menghampiri dan berdiri disamping taeyeon yang sudah berada disana, keduanya berdiri sambil memandang pemandangan seoul dari atas gedung kepolisian

“Aku kira kau benar benar membenciku” ucap yuri memulai percakapan

“Aku memang membencimu, tapi aku harus menerima kenyataan” ucap taeyeon, pikirannya kembali pada pernyataan hyoyeon yang membuatnya berubah pikiran

Flashback

1 hari sebelum kematian ayahnya, saat itu taeyeon sedang berada di ruang kerja apartemennya, hyoyeon datang menemuinya

“Bagaimana hasil penyelidikanmu? Aku rasa emosimu sudah berkurang” tanya hyoyeon

“Masih belum ada bukti yang jelas, semuanya hanya dugaan sementara”

“Bolehkah aku berpendapat?”

“Katakan”

“Aku rasa memang bukan yuri yang melakukannya” ucap hyoyeon membuat taeyeon berhenti membaca berkas berkas tentang kasus itu yang ia copy kan dari para penyidik

“Jangan membuat pemikiran baru yang akan memperumit” ucap hyoyeon

“Oke, aku akan menjelaskannya pertama apa kau tahu tempat kejadian itu?”

“Rumah yuri yang dulu yang sudah lama tak disinggahinya” ucap taeyeon

“Dalam ponsel ayahmu tak ada panggilan dari dari nomor milik yuri kan”

“Bisa saja yuri meminta ayahku untuk menemuinya menggunakan media lain, kau tahu? Yuri pernah mengancamku akan menghancurkan ayahku karena kasus lama yang membuatnya kehilangan ibunya”

“Taeyeon-ah dengar, pagi itu saat tuan kim memberikan surat wasiat padaku aku memeriksanya dan terdapat 2 surat, satu tertulis untukmu dan satu lagi tertulis nama seseorang, lalu waktu itu dia memintaku mengantarnya ke stasiun dan wajahnya tak terlihat seperti sedang mendapat ancaman, wajahnya terlihat tenang” ucap hyoyeon membuat taeyeon memandangnya karena tertarik

“Maksudmu? Ayahku membuat 2 warisan?”

“Nne… Dan orang itu bernama kwon yuri” ucap hyoyeon membuat taeyeon terkejut bukan main

“Jangan bercanda” ucap taeyeon

Hyoyeon membuka tas nya dan memberikan 2 amplop berisi surat warisan pada taeyeon

Taeyeon pun kembali terkejut saat membaca tulisan itu yang ia kenal benar jika itu tulisan ayahnya

“Wae..?” gumam taeyeon

“Aku sudah menyelidikinya” ucap hyoyeon

“Ayahmu adalah ayah kandung yuri juga taeng, setelah membaca surat itu aku penasaran dan mulai meminta rekan rekanku utuk mencari informasi, saat itu aku ingin mengajakmu hanya saja kondisimu sedang tidak memungkinkan” ucap hyoyeon

“Mm…mmwo?” ucap taeyeon terkejut

“Sebelum menikahi ibumu, tuan kim sudah memiliki isteri bernama kwon hyerin yang merupakan ibu kandung yuri, tuan kwon meninggalkan mereka saat yuri masih berumur 1 tahun dan ibunya sedang mengandung anak kedua, umurmu dengan yuri hampir sama karena hubungan tuan kim dengan ibumu juga sudah berlangsung lama sebelum menikahinya, namun saat itu tuan kim memilih ibumu dan tinggal beberapa saat di luar negeri sampai akhirnya ia bertemu dengan kwon hyerin saat menjalani operasi jantung”

“J..jjadi.. Ayahku seperti itu?”

“Nne… Aku sendiri mendengar penjelasan langsung dari seorang ahjumma yang begitu dekat dengan keluarga kwon saat sebelum kejadian itu yuri menemuinya untuk mengambil kunci rumahnya karena hari itu adalah hari peringatan kematian ibunya, yuri selalu datang setiap hari peringatan itu untuk menaruh foto foto perkembangan dirinya dengan yoona, ia sengaja melakukan itu karena ahjumma itu selalu bilang jika ayah yuri selalu datang berkunjung, ia berharap ayahnya dapat melihat foto foto itu”

Taeyeon terdiam memandang sebuah kalender. Ya, dia ingat setiap tahun di bulan itu ayahnya selalu pergi ke gangnam tanpa memberitahunya, namun hari itu tuan kim pergi tepat ditanggal kematian istri pertamanya, ia tak tahu jika yuri akan berkunjung ke rumahnya

“Aku pikir ahjumma itu akan menjadi saksi, namun ia mengatakan jika yuri memintanya untuk pergi menjauhi rumahnya menghindar dari para penyidik”

“Wae?” tanya taeyeon

“Molla, ia sendiri merasa bingung, seharusnya yuri meminta ahjumma itu menjadi saksi agar ia terbebas tapi justru yuri malah mengasingkan ahjumma itu”

Taeyeon terdiam tampak berpikir, ia pun setuju dan tertarik dengan ucapan hyoyeon

Flashback end

“Gomawo…” ucap yuri tersenyum menoleh kearah taeyeon dan merentangkan tangannya hendak memeluk yeoja itu

Namun  dengan cepat kedua tangan taeyeon menahan tubuh yuri agar tidak memeluknya

“Apa yang kau lakukan?”

“Tentu saja memelukmu” ucap yuri

“Dengar, aku melakukan ini bukan berarti aku menyukaimu”

“Arra…” ucap yuri tetap memeluk taeyeon

“Yah!!!” teriak taeyeon merasa kesal, namun ia terdiam menerima pelukan yuri, selama ini ia tak pernah menerima pelukan dari seorang teman senyaman itu, taeyeon memang tak pernah memiliki teman yang begitu dekat selain hyoyeon, baginya teman itu sama saja hanya ada disaat butuh kemudian akan meninggalkan saat taeyeon terpuruk

“Kau terlihat tampan jika tersenyum seperti itu taenggu-yaa, jangan selalu menjadi sersan yang menyebalkan” ucap yuri yang sudah melepaskan pelukannya

Taeyeon tersenyum masam, ia kembali memandang pemandangan dihadapannya

Tangannya memasuki saku jaket nya dan mengambil sebuah botol bir kecil hendak meminumnya, namun yuri yang melihatnya langsung merebut minuman itu

“Yah apa yang kau lakukan, kemarikan” ucap taeyeon hendak merebutnya namun dengan cepat yuri melempar botol itu kedalam tong sampah

“Yah!” teriak taeyeon kembali

“Yah!!!” teriak yuri lebih keras membuat taeyeon terkejut

“Wae…?” ucap taeyeon merendahkan suaranya

“Wae? Itu minuman beralkohol! Dasar bodoh”

“Memangnya kenapa? Aku bebas meminumnya sekarang, Lagipula aku sudah bukan seorang polisi” ucap taeyeon

“Mwo? Jangan bercanda”

“Aku sudah diberhentikan”

“Wae?”

Taeyeon hanya terdiam memandang wajah yuri yang masih menunggu jawabannya

“Mianhae” ucap taeyeon

“Huh?” gumam yuri tak mengerti

“Maafkan aku selalu menyakiti fisikmu”

“Hahaha… Kau lucu sekali, tentu saja aku sudah lama memendam dendam padamu”

*plak!!!* dengan cukup keras yuri memukul kepala taeyeon

“Yah!!” teriak taeyeon namun yuri sudah terlanjur berlari meninggalkannya

Taeyeonpun mengikuti yuri meninggalkan rooftop

“Yul!” teriak tiffany saat tiba di kantor polisi bersamaan dengan keluarnya yuri

Tiffanypun berlari memeluk sahabatnya itu

“Apa aku terlambat?” ucap tiffany kembali

“Anniyo, lagipula aku sudah bebas sekarang” ucap yuri tersenyum memandang tiffany dengan kedua tangan yang masih memeluk pinggang yeoja dihadapannya itu

“Jinja?” ucap tiffany dengan kedua mata yang berbinar

“Tentu saja, taeyeon mencabut semua tuntutannya dan dari segala bukti menunjukkan memang bukan aku pelakunya, haaah lega rasanya” ucap yuri merentangkan kedua tangannya

“taeyeon?”

“nne, entah kenapa hari ini dia begitu baik padaku, padahal kemarin dia sangat membenciku”

“hmm… begitu ya, syukurlah aku sangat senang kau akhirnya terbebas” ucap tiffany mengembangkan senyumnya meskipun hatinya sedikit menolak ketika nama mantan kekasihnya disebut¬† “Tapi yul..” ucap tiffany kembali

“Wae?” tanya yuri terlihat khawatir

“Yoong tadi malam pingsan dan sampai sekarang berada di rumah sakit”

“Mwo? Wae…?”

“Dokter bilang yoong kelelahan”

“Yaish… Kajja kita kesana” ucap yuri yang sudah terlihat sangat khawatir

Taeyeon yang sedari tadi berada dibelakang yuri sempat penasaran, namun ketika hendak menghampiri yuri kedua matanya bertemu dengan tatapan tiffany, taeyeon segera menghentikan langkahnya

Cukup lama berpandangan, tiffany segera membuang muka dan membalikkan badannya menyusul yuri

……………………….

“Baby, apa semuanya sudah lengkap?” ucap tyler sambil berjalan membawa koper besar milik jessica

“Nne” ucap jessica

Keduanya pun mengendarai sebuah mobil yang dikemudikan tyler menuju bandara, hari ini jessica akan dibawa kembali ke USA

Jessica terdiam memandang pemandangan luar jendela mobil, tangannya meraba bibirnya dan mengingat kembali ketika yoona mencium bibirnya

“Mengapa jantungku selalu berdetak cepat setiap mengingat itu” ucap jessica dalam hati dengan tangan kiri yang memegang dadanya

………………………………

Begitu tiba di rumah sakit, tiffany dan yuri segera bergegas menuju ruangan tempat dimana yoona dirawat, namun langkah mereka terhenti ketika melihat yoona baru saja keluar dari ruang administrasi dan telah memakai pakaiannya lengkap

“yoong?” panggil yuri membuat yeoja dihadapannya itu menoleh kearah yuri

“huh? unnie? mengapa ada disini? Baru saja aku akan ke kantor polisi untuk menemuimu” tanya yoona heran

“Yoong bukankah kau masih harus mendapat perawatan?” ucap tiffany terlihat khawatir

“Ahahaha aku sudah baik baik saja, lagipula kau sudah aku hanya kelelahan” ucap yoona menggaruk garuk kepalanya kemudian melirik yuri

“Yah, lain kali kurangi aktivitasmu, kajja kita pulang, kau masih harus istirahat” ucap yuri

“Dengar kata unniemu! Dasar rascal, kajja kalian pulang ke apartemenku saja” ucap tiffany

“Hehehe mianhae, kajja” ucap yoona menggandeng lengan kedua unnienya itu berjalan meninggalkan rumah sakit, namun setelah beberapa langkah yoona kembali berhenti

“Chankkaman! Kenapa unnie bisa berada disini dan mengajakku pulang?”

“Tentu saja aku aku sudah bisa menghirup udara bebas yoong” ucap yuri ikut menghentikan langkahnya dan tersenyum mengangkat wajahnya

“Mwo? Jadi unnie sudah bebas?” ucap yoona excited

“Tentu saja, kau tak ingin memberikan selam…” belum sempat yuri berbicara yoona sudah terlebih dahulu memeluknya senang

“Akhirnya, jangan meninggalkanku lagi” ucap yoona memeluk erat tubuh yuri

Tiffany tersenyum bahagia melihat kedua yeoja dihadapannya itu, namun yuri yang melihatnya langsung merentangkan tangannya dan tiffany bergabung berpelukkan dengan mereka

….

Setelah tiba diapartemen, saat hendak membukakan pintu tiba tiba seorang ahjumma yang merupakan tetangga kamarnya menghampiri membawakan sebuah kotak kecil

“tiffany-shi” panggil ahjumma itu membuat ketiga yeoja dihadapannya menoleh

“ah, nne ahjumma ada apa?”

“tiga jam yang lalu temanmu kemari dan menitipkan ini untukmu, dia bilang kau tidak ada diapartemen” ucap ahjumma itu menyerahkan kotak kecil yang dibawanya pada tiffany

“kamsahamnida ahjumma” ucap tiffany

“nne..” jawab ahjumma itu sambil berlalu meninggalkan ketiga yeoja itu

“huh? jessica?” ucap tiffany membaca tulisan nama jessic pada kotak itu

Tiffany, yoona dan yuri pun memasuki apartemen

“bukankah ulang tahunmu masih beberapa hari lagi?” ucap yuri ikut merasa heran

“nne, aneh sekali” ucap tiffany membolak balikkan kotak itu “coba ku lihat” lanjutnya sambil mulai membuka kotak itu

Setelah dibuka, tiffany tersenyum senang saat melihat sebuah case ponsel yang terlingat sangat cantik terutama case itu berwarna pink

“kyaaaa…. ini lucu sekali! aku sangat menyukainya, she’s really my bestfriend” ucap tiffany excited sambil memeluk hadiah pemberian dari jessica

“yah, kau bilang aku adalah satu satunya sahabat terbaik untukmu” ucap yuri sebal

“hhehe aku akan mengatakannya setelah kau memberiku kado nanti” ucap tiffany memberikan merong pada yuri

“sahabat yang baik tak akan menitipkan kado” ucap yoona yang sudah duduk di ruang makan sambil menikmati buah apel yang diambilnya dari kulkas

“ah.. benar juga” ucap tiffany “huh? ada suratnya” lanjutnya saat melihat kembali pada kotak itu, tiffany pun segera membuka dan membacanya

 

 

 

“happy birhtday my best Tiffy! i hope all your dream wish come true baby and i love you so much. aku orang yang pertama mengucapkan bukan? hehehe

 

“Tiff, maafkan aku yang pergi tanpa memberitahumu dulu aku harus kembali ke USA, tadi aku ke apartemenmu tapi kau tak ada, aku baru ingat kau akan menghadiri sidang yuri. aku harap kasusnya segera terselesaikan dan yuri bisa segera dibebaskan. agar tiket yang ku beri tak sia sia.

ah ya, aku akan mengucapkan terimakasih padamu atas semuanya selama aku tinggal disini, kau benar sahabat terbaikku, bahkan mungkin aku akan sangat bahagia jika kau menjadi kekasihku hahaha just kidding babe

jaga kesehatanmu baik baik tiff, aku pastikan kita akan bertemu kembali karna aku tahu aku pasti akan merindukanmu hehehe

lupakan semua kesedihanmu dan hiduplah bahagia dengan orang orang yang mencintaimu, I love you my Tiffy, chu!” ūüėė

“mwo?! jessie pergi?” ucap tiffany terkejut setelah membaca surat itu, yuri dan yoona pun ikut terdiam mendengar itu

“oddiga?” tanya yoona yang sudah menghampiri tiffany dan membaca surat itu, yoona ikut membelalakkan kedua matanya setelah membaca surat itu

“unnie ayo ikut aku” ucap yoona kembali sambil menarik tangan yuri membawanya keluar

“hey.. kalian mau kemana?” teriak tiffany yang masih berada di dalam apartemen, iapun segera berlari menyusul

“oddiga?” tanya yuri heran namun yoona terus melangkahkan kakinya cukup cepat dan ketiganya memasuki sebuah taksi meninggalkan apartemen tiffany

15 menit perjalanan, kini taksi itu menepi. ketiga yeoja itu tiba di bandara incheon. rupanya yoona buru buru ingin menyusul jessica dengan harapan  jika yeoja itu masih berada disana

“apa masih mungkin jessie masih berada disini? ahjumma bilang dia menitipkan surat itu sudah beberapa jam yang lalu yoong” ucap tiffany mengikuti langkah yoona

namun yoona masih terdiam, ia berhenti di sebuah layar besar yang menampilkan jadwal penerbangan dari incheon airport, ia melihat semua penerbangan ke USA sudah tidak terssedia, iapun kembali berjalan menuju tempat check in tiket

“permisi, apa semua penerbangan ke USA sudah take off?”

“nne, penerbangan terakhir sudah take off 2 jam yang lalu”

“ah begitu ya, kamsahamnida” ucap yoona membungkukkan badannya pada petugas itu, iapun kembali berjalan menghampiri yuri dan tiffany yang berdiri tak jauh darinya

“bagaimana?” tanya yuri

“dia sudah pergi” ucap yoona lemas kembali berjalan meninggalkan bandara

Yuri yang melihat perubahan pada yoona langsung menatap tiffany dan mengangkat alisnya menanyakan apa yang terjadi

“aku juga tidak mengerti yul, yang ku tahu mereka sering bertengkar seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu”

Yuri dan tiffany pun segera menyusul yoona

……………..

di ruang pribadi tuan choi

“tuan, yuri sudah dibebaskan dari tahanan” ucap salah satu anak buah tuan choi

“sial! apa yang terjadi?”

“anak korban menarik semua tuntutan dan beberapa kumpulan bukti bukti yang menunjukkan jika yuri tak bersalah”

“dasar sersan bodoh!” umpat tuan choi kesal “lalu, apa ada yang membuntutinya sekarang?”

“nne, 3 orang sudah diarahkan untuk selalu membuntutinya, dari info yang saya dapat, yuri tak pulang ke rumahnya tuan”

“oddiga?”

“dia bersama 2 orang yeoja menuju sebuah apartemen dan hingga sekarang mereka masih berada disana, diduga adiknya juga berada di salah satu mereka”

“yesung-ah apa kau sudah mendapatkan identitas adiknya?”

“nne tuan, ini” ucap anak buah bernama yesung itu sambil menyerahkan berkas identitas adik yuri

“hmmm…” *srrak!!* tuan choi melempar berkas itu kasar ke atas mejanya “segera singkirkan mereka” lanjutnya

“baik tuan” ucap para anak buah tuan choi kemudian meninggalkan ruangannya

Yesung berjalan memisahkan diri dari tim nya, ia berjalan memasuki lift dan menekan tombol lantai 3 pada mansion milik tuannya itu

*tok tok tok* jimin mengetuk pintu salah satu kamar dalam mansion itu sambil sesekali menoleh ke segala arah dengan tatapan waspadanya

“masuklah” ucap seseorang dari dalam, pintu itupun terbuka secara otomatis

“apa aku mengganggu?” tanya yesung setelah memasuki kamar, ia melihat sooyoung sedang duduk di atas kursi di balkon

“anniyo, aku menunggu kabar darimu, bagaimana ayahku?”

“aku baru saja menemuinya dan memberitahu jika yuri sudah dibebaskan dari penjara, apa nuna juga sudah tahu?”

“tentu saja, apa ayahku menanyakan tentang adiknya?”

“nne, dan aku telah memberikan berkas identitas tentang adiknya dari yang nuna berikan kemarin, tuan choi meminta untuk segera membunuhnya, setelah meninggalkan kantor polisi yuri bersama seorang wanita mnuju rumah sakit dan menemui seseorang, namun setelah keluar mereka menjadi bertiga dan sampai sekarang mereka berada di sebuah apartemen”

“apa kau tahu alamatnya?”

“nne, ini” ucap yesung mengambil sebuah kertas kecil berisikan alamat sebuah apartemen dan memberikannya pada sooyoung

“sudah ada anak buah appa yang membuntuti mereka?’

“nne, jisung taeyang dan dragon sudah berada disana membuntutinya”

“hmm… ada lagi?”

“hanya itu nuna”

“baiklah, gomawo yesung-ah aku harus segera pergi dan jangan beri tahu ayahku tentang ini”

“nne nuna” ucap yesung menundukkan kepalanya memberi hormat pada majikannya itu

…………………………

Yuri berjalan memasuki kamar tiffany, ia melihat yoona sedang duduk terdiam memandang keluar jendela

“sepertinya yedongsaengku sedang bersedih” ucap yuri menghampiri yoona dan ikut duduk disampingnya

“aku sedang tak bersemangat” ucap yoona menatap yuri sekilas kemudian kembali memangku wajahnya dengan kedua tangannya

“wae..? apa ini ada hubungannya dengan jessica?” goda yuri membuat yoona menatapnya begitu nama yeoja itu disebut

“jadi itu benar?” ucap yuri kembali karena yoona hanya terdiam “kau selalu terlihat marah jika aku membicarakan jessica kemarin”

“hmm… sepertinya aku menyukainya” ucap yoona menundukkan wajahnya

“mwo? woah.. daebak” ucap yuri menepuk nepukkan kedua tangannya “aigoo.. yedongsaeng unnie sudah mulai dewasa sekarang” lanjutnya sambil mengusap rambut yoona

“tapi aku sudah membuatnya marah”

“huh? wae…?”

“aku mencium bibirnya”

“mm… mmwo?” ucap yuri terkejut “bagaimana bisa? tapi kau sudah mengungkapkannya kan?”

“aku sengaja melakukan itu, aku juga sudah mengungkapkannya beberapa kali tapi dia sepertinya tak mempercayaiku”

“pasti karena kau mengatakannya sambil bercanda kan? -____- ”¬†

“anniyo aku selalu serius mengatakannya, tapi tak apalah seperti ini, dia sudah pergi jauh membawa kemarahannya terhadapku”

“wae..? mengapa kau membuatnya marah? yah! ingat pesanku, jangan pernah menyakiti hati seseong apalagi dia seorang yeoja”

“dia sudah memiliki kekasih dan namja itu mengatakan akan menikahinya”

“hemm… rumit sekali, tapi apa kau yakin jessica tak menyukaimu?”

“molla… yang ku tahu dia selalu menolakku” ucap yoona kembali sendu

“jangan sedih, kau ini adikku yang paling cantik sekaligus tampan, pasti akan banyak yang mau padamu” ucap yuri merangkul pundak yoona, yoona pun tersenyum menatap unnienya itu meskipun senyumnya dipaksakan, karena bagaimanapun juga yoona tetap masih mencintai jessica

“hey kenapa kalian belum tidur?” ucap tiffany yang baru saja selesai mandi

“pembicaraan seorang adik dan kakak hehehe, kau lekaslah tidur fany-ah kau pasti lelah, kau juga yoong” ucap yuri segera berdiri dan memakai kembali jaketnya

“huh? kau mau kemana yul?” tanya tiffany heran

“aku harus ke rumah, mr. lee pasti mencariku”

“jadi kau tak menginap disini?” ucap tiffany terlihat sedikit kecewa

“nne.. mianhae.. tapi aku akan selalu berkunjung kemari, tolong jaga adikku ya” ucap yuri mengusap usap kepala tiffany membuat kedua pipi yeoja dihadapannya itu mulai memerah

“n.. nne t.. ttentu saja” ucap tiffany gugup

“kalau begitu aku pergi dulu” ucap yuri memeluk yoona “jaga kesehatanmu, jangan berlatih dulu untuk sementara waktu ini, call?” lanjutnya

“call” ucap yoona setuju

yuri pun diantar tiffany menuju pintu keluar

“aku pulang dulu” ucap yuri membalikkan badannya menghadap tiffany setelah tiba di pintu apartemen tiffany

“nne, jaga dirimu baik baik yul.. dan jika ayahmu jahat tidurlah disini”

“hahaha… baiklah” ucap yuri tertawa melihat kepolosan sahabat yang dicintainya itu, iapun memeluk tiffany kemudian kembali membalikkan badannya berjalan meninggalkan apartemen

tiffany menundukkan wajahnya dan memasukkan tangan kanannya kedalam saku bathrobe yang dikenakannya, kemudian ia mengeluarkan dua lembar tiket sebuah pertunjukkan teater, tiket itu ia dapatkan saat membuka kotak phone case yang diberikan oleh jessica bersama sebuah catatan kecil

“tadinya aku membeli 2 lembar tiket ini untuk kita menonton bersama untuk merayakan malam ulang tahunmu, ku pastikan pertunjukannya sangat bagus, tapi sayangnya aku harus segera pergi, so’ pergilah berkencan bersama yuri, dan segeralah ungkapkan perasaanmu padanya, ppali!! atau aku akan mengambil yul darimu” ¬†

tiffany kembali tersenyum mengingat apa yang jessica tuliskan pada catatan itu, iapun segera mengangkat wajahnya dan berlari menyusul yuri yang masih berdiri menunggu pintu lift terbuka

“yul chankaman!” teriak tiffany membuat yuri menoleh kearahnya

“nne? ada apa fany-ah?” ucap yuri berjalan menghampiri tiffany yang belum sampai padanya

“apa minggu depan kau akan sibuk?”

“tentu saja tidak, minggu depan adalah hari ulang tahunmu, aku akan mengosongkan semua kegiatanku agar bisa bersamamu”

“ah kebetulan, kajja kita menonton pertunjukkan ini” ucap tiffany memperlihatkan sebuah poster kecil bersama 2 tiket pertunjukkan itu

“huh? apa ini?”

“pertunjukkan teater, ini terlihat seru”

“hmm…”

“wae? apa kau tak menyukainya?” ucap tiffany terlihat sedih melihat ekspresi yuri

“anniyo, hanya saja kau kan yang akan berulang tahun, seharusnya aku yang mengajakmu keluar fany-ah”

“yaish aku pikir apa, gwaenchanna… lagipula ini dari jessica, tadinya dia membelikan 2 tiket ini untukku dan untuknya tapi dia lebih dulu pergi”

“kenapa kau tak mengajak taeyeon?” tanya yuri membuat tiffany tersentak, hatinya kembali merasa tak enak mendengar nama mantan kekasihnya itu disebut yuri memang belum mengetahuinya

“an.. anniyo.. aku sedang ingin pergi bersamamu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu yul”

“ah… jadi kau merindukanku? hahaha baiklah… tapi…”

“tapi apa?”

“karena ini kencan pertama kita setelah sekian lamanya maka kau harus berdandan secantik mungkin”

“hahaha kau tenang saja babo!” ucap tiffany menjitak kepala yuri

saat itupun pintu lift terbuka setelah yuri tekan

“aku harus segera pergi” ucap yuri mengusap kepala tiffany kemudian berjalan memasuki lift

“nne, hati hati yul” ucap tiffany tersenyum memperlihatkan bulan sabit pada kedua matanya membuat yuri kembali terkesima, namun senyuman itu perlahan menghilang setelah pintu lift tertutup

sambil terus tersenyum dengan perasaan bahagia, tiffany berjalan memasuki apartemennya

………………………………………….

setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, jessica akhirnya sampai di USA dan diantarkan tyler ke rumahnya yang ia tinggali bersama adiknya krystal, ia sengaja tak langsung menuju rumah orang tuanya karena ingin beristirahat sejenak terlebih ia masih enggan bertemu kedua orang tuanya saat bersama tyler

begitu tiba, tyler membantu jessica membawakan barang barangnya kedalam rumah jessica

“sepertinya adikmu sedang pergi”

“hemm… sepertinya begitu”

“bagimana jika aku tidur di rumahmu?”

“what? no tyler, kau harus pulang”

“why? bukankah kita sudah biasa?”

“anni… aku sedang merasa sangat lelah”

“hmm… baiklah aku mengerti, kau segerah beristirahat, besok aku akan kembali” ucap tyler mengecup singkat bibir jessica

“hati hati” ucap jessica menutup pintu rumah dan menguncinya. ia terlalu malas berbincang lama dengan kekasihnya itu

Setelah selesai mandi, jessica langsung berbaring diatas tempat tidurnya karena merasa lelah, namun sebelum kedua matanya terpejam ia mengambil ponsel dan mengaktifkannya

jessica tersenyum ketika menerima dan membaca sebuah pesan yang masuk

“aku sudah mengajaknya dan dia mau pergi denganku, aku sedikit kecewa karena dia kembali menyebut nama orang itu, thanks so much tiketnya baby, aku akan segera mengungkapkannya, tiffany jjang!! ^_^ i love you jessie, aku akan selalu merindukanmu” – My Tiffy

Jessica kembali meletakkan ponsel itu diatas meja kamarnya, ia tak berniat membalas pesan dari sahabatnya itu, karena merasa sangat lelah perahan iapun memejamkan matanya dan dalam sekejap dirinya sudah berada di dunia mimpi

……………………………………

Taeyeon baru saja tiba di rumahnya, saat membukakan pintu tiba tiba ponselnya bergetar menerima panggilan, taeyeon mengambil ponsel yang berada di dalam saku jasnya dan mengangkat telepon itu setelah melihat nama yang tertera dilayar panggilan

“yoboseyo, ada apa hyo? kau begadang lagi?”

“taenggu-yaa oddiga?” tanya hyoyeon

“aku baru saja tiba di rumahku, wae?”

“andwae! kau tak boleh masuk! pergilah dari sana”

“mwo? wae..? aku baru saja tiba, aku lelah”

“andwae taenggu yah, kau dalam baha…”

*tut..tutt…tutt….* belum sempat hyoyeon menyelesaikan telepeonnya sudah terputus

saat mendengarkan hyoyeon, tanpa taeyeon sadari tak jauh darinya seseorang baru saja menembakkan sebuah senjata peredam suara kearahnya dan peluru itu menembus kakinya hingga membuat taeyeon terjatuh didepan pintu

“akhh!!!” teriak taeyeon kesakitan, ia melihat ponselnya tergeletak setelah terbanting, sambil menahan sakit pada kakinya taeyeon berusaha meraih ponsel itu namun seseorang sudah berdiri didekat ponsel itu dan menginjak ponsel itu sekuat tenaga hingga hancur, taeyeon terkejut dan mengangkat wajahnya melihat sosok itu namun sayangnya orang yang berdiri didekatnya itu mengenakan penutup kepala sehingga taeyeon tak dapat melihat wajahnya, tiba tiba 2 orang lain datang dan menyerang taeyeon dengan pemukul baseball

*bukkk!!! bukk!!!*

“akhh!!!”

tak henti henti nya ketiga orang itu memukuli dan menendang tubuh taeyeon kemudian menyeretnya kedalam rumah

*brukk!!!* tubuh taeyeon dilempar dengan keadaan terbaring taeyeon hanya bisa terdiam menahan rasa sakitnya sementara darah terus keluar dari kakinya yang terkena tembakan itu

“hancurkan tempat ini” ucap salah satu dari ketiga namja itu

mereka pun segera memasang beberapa bom waktu di setiap sudut ruangan dan dengan segera mereka meninggalkan rumah taeyeon setelah menekan waktu mundur dari bom itu

taeyeon mengangkat wajahnya melihat kearah salah satu bom yang terpasang tak jauh darinya itu, ia melihat sisa waktu yang hanya menyisakan 5 menit 37 detik. dengan bersusah payah ia berusaha bangun agar keluar dari rumahnya sebelum bom bom itu meledak dan menghancurkan tubuhnya, namun sayangnya luka tembakan dan pukulan pukan dari ketiga namja itu membuat tubuhnya sangat lemah hingga ia kembali terjatuh

“sial” gumam taeyeon yang masih terbaring lemah dilantai, wajahnya semakin memucat karena banyaknya darah yang keluar

ia kembali memandang waktu yang tertera pada bom itu yang hanya menyisakan waktu 3 menit  26 detik untuknya.

“apa aku harus berakhir seperti ini?” ucapnya kembali dalam hati, perlahan ia tersenyum memejamkan kedua matanya, saat itu pula air mata taeyeon mengalir seiring mengalirnya waktu yang terus berkurang pada bom bom itu

 

TBC

Nunggu banyak yang baca dan komen baru dilanjut ūüėĀ hehe

We Are Different part 7

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ……………

Setelah mematikan televisi sooyoung berjalan menuju dapur, ia melihat yoona sedang membelakanginya sehingga tidak tahu kehadirannya, ia menghentikan langkahnya memperhatikan yoona yang sedang memotong beberapa gurita yang akan diolahnya perlahan sooyoung mengambil pisau dan menyembunyikannya dibalik punggung, ia kembali berjalan menghampiri yoona dalam diam

‚Äúakhh!!!!!‚Ä̬†teriak yoona

“baboya.. pisau itu terlalu kecil untuk memotong gurita, kkah obati lukamu”¬†ucap sooyoung menggeser yoona yang sedang meniup niup jarinya yang teriris pisau, sooyoungpun menggantikan posisi yoona dan mulai mengiris iris daging gurita itu

“gurita gurita itu tak ingin diam, hati hati dengan jarimu”¬†ucap yoona

“tenang saja, aku tak sepertimu”¬†ucap sooyoung yang dengan mudah memotong daging gurita itu kedalam beberapa bagian

“woah daebak”¬†ucap yoona takjub

“mengapa kau masih disini, lekas obati jarimu”

“ini hanya luka kecil”¬†ucap yoona menunjukkan luka di jari telunjuknya yang masih mengeluarkan darah itu

Sooyoung menghentikan kegiatannya dan menaruh kedua tangannya diatas pinggang sambil memandang yoona

“arraso… kau seperti eommaku saja”¬†ucap yoona mempoutkan bibirnya dan mulai menyalakan kran membersihkan lukanya

“jadi kapan kau mulai berlatih?”¬†tanya sooyoung

“molla, amber belum menghubungiku”

“kau benar benar ingin melakukannya?”

“nne, aku tidak mungkin terus bergantung pada unnieku, aku tahu bahaya besar sedang mengikuti kehidupan kami”¬†ucap yoona sedikit menundukkan kepalanya memikirkan apa yang telah didengarnya beberapa hari lalu di kantor polisi

Flashback

Setelah yoona meninggalkan amber dan yuri, yoona tidak langsung pergi,ia bersembunyi dibalik dinding ruangan itu untuk mendengarkan pembicaraan dua yeoja itu, ia tahu itu pembicaraan yang serius

‚Äújadi kau berhasil menangkap para pengintai itu? siapa mereka?‚Ä̬†tanya yuri kembali serius, amber menegakkan badannya dan mulai mencondongkan tubuhnya mendekati yuri

‚Äú2 diantaranya mati tertembak, untungnya masih ada 1 orang yang hidup, mereka anak buah dari tuan choi‚ÄĚ

‚Äúhmm‚Ķ‚ÄĚ

‚Äúeh? kau tak terkejut?‚ÄĚ

‚Äúaku sudah menduganya, sebenarnya aku sudah tahu jika tuan choi pemilik rumah sakit itu, aku berpikir jika tuan choi berniat membunuhku dan yoona‚ÄĚ

‚Äúkarena itu untuk saat ini mianhae aku tak bisa membantumu keluar dari sini‚ÄĚ

“Tapi masih ada hal yang ganjal”¬†ucap yuri terlihat sedang berpikir

“Ganjal? Maksudmu?”

“Seharusnya aku yang tertembak padahal posisiku sangat mudah untuk dibidik, tapi justru tuan kim yang tertembak dan lagi….”¬†ucap yuri mengingat kembali kejadian itu¬†“posisi peluru yang menembus punggung tuan kim bukan posisi untuk membunuh, kalaupun tuan kim yang menjadi sasaran harusnya pada kepalanya atau bagian jantungnya”

“Jadi maksudmu pengintai itu melakukan kesalahan?”

“Aku rasa disana tidak hanya ada satu orang, aku mendengar sedikit keributan dan saat aku menyerang mereka aku yakin salah satu dari mereka terkena tembakanku, karena aku mendengar teriakannya dan dia terjatuh, lalu mendengar suara langkah kaki memasuki hutan”

“Apa menurutmu seseorang mencoba menggagalkan aksi penembakan itu?”

“Entahlah aku masih belum yakin”

“Apa kau sempat melihat wajahnya?”

“Sayangnya tidak”

“Daebak”

“Nne?”¬†gumam yuri tak mengerti

“Pendengaranmu sangat tajam, itulah mengapa kau masih hidup sampai sekarang”¬†ucap amber takjub

“Hahaha yah, aku bersyukur akan hal ini”

“Mianhae, aku belum bisa melakukan apa apa sekarang”

‚Äúgwaenchanna, aku hanya akan terus memintamu menjaga adikku‚ÄĚ

‚Äúbaiklah‚ÄĚ

‚Äúdan latihlah dia bela diri‚ÄĚ

‚Äúeh?? bukankah dulu kau melarangnya?‚ÄĚ

‚Äúnne, tapi setelah kejadian ini pasti bahaya akan selalu mengintainya‚ÄĚ

‚Äúarra, ah apa dia tahu tentang ayahmu?‚ÄĚ

‚Äúanniyo, aku masih belum bisa memberitahunya, aku takut akan melukai jantungnya‚ÄĚ

‚Äúbaiklah, kalau begitu aku harus segera pergi mengawasi adikmu, aku akan segera melatihnya nanti‚ÄĚ

‚Äúgomawo‚Ä̬†ucap yuri memeluk amber

Setelah mendengar itu yoona langsung pergi, beruntung yuri dan amber tidak mengetahui keberadaannya. dan semenjak itu yoona selalu memikirkan apa yang dikatakan unnienya itu

Flashback end

cukup lama terdiam, pandangan yoona tertuju pada lengan sooyoung yang terluka

“Kenapa kau diam saja? Kau membuang buang air”¬†ucap sooyoung menyadarkan yoona, ia pun segera mematikan kran air yang sedari tadi terus menyala

“Eh mianhae…”¬†ucap yoona

“Untuk saat ini aku mungkin akan jarang berada di restoran”

“Huh? Wae?”

“Aku diminta membantu unnieku mengurus perusahaannya, jadi kau harus bisa mengurus restoran , lagipula kekasihmu juga berada disana”

“Begitu ya, hahaha dia bukan kekasihku bodoh”

“Tapi kau menyukainya”

“Yaish… Bagaimana bisa kau tahu?”

“Yah, wajah bodoh sepertimu sangat mudah ditebak”

“Hahaha menyebalkan”

“Kajja ,makanan sudah siap”¬†ucap sooyoung menata makanan itu keatas nampan ,yoonapun membantu membawakannya dan keduanya menikmati makan malam bersama

……………………………..

Keesokan harinya

*ting tong* pagi pagi sekali bel pintu apartemen jessica berbunyi

Jessica yang sudah terbangun dan sedang menyiapkan sarapan pun segera berlari dengan semangat membuka pintu apartemennya

“Yah, kau sekarang jadi ra….”¬†ucap jessica saat membuka pintu namun ucapannya terhenti saat bukan yoona yang berada dibalik pintu itu¬†“tyler?”¬†ucap jessica kembali menatap wajah pria dihadapannya itu

“Baby, ternyata kau memang disini”¬†ucap tyler langsung memeluk jessica

Dengan cepat jessica melepaskan pelukan tyler

“Ada apa kau kemari?”

“Baby, selama ini aku selalu mencarimu”

“Kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi, tolong pergi dari hadapanku”¬†ucap jessica mulai emosi ,ia menutup pintu apartemennya namun tyler menahan

“Baby, dengarkan penjelasanku dulu ,ini tak seperti yang kau pikirkan”

“Penjelasan apa lagi? Kau sendiri yang melepaskanku! Kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan dengan wanita didalam kantormu itu, huh?!!”¬†ucap jessica mulai menitikkan air matanya

“Baby, aku tak ada hubungan apa apa dengannya”

“Cukup! Aku muak mendengar alasan bodohmu itu!”¬†teriak jessica mendorong keras pintunya namun tyler sekuat tenaga menahannya

“Dia sahabatku! Dia hanya mencoba menenangkanku ketika aku down!”¬†teriak tyler membuat jessica melepaskan pintu itu

“Saat itu aku tak berniat melepaskanmu, saat itu pikiranku benar benar kacau dengan keadaan perusahaanku yang sedang tak baik, aku mencoba menghubungimu karena aku membutuhkanmu untuk menenangkanku, tapi berkali kali kamu menolaknya dan aku mengetahui kau sedang merayakan pesta bersama teman temanmu”¬†ucap tyler kembali membuat jessica terdiam dalam tangisnya, kini emosinya mulai memudar

“saat tahu hal itu aku sangat kacau, disaat aku terjatuh tak ada satupun yang mengerti, maafkan aku saat itu aku dalam keadaan emosi dan putus asa, aku benar benar minta maaf atas apa yang telah aku ucapkan, aku sangat menyesal”

Jessica kembali menangis mendengar penjelasan dari tyler

Melihat jessica terdiam tyler kembali memeluknya

“Aku benar benar menyesal dengan keputusanku, aku selalu mencarimu kemana pun dan akhirnya aku bisa menemukanmu, aku mohon kembalilah padaku, aku benar benar sangat mencintaimu”¬†ucap tyler

Saat itu juga yoona membalikkan badannya dibalik dinding tak jauh dari mereka, beberapa saat yang lalu saat tiba didepan apartemen, yoona bertemu dengan seorang pria yang tampak kebingungan sedang mencoba menghubungi seseorang, namun pria itu segera menaruh ponsel kedalam sakunya saat melihat yoona berjalan melewatinya

“Hey.. Excuse me”¬†ucap pria itu

“Ya?”¬†gumam yoona menghentikan langkahnya

“Apa kau penghuni apartemen disini?”

“Anniyo, aku ingin menemui temanku”

“Ah apa kau mengenal seorang perempuan bernama jessica jung?”

“Jessica jung?”¬†ucap yoona tampak heran

“dia kekasihku yang sudah lumayan lama pergi dari USA, selama ini aku selalu mencarinya, aku mendapatkan kabar dari adiknya jika dia tinggal di apartemen ini”

Yoona terdiam mendengarnya, apalagi setelah pria ini mengatakan jika dia kekasih dari jessica jung, pria yang diceritakan telah meninggalkan jessica karena perempuan lain, yoona merasa geram namun ia sendiri bingung mengapa pria ini mencari jessica dan bahkan mencarinya sampai seoul.

“Ya, dia salah satu penghuni apartemen ini”¬†ucap yoona setelah cukup lama terdiam

“Benarkah? Ah thanks god!”¬†ucap pria itu tampak senang¬†“kalau begitu, apakah kau tahu nomor kamarnya?”¬†lanjutnya

“nomor 418”¬†ucap yoona

“Ah thanks so much! Aku beruntung bertemu denganmu”¬†ucap pria itu menggegam kedua tangan yoona

Pria itu pun berjalan memasuki gedung apartemen menuju kamar jessica, karena khawatir yoona mengikuti pria itu dari belakang

namun setelah keluar dari lift ia memperhatikan mereka cukup lama, awalnya ia akan menghampiri ketika melihat jessica sedang berusaha menutup pintu yang ditahan oleh pria bernama tyler itu, namun setelah mendengarkan penjelasan tyler yoona menghentikan niatnya dan ia melihat jessica berpelukan bersama pria itu, tanpa terasa itu membuat hati yoona terluka. ia pun segera pergi meninggalkan apartemen

…………………………………..

*tap tap tap*

suara langkah seseorang berlari membuat kedua mata yuri terbuka, ia melihat seseorang membukakan pintu sel dengan nafas yang tak teratur seusai berlari menuju tempatnya

‚Äúyy‚Ķ yyul‚Ķ!! huh huh huh huh!!‚ÄĚ

‚Äúnne? apa yang terjadi?‚Ä̬†tanya yuri melihat wajah vivian yang memucat

“ayahmu yul, kajja ikut aku”¬†ucap vivian segera membawa yuri keluar dan memasuki mobil menuju rumah sakit

“ayahku? ada apa dengan tuan kim?”¬†tanya yuri masih tak mengerti

“ayahmu mengalami kritis kembali”¬†¬†ucap vivian dengan fokus mengendarai mobil yang dibawanya

Sesampainya di rumah sakit kedua yeoja itu segera berlari menuju ruang dimana tuan kim di rawat, begitu tiba sudah banyak orang orang dan polisi yang berdiri diluar ruangan, semuanya tampak begitu serius

“sir, bagaimana sekarang? apa yang terjadi?”¬†ucap vivian kepada atasannya yang sudah berada disana

“kenapa dia ada disini?”¬†tanya sersan yang menggantikan posisi taeyeon untuk sementara itu

“aku yang membawanya, bagaimana pun juga dia berhak tahu”

“sayangnya kalian terlambat”¬†ucap sersan itu menundukkan kepalanya

“nne? apa yang terjadi?”¬†tanya vivian

tanpa pikir panjang yuri berjalan dan membukakan pintu ruangan itu, ia tampak terkejut saat  mlihat taeyeon sedang menangis sambil memeluk tuan kim yang terbaring dengan kedua mata yang tertutup, semua alat yang terpasang pada tubuhnya telah dilepas

“tuan kim tidak dapat tertolong”¬†ucap sersan itu

Yuri terdiam mematung atas apa yang telah dilihatnya, air matanya berhasil lolos membasahi pipinya, entah mengapa hatinya begitu sakit menerima kenyataan itu jika tuan kim yang ternyata ayah kandungnya sudah tidak ada di dunia ini tanpa sempat keduanya berbincang

Yuri kembali berjalan mundur, ia sempat melihat taeyeon yang melihat kehadirannya namun taeyeon tak berkata apa apa ataupun tak terlihat emosi saat melihat kehadiran yuri

“yul, kajja”¬†ucap vivian menarik lengan yuri dan dibawanya ke rooftop rumah sakit

“mianhae aku terlambat membawamu”¬†ucap vivian menundukkan kepalanya

saat itu juga tubuh yuri roboh dan menangis sejadi jadinya sambil terduduk

“appa…”¬†ucap yuri dalam tangisnya¬†“appa… wae…?”¬†ucap yuri kembali

Sementara vivian terdiam menundukkan kepalanya

……………………………………..

Setelah beberapa hari tak masuk kini jessica kembali bekerja di restoran, namun ia merasa heran ketika tak melihat yoona maupun sooyoung didalam sana, biasanya ia selalu dijemput yeoja yang selalu mengganggunya bahkan kemarin pun yoona sama sekali tak menemuinya

“Luna-yaa apa kau tak melihat yoona dan sooyoung?”¬†

“Sooyoung unnie untuk beberapa hari ini tak bisa mengunjungi restoran, sedangkan yoong unnie sepertinya hari ini tak akan bekerja ,kau juga sudah beberapa hari ini tak masuk”

“Ah ya ada beberapa hal yang harus aku urus, Huh yoona? Why?”

“Molla.. kemarin wajahnya tampak buruk, dia juga hanya bekerja setengah hari”

“Ah begitu ya, kalau begitu aku ganti pakaian dulu, gomawo luna-yaa”¬†ucap jessica kemudian berjalan memasuki ruang ganti¬†“Aneh sekali, apa mungkin dia sedang bertengkar lagi dengan yuri?”¬†gumamnya

………………………….

“Fany unnie?”¬†panggil yoona saat melihat yeoja yang dikenalnya sedang berjalan dari arah halte menuju sebuah gedung rumah duka dimana acara penghormatan terakhir kematian tuan kim

“Oh hey yoong, kau juga akan mendatangi penghomatan terakhir tuan kim?”¬†tanya tiffany segera menghampiri yoona dan keduanya kembali berjalan beriringan

“Nne aku ingin menemani yul unnie, kenapa unnie berangkat sendiri? Tak bersama taeyeon unnie?”

“Ah anni..y..”¬†ucap tiffany namun tak dilanjutkannya begitu melihat kearah seseorang yang tak jauh dihadapannya

Ia melihat taeyeon yang sedang berdiri didepan peti jenazah ayahnya. Tiffany menghentikan langkahnya di bagian barisan belakang para pengunjung yang sedang memberikan penghormatan terakhir, suasana didalam sangat ramai oleh para pendatang yang menghadiri acara itu

“Wae..?”¬†ucap yoona ikut melihat kearah yang dilihat tiffany

Yoona terkejut dan membulatkan kedua matanya ketika melihat taeyeon yang sedang berpelukan seorang yeoja yang dikenalnya¬†“taeyeon unnie? Sunny unnie?”¬†gumam yoona kemudian kembali memandang tiffany

“Hubungan kami sudah berakhir”¬†ucap tiffany tersenyum miris memandang yoona, kedua matanya sudah terlihat berkaca kaca karena bagaimanapun juga melihat pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit

“Gwaenchanna…”¬†ucap yoona merangkul dan menepuk pundak tiffany

“Nne, aku akan baik baik saja… Gomawo yoong”¬†ucap tiffany kembali tersenyum

“Sir, tersangka mendatangi tempat ini”¬†ucap salah seorang polisi menghampiri dan memberitahukan atasannya

Suara polisi itu cukup keras membuat orang orang didalam ruangan itu sempat ramai membicarakan kasus itu, mereka tampak geram karena yang mereka tahu jika yuri benar benar tersangka dibalik penembakkan yang terjadi pada tuan kim

Tak berapa lama yoona dan tiffany melihat yeoja yang dikenalnya memakai pakaian serba hitam dengan kedua tangan yang di borgol memasuki ruangan itu, awalnya yoona tampak senang melihat unnie nya namun ia terkejut saat melihat seorang namja menghampiri yuri dan memukulnya

“Yah!! Dasar pembunuh!”¬†teriak namja itu mencoba terus menyerang yuri namun para polisi dengan segera menahan namja itu, tidak hanya namja yang menyerang yuri, banyak para pengunjung pun yang menyoraki dan memaki yuri membuat vivian kembali membawa yuri keluar, awalnya yuri menolak namun karena melihat situasi akhirnya yuri kembali meninggalkan ruangan dan memasuki mobil

Saat itu juga yoona dan tiffany mengikutinya

“Unnie! Chankkaman!”¬†teriak yoona begitu keempat yeoja itu tiba di base ment

“Huh? Yoong, kau juga datang kemari”¬†ucap vivian saat menoleh kebelakang

“Nne, aku tahu jika yul akan kemari, bisakah kau beri waktu untukku dan unnieku?”

“Baiklah, kalian bisa berbicara didalam van itu, disana cukup luas”¬†ucap vivian melepaskan geganggaman tangannya pada lengan yuri

“Kajja unnie”¬†ucap yoona menggandeng lengan yuri dan memasuki sebuah van hitam milik vivian

Vivian pun membawa tiffany sedikit menjauhi mereka

Begitu duduk ,yoona memandang yuri yang terus terdiam sambil menunduk

“Kenapa kau tak menepisnya?”¬†ucap yoona sambil mengusapkan ibu jarinya pada darah yang keluar dari ujung bibir yuri akibat pukulan namja itu

“Aku… “¬†ucap yuri menahan tangisnya

Yoonapun memeluk yuri

“Arra, memang menyakitkan.. Kau boleh menangis”¬†ucap yoona

Tanpa menunggu lama tubuh yuri pun bergetar menumpahkan tangisannya dipelukan yoona

“Ini memang tak adil ketika 24 tahun kita tak mengetahui sosok seorang ayah, dan ketika dia ada justru malah pergi meninggalkan kita”¬†ucap yoona mengusap usap punggung yuri

Yuri terkejut mendengar apa yang dikatakan adiknya itu, iapun segera melepaskan pelukannya

“Yoong, kau sudah tahu?”

“Nne… Aku tak sengaja mendengarnya saat kau berbicara dengan amber unnie”¬†ucap yoona

“Yoong mianhae, bukan maksudku tak ingin memberitahumu”¬†sesal yuri

“Gwaenchanna, awalnya memang aku terkejut saat mengetahui korban itu adalah ayah kandung kita , aku tahu kau tak akan membunuh sosok yang selalu kau kagumi sejak kecil meskipun kita tak pernah tahu sosoknya”¬†ucap yoona merapikan poni poni rambut yuri yang terlihat berantakan¬†“aku diberitahu amber jika appa meninggal, aku langsung segera kesini karena aku tahu kau pasti akan datang”¬†lanjutnya

Yuri kembali menitikkan air matanya memandang yoona

“Aku belum sempat menanyakannya kenapa dia meninggalkan eomma padahal eomma selalu menceritakan hal hal yang bagus tentangnya padaku, bahkan eomma selalu memberitahuku jika aku tak boleh memebencinya”¬†ucap yuri¬†“bahkan aku belum sempat mengenalkanmu padanya”¬†lanjutnya sambil menundukkan kepala

“Gwaenchanna, mianhae aku sebenarnya tak peduli tuan kim appaku atau bukan, karena bagiku sosok ayah yang ku kenal sejak kecil adalah kau, sejak kecil kau selalu menjadi tulang punggung membantu eomma untuk kita tetap bertahan hidup bahkan setelah eomma pergi pun kau tetap menjadi sosok orang tua bagiku”¬†ucap yoona kembali memeluk yuri

Ingatan yoona kembali pada beberapa tahun silam dimana dirinya sedang didalam kantor kepala sekolah bersama kedua orang tua dari musuhnya, hara

Yoona dan hara telah terlibat keributan dilapangan basket saat jam olahraga berlangsung sehingga kedua orang tua masing masing baik yoona maupun hara dipanggil oleh kepala sekolah, kedua orang tua hara telah hadir kecuali yoona

“Yah, aku tak memiliki banyak waktu! Mana orang tuamu! Kepala sekolah, beri saja dia hukuman”¬†ucap ayah hara yang tampak geram

“Mwo? Enak saja kau bicara, aku sudah sampai!”¬†ucap yuri yang sudah berdiri didepan pintu

Yoona tersenyum saat melihat unnie nya itu

“Yah, siapa kau huh?”¬†ucap ayah hara sambil menunjuk yuri

“Em.. Dia perwakilan dari orang tua yoona”¬†ucap kepala sekolah

“Mwo? Yah, jangan bercanda! Sesibuk apa orang tuanya huh?”¬†ucap ayah hara meninggikan suaranya

“Aku memang orang tuanya! Wae..? Apa kau takut huh?”¬†¬†ucap yuri tak mau kalah

“Tuan, mianhae.. Kedua orang tua dari siswa ini memang sudah tidak ada ,jadi hanya yuri unnie nya yang bertanggung jawab”¬†ucap kepala sekolah kembali

“Huh pantas kelakuannya seperti itu, karena tak pernah mendapatkan didikan orang tua”

“Yah ahjushi! Justru anakmu yang kurang mendapatkan didikan darimu, lihat saja wajahnya lebih banyak terluka dibanding adikku, sudah jelas dia yang membully adikku, adikku hanya ingin mempertahankan diri”

“Mwo? Yah..!”¬†

“Wae…? Ahjushi pikir aku tak dapat membuktikannya, pak kepala sekolah bisa menujukkan cctv jika mau, aku berani dikeluarkan dari sekolah ini jika dugaanku salah”¬†ucap yuri memotong pembicaran ayah hara¬†“kajja yoong”¬†ucap yuri kembali sambil menarik tangan yoona dan menundukkan badannya pada kepala sekolah sebelum mereka meninggalkan ruangan

“Mwo??? Yah! Anak kurang ajar”¬†teriak ayah hara menunjuk tunjuk yoona dan yuri yang sudah keluar dari ruangan

“Sudah sudah tuan, dilihat dari rekaman cctv itu memang benar..”

“Jadi kau ingin menghukum anakku? Kau berani menghukum anak dari perusahaan YJ group dibanding 2 anak tanpa orang tua itu?”

“Emm.. Mianhae tuan, sebenarnya kwon bersaudara sudah diangkat menjadi anak dari tuan lee, aku tak bisa memberitahumu tadi karena mereka tak ingin orang orang tahu”

“M..mmwo? Lee dari bourbound group?”¬†ucap ayah hara tampak terkejut dengan wajah yang memucat

“Nne tuan”¬†ucap kepala sekolah

Setelah meninggalkan ruangan kepala sekolah yuri membawa yoona ke kantin sekolah

“Apa kau terluka?”¬†tanya yuri memeriksa wajah yoona, ia terlihat khawatir karena yoona tak bisa berkelahi

“Anniyo, saat hara membullyku dengan keras aku melemparkan bola basket yang ku genggam ke wajahnya, saat dia ingin membalas untungnya sonsaengnim tiba tepat waktu, hara sudah menaikkan kursi untuk memukulku, hampir saja”

“Ah syukurlah”¬†ucap yuri mengusap kepala yoona

“Aku pikir kau akan memarahiku”

“Mwo? Anniyo, untuk apa aku memarahimu, seharusnya tadi aku tendang wajah ahjhusi itu yang sudah berani memakimu”¬†ucap yuri yang terlihat kesal

“Hahaha andwae, nanti kau mendapat hukuman”¬†ucap yoona tertawa

“Duduklah, kau ingin minum apa? Akan ku pesankan”¬†ucap yuri

“Tapi unnie inikan bukan waktu istirahat”

“Kau tenang saja, lagipula salah mereka sendiri yang telah menyita waktu, lagipula kalaupun memasuki kelas kita pasti akan dimarahi guru”

“Tapi kenapa kau bisa tahu jika hara yang memulai duluan”

“Ah.. Itu, tadi saat berjalan di koridor tiffany memanggilku dan memberitahuku jika hara memang selalu membully orang orang, sebenarnya aku hanya berbicara asal asalan saat meminta kepala sekolah untuk mengecek cctv, tapi untunglah ucapanku benar hahaha”¬†ucap yuri tertawa bangga

“Yaish… Aku ingin jus jeruk”¬†

“Baiklah ,tunggu disini”¬†ucap yuri meninggalkan yoona untuk memesankan minuman

Yoona tersenyum memandang punggung yuri yang berjalan menjauh

Flashback end

“Harusnya aku tendang wajah ahjushi yang berani memukulmu itu”¬†ucap yoona menirukan apa yang yuri katakan dulu

Yuri sedikit tertawa mendengarnya, kini ia sudah tak lagi menangis

“Andwae… Nanti kau akan dihukum kepala sekolah”¬†ucap yuri menanggapinya

Keduanya kini tertawa dan melepaskan pelukan

“Kau harus segera keluar dari sel, kita harus segera membawa para pelaku menggantikan posisimu”

“Baiklah, tapi… Apa kau masih selalu bersama sooyoung?”

“Kau tenang saja”¬†ucap yoona tersenyum memandang yuri

“Jaga dirimu baik baik yoong”¬†ucap yuri

…….

Sementara diluar, tiffany dan vivian berdiri menunggu yuri dan yoona

Kedua yeoja itu sedari tadi tampak terdiam dengan kesibukan masing masing

Tiffany yang sibuk diam memainkan kakinya sedangkan vivian yang sibuk mengunyah permen karet, keduanya sesekali saling melirik satu sama lain hingga kini tatapan keduanya bertemu, tiffany langsung menundukkan kepalanya

“Ah ya, aku baru sadar kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau bersama taeyeon?”¬†ucap vivian memulai percakapan

“Anniyo, kami sudah berpisah..”¬†ucap tiffany

“Hmm… Pantas”¬†ucap vivian mengangguk anggukkan kepalanya

“Apa selama didalam sel yuri hidup dengan baik?”

“Kenapa kau tak tanyakan langsung padanya?”¬†ucap vivian

“Anniyo, dia selalu menutupi keadannya karena tak ingin membuatku khawatir”

“Ah… Begitu ya, nne dia hidup dengan baik, makan minum dan mandi sesuai jadwal”

“Syukurlah, gomawo telah menjaga yuri dengan baik, kalau begitu aku permisi pergi lebih dulu, tolong sampaikan pada yoona nanti”¬†ucap tiffany mulai melamgkahkan kakinya

“Kapan aku akan mengungkapkannya?”¬†ucap vivian membuat langkah tiffany terhenti

“Nne?”¬†gumam tiffany merasa heran

“Atau mungkin apa yul yang sudah mengungkapkannya?”¬†ucap vivian

“Maksudmu?”¬†tanya tiffany masih belum mengerti

“Aigoo ternyata si bodoh itu memang pengecut”¬†ucap vivian menepuk jidatnya

“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan”

“Yah, sebenarnya aku tak berhak memberitahukan hal ini, tapi aku sudah muak melihat tingkah kalian, haishhh… Yuri menyukaimu!”

“Mwo? Tentu saja, dia sahabatku”¬†ucap tiffany

“Yah, baboya…! Dia mencintaimu! Kau tahukan cinta itu apa?”

“Mwo??? C.. C…cinta? Anniyo, tak mungkin, bukankah kalian…”

“Nne.. Aku minta maaf saat kemarin hanya ingin menggodamu, lagipula aku hanya ingin memastikan apa cinta yuri memang benar benar bertepuk sebelah tangan, tapi setelah melihat tingkahmu aku sudah tahu jika kau juga menyukainya”

Tiffany semakin terkejut mendengarnya, selama ini ia selalu menyangka jika vivian dan yuri kembali bersama, namun yang lebih terkejut ketika ia mengetahui jika yuri mencintainya ternyata bukan karena hanya sekedar sahabat

“Yuri sudah mencintaimu saat pertama mengenalmu di sekolah, tapi saat itu kau justru mencintai taeyeon, jadi dia lebih memilih tetap menjadi sahabatmu sampai sekarang, sadarlah.. Apa perhatiannya padamu kurang dari yang taeyeon berikan, aku rasa lebih dari itu”¬†ucap vivian

“Kenapa kau bisa tahu? Bukankah kau mantan kekasihnya?”

“Hmm… Sedikit memalukan mengatakan hal ini, kami dari kecil sudah bersahabat dan akan tetap bersahabat sampai kapanpun, selama menjelang pesta malam perpisahan yuri memintaku untuk berpura pura menjadi kekasihnya agar saat perpisahan tiba, awalnya aku menolaknya karena kita berbeda sekolah, tapi setelah aku tahu dia menyukai sahabatnya yang bernama tiffany hwang namun sudah memiliki kekasih akhirnya aku menerimanya, kau tahu perasaannya saat malam perpisahan ketika diatas panggung taeyeon menciummu? Ughh…! Hatinya benar benar hancur”

Air mata tiffany berhasil lolos dari kedua pipinya, ia benar benar terkejut mendengar penjelasan dari vivian sampai ia menutup mulut dengan telapak tangannya

Flashback

Tiffany dan yuri sedang bersantai menikmati jam istirahat mereka di sebuah taman dibawah pohon tempat kesukaan mereka

“Ah tak terasa sudah menjelang perpisahan”¬†ucap yuri mengadahkan kepalanya memandang langit yang tampak cerah

“Kau benar, ah sedih sekali”¬†ucap tiffany mempoutkan bibirnya

“Wae?”

“Kau tahu kan malam puncak nanti akan ada undian hukuman bagi yang tidak membawa pasangan harus tampil diatas panggung”

“Kau tenang saja, lagipula siswa tingkat akhir banyak yang tak memiliki pasangan”

“Tapi kau tahu sendiri yul nasibku disini seperti apa, sudah pasti hyomin akan beraksi”

“Kenapa kau terlihat cemas, gwaenchanna… Tunjukkan suara emasmu pada mereka”¬†ucap yuri tersenyum menatap tiffany

“Huh? Memang kau pernah mendengarkan aku berbanyi?”¬†

“Anniyo hehehe”¬†

“Yaish… Aku tak bisa melakukannya”

“Wae…?”

“Aku hanya ingin bernyanyi untuk orion”¬†ucap tiffany dalam hati

“Aku yang akan menjadi pasanganmu saat malam perpisahan nanti”¬†ucap yuri membuat tiffany mengangkat wajahnya kembali

“Huh? Kau lagi?”¬†ucap tiffany

“Hehehe apa boleh buat, kau bilang kau tak ingin bernanyi dihadapan mereka”

“Hemmmm…..”¬†gumam tiffany menopang dagunya sambil memandang kearah lapangan basket, kedua matanya tertuju pada sosok kecil yang sedang bermain basket bersama teman temannya, sosok kecil yang tekenal pandai dalam berbagai mata pelajaran dan menjadi ketua tim basket di sekolahnya, kim taeyeon

“Kau masih mengharapkannya?”¬†tanya yuri yang mengetahui arah tatapan tiffany

“Bahkan sampai tak terasa hingga mendekati perpisahan”¬†ucap tiffany

Yuri terdiam memandang sahabatnya yang masih fokus menatap taeyeon itu

Begitu jam perlajaran berakhir, yuri meminta tiffany dan yoona untuk pulang terlebih dahulu karena alasan ada urusan di sekolah.

Dan setelah melihat yoona dan tiffany keluar dari gedung sekolah, yuri segera berlari menuju rooftop gedung, ia membuka pintu gudang tempat penyimpanan peralatan sekolah yang sudah tak terpakai, kemudian yuri mengambil sebuah peti kayu yang tersimpan didalam sebuah lemari ,ia terdiam memandang peti itu ,ia teringat saat pertama kali membuatkan peti kayu itu pada tiffany

“Igo”¬†ucap yuri memberikan peti kayu yang dibuatnya pada tiffany

“Apa ini?”¬†tanya tiffany heran

“Peti untuk menyimpan surat surat cintamu pada taeyeon, kau bilang kau tak berani memberikannya, bisa menyimpanannya disini, setidaknya saat setelah lulus nanti dan memiliki suami kau bisa membacanya kembali untuk mengenang cinta pertamamu”

“Yah, dia bukan cinta pertamaku”

“Ah terserah saja dia cinta pertamamu atau bukan hahaha”

“Tapi kau benar juga, aku akan menyimpannya”¬†ucap tiffany dengan senyum bulan sabitnya, iapun menyimpan seluruh surat yang selalu ia buat untuk taeyeon didalam peti itu dan disimpannya kedalam lemari didalam gudang

Setelah cukup lama terdiam, yuri mengambil sebuah kunci peti itu, sebenarnya ia tak memberitahu tiffany jika ia juga memiliki kunci serep peti itu dan diam diam selalu membaca isi surat yang tiffany buat untuk taeyeon

Yuri membawa peti itu dan kembali turun, langkahnya menuju lapangan basket dimana masih ada tim basket sekolah yang sedang berlatih, yuri duduk di kursi penonton hingga sesi latihan usai ,yuri pun langsung mencari sosok yang ditunggunya didalam ruang ganti

“Taeyeon-ah!”¬†panggil yuri pada sosok pendek yang sedang berjalan dan berbincang dengan temannya itu

Taeyeonpun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihat kearah yuri

“Ada apa?”¬†ucap taeyeon

“Bisakah kita berbicara sebentar?”

“Untuk? Apa kau mengenalku?”¬†ucap taeyeon menaikkan sebelah alisnya

“Ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan, sebentar saja. Anniyo, aku kwon yuri dari kelas bisnis B”

“Baiklah”¬†ucap taeyeon¬†“kalian duluan saja”¬†lanjutnya pada teman temannya itu hingga didalam ruang ganti hanya ada mereka berdua

“So?”¬†ucap taeyeon

“Sebenarnya, aku hanya ingin memberikan ini”¬†ucap yuri memberikan peti kayu kecil dan sebuah kunci pada taeyeon

Taeyeon kembali menaikkan sebelah alisnya merasa heran

“Itu surat cinta yang dibuat sahabatku untukmu sedari kelas pertama”¬†ucap yuri

“Cih”¬†decak taeyeon tersenyum meremehkan, ia memang sering mendapatkan surat surat cinta bahkan makanan dan coklat dari para penggemarnya di sekolah dan saat itu juga ia selalu menolaknya karena telah memiliki sunny, namun kini ia justru mendapatkan sekotak surat surat yang telah lama dipendam penggemarnya itu

“Setahuku kau sudah berpisah dengan sunny”¬†ucap yuri membuat taeyeon geram dan menjatuhkan keras peti kayu itu beralih mencengkram keras kerah seragam yuri

“Yah! Tau apa kau huh? Jangan ikut campur urusanku!”¬†ucap taeyeon

“Anniyo… Aku tak bermaksud menguntitmu, lagipula hampir seluruh sekolah sudah tahu”¬†ucap yuri namun taeyeon semakin keras mencengkram kerah seragam yuri dan mendorong tubuhnya hingga membentur loker loker

“Jadi kau ingin meremehkanku?”¬†

“Anniyo, tidak sama sekali”¬†ucap yuri membuat taeyeon melepaskan cengkraman pada kerah seragamnya

“Dia tiffany hwang sahabatku, dia benar benar telah lama menyukaimu, aku pastikan dia adalah orang yang sangat tulus, aku sudah sangat lama mengenalnya, aku harap dia benar benar bisa mengobati lukamu”¬†ucap yuri kembali membuat taeyeon terdiam¬†“aku harap kau bisa membuka hatimu”¬†lanjutnya sambil menepuk pundak taeyeon kemudian pergi meninggalkannya

Taeyeon terdiam mencerna kembali apa yang diucapkan oleh yuri, pandangannya kini kembali ke peti kayu yang ia lempar. Taeyeon pun mengambil peti itu dan malam itu satu persatu taeyeon membaca surat yang tiffany buat hingga habis

Satu minggu kemudian

“Yul…. !!”¬†teriak tiffany sambil berlari menghampiri yuri yang sedang berbaring dibawah pohon

“Wae…? Mengganggu tidurku sa…”

Belum sempat yuri melanjutkan bicaranya, tiffany sudah langsung memeluknya

“Yul, hari ini aku bahagia ,sangat bahagia!”¬†ucap tiffany yang terus terusan tersenyum menampakkan bulan sabit pada kedua matanya

“Wae wae wae?? Kau baru saja mendapatkan jackpot eoh?”

“Anniyo… Bukan itu”

“Wae??”

“Taeyeon tadi menemuiku dan mengajakku berbicara hanya berdua! Kau tahu? Dia telah membaca surat surat ku!”¬†ucap tiffany excited

“Waah… Chukkhae, lalu apa yang taeyeon ucapkan padamu?”

“Dia bilang masih sedikit sulit membuka hatinya tapi setelah membaca surat suratku dia akan berusaha membuka hatinya untukku dan memintaku menjadi pasangannya saat pesta perpisahan nanti, kyaaa!!!”¬†teriak tiffany sambil tertawa dan meloncat loncat girang

Yuri pun ikut tertawa dan ikut meloncat, meskipun perasaannya sakit tapi baginya kebahagiaannya tiffany adalah kebahagiannya

“Tapi… Kau dengan siapa nanti?”¬†ucap tiffany dengan raut wajah sedihnya

“Ah ya, aku juga hampir lupa memberitahumu, aku sudah mendapatkan pasangan untuk pesta nanti”

“Yah! Kau jahat sekali tak lekas memberitahuku, untung taeyeon datang tepat waktu”

“Hahaha kau benar”¬†ucap yuri sambil tertawa dipaksakan

“Tapi… Nugu?”

“Emm.. Sebenarnya dia seseorang yang sudah lama aku sukai, tapi dia berbeda sekolah, kau jangan bilang siapa siapa ya”

“Baiklah rahasia terjaga, tapi… Kau sudah memiliki kekasih sekarang”¬†ucap tiffany denga raut wajah yang kembali terlihat sedih

“Wae…?”

“Perhatianmu padaku akan terbagi bahkan mungkin kau akan melupakanku”

“Baboya…! Tentu saja tidak akan, aku akan tetap selalu ada untukmu, kau tenang saja lagipula dia berbeda sekolah hahaha”

“Ah… Kau benar hehehe, hmm… Bahagia sekali sekarang”¬†ucap tiffany membaringkan tubuhnya diatas rumput dengan paha yuri sebagai bantalan kepala nya, perlahan tiffany memejamkan matanya

“Ya… Aku harap kau selalu bahagia”¬†ucap yuri tersenyum memandang wajah tidur tiffany sambil mengusap usap rambut panjangnya itu membuat tiffany kembali tersenyum

Flashback end

“Aku.. Aku pergi dulu, mianhae”¬†ucap tiffany segera berjalan meninggalkan basement setelah mendengarkan apa yang telah diceritakan vivian

“Huh? Apa aku salah bicara?”¬†gumam vivian saat melihat kepergian tiffany

Tak berapa lama setelah tiffany pergi, yoona membuka pintu mobil dan keluar dari sana

“Kau sudah selesai berbicara dengan yul?”

“Nne, huh tiffany unnie oddiga?”

“Ah.. Dia sudah pulang, kau ingin ku antar?”

“Begitu ya, anniyo aku membawa motorku”¬†ucap yoona¬†“unnie, aku pergi dulu, jaga kesehatanmu”¬†lanjutnya pada yuri yang baru saja membuka kaca mobil

“Nne yoong, hwaiting! Jangan terlalu dipaksakan jika kau lelah”

Yoonapun pergi meninggalkan mereka, ia memutuskan untuk mengunjungi restoran sebelum amber menjemputnya untuk memulai latihan

Hanya butuh waktu 15 menit yoona sampai disana, ia melihat papan¬†“close”¬†restoran itu sudah terpasang

Hari ini sangat banyak pengunjung sehingga bahan bahan di restoran cepat habis dan tutup lebih cepat

“Yah, kau kemana saja?”¬†ucap jessica begitu melihat yoona baru saja memasuki restoran

“Menemui unnieku”¬†ucap yoona berjalan melewati jessica tanpa melihat kearahnya

“Benarkah? Lalu bagaimana kabarnya sekarang?”¬†tanya jessica berjalan mengikuti yoona

“Dia baik baik saja”¬†ucap yoona sambil terus berjalan menuju dapur

“Key, aku lapar tolong masakkan makanan untukku”¬†ucap yoona kembali pada key sang koki restoran yang sedang membereskan dapur

“Mianhae nuna, bahan bahan sudah habis aku dan irene baru akan belanja bahan bahan setelah selesai membereskan restoran”¬†ucap key

“Ah begitu ya, yasudah kalau begitu”¬†ucap yoona kembali berjalan meninggalkan dapur

“Kau lapar? Kajja kita makan diluar, aku jadi ketagihan untuk makan di kedai jajangmyeon ahjumma itu”¬†ucap jessica kembali berjalan mengikuti yoona

“Tidak kau saja, lagipula aku tak terlalu lapar”¬†ucap yoona masih terus mengacuhkan jessica dan berjalan keluar dari restoran namun jessica masih terus berjalan mengikutinya

“Chankkaman… Tumben kau berkata seperti itu, biasanya kau sangat shikshin”¬†ucap jessicia

Baru saja yoona membalikkan tubuhnya hendak menghentikan jessica, seorang namja dengan pakaian rapinya menghampiri mereka

“Baby, apa pekerjaanmu sudah selesai?”¬†tanya pria itu membuat yoona dan jessica menoleh

“Tyler? Nne restoran baru saja tutup”¬†ucap jessica

Yoona terkejut saat tiba tiba tyler memeluk jessica tepat dihadapannya

“Aku lapar, ayo kita makan”¬†ucap tyler menggenggam tangan jessica hendak membawanya pergi

“Wait”¬†ucap jessica menghentikan langkahnya ¬†“yoong kau mau kemana?”¬†lanjutnya kembali menghentikan langkah yoona yang hendak meninggalkan mereka

“Aku akan pulang, wae? Kau sudah dijemput kekasihmu”

“Kami mau makan, apa kau mau ikut?”¬†ucap jessica

“Anniyo”¬†ucap yoona menatap jessica yang selalu terlihat indah dimatanya ,namun kini hati nya terasa sakit melihat keindahan itu

Cukup lama keduanya terdiam saling tatap

“Hey.. Bukankah kita pernah bertemu di apartemen kekasihku?”¬†ucap tyler menghampiri kedua yeoja itu

“Ah.. Ya”¬†ucap yoona tersenyum dipaksakan

“Pantas kau mengetahui ruangan apartemen jessica,ternyata kalian sudah saling mengenal, apa kau rekan kerjanya?”¬†ucap taeyeon

“Annieyo, dia pemilik restoran tempatku bekerja”¬†ucap jessica

“Huh? Begitu ya, i’m so sorry aku baru mengetahuinya”

“Gwaenchanna, aku pergi dulu”¬†ucap yoona tersenyum pada jessica dan tyler kemudian berjalan meninggkan restoran

Sementara jessica masih terus memandangi kepergian yoona

“Baby, ayo”¬†ucap tyler menggenggam tangan jessica dan membawanya memasuki mobil

“Jadi kalian sudah pernah bertemu?”¬†tanya jessica setelah mengingat percakapan tyler dengan yoona tadi

“Yea.. Dia yang memberitahuku nomor apartemenmu”¬†jawab tyler yang sesekali melihat ke arah kekasihnya itu

“Apa waktu dia mau menjemputku ya? Ada yang aneh dengan sikapnya hari ini”¬†gumam jessica dalam hati memikirkan yoona

…………………………………

Yoona sudah di jemput amber dan dibawanya ke gedung fitness milik yuri pribadi yang selalu dipakainya untuk berlatih

“Woah… Ini semua milik unnieku?”¬†ucap yoona takjub saat melihat isi ruangan besar itu terlihat lengkap dengan berbagai alat fitnrss bahkan terdapat ring arena tinju

“Tentu saja, kau baru mengetahuinya?”

“Nne, dulu aku pernah diajaknya tapi aku malas hehehe, apa hanya kau dan dia yang memakai ini?”

“Nne.. Aku pernah mengusulkan untuk membuka gedung ini untuk dipakai umum, tapi yul menolaknya, dia lebih suka berlatih dalam sepi”

“Dasar, selalu saja menyendiri”¬†gumam yoona

Hari itu juga yoona mulai berlatih dengan amber sebagai pelatihnya

…………………………….

Beberapa hari kemudian

Di apartemen tiffany

Tiffany terbangun setelah beberapa hari mengurung diri didalam kamarnya , ia terdiam memandang langit langit kamar, pikirannya kembali memikirkan apa yang telah diceritakan oleh vivian tentang perasaan yuri padanya.

Tiffany mengambil ponselnya dan membuka album foto melihat gambar gambar dirinya bersama yuri

*dugdugdug*

“Ah kenapa dengan detak jantungku? Kenapa aku begitu bahagia melihat ini”¬†ucap tiffany dalam hatinya, saat melihat foto yuri yang sedang mencium pipi nya

“Woah cute! Yul, kajja kita selca”¬†ucap tiffany yang sudah siap memegang kamera. Namun yuri tiba tiba mencium pipinya untuk yang pertama kali tepat saat menekan tombol kamera itu¬†

“Yah! Apa yang kau lakukan yaish.. Untung taeyeon sedang tidak ada disini”¬†ucap tiffany mempoutkan bibirnya¬†“bisa bisa kau dihajar olehnya”¬†lanjutnya sementara yuri hanya tertawa kemudian melihat hasil foto itu

“Hahaha gwaenchanna, pipimu sangat menggemaskan aku jadi tak tahan hahaha bagaimana hasilnya?”

“Yaish…”¬†ucap tiffany menepuk keningnya saat melihat hasil foto itu

“Wah bagus sekali! Jangan di hapus ya”

“Shirro.. Aku tak ingin taeyeon marah”¬†ucap tiffany mengotak atik kameranya

“Jebaljuseyo unnie.. Pwweaseee…”¬†ucap yuri memohon dengan suara aegyeo nya

“Sudah, blee”¬†ucap tiffany memberikan merong pada yuri dan menunjukkan layar kamera yang sudah tak memperlihatkan foto mereka

Yuri pun mempoutkan bibirnya kesal

Perlahan tiffany tersenyum mengingat kenangan foto itu, sebenarnya ia tak menghapusnya hanya menekan tombol hide hingga yuri tak mengetahuinya

“Kau tak bekerja?”¬†ucap jessica yang sudah berdiri didepan pintu kamar tiffany

Karena terlalu fokus ,tiffany sampai tak menyadari kehadiran jessica

“Kau mengagetkanku saja jessie, annieyo aku sudah berhenti, duduklah”¬†ucap tiffany mengganti posisinya duduk diatas tempat tidur

Jessicapun menghampiri dan duduk disamping sahabatnya

“Why?”

“Hotel itu milik taeyeon”

“Hmm… Apakah putus hubungan juga harus meninggalkan semuanya yang berhubungan dengannya tiff?”¬†

“Entahlah, hatiku masih begitu sakit”

“Arra.. Aku mengerti, Kau terlihat sangat berantakan”¬†ucap jessica merapikan poni poni tiffany yang sedikit acak acakan itu

Jessica telah mengetahui hubungan taeny telah berakhir, pagi itu setelah tiffany meninggalkan apartemen taeyeon ia langsung menemui jessica dan menumpahkan semua kesedihannya. Jessica sendiri merasa sangat marah melihat sahabat dekatnya tersakiti, namun ia bingung tak bisa berbuat apa apa karena tiffany melarangnya saat akan menemui taeyeon untuk memarahinya. Tiffany sangat membenci pertengkaran

“Jessie, jika sekarang aku mencintai seseorang apa aku terlihat murahan?”

“What? Tentu saja tidak baby, justru itu lebih bagus setidaknya kau bisa melupakan taeyeon, siapa orang itu?”

“Y..yy..yuri”¬†ucap tiffany ragu dan menundukkan kepalanya

“Hemm… Fany-ah, aku sudah tahu kau mencintainya sejak lama”

“Mwo? Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kedua matamu terlihat berbinar setiap kali menceritakan tentangnya, bahkan kau yang tadinya bersedih setelah bertengkar dengan taeyeon langsung ceria dan terlihat bahagia saat yuri menemuimu, I know all of you baby”

“Tadi pagi vivian sahabatnya menceritakan semua tentang perasaan yuri padaku”

“Dan yuri mencintaimu?”¬†ucap jessica membuat tiffany terkejut memandang jessica

“B..bbagaimana kau..”

“Yuri yang memberitahuku”¬†potong jessica¬†“setiap kali kita jalan berempat yuri selalu menceritakan tentangmu, aku pikir dia akan mengungkapkannya padamu secara langsung, ternyata justru kau tahu dari orang lain, huh.. Dasar kwon yul, tapi kau jangan kecewa fany-ah, dia hanya ingin menjaga perasaanmu yang saat itu masih bersama taeyeon”

“Kau sudah tahu perasaanku padanya, apa kau memberitahu itu pada yul?”

“Annieyo.. Aku bukan jembatan penghubung hubungan orang tiff, aku lebih suka melihat perasaan kalian bertemu pada waktunya”¬†ucap jessica tersenyum memandang sahabatnya itu, hatinya ikut bahagia saat mengetahui kedua sahabatnya saling mencintai

“Aku baru menyadari jika aku telah lama menyukainya, perasaanku selalu berbeda saat bersamanya, tapi saat itu aku selalu menepisnya, aku takut persahabatan kita berubah jika aku mengungkapkan perasaanku, lagipula saat itu aku masih belum yakin dan aku tak ingin menyakiti taeyeon”

“Dan sekarang perasaanmu dan perasaan taeyeon sama sama terbebas, sudahlah.. Kalian sudah menemukan orang yang tepat, kini saatnya kau mulai menata kembali perasaanmu pada yuri”¬†ucap jessica

“Tapi aku bingung bagaimana mememulainya”¬†ucap tiffany terlihat sendu

“Yah! Kalian sudah kenal dan bersahabat sangat lama, bersikap seperti biasanya saja”

“Kau tahu aku adalah orang yang mudah gugup jessie”¬†

“Ck, arraso.. Akupun entah mengapa jadi seperti itu sekarang”¬†ucap jessica mengalihkan padangannyankeluar jendela

“Why? Apa karena kekasihmu sudah kembali? Oh ya ,kemana dia?”

“Aku rasa bukan”¬†ucap jessica¬†“dia sedang pergi keluar bertenu dengan rekan bisnis nya”

“Lalu karena apa?”

“Apa kau pikir aku bisa menyukai seorang yeoja?”¬†tanya jessica memandang tiffany

“Molla”¬†ucap tiffany mengangkat kedua bahunya¬†“tapi bukannya kau menyukaiku”¬†lanjutnya dengan polos

“Hemm kau benar tiff”¬†ucap jessica memandang datar pada tiffany

“Hehehe aku hanya bercanda, memang ada apa denganmu jessie?”

“Entahlah, sebelum tyler kembali ada seseorang yang membuat perasaanku berubah ubah”

“Wah, jinjja?”¬†ucap tiffany terkejut¬†“Tapi aku tak mengerti maksudmu”¬†ucapnya kembali

“Tyler kembali dan telah menjelaskan semuanya ,tapi entah mengapa perasaanku biasa saja sedangkan orang itu sudah mampu membuat perasaanku beraduk aduk padahal aku belum lama mengenalnya”

“Hmm.. Itu karena dulu kau terlalu kecewa pada tyler, woah mungkin kau mulai jatuh cinta padanya”

“Kau benar aku terlalu benci pada tyler, tapi… Aku sendiri ragu pada perasaanku pada orang itu”

“Pilihlah mana yang terbaik untukmu, jessie”

Jessica hanya terdiam memandang tiffany

“Tapi… Yeoja itu bukan aku kan?”¬†ucap tiffany kembali

“Yah!!! Tentu saja bukan”¬†ucap jessica menjitak kepala tiffany keduanyapun tertawa

“sudah jam 4, aku harus pergi”¬†ucap jessica setelah melihat jam tangannya

“Oddiga?”¬†

“Molla.. Hehe perasaanku mengatakan aku harus pergi”

“Huh? Dasar aneh, kau baru saja pulang bekerja, apa tak lelah? Mau ku temani?”¬†

“Andwae.. Kau istirahat saja, lagipula aku malu membawa yeoja dengan kedua mata yang membengkak, nanti orang mengira aku yang menyakitimu”¬†ucap jessica memberikan merong pada tiffany

“Yaish..”

Jessica pun pergi meninggalkan apartemen, ia memberhentikan sebuah taksi

“Sudaj beberapa hari ini dia menghindariku, Huh mengapa aku terus memikirkanya? Apa dia sudah makan?”¬†gumam jessica, ia mulai menekan tombol panggilan pada sooyoung

“Yoboseyo”¬†ucap sooyoung dibalik telepon

“Soo, apa yoona bersamamu?”

“Annieyo, aku pikir dia sedang berlatih hari ini”

“Berlatih? Apa?”

“Nne, bela diri”

“What? Bukankah dia sedang sakit?”

“Nne.. Kau benar”

“Yah!! Kau sahabatnya, mengapa tak melarangnya”

“Hemmm… Apa boleh buat, itu keinginannya”

“Yaish… Apa kau tahu dia dimana?”

“Nne, akan aku kirimkan alamatnya”

*klik* jessica mengakhiri panggilanya dan tak berapa lama sooyoung mengirimkan pesan berisi sebuah alamat

Jessica pun langsung menuju ke alamat itu

Tak berapa lama taksi yang ditumpanginya berhenti didepan sebuah gedung yang cukup besar, jessica segera turun dan memasuki gedung itu

“Kenapa sepi sekali”¬†gumamnya begitu masuk ,beruntung pintu gedung itu tak terkunci

Ia terus berjalan masuk melewati beberapa alat latihan fittness hingga mendengar sebuah suara tak jauh darinya ,jessica segera berjalan menuju sumber suara itu, ia tersenyum sekaligus kesal saat melihat yoona masih terlihat sedang berlatih bersama seorang yeoja berambut pendek

“Kau sudah cukup bagus dan sangat cepat menguasainya”

“Tentu saja, yul unnie selaluenceramahiku ¬†jika kita melakukannya bersungguh sungguh maka akan terasa mudah”

“Hahaha tapi ini biasanya cukup sulit bagi pemula yoong”¬†ucap amber, namun ia mengalihkan pandangannya saat melihat seorang yeoja yang berdiri di belakang yoona, yoona pun ikut membalikkan badannya

“Kenapa kau ada disini?”¬†ucap yoona terlihat tak suka

“Harusnya aku yang bicara seperti itu”¬†ucap jessica tak mau kalah

“Aku rasa latihanmu sudah cukup, kalau begitu aku pergi dulu”¬†ucap amber menepuk pundak yoona dan segera meninggalkan kedua yeoja itu

Yoona pun mengalihkan padandangannya, ia mengambil handuk kecil dan mengelap keringatnya

“Bukan urusanmu”¬†ucap yoona

“Wae…? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?”¬†

“Biasa saja”¬†ucap yoona berjalan melewati jessica namun dengan segera jessica menahan tangan yoona

Ia sangat tidak menyukai seseorang yang memendam apapun padanya sekalipun orang itu membencinya

“Aku ini sudah lama belajar ilmu psikologi dan sudah lama juga aku membaca berbagai pikiran orang lain”¬†ucap jessica

Yoona menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak, kemudian ia berbalik menghadap jessica

“Berarti kau sudah mengerti dengan apa yang ada di pikiranku”¬†ucap yoona kembali berbalik dan berjalan

“Aku tak bisa”¬†ucap jessica menghentikan langkahnya¬†“aku tak bisa membaca sikap maupun pikiranmu”¬†lanjutnya menundukkan kepala

“Wae?”¬†ucap yoona

“Karena kau sangat menyebalkan dan selalu berubah ubah”¬†kesal jessica

“Lalu mengapa kau kemari?”¬†ucap yoona membuat jessica tersentak dan merasa bingung

“Aku… Itu karena aku diberitahu jika kau sedang berlatih bela diri, kau tahu kan itu tak akan baik untuk kesehatanmu saat ini”

“Kenapa kau peduli?”¬†ucap yoona membuat jessica merasa terskak mat kembali

“Wae…? Aku hanya ingin tahu mengapa kau bersikap seperti menghindari ku”

“Kau mungkin bisa belajar membaca pikiran orang lain, tapi kau tak belajar bagaimana arti cemburu”¬†ucap yoona

Sebenarnya ia tak merasa kaget dan memiliki pikiran itu sebelumnya atas sikap yoona padanya, hanya saja ia masih ragu dengan perasaan yoona maupun perasaannya

“W…why..?”¬†ucap jessica gugup

Yoona tak bisa menjawabnya, ia mulai berjalan menghampiri jessica dengan tatapan seriusnya

Hal itu membuat jessica semakin gugup dan perlahan ia memundurkan langkahnya hingga terhenti saat punggungnya menabrak sebuah alat fitness, detak jantungnya semakin tak karuan karena jarak tubuhnya dengan tubuh yoona begitu dekat jessica kembali mengangkat wajahnya menatap kedua mata yoona yang masih terlihat serius

Dengan cepat yoona menurunkan wajahnya dan mencium bibir jessica dalam dalam membuat yeoja dihadapnnya itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan yoona

Jessica mencoba mendorong tubuh yoona berusaha melepaskan diri namun tubuh yoona dengan kuat mengunci tubuhnya

“Mmmmhhh…..!!!”¬†erang jessica mencoba menggeleng gelengkan wajahnya hingga ciuman yang cukup lama itu terlepas, yoona pun melepaskan tubuhnya dan mengambil nafas yang hampir kehabisan karena cukup lama berciuman itu

*plak!!!* dengan keras jessica menampar pipi yoona, tanpa mengucapkan apa apa ia berlari meninggalkan yoona yang masih berdiri mematung

Sementara yoona masih terdiam membiarkan jessica pergi, tangannya meraba pipinya yang terasa panas akibat tamparan jessica

2 hari yang lalu tyler menemuinya tanpa sepengetahuan jessica, tyler selalu melihat jessica terus bersikap aneh dan selalu menceritakan yoona padanya, ia juga tahu jika yoona menyukai jessica setelah jessica menceritakan itu padanya, jessica jika sedang merasa kesal pasti akan mengungkapkan kekesalannya itu, sata itu jessica memang merasa kesal pada yoona yang selalu menghindarinya.

Karena itu tyler mendatangi yoona dan mengancamnya agar menjauhi jessica dan membuat jessica kembali ke USA. Ia memberitahu yoona jika ayah jessica tak bisa menerima hubungan sesama jenis dan tyler mengatakan akan segera menikahi jessica jika ia kembali ke USA. Setelah itu yoona terus memikirkan apa yang diucapkan tyler, satu sisi ia memikirkan perasaannya namun sisi lain ia juga memikirkan perasaan orang tua jessica, sudah cukup lama juga jessica tinggal di seoul sudah pasti otang tuanya sangat merindukan jessica.

Akhirnya dengan terpaksa yoona melakukan hal itu pada jessica agar yeoja itu membencinya karena ia tahu jessica telah menolak perasaannya

“Akh!”¬†rintih yoona mulai merasakan sakit pada jantungnya, ia segera mengambil kunci motor dan meninggalkan gedung

………………………………

Malam harinya yoona tiba di villa

“Uhhuk!! Uhhuk!!”¬†yoona terus terbatuk sedari perjalanan pulang tadi, wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya, ia terus memegang dada nya yang sudah mulai terasa sakit

“Soo…”¬†panggil yoona saat memasuki villa yang terlihat sepi itu

Karena tak ada sahutan, iapun memasuki kamarnya

*bruukk!!* belum sampai ditempat tidurnya yoona terjatuh ke lantai akibat jantungnya yang semakin terasa sakit

Dengan sekuat tenaga ia merangkak menuju laci untuk mengambil obat miliknya

Tadi siang yoona terlalu semangat berlatih sampai lupa meminum obatnya bahkan yoona belum mengisi perutnya dengan makanan sedari pagi

“Akh…!!”¬†teriak yoona kesakitan sambil menekan dadanya

Akhirnya dengan susah payah ia sampai dan membuka laci yang cukup tinggi itu, pandangannya mulai terlihat buram, ia mulai bangun dan merogoh rogoh isi laci mencari obat obatan miliknya

Namun setelah dapat, karena tangannya yang bergetar ia tak sengaja menjatuhkan botol kecil berisi obat obat miliknya hingga hingga botol itu menggelinding di lantai

“Sial”¬†gumam yoona

“Akh…!!”¬†*brukkk!!!*

Yoona kembali terjatuh ke lantai dan terbaring dengan posisi miring. Ia dapat melihat botol obat itu berada tak jauh dari hadapannya, yoona pun merentangkan tangannya mencoba meraih botol itu namun tak usai didapatkannya

*ceklek* 

Tiba tiba seseorang membukakan pintu kamar yoona dan berdiri disana

Yoona tak dapat melihat jelas wajah orang itu, karena kondisi kamarnya yang minim cahaya dan pandangannya yang buram

Orang itu berjalan menghampiri dan menundukkan kepalanya saat melihat botol kecil berisi obat milik yoona

Orang itu pun berjongkok dihadapan yoona dan meraih botol obat itu namun ia tak lekas memberikannya pada yoona

“T.. Ttolong aku…”¬†ucap yoona dengan sekuat tenaga mengadahkan tangannya pada orang itu

Orang itu masih terdiam dan tiba tiba melempar botol obat kecil itu tepat masuk kedalam kotak sampah yang berada diujung kamar

Akhirnya pandangan yoona mulai memudar dan menjadi gelap

……………………………………

“Kau masih belum bisa membunuhnya? Huh?”¬†

“Mianhae, hanya saja waktunya yang selalu tidak tepat”

“Hari ini kau akan menemuinya bukan”

“Nne, akan aku lakukan hari ini”

……………………………..

“Anniyo, ini tidak mungkin!”¬†ucap yuri¬†“katakan ini hanya mimpi”

TBC


Maafkan lama, abis liburan ūüôŹ

We Are Different part 6

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

…………………………………………….

10 tahun yang lalu

“Youngie-ya ppali, appa akan terlambat” ucap tuan choi yang sudah berdiri menunggunya, ia membukakan pintu mobil untuk sooyoung

Sooyoungpun segera berlari dan memasuki mobilnya, namun ia merasa heran saat melihat ada 2 anak kecil lain yang duduk di jok belakang

“Nugu?” ucap sooyoung yang sudah duduk disamping mereka

“Mereka putri dari pasien appa yang meninggal, sekarang kita akan mampir dulu ke panti asuhan karena appa harus mengantar mereka kesana” ucap tuan choi yang sudah berada di dalam mobil

Tuan choi pun membawa mereka menuju panti asuhan

Setibanya disana tuan choi langsung disambut pemilik panti dan beberapa wartawan dan awak media yang sudah menunggu untuk meliputnya

Di media, Tuan choi memang sangat terkenal sebagai pemilik rumah sakit yang selalu memberikan santunan pada keluarga pasien yang jika salah satu dari mereka meninggal dunia saat dirawat disana termasuk sekarang setelah satu pasien meninggal, media langsung menyorot tuan kim yang mengatakan jika akan membiayai kedua puteri dari pasien itu dan membawanya ke panti asuhan yang sudah lama ia dirikan itu.

“Appa akan berbicara bersama mereka, kalian bermain lah dulu bersama yang lain” ucap tuan choi pada keempat anak kecil diahadapannya itu kemudian meninggalkan mereka

“Ngomong ngomong kita belum kenal satu sama lain, choi sooyoung imnida” ucap sooyoung mengulurkan tangannya

“Kwon yuri, dan ini adikku” ucap yuri membalas uluran tangan sooyoung

“Kwon yoona imnida” ucap yoona membungkukkan badannya

“Dia adikmu?” tanya yuri pada sooyoung saat menatap sunny “siapa namamu?”

“Yah! Enak saja, aku ini unnie nya!” ucap sunny menggembungkan kedua pipi chubby nya membuat yuri dan yoona terkejut namun kemudian menertawainya bersama sooyoung

“Hahaha mianhae, tubuhmu terlihat lebih kecil dari nya” ucap yuri mencoba menghentikan tawanya

“Dasar menyebalkan, aku choi sunny” ucap sunny mengulurkan tangannya pada yuri dan yoona

Setelah berkenalan keempat yeoja itu terlihat akrab terutama dengan tingkah sooyoung yang sama dork nya dengan yoonyul

Mereka pun bergabung bersama anak anak panti asuhan lain yang sebagian ada yang sedang bermain bola di taman

“Hey kenapa dari tadi kau diam saja?” tanya yuri menghampiri sunny yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan anak anak yang sedang bermain bola

“Moodku sedang buruk”

“Wae?”

“Teman dekatku sudah satu minggu tak masuk, dan aku baru mengetahui kabarnya jika ia pindah sekolah”

“Aigoo… Kau masih bisa menemuinya ke sekolah barunya”

“Sayangnya dia pindah ke luar negeri, dan dia pergi secara tiba tiba, menyebalkan!”

“Woah luar negeri? Aku juga ingin kesana agar bisa menemui appaku”

“Eh? Memang appa mu dimana?”

“Molla, eomma bilang dia tinggal diluar negeri”

“Ayahmu seorang nahkoda?”

“Anniyo, appa bersama keluarga baru nya disana”

“Ah… Aku mengerti ,mianhae tapi mengapa kau ingin bertemu ayahmu? Bukankah dia sudah jahat karena meninggalkan keluargamu?”

“Aku hanya ingin mengetahui wajahnya” ucap yuri mengadahkan kepalanya memandang langit

“Yul!! Kajja bermain lagi! Kita tertinggal” teriak salah seorang namja yang sedang bermain bola

“Ah iya ,aku lupa aku sedang bermain” ucap yuri kemudian berlari bergabung berasama teman teman barunya

“Dasar bodoh” gumam sunny tertawa memandang yuri yang sudah bergabung bersama

“Yoong oper bolanya padaku!” teriak sooyoung yang terus berlari, namun karena terlalu fokus pada bola sooyoung ¬†tak melihat sebuah batu yang berukuran cukup besar sehingga membuat kakinya tersandung, karena kehilangan keseimbangan sooyoung terjatuh dan tubuhnya terus mengguling akibat keadaan tanah yang miring, sooyoung baru menyadari jika ia berlari di atas permukaan tanah yang cukup dekat dengan danau

*byurr!!!*

Akhirnya tubuh sooyoung terjatuh kedanau yang dalam itu

“Youngie-yaa!!” teriak anak anak lain segera berlari ke tepi danah memanggil manggil nama sooyoung

“Hupp… Hwaah.. Tool… Hmmpp…”

Sooyoung terus menggerak gerakan tangan dan kakinya agar tubuhnya tidak tenggelam namun bukannya menepi ia malah semakin menjauhi pinggiran danau, ia berusaha meminta tolong pada teman temannya karena sooyoung tak bisa berenang, namun tangan dan kakinya mulai melemas kelelahan, perlahan tubuhnya semakin tenggelam dan sooyoung berpikir jika hidupnya akan berakhir disana

“Panggil tuan choi atau orang dewasa ppali!!” ucap salah satu temannya, yang lain pun segera berlari meminta pertolongan

“Anniyo, ini akan terlambat dia akan tenggelam” gumam yoona, iapun melepas sandalnya dan menceburkan tubuhnya kedalam danau

“Yoong!!” teriak yuri, iapun menyusul yoona menceburkan dirinya

Yoona terus berenang, ia terkejut saat tak lagi melihat tubuh sooyoung, yoona pun mengambil napas dan mulai menyelam, beruntung ia segera mendapati tubuh sooyoung dan menariknya ke permukaan, yuri yang menyusulnya segera membantu menarik tubuh yoona dan sooyoung ke tepi danau hingga tubuh sooyoung yang lemas tak sadarkan diri itu segera dibaringkan

Yoona menepuk nepuk wajah sooyoung untuk memeriksa kesadarannya namun sooyoung masih tak sadarkan diri , ia pun melakukan CPR

“Youngie-yaa ireonna” ucap sunny yang sudah menangis

“Youngie!! Ada apa ini?” ucap tuan choi yang baru tiba

“Uhhuk!! Uhhukk”

Sooyoung terbatuk tepat saat ayahnya tiba, ia terdiam memandang yoona telah berhasil menyelamatkan nyawanya dan sooyoungpun didudukkan

“Youngie-ya kajja kita ke rumah sakit!” ucap ayah sooyoung segera mengangkat tubuh putrinya itu dan membawanya memasuki mobil bersama sunny

Yoona beserta anak anak lain berlari mengikutinya hingga sooyoung memasuki mobil dan dibawanya ke rumah sakit

Saat melewatinya sooyoung terus memandang yoona yang telah menyelamatkan nyawanya itu

………………

“Yah!! Tower!!” teriak yoona membuyarkan lamunannya

“Eh? Kapan kau tiba yoong?” ucap sooyoung yang terkejut akibat teriakan yoona

“Dari tadi aku sudah disini memanggilmu beberapa kali, tapi kau malah asik dengan imajinasimu” ucap yoona terlihat kesal

“Hehehe mianhae, ada apa?”

“Anni aku hanya khawatir melihatmu seperti itu, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada, kau sudah makan?”

“Belum, ah aku jadi lapar, kau mau ku buatkan ramyeon?”

“Anni, kau saja yang makan, aku tinggal tidur ya” ucap sooyoung segera berdiri hendak memasuki kamarnya

“Chankkaman” ucap yoona menahan pundak sooyoung hingga berbalik menghadapnya

“Wae?”

“Bagaimana dengan lenganmu? Apa sudah diobati?”

“Ah.. Ini” ucap sooyoung mengangkat lengannya “nne, setelah pulang tadi aku langsung ke dokter”

“Bagaimana jatuhmu hingga separah itu? Wajahmu juga ada luka gores”

“Aku tak ingat, lagipula lenganku sudah membaik”

“Cih, apanya yang membaik lenganmu berdarah beberapa jam yang lalu babo! Lagipula selama ini kau kemana saja? Aku jarang melihatmu “

“Kau tenang saja, aku pulang ke rumah dan beberapa hari ini aku tidur disana ,ada urusan keluarga”

“Ada masalah apa? Sepertinya sangat serius”

“Anniyo, hanya urusan biasa, sudah sana makan”

Yoona pun berdiri dan meninggalkannya sementara sooyoung kembali terdiam

“Sampai kapan?” ucap sooyoung dalam hati menatap punggung yoona dengan kedua tangannya yang mengepal

………………………

Keesokan harinya

“Yul!!” teriak seorang yeoja berseragam polisi membukakan pintul sel

Yuri pun mengangkat wajahnya

“Vivian? Ada apa kemari?”

“Harusnya aku yang bertanya, apa yang terjadi di rumahmu? Mengapa eommaku dipindahkan?” tanya vivian segera duduk disamping yuri

Vivian adalah teman kecil yuri dan yoona. Yang sekarang bekerja sebagai polisi di daerah jeonju

“Kau pasti tahu”

“Nne aku tahu ada penembakkan ,tapi wae? Aku tau kau bukan pelakunya”

“Hmm… Belum saatnya aku ceritakan”

“Yah! Aku sudah meminta izin dipindah tugaskan kemari, aku berpihak padamu! Kajja apa yang harus aku lakukan agar kau bisa segera keluar dari sini”

“Yah, cerewet sekali”

“Yaish… Aku khawatir padamu babo!” ucap vivian mengunci leher yuri dengan lengannya

“Yah yah yah! Lepaskan aku…!”

“Shirro!” ucap vivian terus mengunci yuri yang terus meronta

“Y..yyul” ucap seorang yeoja yang sudah berdiri di depan pintu sel membuat kedua yeoja itu menatapnya

“Uh? Tiffany?” ucap yuri terlihat senang saat melihat tiffany, sudah beberapa hari ini ia tak melihatnya dan yuri sangat merindukannya

“Mm..mmianhae mengganggu kalian, aku akan menunggu disana” ucap tiffany segera meninggalkan yuri

“Wae? Padahal dia bisa saja bergabung” ucap vivian merasa heran

“Mungkin dia masih mengira kita masih berhubungan” ucap yuri

“Uh? Tentu saja kita masih, sejak kapan kita bermusuhan”

“Baboya…! Bukan itu maksudku, dulu kau pernah menjadi kekasihku” ucap yuri menjitak kepala vivian

“Apanya yang kekasih, kau yang memaksaku berpura pura menjadi pasanganmu di pesta perpisahan sekolahmu, yah! Kau belum membayarnya!” ucap vivian

“Sssst…. Jangan terlalu keras, nanti fany dengar” ucap yuri membungkam mulut vivian

“Hemmmpp…h!!” gumam vivian

“Arra… Nanti aku bayar” ucap yuri melepaskan tangannya “aku akan menemuinya dulu, jangan ganggu kami, arra?!”

“Arrasoo…” ucap vivian menatap yuri yang sudah berjalan keluar, perlahan vivian pun tersenyum smirk

…..

“Fany-ah kau datang sendiri?” ucap yuri menghampiri tiffany

“Nne, jessica sedang bekerja jadi tak bisa menemaniku”

“Dasar es batu, jahat sekali dia belum menjengukku” gumam yuri mengacak pinggangnya

“Apa vivian selalu datang kesini?”

“Anniyo baru hari ini saja, ah ya kau kemana saja eoh?”

“Hehe mianhae aku baru saja sembuh”

“Wae? Kau sakit apa?” ucap yuri langsung duduk disamping tiffany dan memeriksanya

“Hahaha gwaenchanna” ucap tiffany merasa geli saat tangan yuri memeriksa dahi dan lehernya “aku hanya terkena demam, ini karena cuaca yang terlalu dingin” ucap tiffany mengusap usap kedua telapak tangannya

“Hmm… Kau terlihat semakin kurus, apa taeyeon tetap menjagamu dengan baik?” ucap yuri membetulkan jaket tebal yang dikenakan tiffany dan menarik resletingnya

Tiffany terdiam mendengar nama taeyeon, hatinya kembali terasa sakit atas kejadian tak terduga beberapa hari yang lalu di di apartemen kekasihnya itu

Flashback

Malam itu setelah dari rumah sakit menemui nyonya kim, tiffany memutuskan untuk pulang. namun saat taksi yang ditumpanginya melewati apartemen taeyeon ia memutuskan untuk mengunjunginya berharap taeyeon berada disana

begitu tiba ia menekan password apartemen taeyeon, ia tersenyum saat aroma pewangi baru yang taeyeon katakan pagi tadi mulai tercium dihidungnya

*piiip*

ia pun memasuki apartemen taeyeon setelah pintu terbuka

“taenggu, kau didalam?” panggil tiffany memasuki kamar taeyeon

ia tersenyum saat melihat taeyeon sedang terbaring diatas tempat tidurnya, tiffany mendekati dan duduk disampingnya tangan tiffany mulai mengusap wajah taeyeon

perlahan taeyeon yang kesadarannya memulih mulai membuka kedua matanya dan menatap tiffany

“kau kemana saja? aku sangat mengkhawatirkanmu” ucap tiffany tersenyum menatap taeyeon

taeyeon pun terbangun dan duduk disamping tiffany, ia memijit kepalanya yang masih terasa pusing

“fany-ah ada apa kau kemari?” tanya taeyeon

“aku hanya ingin memastikan”

“kau pikir ini jam berapa?” ucap taeyeon terlihat kesal

“mianhae, kau sangat sulit dihubungi dari tadi siang dan aku mendapat kabar jika omonim dibawa ke rumah sakit dan dirawat, setelah dari kantor polisi aku langsung kesana” ucap tiffany

Taeyeon hanya terdiam mendengarnya, ia mendekatkan wajahnya hendak menicum bibir tiffany

“taeng… kau mabuk?” tanya tiffany karena mencium bau alkohol dan menahan taeyeon dengan memegang kedua pundak yeoja itu

belum sempat taeyeon menjawab, pintu kamar mandi di dalam kaarnya terbuka dan seorang yeoja yang memakai bathrobe baru saja keluar

“taeng sepertinya shower……. “ ucap sunny namun tak melanjutkan bicaranya saat kedua matanya bertemu dengan pandangan tiffany “tiff.. tiffany?” panggil sunny merasa terkejut

“sunny?” ucap tiffany yang tak kalah terkejut, ketiga nya cukup lama terdiam

“t.. ttaeng” ucap tiffany memandang taeyeon meminta penjelasan, ia sudah mengetahui hubungan sunny dan taeyeon yang pernah menjadi pasangan kekasih sebelum dia bersama taeyeon namun ia tak menyangka jika mantan kekasih taeyeon berada di apartemen kekasihnya itu

“ann.. anniyo, ini tidak seperti yang kau pikirkan fany-ah” ucap sunny

Kedua mata tiffany sudah berkaca kaca, bagaimanapun juga ia merasakan sakit

“taeyeon-ah tolong jelaskan” ucap tiffany

“dia memang bersamaku malam ini fany-ah” ucap taeyeon sedikit menundukkan wajahnya “sudah beberapa hari ini kami memang sering bertemu” lanjutnya

“mwo? apa maksudnya taeng?” ucap tiffany semakin tak mengerti

“mianhae, aku masih mencintainya” ucap taeyeon membuat kedua yeoja dihadapannya terkejut mendengar itu

“t.. taeyeon-ah jangan bercanda, kau mabuk” ucap sunny

“anniyo, perasaanku tak pernah bercanda, selama ini aku selalu mencoba melupakanmu dengan bersama tiffany, aku pikir aku bisa melakukannya namun aku tak bisa sunny-ah” ucap taeyeon memandang sunny dengan tatapan seriusnya sementara air mata tiffany tak henti hentinya mengalir, selama ini taeyeon yang selalu ia percayai telah membohonginya

“fany-ah mianh..”

*plakkk!!!* belum sempat taeyeon menyelesaikan ucapannya tiffany sudah menampar keras pipi taeyeon ia pun berlari meninggalkan apartemen taeyeon

“taeyeon-ah jika ini lelucon ini sangatlah tidak lucu!” ucap sunny yang mulai kesal

“apa kau pikir ini lelucon?”

“kau sudah melukai perasaan tiffany!”

“kau pikir kau tidak melakukannya padaku? huh?” ucap taeyeon mulai berdiri menghadap sunny “apa selama meninggalkanku kau pernah memikirkan perasaanku sunny-ah? apa kau pernah berpikir berapa lama aku menahan sakitku menunggumu?”

“cukup taeng!” ucap sunny mulai terisak, ia hendak berjalan meninggalkan taeyeon namun taeyeon segera menahan dan memeluknya

“aku mencintaimu sunny, aku masih sangat mencintaimu” ucap taeyeon mengeratkan pelukannya

namun pada akhirnya sunny melepaskan pelukan taeyeon dan meninggalkan apartemen dengan perasaan yang tak menentu

Flashback end

“ini menyakitkan yul” ucap tiffany pelan

“Nne?” gumam yuri tak mendengarnya

“Aku baik baik saja, taeyeon menjagaku dengan baik” ucap tiffany tersenyum menatap yuri

“Ah baguslah, jangan sakit lagi fany-ah itu akan membuatku sakit juga” ucap yuri mengusap kepala tiffany dan memeluknya

Tanpa terasa air mata tiffany kembali lolos saat yuri memeluknya, ingin rasanya ia menumpahkan tangisannya di pelukan yuri yang baginya selalu terasa nyaman

Yuri hendak melepaskan pelukannya namun tangan tiffany menahannya

“Jangan lepaskan” ucap tiffany

“Eh?” gumam yuri tak mengerti

“Biarkan seperti ini dulu” ucap tiffany

Ia kembali menumpahkan air matanya dalam diam

Flashback

“Huh huh huh!!”

Yuri mengusap keringat diatas keningngya dan mengatur nafasnya setelah berlari ke segala tempat di sekolah setelah yoona memberitahunya jika tiffany menangis setelah bertengkar dengan taeyeon, ia memicingkan matanya saat melihat sosok yeoja yang sedang duduk dibawah sebuah pohon di taman sekolah yang tak jauh darinya. Yuri kembali berlari menghampiri yeoja itu setelah dugaannya benar jika yeoja itu adalah tiffany

“Orion kau dimana? Tolong aku, tolong hilangkan sakit hatiku” ucap tiffany dalam hati dan terus menangis

“Fany-ah wae?” ucap yuri

Tiffany masih terdiam terus menangis, kedua matanya yang basah menatap yuri yang terlihat mengkhawatirkannya

Tiffany pun memeluk yuri dan membenamkan wajahnya pada pundak sahabatnya itu

“Apa yang terjadi? Ku dengar kau bertengkar dengan kekasihmu? Wae? Bukankah hubungan kalian baru satu minggu?” tanya yuri bertubi tubi

Namun hanya tangisan tiffany yang menjawabnya

“Jika dia memang menyakitimu, tunggulah sebentar aku akan memberi pelajaran untuknya” ucap yuri mulai merasa kesal, ia tak pernah ingin melihat tiffany menangis karena hatinya juga ikut merasakan sakit

“Andwae yuri-yaa” ucap tiffany menahan yuri yang hendak pergi “ini salahku” lanjutnya kembali menangis

“Lalu kenapa kau yang menangis? Kau akan menangis jika ada yang melukaimu, aku harus menanyakannya pada taeyeon” ucap yuri

Namun tiffany menarik lengan yuri dan kembali memeluknya

“Fany-ah kau pikir aku tak pernah memperhatikanmu? setelah kau bersama taeyeon kau selalu menangis, wae? Ceritakan saja padaku jika taeyeon menyakitimu”

“Anniyo, ini salahku yul” ucap tiffany

“Kau selalu berkata seperti itu, sebegitu besarkah rasa cintamu padanya?”

Tiffany terdiam mendengarnya, kini isakannya mulai tak terdengar lagi

“Nne, aku yang salah karena terlalu mengharapkannya bahkan mungkin aku terlalu mencintainya” ucap tiffany

Kini yuri yang terdiam mendengar itu, hatinya merasakan sakit yang teramat dalam mendengar pengakuan tiffany

“Arraso aku tak akan membalasnya, aku hanya akan memberikan pundakku padamu”

Tiffany semakin mengeratkan pelukannya, yuripun terus mengusap usap rambut tiffany

Flashback end

………………………………

Setelah terdiam cukup lama, Tiffany mengusap air matanya dan mulai melepaskan pelukannya

“Gomawo” ucap tiffany kembali tersenyum

“Apa kau sangat merindukanku? Sampai segitunya” ucap yuri menaik turunkan sebelas alisnya

“Nne ,aku sangat merindukanmu babo! Kapan kau akan terbebas yul?”

“Molla, situasinya sedang rumit” ucap yuri

“Omo! Kau membawa makanan unnie! Ah kebetulan aku sedang lapar” ucap vivian yang baru saja muncul, ia mendekati tiffany dan membuka kotak besar yang berada disampingnya

“Ah ya aku lupa, aku kemari membawa makanan untukmu yul, aku khawatir kau tidak bisa menjaga pola makanmu karea kau sangat selektif terhadap makanan”

“Ah..hahaha aku hanya trauma terhadap makanan” ucap yuri menggaruk garukkan kepala belakangnya. Semenjak pernah keracunan makanan Yuri memang sedikit trauma terhadap jenis makanan ditempat yang asing baginya.

“Arraso aku mengerti, makanan yang kubuat masih segar dan bebas racun hehehe kau tenang saja” ucap tiffany membukakan tupperware dan memberikannya pada yuri

“Apa aku boleh memakannya juga?” ucap vivian

“Tentu saja kau bilang kau lapar, aku membawa banyak makanan” ucap tiffany memberikan ¬†satu kotak berisi makanan pada vivian

“Woah gomawo unnie” ucap vivian senang menerima kotak itu, kini posisinya pindah duduk disamping yuri

“Kau pasti kesulitan karena kedua tanganmu di borgol, kajja aku suapi” ucap vivian mulai menyuapkan makanan pada yuri, yuri pun menerimanya dengan senang

“Aaa… Masytaaah…” ucap yuri menepuk tepukkan tangannya

“Ehmm… Yul, sebaiknya aku pulang”

“Eh? Waeyo…?”

“Aku… Aku harus pergi bekerja” ucap tiffany mulai melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruangan

“baiklah, hati hati di jalan unnie!” ucap vivian melambaikan tangnnya pada tiffany

“yah!!” teriak yuri

“wae? aku sudah dipindah tugaskan sebagai penjagamu disini, jadi mulai sekarang aku yang berhak mengatur jadwal kunjungan”

“yaish…

“gwaenchanna, aku akan mengunjungimu lagi, ah anni… aku akan menunggumu pulang yul” ucap tiffany iapun kembali membalikkan badannya namun lagi lagi yuri menahannya

“chankkaman” ucap yuri mendekati tiffany kedua tangannya merapikan jaket yang dipakai tiffany “kau bilang cuaca diluar sangat dingin kau harus menutup tubuhmu, jangan sakit lagi arra?” ucap yuri mengusap rambut tiffany

“n… nne… aku pergi dulu yul” ucap tiffany buru buru segera meninggalkannya karena tak ingin wajah merahnya terlihat oleh yuri

“hahahaha”

“kenapa kau tertawa? dasar bodoh, aku masih ingin melihat wajahnya”

“kau yang bodoh, tidak kah kau sadar jika yeoja itu cemburu padaku?” ucap vivian melanjutkan tawanya

“mwo? tiffany? hahaha jangan bicara yang bukan bukan”

“yaish dasar tidak peka, dari aku kuliah di london sampai lulus belum pernah mendengar kabar kau memiliki kekasih” ledek vivian

“kau tau, aku…”

“arra arra… aku tau, itu karena kau mencintai tiffany unnie”

“hehehe sudahlah jangan bahas itu”

“jadi dia masih bersama dengan si sersan itu? wah… daebak”

“yah!!!” teriak yuri

“arraso, kajja lanjutkan ceritamu, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?”

Yuri terdiam, ia sedikit ragu untuk menceritakannya

“kau tenang saja, hanya ada aku dan kau disini, ppali..” ucap vivian menebak raut wajah yuri

“memang bukan aku yang melakukannya, sebenci dan semarah apapun perasaanku aku tak akan melakukannya”

“kenapa dia ada didalam rumahmu? apa kalian ada janji untuk saling bertemu dan sebenarnya siapa namja yang tertembak itu?”

“dia…… ayahku”

“mwo??” ucap vivian terkejut

“saat itu ahjumma memberitahuku, aku langsung berlari menuju rumahku untuk segera melihatnya dan aku benar benar melihatnya”

“hhmmm…. apa ayahmu mungkin seorang mafia?”

“anniyo, dia seorang dokter, tapi aku sudah tahu pelaku dibalik penembakan ini”

“dokter? kemarin aku juga baru saja menangani kasus pembunuhan seorang dokter, kau tahu? cara membunuhnya sangat keji sekali”

“jinja? apa pelakunya sudah tertangkap?”

“sepertinya belum, setelah mengetahui kasus tentangmu aku langsung meminta dipindahkan kemari”

“yaish kau ini”

“wae? kau ini lebih penting, kau harus lekas bertindak dan keluar dari sini, kau harus segera menangkap para pelaku”

……………………..

“Kau melamun?” ucap jessica menghampiri yoona yang sedang duduk memandang ikan ikan yang berada di akuarium

“Anniyo, aku sedang berbincang dengan mereka” ucap yoona

“Eh? Sejak kapan ikan bisa berbicara?” tanya jessica bingung ikut memandang ikan ikan hias itu

“Sejak nenek moyang kita belum lahir, kau nya saja yang tak pernah memperlajarinya”

“Yah! Jangan membodohiku, aku tak pernah mendengar ada pelajaran bahasa ikan”

“Yah, untuk apa aku berbohong.. Kau pikir sedari tadi apa yang aku lakukan? Yaish bahkan kau tak sopan tidak menyapa mereka, kau tau? Salah satu dari mereka ada ikan yang sudah halmoni”

“Jinjja? Ah anyeong halmoni” ucap jessica sedikit menundukkan kepalanya pada ikan ikan itu sementara yoona berusaha untuk menahan tawanya ,tentu saja jessica kembali menjadi korban kebohongannya

“Ada apa kau kemari? Kau sudah membereskan semuanya?”

“Tentu, lihat saja semuanya sudah rapi.. Ah aku lupa, kemarin kau bertemu dengan yul, bagaimana kabarnya? Aku belum menemuinya, ah ottokhae” ucap jessica dengan raut khawatir memikirkan yuri

“Yah kenapa dengan raut wajahmu? Dia baik baik saja, dia makan dengan baik dan tidur dengan baik juga jadi kau tak perlu kesana karena sudah tahu kabarnya” ucap yoona menatapnya kesal

“Wae…? Aku ingin melihatnya secara langsung, lagipula dia pasti membutuhkan teman untuk mendengarkannya, yul pasti melewati hari hari yang rumit” ucap jessica

“Yaish…” gumam yoona segera berdiri dan meninggalkannya keluar restoran

“Yah yah yah, oddiga?” ucap jessica berlari menyusulnya

“Pulang, lagipula sudah malam aku sudah mengantuk”

“Lalu aku?” ucap jessica menghentikan langkahnya dihadapan yoona

“Kau? Kau pulang ke apartemenmu memangnya kemana lagi” ucap yoona kembali berjalan

“Kau tidak mengantarku?”

“Anniyo” ucap yoona mengabaikannya

“Yaah…!!” teriak jessica ,iapun berjalan kembali memasuki restoran, sialnya rekan rekan kerjanya yang lain sudah pulang “haish… ottokhae” gumamnya

namun saat membalikkan tubuhnya jessica terkejut saat sebuah tubuh seseorang sudah berdiri dihadapannya

“kyaaaaaa…..!!!!!”

“yah, berisik sekali” ucap orang itu menyalakan lampu restoran

“yah! kau senang sekali membuatku terkejut, yaish!!! menyebalkan” ucap jessica merasa kesal saat melihat orang itu adalah yoona

“kau nya saja yang mudah terkejut, kajja” ucap yoona menarik tangan jessica, ia kembali mematikan lampu restoran dan menguncinya

“kau bilang tak ingin mengantarku” ucap jessica masih merasa kesal

“aku tak mungkin tega membiarkanmu”

“kau senang sekali menarik ulur hati seseorang”¬†

“benarkah? mianhae… “ ucap yoona masih terus berjalan menatap kedepan dengan tangannya yang masih menggenggam tangan jessica “lagipula kau bisa memberhentikan taksi, kenapa kau memintaku mengantarmu?” lanjutnya

“ah benar juga, jessica babo” ucap jessica dalam hati “percaya diri sekali, siapa juga yang meminta diantar olehmu, lepaskan aku ingin pulang”

“shirro, aku lapar, kau tak lapar?”

“ah benar juga” gumamnya dalam hati “baiklah, kita makan dimana? jangan terlalu jauh, ini sudah mulai larut malam” ucap jessica

Yoona tak menjawabnya, ia hanya terus berjalan dengan menarik tangan jessica hingga keduanya sampai disebuah kedai makanan

“ahjumma, 2 porsi seperti biasa” ucap yoona pada seorang ahjumma pemilik kedai tersebut

“hey yoong, kau tak bersama unnie mu?”

“anniyo, aku bersamanya” ucap yoona menunjuk pada jessica, jessica pun membungkukkan badannya menyapa ahjumma itu

“omo! kekasihmu?” ucap ahjumma itu tertegun saat melihat jessica

“nne” jawab yoona

“an.. “

” aigoo yeoppoda…” ucap ahjumma sebelum jessica melanjutkan ucapannya “kajja duduklah” lanjutnya sambil membawa nampan berisi 2 mangkok jajangmyeon dan 22 botol soju yang sudah siap disajikan

“kamsahamnida ahjumma…” ucap yoona saat menerima makanan tersebut

“nne, nikmati kencan makan malam kalian hehehe” ucap ahjumma itu kemudian berlalu pergi

“yah apa maksud ucapanmu tadi” ucap jessica

“yang mana?” tanya yoona

“haish… lupakan” ucap jessica, keduanya pun mulai menikmati jajangmyeon yang sudah berada dihadapan mereka

“aaah… masyta.. sudah lama sekali aku tak makan disini, kau suka?” ucap yoona dengan jajangmyeon yang masih menggembul di pipinya

“nne ini memang lezat, kau selalu kemari? sepertinya ahjumma itu sangat mengenalmu”

“tentu saja, sepulang sekolah aku selalu kemari bersama unnieku”

“woah sudah lama sekali kedai ini”

“ini memang kedai jajangmyeon paling terkenal disini, ah yul unnie juga pasti merindukannya, sudah lama sekali kami tidak pernah kesini”

tanpa terasa jessica tersenyum mendengar itu

“wae?” tanya yoona

“anniyo, aku hanya senang hubunganmu dengan yuri sudah membaik” ucap jessica

“hmm… kau bilang kau memiliki dongsaeng?”

“nne, dia sekarang tingkat akhir high school”

“apa kau tak merindukannya?”

“walaupun dia menyebalkan sepertimu tentu saja aku merindukannya, tapi hampir setiap hari dia menelponku ataupun sebaliknya”

“kenapa kau memilih seoul?”

“molla, kedua orang tuaku memang berasal dari negara ini tapi sekarang ini adalah pertama kalinya untukku menginjakkan kaki di seoul, awalnya aku ragu namun setelah mengenal tiffany yang juga tinggal sendirian, aku jadi yakin akupun bisa”

“apa kau begitu memang karena ingin melupakan seseorang?”

“hmm…” gumam jessica mulai mengambil soju dan meminumnya “aku hanya ingin memulai kehidupanku yang baru, aku sudah terlalu muak menangisi namja brengsek itu” lanjutnya

“apa yang terjadi?” tanya yoona

Jessica hanya memandang yoona merasa ragu jika menceritakannya karena ia tahu yoona tak pernah luput dari mengerjainya

“yah, mengapa memandangku seperti itu? aku juga bisa bersikap serius” ucap yoona

“dia tiba tiba mumutuskan hubungan tanpa alasan, padahal kami sudah merencanakan tanggal pertunangan kami yang akan diadakan beberapa bulan lagi, tapi saat aku menemui kantornya untuk memastikan, sayangnya aku melihat si brengsek itu bersama perempuan lain”

“woah daebak, pasti yeoja itu lebih cantik darimu”

“yah!!!” teriak jessica memandang tajam pada yoona tanpa ia sadari hampir semua pengunjung kedai merasa terkejut karena teriakannya itu

“aku bercanda hehehe aku yakin namja itu suatu saat nanti akan menyesal telah melepaskan ¬†yeoja secantikmu” ucap yoona melanjutkan makannya

Kini emosi jessica mulai menurun, lagi lagi yoona telah membuat perasaannya naik turun

“dasar menyebalkan” gumam jessica

“tenang saja, kau akan merasa bahagia disini” ucap yoona tersenyum memandang jessica begitupun jessica yang terdiam memandang yoona, keduanya cukup lama saling memandang

“ak.. aku sudah kenyang” ucap jessica

“jinja? makananmu masih tersisa”

“ini terlalu banyak untukku, lain kali jangan memesankan 1 porsi untukku”

“baiklah, kajja kita pulang” ucap yoona mulai berdiri

Yoona kembali mengantar jessica ke apartemennya

“gomawo… kau ingin mampir?” ucap jessica setelah kduanya tiba didepan apartemen jessica

“anniyo aku langsung pulang saja” ucap yoona “ah ya, besok bangunlah pukul 6 pagi”

“eh? wae?? bukankah restoran buka jam 10?”

“pokoknya bangun saja dan lekas bersiap siap, aku akan menjemputmu jam 7, bye..” ucap yoona melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan jessica

“huh? dasar” ucap jessica namun kemudian tersenyum menatap punggung yoona yang semakin menjauh dan menghilang dibalik lift

…………………….

keesokan harinya sesuai apa yang diucapkan yoona tadi malam, pukul 7 pagi ia tiba di apartemen jessica

“good morning” ucap yoona tersenyum saat pintu apartemen jessica terbuka

“ternyata kau memang kesini, masuklah aku baru saja membuatkan sarapan” ucap jessica yang sudah terlihat rapi

“tentu saja, aku tak pernah mengkhianati lidahku sendiri” ucap yoona berjalan mengikuti langkah jessica

“jadi, apa yang membuatmu memintaku bangun pagi?” tanya jessica sambil memberikan potongan ¬†sandwich yang dibuatnya

“kita akan pergi”

“pergi? oddiga?”

“jalan jalan, membuatmu senang”

“eh? bukankah ini bukan hari libur kerja?” tanya jessica bingung

“tentu saja bukan, apa kau tak lelah? kau juga butuh bersenang senang, kau tenang saja aku sudah memberitahukan yang lain”

“hhh… kau ini, selalu saja berlaku seenaknya”

“tentu saja aku melakukan ini untukmu” ucap yoona

“yy..yah, kk.. kau ini” ucap jessica merasa gugup dengan kedua pipi yang hampir blushing

“kajja kita berangkat” ucap yoona mulai berdiri dan kembali menggenggam tangan jessica

“c.. changkaman, aku ingin mengambil ponselku” ucap jessica menahan tangan yoona

“baiklah, aku akan menunggu dibawah” ucap yoona kemudian berjalan meninggalkan jessica

“hufhht… apa apaan ini” ucap jessica membuang nafas dengan kedua tangan yang memegang dadanya, iapun berjjalan memasuki kamar untuk mengambil tas kecil dan ponsel yang sedang di charger nya. namun alis jessica terangkat saat mencabut kabel pengisi daya yang membuat layar ponselnya menyala dan memperlihatkan beberapa panggilan dari sebuah nomor kontak

Dahinya mengkerut saat membuka kunci layar dan melihat pemilik nomor yang berkali kali memanggilnya itu, jessica pun menutup kembali layar ponselnya setelah menghapus nomor panggilan itu namun saat akan memasukkan ponselnya kedalam tas tiba tiba ponselnya kembali berbunyi menerima panggilan

saat dilihat, nomor kontak yang sama kembali meneleponnya membuat jessica terdiam cukup alama menatap layar ponsel yang terus berkedip menerima panggilan itu

Namun jessica segera menekan tombol merah menolak panggilan itu dan mematikan ponselnya, iapun segera menemui yoona yang sudah menunggunya

“yah lama sekali” ucap yoona yang sudah terlihat kesal

page.jpg

“mianhae” ucap jessica “eh? kita akan mengendarai motor?” lanjutnya menatap heran pada yoona yang sudah menggunakan helm dan duduk disebuah motor

“nne, apa kau tak suka?”

“anniyo, mana helm untukku?” tanya jessica, yoonapun memberikan satu helm untuk jessica dan segera dipakainya

“kau tak ingin berpegangan padaku?”

“shirro” ucap jessica yang sudah duduk dibelakang yoona

“baiklah” ucap yoona, iapun segera menghidupkan mesin motor dan tanpa jessica duga yoona langsung menarik gas membuat seseorang yang duduk dibelakangnya merasa terkejut hingga akhirnya kedua tangan jessica memeluk pinggang yoona dengan erat

Yoona pun tersenyum senang

………………………………………

*tingtong* suara bel pintu apartemen taeyeon berbunyi saat seseorang menekannya dari luar

“fany-ah?” ucap taeyeon saat membukakan pintu dan melihat tiffany berdiri disana “kenapa tak langsung masuk saja? aku tak mengganti password pintuku”

“gwaenchanna” ucap tiffany singkat

“masuklah” ucap taeyeon

“anniyo” ucap tiffany masih berdiri didepan pintu membuat taeyeon membalikkan badannya “aku kemari hanya ingin mengembalikan ini semua” ucap tiffany memberikan kotak besar berisi barang barang yang taeyeon berikan selama masih menjalin hubungan bersama

Taeyeonpun dengan kaku menerima kotak itu

“wae..?” tanya taeyeon

“aku rasa aku tak pantas menerimanya lagi” ucap tiffany “dan ini..” lanjutnya sambil melepaskan cincin yang dikenakannya dan diberikan pada taeyeon. cincin itu adalah cincin couple yang diberikan taeyeon sebagai perayaan hari anniversary hubungan mereka yang sudah menginjak 3 tahun dari awal hubungan mereka dimulai, saat itu tiffany merasa sangat bahagia memakai cincin itu. namun sekarang justru memakai cincin itu membuatnya terluka

Taeyeon hanya terdiam memandang tiffany, ia merasa sangat bersalah pada yeoja dihadapannya itu namun ia sendiri tak bisa melakukan apa apa

“aku pergi, terima kasih atas semuanya” ucap tiffany segera membalikkan badannya

saat itu taeyeon buru buru meletakkan kotak besar itu dan berlari mengejar tiffany

“fany-ah, chankkaman!” ucap taeyeon menarik tangan tiffany dan memeluknya

Tiffany mencoba melepaskan diri dari pelukan taeyeon namun taeyeon terlalu erat memeluknya

“mianhae… jeomngmal mianhae” ucap taeyeon mulai menitikkan air matanya begitu pun tiffany “kau memiliki hati yang sangat tulus, tapi aku tak bisa menjaga ketulusan itu, aku sangat menyesal dengan keputusanku tapi aku tak bisa terus membohongimu” lanjutnya, taeyeon mulai melepaskan pelukannya

“gwaencahanna” ucap tiffany buru buru menghapus air matanya

“kau bisa membenciku” ucap taeyeon menatap wajah tiffany yang masih menunduk

“aku tak akan melakukannya” ucap tiffany “hanya saja, untuk saat ini bisakah menghilang dari kehidupanku? rasanya sangat menyakitkan saat melihat wajahmu taeng, mianhae”¬†

“aku mengerti, aku tak akan mengganggumu sampai tiba saatnya kita bertemu kembali” ucap taeyeon

“aku harap hanya aku satu satunya perempuan yang kau lakukan seperti ini” ucap tiffany melangkahkan kakinya meninggalkan taeyeon yang terdiam mematung memandang kepergian tiffany

……………………………………

“kyaaa yeppoda..! lihat, warna ikan ikan itu berwarna warni!” ucap jessica excited dan terus memotret beberapa jesi ikan yang ditemuinya sementara yoona ikut tersenyum senang memandang ikan ikan itu

keduanya tengah berada didalam sebuah ruangan yang diatasnya terdapat akuarium besar, yoona mengajak jessica menikmati beberapa pemandangan ikan di sea world

“kau senang?”

“nne, kau tahu? padahal rumah kedua orang tuaku di USA tepat berada di pinggir laut, tapi belum pernah sekalipun aku berenang disana”

“eh? wae…? bukankah berenang itu sangat menyenangkan? kalau aku mungkin sudah setiap hari menghabiskan waktu dengan berenang”

“aku juga ingin begitu, tapi tetanggaku saat berenang disana tiba tiba diserang oleh hiu”

“omo! menyeramkan sekali”

“itulah kenapa aku tak pernah berenang disana, kau masih mau?”

“hahaha kalau begitu kasusnya sepertinya aku perlu berpikir kembali” ucap yoona membuat keduanya tertawa

“sudah sore, apa kau tak lapar?” ucap yoona kembali setelah melihat jarum jam pada jam tangannya

“uhm.. aku lapar” ucap jessica menganggukkan kepalanya

Yoona pun membawanya ke sebuah restoran seafood

“kau tak memiliki alergi pada sea food kan?” tanya yoona sebelum memesan makanan

“tidak, aku hanya memiliki alergi pada mentimun”

“ah.. haha kau tenang saja disini tidak ada mentimun” ucap yoona

Keduanyanya pun duduk sambil menunggu makanan yang dipesannya tiba

“sambil menunggu kita sebaiknya melakukan apa?” tanya yoona

“emm… ¬†ah ya, aku belum pernah mendengar kisah cintamu, sekarang giliranmu” ucap jessica

“kisah cinta? aku tak memilikinya”

“yah jangan bohong, wajah player sepertimu itu tak mungkin jika tak memiliki kekasih”

“yah, haha aku mengatakan yang sebenarnya”

“heol… tak bisa ku duga” ucap jessica

“tapi aku pernah menyukai seseorang selama 6 tahun ini”

“mwo? jinja? lalu?”

“molla hahaha”

“yah! nugu? apa kau pernah mengungkapkannya?”

“aku tak pernah mengungkapkannya, bahkan aku sendiri bingung dengan perasaanku”

“wae?”

“perasaan itu sudah hilang setelah aku mengenal seseorang”

“hmm… berarti yang kau rasakan selama 6 tahun pada orang itu hanya rasa kagum”

“ah..hahaha begitu ya”

“huh.. untuk seseorang yang belum pernah memiliki kekasih mana bisa mengartikan perasaan sendiri”

“dulu aku selalu berpikir jika memiliki kekasih hanya merepotkan” ucap yoona

“yah tidak semuanya seperti itu babo! lalu apa sekarang kau sedang menyukai seseorang?”

“nne…”

“apa kau benar benar menyukainya atau sekedar mengaguminya atau bahkan mencintainya?”

“mungkin tiga tiganya”

“woah daebak! tapi kau tak bisa secepat itu menyimpulkannya”

“molla… aku hanya merasakan bahagia setiap melihatnya”

“apa kau sudah mengungkapkannya?”

“aku selalu mengatakannya, tapi dia tak pernah menanggapinya”

“mungkin karena dia masih belum yakin padamu, begitulah bagi orang yang suka jahil” ucap jessica memberikan merong pada yoona

“hahaha dia nya saja yang bodoh”

“kalian selalu bertemu setiap hari?” tanya jessica

“nne…”

“kenapa kau bisa menyukainya?”

“molla, apa cinta itu butuh alasan?”

“emm… i don’t know, mungkin untuk mengetahui mana suka kagum dan cinta”

“begitu ya, entahlah.. melihat wajahnya saja jantungku selalu berdebar sangat kencang”

“hahaha aigoo… kau sudah dewasa sekarang”

“yah! memang kau pikir aku berumur berapa eoh?”

“bukan karena umurmu, tapi karena kekonyolanmu itu babo!”

“hahaha begitu ya”

“siapa orang yang sukai? mungkin aku bisa membantumu”

“emm… dia seorang yeoja”

“eiyy… gwaenchanna… aku sudah terbiasa sekarang, nugu?”

“seorang yeoja yang sedang berada dihadapanku saat ini” ucap yoona memandang lekat kedua mata jessica

“mm.. mmwo?” ucap jessica terkejut

Yoona hanya tersenyum mengangkat kedua alisnya

“y.. yyah! jangan bercanda!” ucap jessica merasa gugup, ia sendiri masih berpikir jika yoona sedang menjahilinya

“kau bisa lihat sendiri kan, dia tak pernah mempercayaiku” ucap yoona

tepat saat itu makanan datang dan yoona mulai sibuk memakan sea food yang sudah dihidangkan itu berbeda dengan jessica dengan perasaannya yang kembali tak menentu

“makanlah, tak perlu dipikirkan” ucap yoona

“siapa juga yang memikirkan itu” ucap jessica segera melahap makanan dihadapannya itu

keduanya terdiam saling menikmati makanan masing masing

“setelah ini kau ingin aku bawa kemana?” ucap yoona memulai pembiaraan lagi

“pulang saja, lagipula ini sudah mulai malam”

“baiklah”

Begitu selesai, yoona kembali mengantarkan jessica pulang ke apartemennya

“terima kasih untuk hari ini” ucap jessica membalikkan badannya ssetelah sampai didepan pintu apartemennya

“kau senang?”

“nne, sangat sangat senang”¬†

“baguslah, tapi aku tak bisa mengajakmu seperti ini setiap hari”

“hahaha dasar bodoh, tentu saja.. kita harus kembali bekerja, kkah pulanglah”

“uh? tak ada kisseu?”

“yah!!” teriak jessica mengangkat tangannya hendak memukul yoona

“arraso.. aku hanya bercanda hehe”

“yaish..!”

“tapi yang tadi aku serius mengatakannya”

“huh?” gumam jessica tak mengerti

“aku benar benar menyukaimu” ucap yoona ¬†tersenyum kemudian melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan jessica yang mematung karena ucapan yoona

keasadarannya mulai kembali saat yoona tak terlihat lagi, iapun memasuki apartemennya dan tak terasa sedari tadi bibirnya terus tersenyum namun tiba tiba ponselnya kembali berbunyi menerima panggilan masuk, jessica pun membuka tas nya untuk mengambil ponsel itu. jessica terkejut saat melihat terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama yang meneleponnya pagi tadi. nomor itupun kini kembali memanggilnya membuat jessica bimbang, ia hanya terdiam memandang nomor yang tak lagi memiliki nama itu, meskipun begitu ia masih hapal pemilik nomor itu, tyler kwon. mantan kekasih yang mengkhianatinya itu. satu sisi ia masih merasa sakit hati terhadap mantan kekasihnya itu namun sisi lain ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. jessica masih terdiam memandang lampu led yang terus berkedip yang menandakan panggilan masih belum berakhir

“hallo”

……………………………….

dengan perasaan berbunga bunga yoona memasuki villa yang menjadi tempat tinggalnya bersama sooyoung

“aku pulang…” teriak yoona

“yah kau kemana saja hari ini bolos bekerja” ucap sooyoung yang sedang menonton TV

“hehehe aku ingin menenangkan pikiran”

“jadi kau kencan bersama jessica? sampai bolos bersamaan”

“hehehe begitulah, mianhae aku tak bermaksud menduakanmu youngie-yaa…” ucap yoona memeluk sooyoung dan hendak menciumnya namun sooyoung segera menyingkirkan kepala yoona

“yaaah!! baboyaa!!” teriak sooyoung

“hehehe kau sudah makan?” tanya yoona

“sudah, tapi aku lapar lagi hehehe” ucap sooyoung mengusap usap perutnya

“yaish… shikshin! aku membawa beberapa gurita kecil, aku akan membuatkan sannakji, lagipula aku juga lapar lagi hehehe”

“yaish kau juga shikshin! kkah buatkan untukku” ucap sooyoung mendorong yoona, yoona pun berjalan menuju dapur dan mulai membuat sannakji

Setelah cukup lama, sooyoung mematika televisinya dan terdiam, ia menoleh kearah dapur dan melihat yoona yang masih serius membuatkan makanan untuknya

Sooyoungpun mulai berdiri dan berjalan menuju dapur, ia melihat yoona  membelakanginya sehingga tidak tahu kehadirannya, ia menghentikan langkahnya memperhatikan yoona yang sedang memotong beberapa gurita yang akan diolahnya perlahan sooyoung mengambil pisau dan menyembunyikannya dibalik punggung, ia kembali berjalan menghampiri yoona dalam diam

“akhh!!!!!”

……………………………..

*tap tap tap*

suara langkah seseorang berlari membuat kedua mata yuri terbuka, ia melihat seseorang membukakan pintu sel dengan nafas yang tak teratur seusai berlari menuju tempatnya

“yy… yyul…!! huh huh huh huh!!”

“nne? apa yang terjadi?” tanya yuti melihat wajah vivian yang memucat

TBC

We Are Different part 5

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

…………………………………………….

“yuri-shi, mohon maaf untuk saat ini anda harus ditahan selama belum adanya beberapa bukti yang kuat jika anda bukan pelaku atas kejadian ini dan kami masih perlu melakukan beberapa investigasi terhadap kejadian yang menimpa tuan kim, mari ikut kami ke kantor polisi” ucap salah satu anggota kepolisian pusat

“Nne” ucap yuri, kedua tangannya mulai diborgol

“Chankkaman!” ucap tiffany menghentikan langkah para polisi yang hendak membawa yuri ke kantor polisi

Yuri pun menoleh ke arahnya

“Izinkan aku membersihkan dan mengobati lukanya” lanjut tiffany

Kedua polisi itu melihat ke arah yuri yang hampir sebagian wajahnya masih mengeluarkan darah akibat menerima beberapa pukulan dan tendangan dari taeyeon

“Gwaenchanna, aku akan membersihkannya di kantor polisi nanti” ucap yuri tersenyum menatap tiffany

“Andwae” ucap tiffany tertahan dengan memegang pergelangan tangan yuri

“Ahjushi, bolehkah aku membawanya ke ruang rawat disini untuk mengobatinya?” lanjutnya menoleh pada 2 namja dihadapannya itu

“Baiklah, tapi jangan terlalu lama”

“Nne” ucap tiffany segera memeluk lengan yuri dan membawanya masuk ke sebuah ruang rawat yang kosong ,yuri pun didudukannya diatas tempat tidur

Ia hanya terdiam menatap tiffany yang berjalan memasuki kamar mandi dan kembali keluar membawa wadah berisi air, tiffany pun menarik sebuah kursi yang tak jauh darinya dan duduk dihadapan yuri, ia mulai membuka kantong plastik berisi kapas dan obat luka yang sudah ia bawakan

Yuri terus menatap tiffany yang begitu serius membersihkan darah pada sekitar luka yang berada di wajahnya, keduanya hanya terdiam tak ada percakapan

“Bagaimana taeyeon?” ucap yuri setelah keduanya cukup lama terdiam

“…………………..” tiffany hanya diam tak menjawab, ia masih membersihkan wajah yuri membuat yuri kembali terdiam, ia tahu tiffany sangat marah entah padanya atau pada taeyeon. Saat ia dipukuli taeyeon, tiffany yang melerai keduanya ,namun saat itu tiffany membawa taeyeon pergi menjauhinya

Hati yuri merasa sakit melihatnya terutama saat itu juga yoona menatapnya penuh kemarahan dan ikut pergi meninggalkannya, namun akhirnya tiffany kembali dan kini berada dihadapannya

Setelah selesai mengobati lukanya, tiffany terdiam menundukkan kepala dengan posisi masih duduk menghadap yuri. Yuri ikut menunduk dan melihat kedua tangan tiffany mengepal erat ,tangan yuri yang masih terborgol mencoba memegang kedua tangan tiffany, namun ia terkejut saat tiffany menepisnya

Tiffany mengangkat wajahnya dan mengusap air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya itu

“Fany-ah” panggil yuri

Perlahan isakan tiffany makin terdengar, tangannya mulai memukul mukul dada yuri

“Fany-ah” panggil yuri kembali

Perasaannya kembali sakit saat ketakutannya menjadi kenyataan yaitu  melihat sahabat yang sangat dicintainya menangis karenanya

Yuri mengangkat kedua tangannya yang terborgol, ia memasukan lingkaran tangannya pada kepala tiffany dan kemudian memeluk yeoja dihadapannya itu

Tubuh tiffany bergetar, ia menangis dengan menenggelamkan wajahnya pada pundak yuri, perlahan kedua tangannya terangkat membalas pelukan yuri

“Mianhae.. Jeongmal mianhae..” ucap yuri

“Buktikan pada mereka jika kau bukanlah pelakunya yul” ucap tiffany dalam tangisnya

Yuri semakin mengeratkan pelukannya mendengar ucapan tiffany, satu sisi ia merasa bersyukur tiffany ternyata mempercayainya, namun sisi lain ia tahu akan ada banyak masalah besar yang akan ia hadapi. Yuri sebenarnya ingin meledakkan tangisnya mengingat kembali masalah yang ia hadapi terutama tentang kenyataan yang sudah ia ketahui tentang tuan kim yang ternyata adalah ayah kandungnya. Namun tidak ada tempat untuknya bersandar, ia tak pernah ingin menangis dihadapan tiffany karena ia tahu itu akan semakin melukainya

*tok tok tok*

“Yuri-shi, tim investigator sudah menunggu anda di kantor” ucap salah satu polisi yang masuk ke ruangan itu

Yuri kembali mengangkat kedua tangannya melepaskan pelukannya, beruntung meskipun kedua tangannya terborgol ia masih bisa membingkai wajah tiffany dan menghapus air matanya

“Yaish… Kau terlihat buruk saat menangis, uljimma..” ucap yuri tersenyum kembali mengusap air mata yang terus mengalir pada pipi tiffany

“Kau yang membuatku menangis bodoh” ucap tiffany, iapun tersenyum kecil menatap yuri

“Aku titip yoong, sampaikan kata maafku padanya” ucap yuri, ia mulai berdiri dan berjalan meninggalkan tiffany yang kembali menangis di dalam ruangan itu

………

“Yoong… Chankkaman…” teriak jessica yang terus berlari mengikuti langkah yoona yang sangat cepat

Namun yoona terus berjalan tanpa menghiraukannya

“Akh…!” rintih yoona menghentikan langkahnya saat tiba tiba merasakan sakit di bagian jantungnya

“Yoong wae? Kau baik baik saja?” tanya jessica yang sudah dapat menyulunya

Jessica semakin terlihat khawatir saat melihat raut wajah yoona yang semakin terlihat sedang menahan sakit

“Kau harus minum obatmu, kajja” ucap jessica memeluk lengan yoona dan memapahnya hingga mereka masuk kedalam taksi

Tak berapa lama keduanya sampai di apartemen jessica, ia langsung membaringka  yoona diatas tempat tidur miliknya

“Tunggu sebentar aku akan membawakan air minum dan obat untukmu” ucap jessica, ia berjalan keluar sementara yoona hanya terdiam menatap yeoja itu dengan masih menahan sakit

Jessica kembali memasuki kamarnya membawakan segelas air mineral dan sebuah kantong berisi obat obatan. Ia duduk disamping yoona dan membantunya mengangkat tubuh yoona hingga menyandar pada punggung kasur

“Minumlah” ucap jessica perlahan menempelkan gelas itu pada mulut yoona, yoona pun menerimanya

“Sekarang kau minum obat” lanjutnya, jessica membuka kantong berisi onat obatan itu dan membaca aturannya satu persatu “ah.. Yang ini diminum sebelum makan”

Jessica mengeluarkan obat itu dan menyuapkannya pada yoona, namun tangan yoona segera menahannya

“Ini obat apa?” tanya yoona

“Ini obatmu, yuri yang memberikannya padaku, kau harus meminumnya secara rutin” jawab jessica

“Aku tak butuh itu” ucap yoona

“Yah ,kau harus menghargai unnie mu!”

“Aku tak memiliki unnie”

“Dasar bodoh, kau pikir kau hidup sampai sekarang karena siapa huh? Hargai unniemu! Dia itu sangat menyayangimu! Seharusnya saat keadaan seperti ini kau ada disampingnga untuk menguatkannya! Bukan malah meninggalkannya!” ucap jessica merasa kesal

Yoona kembali terdiam menundukkan wajahnya membuat jessica merasa bersalah karena membentaknya

“Mm…mmianhae” ucap jessica

Yoona mengambil tangan jessica membuka telapak tangannya ,ia mengambil obat itu dan meminumnya

“Ada lagi?” tanya yoona melirik pada kantong obat yang masih dipegang jessica

“Eh? An.. Anniyo, hanya 2 butir itu yang diminum sebelum makan, sekarang tidurlah dulu.. Satu jam lagi akan aku bangunkan” ucap jessica membaringkan tubuh yoona dan menyelimutinya “aku akan membuatkan bubur untukmu” lanjutnya hendak berdiri namun tangan yoona menahannya membuat jessica kembali menoleh

“Gomawo..” ucap yoona , keduanya terdiam saling tatap

“aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menjaganya, aku tak bisa selalu melindunginya untuk itu tolong jaga adikku”

“why me…?” ucap jessica¬†

“entahlah, nuraniku yang berkata begitu, hanya kau yang tahu tentang penyakit jantung adikku, aku tidak ingin tiffany tahu” ucap yuri

“hmm… itu karena kau sangat mirip dengan adikku, dia juga seumuran denganmu jadi aku merasa sedang merawat adikku” ucap jessica setelah mengingat percakapannya dengan yuri beberapa hari yang lalu, kemudian ia pun berjalan meninggalkan kamar

Setelah melihat jessica pergi, yoona menatap kosong ke langit langit kamar ,pikirannya kembali memikirkan yuri. Ia sedikit tersentuh mengingat ucapan jessica beberapa saat yang lalu, ia memang berpikir jika tidak ada yuri ia tak tahu hidupnya seperti apa dahulu. Dan seharusnya ia berada disamping yuri sekarang, satu sisi yoona yakin jika bukan yuri pelakunya ,namun sisi lai  ia mengingay unnienya itu bekerja dibawah perusahaan ayah tirinya yang ia tahu sangat berbahaya itu sehingga membuatnya meragukan keyakinannya terhadap yuri. Karena efek obat yang diminumnya, yoona merasakan ngantuk dan kedua matanya perlahan terpejam

…………………………………………..

Di Mansion Mr lee

“agashi, apa anda sudah mengetahui berita tentang yuri noona?” ucap salah satu pengawalnya yang baru saja memasuki ruang pribadi mr lee

“hmm… “ jawab mr lee yang masih terfokus memeriksa beberapa dokumen

“mian agashi, tadi pihak kepolisian menelepon dan meminta agashi untuk memenuhi panggilan ke kantor polisi” ucap pria itu

Mr lee terdiam mendengarnya, ia meletakkan kembali dokumen yang baru saja diperiksanya itu kedalam laci

“apa sudah ada pihak media yang mengetahui dan meliput?” tanya mr lee

“tidak ada agashi, tim kami sudah mengatasinya, hanya saja… saat hari kejadian terjadi keributan di rumah sakit antara yuri noona dengan salah seorang polisi, yuri noona menerima beberapa pukulan dari polisi itu, tapi kami belum dapat melihat orang itu dengan jelas karena dia membelakangi kamera cctv, kejadian itu membuat perhatian banyak para pengunjung rumah sakit”

*tok tok tok* seseorang baru saja mengetuk pintu ruangan dan pintu pun terbuka

“agashi, apa anda memanggilku?” tanya amber

“kemarilah” ucap mr lee “saat itu kau bersamanya, apa anak itu sengaja melakukannya?”

“aku yakin tidak agashi, saat itu aku memang mengawasinya saat yuri pergi mengunjungi pemakaman, namun kami tidak berada dalam satu mobil karena yuri membawa teman temannya dan yoona” ucap amber “namun saat akan kembali pulang, sebuah mobil dengan 3 orang namja didalamnya mengikuti mobil yuri “ lanjutnya

“kau berhasil menangkap mereka?”

“nne agashi, mereka membawa beberapa senapan, hanya satu orang yang masih bertahan hidup, dia masih ditahan di dalam gudang. tapi… saat itu aku tak melihat yuri didalam mobilnya, aku menelponnya dan dia memberitahuku akan mengunjungi rumahnya di gangnam dengan kereta, aku pikir diantara mereka juga mengikutinya”

“bawa aku padanya” ucap mr lee “dan kau, cari informasi tentang orang yang tertembak itu juga polisi yang menghajar yul”

“baik tuan” ucap amber dan anak buahnya itu, Mr lee pun berjalan mengikuti amber untuk menemui salah satu anak buah yang tertangkap itu

………………………………….

Di sebuah gedung salah satu tempat rahasia milik choi grup, tuan choi duduk dengan ditemani beberapa anak buahnya yang berdiri di sampingnya dan beberapa juga menjaga gedung itu.

tak berapa lama 2 orang namja bertubuh kekar datang mebawa seorang namja dengan beberapa luka di wajahnya

*brukk!!* 2 pengawal mendorong namja itu dengan keras ke hadapan tuan choi

“akh!!” teriak namja itu kesakitan “t.. ttuan.. ampuni aku” lanjutnya segera bangun dan berlutut di hadapan tuan choi

“hanya menghadapi seorang wanita saja kau gagal” ucap tuan choi melempar puntung rokok yang dihisapnya pada wajah namja itu

“b..bbukan begitu tuan, aku sudah membidiknya tepat pada kepalanya, tapi anak buahku tiba tiba mendorongku hingga membuat tembakanku melesat”

Tuan choi menoleh pada 2 pengawal yang membawa namja itu

“kami hanya menemukannya sendiri tuan” ucap salah satu pengawal itu

“an..anniyo, kami berangkat berdua dari pemakaman”

“dan kemana anak buahmu itu? berikan identitasnya” ucap tuan choi

namja itu terdiam “m..mianhae tuan, anak buahmu sangat banyak aku tidak dapat mengenalnya karena kami sama sama memakai penutup wajah”

Tuan choi berdiri memasukkan tangan kanannya kedalam jasnya, ia mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya tepat pada kepala namja itu

“tt..ttunggu ttuan, dia terkena tembakan, aku melihatnya dengan jelas, jika dia masih hidup mungkin bisa segera menem..”

*dorrr!!!!*  *brukk*

tubuh namja itu terkulai tak bernyawa dengan kepala yang mulai mengeluarkan banyak darah setelah tertembus peluru

“bersihkan, dan temukan orang yang baru saja diucapkannya itu”

“baik tuan” ucap para anak buahnya itu

Tuan choi baru saja beberapa langkah hendak meninggalkan gedung itu, seorang anak buah lainnya datang dengan tergesa gesa

“tuan, kami sudah menemukan data dari kedua anak kwon hyerin” ucap orang itu memberikan berapa lembar kertas berisi foto dan data diri

Tuan choi menerimanya dan membuka lembaran kertas itu, namun wajahnya begitu terkejut

“kwon yuri? dari bourbound company?! apa ini?!!” ucap tuan kwon meninggikan suaranya

“nne, yuri merupakan anak angkat dari mr lee namun hanya yuri yang tinggal bersama mr lee, aku pikir mungkin hanya yuri yang diangkat menjadi putri mr lee sedangkan kwon yoona adiknya aku masih belum dapat menemukannya karena sehun, xiumin dan jisoo yang saat itu bertugas membunuh mereka masih belum kembali sampai sekarang, kemungkinan besar mereka tertangkap oleh mr lee”

*sraaak!!!* tuan choi dengan keras melempar dokumen itu pada wajah anak buahnya yang bernama dong wook itu

“sial!!! kenapa ini bisa terjadi! arrrgghh…!! kita dalam masalah besar jika mereka tahu!” teriak tuan choi membuat semua anak buah yang melihatnya terkejut

“jj.. jjadi bbagaimana tuan? apa yang harus kita lakukan?”

“kita bersiap siap saja, jika mereka sudah mengetahuinya, ¬†apa boleh buat kita tak boleh gegabah karena mereka bukan lawan yang mudah” ucap tuan choi “tapi aku aku ingin kalian lenyapkan kim jun pyo serta keluarganya sebelum mereka tahu pelakunya”

“Tapi tuan, bukankah putri dari dokter kim seorang sersan?”

“Tenang saja, aku bisa mengatasinya” ucap tuan choi tersenyum smirk memandang sebuah foto

………………………………………

Apartemen jessica

Jessica kembali duduk disamping yoona yang tengah tertidur dari 1 jam yang lalu, ia meletakkan mangkok berisi bubur yang baru saja dibuatnya itu

Ia tak langsung membangunkan yoona, jessica terdiam memandang wajah tidur yoona

“Wajahmu terlihat tenang jika sedang tertidur, tapi setelah terbangun mengapa kau begitu menyebalkan” ucap jessica dalam hati, tanpa ia sadara kedua tangannya terangkat dan membingkai wajah yoona hingga perlahan yoona membuka kedua matanya

“Omo! Apa yang sudah aku lakukan?!” ucap jessica dalam hati dan segera melepaskan kedua tangannya begitu sadar

“K..kkau cepat sekali terbangun” ucap jessica

“Tanganmu sangat dingin” ucap yoona, ia terbangun dan duduk menyandar pada punggung kasur
“Eh? Kk..kau tahu ya, hehe mian” ucap jessica bertambah gugup iapun langsung mengambil mangkok berisi bubur itu “sekarang makanlah, aku sudah buatkan bubur untuk mu”

Yoona terdiam tak menerima bubur itu, ia hanya menatap jessica lekat

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya yoona

“Eh? Maksudmu?”

“Kau diminta yul unnie untuk menjagaku?”

“Tentu saja, kau sedang sakit dan tak ada yang merawatmu, kau sendiri saja tak bisa merawat diri”

“Wae…”

“Wae?” ucap jessica bingung

“Apa kalian berpacaran?” ucap yoona mengangkat sebelah alisnya

“Anniyo…”

“Lalu?”

“Yuri tidak bisa selalu menjaga dan melindungimu, entahlah aku pikir dia sedang menyembunyikan sesuatu hal yg mungkin sangat berbahaya hingga ia ingin selalu melindungimu, tapi dia tak pernah ingin menceritakannya, apa mungkin kau sudah tahu?” ucap jessica, yoona kembali terdiam mencerna apa yang jessica katakan

“Anniyo” ucap yoona

“Lagipula dia tidak ingin tiffany tahu jadi dia menitipkanmu padaku karena tak memiliki teman lain, aigoo…”¬†

“Ah kau benar, fany unnie tidak boleh tahu hal ini” ucap yoona

“Jadi sekarang kau harus menurut padaku, kkah makan lah aku sudah susah payah membuatkanmu bubur” ucap jessica memberikan mangkuk bubur itu pada yoona

“Kenapa kau tak menolaknya? Bukankah kau membenciku?” tanya yoona

“Kau memang sangat sangat sangat menyebalkan, tapi aku tak membencimu”

“Wae? Apa kau menyukaiku?”

“What? Yah!” teriak jessica mengangkat tangannya

“Jangan pukul aku, aku sedang sakit” ucap yoona dengan tenang sebelum jessica melayangkan pukulannya

“Yaish…! Jadi kau punya tameng sekarang, eoh? Jika tak ingin ku pukul berhentilah bersikap menyebalkan” ucap jessica menurunkan tangannya kembali

“Arraso, ahjumma”

“Yah! Aku bukan ahjumma!”

“Arra… Nona jessica jung sooyeon”

“Eh? Mengapa kau tahu namaku?”

“Kau sendiri yang memberikan identitasmu saat di restoran, dasar bodoh”

“Ah iya, aku melupakannya” ucap jessica tertawa innocent

Yoona pun mulai melahap bubur yang dibuat oleh jessica hingga habis

“Aku harus pulang” ucap yoona setelah meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu

“Baiklah..” ucap jessica segera berdiri

“Eh? Aku pikir kau akan menahanku dan meminta aku menginap disini” ucap yoona mempoutkan bibir

“Baboya, kau sudah memiliki rumah.. Lagipula aku hanya memiliki 1 tempat tidur”

“Gwaenchanna…” ucap yoona

“Andwae! Aku tak ingin tidur 1 kasur bersamamu” ucap jessica

“Huh? Aku tidak mengatakan hal itu, maksudku kau bisa tidur di soffa” ucap yoona innocent

“What?! Yaish! Sudah sana pulang! Lagipula sudah mulai larut malam” ucap jessica mendorong punggung yoona hingga keluar

“Kau tidak akan mengantarku?” tanya yoona

“Tidak, aku masih trauma keluar malam sendirian”

“Kau kan bisa menginap di rumahku”

“Mwo? Shirro! Dasar pervert!” ucap jessica langsung menutup pintunya

“Gomawo… Aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah” ucap yoona menatap pintu dihadapannya yang sudah tertutup itu

Jessica yang masih berdiri dibalik pintu itu hanya tersenyum tak menjawab. Perlahan ia mendengar langkah yoona semakin menjauh dan menghilang.

……………………………

*tap tap tap tap* seseorang berjalan cepat di sebuah koridor rumah sakit yang sudah terlihat sepi, ia melihat jarum jam tangan yang dikenakannya itu menunjukkan pukul 11 malam. Setelah sampai didepan pintu ruangan yang dituju, iapun segera memasuki ruangan itu dan melihat taeyeon sedang duduk terdiam memandang sorang perempuan yang terbaring tak dengan jarum infus dan oksigen yang terpasang

“Taeng, bagaimana kabar nyonya kim?”¬†

“Eomma sangat syok dan jatuh pingsan hyo” ucap taeyeon saat melihat sahabat sekaligus pengacara ayahnya itu

“Appa dan eomma mu pasti akan segera baik baik saja” ucap hyoyeon mengusap pundak taeyeon

“Hmm… Hyo, bolehkah aku menjadi seorang pembunuh?”

“Dasar bodoh, kau bicara apa? Kajja kita keluar, kau butuh udara segar” ucap hyoyeon, taeyeon pun mengangguk dan keduanya berjalan meninggalkan ruang rawat nyonya kim

Tak berapa lama keduanya tiba disebuah club malam dan taeyeon memesan meja vip disana

“Yah bodoh, kau ini sudah menjadi seorang sersan, mengapa kau masih saja mengunjungi tempat seperti ini” ucap hyoyeon sedikit berteriak karena suasana disana begitu berisik dengan iringan musik DJ

“Kau juga seorang pengacara tapi mengapa mengikutiku dan ikut minum, lagipula aku sedang di skors” ucap taeyeon mulai menuangkan bir pada gelas miliknya dan hyoyeon

“Itu karena kau mengajakku kesini dan hanya ada minuman minuman seperti ini disini, eh? Wae..?”

*plak*

“Aku tak mengajakmu bodoh, kau yang mengikutiku, aku memukul seorang pembunuh” ucap taeyeon memukul kepala hyoyeon

“Hahaha aku ini mengkhawatirkanmu, aku tau jika pikiranmu terguncang kau akan kemari, aku tak ingin menjadi pengacaramu karena kejadian beberapa tahun lalu”

“Huh? Memang aku sudah berbuat apa?”

*plak!!* 

“Yaish… Bisa bisanya kau lupa, kau hampir membunuh seorang namja ditempat seperti ini karena mabuk berat setelah kau bertengkar dengan kekasihmu!” ucap hyoyeon kini membalas pukulan pada kepala taeyeon

“Ah… Ya aku ingat hehehe” ucap taeyeon tertawa innocent sambil terus meminum beberapa gelas bir sampai ia mulai mabuk berbeda dengan hyoyeon yang baru menghabiskan setengah gelas

“Taeng, aku ingin bertanya sesuatu padamu”

“Nne, katakan”

“Apa kau memiliki saudara?” tanya hyoyeon

“Yah! Baboya, kau sudah mengenalku sejak kita berumur 13 tahun, bahkan kau tinggal di rumahku selama 5 tahun, kau pikir kau melihat siapa lagi selain aku?”

“Ah… Begitu ya”

“Wae…?”

“Jangan beri tahu taeyeon tentang hal ini”

Tiba tiba hyoyeon teringat ucapan tuan kim

“Anniyo, mungkin aku mulai mabuk”

“Kajja kita kesana” ucap taeyeon menunjuk pada kerumunan orang yang sedang menikmati alunan musik

“Shirro, aku disini saja lagipula cahayanya membuat kedua mataku pusing”

“Yah! Lepaskan kacamata bulatmu itu, kau setia sekali terus memakainya hahaha” ucap taeyeon mulai berdiri

Namun tiba tiba sunny datang dan menghampiri mereka

“Taeyeon-ah! Gwaenchanna? Aku baru mengetahui kabar yang menimpa ayahmu” ucap sunny terlihat khawatir menatap taeyeon

Taeyeon terdiam memandangnya, dengan sisa kesadarannya ia kembali teringat dengan kejadian kemarin malam bersama yeoja dihadapannya itu

“Gwaenchanna…” ucap taeyeon, iapun kembali duduk “ada apa kau kemari sunny-ah?” lanjutnya

“Tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu” ucap sunny

Taeyeon tersenyum miris sambil sedikit menundukkan wajahnya

“Ini karena ayahmu” ucap taeyeon dalam hati

Flashback

“Hiks hiks” pagi pagi sekali sunny menangis didalam kelas membuat orang orang bingung melihatnya

*brak!!* suara pintu kelas terbuka dengan keras, taeyeon berlari menghampirinya

“Sunny-ah, apa yang terjadi?” tanya taeyeon dengan nada khawatirnya

“Appa jahat padaku”

“Wae…?”¬†

“Dia ingin aku meneruskan perusahaannya setelah lulus nanti”

“Gwaenchanna… Itu tidak akan sulit”

“Shirro, kau tahu aku sangat berbeda dengan appaku! Aku benci appa” teriak sunny dalam tangisnya

“Sst… Uljimma…” ucap taeyeon memeluk kekasihnya itu

Beberapa bulan setelah melewati ujian kelulusan

“Taeyeon-ah”

“Nne?” ucap taeyeon yang berbaring diatas rumput hijau dengan paha sunny yang menjadi bantal kepalanya

Keduanya sedang berada di taman sekolah seperti yang sering dilakukannya pada waktu istirahat karena keduanya berbeda kelas

“Apa aku harus pergi keluar negeri agar aku tak bekerja di perusahaan appaku?”

“Andwae…!! Kau akan meninggkalkanku?” ucap taeyeon yang langsung terbangun

Sunny hanya terdiam menatapnya

Hingga beberapa hari setelahnya sunny menemui taeyeon di lapangan basket

“Hey baby, baru saja aku akan menjemputmu ke kelas” ucap taeyeon

“Taeyeon-ah ada hal ingin aku bicarakan berdua denganmu” ucap sunny

Teman teman taeyeon yang berada disana pun segera meninggalkan lapangan begitu mendengar apa yang dikatakan sunny, pasangan taeyeon dengan sunny memang sangat disegani oleh para siswa di sekolahnya karena sunny merupakan seorang putri dari penyumbang terbesar di sekolah, sedangkan taeyeon selain putri seorang dokter terkenal juga sebagai siswa yang memiliki nilai tertinggi di sekolah setiap tahunnya

Sunny terlihat sedikit ragu, namun akhirnya ia memberikan sebuah amplop berwarna putih pada taeyeon

“Apa ini? Surat cinta?” tanya taeyeon menerima amplop itu dan membukanya

Namun setelah membacanya raut wajah taeyeon berubah dengan tangannya sedikit bergetar

“K…kkau… Akan menerimanya?”

Sunny hnya terdiam menundukkan kepalanya. Surat yang diterima taeyeon adalah surat pemberitahuan sebuah ubiversitas di USA yang menerima sunny sebagai mahasiswa baru disana

“Kau akan meninggalkanku?”

“Taeyeon-ah, aku tak bisa menuruti keinginan appaku, perusahaan itu bukan keinginanku” ucap sunny mulai menitikan air matanya

“Kita bisa lalu bersama, aku akan selalu berada disampingmu”

“Aku tidak bisa” ucap sunny menggeleng gelengkan kepalanya

“Baiklah, aku akan menunggumu” ucap taeyeon

“Anni, kita akhiri saja” ucap sunny membuat taeyeon terkejut

“Wae…? Kita sudah berjanji akan selalu bersama sampai tua nanti, apa kau melupakan itu?”

“Aku tidak bisa” ucap sunny berlari meninggalkan taeyeon yang masih berdiri mematung

Sejak saat itu setiap hari sebelum perayan kelulusan tiba, taeyeon selalu berusaha menemui sunny namun sunny selalu menolak dan menghindarinya hingga taeyeon benar benar kecewa dan salah satu temannya memberitahukan jika ada seorang siswa yang mengaguminya sejak kelas 1, ia menerima saran dari temannya agar mendekati yeoja itu untuk membuat sunny cemburu, taeyeon pun mencobanya dan menemui yeoja yang mengaguminya itu, bernama tiffany hwang. hingga keduanya menjadi sepasang kekasih, namun sayangnya sunny tetap pada keputusannya hingga ia benar benar pergi meninggalkan korea.

Keduanya bertemu kembali setelah sunny kembali ke korea dan taeyeon diundang ayahnya dalam pesta penyambutannya

“Kenapa kau tampak terkejut? Aku diundang oleh ayahmu” ucap taeyeon

“Kau dekat dengan appaku?”

“Entahlah, aku hanya sedang menyelidiki beberapa perusahaan gelap”

“Jangan terlalu dekat dengan appaku”

“Wae? Ah.. Ku dengar kau pulang untuk bergabung di perusahaan ayahmu, aku rasa aku masih ingat dulu kau sangat membenci hal itu”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan”

“Hey kenapa kita begitu tegang, aku tak marah tentang hal itu lagipula tiffany sudah menjagaku selama beberapa tahun ini” ucap taeyeon tersenyum menatap sunny

Berbeda dengan raut wajah sunny yang berubah

“Aku pergi dulu” ucap sunny dengan nada dinginnya

Taeyeon kembali tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil menatap sunny yang berjalan menjauhinya, ia tahu sunny sedang cemburu padanya

Flashback end

Taeyeon mengepalkan kedua tangannya erat

“Taeyeon-ah.. Gwaencha…”

Belum selesai sunny berbicara, taeyeon tiba tiba memeluknya erat

“Anniyo, aku tidak sedang baik baik saja sunny-ah” ucap taeyeon menitikkan air matanya

Sunny pun membalas pelukan taeyeon

“Aku sangat membenci ayahmu, tapi aku tak bisa membencimu” ucap taeyeon dalam hati

Waktu sudah menunjukkan pulu 03.00 dinihari

“Taeyeon-ah kajja pulang” ucap sunny mencoba membangunkan taeyeon yang tertidur menyandarkan kepalanya diatas meja

Taeyeon hanya bergumam enggan terbangun, ia sudah sangat mabuk setelah menghabiskan beberapa botol bir

“Hyo bangunlah, kajja kita bawa taeyeon pulang” ucap sunny menggoyangkan hyoyeon yang juga tertidur namun ia tidak sampai mabuk hanya kelelahan setelah seharian bekerja

“Ah, nne..” ucap hyoyeon mulai mengaitkan lengan taeyeon pada pundaknya

“Hyo, aku mual” gumam taeyeon yang sedikit terbangun

“Mwo?! Yah yah chankkaman!!” ucap hyoyeon

“Huuwweeee mmmmpph!!”¬†

Belum sempat taeyeon memuntahkan isi perutnya hyoyeon sudah membekap mulutnya dengan jaket milik taeyeon

“Sunny-ah aku akan membawanya ke toilet, kau tunggulah di mobil” ucap hyoyeon, iapun langsung membawa taeyeon ke dalam toilet hingga ia bajunya selamat dari muntahan taeyeon

“Sudah ku katakan, jangan munum terlalu banyak! Dasar bodoh” ucap hyoyeon memijat mijat leher taeyeon

“Sudah selesai hyo, hah.. Perutku rasanya diaduk aduk” ucap taeyeon membilas wajahnya dengan air, kini kesadarannya mulai pulih

“Salahmu sendiri bodoh” ucap yeoja disampingnya itu

Hyoyeon pun kembali memapah taeyeon karena masih terasa pusing

Begitu sampai di apartemen, hyoyeon dan sunny membaringkan taeyeon diatas tempat tidurnya

“Kau akan menginap disini?” tanya sunny

“Nne, dia sedang sangat tertekan dengan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya, aku khawatir dia selalu seperti ini”

“Terus jaga dia hyo, aku juga sangat mengkhawatirkannya” ucap sunny kembali menatap wajah taeyeon yang sudah tertidur

“Kenapa saat itu kau meninggalkannya sunny-ah, taeng sangat mencintaimu”

“Aku….” ucap sunny tak meneruskannya

“Apa kau masih mencintainya?” tanya hyoyeon membuat sunny terkejut

“Ap.. Apa maksudmu?” ucap sunny gugup

“Anni, aku hanya bertanya” ucap hyoyeon innocent

*plak!!* 

“Yaish…!! Dasar bodoh!” ucap sunny kesal setelah memukul lengan hyoyeon

“Kau tidurlah disini, aku akan kebawah mencari kopi” ucap hyoyoen kemudian berjalan meninggalkan apartemen taeyeon
………

*Your destination number is not answer, please try again*

“yaish… kau kemana taeng?” ucap tiffany kesal setelah beberapa kali menekan panggilan nomor kekasihnya itu, sudah hampir 3 jam ia menunggu taeyeon di dalam ruang rawat nyonya kim

Setelah melerai perkelahian tiffany membawa taeyeon menjauhi yuri karena jika terus melihat yuri ia tahu kekasihnya akan terus emosi. setelah mulai tenang taeyeon dipanggil atasannya untuk menemuinya, tiffany pun mengantar taeyeon ke kantor polisi. namun karena sangat lama menunggu tiffany mengirim sms pada taeyeon ia akan keluar dan meminta taeyeon untuk menunggunya jika telah selesai berbicara dengan atasannya itu. tiffany pun kembali ke rumah sakit untuk menemui yuri karena dari perkelahian itu ia sangat mengkhawatirkan yuri yang memiliki banyak luka diwajahnya, ia tahu yuri tidak bersalah meskipun ia sudah mengetahui apa yang terjadi. ia begitu mengkhawatirkan yuri yang tak bisa berkelahi sehingga menerima beberapa pukulan dari taeyeon dan itu membuat hati tiffany ikut terluka, ia sangat ingin memarahi taeyeon namun ia tahu itu malah akan memperburuk keadaan

Setelah menemui yuri, tiffany kembali ke kantor polisi untuk menemui taeyeon, namun ia tidak menemukan taeyeon, dan salah satu rekan taeyeon yang berada disana memberitahunya jika nyonya kim jatuh pingsan setelah mengetahui kabar yang menimpa suaminya dan taeyeon sedang menuju kesana. tiffany pun segera menyusulnya, dan baru tiba di rumah sakit pukul 12 malam setelah bertanya pada tetangga rumah taeyeon dimana ibunya dirawat karena taeyeon tak kunjung menjawab panggilan teleponnya. ia tiba di rumah sakit 1 jam setelah taeyeon meninggalkan rumah sakit

Tiffany merasa kelelahan dan beristirahat di ruang rawat nyonya kim sambil menunggu taeyeon

“ah sudah jam 2, besok siang aku harus bekerja, aku tidak bisa meminta cuti” gumam tiffany, iapun segera berdiri dan memakaikan kembali jaket tebalnya

“omonim, aku pergi dulu, semoga lekas sembuh, besok aku akan kembali kesini” ucap tiffany mengusap usap lebut lengan dan kepala nyonya kim

Tiffany pun meninggalkan rumah sakit

Namun saat diperjalanan ia kembali mengkhawatirkan kekasihnya itu, karena arah taksi yang ditumpanginya melewati apartemen taeyeon iapun memutuskan untuk beristirahat disana dan berharap taeyeon berada disana

Tiffany menekan password apartemen taeyeon, ia tersenyum saat aroma pewangi baru yang taeyeon katakan pagi tadi mulai tercium dihidungnya

*piiip*

ia pun memasuki apartemen taeyeon setelah pintu terbuka

…………….

“huffft… dingin sekali” gumam hyoyeon mengusap usap cup berisi cappucino hangat yang baru saja ia beli di sebuah mini market tak jauh dari apartemen, kini ia telah kembali ke apartemen dan pintu lift yang membawanya terbuka

“omo!!” teriak hyoyeon saat akan menabrak seorang yeoja yang akan memasuki lift “aku pikir kau hantu, mianhae” lanjutnya sambil terus menatap yeoja itu

yeoja itu mengangkat wajahnya menatap hyoyeon

“tiff… fany?” ucap hyoyeon terkejut saat melihat wajah yeoja itu, kedua matanya tampak merah seperti baru saja menangis

“fany-ah.. chankam…” belum sempat hyoyeon melanjutkan ucapannya pintu lift yang membawa tiffany sudah tertutup dan berjalan.

“yaish… ini buruk!” ucap hyoyeon kembali dan berlari menuju kamar taeyeon, namun saat akan masuk, ia bertabrakan dengan sunny yang baru saja keluar

“s…ssuny-ah apa yang terjadi?” tanya hyoyeon menggenggam pergelangan tangan sunny, ia melihat yeoja itu terisak

“lepaskan aku hyo” ucap sunny

“oddiga?” tanya hyoyeon kembali

“tolong lepaskan tanganku, aku ingin pergi” ucap sunny kembali terisak

“baiklah..” ucap hyoyeon melapaskan tangan sunny, ia melihat sunny kmbalu berjalan meninggalkan apartemen

Hyoyeonpun masuk dan menghampiri taeyeon, ia melihat taeyeon terduduk diatas tempat tidur sambil menundukkan kepalanya

“taeng apa yang telah terjadi?” ucap hyoyeon

…………………………………

Keesokan harinya

Yuri baru saja memasuki ruang tahanan tempatnya ditahan, ia baru saja menemui beberapa polisi, investigator dan detektif yang mengusut kasus yang menimpa padanya dan tuan kim

Dengan kedua tangan yang terus terborgol ia menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan dan mulai terduduk menundukkan kepalanya sambil mengingat percakapannya bersama para polisi beberapa saat yang lalu

“apa kau yakin dengan ucapanmu kemarin jika salah satu pelaku tertembak?”

“nne, aku mendengar teiakannya”

“yuri-shi, kami sudah mengolah TKP disana, kami tak menemukan darah, peluru ataupun jejak, meskipun ada beberapa semak yang rusak tapi itu tidak bisa membantu”

“hmm… aku tak bisa menjelaskan hal lain lagi setelah itu” ucap yuri menundukkan wajahnya

“minhae, karena bukti pertama yang memegang senjata saat kejadian itu dan tidak cukup bukti jika ada orang lain maka kini kau ditetapkan sebagai tersangka dan besok harus menghadiri sidang pertama dan akan tetap ditahan sampai hakim memutuskan, aku harap tuan kim segera sadar dari komanya dan bisa segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi”

“nne.. tapi aku rasa tuan kim masih dalam bahaya, tolong selalu jaga dia” ucap yuri

Ketua polisi itu terdiam tampak berpikir sambil memandang kedua bola mata yuri

“baiklah, aku akan mengirim anak buahku untuk berjaga disana”

“sir, Mr lee sudah tiba disini” ucap salah satu polisi yang datang menghampiri

“kajja yuri-shi ikut kami” ucap para polisi itu, yuri pun dibawa ke ruang kunjungan dan melihat ayah tirinya sedang duduk menunggunya

“kalian sudah melakukan tugas dengan baik, terima kasih telah menjaga putriku dan tak menyakitinya” ucap mr lee kembali menatap wajah yuri yang masih menyisakan beberapa bekas luka pukulan

“mianhatta agashi, saat itu sersan taeyeon yang merupakan puteri dari tuan kim merasa sangat emosi dan tidak bisa mengontrol emosinya”

“gwaenchanna aku baik baik saja appa” ucap yuri tersenyum menatap ayah tirinya itu

“aku tidak bisa membantumu lebih” ucap mr lee menatap yuri “aku akan menyerahkan semuanya pada kalian, jadi tolong lakukan tugas kalian dengan baik dan jaga anakku” lanjutnya sambil menatap satu persatu para polisi yang berada disana

“baik agashi” ucap para polisi

Mr lee pun pamit dan meninggalkan kantor polisi karena harus kembali ke kantornya.

……………………………………

Sudah 3 hari yuri ditahan setelah melaksanakan sidang pertama yang membuatnya ditetapkan sebagai tersangka dan kembali mendekam di penjara. dan selama itu pula yang hadir hanya mr lee dan taeyeon serta para anak buah mr lee

yuri sedang terdiam didalam ruangannya, seorang polisi datang membuka pintu ruangan itu

“yuri-shi, ada keluarga yang ingin menemui anda” ucap polisi itu

“nugu?” gumam yuri, iapun terbangun dan berjalan menuju ruang kunjungan, ia trsenyum saat melihat seseorang sedang duduk menunggunya

“yoong” ucap yuri membuat yeoja itu menoleh kearahnya

Yuripun duduk dihadapannya

“baru tiga hari kau sudah terlihat kurus” ucap yoona

“begitu ya, makanan disini tidak seenak makanan luar, apa kau membawa beberapa makanan untukku?”

“tentu saja, aku tau kau sangat pilih pilih makanan, aku membawakanmu jajangmyeon” ucap yoona mengangkat sebuah box berisi beberapa makanan

“omo omo! kyaaaa… gomawo..” ucap yuri berteriak senang

Keduanya pun menikmati beberapa makanan yang dibawa oleh yoona, beruntung mr lee meminta pada para polisi untuk memberi yuri perlakuan berbeda dari para tahanan lain dan disetujui

“ah perutku benar benar terasa enak sekarang” ucap yuri mengusap usap perutnya

“yaish… bersihkan dulu kotoran di wajahmu, dari dulu kau selalu saja berantakan jika makan, bagaimana saat kau makan bersama kekasihmu nanti eoh?” ucap yoona mengambil beberapa tissue dan diusapkannya pada pajah yuri yang terlihat kotor oleh sisa bumbu jajangmyeon yang dimakannya

Yuri terdiam, matanya berkaca kaca melihat perlakuan yoona padanya. sudah beberapa tahun lamanya ia belum pernah lagi merasakan perhatian dari adiknya itu seperti yang dilakukannya sekarang

“wae..?” ucap yoona menatap kedua mata yuri yang hampir menangis

“anniyo, aku hanya senang melihatmu yoong”

“hmm… sebenarnya aku kesal padamu, tapi….”

“wae?”

“aku lebih takut kehilanganmu” ucap yoona sedikit merendahkan suaranya namun masih bisa didengar oleh yuri

“aku akan baik baik saja” ucap yuri menggenggam kedua tangan yoona

“apa kau selalu menangis di dalam sana?”

“anniyo.. yah! kau pikir aku anak kecil eoh?”

“kau memang sudah dewasa tapi kau ini cengeng!” ucap yoona memberikan merong pada yuri

“yaish…!! menyebalkan”

“wajahmu terlihat sangat buruk” ucap yoona menatap luka luka biru yang masih terlihat disudut bibir dan pada dahi yuri

“benarkah? tapi para tahanan disini mengatakan jika aku terlihat tampan” ucap yuri mengusap usap dagunya

“kenapa kau tak melawannya?”

“aku tidak bisa”

“lalu apa gunanya sabuk hitammu?” ledek yoona

“hahaha… walaupun pukulannya tak seberapa aku tetap tak bisa melawannya”

“wae…?” ucap yoona kesal

“tenagaku akan terbuang sia sia melawan si pendek itu hahaha” ucap yuri tertawa

“yaish… kalau begitu biar aku yang membalasnya”

“berkelahi saja kau tak bisa”

“aku akan berlatih! lihat saja, akan ku pastikan dia meminta maaf padamu”

“dia memukulku karena ayahnya tertembak yoong” ucap yuri dengan nada yang mulai terdengar serius

“aku tau, bagaimanapun juga itu tindakan yang tidak tepat, namanya menghakimi sendiri”

“omo! sejak kapan otakmu menjadi pintar”

“sejak meninggalkan mansion”

“hmm… arra, sekarang kau sudah mendapatkan kebebasan”

“tentu saja, kau tak ingin sepertiku?”

“tentu saja ingin, dasar bodoh”

“tinggalah bersamaku setelah keluar nanti”

Yuri terdiam mendengarnya

“andwae, itu akan membahayakanmu, bahkan aku tak tahu bahaya seperti apa lagi setelah aku keluar nanti” ucap yuri dalam hati memandang adiknya itu

“yoong berlatihlah ilmu bela diri untuk menjaga dirimu”

“shirro, kau bilang kau akan selalu menjagaku, jadi untuk apa aku melakukan itu”

“dasar bodoh, setidaknya kau akan baik baik saja selama aku tak bersamamu”

“arasso…”

“hey yul” sapa amber yang baru saja memasuki ruang kunjungan “oh kau juga disini yoong, senang rasanya melihat kalian kembali akur” lanjutnya

“hey.. kemana saja kau eoh?”

“hehehe mianhae aku sibuk, yoong bisakah tinggalkan kami berdua dulu sebentar?”

“wae…? aku ini bukan lagi anak kecil”

“yaish.. ini tentang ayahmu, kau masih mau mendengarnya?”

“anniyo, aku pergi unnie aku harus kembali ke restoran”

“oke hati hati yoong dan titipkan salam ku pada jessica” ucap yuri terbangun hendak memeluk yoona

*pletak!!!* 

bukannya balasan pelukan yang didapat melainkan jitakan pada kepalanya

“aw.. appo..” gumam yuri mengusap usap kepalanya

“andwae!”

“wae..?”

“anniyo, aku tetap tak akan mengatakannya, aku pergi” ucap yoona berjalan meninggalkan ruang itu

“yaish… menyebalkan” gumam yuri dan kembali duduk

“hahaha senang sekali melihat kalian kembali akur” ucap amber yang sedari tadi tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik itu

“apanya yang akur” ucap yuri mempoutkan bibirnya

“so, apa kau hidup dengan baik disini? mianhae aku baru mengunjungimu sekarang”

“gwaenchanna…”

“aku sebenarnya ingin kau mengajukan banding dan segera keluar dari sini, aku bisa saja menjadi saksi dan membawa tersangka yang mengintai yoona saat dipemakaman itu, hanya saja itu terlalu berbahaya untukmu yul”

“hmm.. aku sudah menduganya, akupun tak bisa berkata apa apa selain menunggu ap… Eh tuan kim sadar” ucap yuri

“tak apa jika kau ingin menyebutnya appa” ucap amber membuat yuri terkejut

“kau sudah tau?”

“baboya, tentu saja.. kau memintaku menyembunyikan ahjumma agar polisi tak menanyakannya mengapa tuan kim berada di rumahmu, tentu saja saat itu ahjumma menjelaskan semuanya, ia terus menangis memaksaku membawanya kemari untuk menjadi saksi, tapi aku sudah menahannya dan membawanya pergi jauh”

“haha dia memang pemaksa” ucap yuri

“ahjumma menitipkan ini padamu” ucap amber memberikan sebuah amplop, yuri membukanya dan melihat beberapa foto bergambar barang barang didalam sebuah kotak

“apa ini?”

“entahlah, dia memintamu untuk mengingatnya” ucap amber

“tentu saja aku mengingatnya” ucap yuri dalam hati

“hmm… sayangnya aku memiliki ingatan yang buruk hehehe aku pikir dia akan menitipkan makanan, dasar ahjumma” ucap yuri kesal

“kau ingin makan apalagi? bukankah adikmu sudah membawakannya untukmu”

“ah kau benar hehehe”

“yaish… kau ini bos yang bodoh” ucap amber

“mwo? yah! aku ini yang menggajimu bahkan kau terus menerima uang dari games games yang aku ciptakan!”

“hahaha yah anggap saja itu sisi baiknya dari kau hahaha” ucap amber tertawa puas

“jadi kau berhasil menangkap para pengintai itu? siapa mereka?” tanya yuri kembali serius, amber menegakkan badannya dan mulai mencondongkan tubuhnya mendekati yuri

“2 diantaranya mati tertembak, untungnya masih ada 1 orang yang hidup, mereka anak buah dari tuan choi”

“hmm…”

“eh? kau tak terkejut?”

“aku sudah menduganya, sebenarnya aku sudah tahu jika tuan choi pemilik rumah sakit itu, aku berpikir jika tuan choi berniat membunuhku dan yoona”

“karena itu untuk saat ini mianhae aku tak bisa membantumu keluar dari sini”

“gwaenchanna, aku hanya akan terus memintamu menjaga adikku”

“nne”

“dan latihlah dia bela diri”

“eh?? bukankah dulu kau melarangnya?”

“nne, tapi setelah kejadian ini pasti bahaya akan selalu mengintainya”

“arra, ah apa dia tahu tentang ayahmu?”

“anniyo, aku masih belum bisa memberitahunya, aku takut akan melukai jantungnya”

“baiklah, kalau begitu aku harus segera pergi mengawasi adikmu, aku akan segera melatihnya nanti”

“gomawo” ucap yuri memeluk amber

“yah! kau ini memang bos yang menyebalkan baiknya yaish…” ucap amber membalas pelukan yuri

Ia pun  pergi dan yuri kembali kedalam ruangannya

……………………………..

di restoran

“kemana dia? apa dia sakit lagi?” gumam jessica saat tak melihat yoona sedari pagi

“kau mencari si rusa?” tanya sooyoung mengejutkan jessica

“yaish… anniyo, tapi kemana dia?”

“kantor polisi mengunjungi unnie nya” ucap sooyoung

“oh.. begitu” ucap jessica kembali melakukan aktivitasnya mengelap meja “mwo??!! ke kantor polisi? jinja?” ucapnya kembali merasa excited

“yaish! yah! kau membuat jantungku hampir copot!” ucap sooyoung mengusap usap dadanya

“hehhe mianhae eh? kenapa dengan lenganmu?” ucap jessica saat melihat sebuah perban melilit lengan kanannya “wajahmu juga ada luka gores, apa kau berkelahi?”¬†

“anniyo, kemarin aku terjatuh”

“ah… pantas sudah beberapa hari aku tak melihatmu”

Sooyoung mengambil jaketnya dan mengenakannya

jessica kembali membalikkan badannya namun seseorang tiba tiba sudah berdiri dihadapannya

“boo!!!”

“kyaaaa!!!”

*cekrek cekrek cekrek*

“aaahahaha…. aku mendapatkannya! soo…!! aku mendapatkan wajah terkejutnya hahaha aigoo.. jelek sekali!” teriak yoona sambil tertawa aligator

“YAHH!!! IM YOONA!” teriak jessica dengan tatapan devil nya

“omo!” yoona langsung berlari dan jessica segera mengejarnya sambil melayangkan gagang sapu yang diambilnya

“yah!! kemarikan ponselmu atau kau akan mati!!” teriak jessica terus mengejar yoona, beruntung restoran sudah tutup sehingga hanya ada mereka dan karyawan lain yang tertawa menontonnya, yoona mengoper ponselnya pada sooyoung, sooyoung pun mngoper ponselnya pada jinki yang ikut bergabung

ūüéĶ You better run run run run run
Deoneun mot bwa geodeocha jullae
You better run run run run run
Nal butjabado gwanshim kkeodullae HeyūüéĶ

“ah lagu yang cocok untuk mereka” ucap luna setelah memutar musik ikut memecah keributan didalam restoran tersebut

…………

Setelah lelah berlari lari jessica, yoona dan sooyoung duduk di soffa pengunjung

“Aigoo tangan ku merah karena gagang sapu yang kau pukulkan” ucap yoona memperlihatkan lengannya yang memiliki beberapa bekas kemerahan

“Itu karena salah mu sendiri bodoh”¬†

“Hehehe mianhae, sudah ku bilang aku sangat suka jika kau sedang marah”

“Yah! Menyebalkan”

“Ah ya aku lupa, soo mulai besok aku akan belajar kungfu!” ucap yoona exicited sambil melayang layangkan tangannya

“Yah yah yah, turun kan tanganmu” ucap sooyoung namun yoona malah terus berpura pura menyerangnya

“Aku akan menjadi petinju internasional, wacauww!! Hiatt!!”¬†

*plak!!!* akhirnya pukulan yoona mengenai lengan sooyoung

“Aw!!! Yah! Appo…” teriak sooyoung meringis kesakitan memegang lengannya

Yoona terkejut saat lengan baju sooyoung berubah warna

“Omo! Kau berdarah?” ucap yoona

Belum sempat sooyoung berbicara yoona sudah menarik jaketnya dan melepaskan ya hingga melihat perban putih yang melilit lengannya sudah berwarna merah padam

“Wae…?” ucap yoona terlihat khawatir

“Dia terjatuh” ucap jessica

“Jinja? Kajja kita ke rumah sakit!” ucap yoona hendak membangunkan sahabatnya itu

“Andwae, aku baik baik saja.. Aku hanya tinggal mengganti perbannya”

“Tapi darahmu sangat banyak! Yah bodoh, kau habis melakukan apa sampai terjatuh begitu parah?”

“Hehehe biasa, in acton! Aku pergi dulu menemui dokterku” ucap sooyoung

“Apa aku perlu mengantarmu?”

“Andwae, kau antar saja jessica pulang”

“Baiklah, mianhae…” ucap yoona

Sooyoung pun pergi meniggalkan restoran

Begitu pun yoona dan jessica mulai menaiki bis, setelah keduanya cukup dekat yoona selalu mengantarnya pulang karena jessica masih trauma sendirian di luar

“Dasar bodoh! Bukan nya membangunkanku kau malah membiarkan bus kita melewati 1 halte” ucap jessica merasa kesal, keduanya harus kembali berjalan karena bus yang membawa mereka kebablasan

“Hehehe apa boleh buat, aku terlalu terpaku menatap wajah tidurmu”

“Yah! Jangan coba coba menggodaku” ucap jessica mengepalkan tinjunya

“Hehehe arraso” ucap yoona

Tiba tiba jessica menghentikan langkahnya dan memegang tangan yoona membuat yeoja itu juga menghentikan langkahnya

“Wae?” tanya yoona

Jessica menarik lengan jaket yang dikenakan yoona hingga memperlihatkan tangan putihnya

“Apa kau benar benar terluka?” ucap jessica memeriksa tangan yoona, ia sebenarnya khawatir setelah yoona mendapatkan beberapa pukulan dan gagang sapu yang dilayangkannya

“Anniyo, aku baik baik saja”

“Tapi tadi tanganmu merah merah”

“Oh… Hahaha itu karena aku memiliku kulit yang putih jadi cepat membekas jima terkena pukulan, tapi itu akan hilang kembali dalam beberapa saat”

“Jinja? Gwaenchanna?”

“Yaish yeoja macam apa kau setelah memukul lalu kembali merasa khawatir”

“Yah, itu karena kau sendiri yang sangat menyebalkan”

“Kau kan tahu….”

“Arra arra arra aku menyukai wajah marahmu” ucap jessica melanjutkan apa yang akan yoona katakan

“Eh? Hahahaha anak pintar” ucap yoona mengusap usap kepala jessica

“Ah ya, tadi pagi kau benar benar menemui yuri?”

“Nne… Wae?”

“Anniyo, aku hanya senang mendengarnya”

“Dia menitipkan salam untukmu” ucap yoona dengan wajah tak sukanya

“Jinja…?” ucap jessica excited

“Yah yah yah! Ekspresi macam apa itu” ucap yoona kesal

“Tapi tumben kau menemuinya sendiri, aku pikir kau benar benar marah padanya”

“Ya.. Aku memang marah padanya, tapi entahlah aku tak tahu mengapa selalu mengikuti perintahmu”

“Wow daebak, apa kau menyukaiku?”

“Sepertinya begitu” ucap yoona berjalan mendahului jessica sementara jessica kembali menghentikan ¬†langkahnya merasa terkejut

Entah perasaannya merasa senang atau hanya keterkejutan semata, entahlah jessica selalu merasa hal aneh dengan tingkah yoona yang selalu tiba tiba

…………………

“bunuh yuri begitu dia terbebas nanti”


TBC

mohon maaf seharusnya ini diunggah kemarin2, karena ada kendala di lp yang sudah tua renta jadi terganggu

Oh ya, gomawo atas jawaban jawaban kalian beserta alasannya

Hampir semuanya memiliki pendapat yang sama

Sebenarnya author juga sependapat dengan kalian, karena author bukanlah anak gawel jadi ngga terlalu suka ff yg pake “lawh guweh” hehehe benar juga kata kalian, jadi sulit membayangkannya karena mereka dari korea rasanya aneh kalo pake bahasa gawel

Tapi author masih menyadari jika tulisan author masih jauh banget dari kata sempoa. 

Mohon maaf yass

We Are Different part 4

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………………..

Taeyeon terbangun begitu mendengar alarm jamnya berbunyi. ia mengusap usap kedua matanya dan melihat dirinya sudah terbaring diatas tempat tidur kamar miliknya. ia terkejut saat melihat tubuhnya tak memakai pakaian sehelaipun kecuali selimut tebal yang menutupi tubuhnya, taeyeonpun langsung terbangun dan duduk diatas tempat tidur tersebut. Ia menoleh melihat pakaian yang dikenakannya semalam berserekan diatas lantai. ia menunduk dengan kedua tangan yang menumpu kepalanya mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya tadi malam, namun pikirannya terhenti begitu mendengar bunyi shower kamar mandi berhenti, ia sadar tak hanya dirinya yang berada didalam kamar tersebut. tak berapa lama ia melihat seorang yeoja yang masih mengenakan  melangkah keluar dari kamar mandi tersebut

“sunny?” ucap taeyeon begitu melihat wajah yeoja itu

“lekaslah mandi, hari ini kau tak bekerja?” ucap sunny dengan ekspresi yang terlihat biasa, berbeda dengan taeyeon wajahnya terlihat pucat karena terkejut

“apa yang terjadi tadi malam?” tanya taeyeon tak menjawab pertanyaan sunny

“lebih baik kau ingat ingat sendiri, aku tak ingin berbohong padamu” ucap sunny mulai melepaskan bathrobe yang ia kenakan dihadapan taeyeon, posisinya memang memunggungi taeyeon tapi tetap saja membuat taeyeon semakin gugup

“ap.. apa yang sedang kau lakukan?” ucap taeyeon

“tentu saja mengganti pakaianku, memangnya apa lagi? aku sudah cukup lelah dengan apa yang kita lakukan semalam, kau benar benar liar”

“mwo?” ucap taeyeon kembali terkejut

Flashback

Setelah mengunjungi rumah kedua orang tuanya, taeyeon mengunjungi sebuah club malam untuk menenangkan pikirannya

Begitu sampai, ia langsung menghabiskan beberapa gelas alkohol dan mulai menikmati alunan musik didalam club tersebut

“Kau masih saja selalu kesini” ucap seorang yeoja membuat taeyeon mengangkat wajahnya melihat yeoja itu

“Sunny?”

“Baboyaa, kau sudah menghabiskan berapa gelas hingga membuatmu seperti ini? Dasar polisi tak berguna” ucap sunny saat melihat taeyeon sangat mabuk hingga kesulitan mengenalinya

*brak!!!* taeyeon meletakkan gelas yang digenggamnya begitu keras setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sunny membuat yeoja dihadapannya itu terkejut

“Ya, aku memang polisi tak berguna hahaha kau benar sunny-ah”

“Ada apa denganmu taeng?” tanya sunny terlihat khawatir

“Anniyo, lagipula aku tak mabuk kau pulanglah”

“Anniyo, kau yang harus pulang taeng, kau sudah mabuk berat, kajja” ucap sunny mulai merangkul dan mengaitkan tangan taeyeon pada pundaknya

Sunnypun memapah taeyeon yang sudah mabuk meninggalkan club dan mengantarnya pulang ke apartemen taeyeon

Begitu sampai sunny langsung membaringkan taeyeon yang hampir hilang kesadarannya, namun saat berbalik dan hendak meninggalkan kamar tiba tiba taeyeon terbangun dan menahan tangan sunny

“Kajjima” ucap taeyeon

“Eh? Aku harus pulang taeng, kau tidurlah”

“Kau selalu saja meninggalkanku” ucap taeyeon membuat sunny terdiam “dulu kita sama sama berjanji akan menikah dan hidup bahagia setelah lulus sekolah, tapi kau tiba tiba memutuskan akan pergi ke USA dan menghilang dari kehidupanku”

“T… Ttaeng…” ucap sunny mencoba melepaskan genggaman tangan taeyeon namun taeyeon menarik tangannya hingga tubuh sunny terjatuh keatas tempat tidur menimpa taeyeon yang segera memeluknya

“Apa kau melupakan hal itu? Apa kau sudah melupakanku?” ucap taeyeon

“Taeyeon-ah kau mabuk, lepaskan aku kau sudah memiliki tiff… mmmhhh….” ucap sunny namun ucapannya terpotong saat tiba tiba taeyeon menindih tubuh sunny dan mencium bibirnya

Sunny mencoba memberontak namun taeyeon begitu kuat menahan tubuhnya

“Sesakit ini kah perasaanku?” ucap taeyeon setelah mengangkat kepalanya

Sunny berniat melepaskan diri saat merasakan taeyeon mulai melepaskan cengkramannya namun ia melihat air mata taeyeon mulai mengalir

“Wae…? Ada apa denganmu taeng?” ucap sunny membingkai wajah taeyeon yang menunduk, namun air mata taeyeon mengalir semakin deras

“Uljimma..” ucap sunny kembali menghapus air mata taeyeon yang tak ingin berhenti

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menunduk menangis mengingat masalah yang terjadi pada ayahnya

Sunnypun kembali mengangkat wajah taeyeon dan mencium bibirnya

“Uljimma… Aku… Juga merindukanmu” ucap sunny kembali mencium bibir taeyeon

Taeyeon perlahan membuka kedua matanya menatap wajah sunny, tangan taeyeon mulai memeluk leher sunny dan menekan yeoja itu untuk memperdalam ciumannya hingga keduanya semakin merasakan kenikmatan

*dan terjadilah asdfjflflfjfkdl*

*cut!*

Flashback end

Taeyeon mengusap usap kasar wajahnya begitu mengingat kejadian tadi malam

“Kau bisa melupakannya” ucap sunny yang sudah paham menatap taeyeon

“Sunny-ah.. Mm.. Mmianhae” ucap taeyeon merasa bersalah

“Hmm… Aku harus segera pergi, mandilah” ucap sunny kemudian meninggalkan taeyeon yang hanya terdiam

Sunny adalah mantan kekasih taeyeon, keduanya sudah menjalin hubungan sejak kelas 1 SMA dan merupakan pasangan teromantis di sekolahnya, namun setelah menempuh ujian kelulusan tiba tiba sunny memutuskan hubungan keduanya karena akan melanjutkan kuliahnya ke USA, taeyeon yang saat itu kecewa mencoba melampiaskan dengan mendekati tiffany yang ia tahu gadis itu telah lama mengagumi taeyeon. Awalnya taeyeon hanya ingin membuat sunny cemburu dan menyesal atas keputusannya, namun sunny tetap meninggalkannya. Hingga akhirnya taeyeon menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk mencoba mencintai tiffany hingga hubungannya bertahan sampai saat ini. Namun kini taeyeon bertemu sunny kembali saat ayah sunny mengundangnya di acara pesta menyambut kedatangan sunny. Taeyeon hanya mencoba bersikap biasa meskipun pada kenyataannya ia masih belum bisa melupakan sunny.

…………………………………………..

“Hey tiffy, hari minggu begini kau tetap pergi bekerja?”¬†sapa jessica saat dirinya berpapasan dengan tiffany di depan gedung apartemen

“Hay jessie, anniyo aku akan pergi menemui taeyeon, tadi malam dia tak bisa dihubungi”

“Aigoo, padahal kemarin siang kalian sudah bertemu”

“Hehehe tetap saja komunikasi harus terus berjalan, taeng selalu melupakan malamnya, makanya aku harus selalu menghubunginya, kau baru saja pergi joging?”

“Nne, udara pagi disini sejuk sekali” ucap jessica merentangkan kedua tangannya menikmati hembusan angin pagi

“Eh? Apa hanya aku yang merasa kedinginan?” ucap tiffany merasa heran, ia sendiri memakai jaket tebal dan melihat orang orang mengenakan jaket juga “kalau begitu aku pergi, jessie aku membuatkan sarapan untukmu”

“Ah.. Okay thanks baby ,nanti aku ke apartemenmu, take care” ucap jessica, keduanya pun berpisah

Jessica memasuki apartemen miliknya, namun baru saja beberapa langkah bel pintu apartemennya berbunyi, iapun kembali untuk membukakan pintu

“Uh? Kau? Ada apa kemari?” tanya jessica menaikkan sebelah alisnya begitu melihat yoona mengunjungi apartemennya

“tadi aku baru saja berolah raga ah kau juga ya? Mengapa kita tidak bertemu ya haha” ucap yoona dengan wajah cerianya

“Aku tidak bertanya hal itu, ada apa kau kemari?”

“Hey aku ini tamu, kau tak mempersilahkan aku masuk?” ucap yoona membuat jessica memutar kedua bola matanya

“Hhh… Masuklah” ucap jessica pasrah

“Wah apartemenmu rapi sekali” ucap yoona begitu masuk dan duduk diatas soffa, jessica tak menjawabnya ia hanya berjalan meninggalkannya ke dapur

Tak berapa lama jessica pun kembali dengan membawakan dua gelas minuman untuknya dan satu lagi diberikan pada yoona

“Gomawo..” ucap yoona menerima minuman itu

“Ada apa kemari? kau sendirian?” tanya jessica kembali

“Aku hanya ingin berkunjung, nne memangnya bersama siapa lagi?”

“Unnie mu tak ikut?” tanya jessica membuat raut wajah yoona berubah

“Anni” jawab yoona singkat

“Oh.. Begitu”¬†

“Mengapa kau menanyakannya? Kau menyukainya?” tanya yoona dengan nada yang ketus

“Anniyo, aku hanya bertanya” ucap jessica

“Oh”

“Kenapa dengan anak ini? Tadi terlihat ceria sekarang jadi menyebalkan lagi” ucap jessica dalam hati

“Aku ingin membeberitahumu, mulai besok kau sudah bisa bekerja di restoran” ucap yoona

“Mwo? Yah sejak kapan aku menerimanya?”

“Sejak sekarang”¬†

“Yaish… Aku tid”

*tingtong* bel pintu apartemen jessica berbunyi kembali, jessica pun berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu

“Yeoppodaa..” gumam yoona saat melihat jessica menyibakkan dan mengikat rambut panjangnya yang sebelumnya tergerai

“Good morning” sapa seorang yeoja begitu pintu dibukakan

“Hey yul! Good morning, tumben pagi pagi kau kesini” ucap jessica senang dan mempersilahkan yuri masuk

“Nne, tadinya aku ingin mengunjungi apartemen tiffany tapi tak ada orang disana, jadi sekalian saja aku kemari”

“Ah.. Begitu ya, dia memang sedang pergi mengunjungi rumah taeyeon, kau kalah cepat yul”

“Hahaha kau ini”

“Ada apa kau kemari?” ucap yoona dengan raut wajah tak sukanya begitu melihat yuri masuk

“T…tternyata ada kau yoong, aku hanya ingin berkunjung sebentar, mianhae aku mengganggu waktu kalian” ucap yuri terkejut begitu melihat adiknya sudah berada disana

“Gwaenchanna, kami tidak sedang ada acara, kau ingin minum apa yul?” ucap jessica

“Yaish, tadi dia tidak menawariku minuman” ucap yoona dalam hati melirik sebal pada jessica “aku pulang dulu” lanjutnya membuat langkah jessica terhenti

“Andwae, biar aku saja yang pergi” ucap yuri menahan tangan yoona

“Eh? Ada apa dengan kalian?” tanya jessica heran

“Lepaskan aku” ucap yoona dengan nada dinginnya

Yuri pun segera melepaskan tangannya

“Aku harus pulang, tiba tiba moodku memburuk” ucap yoona kemudian kembali berjalan dan meninggalkan apartemen jessica

“Maafkan sikap adikku, dia sebenarnya tak seperti itu” ucap yuri tersenyum malu

“It’s okkay yul, aku sudah biasa menghadapi sikapnya, tapi… Ada apa dengan kalian? Kalian terlihat seperti sedang bertengkar”

“Anniyo, hanya masalah kecil” ucap yuri

“Jinja? Kalau hanya masalah kecil mana mungkin dia terlihat sangat marah seperti itu”

Yuri terdiam mendengarnya, ia terlihat ragu untuk menceritakannya pada jessica namun yeoja dihadapannya itu sudah memahami raut wajah yuri

“Aku bukanlah seseorang yang mudah akrab dengan orang lain, tapi rasanya berbeda saat mengenal tiffany dulu, sama denganmu yul, rasanya kau selalu memiliki daya tarik para yeoja, apa kau pernah melakukan ritual?”

“Hahaha kau bicara apa sica, yah! aku tak pernah melakukan hal semcam itu ,mungkin ini karena wajahku saja yang terlihat berkharisma” ucap yuri mengusap usap dagunya

“Yaish percaya diri sekali”

“Hubunganku dengan yoona memang sedang tak baik, bahkan sudah lama dia tidak tinggal di rumah”¬†

“Mwo?? Pantas waktu itu dia berkata seperti itu” ucap jessica begitu mengingat awal pertemuannya dengan yoona setelah meninggalkan rumah sakit

“Memang yoong berbicara apa padamu?”

“Anniyo, aku sudah lupa” ucap jessica

“Yaish… Kau ini”

………………………………..

Tiffany telah sampai di apartemen taeyeon dan langsung masuk kedalam

“Good morning taeng ^_^” sapa tiffany begitu memasuki kamar taeyeon dan melihat kekasihnya sedang duduk memainkan ponselnya

“Uh tumben kau kesini tak menghubungiku dulu pany-ah, untung aku sedang berada di rumah” ucap taeyeon segera berdiri memeluk dan memberikan morning kiss pada kekasihnya

“Tadi malam kau kemana? Nomormu tak bisa dihubungi, apa kau melupakan makan malammu?”

“Ah ya, setelah pulang dari jeonju aku lupa mencharger ponselku, mianhae.. Tapi aku tak melupakan makan malam”

“Syukurlah ^_^” ucap tiffany kembali memeluk kekasihnya namun raut wajahnya berubah “eh? Kau mengganti parfum taeng?” tanya tiffany begitu mencium aroma yang asing di dalam kamar taeyeon

“Ah.. Y..yya, eh anniyo, ini bukan parfum, aku mengganti pewangi ruang kamarku” ucap taeyeon dengan wajah yang memucat, pasalnya wangi parfum sunny masih menyebar didalam kamarnya

“Ah.. Begitu ya, wanginya sangat enak tumben sekali kau membeli pewangi yang sangat feminim hahaha” ucap tiffany menertawai kekasihnya itu

“Hahaha memangnya tidak boleh eoh? Kau lupa jika selain tampan aku juga sangat cantik” ucap taeyeon memberikan merong pada tiffany

“Yaish… Andwae! Kau cukup tampan saja!” kesal tiffany mencubit pinggang taeyeon

Keduanyapun kembali bercanda tawa. Taeyeon kembali merasa tenang karena tiffany tak mencurigainya

“Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?” tanya tiffany menempelkan punggung telapak tangannya diatas dahi taeyeon

“Anniyo.. Aku baik baik saja” ucap taeyeon melepaskan tangan tiffany

“Apa kau mabuk semalam?” tanya tiffany memicingkan kedua matanya

“Hehehe sedikit” ucap taeyeon yang langsung mendapat jeweran ditelinganya

“Kau bilang tak akan mabuk lagi! Apa kau pergi ke sebuah club lagi eoh?!”

“An.. Anniyo… Aku hanya meminum soju bersama appa di rumah”

“Aku pikir kau pergi ke club lagi! Kalian ini, pasti kalian mabuk semalaman. Huh.. Appa sama anak sama saja” ucap tiffany membuat taeyeon terdiam

“Aku tak seperti appaku” ucap taeyeon dengan nada dinginnya

“Apanya, kalian sama saja”

“Aku bilang aku tak seperti appaku!” ucap taeyeon kembali dengan meninggikan suaranya membuat tiffany terkejut

“Ada apa denganmu taeng?” ucap tiffany dengan wajah ketakutan

“An..anniyo, mianhae..” ucap taeyeon segera memeluk tiffany

“Mianhae.. Pany-ah” ucap taeyeon kembali didalam hati

…………………………..

Keesokan harinya

Yuri terbangun dan langsung membuka ponselnya ,ia terenyum begitu melihat layar wallpaper yang bergambar dirinya bersama tiffany sedang tersenyum senang bersama anjing kesangannya bermama Hani. Foto itu diambil saat tiffany berulang tahun yang ke 20, saat itu yuri memberikan kado seekor anak anjing yang lucu yang kemudian diberi nama hani oleh yuri

mereka pun melakukan foto bersama untuk mengabadikannya dan sejak saat itu yuri menggunakan foto itu sebagai wallpaper pada ponselnya hingga sekarang. Yuri selalu membuka ponselnya setiap bangun pagi agar bisa melihat tiffany, baginya hanya melihat yeoja itu di dalam foto saja sudah membuatnya bahagia.

Kini tatapan yuri tertuju pada tanggal kalender yang tertera dilayar ponselnya , hari ini adalah hari peringatan kematian eomma nya yang ke 16 tahun

yuri menekan tombol panggilan pada ayah tirinya itu

“appa, hari ini aku tidak akan pergi ke kantor”

“wae?”

“aku akan mengunjungi makam eomma, hari ini hari kematian eomma”

“pergilah bersama amber”

“nne”

“baiklah” ucap mr lee kemudian menutup telponnya

yuripun segera terbangun dan memasuki kamar mandi

……………………………..

“Selamat pagi…” sapa para karyawan begitu melihat yoona dan sooyoung baru saja tiba memasuki restoran ,namun mereka terlihat heran saat yoona tak menjawabnya dan langsung berjalan menuju ruang ganti, tak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria bahkan selalu bercanda

“Dari kemarin moodnya sedang buruk” ucap sooyoung seolah mengerti raut wajah para karyawannya

“Ah begitu ya, pantas wajahnya terlihat suram” ucap jinki membuat orang orang didalam restoran tersebut tertawa

Mereka pun kembali membersekan dan menata restoran sebelum dibuka

*cring cring cring!!* bunyi lonceng yang tergantung pada pintu restoran berbunyi begitu seseorang membukakan pintu

“Selamat pagi… Mianhae noona, restoran kami masih belum buka” ucap jinki

“Anniyo.. Aku kemari bukan..” ucap jessica yang datang tersebut

“Ada apa kau kemari?” potong yoona yang sudah berdiri disamping jinki, jinki pun meninggalkan keduanya

“Yah, kau bilang mulai sekarang aku sudah bisa bekerja, yasudah klo begitu aku pulang” ucap jessica hendak membalikkan badannya namun yoona segera menahan tangannya

“Gantilah pakaianmu” ucap yoona menarik tangan jessica dan membawanya ke ruang ganti karyawan

“Yaish…!! Kalau bukan karena yul yang meminta aku tidak akan pernah mau bekerja bersama orang menyebalkan ini!” rutuk jessica setelah melihat yoona meninggalkan ruang ganti

Flashback

“Kalian terlihat seperti sedang bertengkar”

“Anniyo, hanya masalah kecil” ucap yuri

“Pasti adikmu sendiri yang membuat ulah hingga membuat kalian bertengkar”

“Bukan, ini karena salahku”

“Aku tak percaya, sifatmu dan adikmu sangatlah berbeda ,you’re all really different”

“Dulu yoong tak seperti itu, dia orang yang sangat ceria, akulah yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang”

“Yah, kwon yul! Kau selalu saja setengah setengah jika bercerita, sebenarnya inti malasahnya apa?”¬†

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, mianhae”

“Baiklah aku tak akan memaksamu”

“Bisakah aku meminta bantuanmu?” ucap yuri

“Sure, katakan”

“Ku lihat kau dengan adikku sangat dekat”

“Anniyo, itu tidak seperti yang kau lihat”

“Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk padanya, tapi aku juga tidak bisa selalu menjaganya, bahkan mungkin suatu saat aku tidak bisa ada disampingnya lagi” ucap yuri, kini wajahnya terlihat serius

“Wae? Kau terdengar seperti akan pergi jauh”

“Untuk saat ini aku tak bisa melindunginya, untuk itu aku ingin memintamu untuk selalu disampingnya, percayalah walaupun dia menyebalkan tapi yoong anak yang baik, jebal…”

“Hhhh… Akan aku pikirkan kembali”

“Aku percaya padamu, sica” ucap yuri memegang kedua tangan jessica dan menatapnya

*Deg.. Deg.. Deg..* 

“Omo, ada apa ini?” ucap jessica dalam hati begitu merasakan detak jantungnya terdengar kencang

“Besok adalah peringatan hari kematian ibuku, bisakah kau membujuk adikku untuk datang? Dia tak pernah mengunjungi makan eomma”

“Jadi kedua orang tua kalian memang sudah tidak ada? Tapi kenapa adikmu tak pernah ingin mengunjunginya?”

“Nne, ayahku pergi meninggalkan eomma saat aku masih kecil, saat itu aku baru berusia 1 tahun jadi aku tak bisa mengingat wajah ayahku, saat berumur 10 tahun hari itu adikku berulang tahun, tapi yoong sedang dirawat di rumah sakit karena terkena tyfus, sepulang sekolah aku segera membelinya kado dan mengunjungi rumah sakit, namun sayangnya kadoku malah tertinggal, setibanya disana aku justru mendapati ibuku dibawa ke ruang UGD, ahjumma bilang penyakit jantung eomma tiba tiba kambuh, dan hari itu juga aku dan adikku kehilangan uri eomma, semenjak saat itu sikap adikku berubah dan dia masih marah terhadap eomma” ucap yuri tersenyum sedih sambil mengusap air matanya yang hampir mengalir

“M..mmianhae..” ucap jessica yang sudah menitikkan air matanya merasakan kesedihan yuri, ia pun mengusap usap pundak yuri

“Jangan bersedih lagi, aku akan mencoba membantumu” ucap jessica kembali membuat yuri mengangkat wajahnya

“Gomawo” ucap yuri memeluk jessica
Flashback end

Kini jessica telah rapi memakai seragam kerjanya dan segera keluar menghampiri yoona, ia melihat yoona sudah berdiri bersama karyawan lainnya termasuk sooyoung

“mulai hari ini kita mendapatkan teman baru yang akan bekerja disini, perkenalkan dirimu” ucap yoona dengan nada dinginnya

“Nne, anyeong.. Jessica jung imnida, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan mohon bantuannya” ucap jessica menyapa para karyawan lain ,mereka sudah terlihat akrab dan mengantar jessica ke dapur

“Rasanya aku pernah melihatnya” ucap sooyoung

“Oddiga?”

“Entahlah aku lupa, yah seleramu bagus juga, dia cantik”

“Yah! Jangan coba merayunya!” ucap yoona kesal

“Hahaha anniyo… Kau tenang saja, eh? Kau akan tetap bekerja hari ini?”

“Tentu saja, memangnya kenapa?”

“Kau tak akan menemui ibumu?”

“Kau wakili saja, aku malas kesana”

“Yaish… Anak durhaka! Baiklah aku pergi dulu” ucap sooyoung, “baguslah kau tak pergi, tetaplah disini dan jangan pergi kesana” lanjut sooyoung dalam hati

“Oddiga? Bukankah bora sedang berada di LA?” tanya yoona

“Ada beberapa hal harus aku urus” ucap sooyoung,¬†iapun pergi meninggalkan restoran

Restoran mulai dibuka dan beberapa saat kemudian para pengunjung yang kebanyakan orang orang kantor mulai berdatangan membuat para karyawan restoran tersebut sibuk termasuk jessica dan yoona

“Yah antarkan ini pada meja nomor 19” ucap yoona memberikan nampan berisi makanan pada jessica

“Bisakah kau memanggil namaku? Dasar tidak sopan, aku ini lebih tua darimu!”¬†

“Nne ,unnie bisakah kau antarkan ini? Jebaljuseyoo” ucap yoona dengan aegyoo nya

“Mengapa dia bisa berubah dengan cepat seperti itu, yaish.. Menyebalkan” ucap jessica dalam hati , ia segera mengambil nampan dan meninggalkan yoona

…………………………

Choi mansion

seorang namja dengan pakaian jas dokternya datang menemui tuan choi

“tuan, hari ini adalah hari peringatan kematian kwon hyerin” ucap namja itu

“berita bagus min joong, itu berarti kedua anak dari hyerin akan datang menemui makam mendiang ibunya” ucap tuan choi pada namja bernama min joong itu “kalian lekaslah bergerak” lanjutnya kepada para anak buahnya yang sudah berkumpul

mereka pun langsung bergerak sesuai perintah tuan choi untuk membunuh yuri dan yoona

“kalau begitu aku permisi tuan, aku harus segera kembali ke rumah sakit” ucap min joong

“min joong-ssi, kau yang menghubungiku jika kedua putri hyerin masih hidup dan mengetahui kejadian 15 tahun yang lalu kan”

“nne tuan, beberapa hari yang lalu adiknya sempat di rawat di rumah sakit dan aku bertemu dengan yuri”

“dan saat itu dia membicarakan tentang ibunya?”

“nne tuan, itulah mengapa aku segera menghubungi anda”

“mengapa saat itu kau tak segera melenyapkannya?”

Min joong terdiam mengingat kembali saat pertemuannya dengan yuri, saat itu ia memang berniat akan membunuh yuri

‚Äújadi‚Ķ yang dirawat itu‚Ķ‚ÄĚ

‚Äúya, dia adikku, yoong. tapi dia sudah pergi dari sini‚ÄĚ ucap yuri melanjutkan ucapan min joong

‚Äúb..bbegitu ya, eh? wae..? dia masih harus mendapat perawatan‚ÄĚ ucap dokter itu masih dengan nada gugupnya, sebutir keringat dingin mengalir pada pelipisnya

‚Äúdia tak akan mau, oh ya aku baru tahu¬†ahjushi sekarang bekerja disini‚ÄĚ

‚Äúoh n..n.. nne‚Ķ aku sudah 7 tahun bekerja disini setelah dipindah tugaskan dari yonsei hospital‚ÄĚ

‚Äúbegitu ya, oh ya bagaimana hasil pemeriksaan adikku?‚ÄĚ tanya yuri

‚Äúitu‚Ķ em.. yoona‚Ķ‚ÄĚ ucap dokter itu, tangannya yang berada dibawah meja perlahan membuka laci dan mengambil sebuah jarum suntikan yang sudah terisi cairan tanpa sepengetahuan yuri “dari hasil pemeriksaan pertama yoona memiliki penyakit jantung bawaan yang bisa disebabkan karena faktor keturunan, namun adikmu harus kembali diperiksa untuk benar benar memastikan jika itu benar atau salah dan harus segera ditangani, sayangnya kau bilang adikmu sudah pergi”

“aku rasa memang dia terkena penyakit itu” ucap yuri menundukkan wajahnya, ia teringat dari kecil sering mendapati yoona yang selalu tiba tiba merasakan sakit pada jantungnya dan memiliki fisik yang lemah, namun yoona selalu menolak jika diajak untuk berobat. yuri sedikit menyesal karena dulu tidak membawa adiknya berobat

“adikmu bisa sembuh jika segera ditangani sejak sekarang”

“nne aku akan mencoba membujuknya, bisakah kau berikan obat untuk sekarang?”

“nne tentu saja, rumah sakit ini sudah memiliki obat yang sangat bagus untuk penyakit itu, tapi… aku rasa adikmu harus segera mengambil tindakan operasi”

“aku meragukannya” ucap yuri terdiam sejenak “bahkan dokter dokter ahli jantung dari yonsei hospital rumah sakit terbaik pun gagal menyelamatkan ibuku” lanjutnya menatap wajah keterkejutan min joong

“y..yyul, it… itu…” ucap min joong terbata, tangannya semakin mengeratkan jarum suntikan yang ia sembunyikan dibawah meja itu. dugaannya benar jika yuri akan mengungkit masalah itu bahkan ia tahu yuri sudah mencurigainya

“bodohnya saat itu aku masih terlalu polos merasa sangat senang saat aku dan adikku dikirim ke panti asuhan dan segala kehidupanku dibiayai oleh pemilik rumah sakit itu, padahal itu hanya untuk menutupi masalah itu, benarkan? ahjushi?”

wajah min joong semakin memucat tak bisa berkata apa apa

“aku pergi dulu, permisi” ucap yuri setelah melihat dokter dihadapannya terdiam cukup lama, ia mengambil kertas resep diatas meja yang sudah dituliskan dokter itu sebelumnya

begitu melihat yuri berjalan membelakanginya, min joong segera berdiri dengan menyembunyikan jarum suntik itu dibelakang punggungnya dan berjalan mengikuti yuri, ia sudah bersiap akan menyuntikkan jarum yang sudah berisi cairan itu pada yuri namun saat sudah siap tiba tiba pintu ruangannya terbuka dari luar dan seorang perawat masuk hingga min joong langsung menurunkan kembali dan menyembunyikan jarum itu

beruntung saat itu yuri tidak mengetahuinya

Flashback end

“mianhae tuan, saat itu rumah sakit sedang ramai, aku tak bisa gegabah”

“kau boleh pergi sekarang” ucap tuan choi yang sudah berdiri memunggunginya memandang pemandangan diluar jendela

“baik tuan” ucap min joong segera meninggalkan ruang pribadi tuan choi

“bunuh dia” ucap tuan choi pada salah satu penjaganya

………………………………………..

di rumah kedua orang tua taeyeon

“Ahjushu apa ini tidak terlalu cepat untuk menuliskan surat wasiat? anda bahkan terlihat sangat sehat” ucap pengacara tuan kim yang diminta untuk menemuinya

“masalah kematian tidak akan ada yang tahu hyoyeon-ah, jangan beritahu taeyeon tentang hal ini”

“nne ahjushi”

“hyoyeon-ah, bisakah kau antar aku ke stasiun?”

“nne? anda akan pergi tanpa membawa mobil?”

“nne, aku ingin mengunjungi rumah temanku di gangnam”

“baiklah, kajja” ucap hyoyeon

Setelah pamit hyoyeonpun mengatar tuan kim ke stasiun

“hyoyeon-ah, gomawo”

“nne ahjushi, ini bukan apa apa”

“berteman baiklah dengan taeyeon seperti aku dengan appamu”

“hehehe tentu saja ahjushi, hanya saja taeyeon begitu sibuk sekarang”

“ingatkan dia untuk selalu sering menemui ibunya, dan tolong jaga istriku”

“eh? mengapa anda berkata seperti itu?”

“anniyo, hanya ingin berpesan padamu”

“hahaha kau membuatku merinding saja”

“kkah pergilah, aku juga akan pergi”

“nne, hati hati dijalan ahjushi”¬†ucap hyoyeon

keduanya pun berpisah di stasiun

………………………………

“yul, apa kau lama menungguku?” ucap tiffany yang baru saja tiba

tadi siang setelah tiffany bisa dihubungi, yuri memintanya untuk menemuinya disebuah kafe tempat biasa mereka bertemu

“anniyo, aku juga baru saja tiba beberapa menit yang lalu, duduklah aku sudah memesankan minuman bebarap makanan untukmu”

“gomawo, yul mianhae tadi pagi selama perjalan aku menaruh ponselku di dalam tas jadi aku tak tahu jika kau menghubungiku” ucap tiffany dengan raut menyesal

“gwaenchanna, apa aku mengganggu waktumu dengan taeyeon?”

“anniyo, saat kau menghubungiku tadi aku memang sedang dalam perjalanan pulang”

“eh? kalian tidak pergi berkencan? ini hari minggu”

“anni, taeyeon sedang dalam mood yang buruk”

“dan kau masih selalu jadi pelampiasan kemarahannya?”

“anniyo.. taeyeon tidak marah marah hari ini”

“syukurlah, akan ku dandani wajah tampannya jika berani membentakmu lagi” canda yuri mengepalkan tangan dan mengadahkannya keatas

“hahaha nne, pukulah dia yuri-ah, tapi sebelum memukulkan mungkin wajah tampanmu sudah dihabisi olehnya” ucap tiffany sambil tertawa

“ah ya, aku lupa aku tak bisa berkelahi hehehe” ucap yuri menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal itu

Selama ini tiffany memang tak pernah tahu jika yuri sudah mendapatkan sabuk hitam dalam taekwondo yang sudah  ia jalani saat masih sekolah

saat mengetahui yuri yang mengambil ponsel dan dompet jessica dari para perampok itu awalnya tiffany curiga namun saat itu menjelaskan padanya jika bukan dia yang mengambil dompet itu melainkan seorang polisi yang menjadi teman yuri. tiffany pun mempercayainya.

Ia sengaja menutupi hal itu karena tiffany sangat membenci perkelahian, sejak kecil tiffany memiliki trauma dan jantung yang lemah terhadap kekerasan akibat sering melihat perkelahian di daerah sekitar rumahnya, ia akan terkejut dan tubuhnya melemah jika melihat perkelahian

“jadi ada apa kau memintaku bertemu? kau tak bekerja?”

“anniyo, pekerjaanku tak terlalu sibuk sekarang dan aku sudah meminta izin appaku”

“ahh… apa kau merindukanku?”

“hahaha ya aku ¬†merindukanmu miyoung-shi”

“yaish…!! tinggal kau satu satunya yang selalu memanggil nama itu, menyebalkan”

“apa boleh buat, aku menyukainya” ucap yuri kembali tertawa tanpa menyadari kedua pipi tiffany sudah memerah karena ucapannya

“jadi kau rela tak bekerja dan menemuiku karena merindukanku atau ingin meledekku eoh?” ucap tiffany mempoutkan bibirnya merasa sebal

“dua duanya hehehe, terlebih hari ini peringatan hari kematian eomma”

“omo!! yul” ucap tiffany terlihat sangat terkejut

“wae…?”

“mianhae… jeongmal mianhae, aku melupakan hal itu” ucap tiffany dengan kedua mata yang berkaca kaca merasa sangat bersalah pada yuri

“gwaenchanna, aku juga hampir lupa hehehe”

“kau ini, pantas kau memakai pakaian serba hitam, kalau begitu kajja kita kesana, tapi antar aku ke apartemenku dulu untuk mengganti pakaian” ucap tiffany segera berdiri

“yah, mengapa terburu buru, aku sudah memesan beberapa makanan, duduklah kembali. lagipula yoong masih belum selesai bekerja”

“eh? yoong akan hadir?” tanya tiffany dengan wajah berbinarnya

“semoga saja, aku meminta jessica untuk membujuknya”

“jessica? sejak kapan kau dekat dengannya?”

“eem… entahlah, wae? apa kau cemburu?”

“anniyo, aku hanya terkejut sekaligus senang, kau tahu? jessica adalah yeoja yang sangat dingin, aku tak meyangka jika kau bisa dekat dengannya”

“mungkin dia menyukaiku” ucap yuri dengan cuek

*plakkk!!* tiffany memukul kepala yuri

“dasar bodoh!”

“aw appo… mengapa kau memukulku?” ucap yuri mengusap usap kepalanya yang sebenarnya tak terasa sakit karena tiffany hanya memukulnya pelan

“mana mungkin dia menyukaimu, jessie hanya menyukai seorang namja, babo!”

“mengapa kau semarah itu? aku kan tidak tahu” ucap yuri mempoutkan bibirnya

“an.. anniyo, aku tak marah” ucap tiffany salah tingkah

“noona, ini pesanan anda” ucap seorang pelayan kafe yang menghampiri meja yulti dan menyakjikan beberapa makanan yang telah dipesan yuri

“banyak sekali pesananmu” ucap tiffany melihat beberapa makanan yang berada dihadapannya

“entahlah aku sedang ingin makan banyak” ucap yuri mulai menyuapkan makanan pada mulutnya

“seharusnya dari dulu, agar tubuhmu tak kurus seperti itu” ucap tiffany, ia tersenyum melihat yuri yang sedang menikmati makanannya

“Kau tak makan?” tanya yuri saar melihat tiffany hanya minum jus miliknya

“Anni, aku sudah makan tadi”

“Ah… Taeyeon memang koki yang handal selain menjadi polisi”

“Hahaha ,belajarlah masak agar bisa memasakkan makanan untukku”

“Shirro, aku hanya ingin kau yang memasak”

“Yaish… Kkah lanjutkan makanmu, aigoo makanmu sangat berantakan sekali” ucap mengambil tissue ¬†dan mengusapkannya pada dagu yuri

………………………………………………

“haaah… akhirnya selesai juga” ucap jessica setelah selesai menyapu lantai semua ruangan restoran. sudah satu jam yang lalu restoran tersebut tutup karena banyaknya pengunjung membuat bahan bahan di restoran tersebut cepat habis, jadi hari ini hanya sampai sore

“Ini” ucap yoona memberikan segelas jus strawberry pada jessica

“gomawo” ucap jessica menerima jus itu, keduanya pun duduk di kursi pengunjung

“kau lelah?”

“hmm… lumayan, ramai juga pengunjung restoranmu”

“tentu saja, itu semua karena sang pemilik yang tampan sekaligus cantik ini ikut bekerja disini?” ucap yoona mengusap usap dagunya

“eiyyy… percaya diri sekali” ucap jessica “adik sama kakak sama saja” lanjutnya dalam hati

“hahaha aku berkata sesuai fakta, bagaimana hari pertamamu bekerja? kau suka?”

“emmm… lumayan, ada juga yang menyebalkannya”

“wae? katakan padaku siapa yang membuatmu kesal? biar aku kasih hukuman” ucap yoona mengacak pinggang

“kau.. bodoh!” ucap jessica menjitak pelan kepala yoona

“eh? hehehe kalau begitu aku tak jadi memberi hukuman” ucap yoona memberikan tanda peace nya, jessica pun tak bisa menahan tawanya

“setelah ini kau akan langsung pulang?” tanya yoona

“anniyo” jawab jessica

“oddiga”

“menemanimu”

“eh? menemaniku?”

“nne, kita harus pergi menemui ibumu, kau tak merindukannya?” ucap jessica membuat yoona terdiam

“ibuku sudah lama tidak ada” ucap yoona mengalihkan pandangannya

“i know, dan hari ini hari peringatannya kan?”

“bagaimana kau tau? kau diberitahu unnieku?” ucap yoona menatap sinis pada jessica

“anniyo, tiffany yang memberitahuku” bohong jessica, karena ia tahu yoona akan kembali sensitif jika membahas yuri “apa kau cemburu?” goda jessica

“Anniyo, untuk apa aku cemburu pada seorang ahjumma”

“Yah! Kau senang sekali memanggilku iti ,aku ini masih muda!” kesal jessica

“Hahahaha”¬†

“Kenapa kau tertawa?”

“Kau lucu saat sedang marah, walaupun kau kejam tapi kau terlihat cantik saat sedang marah”

Kedua pipi jessica memerah mendengarnya

“Yyah! Dasar penggoda, kajja sebaiknya kita pergi”

“aku tak ingin pergi” ucap yoona

“wae..? kau tak merindukannya?” tanya jessica, yoona kembali terdiam sedikit menundukkan wajahnya

“kajja” ucap jessica menggenggam tangan yoona membuat yeoja itu mengangkat wajahnya dan melihat jessica yang sudah berdiri dihadapannya tersenyum menatapnya

Yoona pun ikut berdiri dan berjalan mengikuti jessica yang berjalan sambil terus menggenggam tangannya hingga keduanya meninggalkan restoran

“ahirnya dia jinak juga” ucap jessica dalam hati .

tepat saat keduanya keluar, yuri datang bersama tiffany untuk menjemput keduanya dan mereka pun berangkat menuju pemakaman

“mereka tiba!” ucap seorang namja pada kawan kawannya yang sudah lama bersembunyi didalam mobil yang terparkir di pemakaman itu. kawan kawannya pun langsung bergegas melihat keluar jendela dan melihat 4 orang yeoja yang baru saja tiba berjalan menuju sebuah makam yang mereka incar

“sial!” ucap salah satu diantara mereka berlima tersebut

“kajja kita lakukan sekarang” mereka pun sudah siap dengan senjata kedap suara yang digenggamnya

“chankkaman, sasaran hanya 2 orang, apa kita tahu yang mana?”¬†

keempat orang itu pun terdiam saling menatap satu sama lain kemudian saling menggelengkan kepalanya

“kita tidak bisa membunuh semuanya, lagipula ini tempat terbuka yang luas, dan lihatlah hari ini masih banyak pengunjung disini”

“baiklah, kita tunggu mereka selesai dan kita akan ikuti mereka” ucap ketua dari kelima orang itu

Yuri, Yoona, Tiffany dan Jessica telah tiba dan berdiri didepan sebuah pohon dimana didekat pohon itu terkubur abu dari mendiang kwon hyerin

“eomma kami datang, dan aku membawa yoong kemari” ucap yuri meletakkan rangkaian bunga didepan pohon tersebut

“kajja tiff” bisik jessica menarik tangan tiffany untuk meninggalkan kedua kakak beradik itu

“nne ucap tiffany

Keduanyapun berjalan sedikit menjauh dari makam tersebut

“hey, kedua yeoja itu berjalan menjauhi makam, itu berarti 2 yeoja yang masih berada disana adalah kedua putrinya” ucap salah satu namja itu membuat kawan kawannya kembali membidik sasaran

“kita tetap tidak bisa melakukannya sekarang, posisi kita sangat tidak memungkinkan, jika kita tertangkap sama saja kita tidak akan dibiarkan hidup oleh tuan choi”

“nne, dia benar” ucap namja yang lain

“sial!! baiklah kita tunggu saja”

….

“yoong, kau tak ingin berkata apa apa pada eomma?” tanya yuri yang melihat sedari tadi hanya dia yang berbicara

“…………………….” yoona terdiam sejenak menatap kebawah pohon itu

“eomma, bogoshippo” ucap yoona pelan namun dapat didengar yuri

Kedua kakak beradik itupun berjalan menghampiri tiffany dan jessica yang menunggunya

“kalian pulanglah duluan, aku akan mengunjungi rumah lamaku di gangnam” ucap yuri memberikan kunci mobilnya pada tiffany

“eh? kenapa kita tidak pergi bersama sama saja?” tanya tiffany

“andwae, yoong dan sica pasti kelelahan setelah bekerja, kalian pulang saja duluan”¬†

“baiklah kalau begitu, kau hati hati dijalan yul”

“nne” ucap yuri, mereka pun berpisah dan yuri berjalan menuju stasiun yang tak jauh dari sana

….

“mereka berpencar, ottokhae? kita hanya membawa satu mobil”

“biar aku yang menangani orang itu, kalian ikuti mereka” ucap ketua dari mereka memasukan senjata laras panjangnya kedalam tas gitar yang dibawanya dan keluar dari mobil

“aku ikut denganmu” ucap salah satu dari mereka, akhirnya kedua orang itu segera berjalan menuju stasiun membuntuti yuri sementara yang lain mengikuti ketiga yeoja itu dengan mobil

…………………

Yuri baru saja memasuki gerbong kereta dan duduk di atas kursi penumpang, tiba tiba ponselnya berbunyi menerima panggilan

“yoboseyo, ada apa amber?”

“oddiga?”

“eh? kau tadi datang ke pemakaman? aku akan pergi ke gangnam mengunjungi rumah lamaku, ada barang barang yang ingin aku ambil”

“oh begitu. nne, tadi aku dibelakang kalian. tapi setelah kalian berpisah ada sebuah mobil yang mencurigakan mengikuti mobilmu”

“jinjja? siapa mereka?”

“aku belum mengetahuinya, tapi aku sedang berada dibelakang mereka sekarang”

“terus ikuti dan lindungi mereka”

“kau tenang saja, yang membuntuti mobilmu hanya ada 3 orang, aku bisa mengatasi hal itu, bagaimana denganmu? apa ada yang membuntutimu?”

“aku rasa tidak ada” ucap yuri menoleh ke segala arah memperhatikan para penumpang

“baiklah akan ku tutup, jaga dirimu baik baik yul”

“nne..”

Yuri pun mengakhiri panggilan itu, ia menatap kluar jendela dan kereta pun meluncur menuju gangnam

……..

Setelah satu jam perjalanan, yuri terbangun saat merasakan laju kereta yang ditumpanginya melambat. ia menoleh kearah jendela kereta tersebut suadh memasuki staisun gangnam

Begitu kereta berhenti para penumpangpun turun termasuk yuri dan 2 orang yang membuntuti tak jauh darinya

………………..

Hyoyeon memasuki kamar apartemennya setelah pekerjaannya selesai, ia segera melepaskan jas yang dikenakannya dan meregangkan otot ototnya yang terasa kaku setelah hampir seharian bekerja sebagai seorang pengacara

Setelah duduk, ia membuka koper kecil yang selalu dibawanya yang berisi beberapa surat penting termasuk surat warisan milik tuan kim

Hyoyeon membuka amplop surat itu, ia menaikkan sebelah alisnya saat melihat terdapat 2 surat didalamnya dengan nama yang berbeda

“kwon yuri?” gumam hyoyeon merasa heran “nugu? kenapa tuan kim membagi warisan itu untuk orang ini juga?” lanjutnya

…………………………………………

“anyeong ahjumma” sapa yuri saat mengunjungi sebuah rumah sederhana didaerah gangnam

“ah yul, kau sudah sangat dewasa sekarang, aigoo… kau tumbuh dengan cepat” ucap seorang ahjumma yang membukakan pintu rumah dan segera memeluk yuri

“hahaha apa aku semakin cantik?”

“geurom… kau sangat cantik seperti hyerin, kajja masuklah”

“tentu saja, ibuku adalah perempuan tercantik di desa ini hahaha”

“arraso.. aku memang kalah cantik dari ibumu” ucap ahjumma itu

“tapi kau juga cantik dan sangat baik ahjumma” ucap yuri memeluknya dari belakang

Ahjumma yang sudah berumur separuh baya itu adalah park shinnyoung yang merupakan tetangga sekaligus teman dekat ibunya, setelah yuri dipindahkan ke panti asuhan shinnyoung lah yang mengurus rumahnya, yuri dan yoona sangat jarang mengunjungi rumahnya setelah diadopsi oleh mr lee dan tinggal di seoul

“gomawo.. kau selalu saja pintar merayu, apa kau dan yoongie sudah menikah?”

“hahaha belum ahjumma, masih belum ada namja yang melamarku” ucap yuri mempoutkan bibirnya

“itu karena wajah tampanmu disukai oleh banyak yeoja bukan namja hahha”

“hahaha aku memang tampan” ucap yuri mengusap usap dagunya

“kau ingin mengunjungi rumahmu?”

“nne, sudah lama sekali aku tidak kesana”

“entah kau datang disaat waktu yang tepat atau tidak yuri-yaa”

“eh? memangnya kenapa?”

“kim jun pyo tadi pagi datang kemari dan mungkin sekarang masih berada di rumahmu karena belum mengembalikan kunci”

“kim jun pyo? nugu?” tanya yuri

“ayahmu”¬†

Yuri membelalakkan kedua matanya merasa sangat terkejut mengetahui hal itu, iapun segera berdiri

“ahjumma aku harus segera kesana” ucap yuri segera berlari keluar menuju rumahnya yang berada dipaling ujung desa itu

Yuri terus berlari dengan pikiran dan perasaan yang entah bagaimana, pasalnya sejak kecil ia tak pernah mengetahui tentang ayah kandungnya, baik nama maupun wajahnya. ibunya memang selalu menceritakan tentang ayahnya setiap yuri menanyakan hal itu namun tak sekalipun menyebutkan nama ayahnya maupun dimana ayahnya berada. kini setelah 20 tahun lebih akhirnya yuri dapat mengetahui nama ayahnya bahkan orang iru kini sedang berada di rumahnya.

“eomma, apa appa memiliki wajah yang tampan?”

“tentu saja, kau sangat mirip dengannya”

“shirro, aku mirip dengan eomma”

“hahaha geurom.. kau dan yoong memiliki wajah yang cantik seperti eomma”

“kenapa appa pergi?”

“dia sudah menggapai impiannya sekarang, appamu sudah menjadi seorang dokter yang sukses di luar negeri”

“jinjja? kenapa kita tidak ikut bersamanya?”

“kita tidak akan bisa bersamanya lagi yul”

“wae..?”

“appamu sudah memiliki kehidupan yang baru dan mungkin sudah melupakan kita”

“berarti appa adalah seorang malaikat yang baik dan jahat”

“kenapa kau berkata seperti itu?”

“songsaengnim bilang dokter itu seperti malaikat karena selalu menyembuhkan banyak orang, appa seorang dokter. tapi appa juga jahat karena meninggalkan kita”

ibu yuri hanya tersenyum mendengar kata kata polos yang selalu keluar dari bibir putri pertamanya itu, ia mengusap usap kepala yuri

“aku ingin segera dewasa agar menjadi seorang dokter juga”

“eh? bukankah kau ingin menjadi seorang polisi?”

“anniyo, setelah aku tau appaku, aku ingin menjadi dokter agar aku bisa bertemu dengan appa dan membawanya kembali”

“hhmm… mau jadi apapun kau dengan adikmu nanti, eomma berharap kalian selalu menjadi anak yang baik yul” ucap ibunya memeluk yuri “jangan pernah membenci appamu” lanjutnya

Yuri mengusap air mata yang sudah mengalir diatas pipinya itu setelah mengingat kenangan bersama eommanya saat ia masih kecil, tanpa terasa ia sudah sampai dan berhenti dihadapan rumahnya

………..

Tuan kim membuka jendela kamar dan merasakan angin berhembus memasuki ruangan, tampak pemandangan hutan yang hijau dari luar jendela tersebut. ia sedang berada disebuah rumah, tempat pernah ia singgahi di masa lalu bersama isteri pertamanya, kwon hyerin

tuan kim ingat hari ini adalah hari kematian mantan isterinya itu, hingga membuatnya ingin mengunjungi rumah lamanya itu

Didalam kamar tersebut tampak rapi, ia membuka laci mengambil sebuah kotak besar dan membukanya

5.jpg

“kwon Yoona & Kwon Yuri” ucap tuan kim membaca nama dibalik foto yang dilihatnya itu

“kalian sudah tumbuh dewasa sekarang dan yuri lahir di tahun yang sama dengan taeyeon, bahkan aku tak menyangka kalian pernah berada di sekolah yang sama” ucap tuan kim kembali, tanpa terasa ia tersenyum menatap 2 yeoja dalam foto tersebut

Flashback

‚ÄúDokter kim, seorang pasien mengalami kritis karena penyakit jantung yang dideritanya dan harus segera melakukan operasi‚ÄĚ

‚ÄúBaiklah, segera persiapkan semuanya‚ÄĚ ucap tuan kim, mereka pun dengan segera menuju ruang operasi diikuti taeyeon

‚ÄúTaeyeon-ah tunggu disini, appa harus mengganti pakaian dan appa akan melakukan operasi, jika kau ingin segera pulang kau hubungi eomma saja‚ÄĚ

‚ÄúAku akan menunggu appa, kau segeralah masuk, aku tidak akan kemana mana‚ÄĚ ucap taeyeon

Setelah mendengar taeyeon, tuan kim pun memasuki ruang ganti untuk bersiap siap melakukan operasi

Begitu masuk, tuan kim terkejut saat melihat seorang yeoja yang sangat ia kenali ternyata yang menjadi pasien nya, ia benar benar tak menyangka jika pasien itu adalah mantan isterinya, kwon hyerin.

Hyerin menoleh menatap lemah tuan kim yang sudah berdiri disampingnya

“aku pikir kau masih tinggal diluar negeri” ucap hyerin dengan nadalemahnya

“mengapa kau tak pernah memberitahuku dari dulu jika kau memiliki penyakit ini?”

hyerin hanya tersenyum menatap tuan kim

“jika suatu saat terjadi sesuatu padaku tolong temui anakku walaupun hanya sekali, mereka sangat merindukanmu” ucap hyerin, perlahan kedua matanya tertutup karena efek bius yang sudah berjalan

“kajja kita mulai” ucap para dokter lain yang sudah memasuki ruang operasi

Namun sayangnya ucapan hyerin menjadi kenyataan, karena ada human error saat menjalani operasi membuat hyerin kehilangan nyawanya, terlebih dihadapan pria yang masih sangat dicintainya

Tuan kim merasa sangat syok dengan apa yang terjadi, namun ia masih bisa menutupinya.

ketika jenazah hyerin dibawa keluar tuan kim ikut berjalan keluar dan melihat sosok anak kecil seusia taeyeon sedang bersama seorang dokter yang menghampirinya

‚ÄúDokter, bagaimana ibuku?‚ÄĚ ucap anak itu

Dokter hanya terdiam menatap anak kecil itu, perlahan ia berjongkok menyamakan tingginya dan memegang pundak anak itu

‚ÄúIbumu‚Ķ Mianhae, ibumu tidak bisa diselamatkan‚ÄĚ

‚ÄúEomma‚Ķ!! Kajjimaa‚Ķ!‚ÄĚ ucap anak kecil itu dalam tangisnya mengikuti jenazah hyerin yang dibawa para perawat

“diakah putriku?” ucap tuan kim menatap anak itu yang semakin menjauh. kemudian tatapannya tertuju pada taeyeon yang ikut terdiam memandang mereka

‚ÄúTaeyeon-ah‚Ķ‚ÄĚ

‚Äú‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ.‚ÄĚ

‚ÄúTaeyeon-ah‚Ķ‚ÄĚ ucap tuan kim¬†menggoyangkan pundaknya membuat taeyeon tersadar dan menoleh

‚ÄúAppa‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúKajja ikut appa‚ÄĚ ucap tuan kim

Hingga sampai di sebuah ruangan. Tuan kim menemui choi soojin yang sudah berkumpul bersama para dokter yang tadi bersamanya di ruang operasi

‚ÄúIni satu satunya kesalahan yang terjadi, kepala kim demi nama baik rumah sakit dan nama baik anda beserta dokter yang lain, untuk sementara saya akan mengirim kalian keluar negeri‚ÄĚ ucap sang pemilik rumah sakit

‚ÄúTapi, bagaimana dengan pasien itu dan keluarganya?‚ÄĚ ucap tuan kim

‚ÄúAku sudah meminta untuk merubah semua data, dan kau jangan khawatir mereka bukanlah keluarga yang mengerti, orang itu hanya memiliki dua orang putri yang masih dibawah umur‚ÄĚ

‚Äú‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ‚Ķ..‚ÄĚ tuan kim tampak terdiam

‚ÄúAtau kau ingin rumah sakit ini ditutup, dan kau akan mendekam di penjara‚ÄĚ

Wajah tuan kim berubah menjadi pucat setelah mendengar itu, keringat dingin mulai membanjiri punggungnya

‚ÄúAku akan mengurus semuanya karena aku masih menghormatimu, pergilah malam ini, akan aku kirimkan tiket untukmu dan keluargamu‚ÄĚ ucap orang itu kembali

“tapi.. bisakah aku meminta satu hal lagi?” ucap tuan kim

“tolong jaga anak anak pasien yang meninggal itu”

“baiklah, akan aku urus, sekarang kalian boleh pergi dan siapapun yang membocorkan hal ini, aku tak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang”

Flashback

“mianhae… jeongmal mianhae, harusnya saat itu aku membawa kalian tinggal bersamaku” ucap tuan kim menghapus air mata yang mulai mengaliri pipinya

*brak!!!* tiba tiba pintu kamar tersebut terbuka cukup keras membuat tuan kim terkejut, ia melihat seorang yeoja berdiri disana

“kau…” ucap yuri terkejut menunjuk tuan kim

“yuri… kwon yuri” ucap tuan kim saat melihat wajah yeoja dihadapannya mirip dengan wajah dari foto yang dipegangnya itu

“tuan kim, kau…” ucap yuri berjalan perlahan menghampiri tuan kim

“anakku” ucap tuan kim mengangkat tangannya membelai wajah yuri, air matanya kembali lolos membasahi pipinya

“mau jadi apapun kau dengan adikmu nanti, eomma berharap kalian selalu menjadi anak yang baik yul,¬†jangan pernah membenci appamu”¬† ucap ibunya yang selalu ia simpan dalam ingatannya

“ap.. appa..” ucap yuri dengan suara bergetarnya

namun

*DORR DORR!!!* terdengar 2 tembakan memecah keheningan hutan dan menembus punggung seseorang yang berada didalam kamar itu

“tuan kim!!!” teriak yuri saat tubuh pria paruh baya itu tumbang dalam pelukannya, telapak tangan kanannya merasakan sebuah cairan yang keluar dari punggung tuan kim, yuri terkejut saat melihat telapak tangannya sudah dilumuri banyak darah yang keluar dari punggung tuan kim

“uhhuk.. uhhhuk..” tuan kim terbatuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya

Yuri masih terus memeluknya, namun telinga tajamnya mendengar sebuah suara dibalik semak semak hutan yang mengarah jendelanya, dengan cepat ia mengeluarkan pistol yang berada didalam jas nya dan menagrahkannya ke hutan

*dorr dorr dorrr!!*

“akh!!!”¬†terdengar teriakan seseorang dibalik semak semak itu setelah yuri melepaskan beberapa kali tembakan kearahnya

…………

beberapa saat yang lalu 2 orang tak jauh dari balik jendela yang terbuka itu sudah siap dengan senjata yang digenggamnya

“sasaran yang pas”

“chankkaman, ada orang lain disana”¬†

“aku tak peduli, orang itu sudah tua, dia tak akan tahu atau mungkin aku harus membunuh keduanya hahaha” ucap namja itu, ia memicingkan sebelah matanya dan mulai menekan pelatuk senapan yang digenggamnya

“anniyo, ini tidak boleh terjadi” ucap orang disampingnya

tepat saat namja itu hendak melepaskan tembakannya, seseorang disampingnya tiba tiba mendorongnya hingga tembakan itu melesat namun saayangnya mengenai tubuh tuan kim

“sial!! apa yang kau lakukan?” teriak namja itu memarahi kawannya

namun tiba tiba beberapa tembakan menyerang mereka dari dalam kamar itu membuat keduanya terkejut dan segera melindungi diri

“akh!!!” teriak salah satu dari mereka karena terlambat menghindar dan sebuah peluru menembus lengannya hingga mebuatnya terjatuh

Namja yang melihat rekannya tergeletak itu langsung berlari meninggalkannya memasuki hutan

seseorang yang tergeletak itu perlahan bergerak, ia masih sadar karena hanya lengannya yang tertembak

“akh! sial, aku tak boleh tertangkap” ucap orang itu, iapun dengan susah payah segera berlari meninggalkan tempat itu

…………………

“sial!! aku tak bisa mengejarnya” ucap yuri dalam hati saat mendengar langkah kaki yang semakin menjauh memasuki hutan

“tuan kim, bertahanlah…” ucap yuri mulai membaringkan tuan kim diatas tempat tidur

Tuan kim terus terbatuk mengeluarkan darah yang terus terusan keluar dari dalam mulutnya

Yuripun dengan segera menghubungi ambuans dan polisi

…………………….

Taeyeon baru saja merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, ia berniat akan memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya yang masih kacau

namun tiba tiba saja ponselnya berbunyi, saat mengakat telepon tersebut taeyeon sangat terkejut begitu menerima kabar jika ayahnya tertembak dan mengalami kondisi yang sangat kritis, dengan segera ia terbangun mengambil jaketnya

Taeyeon menginjakkan gas mobilnya dalam dalam dengan membuat mobil melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit dimana ayahnya berada

“kwon yuri” ucap taeyeon dalam hati dengan tatapan amarahnya, mengeratkan cengkraman kedua tangannya pada setir mobil

…………………

Yuri duduk terdiam sambil menunduk menunggu di depan sebuah ruang operasi dimana tuan kim sedang ditangani

“Jadi dia… tuan kim adalah Appaku”

“Yang membuat eomma meninggal adalah appaku sendiri?” gumam yuri

ia mengusap air matanya mulai mengalir

*tap tap tap* terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekati ruang operasi, yuri menoleh dan melihat taeyeon bersama para polisi yang menjemputnya sedang berjalan cepat menghampirinya, taeyeon langsung berlari saat melihat yuri

*bukkk!!!!* dengan keras taeyeon memukul wajah yuri membuat tubuh yeoja itu terjatuh

“Apa yang sudah kau lakukan pasa appaku huh?!!!” teroak taeyeon mengangkat kerah baju yuri dan kembali memukulnya beberapa kali

Para polisi yang berada disana mencoba melepaskan dan menangkan taeyeon namun taeyeon memberontak dan memukuli yuri

“Taeyeon-ah!! Yul!!” teriak tiffany yang baru saja tiba bersama jessica dan yoona

TBC

We Are Different part 3

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

………………………………….

Di kantor Bourbound

“Hey yul” sapa amber yang baru saja memasuki ruang kerja yuri

“Hey, sudah lama tak melihatmu”

“Yaa setelah kau pindah tugaskan, pekerjaanku yang sekarang sangat merepotkan”

“Hahaha mianhae… Ada apa kemari?”

“Aku ingin memberikan ini” ucap amber membuka tasnya mengeluarkan sebuah dompet dan ponsel

“Eh? Apa ini?” tanya yuri membolak balikan ponsel dan membuka dompet pink itu

“Itu dompet dan ponsel, babo!”¬†

“Yah! Aku tau.. Maksudku ini maksudnya apa?”

“Ah.. Itu, dua hari yang lalu aku sudah menemukan orang orang yang menyerang adikmu, mereka mengaku hanya berniat merampok seorang yeoja dan mengambil ponsel beserta dompetnya tapi saat itu yoong datang untuk menggagalkan dan mereka langsung menyerang adikmu, mereka mengira adikmu seorang namja jadi mereka melayangkan pukulan yang keras pada adikmu” terang amber pada yuri

“Begitu ya, kurang hajar mereka.. Tapi kau tak membunuh mereka kan?”

“Hahaha tadinya sih aku berniat begitu”

“Mwo?! Yah!”

“Aku hanya bercanda haha, setelah kau memintaku untuk tak membunuh, aku tak pernah melakukan itu lagi” ucap amber menepuk pundak yuri “aku hanya melumpuhkan mereka dan mengirimnya ke bui” tambahnya

“Syukurlah”

“Aku harus segera pergi”

“Nne, aku titip dia ya”

“Aye aye kapten!” ucap amber, ia pun pergi meninggalkan ruang kerja yuri

Begitu melihat pintu ditutup, yuri kembali memperhatikan 2 objek yang dipegangnya. Ia meletakkan ponsel dan membuka dompet berwarna pink itu

“Jessica jung soyeon?” ucapnya sambil membaca kartu identitas yang ia keluarkan dari dompet itu

“Dia bukan warga negara korea”

*duukkkk* 

“Ah m..mmianhae”

“Oh.. Jadi perempuan yang berada di rumah sakit itu” ucapnya saat mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu

Yuri memasukkan kembali kartu identitas itu kedalam dompet, kini ia mengambil ponsel berwarna putih itu dan yuri mencoba menghidupkan ponsel itu
“Eh?” gumam yuri saat melihat isi batre ponsel itu yang terlihat kosong “dasar anak itu (amber), bukannya di charger dulu” tambahnya

Yuri pun mulai mengisi daya batre ponsel itu

*kring kring kring* telepon didalam ruang kerja yuri berdering

“Nne?” ucap yuri setelah mengangkat panggilan itu

“Noona, mr lee meninta anda menghadiri rapat perusahaan yang akan diadakan 5 menit lagi”

“Arraso, aku segera kesana”

*trek* begitu menutup telepon ,yuri mengambil dompet itu dan memasukannya kedalam laci meja kerjanya

………………………………

Kantor polisi

“Bagaimana? Apa benar mereka pelakunya?” tanya tiffany begitu melihat taeyeon keluar dari ruang bui

“Sepertinya begitu, mereka sering berkeliaran di gang sekitar supermarket itu, dan mereka baru tertangkap 2 hari yang lalu oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya dan dia mengirim mereka kesini” ucap taeyeon “kau bisa melihat dan memastikan mereka yang telah merampas dompet dan ponselmu, aku sudah memanggil salah satu dari mereka untuk menemuimu” ucap taeyeon kembali pada jessica

“Kajja” ucap tiffany menarik tangan jessica dan memasuki ruang pengunjung untuk bertemu dengan pelaku

Begitu masuk dan melihat seorang namja sedang duduk, jessica terkejut melihatnya

“Nne, memang itu orangnya. Dia adalah ketua dari geng” ucap jessica, iapun duduk berhadapan dengan namja itu yang dihalangi sebuah meja

*brakk!!*

“Yah! Kemarikan ponsel dan dompetku!” teriak jessica sambil menggebrak meja membuat namja itu kaget

“Ak..aku tidak tau” ucap namja itu terlihat ketakutan sambil mengusap usap lehernya yang tiba tiba merasakan hawa dingin, begitupun tiffany, taeyeon dan seorang pejaga. Mereka melakukan hal sama karena tiba tiba merasakan hawa dingin

“Mengapa tiba tiba aku jadi kedinginan begini” ucap taeyeon

“Aku juga” ucap tiffany mengusap usap kedua lengannya

“What?! Bagaimana bisa kau tak tahu, kau sendiri yang mengambilnya!” ucap jessica manatap tajam namja itu

“Ak..akku benar benar tidak tahu, waktu itu seseorang mendatangi basecamp kami dan mengambil dompet dan ponsel milikmu, tapi aku tak tau identitasnya, dia menutupi sebagian wajahnya”

Namja itu pun dibawa kembali ke ruang tahanan

“Yaish…! Ah ottokhae…” ucap jessica mengacak acak rambutnya sambil berjalan keluar dari kantor polisi bersama taeyeon dan tiffany

“Kau jangan khawatir jessie, orang itu yang membawa mereka kemari pasti bukanlah orang jahat dan akan mengembalikan ponsel serta dompetmu” ucap tiffany mengusap usap pundak jessica untuk menenangkannya

“Coba dihubungi saja nomormu” ucap taeyeon

“Ah taetae benar, jja aku akan menghubungi nomormu” ucap tiffany, iapun mengeluarkan ponselnya mulai menghubungi nomor kontak jessica

“Your number destination is not active, please try again”¬†

Tiffany mencoba sekali lagi menghubunginya namun tetap yang terdengar hanya suara operator

“Sayang sekali, sepertinya memang sedang tak aktif” ucap tiffany menatap jessica

“Jangan khawatir, pasti akan dikembalikan” ucap taeyeon

“Hufht.. Semoga saja, gomawo taeyeon-ah, mian telah merepotkanmu”

“Anniyo, memang sudah kewajibanku, setelah ini kalian akan kemana?”

“Aku akan mengajak jessie jalan jalan untuk menghilangkan stress nya”

“Kalau begitu kalian hati hati, mianhae aku tak bisa ikut” ucap taeyeon

“Gwaenchanna…” ucap tiffany, iapun memeluk taeyeon kemudian keduanya berpisah karena taeyeon masih harus bekerja di kantor polisi

“Bisakah kalian tak selalu memperlihatkan kemesraan kalian di depanku” ucap jessica setelah keduanya berjalan menjauhi kantor polisi

“Hehehe wae? Kau cemburu jessie?” kekeh tiffany menggoda jessica

“Nne.. Aku cemburu!” ucap jessica merangkul pundak tiffany “tapi….” ucap jessica kembali sambil menghentikan langkahnya

“Tapi apa?” tanya tiffany

“Apa yang sudah kalian lakukan selama 2 tahun itu?”

“Aku bersama taeng? Seperti hal nya sepasang kekasih biasa, memang kenapa?”

“Ah… Begitu, jadi bagaimana melakukannya?”

“Maksudmu?” tanya tiffany tak mengerti

“Ah c’mon… ūüėí beberapa hari yang lalu kau menginap di rumahnya dan kau mengeluh jika tangan kananmu terasa pegal, so…..”

“Mwo? Yah! Kau pikir aku melakukan apa? Waktu itu tanganku pegal karena semalaman membantunya mengetik beberapa laporan kerjanya, yaish… Dasar byunt!”¬†

“Hahaha… Aku kan sahabatmu, jadi aku berhak mengetahuinya, jadi.. Apa kalian sudah melakukan itu?”

“Yah, kau memerasku jessie ūüėí anniyo, kami belum pernah melakukannya”

“Mwo? Kenapa bisa? Setiap pasangan kekasih yang hubungannya sudah lama biasanya melakukan itu”

“Nne… Tapi tidak untuk kami”

“Wae?”

“Aku hanya belum siap, taeyeon memang sering memintanya, tapi aku selalu merasa aku masih belum siap” ucap tiffany “terlebih… Dengan perasaanku yang juga selalu menolak keinginanku”¬†lanjutnya dalam hati sambil memegang dadanya

“Hahaha kau memang benar benar polos! memang sebaiknya kau melakukannya setelah kalian menikah nanti, tapi kau juga harus hati hati tiff”

“Hati hati?”

“Nne, katamu taeyeon selalu memintanya tapi kau juga selalu menolaknya, bisa bisa kekasihmu melampiaskan hasratnya pada yang lain” ucap jessica dengan wajah seriusnya

“Maksudmu dia selingkuh? Anniyo… Taeyeon tak mungkin melakukan itu! Babo!”

“Hahaha aku hanya bercanda”

“Yaish… Kau senang sekali menjahiliku”

“Karena kaulah satu satunya yang selalu bisa membuatku tertawa lepas tiff hehehe lagipula kau gadis yang sangat polos aigoo, oh ya kita mau kemana sekarang? Tak terasa kita sudah berjalan jauh”

“Itu karena kau terus mengoceh jessie, kau ini.. Diluarnya saja tampak dingin, tapi sebenarnya kau orang yang sangat sangat sangat banyak bicara”

“Hehehe peace ūüėĀ‚úƬ† so? Where did we go?”

“Emmm… Ah ha, apa kau lapar jessie?”

“Nne aku lapar”

“Aku ingat adikku sekarang sudah bekerja di restoran, bagaimana kalau kita kesana”

“Oke, tapi aku baru tahu kau memiliki adik”

“Anniyo, sebenarnya dia adik yul tapi aku juga sudah menggapnya sebagai adikku sendiri, dia sangat lucu kau pasti akan selalu tertawa karena nya”

“Baiklah.. Tapi kau tahu sendiri aku bagaimana terhadap orang yang baru aku kenal”

“Hahaha kau tenang saja, walaupun cuek dia orang yang mudah akrab dengan siapapun, dia juga tampan.. Kau juga pasti akan menyukainya” ucap tiffany excited

“Arraso, kajja kita kesana aku sudah lapar”

Keduanya menghentikan sebuah taksi dan segera meluncur

“Aku masih belum tahu alamatnya, sebaiknya aku telpon dia dulu”

……………………….

“yah, ireonna.. ini sudah siang kau tak lapar?” ucap sooyoung membangunkan yoona yang masih terbungkus selimut

“sebentar lagi soo, isi badanku terasa remuk setelah bekerja beberapa hari ini” jawab yoona dengan suara seraknya enggan membuka mata

“hahaha yah, kau baru bekerja 3 hari babo! lagipula ini kan keinginanmu”

Flashback

Beberapa hari yang lalu setelah meninggalkan apartemen yoona segera kembali ke villa dan menemui sooyoung

“youngie-yaa…!!!” teriak yoona memanggil sooyoung begitu memasuki villa

“aku disini” ucap sooyoung yang sedang duduk di soffa sambil menonton TV

“youngie-ya” panggil yoona kembali

“nne kemarilah” ucap sooyoung melambaikan tangannya

*pletaaakkk!!!!* sooyoung segera meluncurkan jitakannya pada kepala yoona begitu yeoja itu duduk disampingnya

“aww appo..! kenapa kau memukulku?!”

“itu karena kau menghilang! semalam kau kemana huh? bukannya membeli makanan!” ucap sooyoung kesal “hey, kenapa denganmu? kau berkelahi?”¬†lanjutnya saat pandangan sooyoung tertuju pada luka disudut bibir yoona

“ah.. ini hehe ceritanya panjang, ada yang jauh lebih penting lagi soo!”

“shiro! ceritakan dulu padaku” ucap sooyoung tak mau kalah

“ck, kau ini.. arraso, tadi malam saat menuju depstore aku tak sengaja melihat seorang yeoja sedang diganggu para namja ¬†yang sedang mabuk”

“dan kau menolongnya? sejak kapan kau menjadi orang yang peduli? hahaha”

“awalnya aku tak bermaksud begitu, entahlah tiba tiba aku merasa tubuhku ditarik untuk menghampirinya”

“lalu?”

“seperti yang kau lihat, gara gara mereka wajah cantik sekaligus tampan ku jadi tercemar”

“hahaha…!! dan semalam kau menginap di rumah yeoja yang kau tolong? bagaimana? apa dia cantik?”

“anniyo, tadi malam aku menginap di rumah sakit”

“eh? wae…?”

“entahlah, tiba tiba saat terbangun aku sudah berada disana”

“lalu apa kata dokter?”

“molla, aku langsung pergi saat yul unnie menemuiku”

*plak!!!* sooyoung memukul kepala yoona

“baboyaa.. setidaknya kau ambil obatmu dulu”

“ck, kau pikir aku sakit eoh??” ucap yoona mempoutkan bibirnya merasa kesal “sudahlah lupakan, ada hal yang jauh lebih penting soo, jebal bantu aku”

“apa itu?”

“aku harus bekerja, kajja bangunlah restoran dan aku akan bekerja disitu”

“mworago?? pwwfftt…. hahahaha!!!”

“yah! aku serius bodoh!”

“hahaha… sejak kapan? hahaha kau lucu…”

“yaish… menyebalkan!”

“tapi wae..? bukankah kau orang yang sangat malas”

“kau tahu, setelah aku mengantar ahjumma itu aku baru sadar jika dia berada di gedung apartemen yang sama dengan fany unnie, dan sialnya aku bertemu dengannya” ucap yoona “dia tahu jika aku kabur, aku sebisa mungkin mencari alasan dan aku berkata jika aku sudah bekerja” tambahnya

“hmm… masalah itu tenanglah, kita bisa atur dan menyewa restoran jika fany unnie ingin menemuimu”

“anniyo.. aku tak ingin membohonginya”

“dasar, senang sekali menyusahkanku, arraso.. kapan kita memulainya?”

“jiggeum!”

“mwo?? sekarang? yah! apa kau serius?”

“tentu saja, aku mau mandi dulu, kau bersiap siaplah!” ucap yoona segera berlari memasuki kamarnya

“arraso, dasar!” ucap sooyoung menggeleng gelengkan kepalanya

Pada hari itu juga sooyoung dan yoona menemukan sebuah restoran di pusat kota, sooyoung membeli restoran yang sudah lama berdiri itu sehingga tak perlu lagi mencari pekerja, sooyoung juga lah menjadi pemilik restoran sementara yoona ikut menjadi pelayan restoran itu bersama 4 pekerja yang sudah lama bekerja di restoran tersebut key dan irene sebagai koki sedangkan jinki dan luna sebagai pelayan ditambah dengan yoona. karena letaknya yang strategis dan kelezatan segala makanannya restoran yang sudah berganti nama menjadi young resto tersebut selalu banyak dikunjungi pengunjung sehingga yoona harus bekerja keras. beruntung yoona cepat akrab dan dekat dengan para pekerja restoran tersebut.

Flashback END

“soo, apa hari sabtu restoran tetap buka?”

“tentu, hari sabtu restoran akan ramai dikunjungi karena banyak pasangan yang menikmati malam minggu, memangnya kau?”

“yaish…”

“hahaha kau tak perlu bekerja jika lelah, aku kesana dulu” ucap sooyoung meninggalkan kamar yoona

Baru saja akan terlelap kembali tiba tiba ponsel yoona berdering, awalnya ia mengabaikan panggilan itu namun dering ponselnya terus berbunyi, akhirnya dengan malas tanpa melihat nama si pemanggil yoona pun mengangkat teleponnya

“yoboseyo..”

“yoong… kau sedang bekerja ya? mian mengganggumu”

“nugu?” ucap yoona dengan malas

“ini aku, tiffany”

“huh? fany unnie?!” ucap yoona terkejut hingga posisinya langsung duduk diatas tempat tidur

“nne ini aku, yaish… jangan jangan kau tak menyimpan nomorku..?!”

“ann.. anni.. aku tadi sedang tidak fokus hehehe mian, tapi ada apa kau menelponku?”

“aku dan temanku sedang dalam perjalanan menuju restoran tempatmu bekerja, tapi bisakah kau kirim alamat restoran itu?”

“m..mmworagoo..??? un unnie oddiga?”

“aku masih didalam taksi”

“ah oke nanti aku kirim alamatnya lewat pesan” ucap yoona segera menutup telepon

Yoona melempar ponselnya dan berlari membuka jendela kamarnya

“Youngie-yaaa!!! chankkaman!!!” teriak yoona dari jendela kamarnya yang berada dilantai atas, tepat saat itu sooyoung baru saja menyalakan mesin mobilnya

begitu mendengar teriakan yoona, sooyoungpun kembali mematikan mobilnya dan membuka kaca jendela mobil

“yah! ada apa?” ucap sooyoung mengeluarkan kepalasnya ke jendela mobil

“Tunggu aku! Jangan berangkat dulu!” teriak yoona, iapun segera menutup kembali jendela kamarnya kemudian berlari menyusul sooyoung

*brak!!* 

“Kajja berangkat!” ucap yoona setelah memasuki mobil

“Huh? Kau kenapa ikut? Dan… Yah!! Mandi dulu!!”¬†

“Ini darurat soo! Ppali..! Aku mandi disana saja ppali!!”

“Arraso.. Dasar pelayan rasa bos” ucap sooyoung, iapun segera menginjakkan gas menuju restorannya sementara yoona membuka kembali ponselnya untuk mengirim alamat restoran tempatnya bekerja pada tiffany

……….

*ting!!!* suara ponsel tiffany berbunyi menerima sebuah pesan, iapun membukanya

“Ah dapat, ahjushi…! Tolong antar kami ke young resto di jalan xxxx pusat kota”

“Arachi” ucap sopir taksi itu

“Jessie ,mengapa kau melamun?”

“Aku masih memikirkan orang yang mengambil ponselku”

“Apa mungkin dia orang yang telah menolongmu itu?”¬†

“Ah kau benar!” ucap jessica menepuk kedua tangannya “tapi… Anni anni.. Tidak mungkin”

“Wae…? Bukankah kau bilang saat itu hanya ada kau, kelima namja yang mengganggumu dan orang yang menolongmu?”

“Nne.. Tapi, orang bodoh itu saja pingsan setelah dipukul oleh mereka, mana mungkin dia berani mendatangi kembali dan menghajar mereka” ucap jessica mengingat kembali saat melihat wajah namja itu terlihat babak belur saat di kantor polisi

“Ah kau benar juga, tapi bisa saja. Apa kau mengetahui namanya?”

“Saat dia mengantarku sempat memberitahukan namanya, tapi saat itu aku sedang benar benar kesal padanya jadi aku tak peduli dan tak ingat”

“Hahaha wae…? Bukankah dia yang sudah menolongmu?”

“Nne, tapi dia membalasnya dengan menyusahkanku, kau tahu? Dia mirip sekali dengan adikku, tapi sifatnya sangat sangat sangat menyebalkan!”

“Hahaha hati hati, bisa bisa kau menyukainya”

“Yaish, shiro! Kalaupun aku menyukai seorang perempuan aku tidak ingin orang itu adalah dia”

……………………………..

Di kantor kepolisian

“Eh? Aku pikir kau ikut bersama kekasihmu” ucap hyunji seorang petugas kepolisian yang juga rekan taeyeon

“Anniyo, aku akan jeonju menemui ayahku” ucap taeyeon yang masih sibuk membereskan beberapa berkas diatas meja kerjanya

Begitu selesai ia langsung pergi menuju jeonju tempat kedua orang tuanya tinggal

Selama diperjalanan pikiran taeyeon terus melayang memikirkan banyak hal yang mengganjal, tiba tiba ia teringat dengan kejadian 15 tahun yang lalu saat ia masih menduduki bangku Sekolah Dasar

Saat itu taeyeon baru saja dijemput oleh ayahnya saat jam pelajaran telah berakhir. Taeyeon langsung memasuki mobil begitu ayahnya tiba

“Appa, aku mendapatkan nilai matematika tertinggi saat ulangan harian tadi” ucap taeyeon dengan wajah cerianya namun beru saja tuan kim menoleh ponsel didalam saku jas nya berbunyi

“Yoboseyo” ucap tuan kim

“…………………”

“Jinja? Baiklah saya segera ke rumah sakit sekarang” ucap tuan kim kemudian mematikan teleponnya

Taeyeon melihat raut wajah ayahnya berubah, tuan kim menginjakkan gas mobilnya semakin dalam

“Appa, apa yang terjadi?”

“Taeyeon-ah, appa harus segera pergi ke rumah sakit karena ada pasien yang sedang mengalami kritis, bisakah kau tunggu apa disana nanti?”

“Nne appa”

Setelah 15 menit perjalan, keduanya tiba. Di yonsei hospital tempat ayah taeyeon bekerja sebagai kepala dokter ahli jantung.

Begitu turun ,seorang dokter datang menghampiri dengan tergesa gesa

“Dokter kim, pasien bernama kwon hyerin mengalami kritis dan harus segera melakukan operasi”

“Baiklah, segera persiapkan semuanya” ucap tuan kim, mereka pun dengan segera menuju ruang operasi diikuti taeyeon

“Taeyeon-ah tunggu disini, appa harus mengganti pakaian dan appa akan melakukan operasi, jika kau ingin segera pulang kau hubungi eomma saja”

“Aku akan menunggu appa, kau segeralah masuk, aku tidak akan kemana mana” ucap taeyeon

Setelah mendengar taeyeon, tuan kim pun memasuki ruang ganti untuk bersiap siap melakukan operasi

Sementara taeyeon kecil duduk menunggunya di depan ruang operasi

“Eomma!!” teriak seorang yeoja seusia taeyeon yang baru saja tiba bersama seorang ahjumma

Anak itu berlari hendak memasuki ruang operasi, namun beberapa perawat menahannya

“Nak, kau tak diizinkan masuk” ucap salah satu perawat

“Tapi eommaku berada didalam! Aku ingin melihat eommaku!”

Anak itu terus memberontak meski ditahan oleh beberapa perawat

“Yah! Bisakah kau diam? Kau sangat berisik kau pikir ini dimana?” ucap taeyeon dengan nada ketusnya

“Diam katamu? Kau pikir kau siapa? Ibuku berada didalam sana!” ucap anak itu

“Kau pikir kau akan melakukan apa jika sudah berada didalam sana? Ibumu sedang dalam masa operasi” ucap taeyeon

Anak itupun terdiam, namun saat itu pintu ruang operasi terbuka membuat pandangan taeyeon dan anak itu tertuju kesana, mereka melihat beberapa perawat dengan tergesa gesa berlari keluar dan masuk ruang operasi.

“Bagaimana ini? Aku belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya ,aku bisa dipecat!” ucap seorang perawat yang dapat didengar oleh taeyeon dan anak itu saat berjalan melewati mereka

Baik taeyeon maupun anak itu hanya terdiam memperhatikan mereka.

Namun begitu seorang dokter keluar dari ruang operasi, anak itu langsung berlari menghampiri

“Dokter, bagaimana ibuku?” ucap anak itu

Dokter hanya terdiam menatap anak kecil itu, perlahan ia berjongkok menyamakan tingginya dan memegang pundak anak itu

“Ibumu… Mianhae, ibumu tidak bisa diselamatkan”

Taeyeon membulatkan kedua matanya begitu mendengar ucapan dokter itu, ia sendiri merasa terkejut. Taeyeon terus memandangi anak itu yang menangis histeris dan ikut berlari mengikuti jasad ibunya yang baru saja dibawa keluar daruang operasi, tampak seluruh tubuhnya ditutupi oleh kain putih

“Eomma…!! Kajjimaa…!” ucap anak kecil itu dalam tangisnya

Taeyeon sendiri masih terdiam syok

“Taeyeon-ah…”

“………….”

“Taeyeon-ah…” ucap seseorang sambil menggoyangkan pundaknya membuat taeyeon tersadar dan menoleh

“Appa…”

“Kajja ikut appa” ucap tuan kim

Taeyeon pun ikut berjalan mengikuti ayahnya meskipun pandangannya masih terus tertuju pada para perawat yang membawa jasad ibu itu

Hingga sampai di sebuah ruangan. Taeyeon melihat beberapa dokter dan beberapa orang yang mengenakan jas kantoran dengan rapi

“Ini satu satunya kesalahan yang terjadi, kepala kim demi nama baik rumah sakit dan nama baik anda beserta dokter yang lain, untuk sementara saya akan mengirim kalian keluar negeri” ucap sang pemilik rumah sakit

“Tapi, bagaimana dengan pasien itu dan keluarganya?” ucap tuan kim

“Aku sudah meminta untuk merubah semua data, dan kau jangan khawatir mereka bukanlah keluarga yang mengerti, orang itu hanya memiliki dua orang putri yang masih dibawah umur”

“……………..” tuan kim tampak terdiam

“Atau kau ingin rumah sakit ini ditutup, dan kau akan mendekam di penjara”

Wajah tuan kim berubah menjadi pucat setelah mendengar itu, keringat dingin mulai membanjiri punggungnya

“Aku akan mengurus semuanya karena aku masih menghormatimu, pergilah malam ini, akan aku kirimkan tiket untukmu dan keluargamu” ucap orang itu kembali

Taeyeon terdiam mendengarnya, ia tak terlalu paham dengan pembicaraan mereka hingga ayahnya menghampiri dan membawanya pergi

Begitu mobil yang ditumpanginya keluar dari basement parkir & melewati depan rumah sakit, taeyeon kembali melihat anak seusianya yang baru saja kehilangan ibunya itu sedang duduk termenung didepan pintu rumah sakit, taeyeon mengangkat tubuhnya untuk melihat anak itu hingga mobil itu berbelok dan anak itu tidak bisa terlihat lagi oleh taeyeon

“Appa, apa yang terjadi?”¬†

“Taeyeon-ah malam ini kita akan pindah”

“Pindah? Wae..?”

“Appa dipindah tugaskan”

“Tapi aku ingin tetap tinggal disini” ucap taeyeon

“Diamlah, pakai sabuk pengamanmu appa akan menghubungi eomma mu untuk bersiap siap” ucap tuan kim dengan nada dinginnya

Dan malam itu juga taeyeon beserta keluarganya pindah ke London dan taeyeon melanjutkan sekolahnya disana. Mereka kembali pindah ke seoul saat taeyeon menginjak bangku SMA. Ayah taeyeonpun kembali menjadi dokter di yonsei university

Flashback

Hanya butuh 1 jam akhirnya taeyeon tiba di rumah kedua orang tuanya

“Taeng tumben sekali kau pulang nak, kau sendirian?” ucap ibu taeyeon begitu menyambut putrinya

“Nne eomma, aku ingin bertemu appa”

“Appamu sedang memancing di danau, kau sudah makan taeng?”

“Sudah eomma, aku akan menemui appa dulu” ucap taeyeon

Iapun berjalan menuju danau yang berada tak jauh dari rumahnya, dulu danau itu sering ia gunakan sebagai tempat bermainnya saat sebelum pindah ke london. Kini danau itu sudah terlihat berubah karena telah dipasangi tembok pembatas.

“Tumben appa memancing sendirian” ucap taeyeon pada seorang pria yang sudah paruh baya dihadapannya

“Taeyeon-ah, kapan kau datang?”

“Baru saja appa”

“Kajja bantu appa ambil ember ikan ini, biar eomma yang memasaknya” ucap tuan kim segera berdiri dan membereskan peralatan pancingnya, taeyeonpun ¬†segera membantunya

“Tumben kau kemari, ada perlu apa? Biasanya kau melupakan kedua orang tuamu”

“Hehehe Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan appa”

“Aigoo.. Dari kecil hingga sekarang kau selalu banyak bertanya, tak salah aku memasukanmu ke kepolisian”

……………………………………

Setelah sampai, Tiffany dan Jessica segera memasuki restoran tempat dimana yoona bekerja

“selamat datang ^_^” sapa seorang pelayan restoran pada mereka dan mengantarnya pada meja pengunjung “silahkan, ini menu nya”

“sebenarnya aku juga ingin berte….” ucap tiffany sambil menerima buku menu

“unnie…!!” teriak yoona pada tiffany, kini penampilannya telah rapi dengan seragam pelayan setelah mandi, beuntung ia tepat waktu

Yoonapun berjalan cepat kearah tiffany

“suguhkan semua menu yang ada disini, dia unnieku” ucap yoona kembali pada pelayan bernama jinki itu

“baik noona” ucap jinki kemudian berlalu meninggalkan mereka

“aigoo kau terlihat dewasa sekarang memakai seragam kerjamu, oh ya yoong aku membawa sahabatku kemari, perkenalkan” ucap tiffany

Jessica yang awalnya fokus melihat lihat menu makanan pun mengangkat wajahnya dan menengok

“kau….?!!!” ucap jessica menunjuk yoona

“woah…! ahjumma!!” ucap yoona senang

“eh? kalian sudah saling kenal ya?” ucap tiffany

Jessica segera berdiri

*plak!!!* jessica memukul kepala yoona dan menjewer telinganya

“aw aw aw… appo ahjumma”

“yah, kembalikan ponselku!!” ucap jessica sambil terus menjewer telinga yoona

“ah ah bukan aku yang mengambilnya”

“bohong! aku sudah menemui para perampok itu dan katanya ponsel dan dompetku sudah diambil, saat itu hanya kau yang tahu kejadiannya”

“nne tapi bukan aku adudududuh…!!” ucap yoona terus meringis mencoba melepaskan tangan jessica

Sementara tiffany yang melihatnya begitu kebingungan, beruntung susasana restoran masih terlihat sepi hanya ada mereka karena baru dibuka 1 jam yang lalu

Namun tiba tiba ponsel tiffany berbunyi

“jessie.. nomormu menelponku” ucap tiffany memperlihatkan layar ponselnya yang terlihat menerima panggilan dari nomor jessica

jessicapun melepaskan tangannya dari telinga yoona yang sudah terlihat memerah, sementara yoona langsung mengusap telinganya yang terasa panas itu sambil mempoutkan bibirnya

“sudah kubilang bukan aku! dasar nenek sihir!”

“yah! kau ingin ku jewer lagi huh?!” ucap jessica hendak mengangkat tangannya lagi “fany-ah ayo angkat” tambahnya ketika baru ingat

“nne..” ucap tiffany segera mengangkatnya “yoboseyo..?”

“nne, yoboseyo..” ucap seseorang dibalik telepon

“………………..”

Namun keduanya terdiam

“yul..?” ucap tiffany yang mengenali suara itu

“tiffany?” ucap yuri bersamaan

“bagaimana ponsel temanku bisa berada ditanganmu?” tanya tiffany

“ah nne, aku berniat akan mengembalikannya makanya aku menghubungi nomor panggilan terakhir di ponsel ini, aku tak mneyangka jika itu nomormu”

“ponsel itu beberapa hari yang lalu diambil oleh para perampok yang menggangu jessica, jadi apa kau yang membawa mereka ke kantor polisi?” ucap tiffany

“emm… itu…..”

“ah sudahlah yang penting sudah ketemu, aku tak menyangka juga jika itu kau, kemarilah yul aku sedang bersama jessica dan yoong”

“y.. yyong?”

“nne, aku akan menunggumu.. akan ku kirimkan alamatnya” ucap tiffany segera mengakhiri telepon

……..

Setengah jam kemudian yuri sudah berada di restoran dan keempat yeoja itu kini duduk saling berhadapan, yuri duduk disamping tiffany sementara yoona dan jessica duduk bersampingan menghadap yulti

“ah jessica ini ponsel dan dompet milikmu, perkenalkan aku kwon yuri” ucap yuri mengeluarkan tas kecil berisi dompet dan ponsel milik jessica, ia mengulurkan tangannya

“terima kasih banyak… nne aku jessica jung” ucap jessica membalas uluran tangan yuri

“uh? kau yang waktu itu di rumah sakit kan? aku juga berterima kasih padamu karena telah membawa dan menjaga adikku di rumah sakit” ucap yuri

“ah bukan apa apa, itu karena adikmu telah menolongku” ucap jessica tersenyum dipaksakan saat melirik kearah yoona

sementara yoona hanya terdiam, memicingkan matanya menatap tajam ke arah yuri

“jadi kau selalu mengawasiku” ucap yoona dalam hati

*glekk!* yuri hanya bisa menelan ludahnya menerima tatapan tajam yoona

“eh? yoong dirawat di rumah sakit? wae…?” tanya tiffany terlihat khawatir

“an anniyo, aku tak apa apa unnie, itu karena perutku sedang kosong saja hehehe” ucap yoona

“anni, kau sakit yoong” ucap yuri cepat membuat ketiga yeoja itu terdiam

“ee… ahahha adikku bukan hanya karena perut kosong, dia terkena anemia jadi aku diberi obat oleh dokter untuknya” ucap yuri mengeluarkan kantong obat obatan kemudian diberikannya pada yoona “diminum yang teratur yoong”

Dengan malas yoona pun menerimanya “nne unnie”

“dengarlah kata unniemu! jangan berbohong lagi, arasso?!” ucap tiffany mengusap lembut kepala yoona

“arraso unnie” ucap yoona dengan aegyonya

Sementara yuri kembali terdiam memandang mereka

Begitu makanan dihidangkan keempat yeoja itupun menikmatinya. hanya tiffany dan yoona yang aktif berbincang dan bersenda gurau sementara jessica dan yuri hanya jadi pendengar

“ah ya, jessie katamu kau akan mencari pekerjaan, yoong apa disini masih ada lowongan?” ucap tiffany polos

“ah itu…” ucap jessica

“oh aku pikir ahjumma ini sedang dipindah tugaskan ke seoul” ledek yoona melirik jessica “tapi kau bisa mengambil kerja sambilan, disini masih ada lowongan sebagai pelayan restoran” ucap yoona kembali

“ah… i’m die!!” ucap jessica dalam hati karena ketahuan berbohong pada yoona

“uh? aku baru kau sudah bekerja jessie” ucap tiffany terlihat biasa karena tak mengetahuinya

“ah..hahaha” ucap jessica tertawa dipaksakan

“oke mulai besok ahjumma sudah bisa mulai bekerja disini” ucap yoona

“mwo..? yah! memang restoran ini milik siapa bisa seenakmu, huh?”

“tentu saja milikku” ucap yoona

Yuri yang mendengarnya langsung memandang kearah yoona

“mwo..? aku membeli restoran ini sekaligus ikut bekerja disini, apa itu salah?” ucap yoona pada yuri

“an anniyo.. aku bangga padamu yoong” ucap yuri

“ah… aku juga sangat bangga padamu yoong! ternyata dugaanku benar! tapi mengapa waktu itu kau bilang hanya seorang pelayan eoh?” ucap tiffany memeluk yoona dari samping

“hehehe aku hanya ingin memberikanmu kejutan unnie” ucap yoona

“kita sudah selesai makan, bagaimana kalau malam ini kita jalan jalan? lagipula sudah lama sekali kita tidak pernah bersama sama lagi” ucap tiffany

“eh tapi…” ucap yuri melirik yoona

“kajja” ucap yoona terenyum riang pada tiffany dan segera menggandengnya. akhirnya keempatnya pun pergi jalan jalan menyusuri kota seoul dan berhenti disebuah timezone

malam itu tiffany dan yoona tampak senang menikmati segala jenis permainan sementara yuri dan jessica hanya terus mengikuti dan menontonnya dari belakang, jessica jarang mengikuti permainan jika diajak karena memang tidak terlalu suka games dan tidak bisa melakukannya sementara yuri lebih senang memperhatikan tiffany yang terus terusan mengeluarkan senyum bulan sabitnya begitu pun ia senang melihat yoona tertawa kembali meskipun tanpa menganggap kehadirannya. ya, keduanya hanya berpura pura baik baik saja di depan tiffany

dan selama itu pula jessica diam diam memperhatikan yuri yang selalu tersenyum menatap tiffany hingga keduanya duduk kursi pengunjung menunggu tiffany dan yoona yang sedang bermain basket

“kalian terlihat sangat dekat” ucap jessica membuat yuri menoleh kearahnya

“nne, kami sudah bersama selama 6 tahun lebih” ucap yuri

“mengapa kau tak menjadikannya sebagai kekasihmu?” canda jessica

“hahaha… aku tak bisa, dia sudah memiliki kekasih”

“tapikan mereka berpacaran dari 2 tahun yang lalu, saat sebelum mereka bersama?”

“anniyo, mereka sudah dekat dari kami masih bersekolah, tapi mereka sempat terputus saat lulus dan taeyeon menempuh akademi kepolisiannya hingga mereka kembali bersama lagi setelah taeyeon lulus”

“pantas kekasihnya begitu membencimu hahaha tapi mengapa kau tak mengungkapkan saja?” ucap jessica membuat yuri terdiam menatapnya

“sepertinya kau sangat paham mengenai perasaan”

“hahaha…” jessica tertawa malu begitupun yuri ikut tertawa

“aku hanya tak ingin melukainya”

“benarkah, aku lihat kau orang yang baik” ucap jessica

“bagaimana bisa? kita hanya bertemu baru dua kali, heol.. apa jangan jangan kau seorang peramal” ucap yuri

*pletak!!!* jessica menjuruskan jitakannya pada kepala yuri

“yah, aku bukan peramal, lagipula tiffany selalu menceritakan hal hal yang baik tentangmu berbeda dengan cerita tentang kekasihnya”

“jinja hahaha”

“so?”

“sudah ku bilang aku tak ingin melukainya”

“yah! alasan yang tak logis, jika kau memang tak ingin melukai seseorang maka kau harus selalu menjaganya”

Yuri kembali terdiam menatap jessica

“wae…?” tanya jessica heran

“kemarikan ponselmu” ucap yuri mengadahkan tangannya

“untuk apa?” ucap jessica sambil memberikan ponselnya

“mengetahui nomormu” ucap yuri segera menekan nomor miliknya dan memanggil nomor itu hingga nomor jessica muncul pada ponsel milik yuri

“eh?” gumam jessica masih heran

“aku rasa kau bukan orang yang biasa, kau kan masih berhutang padaku atas ponsel dan dompetmu”

“nne… lalu?”

“mungkin suatu saat aku membutuhkanmu” ucap yuri tersenyum menatap jessica

01.jpg

Membuat jessica tertegun menatap yuri yang tersenyum padanya

………………………………………..

Tayeon menginjakkan gas nya dalam dalam saat kembali menuju seoul, pikirannya kini benar benar kacau

beberapa saat yang lalu.

setelah menikmati makan malam bersama dengan kedua orang tuanya, taeyeon menemui ayahnya di ruang pribadi miliki tuan kim

“apa yang membawamu kemari tae”

“appa, bukankah appa selalu mengajariku tentang kejujuran”

“nne, itu sangat penting tapi kenapa kau berkata seperti itu?”

“karena aku ingin bertanya padamu” ucap taeyeon berhenti sejenak “appa, apa yang terjadi sebelum kita pindah ke london dulu?” lanjutnya

Tuan kim membelalakkan kedua matanya tampak terkejut

“anniyo, tidak ada yang terjadi, appa hanya dipindah tugaskan kesana” ucap tuan kim

“apa benar kematian kwon hyerin karena kesalahan para dokter?” ucap taeyeon “termasuk appa yang berada didalamnya” lanjutnya dengan suara ragunya

“……………………..” tuan kim tmpak terdiam tak bisa menjawab “tae, bagaimana kau..”

“putrinya adalah teman masa sekolahku” ucap taeyeon memotong ucapan tuan kim dan kembali membuat ayahnya terkejut

“appa, mengapa kau melakukan hal itu?” ucap taeyeon kembali dengan suaranya yang bergetar menahan rasa kecewanya

“taeyeon-ah…” ucap tuan kwon terhenti sejenak¬†“apa kau akan memenjarakan ayahmu sendiri?” lanjutnya

taeyeon terdiam menundukkan kepalanya, kedua tangannya mengepal menahan amarahnya, pasalnya kini ayahnya memang mengakui kesalahan fatal yang telah diperbuatnya namun ia sadar jika orang itu juga adalah seorang ayah yang telah membesarkan serta membuatnya jadi putri yang dibanggakan

“appa… wae..?” ucap taeyeon, air matanya berhasil lolos

“taeyeon-ah, mianhae…” ucap tuan kim hendak memeluk putrinya itu namun taeyeon segera bergeser menolaknya

“saat itu appa terlalu takut, dan appa tak ingin membuat rumah sakit yang telah membesarkan nama appa jadi hancur, appa sangat dibanggakan di rumah sakit itu sehingga appa tak menyangka jika appa melakukan kesalahan saat melakukan operasi jantung pada pasien itu” ucap tuan kim kembali

“siapa pemilik rumah sakit itu hingga menjadikan appa sebagai monster?”

“choi soojin” ucap tuan kim membuat taeyeon membelalakkan kedua matanya merasa sangat terkejut

Taeyeon melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruangan namun tangan tuan kim menahannya

“taeyeon-ah, kau tak ingin kehilangan appa dan eomma kan?” ucap tuan kim

Taeyeon beberapa kali memukul keras setirnya merasa benar benar kesal memikirkan kembali percakapan bersama ayahnya itu

………………………………..

“yeobo, kemana anak anak?” tanya tuan choi begitu sampai di rumahnya

“sunny bilang sedang mengunjungi temannya, youngie sepertinya tiur di villa lagi”

“dasar anak nakal” ucap tuan choi, namun tiba tiba ponselnya berbunyi menerima panggilan, begitu melihat nama yang tertera pada panggilan itu tuan choi berjalan menjauhi isterinya

“ada apa?” tanya tuan choi begitu mengangkatnya

“tuan, tentang kejadian 15 tahun yang lalu, anak dari kwon soojin masih hidup dan mereka kini telah mengetahui kasus ini”

“mwo? sial! bagaimana bisa? apa keberadaan mereka sudah diketahui?”

“untuk saat ini kami masih mencarinya, mereka sudah tidak tinggal di panti asuhan lagi”

“segera cari sampai dapat dan segera lenyapkan! atau kalian sendiri yang akan lenyap!”

“b..bbaik tuan, kami akan segera mencarinya”

Tuan choi tampak gelisah dan kesal setelah menutup telepon itu, ia tidak menyangka jika kejadian 15 tahun yang lalu kini akan kembali mengancamnya

TBC

Fyi

Rumah sakit yonsei itu milik tuan choi soojin, ayahnya sooyoung

Ayahnya sooyoung belum tau kalau yuri itu sebenarnya anak dari pasien yang jadi korban kasus itu

dan untuk yg taeny shipper, mohon maaf di akhir cerita ini mereka ngga akan bersama lagi jadi sekedar pemberitahuan biar kalian ga kecewa dan nyesel baca ff ini, sekali lagi maaf ya..

We Are Different part 2


Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Kwon Yoona, Jessica Jung, Kim Taeyeon and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

………………………………….

“Ugh…..!!! Huft selesai juga” ucap jessica setelah selesai memindahkan barang barang di dalam apartemen baru yang akan ia tinggali selama di seoul

Jessica tinggal berada di gedung yang sama bersama tiffany, hanya berada dua lantai diatasnya

Begitu melihat ruangannya sudah terlihat rapi, ia duduk di soffa untuk meregangkan otot ototnya

“Jessie….!!” teriak tiffany yang baru saja tiba memasuki apartemen jessica “woah kau sudah membereskan semua ini dari pagi? Daeeeeebak!!”

“Seperti yang kau lihat, kau baru pulang bekerja?” ucap jessica saat melihat tiffany masih memakai seragam kerjanya

Tiffany bekerja sebagai resepsionis sebuah hotel berbintang di seoul.

“Nne tadi aku langsung kesini, mianhae aku tak membantumu”

“It’s okay tiff, kau sudah makan?”

“Belum, oh ya aku membawakanmu jus strawberry” ucap tiffany menyerahkan jus yang ia beli itu

“Thanks babe, kau ada acara malam ini?”

“Nne, taeyeon mengajakku makan malam diluar, wae?”

“Tadinya aku mau mengajak makan malam denganmu, tapi lain kali saja”

“Mianhae…” ucap tiffany dengan raut wajah sedihnya

“It’s okay honey, kau bilang kalian sangat jarang memiliki waktu bersama, now it’s your time with your first love”

“She’s not my first love”

“Eh? Bukankah kau bilang dia kekasih pertamamu?”

“Nne, tapi dia bukan cinta pertamaku”

“Then who?”

Tiffany terdiam, perlahan senyumnya mulai merekah saat pikirannya harus kembali mengingat seseorang yang pertama kali membuka hatinya

“Dia….. Seseorang yang berbeda” ucap tiffany

Flashback

10 tahun yang lalu

“Fany-ssi tolong jual kue kue ini di sekitar taman, cuaca cerah seperti ini pasti disana banyak sekali pengunjung” ucap seorang perempuan setengah baya yang baru saja selesai memasukkan kue kue yang ia buat kedalam keranjang

“Nne ahjumma” ucap tiffany semangat, ia pun menerima keranjang yang lumayan berat karena terisi banyak kue itu

Dengan ceria tiffany berjalan berkeliling taman menjual kue kue itu, hari itu begitu cerah dan tiffany sangat menyukai langit biru yang menurutnya sangat indah, melihatnya ia merasakan hati yang tenang

Begitu sampai, ia melihat sekumpulan namja seusianya sedang bermain bola ditaman, tiffany pun duduk menontonnya sekalian mengistirahatkan kakinya setelah cukup lama berkeliling, meskipun taman lumayan banyak pengunjung yang datang namun baru setengah kerangjang kue yang terjual

Tak berapa lama ia melihat salah satu namja yang sedang bermain bola itu berjalan kearahnya

“Noona, apa yang kau bawa?”

“Ah kebetulan, aku membawa banyak kue yang kujual, ini sangat lezat” ucap tiffany memberikan senyum bulan sabitnya

“Jinja? Baiklah aku ambil” ucap namja itu mengambil beberapa kue dan memakannya

“Dia terlihat tampan” ucap tiffany dalam hati memandang namja yang sedang menikmati kue yang dijualnya itu

“Ottokhae?” tanya tiffany

“Hmm… Lumayan” ucap namja itu

“Yah daesung-ah kau sedang apa? Kajja main lagi” ucap seorang namja lain menghampirnya

“Yah, ini sangat lezat cobalah” ucap daesung

“Benarkah?” ucap namja itu kemudian ikut mengambil dan memakan kue itu “memang lezat, kau akan mentraktirku kan?” tambahnya

“Ambil saja sesukamu” ucap daesung

“Yah! Kemarilah! Disini ada banyak kue!” teriak namja itu, teman teman daesung yang lain pun menghentikan permainan dan menghampiri, kini tiffany dikelilingi 6 orang namja yang mulai menikmati kue yang dijualnya itu, tentu saja membuat tiffany senang karena makanan yang dijualnya hampir habis

“Aku sudah kenyang, kajja kita main lagi” ucap daesung langsung berjalan meninggalkan tiffany begitupun kelima temannya mengikuti

“Hey… Chankkaman” ucap tiffany

“Wae…?”

“Kalian belum membayar”

“Mwo? Bukankah tadi kau yang menawarkan kue itu?”

“Nne tapi aku menawarkan agar kau membelinya”

“Begitu ya” ucap daesung, ia memandang teman temannya yang terdiam menunggunya ¬†“aku tak membawa uang” tambahnya

Kelima teman daesung pun tertawa mendengar kawannya itu dan kembali berjalan meninggalkan tiffany

“Yah! Kalian harus membayarnya!” teriak tiffany, kali ini nadanya cukup tinggi karena kesal merasa dipermainkan, ia berlari memegang tangan daesung untuk menahannya pergi

“Sudah ku bilang aku tak punya uang! Pergilah!” ucap daesung kasar sambil mendorong tiffany hingga tubuhnya terjatuh dan keranjang yang dibawanyapun ikut terjatuh sehingga membuat kue kue didalamnya berserakan. Perlahan air mata tiffany mengalir melihat kue kue itu terlihat kotor dengan tanah tanah yang menempel

“Yah, bayarlah apa yang sudah kau beli” ucap seorang yeoja yang sudah berdiri di dekat tiffany

“Cih, kau temannya huh? Sudahlah kajja lanjutkan permainan kita” ucap daesung kembali membalikkan badannya

*dukkkk* tiba tiba tubuh daesung terdorong ke depan dan hampir terjatuh saat sebuah kaki menendang punggungnya, dengan kesal daesung membalikan tubuhnya dan melihat yeoja tadi yang berani menendangnya

“Bukan seperti itu caramu memperlakukan seorang yeoja, apa kau juga memperlakukan ibumu seperti itu huh?” ucap yeoja itu dengan nada tenangnya

“Sial!” ucap daesung ia pun berjalan cepat dan melayangkan tinjuannya pada yeoja itu

*ssssseeett!!* *brukkk!!!* “akhh!!” teriak daesung saat dengan mudahnya yeoja itu menghindar dan balik menyerangnya sehingga membuat tubuh daesung terhempas kembali ke tanah

Teman teman daesung yang melihatnya langsung ikut menyerang yeoja itu namun lagi lagi mereka lah yang terkena serangan yeoja itu hingga keenam namja itu terkapar kesakitan

“Jika ku lihat kalian seperti itu lagi pada seorang yeoja, tak akan pernah ku maafkan” ucap yeoja itu melempar dompet yang berhasil ia ambil dari saku celana daesung dan mengambil semua uang didalamnya

Yeoja itu berjalan menghampiri tiffany yang masih terduduk diatas tanah setelah terjatuh, ia pun membereskan beberapa kue yang masih terlihat bersih kemudian membangunkan tiffany dan mengajaknya berjalan menjauhi keenam namja yang masih kesakitan itu

“Sudahlah jangan menangis lagi, apa ini cukup?” ucap yeoja itu menyeka air mata tiffany kemudian memberikan lembaran uang yang ia ambil dari dompet daesung

“Aku hanya sedikit ketakutan setiap melihat perkelahian, ini sudah cukup bahkan ini kelebihan 4 lembar” ucap tiffany

“Benarkah? Kalau begitu aku akan mengembalikannya” ucap yeoja itu membalikkan badanya namun tangan tiffany menahannya

“Chankkaman”

“Nne?”

“G… Gggomawo…” ucap tiffany gugup, sebenarnya hatinya tiba tiba berdetak lebih cepat saat melihat yeoja itu memberikan pelajaran pada keenam namja itu, membereskan kue kuenya dan membantu mengangkat tubuhnya untuk berdiri

“Nne, lain kali jangan langsung memberikan kue mu sebelum orang itu memberikan uang padamu”

“Arraso… Sekali lagi gomawo, aku jadi memiliki hutang padamu, bagaimana aku bisa membayarnya? Aku akan melakukan apa saja untuk membayar hutangku” ucap tiffany

“Emm… Apa ya?” ucap yeoja itu tampak sedang berpikir “apa kau tak keberatan memberikanku beberapa kue itu? Aku sangat lapar hehehe”

“Em.. Boleh saja, t..ttapi.. Kue ini sudah terjatuh, pasti ini kotor”

“Gwaenchanna…” ucap yeoja itu mengambil beberapa kue itu “ini masih bisa dibersihkan” tambahnya sambil mengusap usap kue itu menghilangkan tanah tanah kecil yang masih menempel

“Hey.. Itu kotor, kau bisa sakit” ucap tiffany hendak menahan yeoja itu namun sayangnya yeoja itu dengan cepat memasukan kue itu kedalam mulutnya

“Hmm… Ini lezat, kau yang membuatnya?”

“Aniyo, ahjumma yang membuat ini” ucap tiffany

Kini kedua yeoja itu duduk bersampingan dibawah sebuah pohon di tepi danau

“Kau sering jual kue ini berkeliling?”

“Aniyo, biasanya kami membuka stand di dekat sungai han, tapi kemarin saat akan berjualan tiba tiba stand milik ahjumma sudah tidak ada disana” ucap tiffany, wajahnya terlihat sedih

“Wae..?”

“Molla…”

“Jadi karena itu kau menjualnya dengan berkeliling? Apa kau tak merasa lelah dan kepanasan?”

“Tentu saja, tapi ini tak sebanding dengan ahjumma yang telah merawat dan membesarkanku sedari aku bayi”

“Memang kedua orang tuamu kemana?”

“Entahlah, ahjumma yang sudah lama bekerja di rumahku bilang mereka hanya datang menyerahkan aku lalu mereka pergi ke negara lain dan tak pernah kembali”

“Hmm… Mianhae”

“Gwaenchanna, oh ya aku merasa tak enak karena kau memakan kue yang kotor, lain kali akan kubuatkan kue kue untukmu”

“Jinja? Gomawo…”

“Ani.. Harusnya aku yang berterima kasih padamu”

“Kau tau? Kau terlalu cantik untuk berjualan kue, tidak kah kau menjadi seorang model saja?”

*pletak!!* 

“Baboya.. Aku tak menyukai hal semacam itu” ucap tiffany setelah menjitak kepala yeoja itu

“Hehehe… Lalu apa yang kau suka?”

“Emm… Aku suka bernyanyi, aku suka membuat beberapa lagu”¬†

“Jadi kau ingin menjadi penyanyi terkenal dengan lagu ciptaanmu sendiri?”

“Nne!” ucap tiffany mantap

“Baiklah tunjukan padaku suara emasmu” ucap yeoja itu

“Eh? Hahaha tapi aku malu”

“Yah, mana ada seorang penyanyi terkenal tapi pemalu”

“Shiro.. aku takut kau menertawaiku”

“Kau bilang kau mau melakukan apa saja untukku, aku ingin menjadi orang pertama yang mendengar lagu ciptaanmu sebelum jutaan orang mendengarnya” ucap yeoja itu dan berhasil membuat kedua pipi tiffany memerah

“Baiklah, tapi berjanjilah kau tak akan menertawaiku, karena kau orang pertama yang mendengarnya, yaksok?” ucap tiffany mengangkat jari kelingkingnya

“Geurae…” ucap yeoja itu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari tiffany

“Baiklah, ini lagu ciptaanku sendiri” ucap tiffany

Tiffany diam sejenak sambil memejamkan kedua matanya untuk mengatur nafasnya sementara yeoja itu tersenyum memperhatikannya

Dengan kedua mata yang masih terpejam tiffany mulai membuka mulutnya dan mulai bernyanyi

~Naege ssodajin nunbusin bichen neoya

Memareun nae mame dasi kkocheul piwojun

You are my once in a lifetime

Geudaem neolbgo keun uju

Nareul kkaewojun dasi utge han ojig han saram

You arw my, you are my once in a lifetime

Once in a lifetime…. ~~

Tiffany membuka kedua matanya sambil masih tersenyum merasa senang dengan lagu yang dinyanyikannya itu, namun dahinya mengkerut saat menoleh dam melihat yeoja disampingnya itu terdiam menatapnya

“W..wwae…? Kenapa kau diam saja? Apa kau tak su…?” tanya tiffany

“Daebak!!! Aku belum pernah mendengar suara seindah itu” potong yeoja itu sambil menepuk tepukkan kedua tangannya merasa takjub

“Yaish..!! Pintar sekali kau berbohong” ucap tiffany kesal

“Aniyoo, aku berkata jujur padamu, aku benar benar merasa terbang saat mendengarmu bernyanyi, aku yakin sebentar lagi pasti kau akan menjadi penyanyi yang sangat terkenal!” ucap yeoja itu semangat

Tanpa terasa kedua pipi tiffany kembali memerah dibuatnya

“Jinja? Kau senang?”

“Tentu saja, aku jadi ingin selalu disampingmu agar selalu kau nyanyikan hehehe”

“Kk…kkau ini” ucap tiffany gugup

“Sayangnya aku harus segera pergi” ucap yeoja itu melihat jam tangannya

“Oddiga?” tanya tiffany, wajahnya terlihat sedih merasa tak rela jika harus berpisah dengan yeoja itu

“Kedua orang tuaku menungguku dirumah”

“Begitu ya”

“Nne, gomawo atas kue nya… Aku pergi dulu” ucap yeoja itu mulai berdiri namun saat akan membalikkan badannya, tiffany menahan tangannya

“Chankkaman”

“Nne?”

“Apa kita akan bertemu lagi?”

“Tentu saja, kau bisa panggil nama pangeran orion sebanyak tiga kali jika ada yang mengganggumu, maka aku akan datang menolongmu hahaha”

“Pangeran orion? Kenapa pangeran? Kau seorang yeoja”

“Ah…hahaha iya aku lupa” ucap yeoja itu menggaruk garuk rambutnya

“Dasar kau, baiklah aku akan memanggilmu pangeran orion” ucap tiffany tersenyum

“Baiklah aku pergi dulu tuan putri, bye..” ucap yeoja itu berlari menjauhi tiffany

Tiffany terus tersenyum melihat punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari pandangannya, ia tertawa saat melihat yeoja itu menghampiri para namja yang telah berbuat nakal padanya, mereka terlihat ketakutan namun yeoja itu ternyata hanya mengembalikan uang yang kelebihan ia ambil untuk tiffany

Yeoja itu kembali berjalan menuju halte dan tubuhnya menghilang dari pandangan tiffany

Flashback End

“Aw… So sweet, tapi… Apa dia juga lagi lagi seorang yeoja? ūüėí

“Nne… Hehe dialah yang membuatku menyukai seorang yeoja, bagiku dia lebih gentle daripada pria”

“Lalu kenapa kau tak berpacaran dan menikah saja dengannya?”

“Aku tak bisa” ucap tiffany, kini wajahnya terlihat sendu

“Why? Apa dia telah menikah dengan orang lain?”

“Karena aku tak pernah bertemu dengannya lagi” ucap tiffany menundukkan kepalanya “hari itu adalah hari pertama dan terakhirku bertemu dengannya, dia tak pernah terlihat lagi”

“Kau mengetahui nama nya kan? Kita bisa mencarinya”

“Hufht… Yang ku tahu dia bernama pangeran orion” ucap tiffany menundukkan kepalanya

“Don’t be sad… Sekarang kau sudah memiliki seseorang yang mencintaimu” ucap jessica memeluk sahabatnya itu, tiffany pun tersenyum kembali membalas pelukan jessica

………………….

Di kantor bourbound 

021.jpg

Sudah 15 menit taeyeon berada didalam gedung itu untuk menemui yuri

“Ya, hancurkan saja jika kau ingin melakukannya”

“Kau menantangku huh?”

“Anniyo, aku sendiri sudah muak”

“Jangan coba memperdayaku, aku tak pernah mempercayaimu kwon yuri” ucap taeyeon tersenyum smirk “kau sama saja seperti ayahmu, licik dan tak pantas berada di dunia ini” ucapnya kembali sambil berjalan meninggalkan yuri

“Lalu bagaimana dengan ayahmu?” ucap yuri membuat langkah kaki taeyeon terhenti. “Yang begitu mudahnya menutup kasus malapraktik operasi jantung pada ibuku, hanya karena keluargaku orang biasa” ucap yuri kembali “saat itu aku hanya memiliki eomma dan yoong”

Taeyeon masih terdiam tak berniat membalikkan badannya, ia sendiri merasa terkejut dengan ucapan yuri

“Bisakah aku juga menghancurkannya?” ucap yuri

Taeyeon mengepalkan kedua tangannya merasa geram, dengan cepat ia langsung membalikkan badannya, mencengkram erat kerah kemeja yuri dan mendorongnya ke dinding

“Apa maksudmu huh?! Ayahku tak pernah melakukan kesalahan!” teriak taeyeon

“Aku hanya meminta keadilan sebagai seorang anak terhadap kematian ibuku, kau tau? rasanya sakit sekali” ucap yuri dengan tenang

Dengan kasar taeyeon melepaskan kedua tangannya, kemudian ia pergi meninggalkan yuri, pikirannya benar benar bingung setelah mendengarkan yuri. Taeyeon sendiri baru mengetahui jika yuri bukanlah putri kandung dari mr. Lee

Setelah melihat taeyeon pergi, yuri kembali duduk di kursi kerjanya, ia terdiam mengingat kembali percakapannya bersama taeyeon

“Hufht…!!! Rumit sekali” gumam yuri, ia menoleh ke ujung mejanya, kemudian menekan sebuah tombol, kini layar cctv didalam ruangan pribadi di kantornya kembali normal.

Saat hari pertama bekerja di kantor mr lee, tanpa sepengetahuan orang lain yuri telah mengatur semua yang berada didalam ruang kerja nya, termasuk cctv yang selalu mengawasinya

*ceklek* tiba tiba pintu ruangan terbuka, terlihat seorang yeoja seusianya dengan pakaian serba hitam membawa 2 cup kopi memasuki ruangan

“Tadi itu nugu?” tanya yeoja itu sambil menyerahkan 1 cup kopi pada yuri

“Gomawo, ah.. Kau melihatnya? Dia temanku”

“Aku baru tahu kau memiliki teman yang begitu pendek, tapi wajahnya kaku sekali, padahal aku sudah tersenyum padanya”

“Hahaha… Fail! Amber, kau datang sendiri? Apa mr lee dan para bodiguard lain juga sudah datang?”

“Nne aku sendirian kemari mianhae sedikit telat, tapi sepertinya mr lee dan yang lain belum tiba”

“Syukurlah”

“Wae…? Dan yah! Kau masih saja memanggilnya seperti itu saat di kantor! Dia ayahmu!”

“Ah ya, hehehe aku lupa”

“Yaish babo! Oh ya, bagaimamana adikmu? Apa sudah pulang kembali?”

“Anni, dia sepertinya memang tak akan kembali”

“Mwo? Jinja? Heol… Daebak!”

“Yah! Apa maksudmu”

“Hehehe senang sekali terbebas”

“Begitulah… Dia juga mengajakku”

“Baboyaa, kalian berdua akan mati”

“Kau benar, maka dari itu aku tak bisa semudah itu pergi dari lingkaran setan ini”

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

“Emm… ¬†apa kau masih memihak padaku?”

“Tentu saja, aku berhutang nyawa padamu”

“Bisakah aku meminta tolong padamu?”

……………………………….

Apartemen jessica

“Segarnya…!” ucap jessica sambil bersenandung, ia baru saja selesai mandi setelah tiffany pergi

Begitu selesai mengganti baju, ia kembali memasuki dapur & membuka kulkas

“Yaish… Bagaimana bisa aku mengajak tiffany makan malam, kulkasku saja masih kosong ,jessica babo!” rutuk jessica pada dirinya

Ia pun kembali kedalam kamarnya mengambil tas kecil

Sebelum pergi jessica kembali menghubungi tiffany

“Yoboseyo, ya ada apa jessie?”

“Tiff, apa aku mengganggu?”

“Anniyo, kami masih di perjalanan, wae?”

“Aku ingin pergi berbelanja, bisakah kau beritahu aku jalannya?”

“Eh? Kau yakin? Ini sudah jam 8 malam jessie”

“Why? Bagiku ini masih sore”

“Tapi ini memasuki musim dingin, biasanya jalanan akan sepi, itu akan berbahaya jika kau pergi sendirian”

“Kau seperti ibuku saja, gwaenchanna tak akan terjadi apa apa padaku”

“Yah, aku ini mengkhawatirkanmu babo! Baiklah, sekitar 500 meter ke arah utara ada sebuah supermarket, aku biasa belanja disana untuk kebutuhan makanan, sebaiknya kau naik taksi saja”

“Nne eomma, gomawo…”

“Hey… Ttt…”

*tuuutt tuuttt tuuutt* belum sempat tiffany melanjutkan bicaranya jessica sudah terlebih dahulu mematikan telepon. Ia pun pergi meninggalkan apartemen

“Ini tak sedingin di USA, sebaiknya aku jalan kaki saja lagipula masih terlihat ramai” gumam jessica

……………………………………..

Di sebuah villa

*ceklek* sooyoung baru saja memasuki villa itu dan melihat sahabatnya sedang menonton tv

Kini yoona tak lagi tinggal di hotel, setelah meminta kunci salah satu villa milik keluarganya pada ayahnya, sooyoung meminta yoona untuk tinggal disana karena villa itu juga sangat jarang di huni

“Yah, kemana saja kau” ucap yoona kesal

“Tentu saja kencan, memangnya kau? Yang katanya memiliki wajah cantik sekaligus tampan tapi tak pernah memiliki kekasih” ledek sooyoung membuat yoona melempar bantal kearahnya

“Aku hanya malas memiliki kekasih, mereka merepotkan”

“Hahaha kau ini, oh ya beberapa hari yang lalu saat di pesta yul unnie menanyakanmu”

“Jinja? Lalu kau bilang apa?”

“Aku bilang kau tinggal di hotel” ucap sooyoung

“Yah, baboyaa…! Dia tahu aku tak membawa apa apa saat pergi, dia akan curiga aku memakai uang siapa”

“Kau tenang saja, aku sudah memberitahunya kalau memakai kartu milikku”

“Yaish… Tamatlah aku” ucap yoona menenggelamkan wajahnya pada bantal soffa

“Wae..? Bukankah kau bilang jika kau bukan lagi keluarganya?”

“Aniyo, kemarin hanya kekesalanku saja”

“Babo, lalu pulanglah”

“Shirro, aku tak pernah ingin kembali kesana”

“Dasar labil, ah aku lapar lagi” ucap sooyoung berjalan menuju ruang makan, namun ia terkejut saat membuka kulkas “yah! Mengapa masih kosong? Bukankah aku sudah meminta padamu untuk membeli banyak makanan” teriak sooyoung

“Ah iya, hehehe aku lupa… Aku segera pergi sekarang…” ucap yoona buru buru mengambil jaket kemudian pergi meninggalkan villa

………………………

Begitu selesai berbelanja, jessicapun kembali berjalan menuju apartemennya. Namun saat ia melewati sebuah jalanan yang sudah tampak sepi tiba tiba dari sebuah gang sempit keluar 5 orang namja dan berjalan menuju kearahnya

“Noona mengapa kau sendirian? Apa perlu kami temani?” ucap salah satu namja itu

“Nne, lagipula kau terlihat kesulitan membawa barang barang yang begitu banyak” ucap namja lain

“Anniyo, aku bisa sendiri” ucap jessica kembali berjalan melewati kelima namja itu

Namun kelima namja itu berjalan mengikuti jessica dan berhasil menggalangi jessica dan mengelilinya

“Mengapa terburu buru? Bagaimana kalau kita bersenang senang?”

“Yah! Minggir!” teriak jessica mencoba menerobos namun kelima namja itu satu persatu memegang jessica dan menahannya

Jessica terus meronta namun genggaman namja2 itu terlalu kuat ,kini jessica tampak ketakutan terlebih jalanan disana sangat sepi

“Periksa tasnya dan ambil semua uangnya” ucap salah satu namja yang terlihat seperti ketua dari geng itu

Salah satu namja dari mereka pun menarik tas kecil jessica hingga tali tas itu putus

“Akhh!!” teriak jessica kesakitan pada pundaknya saat namja itu secara paksa menarik tasnya

“Andwae… Aku mohon” ucap jessica saat namja itu mengambil dompet dan ponsel miliknya kemudian diberikannya pada bos mereka

“Yah! Kembalikan dompet dan ponsel itu padanya” ucap seseorang yang sudah berdiri tak jauh dari mereka

“Ini bukan urusanmu, pergilah jika kau masih ingin hidup”

“Aku tak ingin pergi jika kau tak mengembalikannya”

“Mwo? Hahaha kau ingin mati?”

“Tidak juga, aku masih ingin hidup”

“Yaish..! Hajar dia!” ucap bos dari geng itu, namja yang memegangi jessica pun melepaskan tangannya dan keempat namja itu berjalan menghampiri orang itu mulai menyerangnya, namun orang itu pun berhasil ditahan oleh keempat namja itu

“Cih! Dasar so’ jagoan, sudah kubilang jangan ikut campur” ucap bos geng itu menghampiri

*bukkkk!!!* dengan sekali pukulan orang itu pun tersungkur ke atas aspal

“Aw… Appo… Sial, tau begitu dulu aku ikut belajar bela diri bersama unnieku” gumam orang itu dalam hati, ia merasa kesakitan pada dadanya setelah menerima pukulan dari bos geng itu

“Yah! Bangunlah… Apa kau memang tak bisa berkelahi huh?” ucap namja itu kembali mencengkram dan mengangkat orang itu

“Akhh..!! Jan.. Tung..ku akhh!!” teriak orang itu terlihat sangat kesakitan sambil memegangi dadanya

“Mwo? Yah! Jangan mempermainkanku!” ucap namja itu

“Anniyo, ak..akku.. Memiliki penyakit j…jjantung” ucap orang itu kemudian tak sadarkan diri

“B..bbos… Apa dia mati?”

“Molla, kajja kita pergi sebelum polisi datang” ucap namja itu, kelima namja itupun langsung berlari meninggalkan jessica dan seseorang yang terbaring tak sadarkan diri

Melihat itu jessica langsung berlari menghampiri orang itu

“Help..!! Ah ottokhae… Tak ada orang disini, ponselku juga tak ada” ucap jessica terlihat panik, iapun mulai membuka masker dan topi orang itu, namun jessica tampak terkejut saat melihat rambut panjang terurai setelah topi itu dibukanya,ia tak menyangka jika orang itu seorang yeoja

“Oh my god! Mirip sekali dengan krystal” ucap jessica menutup mulutnya karena terkejut saat melihat wajah yeoja itu

Namun tiba tiba yeoja itu membuka kedua matanya

“Apa mereka sudah pergi?” ucap yeoja itu

“Omo!!” teriak jessica kembali terkejut

“Wae…? Aku bukan hantu” ucap yeoja itu terbangun dan duduk diatas aspal ,ia mengusap usap jaketnya

“Jadi kau tidak benar benar pingsan?”

“Tentu saja, aku bisa mati sungguhan dihajar mereka jika tak melakukan ini”

“Yaish!! Jadi sakit jantungmu itu…?”

“Tentu saja tidak, ah tapi pukulannya sakit sekali..” ucap yeoja itu kembali memegang dadanya yang terkena pukulan namja itu “Sialan mereka! Lihat saja nanti kalau aku sudah bisa bela diri” ucapnya kembali

Keduanyapun kembali berdiri dan yeoja itu membalikkan badannya berjalan meninggalkan jessica tanpa bicara apa apa lagi, jessica ingin menghentikannya namun baru beberapa langkah yeoja di hadapannya itu tiba tiba terjatuh tak sadarkan diri

“Oh my god! Hey…!” teriak jessica segeraa berlari menghampiri yeoja itu “hey… Kau tak sedang berpura pura kan? Bangunlah…!” ucap jessica kembali menggoyang goyangkan tubuh yeoja itu namun tetap tidak ada respon membuat jessica semakin panik

“Ottokhae…?!!” ucap jessica menggigit kuku kuku jarinya , hal yang selalu dilakukannya jika sedang merasa panik

Jessica berlari ke arah jalan raya yg cukup terang dan beruntung tak berapa lama ia berhasil mendapatkan taksi

Dengan segera jessica membawa yeoja itu ke rumah sakit

………….

Keesokan harinya

Jessica terbangun dan sadar bahwa ia tertidur diatas kursi dipinggir tempat tidur pasien, ia melihat sosok yeoja sedang terbaring dihadapannya, yeoja yang semalam telah menolongnya sekaligus merepotkannya. tanpa terasa jessica tersenyum saat memandang wajah yeoja itu. Malam tadi karena terlalu panik dan suasana yang gelap membuatnya tak terlalu memperhatikan wajah yeoja itu

11.jpg

“Hmm… Wajahnya mirip sekali dengan adikku, krystal. Aku pikir kau pria, kau tak terlihat seperti perempuan saat menyembunyikan rambut pada topi & tudung hoodie mu, kau… Terlihat tampan” ucap jessica dalam hati “ah tidak tidak! Mengapa aku berkata seperti itu! Dia ini perempuan! Jessica babo!” ucapnya kembali sambil menggeleng gelengkan kepalanya menepis pikiran dan ucapannya barusan itu

Jessica menegakkan badannya bersandar pada punggung kursi saat melihat yeoja itu bergerak dan mulai membuka kedua matanya

“Engh….” gumam yeoja itu mengedip ngedipkan matanya

“Kau sudah sadar, apa yang kau rasakan sekarang?” tanya jessica

“Aku dimana?” tanya yeoja itu tak menjawab pertanyaan jessica

“Kau di rumah sakit, semalam kau tak sadarkan diri setelah berpura pura tak sadarkan diri, dasar bodoh! Kau membuatku panik saja!”

“Begitu ya” ucap yeoja itu datar, iapun mengangkat tubuhnya

“Eh eh eh apa yang ingin kau lakukan?” tanya jessica

“Pulang, memangnya apa lagi? Aku sudah ditunggu temanku, gara gara kau aku jadi tidur disini” ucap yeoja itu

“What?! Yah! Itu kah caramu berterima kasih padaku?!” ucap jessica kesal “oke sama sama, asal kau tahu! Kemarin sedari pagi aku mengangkut angkut barang di apartemen sampai sore dan aku ke supermarket untuk berbelanja, apa kau pikir aku juga tak lelah, huh?!” tambahnya dengan nada yang meninggi

“Siapa?” tanya yeoja itu

“Aku lah!”

“Yang tanya” ucap yeoja itu dengan tatapan datarnya

“What! Yah!!” teriak jessica semakin kesal

“Ssst… Kau berisik, aku haus” ucap yeoja itu kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran punggung tempat tidur yang sudah ia tinggikan

“Kau…!!” ucap jessica jengkel karena lagi lagi yeoja dihadapannya itu menghiraukan ucapannya dengan wajah tanpa dosanya, saking kesal jessica mengangkat tangannya hendak memukul wajah yeoja itu namun niatnya urung ketika pandangannya tertuju pada bekas luka pukulan di sudut mulut yeoja itu, kini jessica beralih merasa sedikit bersalah, karenanya yeoja itu dipukuli oleh para namja yang telah menggangunya itu

“Baiklah, aku segera kembali” ucap jessica menurunkan kembali tangannya, iapun berbalik meninggalkan ruangan

Namun saat membuka pintu dan keluar, tak sengaja jessica menabrak seseorang yang hendak memasuki ruangan itu

*dukkk*

“eh, mianhae…” ucap jessica bersamaan dengan orang itu

orang itu menundukkan kepalanya menyapa jessica kemudian memasuki ruangan itu sementara jessica masih memandangnya sambil berjalan keluar

“nugu?” gumamnya

sambil berjalan di koridor rumah sakit, jessica mengingat seseorang yang bertabrakan dengannya tadi, penampilan orang itu terlihat tertutup sama seperti yeoja menyebalkan yang sedang dirawat karenanya  itu. orang itu memakai pakaian serba hitam mulai dari celana, jaket yang dikenakan, topi dan kaca mata hitamnya

“omo!!” ucap jessica menutup mulutnya dengan kedua tangannya “jangan – jangan orang itu bos dari komplotan orang orang jahat tadi malam! mungkin dia ingin memabalas dendam! ah ottokhae.. aku harus segera menggagalkannya, aku tak ingin hidup di seoul hanya untuk terlibat pembunuhan” ucapnya kembali

Dengan cepat jessica membalikkan badannya dan berlari menuju ruangan tempat yeoja menyebalkan itu dirawat

…………………………

Yoona hendak memejamkan matanya kembali ketika melihat jessica berjalan keluar namun niatnya urung ketika melihat seseorang memasuki ruangannya dirawat.

“ada apa kau kemari?” ucap yoona tak berniat memandang orang itu

“yoong… bagaimana keadaannmu sekarang?” tanya orang itu terlihat khawatir, ia membuka tudung jaket, topi serta kaca mata hitamnya, kini rambut coklat panjang tergerai, orang itu adalah yuri unnienya

ia sengaja menutupi sebagian wajahnya itu untuk menghindari pengawasan dari para bodyguard mr. lee dan yuri berhasil menghindari mereka untuk keluar dari kantor

“bukan urusanmu, pergilah urusi perusahaan terkutuk itu” ucap yoona dengan nada kesalnya

“yoong aku mohon jangan seperti ini”

“sudah kubilang pergi!!” teriak yoona menolehkan kepalanya kearah yuri, namun pandangannya bukan tertuju pada yuri, ia melihat jessica sedang berdiri terpaku tepat dibelakang yuri sedang menatapnya. yuri pun ikut menoleh kebelakang saat melihat yoona menatap kearah lain

“eh.. emm… mm. mmianhae..” ucap jessica terbata, iapun membungkukkan badannya dan segera keluar ruangan

“nugu?” ucap yuri kembali menatap yoona

Namun yoona terdiam enggan menjawab, ia hanya menatap tajam pada yuri

“aku benar benar mengkhawatirkanmu, kau pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa apa selain yang kau pakai”

“sudah kubilang ini bukan urusanmu! dan kau….” ucap yoona tertahan “sudah bukan siapa-siapa lagi bagiku”

Bagai tertusuk pisau, hati yuri benar benar merasa sakit mendengar ucapan yoona adik kandungnya sendiri, satu satunya keluarga yang ia miliki, adik yang selalu ingin ia lindungi. namun ia tahu sekarang yoona sudah bukan dongsaeng kecil yang polos lagi, peikirannya sudah semakin dewasa dan satu hal lagi, seperti yang selama ini ditakutkannya terjadi, kini adiknya membencinya. bahkan tak ingin menganggapnya sebagai unnie lagi.

“mianhae..” ucap yuri pelan menundukkan kepalanya

“aku muak melihatmu” ucap yoona, ia melepaskan jarum infusan yang tertancap pada tangannya dan segera mengambil jaket miliknya

“setidaknya kau membawa uang yoong”¬†

“cih, uang? aku lebih baik berhutang daripada memakan uang haram yang kalian ambil dari banyak nyawa yang terbunuh!” ucap yoona tersenyum sinis

Saat berjalan melewati yuri, tangan yuri menahan tangan yoona hingga tubuh keduanya berhadapan

“pakailah ini” ucap yuri memasukkan kartu ATM miliknya pada saku yoona, yoona hendak mengeluarkan kembali kartu itu namun tangan yuri menahannya “itu uang tabungan hasil kerjaku tanpa terlibat dengan perusahaan, kau jangan khawatir, paswordnya tanggal, bulan dan tahun kelahiranmu”

yoona mengingat saat dia masih tinggal di rumah mr. lee memang setiap malam selalu melihat yuri tak pernah tidur, selalu saja sibuk dengan beberapa layar monitor dan beberapa perangkat yang berserakan di meja. namun yoona pada saat itu tak mengerti apa yang dikerjakan unnienya itu dan yoona bukanlah seseorang yang peduli.

Itu memanglah pekerjaan yuri, sudah 2 tahun ia bersama amber berhasil menciptakan beberapa aplikasi dan game untuk android serta bentuk games lainnya, sebenarnya hanya yuri yang menciptakan namun ia tak ingin mr. lee mengetahui hal itu hingga ia meminta amber untuk mengataskan namakan dirinya sebagai pembuat games yang diciptakannya itu, beruntung amber termasuk orang yang ia percayai karena kejujurannya dan selalau membantu yuri. amber adalah satu satunya anak buah mr. lee yang ia percayai.

cukup lama terdiam, yoona menyingkirkan tangan yuri yang masih menggenggam lengannya, ia kembali berjalan meninggalkan unnie nya itu

……………………………

Setelah tak sengaja memasuki ruangan dan melihat pertengkaran kedua yeoja itu jessica kembali berjalan keluar ruangan

“baboya!!! pikiranku terlalu jauh, orang itu bukan pembunuh! dan dia…. seorang yeoja! ah shit! mengapa disini banyak sekali yeoja yang terlihat tampan! taeyeon, yeoja menyebalkan itu… dan… arggh! kenapa lagi dengan otak ku! hey sadar jessica jung!!” gumamnya sambil terus mondar mandir di koridor depan ruang rawat yoona

namun langkah jessica terhenti saat pintu ruangan itu terbuka, jessica melihat yoona si yeoja menyebalkan baginya itu keluar dari ruangan itu dengan jaketnya

“kajja” ucap yoona meraih pergelangan tangan jessica dan membawanya menjauhi ruangan itu sementara yuri masih terdiam didalam ruangan

“he…heyy.. oddiga?” ucap jessica sedikit berlari menyamakan langkahnya dengan yoona yang berjalan cukup cepat

“pergi dari sini”¬†ucap yoona memandang terus kedepan

“wae..? bukankah kau sedang dirawat? bahkan kau belum menerima hasil pemeriksaan dokter”

“aku tidak apa apa, aku pingsan karena lapar”¬†

Kini keduanya sudah memasuki taksi dan pergi meninggalkan rumah sakit

*ceklek* seorang perawat baru saja memasuki ruangan

“loh? kemana pasien itu?” ucap perawat¬†itu saat melihat tepat tidur pasien terlihat kosong, ¬†hanya melihat seorang yeoja baru saja membalikkan badannya

“dia sudah pergi”

“eh? kenapa bisa? ah ya, apa agashi anggota keluarganya?”

“ya, aku unnienya”

“kalau begitu mari ikut saya, dokter pemeriksa pasien sudah menunggu diruangannya untuk memberikan hasil pemeriksaan adik agashi, mari”

“ah nne..” ucap yuri berjalan mengikuti perawat itu

Tak berapa lama keduanya sampai, perawat itu membuka pintu dan mempersilahkan yuri untuk masuk, begitu masuk yuri melihat seorang dokter sedang duduk memperhatikan beberapa berkas, dokter itu pun mengangkat wajahnya begitu mengetahui pintu ruangannya terbuka, namun wajahnya tampak terkejut melihat seseorang yang sudah berdiri di hadapannya itu

“y..yyuri?” ucap dokter itu kembali untuk memastikan

“nne, ini aku¬†ahjushi” ucap yuri membungkukkan badannya menyapa namja yang sudah berumur hampir setengah abad itu, dokter itu memiliki nama kim min joong seorang dokter ahli jantung

“jadi… yang dirawat itu…”

“ya, dia adikku, yoong. tapi dia sudah pergi dari sini” ucap yuri melanjutkan ucapan min joong

“b..bbegitu ya, eh? wae..? dia masih harus mendapat perawatan” ucap dokter itu masih dengan nada gugupnya, sebutir keringat dingin mengalir pada pelipisnya

“dia tak akan mau, oh ya aku baru tahu¬†ahjushi sekarang bekerja disini”

“oh n..n.. nne… aku sudah 7 tahun bekerja disini setelah dipindah tugaskan dari yonsei hospital”

“begitu ya, oh ya bagaimana hasil pemeriksaan adikku?” tanya yuri

“itu… em.. yoona…” ucap dokter itu, tangannya yang berada dibawah meja perlahan membuka laci dan mengambil sebuah jarum suntikan yang sudah terisi cairan tanpa sepengetahuan yuri

…………………………..

Di dalam taksi

setelah meninggalkan rumah sakit selama perjalanan baik yoona maupun jessica sama sama terdiam, tak ada percakapan. keduanya begitu sibuk dengan pikiran masing masing

yoona menundukkan kepalanya melihat kartu atm yang terselip di sakunya, atm yang diberikan yuri beberapa saat yang lalu

Sebeneranya yoona merasa bersalah atas bentakan yang ia ucapkan pada unnienya hingga melihat yuri mengeluarkan air mata dihadapannya, ia tahu yuri merasakan sakit hati mendengar ucapannya itu karena yoona pun merasakan hal yang sama. hanya saja rasa bencinya terlalu besar. dulu yoona membenci yuri karena selalu dipukuli mr. lee ataupun anak buahnya karena selalu membelanya setelah yoona melakukan kesalahan. dan kini ia membenciya karena yuri kini menjadi bagian dari mereka. yoona selalu membencinya karena ia mengkhawatirkan unnienya itu, terlalu banyak pengorbanan yang selalu yuri berikan padanya. yoona tidak ingin kehilangan unnie nya namun ia sendiri tak bisa berbuat apa apa hingga satu satunya jalan adalah dengan membenci dan menjauhi yuri.

“kita akan pergi kemana?” tanya jessica memulai percakapan setelah cukup lama keduanya terdiam

“molla…”

“what? tadi itu siapa? kakakmu? mengapa kau tak pergi dengannya? kau harus pulang, pasti keluargamu sangat mengkhawatirkanmu, rumahmu dimana? akan aku antar” ucap jessica

“aku tak memiliki keluarga”

“lalu tadi siapa? jika kau tak punya keluarga lalu selama ini kau tinggal dimana? jangan membodohiku”

“bukan siapa siapa, dan kau ingin tau aku tinggal dimana?” ucap yoona, ia merapatkan tubuhnya, kepalanya mulai mendekati wajah jessica hingga membuat yeoja itu gugup

“aku adalah seorang pembunuh berantai yang kejam yang selalu berkeliaran, jadi aku tak memiliki rumah” bisik yoona pada jessica

“what?!!” teriak jessica “kalau begitu, ahjushi tolong antar kami ke kantor polisi! orang disampingku ternyata seorang pembunuh” ucap jessica

“nn… nne…” jawab sopir taksi itu

“mwoya?? yah yah yah! aku bercanda! ahjushi aku bukan pembunuh jangan antar kami kesana”

“dasar pembohong!” ucap jessica memasang wajah sinisnya pada yoona

“arraso, mianhae..” ucap yoona mempoutkan bibirnya, kini wajah datarnya berubah dengan aegyo membuat jessica terkejut

“apa apaan ini!” ucap jessica dalam hati

“orang menyebalkan sepertimu tak pantas dimaafkan!” ucapnya kembali dengan nada yang terdengar

“setidaknya aku sudah meminta maaf, aku bukan pembunuh kau tenang saja”

“baboya.. tentu saja saat kau pertama kali mengucapkan aku sudah tak percaya, mana ada seorang pembunuh kejam bisa kalah dengan 5 orang namja lalu berpura pura pingsan, dasar bodoh” ucap jessica dalam hati sambil menahan tawanya

“baiklah ku maafkan, sekarang rumahmu dimana? lekaslah pulang, akan aku antar”

“andwae, aku bisa sendiri. lebih baik kau yang pulang duluan, kau tinggal dimana? sepertinya kau bukan asli warga negara disini”

“di depan, ahjushi tolong berhenti didepan sana” ucap jessica

“heol… daebak” gumam yoona

Taksipun berhenti dan keduanya kembali berjalan setelah membayar

“aku memang bukan warga asli korea, aku dari USA dan baru beberapa hari tinggal disini”

“kenapa kau pindah kesini? bukankah disana menyenangkan?”

“ada yang sedang ingin aku lupakan” ucap jessica reflek

“woah, apa itu? mantan kekasihmu? apa karena kau tak jadi menikah dan pasanganmu pindah kelain hati?”

Jessica menghentikan langkahnya, ia menundukkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya

“baboya.. mengapa bisa bisanya aku berkata seperti itu pada bocah menyebalkan ini!!” ucap jessica dalam hati

“aku bercanda, hahaha” ucap jessica tertawa dipaksakan “pekerjaanku dipindah tugaskan ke seoul jadi mau tidak mau aku harus pindah”

“oh…” ucap yoona datar

“dasar menyebalkan!” ucap jessica kembali dalam hati

“sudah sana pulang! aku sudah sampai”¬†

Yoona menghentikan langkahnya menatap sebuah gedung apartemen dihadapannya, ia baru menyadari jika gedung ini juga apartemen dimana tiffany tinggal

“nne” ucap yoona

“syukurlah dia tak mampir, aku bisa terkena darah tinggi jika terus terusan bersama bocah menyebalkan ini” ucap jessica dalam hati

“aku masuk” ucap jessica kemudian mengembalikkan badannya

“ahjumma, chankkaman!” teriak yoona menghentikan langkah jessica

“apa lagi? dan…. what?!! yah! aku bukan seorang ahjumma, yaish!!” ucap jessica kesal kembali berjalan menghampiri yoona

*pletakkk!!!* sebuah jitakan pun meluncur pada kepala yoona

“aw, appo…” ucap yoona mengelus elus kepalanya

“salahmu sendiri, ada apa lagi?”

“aku ingin mengetahui namamu”

“yaish… itu tak penting, bahkan aku berharap kita tidak akan pernah bertemu”

“ah… begitu ya, baiklah aku akan memanggilmu ahjumma, aku im yoona kau bisa memanggilku yoong”

“yah!! aku bukan ahjumma!” teriak jessica namun yoona segera mendorong kedua pundaknya hingga memasuki lift apartemen dan menekan tombol tutup

“bye… ahjumma, ingat namaku ya! seorang gadis cantik sekaligus tampan yang pernah menolongmu!” ucap yoona tersenyum riang sambil melambai lambaikan tangannya seiring pintu lift tertutup

“aku bukan ahjumma…!!! kyaaaa!!!” teriak jessica didalam lift setelah meluncur keatas, beruntung didalam lift hanya ada dirinya

Yoona tersenyum setelah mendengar teriakan didalam lift, iapun membalikkan badannya segera meninggalkan apartemen itu namun baru beberapa langkah seseorang memanggilnya

“yoong..?”

“f..ffany unnie” ucap yoona begitu melihat orang yang memanggilnya itu

“kau darimana?”

“ah.. eee.. aku baru saja mengantar seorang ehjumma”

“oh begitu ya” ucap tiffany, ia berjalan menghampir yoona

“aw aw aw…!! appo… ampun unnie…!!” teriak yoona saat tiffany berhasil menjewer telinga kanannya

“kau kemana saja eoh? dasar nakal, bisa bisanya kau kabur dari rumah, kau tau? yul selalu mencarimu dan sangat mengkhawatirkanmu!” ucap tiffany memarahi yoona, kini ia melepaskan jewerannya itu

“arra.. mianhae” ucap yoona mengusap usap telinganya yang terasa panas sudah berwarna merah padam itu

“jelaskan padaku” ucap tiffany dengan nada interogasinya

“aku tidak kabur” ucap yoona

Tiffany tak berbicara, ia hanya menyilangkan kedua tangannya diatas dada

“e… aku hanya bermain dan menginap di villa temanku” ucap yoona

lagi lagi tiffany hanya terdiam dengan kedua tangannya yang masih menyilang diatas dada, kini ia menaikkan sebelah alis dengan tatapan tajamnya memandang yoona

“arra.. arra…” ucap yoona menyerah aku memang kabur dari rumah, aku tak akan kembali dalam beberapa hari”

“wae.. kau tau aku dan yul sangat khawatir padamu” ucap tiffany, kini wajahnya berubah terlihat khawatir

“aku baik baik saja, dan akan selalu baik baik saja”

“jinjja? lalu luka disudut bibirmu itu apa?”¬†

“ah.. hahaha ini, tadi malam aku baru saja menolong seorang ahjumma yang sedang diganggu para namja, tak sengaja aku terkena pukulan mereka” ucap yoona, namun tawanya terhenti saat melihat tiffany sedikit menunduk dan mulai mengeluarkan air mata

“kenapa kalian selalu terluka” ucap tiffany dengan suara paraunya, ia benar benar menangis

“unnie..” ucap yoona segera memeluk tiffany “aku baik baik saja, aku janji aku akan selalu baik baik saja, kau tak usah khawatir lagi” tambahnya sambil mengusap usap punggung tiffany

“kenapa kau melakukan ini? apa kau dengan yul bertengkar hebat?” ucap tiffany menghapus air matanya

“anniyo…” ucap yoona melepaskan pelukannya “unnie, aku sudah dewasa sekarang, aku juga ingin sepertimu dan yul unnie, merasakan dunia luar”

“bukankah kau memang selalu diluar” ucap tiffany

“eh? hahaha kau benar juga” ucapnya sambil menggagruk garukkan kepalanya yang tak gatal “maksudku, aku ingin hidup mandiri dan memiliki pekerjaan, aku tak bisa terus terusan hanya bermain aku juga ingin merasakan jadi orang dewasa seperti yang lain”¬†

tiffany terdiam memandang yoona

“wae…? apa kau meragukan perkataanku?”

“nne, sedikit” ucap tiffany polos

“yah! unnie macam apa kau? yaish… menyebalkan” ucap yoona pura pura memasang wajah sebalnya

“hehehe mianhae, aku hanya terlalu khawatir padamu”

“ck, sudah kubilang aku akan baik baik saja, lagipula tadi pagi aku sudah bertemu dengan yul unnie dan menjelaskan semuanya”

“hmm… kau tak bohong lagi kan?”

“anniyo, kau bisa menanyakannya langsung”

“baiklah aku percaya padamu, tapi kau sekarang tinggal dimana? tinggalah bersamaku jika tak ingin pulang ke rumah”

“shiro, aku ingin mencoba hidup mandiri dan lagipula aku sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal” ucap yoona menjulurkan lidahnya

“wah chukkae… kau bekerja dimana?”

“ah.. e.. itu…” ucap yoona terlihat berpikir “ah ha.. aku bekerja sebagai pelayan restoran, ya itu maksudku hehe mian aku sedikit malu mengatakannya”

“aigoo.. kau ini, tapi mengapa sebagai pelayan? kenapa tak ikut bekerja bersama yul saja diperusahaan appamu? atau mendirikan restoran”

“anniyo, aku ingin memulainya dari bawah saja, aku yakin suatu saat nanti aku akan sukses unnie! hwaiting!!” ucap yoona melayangkan kepalan tangannya ke udara

“nne, hwaiting yoong! aku bangga padamu” ucap tiffany mengusap usap kepala yoona

“gomawo… kalau begitu masuklah, kau terlihat lelah”

“nne.. tanganku pegal sekali, malam tadi taeyeon…” ucapan tiffany terhenti ketika melihat yoona memandangnya serius “ah anni.. bukan apa apa hahaha baiklah aku masuk dulu, tapi kau tak ingin ikut? sudah lama tak ke apartemenku”

“ah… kenapa tak dilanjutkan, aku jadi penasaran dan juga ingin merasakannya hehehe”

*pletakkk!* lagi lagi yoona mendapatkan jitakan pada kepalanya

“baboyaa.. kau pikir apa yang sudah kami lakukan! dasar byunt!!”

“hahaha…!! kkah masuklah, aku kapan kapan saja mengunjungimu, hari ini aku harus bekerja”

“begitu ya, yoong hwaiting!!! kapan kapan kita rayakan pekerjaanmu”

“nne.. aku yang akan mentraktir kalian nanti haha”

“dengan senang hati my baby” *cup* ucap tiffany sambil mengecup pipi yoona “kalau begtu aku masuk dulu ya, kau hati hati dijalan dan saat bekerja yoong” ucapnya kembali sambil memasuki lift

“aye aye kapten!!” ucap yoona mengangkat tangannya memberikan hormat, sambil tersenyum menatap tiffany. perlahan pintu lift pun tertutup

“fanny unnie, mianhae” ucap yoona meninggalkan apartemen

TBC

We Are Different part 1

PicsArt_01-10-10.39.52[1].jpg

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Im Yoona, Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………..

Di sebuah rumah di sudut kota Newyork, seorang yeoja berambut pirang begitu sibuk memasukkan beberapa pakaiannya kedalam koper pink bertuliskan nama dirinya, Jessica Jung

*tuktuktuk* suara pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar membuat yeoja itu menoleh kearah pintu

“masuklah” ucap jessica, tak berapa lama pintu kamarnya terbuka memperlihatkan sosok yeoja yang baru saja pulang dari sekolahnya

“eh?? are you seriously want to go?” ucap yeoja itu tampak terkejut dengan apa yang sedang dilakukan jessica

“yeah” jawab jessica singkat

“but why?”

“hmmm… aku tak bisa hidup seperti ini terus kryst”

“haruskah dengan pergi jauh? kau bisa mencari pria lain yang lebih baik disini, tak perlu pergi jauh”

” I can’t”

“why?”

“aku masih belum bisa melupakan rasa sakit ini, aku sedikit trauma”

“hmm… I see, baiklah jika kau ingin meninggalkan adikmu sendirian disini, pergilah cari kebahagaian yang baru”

“kryst…..”

“hahaha just kidding, you still my best sister” ucap krystal memeluk jessica

“tinggalah bersama mom and daddy jika kau kesepian disini”

“yaish… aku tidak mau, disana tidak bebas” ucap krystal mempoutkan bibirnya

“haha dasar bad girl, tapi kau harus berjanji padaku jaga dirimu baik baik, oke?”

“of course aku bisa menjaga diriku, seharusnya aku yang bilang itu padamu, kau lebih manja dariku”

*pletakkk* jessica menjitak kepala krystal begitu mendengar ejekkan adikknya itu

“tentu saja aku juga bisa menjaga diriku baik baik, ah aku harus segera bersiap siap.. pesawatku berangkat satu jam lagi” ucap jessica melihat jarum jam dan melepaskan jam tangannya, ia pun berdiri dan mengabil handuk untuk segera mandi

“pesawat? kemana kau akan pergi?” tanya krystal menghentikan langkah jessica

“seoul” ucap jessica sambil tersenyum, berbeda dengan krystal yang tampak terkejut mendengarnya

Sudah 2 bulan jessica menikmati rasa sakit hatinya karena mantan kekasih yang sudah berjanji akan menikahinya dalam waktu dekat itu. Tyler kwon, pria yang sangat dicintainya selama 2 tahun itu telah diam diam berselingkuh pada yeoja lain dan diketahui jessica saat mengunjungi apartemennya. Hal itu membuat hati jessica sangat terluka dan merasa trauma ,ia lebih sering mengurung diri didalam rumahnya selama 2 bulan itu.

…………………

Seoul

Didalam ruang makan sebuah mansion besar 3 orang penghuni mansion tersebut sedang menikmati makan siang bersama. Seorang namja paruh baya dan 2 orang yeoja kakak beradik itu tampak diam menikmati makan siang tanpa ada percakapan, terutama salah satu yeoja yang sedari awal terlihat malas bergabung diantara mereka.

“Karena kalian sudah berada disini, aku ingin memberitahukan pada kalian?” ucap namja itu memandang satu persatu yeoja dihadapannya itu

“Apa itu?”
tanya salah satu yeoja dihadapannya sementara yang satu hanya diam terlihat tak peduli

“Kau sudah saatnya bergabung di perusahaan” ucap namja itu

Pria paruh baya yang memiliki nama Mr lee adalah pemiliki salah satu perusahaan besar yang cukup sukses, namun sayang banyak sekali cara kotor yang ia lakukan didalam perusahaan tersebut. Mr lee adalah sosok yang sangat berbahaya dan licik, sehingga perusahaannya selalu lolos dari jerat hukum ataupun segala pemeriksaan – pemeriksaan. Perusahaan lain yang bekerjasama dengannya ibarat seekor mangsa jinak yang sangat mudah dimangsa oleh mr lee, dengan cepat perusahaan itu akan bangkrut dan seluruh asetnya berpindah pada mr lee.

Dua yeoja di hadapannya, kwon yuri dan kwon yoona merupakan kakak beradik yang menjadi putri angkatnya. Berawal dari mr lee yang bertemu dengan yuri saat melewati sebuah lapangan dan melihat yuri sedang berkelahi melawan 5 orang namja yang merupakan anak buah mr lee, saat itu salah satu dari anak buahnya tak sengaja menabrak yoona yang masih kecil saat sedang berjalan membuat yoona terjatuh dan terluka, yuri meminta pada namja itu untuk meminta maaf pada adiknya namun ia malah dilecehkan oleh namja itu. Ia pun semakin marah hingga akhirnya terjadi perkelahian. Mr lee melihat dengan cepat kelima namja itu terkapar tak berdaya karena yuri. Ia terus memperhatikan kedua yeoja itu hingga memasuki sebuah panti asuhan tak jauh dari lapangan itu.

Mr lee pun mengetahui jika kwon bersaudara itu merupakan anak yatim piatu. Beberapa hari kemudian ia mengunjungi panti asuhan itu tentu saja untuk mengadopsi, awalnya ia hanya meminta yuri untuk dijadikan putri angkatnya namun yuri tidak ingin menerima jika tanpa yoona. Mr lee pun menyetujuinya.

Mr lee sengaja memilih seorang yeoja yang akan dijadikan putrinya untuk taktik pada perusahaannya, yuri yang tampak cantik dan kuat telah menarik perhatiannya.

Setelah tinggal bersama ayah tirinya itu yuri selalu dilatih beberapa pelatihan yang dilakukan oleh pria, ia selalu diperlihatkan oleh mr lee bagaimana menjadi seseorang yang licik dan bahkan selalu diperlihatkan bagaimana pemilik perusahaan yang menjadi korban itu dibunuh dihadapannya hingga akhirnya yuri dan yoona mengetahui siapa mr lee. Mereka selalu berusaha kabur namun mr lee selalu mudah menangkap mereka kembali, hingga tubuh yuri memiliki banyak luka akibat dari hukuman. Mr lee bisa saja membunuh kedua kakak beradik itu karena bisa menjadi ancaman untuknya, namun ia tahu selama itu yuri tak pernah membocorkan pada siapapun.

Yuri adalah sosok yang tak banyak bicara, berbeda dengan dirinya yang sangat ceria saat masih hidup di panti asuhan dulu. Sementara yoona, mr lee tak pernah peduli terhadapnya, ia tahu yoona tak pernah menyukainya dan sangat jarang tinggal di rumah. Namun mr lee selalu tahu apa yang dilakukan kedua putri angkatnya itu karena ia memiliki banyak anak buah yang selalu membuntutinya. Ia bisa sewaktu waktu meminta pada anak buahnya untuk membunuh kedua kakak beradik itu jika membocorkan tentangnya pada polisi ataupun orang lain.

..

Yuri tampak terdiam mendengar apa yang dikatakan ayah tirinya itu, ia tahu jika itu akan diucapkannya

Sementara yoona menggenggam erat sendok dan garpu, ia tampak geram mendengar apa yang dikatakan mr lee, ingin rasanya ia membunuh namja dihadapannya itu

*brak!!* dengan keras yoona meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya, ia memandang tajam kedua mata yuri kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan tersebut

“Yoong…!!” teriak yuri memanggil adiknya itu, iapun ikut berdiri dan menyusul yoona

“Yoong… Kau mau kemana?”

“Pergi, aku muak! Kajja” ucap yoona

“Yoong” ucap yuri menahan tangan yoona membuat langkahnya terhenti

“Wae…? Cih, jadi kau menerimanya?”

“Ani, bukan begitu tapi…”

“Pergilah, sekarang kau sama saja seperti anjing anjing liar itu” ucap yoona terlihat kesal

“Yoong…”

*bukkk!!!* yoona memukul keras wajah yuri hingga terjatuh

“Jangan pernah memanggil namaku lagi, bilang pada tuan mu aku tak ingin berurusan dengannya lagi dan berhentilah memata mataiku, anggap saja aku tak pernah mengenal kalian” ucap yoona kemudian berlalu meninggalkan mansion besar itu

Mr lee tersenyum sinis melihat kedua kakak beradik itu ,ia mendengar apa yang diucapkan oleh yoona

“Obati lukamu lalu temui aku di ruanganku malam nanti” ucap mr lee berjalan kembali memasuki mansion

“Jangan melukainya” ucap yuri membuat langkah mr lee terhenti

“Jangan apa apakan yoona, aku tau dia pasti tak akan membocorkan semuanya.. Jadi jangan lukai dia, aku mohon” ucap yuri kembali memandang punggung mr lee

Mr lee tertawa kecil mendengarnya, tanpa menoleh ia kembali berjalan memasuki mansion itu

Setelah melihat ayah tirinya pergi, yuri berdiri dan membersihkan tanah tanah yang pada lengannya, ia mengusap bibirnya yang terasa perih akibat pukulan dari yoona

“Yul? Kau sedang apa? Omo, kau terluka” ucap seorang yeoja yang baru saja menghampirinya

“Eh kau, ada apa kemari pany-ah, kau tak bekerja?” ucap yuri menarik lengan tiffany menjauhi mansion

“Aku hanya bekerja setengah hari, sore ini aku harus menjemput sahabatku ke bandara tapi aku meminta izin pada bosku terlalu cepat jadi aku memutuskan untuk menemuimu, kau sudah makan siang yul?”

“Sudah baru saja ,kajja kita pergi dari sini, ayahku sedang berada disini” ucap yuri mengajak tiffany memasuki mobilnya, iapun membawa tiffany meninggalkan mansionnya

Yuri dan tiffany sudah lama bersahabat, mereka bertemu saat yuri menjadi siswa baru di sebuah sekolahan elite, ia melihat tiffany setiap hari selalu dibully oleh setiap siswa di sekolahnya karena merupakan siswa yang diterima karena beasiswa sosial, tiffany bukanlah seorang anak chaebol sehingga selalu mendapat bully.

Flashback

Di sebuah kantin sekolah, tiffany sedang duduk menikmati makan siangnya

*byurr!!!* segelas jus jeruk tumpah pada piring makanan tiffany

“Oopss sorry, aku sengaja melakukannya” ucap hyomin seorang putri dari pemilik salah satu perusahaan terbesar di seoul. Tak hanya memiliki paras yang sangat cantik, Kedua orang tuanya merupakan salah satu penyumbang terbesar di sekolah sehingga tak ada yang berani padanya.

Hyomin selalu membenci tiffany karena tak sedikit juga namja ataupun yeoja yang menyukai tiffany, bukan hanya memiliki paras cantik, senyum bulan sabit yang indah tiffany juga memiliki otak yang cerdas sehingga selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Hyomin selalu menganggap tiffany adalah musuh terbesarnya.
“Gwaenchanna”
ucap tiffany mengambil piring itu dan berjalan meninggalkan hyomin cs’ yang tersenyum licik padanya hingga saat akan melangkahkan kaki ia menjulurkan kakinya membuat kaki tiffany tersandung dan terjatuh hingga alat makan yang dipegangnya berserakan

“Hahahahaha” tawa hyomin cs semakin meledak melihat itu

Tiffany menundukkan wajahnya melihat pakaiannya kotor terkena tumpahan makanan itu, ia mengepalkan kedua tangannya merasa sangat kesal, ini bukan pertama kalinya ia dipermalukan oleh hyomin namun semakin hari perbuatan hyomin padanya semakin parah.

Tiffany mengangkat wajahnya menatap kesal pada hyomin

“Mwo..? Apa yang kau lihat huh? Kau mulai berani padaku?” ucap hyomin menarik kerah seragam tiffany kemudian mendorongnya membuat tubuh tiffany mundur beberapa langkah, ia kehilangan keseimbangan hingga akan kembali terjatuh namun tubuh seseorang memeluknya dari belakang menahan tubuh tiffany

“Gwaenchanna?” tanya orang itu membuat tiffany segera membalikkan badannya, ia melihat sosok yang tak dikenalnya sedang menatapnya

Tiffany dan yuri memang belum saling mengenal, namun setelah beberapa bulan yuri bersekolah disana ia selalu memperhatikan tiffany

“Yah buat apa kau menahan sampah itu, ¬†kau putri dari perusahaan mana? Jangan jangan kau sama sepertinya” tanya hyomin

“Kajja bersihkan pakaianmu” ucap yuri pada tiffany menghiraukan ucapan hyomin

“What?!” gumam hyomin terkejut karena ada yang berani mengabaikannya

Dengan kesal hyomin berjalan dan mendorong punggung yuri

“Yah! Aku sedang bertanya padamu bodoh!” teriak hyomin, para siswa yang berada disamping memperhatikan mereka

“Yoong, antar dia” ucap yuri pada yoona yang sedari tadi berada didekatnya, yoona pun mengajak tiffany

Yuri kembali membalikkan badannya ,dengan tenang ia berjalan menghampiri hyomin

Hyomin sedikit terkejut menatap wajah yuri, ia baru sadar jika paras yeoja dihadapannya itu terlihat tampan dimatanya

“Bourbound” ucap yuri

“Woah! Bourbound company!” ucap salah satu siswa yang mendengar, hyomin pun ikut terkejut mendengarnya

Hyomin tahu beberapa nama perusahaan terbesar di seoul termasuk bourbound Company yang terkenal sangat sukses itu.

Hyomin kembali terkejut saat wajah yuri semakin mendekati wajahnya hingga bibir yuri hanya berjarak 5 cm dari telinganya

“Jangan pernah mengganggunya lagi…” bisik yuri “atau perusahaan ayahmu akan hancur” lanjutnya kemudian membalikkan badannya berjalan meninggalkan kantin. Tentu saja yuri hanya berpura pura mengancamnya.

Hyomin membelalakkan kedua matanya, wajahnya menjadi pucat setelah mendengar yang dikatakan yuri. Ia tahu bourbound company memang perusahaan yang tak bisa diremehkan

“Kau kenapa?” tanya hyuna

“An.. Ani, kajja kita pergi” ucap hyomin buru buru meninggalkan kantin

Dan semenjak saat itu hyomin cs ataupun siswa lain tak pernah lagi berani mengganggu tiffany. Tiffany pun memiliki dua sahabat kakak beradik yang selalu berada disampingnya.

Flashback End

………..

Yuri dan tiffany telah sampai disebuah taman, begitu duduk tiffany membuka tas nya dan mengeluarkan kotak p3k kecil yang selalu ia bawa kemanapun

“Aigoo… Kau tak pernah berubah” ucap yuri tertawa kecil

“Diamlah..” ucap tiffany mulai mengobati luka pada sudut bibir yuri “kau dipukul ayahmu lagi? Kenapa dia selalu kasar padamu? Bahkan sampai kau dewasapun” ucap tiffany kembali

Yuri terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain di taman itu, yuri tersenyum miris karena melihat bayangan dirinya bersama yoona yang selalu menghabiskan masa kecil bersama di taman

“Bukan ayahku” ucap yuri, ia kembali memandang tiffany yang terlihat menaikkan sebelah alisnya “yoong”

“Huh yoong? Wae…? Kalian bertengkar?”

“Bahkan dia keluar dari rumah”

“Kabur maksudmu?” tanya tiffany

Yuri menundukkan kepalanya tak menjawab

“Wae…? Ada masalah apa dengan kalian? Akhir akhir ini memang ku lihat kalian tak sedekat dulu tapi aku kira itu hanya perasaanku lagipula kau tak pernah bercerita”

“Ya, dia memang sudah berubah tak seperti aku yang terus menjadi keledai bodoh ayahku” ucap yuri pelan

“Huh? Kau berkata apa?” tanya tiffany tak bisa mendengar jelas

“Yoong kabur karena aku menerima perintah orang itu untuk bergabung dengan perusahaannya”

“Ayahmu?”

*tukkk*

“Ayah tiri” ucap yuri sambil menjitak pelan kepala tiffany

“Arra… Sama saja” ucap tiffany mempoutkan bibirnya “tapi mengapa yoong marah? Bukankah itu bagus jika kau jadi penerus? Mungkin ayahmu sudah ingin beristirahat”

“Ayahku tetap menjadi pemimpin, aku hanya diminta untuk jadi umpannya”

“Umpan?”

“Kau tak akan mengerti” ucap yuri tertawa sambil mengacak acak rambut tiffany

“Yaish… Ara, aku memang tak pernah paham dunia seperti itu”

“Aku mengkhawatirkan yoong”

“Hmm… Tentu saja aku juga, kita akan mencarinya, dia bisa tinggal bersamaku nanti” ucap tiffany menggenggam erat tangan yuri

Yuri terdiam memandang kedua bola mata yeoja di hadapannya itu, tiffany memang selalu menjadi orang yang sangat berarti baginya selain yoona. Yuri hanya percaya pada 2 orang ini.

“Jangan sedih…” ucap tiffany memeluk yuri

*drrtttt drrrttt* ponsel didalam saku jaket yuri bergetar menerima panggilan, tiffany pun melepaskan pelukannya

“Yoboseyo”

“Noona, mr lee meminta anda menemuinya sekarang”

“Aku sedang bersama temanku, mungkin satu jam lagi aku menemuinya”

“Baiklah akan aku sampaikan”

“Nne, kamsahamnida” ucap yuri kemudian mematikan panggilannya

“Ayahmu?” tanya tiffany

Yuri hanya mengangkat kedua alis sambil meminum americano kopi favorit nya itu

“Dasar orang tua plinplan, padahal tadi dia meminta aku menemuinya malam nanti, ini masih pukul 2 sore” ucap yuri

“Hahaha kau lucu sekali aigoo… Orang tua memang suka begitu”

“Kau ke bandara bersama siapa?”

“Tentu saja sendiri”

“Kekasihmu tak mengantar? Apa perlu aku antar?”

“Dia masih sibuk, andwae kau temui saja ayahmu, nanti kau dipukul lagi”

“Yah, putuskan saja yeoja seperti itu apa tak ada yang lebih baik lagi huh? Mencari kekasih itu yang seperti aku”

“Yaish shirro, jangan menceramahiku kau sendiri tak pernah memiliki kekasih setelah putus dari vivian ,padahal itu saat masa sekolah”

“Hahaha apa boleh buat” ucap yuri “aku hanya mencintaimu” tambahnya dalam hati

“Kkah temui ayahmu, lagipula sahabatku sudah mau sampai”

“Baiklah, igo pakai mobilku biar aku jalan kaki saja”

“Andwae aku akan mengantarmu”

“Baiklah, kajja”

Tiffany pun mengantar yuri kembali ke mansion besar itu.ia menepikan mobilnya begitu sampai didepan mansion

“tak apa jika mobilmu aku pakai?”

“tentu saja, minhae tak bisa mengantarmu”

“gwaenchanna, kkah masuklah”

“hati hati dijalan” ucap yuri, iapun keluar dari mobil memasuki mansion

“jangan terluka lagi, aku mohon” ucap tiffany menatap punggung yuri yang semakin menjauh, iapun meninggalkan mansion itu

……..

“Hey buddy, mengapa wajahmu kusut sekali eoh?” tanya yeoja berperawakan tinggi menghampiri dan merangkul pundak yoona yang baru saja tiba di lapangan basket taman

“Moodku memang sedang buruk soo”

“Wae? Duduklah” ucap yeoja bernama choi sooyoung itu “oy! Belikan 2 minuman” ucapnya kembali pada temannya sambil memberikan beberapa lembar uang

“Aku kabur”

“Eh? Hahaha jangan bercanda” ucap sooyoung tak percaya karena melihat yoona tak membawa apa apa

“Bahkan aku sudah tak ingin menjadi bagian dari mereka” ucap yoona

“Tak biasanya idiot sepertimu bicara serius seperti ini hahaha” ucap sooyoung mengacak acak rambut sahabatnya itu

Yoona hanya terdiam menundukkan kepalanya membuat sooyoung ikut diam, kini ia tahu sahabatnya memang sedang tak bercanda

“Wae? Bukankah sangat enak hidup menjadi seorang anak dari pemilik perusahaan besar? Bahkan keluargamu lebih suskses dari keluargaku” ucap sooyoung

“Aku tak sepertimu”

“Kau masih membenci ayahmu? Seperti ayahku saja”

“Kalau begitu kita bertukar saja ,biar aku menjadi anak ayahmu agar sama sama membenci ayahku”

*pletakk!!*

“Baboyaaa! Tentu saja aku tak mau” ucap sooyoung menjitak kepala yoona

“Agar aku bisa menghancurkannya” ucap yoona pelan namun sooyoung masih dapat mendengarnya

“Hmm… Lalu yul?” tanya sooyoung

“Jangan pernah sebut nama dia lagi”

“Mwo? Kau juga kini membencinya? Wae…? Bukankah kalian sangat dekat, bahkan aku selalu iri melihatmu memiliki unnie yang sangat peduli pada adiknya, tak seperti si lee sunkyu pendek”

“Yah! Sunny unnie juga kakakmu”

“Tapi dia tak sebaik yul ,bahkan kami terlihat seperti orang asing”

“Itu karena sunny unnie sudah lama tinggal di USA, setelah pulang kalian pasti akan akrab”

“Molla, dia memang hari ini akan pulang ke seoul, tapi aku tak peduli padanya”

“Adik yang bodoh”

“Memangnya kau tidak? Kau sendiri sekrang membenci unnie mu”

“Soo, bagiamana perasaanmu jika sunny unnie diminta bergabung dengan perusahaan ayahmu?”

“Pertanyaanmu memang nyata, dia pulang karena akan meneruskan perusahaan appa, tentu saja aku bahagia”

“Wae?”

“Dulu appa memintaku yang meneruskan perusahaannya tapi dengan melihat pergaulanku yang selalu bersama orang orang idiot ini dia meragukanku hehehe aku memang tak pernah ingin terjun di dunia seperti itu”

“Begitu ya”

“Wae? Apa yul unnie diminta meneruskan perusahaan ayahmu?”

“sudahlah jangan bahas hal itu, aku muak”

“geurae… kajja kita makan saja, aku lapar” ucap sooyoung merangkul pundak mengajaknya mencari kedai makan

*sreeettt*

Seseorang baru saja memasukkan senapan jarak jauh miliknya kedalam tas setelah beberapa saat yang lalu membidik yoona, orang itu membuka ponselnya dan menghubungi tuannya

“yoboseyo mr lee”

“bagaimana?”

“dia tidak membocorkan ataupun membahasnya, dia mengatakan jika tak ingin membahas itu lagi pada temannya itu”

“hmm… pergilah dari situ, mulai sekarang jangan membuntutinya lagi”

“baik mr”

…………………

Jessica baru saja tiba di incheon airport setelah menempuh beberapa jam perjalanan dari USA. Setelah mengambil kopernya di bagasi, iapun berjalan ke pintu kedatangan dimana banyak sekali orang orang yang menunggu kedatangan orang yang tiba, jessica meneoleh kesana kemari sambil membaca setiap tulisan nama nama yang dipegang oleh orang orang yang akan menjemput, namun tak satupun jessica menemukan namanya

“Kemana dia?” ucap jessica, iapun membuka ponselnya

¬†“Yoboseyo..”

“Ah jessie, kau sudah sampai?”

“Yepp, kau jadi menjemputku?”

“Nne tentu saja, aku hampir sampai”

“Baiklah, aku tunggu di pintu kedatangan”

“Oke, kau memakai pakaian berwarna apa?”

“Kemeja putih, jeans hitam dan aku membawa koper berwarna pink”

“Baiklah”

*klik* jessica mematikan teleponnya, sambil memasukkan kembali ponselmya kedalam tas ia berjalan mencari tempat duduk yang kosong namun tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang

*dukkk*

“Ah.. S..ssorry.. Aku sedang lengah” ucap jessica membangunkan yeoja yang terjatuh karena ditabraknya itu

“Yaish, kau buta ya!” ucap orang itu kesal dan menepis tangan jessica, ia pun berdiri

“Sudahlah unnie, dia sudah meminta maaf, kajja appa sudah menunggu”

Kedua yeoja berperawakan sangat tinggi dan pendek itupun meninggalkan jessica yang masih berdiri mematung karena perilaku orang itu padanya

“Kasar sekali, ah apa masyarakat disini memang seperti itu? Tapi dia tak seperti orang itu” ucap jessica, iapun mendapatkan tempat duduk dan menunggu temannya sambil memainkan game pada ponselnya

Tak berapa lama pandangan jessica tertuju pada sepasang sepatu berwarna pink tepat berada dihadapannya, iapun mengangkat wajahnya melihat pemiliki sepatu itu dan melihat sosok yeoja  sedang berdiri menatapnya

“Jessie? Jessica jung?” sapa ¬†yeoja itu

“Ya, tiffany?” ucap jessica

“Kyaaaaaaa….!!” keduanya berteriak dan saling berpelukan merasa senang hingga tak menyadari beberapa orang memperhatikan mereka

“Akhirnya kita bertemu, woah kau lebih cantik dari yang aku lihat di profil pict mu” ucap tiffany tersenyum senang

“Dan senyummu memang benar benar cantik” ucap jessica ikut tersenyum senang

“Aigoo… Bahasa koreamu sangat lancar, kau pasti sangat pintar”

“Hahaha tentu saja, aku selalu meminta kedua orang tuaku berbicara korea jika mengobrol”

Jessica telah mengenal tiffany selama hampir 1 tahun, namun selama itu pula mereka belum pernah bertemu satu sama lain. Awalnya keduanya hanya berkenalan di dunia maya, saat itu jessica adalah penggemar SNSD girl group korea yang sangat terkenal di banyak negara termasuk di negaranya begitupun tiffany, keduanya selalu saling membalas komentar hingga akhirnya saling bertukar nomor.  Entah mengapa jessica merasa nyaman jika berbagi cerita pada tiffany, baginya tiffany selain menjadi pendengar yang baik juga selalu memberikan masukan masukan pada jessica. Saat jessica mengalami masalah dengan mantan kekasihnya tiffany yang selalu mensuportnya hingga membuat jessica berpikir untuk pergi ke seoul, awalnya tiffany melarangnya karena meskipun kedua orang tua jessica berasal dari seoul namun jessica belum pernah mengunjungi korea dan tak memiliki satupun saudara disana. Namun jessica memiliki sifat yang keras sehingga tiffany mengalah.

“Kajja ke apartemenku, aku sudah memesan beberapa makanan” ucap tiffany mengambil koper milik jessica

Jessica tersenyum menatap punggung tiffany yang berjalan didepannya

“Kau memang benar benar baik tiff, bahkan lebih baik dari semua temanku yang setiap hari selalu bertemu” ucap jessica dalam hati

Setelah menempuh 30 menit perjalan keduanya tiba di sebuah apartemen tepat dengan kedatangan pengirim makanan yang telah tiffany pesan

“Apa masih ada tempat yang kosong disini?”

“Emm.. Sepertinya masih ada beberapa di lantai lantai atas, wae?”

“Aku akan lama tinggal disini”

“Jadi kau memang benar benar akan memulai hidup yang baru?”

“Nne…”

“Kenapa tak tinggal bersamaku saja?”

“Baboyaa, aku tak ingin menyusahkanmu”

“Geurae… Tapi aku akan selalu ada untukmu honey”

“Aw cheesy..”¬†

“Hahahaha” keduanya tertawa dan memasuki apartemen milik tiffany

“Besok lagi saja mencarinya, malam ini kau menginaplah disini”

“Apa kekasihmu tak akan marah?”

“Tentu saja, lagipula aku selalu menceritakan tentangmu padanya, dan dia tahu jika kau akan mengunjungi seoul, kkah mandilah aku akan menyiapkan makan malam kita”

“Nne..” ucap jessica

Iapun membuka kopernya mengambil beberapa pakaian, kemudian memasuki kamar mandi

Sementara tiffany berjalan menuju ruang santai mengambil beberapa piring untuk acara makan malam bersama sahabatnya itu, ruangan ruangan di dalam apartemen tiffany memang sangat sederhana dan tidak dilengkapi ruang makan, hanya ada 1 kamar tidur ruang santai (ruang tv), kamar mandi dan dapur serta balkon.

*tit tit tit tit* *ceklek* pintu apartemen tiffany terbuka setelah terdengar bunyi pasword yang ditekan seseorang dari luar, sosok yeoja baru saja memasuki apartemennya, ia berjalan begitu cepat mencari tiffany

“Apa ini?!” ucap orang itu sedikit meninggikan suaranya saat melihat banyak makanan yang tertata

“Ah taeng, kau mengagetkanku saja, kajja bantu aku”

Yeoja itu bernama kim taeyeon kekasih tiffany, keduanya sudah menjadi sepasang kekasih selama 2 tahun. Taeyeon bekerja sebagai sersan di kepolisian pusat, taeyeon memiliki sifat yang dingin dan keras sangat berbanding terbalik dengan tiffany, saat bulan bulan pertama menjalin hubungan keduanya memang baik baik seperti halnya pasangan kekasih yang bahagia namun seiring berjalannya waktu setelah taeyeon diangkat menjadi sersan, sifatnya perlahan berubah terlebih ia begitu membenci keluarga yuri. Ia telah mengetahui kebusukan perusahaan mr lee dan selalu berusaha mencari bukti bukti kejahatan pada perusahaan itu meskipun kepala pusat telah menutup segala kasus yang berkaitan dengan perusahaan tersebut.

Meskipun keduanya selalu berdebat tapi tiffany tetap mencintai taeyeon.

“Mana orang itu?!” tanya taeyeon masih terlihat kesal

“Orang itu?”

“Aku melihat mobil yuri dibawah, kau bersamanya kan?!” ucap taeyeon

“Ah.. Itu, yul tak ada disini aku yang memakai mobilnya”

“Wae? Kau pikir aku ini siapa bagimu? Mengapa kau tak memintaku mengirimkan mobil untukmu?”

“Kau tak ingat pagi tadi kau beberapa kali menolak teleponku? Sudahlah aku sedang tak ingin berdebat, aku memakai mobil yul untuk menjemput sahabatku jessica di bandara, kau baru pulang bekerja? Pasti belum makan, kajja kita makan malam bersama” ucap tiffany tersenyum memeluk lengan taeyeon namun saat itu keduanya melihat jessica sudah berdiri di depan pintu kamar mandi

“An…anyeong..” sapa jessica sedikit gugup, sebenarnya ia telah cukup lama berdiri disana dan melihat pertengkaran tiffany dan taeyeon, ia merasa bersalah pada tiffany

“Ah jessie kau sudah selesai, kemarilah ini kekasihku, bagaimana? Tampan kan?” ucap tiffany menarik jessica hingga berdiri di hadapan yeoja yang memakai seragam polisi tersebut

“Jessica jung imnida” ucap jessica membungkukkan badan kemudian mengulurkan tangannya

“Kim taeyeon imnida” ucap taeyeon membalas uluran tangan jessica

“Kajja kita makan, aku sudah lapar” ucap tiffany menarik tangan kedua yeoja itu

“Anni, aku ada pertemuan dengan ceo choi grup dan mungkin aku diundang makan malam disana aku harus segera pergi, aku kemari hanya ingin memastikan apa kau baik baik saja” ucap taeyeon kini nada bicaranya merendah

“Begitu ya, sayang sekali tapi nanti kau jangan lupa untuk makan ya” ucap tiffany

“Nne, aku pergi dulu ,mian sudah marah padamu” ucap taeyeon

“Gwaenchanna, kau hanya kelelahan” ucap tiffany tersenyum dan memeluk taeyeon

*cupp* tiffany mencium singkat bibir taeyeon, kemudian yeoja itu pun pergi meninggalkan apartemen tiffany

“Aku melihat semuanya tadi” ucap jessica menatap tiffany yang baru saja mengantar taeyeon ke depan pintu

“Jinjja? Ah ottokhae, aku jadi malu hehehe mianhae, seperti yang pernah aku ceritakan padamu, kami memang selalu bertengkar”

“Justru aku yang minta maaf, ini karenaku”

“Anniyo, taeng marah karena cemburu pada yul”

“Yul? Nugu? Kau belum pernah menceritakan tentang orang itu padaku”

“Itu karena waktu bicaraku lebih sedikit dibanding mendengarkan jutaan ceritamu jessie ūüėí

“Hehehe mianhae, so let’s talk about him right now, n.o.w!” ucap jessica sambil menyuapkan beberapa makanan pada mulutnya begitupun tiffany

“Her not him”

“A woman again?” ucap jessica

Jessica memang merasa heran pada tiffany, saat mengetahui jika kekasih tiffany seorang yeoja awalnya jessica merasa terkejut tak menyangka, di daerah tempat tinggalnya hal itu memang sudah biasa namun jessica tak pernah menyangka jika sahabatnya juga seperti itu, namun akhirnya ia bisa menerimanya karena jessica tahu cinta memang tak mengenal gender. Dan jessica tahu tiffany sangat mencintai taeyeon.

“Dia sahabat dekatku, dia juga pahlawanku”

“She must be important for you”

“Tentu saja she is everything”

“Kau tak sedang berselingkuh padanya kan?” tanya jessica memicingkan kedua matanya

“Anniyo, dia itu sahabatku bahkan aku sudah menganggapnya sudara”

“Tapi mengapa kekasihmu sangat cemburu padanya?”

“Entahlah, taeyeon juga sangat membenci keluarganya, dia selalu bilang jika yuri sangat berbahaya”

“Maybe she is mafia”

“Aku sudah mengenalnya selama 6 tahun jessie”

“Berarti kekasihmu saja yang terlalu over”

“Begitulah…”

“Kekasih yul juga pasti akan cemburu padamu”

“Hahaha baboya, dia tak pernah memiliki kekasih, terakhir putus dengan kekasihnya saat lulus sekolah”

“Maybe she love you” ucap jessica

Tiffany langsung terdiam mendengarnya, raut wajahnya tampak berubah

“Anni.. Tidak mungkin” ucap tiffany pelan

“Huh? Kau berkata apa?”

“Anniyo, sudah malam kajja kita tidur kau pasti kelelahan” ucap tiffany

Keduanya berbaring diatas tempat tidur, tiffany langsung tertidur pulas karena merasa lelah sementara kedua mata jessica masih terjaga menatap langit langit kamar

“Ini akan menjadi awal dari kehidupanku yang baru, semoga kebahagiaanku kembali, thanks god telah mengirim orang yang sangat baik padaku, semoga aku akan selalu bertemu orang orang yang baik lagi” ucap jessica tersenyum menatap wajah tidur tiffany

Iapun memejamkan kedua matanya

………………..

“Ini kuncinya, silahkan..” ucap seorang resepsionis hotel memebrikan sebuah kunci pada yoona

Yoona telah memesan kamar hotel untuk ditinggalinya selama beberapa hari

Setelah memasuki kamar hotel ia meletakkan ransel barunya yang berisi beberapa baju baru

Ia duduk diatas tempat tidur melepaskan jaketnya dan mengeluarkan kartu kredit milik sahabatnya, sooyoung

“Kau akan tinggal dimana?” tanya sooyoung

“Molla”

“Mianhae untuk sekarang ini aku tak bisa mengajakmu ke rumahku, hari ini unnieku datang jadi akan ada pesta penyambutan di rumahku”

“Gwaenchanna”

“Igo, pesanlah hotel dan belilah beberapa pakaian” ucap sooyoung memberikan kartu kredit miliknya pada yoona “kau ini bodoh sekali kabur tak membawa apa apa” tambahnya

“Kau sendiri tau aku tak pernah memakai uang ayahku”

“Setidaknya kau bawa pakaian pakaianmu, babo”

“Hehehe benar juga”

“Aku harus segera ke bandara, unnieku sebentar lagi sampai” ucap sooyoung segera berdiri namun saat hendak melangkahkan kakinya tangan yoona menahannya

“Gomawo..” ucap yoona

“Nne, pergilah berbelanja” ucap sooyoung menepuk nepuk kedua pundak yoona

Sooyoung memang sudah mengetahui luar dalam diri yoona, meskipun pergaulan keduanya tampak nakal namun sooyoung memiliki kecerdasan dan bisa menempatkan dirinya dalam situasi apapun termasuk tentang dunia perusahaan, hanya saja ia tak pernah ingin ikut campur. Dan baginya yoona adalah adik yang selalu ingin ia lindungi. Mengingat yoona pernah menolong nyawanya

Yoona tersenyum menatap kartu kredit itu ,iapun membuka ponselnya menghubungi sooyoung

“Wae?”

“Aku sudah memesan hotel dan membeli beberapa pakaian”

“Baguslah”

“Kau sedang dalam pesta? Bagaimana disana?”

“Membosankan, ayahmu dan yul unnie juga berada disini”

“Mereka diundang? Bukankah ayahmu sangat membenci orang itu?”

“Hanya menghargai para ceo”

“Apa unnie mu terlihat cantik?”

“Hah.. Pendeknya masih tetap sama, tapi dia sedang dalam mood yang buruk hari ini”

“Hahaha wae…?”

“Saat tiba di bandara dia tertabrak seorang yeoja hingga terpental dan jatuh”

“Omo, hahaha”

“Kau tau, yeoja yang menabraknya sangatlah cantik! Sampai aku lupa membangunkan unnieku”

“Yaish… Kau ini, bora mau kau kemanakan huh? Lalu siapa nama yeoja itu?”

¬†“Bodohnya aku lupa mengajaknya berkenalan”

“Hahaha sudah kuduga”

“Aku dipanggil ayahku, sudah dulu ya kau mandi sana”

“Hahaha geurae unnie.. Gomawo..”

“Nne.. Hubungi aku jika terjadi apa apa”

“Sarangahe unnie”

“Yaish…!!” *klik* sooyoung mematikan telponnya sementara yoona tertawa terbahak bahak

Ia tersenyum menatap langit langit

“Hemm… Sepertinya aku harus memiliki kekasih, tapi aku masih belum bisa melupakannya” ucap yoona

Perlahan mata yoona pun tertutup dan melanjutkan petualangannya di dunia mimpi mencari sosok yeoja yang selalu hadir disana, yeoja yang selama 6 tahun dicintainya itu

…….

“Huh? Ini pesta besar ternyata, aku kira hanya makan malam biasa” ucap taeyeon saat melihat beberapa mobil mewah berjejer rapi basemant mansion

Taeyeon pun memarkirkan mobilnya, ia berjalan dan disambut para pelayan. malam ini ia diundangnya dalam acara penyambutan kedatangan putri tuan choi dari USA tersebut, taeyeon sangat dekat dengan tuan choi semenjak dimintanya untuk menyelidik tentang perusahaan bourbound.

“Ah sersan kemarilah bergabung” ucap tuan choi yang sedang berkumpul bersama beberapa pengusaha lain

Saat berjalan taeyeon menjadi pusat perhatian para pengusaha yang berada dalam pesta tersebut

“Mianhae aku sedikit terlambat” ucap taeyeon membungkukan badannya dan menyapa para pengusaha yang sedang berkumpul dengan tuan choi itu, namun saat itu pandangannya berhenti pada sosok yang ikut bergabung dalam perjamuan itu, keduanya tampak terdiam saling memandang

Raut wajah taeyeon berubah dan menatap tajam pada yeoja itu, sementara yeoja yang ditatapnya tersenyum menyapanya membuat taeyeon langsung membuang muka merasa tak suka bahkan kesal

“Ambillah beberapa makanan, kau pasti baru pulang bertugas sampai tak sempat mengganti pakaianmu” ucap tuan choi

“Ah nne tuan” ucap taeyeon iapun berjalan menuju stand makanan yang sudah disediakan

Namun saat akan mengambil minuman ia menghentikan langkahnya saat melihat yeoja yang ditemuinya tadi sudah berdiri dihadapannya sedang tersenyum menatap taeyeon

page.jpg

“Sudah lama tak bertemu” ucap yeoja itu

“Apa maumu, kwon yuri” ucap taeyeon

“Jangan salah paham, aku hanya ingin menyapamu, ternyata kau masih membenciku, tidak bisakah kita berteman? Kau ini kekasih sahabatku”

“Cih, aku tak memiliki teman seorang pengusaha kotor sepertimu, tak akan pernah” ucap taeyeon, iapun melangkahkan kakinya mendekati yuri “aku akan segera mengungkap segala kebusukan perusahaanmu, jadi bersiap siaplah untuk hancur dan kau tak akan mengganggu kekasihku lagi” bisik taeyeon

Yuri membelalakkan kedua matanya terkejut mendengar itu

Taeyeon pun berjalan meninggalkan yuri yang masih berdiri mematung sambil tersenyum smirk

Keringat dingin mulai keluar dari pelipis yuri, ia masih berdiri terdiam namun matanya mulai melirik tertuju pada sosok yang sedang berdiri mengamati tak jauh darinya, yuri melihat orang itu mulai berbicara pada headset yang terpasang pada telinganya

Yuripun memejamkan kedua matanya, mulai berkonsentrasi mempertajam pendengarannya

“Ada yang mencurigakan dari sosok yeoja yang diundang oleh tuan choi, ia terdengar baru saja mengancam noona, beritahu yang lain dan mr lee, dia memakai seragam polisi”

Yuri membuka kembali kedua matanya, ia mulai menoleh ke segala arah memperhatikan satu persatu anak buah ayahnya mulai bergerak mencari sosok taeyeon

Ia mengambil minuman jus dan kembali berkumpul bersama tamu lainnya namun saat itu ia tersandung dan kehilangan keseimbangan

*byurrr!!* gelas berisi jus yang digenggamnya pun tumpah mengenai punggung seseorang yang mengenakan pakaian seragam kepolisian, taeyeon

Orang orang disekitar terkejut melihatnya namun akhirmya mereka tertawa melihat tingkah yuri

“Ah mianhae.. Aku kesulitan memakai dress ini jadi tersandung, mianhae.. Ah.. Ottokhae..” ucap yuri terlihat panik lalu mengambil beberapa tissue membersihkan noda jus yang tertempel pada seragam taeyeon

“Aigoo… Wanita cantik ini lucu sekali hahaha” ucap orang orang

“Gwaenchanna” ucap taeyeon dengan kesal segera menepis tangan yuri

“Hahaha.. Kau gantilah pakaian sersan, youngie-yaa berikan pakaian untuknya, kkah antar dia ke kamarmu”

“Nne appa”

Yuri melihat taeyeon memasuki lift dan menghilang dari pesta

“Hufffttt….” yuri membuang nafasnya saat melihat beberapa anak buah ayahnya masih kesana kemari kesulitan mencari taeyeon

Beruntung pesta itu sangat besar dengan cahaya yang redup hingga orang orang tak begitu memperhatikan para tamu lain
“Baboyaa, seragammu itu membuat orang orang disini tampak gelisah, kau tak sadar jika mereka sewaktu waktu bisa membunuhmu, disini tak hanya ayahku yang seorang iblis” ucap yuri dalam hati memandang datu persatu para pengusaha yang menjadi tamu
TBC

Setelah dibaca ternyata trailer percakapan jungsisnya beda, yaudah yg penting intinya sama hehe

Second Chance END

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Im Yoona, Jessica Jung, Seojuhyun, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, kim Taeyeon, Choi Sooyoung and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………….


Nungguin ya??

Hehe ūüėĀūüėĀ

Second Change part 18

picsart_09-15-12.37.07.jpg

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Im Yoona, Jessica Jung, Seojuhyun, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, kim Taeyeon, Choi Sooyoung and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

…………………………………………

Soshi university

Yoona dan irene baru saja tiba di kampusnya

“unnie, semalam kau kemana saja? sakit appa bertambah parah” ucap yeri begitu melihat yoona langsung berlari menghampirinya

Yoona menghentikan langkahnya, ia melihat irene manatapnya heran

“kau duluan saja, aku akan berbicara dengan adikku sebentar” ucap yoona

“oke” jawab irene, iapun berjalan meninggalkan yoona dan yeri

“semalam aku menginap di rumah irene, ada tugas penting yang harus dikerjakan yeri-ah”

“oh.. begitu, tapi apa hari ini unnie akan pulang?”

“sepertinya beberapa hari kedepan aku tak bisa pulang”

“wae…? sebegitu sulit dan penting kah tugas kuliah unnie? appa sedang membutuhkanmu”

“begitulah, hmm.. appamu seorang dokter yeri-ah dan besok pasti akan segera sembuh”

“nne.. tapi setidaknya jenguklah appa, yah! dia juga appamu, babo!”

“sudahlah, ada yang perlu dibahas lagi? aku harus segera masuk”

“anni… setelah selesai kuliah nanti pulanglah…” ucap yeri

“hhm… sampai ketemu nanti” ucap yoona berjalan meninggalkan adiknya itu

“Yeri-yaa!!” teriak seorang yeoja

“Hey joy!!” ucap yeri melambaikan tangannya pada yeoja bernama joy itu

 

Yoona melanjutkan berjalan menuju kelasnya sendirian, namun pada saat melewati koridor tanpa sengaja ia berpapasan dengan krystal yang sedang berlari melewatinya, keduanya saling bertatapan sejenak hingga yoona mengalihkan pandangannya ke arah lain dan melanjutkan berjalan

“Apa dia masih marah padaku gara gara hal itu? Ah mengapa aku memikirkannya, setidaknya dia jadi tak menggangguku lagi” gumam krystal dalam hati kemudian melanjutkan tujuannya

“Daddy!!” teriak krystal kembali menghampiri yuri yang masih berdiri didepan kampus

“Hey… Bisa bisanya kau melupakan dompetmu”

“Hehehe bukan lupa, tapi tak sengaja terjatuh, mian membuat daddy memutar arah lagi”

“It’s okay… Lagipula tak terlalu jauh, kkah masuklah.. Belajar yang rajin ya baby agar seperti daddy”

“Shiro.. Aku tak mau sepertimu yang selalu sibuk, aku ingin menjadi seorang penyanyi” ucap krystal memberikan merong pada yuri

“Hmm… Baiklah, asal kau tak melupakan daddy setelah terkenal nanti” 

“Tentu saja tidak, aku lebih baik tak memiliki kekasih daripada melupakanmu aku harus segera pergi, bye dad…” ucap krystal melambaikan tangannya kemudian berlalu setelah melihat yuri membalasnya

Yuri masih berdiri terdiam menatap gedung kampus itu kemudian ia menoleh ke segala arah seperti mencari seseorang namun ia tak berhasil melihat orang itu, yuri pun membuka ponselnya

“Kuliah yang rajin, hwaiting ^^” ketik yuri pada pesan lalu ia kirimkan pada kontak nomor seseorang dalam ponselnya

“Yoong?” sapa seseorang membuat yoona mengalihkan pandangannya

“Hyunie” jawabnya

“Apa aku tak salah lihat? Tumben sekali kau berada di perpustakaan” ucap seohyun kemudian duduk disamping yoona

“Hmmm…” gumam yoona hanya mengangguk

“Tadi hara dan irene mencarimu, kenapa kau sendirian?”

“Entahlah, aku sedang ingin menyendiri”

“Perasaanmu sedang tak baik yoong?”

“Begitulah..”

“Kau bisa menceritakannya padaku” ucap seohyun, yoona kembali terdiam menatapnya

……….



Seperti biasanya setiap pagi setiba di kantornya yuri mengunjungi restoran milik jessica untuk membeli kopi kesukaannya terlebih ada seseorang yang selalu ingin dilihatnya

*cringcringg* suara bel pintu restoran berbunyi begitu seseorang membukanya

“Selamat pagi yuri-shi, 1 cup americano?” sapa sooyoung begitu melihat yuri masuk

“Yupp… Hehehe” jawab yuri

Yuri menolehkan kepalanya ke segala arah mencari sosok yang selalu dirindukannya, jessica jung

Namun sosok itu tak dilihatnya, hingga sooyoung telah kembali menghampirinya sambil membawa pesanan yuri

“Youngie-ah kemana jessica?” tanya yuri

“Hari ini sica tidak bisa datang yuri-shi” jawab sooyoung

“Eh? Wae…? Apa dia sibuk?”

“Anni… Tadi pagi sahabatnya menelpon dan memberitahukan jika sica sedang sakit”

“Sakit?” ucap yuri terkejut

“Nne…”

“Ternyata kau disini yuri-shi, kajja kau sudah ditunggu karyawan lain untuk rapat kantor” ucap victoria yang baru saja memasuki restoran

“Ah, nne… Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu, bye youngie-ah” pamit yuri pada sooyoung kemudian berlalu menuju kantornya bersama victoria

“Apa jadwalku hari ini padat vic?” tanya yuri

“Nne.. Hari senin akan selalu padat dan lembur yuri-shi”

Yuri terdiam menatap ponselnya ,pikirannya merasa tak tenang saat mengetahui jessica sedang sakit namu  sayangnya ia belum bisa melakukan apa apa karena pekerjaannya

“Sica-yaa ku dengar kau sedang sakit, benarkah? Apa kau sarapan dengan baik?” *send* ketik yuri pada sms untuk dikirimnya pada jessica

“Yuri-shi, bisa kita mulai?” ucap victoria setelah keduanya berada di ruang rapat bersama karyawan lainnya

“Ah.. Nn.. Nnne, mian” ucap yuri, iapun memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya

….

“Taeng sakitmu semakin parah, apa sebaiknya kau dirawat saja?” ucap tiffany mengusap usap rambut taeyeon, wajahnya terlihat khawatir melihat wajah taeyeon yang begitu pucat

“Gwaenchanna… Apa yoong sudah bisa dihubungi pany-ah?” ucap taeyeon dengan suara lemahnya

“Masih tak bisa dihubungi taeng, tapi irene teman satu kelasnya di kampus sudah memberi tahu jika yoong bermalam di rumahnya tadi malam dan mereka tengah bersama sekarang di kampus”

“Hmm… Ini salahku” ucap taeyeon kembali menitikkan air mata

Pikirannya kembali memikirkan kejadian kemarin

Flashback

Menjelang siang taeyeon terbangun dari tidurnya, ia merasakan haus namun saat menoleh gelas yang ditaruh disampingnya telah kosong

“Haaah… Ada apa denganku, mengapa lemah begini” ucap taeyeon saat berusaha terbangun

*tingtong* tiba tiba bel rumahnya berbunyi

“Yoong…” Panggil taeyeon, namun suaranya yang parau tak bisa membuat yoona mendengarnya

*tingtong* suara bel pintu rumahnya kembali berbunyi

Dengan sekuat tenaga taeyeon bangun dan berjalan untuk membukakan pintu rumahnya

“Nne.. Chankkaman” ucap taeyeon

*ceklek* taeyeonpun berhasil membuka pintu rumahnya

“Hai, taeng” ucap seorang yeoja menyapa taeyeon

“Sica?” ucap taeyeon sedikit terkejut

“apa aku menganggu?”

“aniyo.. masuklah” ucap taeyeon

“eh? mengapa rumahmu sangat sepi taeng?”

“fany dan yerim sedang pergi ke busan mengunjungi rumah halmoni, duduklah”

“ah… begitu..”

“well… ada apa sica? tumben sekali kau kemari” ucap taeyeon sambil menghidangkan minuman untuk jessica, ia berusaha menguatkan tubuhnya yang masih terasa lemah itu ia bersyukur jessica tak mengetahui keadaannya, taeyeon pun duduk di dekat jessica

“aku… ingin menebus semua kesalahanku taeng”

“maksudmu?”

“aku ingin bertemu dengan anak kandungku, ini memang sudah terlambat, tapi mulai sekarang aku akan mencoba menjadi ibu yang baik untuknya, tapi… apa benar kau telah merawatnya sampai sekarang?”

“hmm… kau tenang saja, dia hidup dengan baik disini sica”

“benarkah?” ucap jessica dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya itu “mianhae..” ucapnya kembali

“gwaenchanna… dia sudah melekat di keluarga ini”

“apa aku bisa melihatnya?”

“nne… bahkan kau sudah bertemu dengannya, sica” ucap taeyeon

Sementara jessica menatapnya heran

“dia berada di kamarnya, sepertinya masih tertidur. kau bisa melihatnya sica” ucap taeyeon kembali sambil menatap tangga

Jessica pun ikut melihat kearah tangga, ia kembali menatap taeyeon dan melihat yeoja dihadapannya itu mengangguk. jessica pun berdiri dan mulai berjalan menaiki tangga rumah taeyeon, begitu sampai diatas ia terlihat bingung ketika melihat ada dua kamar

“sebelah kananmu” ucap taeyeon kembali dari bawah

Jessica kembali berjalan kearah kamar yang ditunjukkan taeyeon, dengan hati berdebar perlahan ia membuka pintu kamar itu dan melihat sosok yeoja yang sedang terbaring dibawah selimut putihnya

*deg deg deg* detak jantungnya semakin berdetak cepat seiring jaraknya yang semakin mendekat, kini jessica sudah berada dihadapan putri kandungnya. ia melihat wajah putrinya tertutup selimut, setelah duduk disampingnya perlahan ia mengangkat tangannya memegang selimut itu dan mulai membukanya untuk melihat wajah putrinya itu

*degdegdeg* jessica sangat terkejut begitu selimut itu dibukanya dan melihat wajah yang dikenalnya berada dihadapannya, ia tak menyangka jika putri kandungnya selama ini adalah sosok yang baru saja kenal dan dekat dengannya itu, Im yoona

“y…yy..yyoong” ucap jessica terbata dengan air mata yang kembali mengalir

Merasa ada yang mengusiknya yoonapun perlahan membuka kedua matanya, ia melihat sosok yeoja tengah duduk dihadapannya sedang menatapnya, perlahan pandangannya semakin jelas dan yoona terkejut saat melihat jessica berada didekatnya

“sica unnie?” ucap yoona langsung terbangun dan duduk diatas tempat tidurnya

Saat itu juga jessica langsung memeluknya erat sambil menangis

“yyoong…” ucap jessica dalam tangisnya

“sica unnie kenapa? mengapa berada disini dan tau rumahku?”

“mianhae… jeongmal mianhae…” ucap jessica semakin mengeratkan pelukannya

Yoona merasa heran dan tak mengerti, ia melihat taeyeon baru saja tiba dan berdiri di depan pintu kamarnya, tiba tiba yoona teringat dengan gambaran gambaran masa kecilnya dengan posisi yang sama

“appa, mengapa kita kemali? ini lumah siapa?” tanya yoona yang sudah digendong taeyeon menuju rumah yang terlihat asing baginya

“kryst…” ucap sosok yeoja yang baru saja membukakan pintu begitu melihat taeyeon dan yoona

“duduklah disini dan tunggu sebentar, appa akan berbicara sebentar dengannya” ucap taeyeon setelah mendudukkan yoona diatas kursi ruang tamu

Yoona hanya mengangguk, ia melihat taeyeon dan yeoja itu berjalan menjauhinya dan berapa lama ia melihat appa nya kembali berjalan menghampirinya bersama yeoja itu

“appa, nugu?” tanya yoona melihat yeoja asing dihadapannya

“dia… ibumu” ucap taeyeon

“anniyo… dia bukan eomma” ucap yoona

“dia ibumu sayang, mulai sekarang yoong akan tinggal bersamanya”

“belsama appa & eomma juga?”

“anni.. hanya yoong”

“shillo.. yoong ingin belsama appa, eomma dan yeli..!!” ucap yoona mulai menangis

Setelah beberapa hari tinggal bersama jessica yoona masih mearasa asing dan selalu menolak apapun yang diberikan oleh jessica

“yoong.. mommy membawakan ddeokbokki dan es krim, katanya ini kesukaanmu” ucap jessica girang begitu memasuki kamar yang ditempati yoona

“shilo…”

“why..? bukankah yoong suka?”

“yoong ingn appa eomma dan yelim” ucap yoona kembali menangis

setiap hari yoona terus menagis dan menolak untuk makan hingga akhirnya jessica merasa tak tega dan mengembalikan yoona pada taeyeon

Flashback End

“mom…my..” ucap  terbata, kini ia telah mengingat semuanya

Jessica melepaskan pelukannya begitu mendengar yoona

“nne… ini mommy kandungmu yoong, mianhae telah meninggalkanmu selama ini” ucap jessica dalam tangisnya

Perlahan air mata yoona pun luruh, ia masih tak percaya jika selama ini taeyeon dan tiffany bukanlah orang tua kandungnya dan lebih mengejutkannya lagi jessica jung yang merupakan orang tuanya.  pandangan yoona kembali tertuju menatap taeyeon yang masih menatapnya dengan kedua air matanya yang telah mengalir, saat itu pula emosi yoona kembali, ia terbangun melepaskan pelukan jessica

“apa lagi ini? apa lagi yang kalian sembunyikan? huh?” ucap yoona namun ia melihat taeyeon terdiam dan jessica yang masih menangis

“katakan ini hanya lelucon!” ucap yoona kembali, ia mengambil tasnya dan berlari meninggalkan kamarnya

“yoong…!!” teriak jessica dan taeyeon

Jessica segera berlari menyusul yoona

“yoong… mianhae… jebal” ucap jessica mencoba menghentikan langkah kaki yoona namun yoona masih terdiam tak menghiraukannya hingga memasuki mobil dan meninggalkan rumahnya

Flashback End

“ini bukan salahmu taeng, berhetilah menyalahkan dirimu, itu akan memperburuk kesehatanmu honey” ucap tiffany tersenyum dan buru buru menghapus air matanya yang mulai mengalir itu beruntung taeyeon tak melihatnya, tiffany juga merasakan sakit melihat taeyeon begitu menderita

“aku harus bagaimana fany-ah” ucap taeyeon

“yang terpenting kau harus segera sehat kembali taeng, lalu kita selesaikan ini bersama” ucap tiffany

Taeyeon kembali menatap tiffany, ia mulai tersenyum merasakan sedikit tenang karena tiffany selalu menghangatkan suasana hatinya itu

……

Soshi University

“hmm…. jadi kau sedang memiliki masalah dengan keluarga lalu kau kabur yoong”

“begitulah, lagipula mereka bukan keluargaku”

“jangan berkata seperti itu, ku lihat keluarga kalian begitu hangat sangat berkunjung ke rumahmu yoong bahkan aku selalu merasa iri dengan kedua orang tuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya”

“pada akhirnya itu hanya sebuah kebohongan”

“aku memang tak tahu detail masalahmu karena kamu tak ingin menceritakannya, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu, tak ada tempat sebaik rumah yoong”

“aku tau, aku hanya sedang ingin menyendiri hyunie”

“baiklah… aku mengerti perasaanmu, lalu nanti malam dan selama kabur nanti kau akan tinggal dimana?”

“hotel mungkin”

“lebih baik kau simpan uangmu, rumahku akan terbuka untukmu yoong” ucap seohyun tersenyum sambil memegang kedua pundak yoona

“hyunie..” ucap yoona menatap seohyun

“kau bisa tinggal di rumahku, lagipula kedua orang tuaku masih berada di jerman”

“gg.. gomawo.. hyunie” 

“never mind, lagipula kau sahabat terbaik yang selalu menghiburku” ucap seohyun memeluk yoona tanpa menyedari air mata yoona telah mengalir

………….

Yuri melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 3 sore, ia kembali menatap ponselnya, wajahnya terlihat gelisah karena pesan yang dikirimkan pada jessica tak kunjung mendapat balasan begitupun yuri telah mencoba beberapa kali menelponnya namun tak pernah diangkat

“sica-ya.. gwaenchanna?” gumam yuri

……..

Jam mata kuliah telah berakhir, krystal dan seulgi segera membereskan alat tulisnya begitu melihat dosen keluar kelas

“kryst apa kau sudah meminta maaf pada yoong unnie?”

“minta maaf? untuk apa aku meminta maaf padanya” ucap krystal tertawa sinis

“tapi apa kau tak merasa jika yang kau lakukan malam itu terlalu kejam?”

Krystal terdiam mengingat kembali kejadian malam itu di pesta penutupan ospek

Flashaback

Krystal merasa kesal setelah melihat yoona menggodanya namun langsung berpaling pada perempuan lain yang pernah dilihatnya di kampus, ia merasa telah dipermainkan oleh yoona. krystal pun berjalan meninggalkan mereka mencari tempat lain, tak berapa lama seulgi bersama kedua sunbae nya menghampiri krystal namun lagi lagi krystal merasakan kesal saat mereka menyebutkan nama yoona hingga ia memilih meninggalkan kedua sunbaenya itu mengajak seulgi ke mencari tempat lain

“kryst mengapa kita meningglakan mereka?”

“mereka menyebalkan, wae…? kau ingin bersama mereka? kkah pergilah” ucap krystal kesal

“anniyo…”

“nne kau bergabunglah bersama mereka biarkan krystal bersamaku, lagipula ia terlihat kesal” ucap amber yang tiba tiba sudah berada disamping krystal dan merangkulnya

Namun seseorang mendorongnya dari belakang

“yah! apa yang kau lakukan?! jangan pernah menyentuhnya!” ucap seseorang itu membuat amber dan krystal menoleh menatapnya, ia melihat yoona sudah berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya

“hey…  whats up bro? apa masalahmu huh?” ucap amber

“jangan pernah menyentuhnya, aku tau kau sedang merencanakan sesuatu!” ucap yoona penuh emosi hendak memukul amber namun beruntung irene dan hara datang tepat waktu dan langsung menahan yoona sebelum erjadi keributan

“yoongi-ah tahan emosimu” ucap irene

“nne, ini bukan tempat yang tepat” tambah hara

“hahaha kalian ini lucu sekali hahaha, sungguh hiburan yang menarik” ucap amber menepukkan kedua tangannya

“kau tak perlu mengurusku yoong, kau cukup mengurus yeoja yeoja mu” ucap amber kembali membuat yoona semakin emosi

“kurang ajar!” ucap yoona berhasil melepaskan genggaman tangan irene dan hara, iapun segera menghapiri amber hendak menghajarnya, yoona berhasil mendorong amber hingga terjatuh

*plak!!!!*

orang orang disekitar itu terdiam begitu krystal dengan keras menampar pipi yoona

“yah mengapa kau menamparku? harusnya dia” ucap yoona pada krystal

“what? that’s your fault!”

“tapi dia telah merencakan hal jahat padamu kryst”

“sudah ku bilang jangan pernah mengganggu dan mencampuri urusanku! kau bukan siapa siapa bagiku” bentak krystal, ia segera membangunkan amber dan berjalan meninggalkan yoona dan teman teman tanpa menyadari amber tersenyum licik menatap yoona

Flashback End

“dia memang pantas mendapatkannya, bahkan tadi pagi saat bertemu dengannya pun dia tak ingin menatapku”

“jinjja? mungkin dia marah padamu”

“I don’t care, itu tandanya aku tak akan pernah diganggunya lagi”

“tapi dia sangat baik dan peduli padamu kryst” ucap seulgi

Krystal terdiam memikirkan ucapan seulgi, pikirannya kembali mengingat apapun yang selalu dilakukan yoona padanya walaupun selalu menjengkelkan tapi krystal menyadari jika yoona sangat baik dan peduli padanya

“ah sudahlah, kajja kita pergi” ucap krystal

setelah jam perkuliahan berakhir yoona memutuskan menerima tawaran seohyun untuk menginap di rumahnya, mereka pun bertemu dan pulang bersama namun keduanya berhenti di sebuah super market untuk berbelanja

“hyunie banyak sekali sayuran dan daging yang kau beli”

“hari ini selain kau, kakak sepupu ku juga akan berkunjung ke rumah dan dia memintaku untuk memasakkan makanan untuk sahabatnya yang sedang sakit” ucap seohyun

“benarkah? berarti apa aku akan mengganggu?”

“tentu saja tidak, lagipula dia datang hanya sendiri.. dan dia orang yang welcome pada siapapun, ku pastikan kalian akan cepat akrab”

“hehehe begitu ya”

Begitu tiba di rumah seohyun, yoona membantu seohyun mempersiapkan makan malam

“hyunie, apa kau selalu seperti ini setiap kedua orang tuamu pergi? memasak sendirian?”

“anni… aku akan memasak jika ada tamu yang akan menginap di rumahku, jika tidak ada aku akan meminta maid memasakkannya untukku”

“kau suka memasak?”

“nne… kau yoong?”

“anni, eomma yang selalu memasak”

“allohha…. sweety!!” teriak seorang yeoja begitu memasuki rumah seohyun

“ah dia sudah datang, tunggu sebentar yoong” ucap seohyun, ia melepaskan apronnya dan segera berlari menuju ruang tamu

Yoona mendengar percakapan seohyun dengan kakak sepupunya itu

“jadi kau sedang memasak, apa aku perlu membantumu?” ucap orang itu

“tak perlu unnie kau pasti lelah, lagipula aku bersama temanku”

“benarkah? hahaha syukurlah”

“nne… kkah kenalkan dirimu” ucap seohyun, keduanya sudah tiba di dapur. yoona langsung membalikkan badannya menyapa kakak sepupu seohyun

“annye…ong.. eh? ahjumma?”

“yah! sudah ku bilang jangan panggil itu, yaisshh!! ternyata kau yoong”

“eh? kalian sudah saling mengenal?”

“nne.. dia putri sahabatku, hyunie-ah apa kau memasak banyak hari ini?” ucap hyoyeon

“nne… aku juga membuatkan bubur untuk sahabat unnie yang sedang sakit itu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya seohyun

“semakin buruk” ucap hyoyeon sementara yoona kembali terdiam mendengar percakapan mereka

Tak berapa lama semua masakan telah dihidangkan dan ketiganya mulai menikmati makan malam bersama di rumah seohyun

“heol… aku tak menyangka dunia sesempit ini, calon sepupuku ternyata masih anak dari sahabatku sedniri” ucap hyoyeon

“mwo? anni…” ucap seohyun dan yoona bersamaan

“kami hanya bersahabat dekat” ucap seohyun

“nne…” tambah yoona

“aigoo… nne nne baguslah, kalian jangan menikah dulu sebelum aku menikah”

“eiyy… lekaslah menikah!” ucap seohyun

“nicole masih sibuk dengan pekerjaannya, oh ya yoong bagaimana appamu? tangannya sudah sembuh?”

“nne.. kau bisa lihat sendiri nanti”

“aku akan sulit berkunjung ke rumahmu untuk sekarang sekarang”

“eh? bukankah malam ini kau akan kesana?”

“anni”

“lalu bubur yang akan kau berikan?”

“itu untuk sahabatku, jessica”

“jj..jjessica? jessica jung?”

“nne, dia sahabatku dan aku yang menjadi managernya saat dia masih menjadi aktris, ah aku sudah selesai, juhyun-ah ambilkan buburnya aku harus segera berangkat”

“nne unnie” ucap seohyun segera menuju dapur mengambil bubur yang dibuatnya

Yoona tampak terdiam

“jangan termakan emosi saat menghadapi masalah yoong”

Tiba tiba ucapan seohyun kembali dibenaknya, yoona menatap hyoyeon yang sedang serius menatap ponselnya

“unnie..” panggil yoona

“nne?”

“apa kau sahabat dekat appa ku dan jessica?”

“tentu saja, kami satu kampus dulu, wae..?”

“emm… kalau begitu, apa kau tau jika aku adalah anak kandung dari jessica jung?” ucap yoona pelan namun hyoyeon begitu terkejut mendengarnya

“kk…kkau…? sudah.. tau?” 

“nne… bisakah kau menceritakannya padaku? tapi aku mohon jangan beritahu siapapun dulu”

“tt..ttentu… setelah mengantar bubur nanti aku akan menemuimu, apa kau menginap disini?”

“nne”

“jja, ini buburnya unnie” ucap seohyun setelah kembali dari dapur

“baiklah aku pergi dulu, juhyun-ah nanti aku akan kembali, aku ingin mengobrol dengan bocah rascal ini”

“oke unnie aku tidak akan mengunci pintunya”

Hyoyeonpun segera pergi untuk mengantarkan bubur pada jessica

……

“Sudah jam 9 malam” gumam yuri begitu melihat jam tangannya, ia masih berada di kantor nya, yuri melihat semua karyawannya telah pulang termasuk victoria

Yuri kembali membuka ponselnya mencoba menghubungi jessica kembali

*tuuuttt tuuuuttt tuuuutt*

“hallo” ucap seseorang dibalik teleponnya terdengar lemah

“hallo sica-ya.. bagaimana keadaanmu?”

“yul?”

“nne.. ini aku, bagaimana ku dengar kau sakit”

“nne… sedikit, kau masih berada di kantor?”

“nne, apa kau sudah makan?”

“aku sedang tidak nafsu”

“wae…? kau bersama siapa disana?”

“sendirian, hyoyeon sedang pergi mengunjungi sepupunya”

“tunggulah sebentar aku akan segera kesana” ucap yuri

Belum sempat jessica membalasnya teleponnya telah dimatikan oleh yuri, dan dengan segera yuri menuju rumah jessica

Tak berapa lama ia pun sampai dan begitu berjalan menuju apartemen tepat hyoyeon datang

“yul?”

“hey hyo, kau baru datang?”

“nne… ah kebetulan, kau akan menemui jessica kan? bisakah kau antarkan ini dan membujuknya untuk makan? aku ada urusan mendadak”

“ah nne” ucap yuri menerima bubur yang dibawakan hyoyeon, ia melihat hyoyeon langsung berlari meninggalkan apartemen

Yuri kembali berjalan dan memasuki kamar jessica yang terlihat redup

“sica-ya…” panggil yuri begitu melihat mantan isterinya sedang terbaring diatas tempat tidurnya

“yul..” ucap jessica terbangun, yuripun langsung membantu jessica ke posisi duduk

“badanmu panas sekali, kenapa tak di rawat saja?”

“shiro.. aku tak suka rumah sakit”

“hmm… kalau begitu sekarang kau harus makan, hyoyeon menitipkan ini tadi dia pergi lagi karena ada urusan penting”

“begitu ya, tapi aku tak nafsu makan yul”

“kau harus makan, jja akan aku suapi” ucap yuri

Jessica terdiam menatap yuri yang mulai mengambil piring dan memasukkan bubur itu kemudian kembali menghampiri jessica

“ini lezat sekali sica aku sudah mencobanya, sekarang giliranmu memakannya” ucap yuri sambil mengaduk aduk bubur itu dan mulai menyuapkannya pada jessica

Awalnya jessica menolak namun hatinya kembali luluh saat melihat yuri tersenyum untuknya hingga akhirnya ia menerima suapan dari yuri, yuri terlihat begitu lembut dan perhatian padanya hingga tak terasa bubur itu telah habis

“wah.. daebak!! jika seperti ini berarti aku harus tetap berada disini agar kau mau makan hehehe” ucap yuri

“nne… tetaplah disini yul” ucap jessica membuat yuri terdiam, ia mulai melihat air mata jessica mengalir dipipinya

“sica..” ucap yuri memeluk jessica dan merasakan jessica mulai menangis dalam pelukannya

“gwaenchanna.. aku akan selalu berada disini untukmu” ucap yuri kembali sambil mengusap usap lembut punggung jessica

………………

Di rumah seohyun

Yoona dan hyoyeon duduk di kursi taman setelah memastikan seohyun telah tertidur di kamarnya

“jadi kau kabur dari rumahmu?” ucap hyoyeon

“nne…”

“apa kau marah pada mereka?”

“bahkan mungkin aku membenci appaku, ah anni… kim taeyeon”

“kau tidak seharusnya seperti itu yoong”

“dia telah membuat sahabatnya kecelakaan dan bercerai dengan istrinya”

“kenapa kau bisa menyimpulkan itu?”

“dia berselingkuh dengan ibu kandungku bahkan telah menyembunyikan rahasia besar tentang siapa diriku”

“jadi kau menyalahkannya? ada hal yang tak kau ketahui yoong”

“apa?”

“kau tak seharusnya membencinya, walaupun dia tak ada hubungan darah denganmu tetap saja dia appamu, seseorang yang telah membesarkanmu mengurusmu bahkan telah berjuang mati matian menyembuhkan penyakit kanker yang kau derita saat masih kecil dulu”

“kanker?”

“nne, bahkan kau 2 kali mengalaminya”

“apa karena itu jessica membuangku?”

“dia tidak membuangmu”

“lalu?”

Hyoyeon terdiam, ia mengambil cangkir berisi kopi dan meminumnya sementara yoona masih menatapnya

“saat itu yul baru satu bulan sadar dari koma nya selama satu tahun lebih tapi kondisinya masih sangat rentan.. sayangnya saat akan mengenalkanmu yang masih bayi padanya kau jatuh sakit dan di vonis kanker, sica khawatir jika yul tahu akan mengancam nyawanya”

“karena itu dia membuangku?”

“berhentilah berkata seperti itu, ia menitipkannya pada taeyeon, dia memang sempat putus asa dengan kondisimu tapi taeyeon dan istrinya selalu berusaha menyembuhkanmu, ia mencoba menggantikan bayi untuknya”

“krystal?”

“nne.. jangan pernah menyalahkan taeyeon atau sica, mereka memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi aku rasa taeyeon telah membalasnya lebih dari cukup dengan merawatmu hingga sembuh total dari kanker dan membiayai pengobatan yul sampai ia menjual seluruh perusahaan yang diwariskan kedua orang tuanya”

“sss…semuanya?”

“nne… untuk membayar kesalahannya taeyeon tak pernah memikirkan dirinya sendiri”

Yoona terdiam mendengarnya, ia menundukkan kepalanya dengan air mata yang mulai luruh pada kedua pipinya, ia merasa sangat bersalah pada taeyeon ia menyadari jika taeyeon sellau memberikan apa yang dia butuhkan dan selalu membuatnya dan keluarganya bahagia dari kecil hingga sekarang

Yoona telah memasuki kamar dan terdiam memeluk bantal

“yoong.. kenapa kau terlihat sedih eoh?” ucap taeyeon

“appa, aku dibully teman satu kelasku” ucap yoona mulai menangis

“jinjja? heol… bisa bisanya kesayangan appa diperlakukan seperti itu, kajja ikut appa”

“oddiga appa?”

“membeli es krim hehehe dan appa akan mengajarkanmu ilmu agar kau tak akan di bully lagi”

jinjja?”

“geuromm… kajja sebelum eomma tahu”

keesokan harinya

*kringkringkring*

“pany-ah.. angkat telponnya” ucap taeyeon yang sedang menonton TV

“yoboseyo?” sapa tiffany setelah mengangkat telepon

“……………..”

“mwo?”

“…………….”

“ah… baiklah kami akan segera kesana”

Tiffany menutup teleponnya dengan geram ia menghampiri suaminya yang sedang asik menonton acara kartun kesukaannya, crayon shinchan

“yah kim taeyeon!!”

“w…waee kenapa kau berteriak baby?”

Tiffany segera menarik tangan taeyeon dan membawanya pergi, beberapa menit yang lalu pihak sekolah menelponnya untuk meminta kehadirannya oleh kepala sekolah karena yoona terlibat perkelahian dengan teman satu kelasnya. Tiffany begitu terkejut saat tiba di ruang guru dan melihat beberapa anak dengan kondisi babak belur termasuk yoona yang terlihat berantakan sedang tersenyum innocent padanya. akhirnya mereka pun membawa yoona pulang ke rumah.

“yah! siapa yang mengajarkanmu seperti ini eoh? eomma tak pernah menginginkan kesayangan eomma melakukan kekerasan”

“appa yang mengajarkanku”

“pany-ah… itu bukan kekerasan, tapi bentuk pembelaan diri, uri yoongie telah dibully oleh teman temannya”

“tapi tidak harus dengan membalasnya seperti itu, lihatlah seragam yoong sobek dan rusak”

“berarti bagus dong, lihatlah yoong sama sekali tidak terluka  padahal musuh musuhnya banyak berarti uri yoongie sangat hebat, yaaay!!” ucap taeyeon senang dan melakukan *toss* dengan yoona

“yaish,,, like father like son, yah kim taeyeon!! tidak ada jatah malam ini!!” ucap tiffany kemudian berlalu memasuki kamarnya

“andwae… pany-ah… ampun” ucap taeyeon mempoutkan bibirnya

“appa, jatah itu apa?” tanya yoona polos

“eh? yah pany-ah… bantu aku menjawabnya… hiks hiks”

 

“appa…” ucap yoona dalam tangisnya mengingat masa masa indah bersama taeyeon yang selalu membuatnya merasa menjadi anak yang paling bahagia

TBC

Second Chance part 17

picsart_09-15-12-37-071

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Im Yoona, Jessica Jung, Seojuhyun, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, kim Taeyeon, Choi Sooyoung and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………..

“mianhae… jeongmal mianhae…” ucap taeyeon dalam tangisnya

Tiffany terdiam menatap taeyeon yang masih terisak setelah menceritakan semua tentang masa lalunya itu

“aku tau kau mungkin membenciku setelah mendengar ini, aku memang bukan ayah yang…” ucap taeyeon kembali, namun tiffany segera menutup bibir taeyeon dengan jari telunjuknya

“jangan katakan itu taeng, jangan pernah… kau adalah suami yang baik, kau adalah ayah yang luar biasa.. aku tak membencimu, setiap orang pasti memiliki masa lalu dan aku tak peduli bagaimana masa lalumu itu, yang lalu biarlah berlalu, selama hidup bersamamu sampai saat ini aku selalu merasa bahagia begitupun yeri dan yoong, kau adalah appa yang luar biasa baik, aku bahkan merasa sangat bersyukur telah memilikimu taeng” ucap tiffany memeluk erat taeyeon

“tapi yoong membenciku sekarang” ucap taeyeon

Tiffany perlahan melepaskan pelukannya, kedua tangannya membingkai wajah taeyeon dan menghapus air mata suaminya itu

“yoong tidak membencimu, itu hanya lah emosinya sesaat taeng, apa dia tau semua ceritanya dari awal hingga akhir?” tanya tiffany, taeyeon hanya menggelengkan kepalanya

“itulah mengapa yoong emosi padamu, karena dia tidak tahu permasalahannya hingga akhir, kau jangan khawatir taeng, lagipula tadi pagi yoong terlihat mengkhawatirkanmu”

“aku harus bagaimana?”

“biar aku yang akan berbicara padanya, jangan dijadikan beban lagi taeng, kita hadapi ini bersama sama”

“fany-ah…” ucap taeyeon menatap tiffany, air matanya kembali mengalir

“sst… uljimma, saat seperti ini aku jadi merasa posisi kita sedang tertukar taeng hehehe seorang suami tidak seharusnya menangis eoh…” ucap tiffany memeluk teyeon kembali

Taeyeon memeluknya semakin erat

“kau tau, aku merasa sangat bersyukur memilikimu fany-ah, gomawo… aku tanpamu bukanlah apa apa” ucap taeyeon

“aku tanpamu pun bukan apa apa taeng…” ucap tiffany melepaskan pelukannya

perlahan wajah taeyeon dan tiffany semakin mendekat hingga akhirnya kedua bibir mereka bertemu dan sentuhan demi sentuhan hangat dari tubuh mereka saling bertemu merasakan manisnya cinta dalam kehidupan mereka

…………

“saya rasa pembahasan kita hari ini dicukupkan sampai disini, senang bertemu dengan kalian” ucap yuri tersenyum pada para client nya itu

“nne yuri-shi, kami juga merasa senang bisa bekerja sama dengan anda, saya tak menyangka jika anda sangat profesional seperti Mr kwon”

“gomawo.. tapi saya masih harus banyak belajar lagi”

“baiklah kalau begitu kami pamit dulu, semoga perusahaan kita dapat bekerja sama dengan baik”

“nne…” ucap yuri ramah

Yuri berjalan mengantarkan para clientnya keluar restoran, setelah melihat mereka pergi yuri kembali memasuki restoran itu dan menghampiri sooyoung yang sedang berdiri di depan mesin kassa

“sudah selesai yuri-shi?” tanya sooyoung

“nne…”

“ini” ucap sooyoung memberikan bill pada yuri, yuripun memberikan kartu debit miliknya

Sambil menunggu, yuri melihat ke segala arah di dalam restoran mencari sosok jessica, namun yeoja itu tak dilihatnya

“sooyoung-shi, kemana pemilik restoran ini?”

“maksud anda jessica?”

“nne…”

“dia berada dilantai atas didalam ruangannya yuri-shi”

“apa dia sedang sibuk?”

“anni… anda ingin bertemu dengannya?”

“nne.. jika boleh, oh ya lebih baik kita bicara biasa saja, rasanya tak enak jika berbicara formal”

“tentu saja, hahaha baiklah kau cukup panggil aku youngie atau terserah apa saja, kau duduklah sebentar akan aku panggilkan dia, ini kartumu”

“oke , gomawo youngie” ucap yuri, iapun berjalan dan memilih duduk disamping jendela yang mengarah pada gedung miliknya

*ceklek*

“sica ada yang ingin bertemu denganmu”

“nugu?” tanya jessica yang sedang asik bermain game pada ponselnya itu

“si CEO perusahaan depan restoran kita”

“yuri?”

“yupp… ppali dia sudah menunggumu” ucap sooyoung kemudian meninggalkan jessica yang masih terdiam didalam ruangan pribadinya

“omo! kenapa aku gugup begini, aaah ottokhae…” ucap jessica menggigit gigit jarinya sambil berjalan mondar mandir

Iapun segera berdiri didepan cermin besar dan memperbaiki penampilannya

“hmm rapi, oke kau siap sica” ucap jessica dalam hati, ia berjalan turun dan menghampiri yuri yang sedang terdiam menatap keluar jendela

“yul…” panggil jessica, yuripun menoleh kearahnya

“hey..” ucap yuri

“emm… ada apa kau mencariku?” tanya jessica setelah duduk dihadapan yuri

“ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu, apa kau punya cukup waktu?”

“sure…” ucap jessica tersenyum kembali menatap yuri “apa yang ingin kau bicarakan yul?”

“emm… bagaimana kabarmu?” tanya yuri sedikit gugup

Jessica sedikit menundukkan kepalanya menahan senyumnya dan menyembunyikan pipinya yang mulai memerah itu

“seperti yang kau lihat, aku baik baik saja yul.. kau?”

“syukurlah, aku juga baik baik saja..”

“krystal?” tanya jessica

“dia juga semakin membaik sekarang”

“syukurlah..”

“sica, maafkan aku atas sikapku kemarin, tak seharusnya aku bersikap seolah tak mengenalmu..” ucap yuri menundukkan kepalanya

“gwaenchanna… aku mengerti yul” ucap jessica kebali tersenyum

“dan soal krystal….”

“it’s okay yul, mungkin lebih baik seperti ini” ucap jessica memahami maksud yuri

“anni.. aku tak bermaksud seperti itu, aku akan segera memberi tahunya”

“yul, sudah banyak sekali kesalahan yang aku lakukan padamu dan krystal, aku tak ingin membuatnya kembali terluka”

“krystal harus tau sica.. lagipula aku akan menjelaskan padanya agar dia mau mengerti”

“mianhae…” ucap jessica merasa bersalah

“sica..”

“nne..?”

“soal anak kandung kita…”

Jessica sedikit terkejut mendengar itu, ia pun menundukkan kepalanya merasa bersalah

“mianhae…”

“apa sebaiknya kita menemuinya?” tanya yuri

“hmm… biar anak kandung kita aku yang bertanggung jawab yul, aku akan segera menemuinya”

“tapi….”

“gwaenchanna… saatnya aku menebus semua kesalahanku, dan ketika aku dengannya sudah dekat nanti perlahan aku akan memberitahukan tentangmu agar dia mau memahaminya”

“hmm… baiklah, dia anak yang baik walaupun sedikit rascal.. dia tinggal bersama taeyeon” ucap yuri

“nne.. aku akan segera menemuinya nanti”

“gomawo… aku senang kau sudah berubah sica” ucap yuri tersenyum pada jessica, pipi jessica kembali memerah melihat senyuman mantan suaminya itu, ya.. jessica selalu jatuh cinta pada yuri yang selalu tersenyum tulus padanya

“aku juga karena belajar darimu yul, bisakah kita bisa berteman baik sekarang”

“Tentu, datanglah padaku kapanpun kau butuh sica” ucap yuri

“baiklah, kau juga yul… datanglah padaku kapanpun kau butuh”

“kalau begitu aku harus kembali ke kantorku”

“ah nne…”

Keduanya pun berdiri dan jessica mengantar yuri hingga depan restorannya

“semoga kau bahagia dengan siapapun yang menjadi pasanganmu sica” ucap yuri

“nne… kau juga yul” ucap jessica tersenyum namun hatinya sedikit merasakan sakit mengatakan hal itu

Yuripun berjalan menuju kantornya

“woah.. kalian cepat sekali akrabnya” ucap sooyoung merangkul pundak jessica sambil memandangi punggung yuri yang semakin menjauh

“tentu saja, kajja kita masuk” ucap jessica membalikkan badannya, keduanya berjalan memasuki restoran tepat saat itu yuri membalikkan badannya dan melihat sooyoung yang sedang berjalan sambil merangkul jessica

“hmm….” gumam yuri

……………………………

“Hey kalian sudah pulang, kkah eomma sudah menyiapkan pakaian yang akan kalian pakai untuk acara kalian”  ucap tiffany begitu melihat yoona dan yeri baru saja memasuki rumahnya

“Nne… Gomawo eomma, kami bersiap siap dulu” ucap yoona

Kedua kakak beradik itupun langsung memasuki kamar mereka masing masing

2 jam kemudian yoona sudah siap dengan penampilannya, ia berjalan memasuki kamar yeri

“Yeri-ah, kau sudah siap?” 

“Sedikit lagi, omo kau tampan sekali yoong” ucap tiffany yang sedang merapikan rambut yeri

“Benarkah? Ini karena pakaian yang eomma pilihkan untukku” ucap yoona senang

“Nne.. Aku juga suka dengan penampilanku sekarang, gomawo eomma” ucap yeri

“Tentu saja, Eomma akan selalu memberikan yang terbaik untuk 2 kesayangan eomma ini, tapi sayangnya eomma dan appa tak bisa ikut, mianhae..”

“Gwaenchanna, aku akan gantikan kalian” ucap yoona

“Ah.. Senang rasanya melihat kalian akur, anak anak eomma sudah mulai tumbuh dewasa sekarang” ucap tiffany dengan eye smile nya

“Eomma, bagaimana keadaan appa?” tanya yeri

“Appa masih tertidur demamnya masih saja belum turun, tapi kalian tidak usah memikirkan itu.. Appa pasti segera pulih, oh ya yoong… Bisakah eomma meminta tolong?”

“Nne eomma”

“Eomma membuatkan susu hangat untuk appa, tapi eomma lupa mengantarkan kedalam kamar, bisakah yoong antarkan? Eomma masih belum selesai merias yerim”

“Oh.. Nne eomma” ucap yoona

Yoona pun berlalu ke dapur mengambil susu hangat dan mengantarkannya ke dalam kamar orang tuanya itu. Begitu masuk, yoona berjalan menghampiri taeyeon yang sedang terbaring diatas tempat tidurnya, ia terdiam ketika melihat wajah taeyeon yang sangat pucat dan taeyeon terlihat menggigil dan sedikit mengigau dengan kedua mata yang terpejam

Dengan refleks tangan yoona terangkat dan menempelkan telapak tangannya pada dahi taeyeon

“Panas sekali” gumam yoona pelan

Iapun membalikkan badannya hendak pergi namun tiba tiba igauan taeyeon menghentikan langkahnya

“Yoong.. Mianhae…” ucap taeyeon dengan suara paraunya

Yoona menatap bibir taeyeon yang terus bergerak meskipun suaranya sangat pelan dan parau. Ia terdiam sejenak menatap taeyeon namun kemudian kembali membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kamar orang tuanya

…………

“Kkangseul.. Where are you? Aku sudah di kampus” ketik krystal pada ponselnya kemudian dikirimnya pada seulgi teman dekatnya itu

Tak berapa lama ponselnya bergetar menerima balasan pesan dari seulgi

“Aku masih dalam perjalanan, tunggulah sebentar”

“Hurry up! Aku kesepian disini”

“Bukankah disana sudah ramai?”

“Yep, but I don’t have a friend except you, so hurry kkangseul!!” 

“Arra… 15 menit lagi aku sampai, berbaurlah dengan yang lain… Atau dengan yoong unnie „Öč„Öč„Öč„Öč” 

“Yaish…!! Kenapa bahas orang itu!” ucap krystal, ia tak membalas pesan terakhir dari seulgi karena kesal namun setelah itu krystal menoleh ke segala arah mencari seseorang

“Hey, kau mencariku ya?” ucap yoona yang sudah berdiri disamping krystal

“Yah! Stupid! Kau mengejutkanku!” ucap krystal sambil mendengus kesal

“Aku sudah dari tadi menyapamu ,tapi kau tak mendengarnya, kau mencari siapa?” ucap yoona

“Bukan urusanmu” ucap krystal ketus

“Igo” ucap yoona memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus

“Apa ini?” tanya krystal heran

“Ini milikmu, kau akan terlihat cantik saat memakainya” ucap yoona ,krystal pun menerimanya dan mengecek isinya

“Dress? Milikku?”

“Nne…”

“Yah, mengapa ini ada padamu? Apa yang sudah kita lakukan?”

“Banyak sekali yang kita lakukan, dulu” 

“What?!! Yah, apa kau telah meniduriku?”

“Mwo? Anniyo..  saat itu kau memintaku membelikannya dan kau memakainya saat menghadiri pernikahan teman orang tuaku”

“Oh… Berapa yang harus aku ganti?” ucap krystal membuka dompetnya

“Anni… Kau tak usah membayarnya” ucap yoona menahan tangan krystal

“Noway! Aku tak ingin menerima barang pemberian dari player sepertimu”

“Mwo? Yah, aku tak seperti itu..” ucap yoona

“Ternyata kau disini” ucap seorang yeoja setelah menghampiri yoonkryst, keduanyapun memandang yeoja itu

“Eh?? Kau…?” tanya yeoja itu terkejut sambil menunjuk krystal

Yoona pun ikut terkejut

“Chankkaman” ucap yoona pada krystal, iapun segera menarik yeoja itu menjauhi krystal

“Player tetap saja player!” kesal krystal, iapun meninggalkan tempatnya berdiri tadi

“Bukankah dia krystal?” tanya yeoja itu

“Nne.. Ada apa kau kemari yeri-ah?” ucap yoona

“Sejak kapan kau dekat dengannya? Wah ternyata benar kau sudah lama mengaguminya hahaha” ucap yeri sambil menertawai yoona

“Yah, bukan urusanmu! Ada apa kau kemari? Menggangguku saja”

“Disana ada pidato kepala pemimpin fakultas kedokteran, hanya aku yang tak didampingi orang tua ,kajja temani aku” ucap yeri memasang wajah melasnya pada yoona

“Yaish.. Arasso.. Tapi aku akan memberitahunya du.. Eh? Kemana dia?” ucap yoona saat melihat krystal sudah tak ada ditempat pertemuan dengannya tadi

“Ppaliwa…” ucap yeri menarik tangan unnienya itu

“Hufhhtt… Kkangseul.. Where are you? Lama sekali” ucap krystal sambil berjalan menyusuri halaman kampusnya yang terlihat ramai, pesta penutupan sudah dimulai satu jam yang lalu

“Hey.. Akhirnya kau datang juga, kau sendirian? Kemana kedua orang tuamu?” ucap seseorang membuat krystal menoleh kearahnya

“Amber? Daddy masih sibuk dengan pekerjaannya” ucap krystal

Flashback

“Hallo, ada apa baby?” ucap yuri begitu menerima telepon dari krystal

“Dad, malam ini akan ada pesta penutupan acara pengenalan kampus, bisakah kau datang?” ucap krystal

“Hmm.. Mianhae, daddy masih ada beberapa kali pertemuan rapat dengan para client, sepertinya daddy akan lembur gwaenchanayo?”

“Hmm… It’s okay” ucap krystal

“Hey.. Jangan sedih, daddy akan segera menyusul jika pekerjaan daddy selesai lebih cepat, oke?”

“Really? Jadi aku boleh pergi?”

“Tentu saja, itu acaramu.. Asal kau bisa menjaga dirimu baik baik”

“Of course! Kalau begitu aku akan bersiap siap dulu, bye dad.. Love you” ucap krystal

“Nado.. Love you too baby” ucap yuri kemudian mengakhiri teleponnya dan kembali bekerja

Flashback end

“Begitu ya, sama saja dengan kedua orang tuaku”

“Tentu saja ,kedua orang tuamu rekan bisnis perusahaan daddy ku, mungkin sekarang mereka sedang rapat” ucap krystal

“Jinjja? Bagaimana kau tau?”

“Grandpa yang memberitahuku”

“Berita yang bagus” 

“Apanya yang bagus?” tanya krystal heran

“Appa ku dan daddymu rekan bisnis, akan lebih bagus lagi jika kita menjadi menantu dari mereka bukan?”

“Hahaha in your dream!” ucap krystal, keduanya pun tertawa

“Jujur saja, kau terlihat sangat cantik dengan dress yang kau pakai malam ini” ucap amber

“Tentu saja, aku seorang princess haha”

“Yeah.. Ice princess”

“Yah!!” ucap krystal memukul lengan amber

Keduanya kembali bercanda tawa dan mulai terlihat akrab

“Kryst.. Ternyata kau disini, aku mencarimu kemana mana dan kau tak mengangkat telepon dariku, huh” ucap seulgi setelah berhasil menemukan krystal

“Sorry, ponselku aku silent lagipula kau lama sekali” ucap krystal

“Well.. Aku pergi dulu, sampai bertemu di panggung dansa princess” ucap amber pada krystal, ia menatap sinis pada hara dan irene yang sudah bergabung saat datang bersama seulgi. Krystal membalasnya dengan tersenyum, ia tau jika hubungan amber dengan 2 sunbae didepannya itu tidak baik

“Soojung-ah apa kau tak melihat yoong?” tanya hara

“Yah!! Jangan panggil aku itu!”

“Wae.. Bukankah itu nama koreamu? Lidah ku terlalu sulit menyebutkan nama krystal”

“Itu bisa, babo!! Jangan panggil nama itu aku tak suka”

“Wae.. Apa yang salah dengannya?” ucap hara pada irene

“Sudahlah maafkan dia, kryst apa yang kau lakukan tadi bersama amber” ucap irene

“Why? Bukan urusanmu”

“Anni.. Bukan begitu, kau harus tau.. Amber sangat berbahaya” ucap irene

“I don’t think so, kenapa kau berkata seperti itu? Kau disuruh oleh si manusia menyebalkan itu ya?!”

“Anni… Sudah banyak korban yang disakiti oleh amber kryst”

“Aku tak peduli dengan ucapanmu itu selama tak melihat bukti, aku bahkan tak mengenal kalian, lebih baik kalian nasehati bos kalian itu!” ucap krystal

“Yah, yoona tak seperti itu” ucap hara

“Really? Bahkan beberapa saat yang lalu.. Ah sudahlah ,aku malas membahas orang itu, lebih baik kalian pergi! Kkah temui bosmu, kajja seulgi-ah”

“Ah nn.. Nnn..nne” ucap seulgi terbata, ia merasa takut jika krystal sudah terlihat marah itu

…………

“Jessica-shi, sepertinya ini milik kwon’s company” ucap salah satu karyawan restorannya sambil menyerahkan beberapa berkas

“Ah.. Benar sepertinya yul lupa membawanya kembali” ucap jessica ketika menerima berkas bersampulkan kwon’s company itu

“Sini aku antarkan” ucap sooyoung

“Besok saja soo, sepertinya kantor sudah tutup” ucap jessica

“Anni.. Lihat lah lampu ruangannya masih menyala, itu ruang CEO, dulu aku pernah kesana saat mengantarkan kopi untuk CEO yang lama”

“Ah.. Kalau begitu aku saja yang mengantarnya” ucap jessica merebut kembali berkas itu dengan semangat

“Kau tak lelah sica-yaa? Ini sudah larut malam”

“Gwaenchanna… Kalian boleh pulang duluan” ucap jessica

“Baiklah.. Hmmm sepertinya ada yang sedang ingin pendekatan, kajja kita tak boleh mengganggunya” ucap sooyoung pada karyawan lainnya sambil tersenyum menggoda jessica

“An.. Anniyo.. Bukan seperti itu, hah.. Sudahlah aku pergi dulu” ucap jessica terlihat gugup

Jessica segera berlari meninggalkan restorannya karena tak ingin ketahuan oleh para karyawannya dengan kedua pipi yang memerah karena ucapan sooyoung

“10.24 PM” gumamnya saat melihat jarum jam pada pergelangan tangannya, jessica sudah berdiri di depan gedung kwon’s company

“Agashi chankkaman” ucap dua orang penjaga kantor menghentikan langkah jessica yang akan memasuki kantor itu

“Gwaenchanna minjung-ah, dia bosku” teriak sooyoung pada salah satu penjaga yang sudah mengenalnya itu

Dua orang penjaga itupun mempersilahkan jessica dengan sopan

“Mianhae agashi..” ucap minjung

“Gwaenchanna, aku jessica jung.. Aku ingin mengantarkan berkas berkas ini, sepertinya tertinggal saat yuri mengadakan rapat siang tadi”

“Ah begitu, kamsahamnida jessica-shi biar aku yang mengantarkannya”

“Apa yuri masih berada di kantor?” 

“Nne jessica-shi”

“Kalau begitu biar aku saja yang mengantarkan, boleh aku tau dia berada dilantai berapa?” 

“Ah nne, yuri-shi berada di lantai 9 jessica-shi, mari saya antar” ucap minjung

“Ah tak perlu, biar aku sendiri” 

“Baiklah.. Silahkan jessica-shi” ucap minjung mempersilahkan jessica setelah pintu lift terbuka

Begitu sampai di lantai 9, dengan berjalan lambat jessica menelusuri koridor mencari ruangan yuri

Tak berapa lama iapun menemukan satu ruangan dengan lampu yang masih menyala, jessica tersenyum saat melihat sebuah siluet dari balik kaca ruangan

*toktoktok* jessica mengetuk pintu ruangan itu

“Masuklah…” ucap seseorang dari dalam

Jessica pun membuka pintu ruangan pribadi yuri itu, ia kembali tersenyum saat melihat yuri begitu serius bekerja

“Kenapa tak langsung pulang saja vic?” tanya yuri masih serius menatap layar tab miliknya

“Ehmm… Ini aku yul” ucap jessica membuat yuri mengalihkan pandangannya

“Oh s..ssica.. Mianhae aku tak melihatmu tadi”

“Gwaenchanna.. Aku kemari ingin mengantarkan ini” ucap jessica sambil memberikan beberapa berkas kantor

“Oh my god! Aku pikir itu hilang, aku sudah mencari kemana mana, terima kasih banyak sica-yaa.. Untung kau menemukannya”

“Kau masih saja selalu lupa yul” ucap jessica tertawa kecil memandang yuri

“Hehehe mianhae..” ucap yuri menggaruk kepalanya

“Kau lembur sendirian yul?” tanya jessica menoleh ke segala arah tak melihat asistennya itu

“Nne.. Aku meminta victoria untuk menghadiri pesta di kampus menggantikanku untuk mendampingi krystal”

“Oh… “ ucap jessica “yeoja itu sudah dekat dengan yul dan kryst” tambahnya dalam hati

“Restoranmu sudah tutup sica?” tanya yuri membuyarkan lamunan jessica

“Ah nne… Baru saja”

“Kau boleh pulang sica, kau pasti sangat kelelahan, sekali lagi gomawo sudah menjadi malaikat penolongku” ucap yuri tersenyum senang menatap jessica

“Ah..hahaha kau bisa saja” ucap jessica tersipu malu mendengarnya

“Y..yyul apa kau keberatan jika aku menemanimu disini?” ucap jessica kembali

T..ttentu tidak, tapi apa kau tak lelah sica? Kau sudah bekerja dari pagi”

“Anniyo, lagipula aku sudah istirahat tadi sore”

“Hmm baiklah, duduklah sica.. Oh ya kau kedinginan? mau ku buatkan teh hangat?”

“Tidak usah yul, aku membawakan ini untukmu” ucap jessica menyerahkan 1 cup kopi

“Woah americano, untukku?” tanya yuri

“Tentu saja yul”

“Gomawooo…” ucap yuri terlihat senang

Jessica tersenyum menatapnya

Flashback

Di sebuah kafe

“Ini pesanan anda” ucap sang pelayan menghidangkan beberapa makanan dan minuman diatas meja yuri dan jessica

“Hmm? Kau hanya memesan kopi? Kau tak makan yul?” tanya jessica heran

“Aku tak lapar hehehe ini sudah membuatku kenyang”

“Eiyy… Itulah kenapa tubuhmu kurus, kau suka sekali dengan kopi, apa enaknya?”

“Emm… Entahlah haha, kau mau mencobanya?”

Jessica pun mengangguk dan menerima kopi itu

“Apa namanya?” tanya jessica sambil menghirup aroma kopi itu

“Americano”

“Baiklah aku akan meminumnya”

Yuri mengangguk tersenyum menatap kekasihnya yang terlihat polos itu, namun ia tertawa saat melihat ekspresi jessica setelah meminum kopi itu

“Kyaaa!! Pait sekali!! Yah seobang! Kenapa kau meminum kopi yang buruk ini!! Hingg ūüė≠” ucap jessica segera meminum jus miliknya

“Hahaha ini tak buruk sica, inilah kopi.. Kau akan menyukainya jika benar benar menghayatinya ketika meminumnya, pikiranku akan merasa tenang setelah meminum kopi”

“Huh terserah kau saja, aku tak akan pernah meminumnya lagi!” kesal jessica sambil mempoutkan bibirnya

Flashback

“Sica, kenapa kau melamun? Duduklah..”

“Ah.. Nne..” ucap jessica, iapun duduk diatas soffa dalam ruangan itu

“Mianhae.. Aku akan menyelesaikan tugasku dulu sebentar sica”

“Gwaenchanna..” ucap jessica

Jessica terdiam menatap yuri yang begitu serius mengerjakan pekerjaannya, namun perlahan matanya begitu berat merasakan ngantuk

Setelah satu jam yuri mematikan layar komputer dan tab nya, membereskan segala berkas berkas yang berada diatas meja kerjanya

“Hufhtt… Akhirnya selesai juga” ucap yuri sambil melemaskan otot lehernya, namun ia terdiam saat pandangannya tertuju pada soffa dan melihat jessica yang sudah terlelap diatasnya. Yuripun berjalan menghampirinya

“Mianhae.. Kau pasti kelelahan” ucapnya sambil berjongkok dihadapan wajah jessica

*deggdeggdegg* detak jantung yuri terdengar begitu cepat

“Kau selalu terlihat cantik di mataku sica, bagaimana bisa aku berpaling darimu” ucap yuri dalam hati

Perlahan wajah yuri mendekat hingga jarak wajahnya dengan wajah jessica begitu dekat, yuri menatap lekat bibir jessica yang terlihat manis baginya, iapun menutup matanya dan dengan lembut mencium bibir jessica

“Emmh….” erang jessica, iapun terbangun dari tidurnya

Namun jessica terkejut saat dirinya sudah berada didalam mobil yang sedang melaju

“Kau sudah bangun sica, tidurmu sangat lelap jadi aku tak tega jika membangunkanmu” ucap yuri membuat jessica menoleh menatapnya

“Ah.. Yyyul” ucap jessica “ternyata tadi hanyalah mimpi” tambahnya sambil tangannya memegang bibirnya

“Kau masih tinggal di apartemen yang lama?” 

“Nne..”

“Baiklah..” ucap yuri iapun melajukan gasnya mengantar jessica pulang

Tak berapa lama merekapun tiba didepan apartemen milik jessica

“Gomawo yul” ucap jessica

Keduanya tengah berdiri berhadapan didepan mobil yuri

“Harusnya aku yang berterimakasih padamu karena telah menemaniku tadi” ucap yuri

“Aku senang menemanimu” ucap jessica refleks ,iapun segera menutup mulutnya setelah menyadari ucapannya itu

Keduanya kembali terdiam canggung

“Kk..kkalau begitu masuklah, kau akan kedinginan jika berlama lama diluar” ucap yuri gugup

“Ah nne.. Kau juga hati hati di jalan yul” ucap jessica

Yuri memasuki mobilnya, ia membukakan jendela mobilnya kembali menatap jessica

“Aku pulang dulu” ucap yuri tersenyum

“Nne..” 

Yuripun menginjakkan gas meninggalkan apartemen jessica hingga mobil yang dilajukannya perlahan menghilang dari pandangan jessica

“Hmm…” gumam jessica tersenyum senang, iapun membalikkan badannya berjalan memasuki apartemennya

“Tumben wajahmu terlihat senang setelah pulang bekerja, kemarin kau berteriak teriak karena kelelahan” ucap hyoyeon yang sedang menonton TV

“Hehehe nne aku senang sekali malam ini hyo”

“Wae…? Eh? Kau membeli jas baru lagi?” tanya hyoyeon

“Anni.. Eh?” ucap jessica heran begitu melihat yang dipakainya “ini milik yul” ucapnya dalam hati

Jessica kembali tersenyum senang

“Wae… Tingkahmu aneh sekali” ucap hyoyeon

“Ah sudahlah aku ingin mandi lalu beristirahat, bye hyoo…” ucap jessica kemudian berlari lari kecil sambil bersenandung memasuki kamarnya

Setelah mandi, dengan bathrobe yang masih dikenakannya jessica berbaring diatas tempat tidurnya, pandangannya menerawang memandang langit langit kamarnya sambil kembali memikirkan yuri

Begitupun yuri melakukan hal yang sama di dalam kamarnya

“Manis” ucap yuri tersenyum sambil tangannya menyentuh bibirnya itu

………………..

” yoong… Ireonna, hari ini eomma dan yerim akan pergi ke rumah halmeoni tapi appa tak bisa ikut karena keadaannya masih buruk, eomma titip appa ya” ucap tiffany membangunkan yoona

“Hmm… Nne…” jawab yoona masih terlelap malas untuk membuka kedua matanya

Tiffany pun kembali turun memasuki kamarnya

“Taeng, mianhae harus meninggalkanmu” ucap tiffany menghampiri taeyeon yang masih terbaring lemas

“Gwaenchanna dan sampaikan maafku tak bisa menjenguk halmeoni”

“Baiklah kami berangkat dulu, kau bisa memanggil yoong jika membutuhkan sesuatu tapi dia masih terlelap” 

“Hmm… Hati hati di jalan chagiya” ucap taeyeon

“Get well soon honey” ucap tiffany mengecup singkat bibir taeyeon kemudian berlalu meninggalkan rumah bersama yeri

“Hmm.. Semoga mereka bisa kembali membaik” gumam tiffany sambil serius mengendarai mobilnya

“Nne? Eomma bilang apa?” tanya yeri

“Anniyo… “ ucap tiffany tersenyum

Di rumah yuri

Yuri baru saja selesai memasak untuk sarapan yang akan dinikmatinya bersama krystal

“Morning my handsome daddy” ucap krystal begitu semangat turun dari tangga

“Morning too my baby kryst.. Tumben kau sudah terlihat rapi pagi pagi begini, biasanya sulit sekali dibangunkan”

“Hehehe hari ini aku mau keluar, bolehkah dad?”

“Berarti kau akan meninggalkan daddy di rumah sendirian?” ucap yuri memasang wajah sedih

“Hmm… Hanya hari ini, daddy juga bisa pergi berjalan jalan dengan victoria unnie”

“Baiklah.. Kau pergi bersama siapa kryst?”

“Emm… Amber”

“Amber? Bukankah kemarin kau sempat membencinya?”

“Begitulah, kemarin dia sangat menyebalkan”

“Lalu sekarang?” goda yuri

“Masih tetap menyebalkan hehehe”

“Aigoo.. Sepertinya putri kesayangan daddy sudah dewasa sekarang”

“Dad.. Dia hanya temanku”

“Baiklah… Pergilah bersenang senang, tapi harus sarapan bersama daddy dulu sekarang”

“Tentu, lagipula dia belum menjemputku”

……



Menjelang siang taeyeon terbangun dari tidurnya, ia merasakan haus namun saat menoleh gelas yang ditaruh disampingnya telah kosong

“Haaah… Ada apa denganku, mengapa lemah begini” ucap taeyeon saat berusaha terbangun

*tingtong* tiba tiba bel rumahnya berbunyi

“Yoong…” Panggil taeyeon, namun suaranya yang parau tak bisa membuat yoona mendengarnya

*tingtong* suara bel pintu rumahnya kembali berbunyi

Dengan sekuat tenaga taeyeon bangun dan berjalan untuk membukakan pintu rumahnya

“Nne.. Chankkaman” ucap taeyeon

*ceklek* taeyeonpun berhasil membuka pintu rumahnya

“Hai, taeng” ucap seorang yeoja menyapa taeyeon

“Sica?” ucap taeyeon sedikit terkejut

TBC

Second Chance part 16

Writer : Human Paper | Length : Chaptered | Cast : Im Yoona, Jessica Jung, Seojuhyun, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, kim Taeyeon, Choi Sooyoung and other member |  Gender : YURI girlsXgirl

……………………………………..

“kami pulang…!” teriak yeri dan yoona yang baru saja memasuki rumahnya
Yoona melihat taeyeon sudah berada dirumahnya sedang membersihkan alat pemanggang daging

“Hey buddy, kemarilah bantu appa” ucap taeyeon saat melihat yoona berdiri menatapnya

“Mengapa jam segini kau sudah pulang?” tanya yoona

“Hari ini pekerjaanku tak begitu banyak, lagipula kita sedang kedatangan tamu” ucap taeyeon

“Hey… Kalian sudah besar sekarang” ucap hyoyeon yang baru saja mencuci beberapa sayuran

“anyeong, ahjumma” sapa yoona

“yah! cukup panggil aku unnie! aku masih belum tua, yaish..” ucap hyoyeon kesal membuat yeri dan taeyeon tertawa

“Woaaahh appa, kita akan barbecue hari ini?” ucap yeri senang

“Nne.. Karena eomma masih bekerja jadi ini appa yang akan mengurus kalian, kemarilah bantu appa” ucap taeyeon, yeripun segera berlari membantu menata peralatan

“Nanti aku menyusul” ucap yoona kemudian berlalu memasuki kamarnya

“Nne.. Nanti lekas kemari bantu appa” teriak taeyeon

Setelah selesai membersihkan diri, yoona berdiri didepan jendela kamarnya terdiam memandang keluarganya yang sudah mulai melakukan barbecue, ia melihat yeri yang sedang duduk menunggu sambil memainkan garpu, hyoyeon yang sedang membantu taeyeon memanggang daging dan perhatiannya kembali terfokus pada taeyeon yang terlihat kesulitan memanggang daging

“Aw aw!! Mengapa apinya melompat lompat, hyo.. Tolong lindungi aku” teriak taeyeon terus terusan mengusap lengannya yang terkena percikan api api kecil saat memanggang daging

“apa sebaiknya kita memakai baju astronot taeyeon-ah” ucap hyoyeon yang ikut kepanasan menerima cipratan bara api itu

“ide bagus hyo, aaah… sepertinya yang ini sudah matang, yeri-ah.. Kemarilah” ucap taeyeon, yeri pun langsung menghampirinya dan menerima suapan daging yang berikan taeyeon

“Appa.. Ini sulit sekali digigit” ucap yeri

“Eh? Benarkah?”

“ini dalamnya masih belum matang taeng”

“Nne appa, ini tidak enak dan sedikit pahit” ucap yeri melepehkan kembali daging itu dan membuangnya

“Jinjja? Padahal sudah terlihat hampir gosong, ottokhae… Pany-ah lekaslah pulang” ucap taeyeon mempoutkan bibirnya

Yoona menutup kembali tirai jendela kamarnya kemudian berbaring diatas tempat tidurnya tak berniat bergabung bersama keluarganya itu

“hatiku masih terasa sakit setiap ingat apa yang jessica unnie katakan, appa.. aku tak menyangka kau sejahat itu” ucap yoona sambil terdiam memandang foto dirinya bersama kedua orang tuanya yang terlihat bahagia dan kompak itu

taeyeon-tiffany-yoonA-instagram.jpg

*toktoktok* tak berapa lama pintu kamar yoona diketuk dari luar

“yoong…” panggil seseorang dari luar, kemudian pintu pun terbuka dan yoona melihat sosok taeyeon masuk kedalam kamarnya. Yoona langsung menyimpan kembali foto keluarganya itu

“yoong kenapa tak ikut bergabung?”

“aku sedang malas, ada apa appa kemari?”

“jja, appa membawakan daging panggang kesukaanmu, tapi ini sedikit gosong hehe mian” ucap taeyeon berjalan menghampiri yoona

“bawa saja kembali, aku sedang tidak nafsu makan?”

“wae…? yerim bilang kau belum makan selain sarapan, lambungmu bisa sakit, apalagi kau sudah banyak melakukan kegiatan di kampus, jja makanlah.. apa mau appa suapi eoh?” ucap taeyeon yang sudah duduk disamping yoona berbaring, ia mengambil potongan daging itu dengan garpu dan menyuapkannya pada yoona

“shiroo…. sudah ku bilang aku tidak maa…” *prang!!!* 

Daging daging panggang yang telah dibumbui itu jatuh berserakan dengan piring yang pecah setelah terjatuh akibat di dorong oleh yoona membuat taeyeon terkejut, yoona pun ikut terkejut atas apa yang telah dilakukannya. ia menolak disuapi taeyeon dan mendorong tangan taeyeon namun tak menyangka jika dorongannya terlalu kuat membuat piring yang dipegang oleh taeyeon terlepas dan jatuh ke lantai

“ada apa denganmu yoong? akhir akhir ini sikapmu berubah” tanya taeyeon

“aku…. membencimu” ucap yoona menundukkan kepalanya

“wae..? apa kesalahan yang sudah appa lakukan padamu?”

“bukan padaku, tapi pada yul unnie” ucap yoona

*deggg!!* tiba tiba taeyeon merasakan sakit pada dadanya

“mma…mmaksudmu?”

“maksudmu katamu? appa lupa dengan apa yang telah dilakukan appa padanya dulu? yang membuatnya kecelakaan dan koma hingga hilang ingatan?!!” ucap yoona mulai emosi

“yoong…” ucap taeyeon, hatinya kembali sakit mengingat itu terlebih kini yoona telah mengetahuinya. ia baru melihat yoona semarah ini padanya

“dan appa telah membuat hubungan mereka hancur! appa macam apa? aku tak menyangka jika kau sejahat itu dibalik sikap bijaksanamu!!!” teriak yoona

Yoona menaik turunkan nafasnya merasakan emosi yang semakin meningkat, ia melihat taeyeon hanya menundukkan kepalanya

“aku malu memiliki appa sepertimu!!” ucap yoona kembali

taeyeon mengepalkan kedua tangannya dengan kepala yang masih menunduk, matanya terpejam menahan sakit di hatinya, perlahan ia berjalan menghampiri meja mengambil beberapa tissue, taeyeon menurunkan badannya mengambil daging daging dan piring piring pecah yang telah berserakan itu sementara yoona masih terus memandangnya dengan penuh emosi dengan air mata yang telah mengalir

“kau benar yoong, ayah macam apa aku ini? bahkan sampai saat ini aku masih sangat merasa bersalah padanya dan bahkan aku membenci diriku sendiri” ucap taeyeon tenang dengan wajahnya yang masih menunduk, perlahan air mata taeyeonpun mengalir membuat yoona terkejut melihatnya, selama ini ia tak pernah melihat taeyeon menangis bahkan terlihat sedih dihadapannya

“jangan pernah berpikir jika aku merasa bahagia atas kejadian itu yoong, appa juga masih memiliki hati..” tambah taeyeon

“hati? jika appa memiliki hati, appa tak akan mengkianati sahabat appa sendiri!” ucap yoona

Air mata taeyeon kembali mengalir mendengarnya ia kembali mengepalkan tangannya hingga tak menyadari darah mulai menetes dati tangannya karena terlalu kuat meremas pecahan piring kaca yang sedang digenggamnya

“mianhae… jongmal mianhae…” ucap taeyeon yang mulai terisak, yoona pun ikut terisak

“wae.. appa.. wae…?” ucap yoona

“appa memang mencintai jessica saat itu hingga akhirnya appa menusuk sahabat appa sendiri